Actions

Work Header

Si Kembar yang Nakal

Chapter 2: MAIN DI TAMAN

Summary:

"Karena cuaca bagus, si kembar cuma pengen berjemur di belakang rumah. Berjemur sambil telanjang, dan melakukan hal-hal nakal lainnya yang kemudian dipergoki oleh Daddy mereka yang hot itu."

Notes:

Ketemu lagi💜💜💜

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

"Daddy masih lama ya pulangnya? Kangen Daddy..." Haechan bergumam sedih.

Donghyuck di sebelahnya yang sedang baca buku segera menoleh, "Padahal Daddy baru pergi satu jam yang lalu." Gumam Donghyuck pelan sambil geleng-geleng kepala.

"Sudah kamu baca buku yang bener, Haechan! Jangan malah mikirin Daddy teruuuss~" Ucap Donghyuck sambil mengarahkan agar Haechan membaca bukunya dengan benar.

Pagi itu mereka sedang membaca buku bersama di taman, karena cuacanya cerah dan sangat sejuk. Awal musim panas yang menyenangkan.

"Gak suka baca buku, Hyuckiie!" Haechan membanting buku dengan sampul merah itu begitu saja ke rerumputan hijau yang ada di belakang rumah mereka.

Belakang rumah mereka adalah area yang sangat luas, memiliki danau buatan, ada beberapa pohon rindang sebagai peneduh, memiliki rumput hijau yang lembut sebagai alas, juga beberapa angsa cantik yang sering berlalu-lalang dengan geolan ekor semoknya itu, menggemaskan.

Berada di belakang rumah seperti ini, di bawah rindangnya pohon, dan berbaring bersama di atas kain lembut yang sengaja mereka gelar, sambil membaca buku adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan bagi mereka. Apalagi setelah kemarin terus terjebak dalam ujian sekolah yang menyesakkan, maka sebuah penyegaran seperti ini sangat dibutuhkan oleh mereka agar bisa merasa hidup kembali.

"Hyuckie, rambut kamu aku kepang ya? Aku bosen banget!" Haechan pun bangun dari posisinya. Menyuruh kembarannya agar berada dalam posisi duduk kemudian ia mulai mengepang rambut itu menjadi dua bagian.

"Channie, aku buka baju dulu ya, geraaah~ biar kena anginnya makin seger!" Donghyuck melepaskan gaun putih selutut miliknya. Belum bertelanjang, masih memakai celana dalam dan -dan itu saja. Hanya celana dalam saja.

Mereka sudah sering seperti ini jika main ke belakang, sering juga berjemur sambil bertelanjang seperti ini. Yang memulainya sejak dulu adalah Donghyuck, gadis itu tidak tahan berkeringat, maka dari itu sering sekali melepaskan pakaian dengan asal untuk mendapatkan kesejukan. Dan tindakan itu juga diikuti oleh Haechan, yang awalnya hanya ingin ikut-ikutan saja tapi kemudian menyadari jika bertelanjang seperti ini sangat menyenangkan.

"Nah, sudah selesai! Hyuckie cantik banget kalo dikepang begini!" Haechan melongok ke depan, dari posisinya ia lirik wajah Donghyuck dari samping, dan memberikan sebuah kecupan untuk pipi Donghyuck sebab ia gemas pada kecantikan kembarannya.

"Channie! Aku juga mau kepang rambut kamu! Sini gantian!" Donghyuck dengan hanya memakai celana dalamnya, mulai bangun dan berdiri dengan gerakan yang penuh semangat sampai dua dada besarnya itu saling memantul lucu. Dua payudara yang kian hari kian terasa tambah membesar entah karena apa, sepertinya karena napsu makan Donghyuck semakin bertambah, menjadikan lemak di diri bocah itu juga terus bertambah dan menyebar, berakhir di tempat yang tepat.

Haechan sendiri sekarang mengenakan baju tidur cukup minim tapi sangat lucu, berupa baju tidur berbahan beludru, dengan celana yang panjangnya hanya mampu menutupi sedikit bagian pahanya -sangat pendek, juga sebuah atasan yang hanya menutup tepat di atas pusar saja. Bajunya sangat nyaman dan Haechan suka.

Posisi sudah berganti, Haechan yang sekarang rambutnya sedang dikepang oleh Donghyuck di belakangnya. Haechan patuh dan tenang sekali duduk di depan, sambil kembali mengambil buku bersampul merah yang tadi sempat ia baca. Dan karena malas kembali membaca, pada akhirnya Haechan hanya bolak-balikkan saja buku itu dengan tanpa minat.

"Channie, leher kamu merah, cupang semuanyaaa~" ucap Donghyuck sambil menunjuk banyak bekas kissmark di sana. Dari leher, bahu dan sebagian banyak di sekitar punggungnya.

"Hehehe, semalem aku abis maen sama Daddy di ruangannya. Kamu sih aku ajak ke sana gak mau. Jadi aku main sendiri deh sama Daddy, terus dia beringas banget kasi cupangnya sambil genjot aku! Enak bange!" Ucap Haechan sambil membayangkan kejadian semalam, saat ia digenjot oleh Daddy kesayangannya itu dengan gaya menungging, dan sang Daddy menggenjot dari belakang keras-keras sambil membubuhkan banyak bekas ciuman di punggungnya.

Bayangan erotis itu hanya berhasil membuat Haechan buru-buru merapatkan kaki, merasakan vaginanya sedikit berkedut tipis dalam keresahan. Padahal hanya membayangkan saja tapi tetap memberikan efek yang besar pada tubuhnya.

"Aku capek kemarin Channie, soalnya pas pulang sekolah aku uda maen sama Daddy. Kamu kan kemarin pulang telat karena ikut cheers, jadi pas sampek rumah aku malah diajak Daddy maen sampek sore. Pegel banget tauk!" Ternyata Donghyuck pun mendapatkan pengalaman yang sama seperti Haechan.

Kemarin saat Donghyuck baru pulang sekolah, bahkan belum sempat masuk kamar dan masih memakai seragam, ia sudah dihadang oleh sang Daddy di ruang tamu dan kemudian terjadilah hal itu. Mereka bercinta di ruang tamu dengan cukup lama, digenjot dari sejak masih memakai seragam sampai seragamnya basah dan penuh bekas peju, sampai akhirnya pakaiannya ditanggalkan satu per satu dan kemudian mereka sama-sama telanjang. Baru berhenti saat hari sudah sore dan ia sudah kelelahan.

"Ish, pantes kamu dibangunin susah, tidur kaya kebooo!" Ucap Haechan.

"Tapi Channie aneh deh, dulu kamu gak suka dipegang-pegang Daddy, gak suka dipeluk Daddy, tapi sekarang kalo gak ketemu Daddy padahal baru sebentar uda kangen banget!" Donghyuck sudah selesai mengepang rambut Haechan, tapi kegiatannya masih belum berhenti sampai di sana saja. Ia bergerak untuk memberi gelungan dan simpul lain di rambut Haechan, sebelum kemudian memberinya beberapa pita agar terlihat semakin cantik serta imut.

"Hehe, abis enak sih dipegang Daddy! Jadi ketagihan kayaknya!" Haechan menjawab dengan apa adanya.

Sepertinya dia memang sudah kecanduan untuk dikawini oleh Daddy-nya sendiri.

"Sama deh, aku juga ketagihan. Enak banget soalnya!" Donghyuck mengiyakan apa yang dikatakan oleh Haechan.

"Nah! Uda selesai!" Donghyuck sudah selesai, mulai menilai penampilan Haechan dan itu memang terlihat sangat cantik, imut, cocok sekali untuk Haechan. Jika Haechan tadi memberinya kecupan di pipi, maka Donghyuck tidak, ia memberikan kecupan di bibir Haechan.

Setelah selesai mengepang Haechan, Donghyuck kembali mengambil bukunya dan berbaring di sebelah Haechan yang masih berada dalam posisi duduk. Ia berbaring, membaca bukunya dengan tenang karena ini memang dunianya yang sangat suka membaca.

Berbeda dengan Haechan yang sekarang sudah kembali dilanda bosan. Memandang setiap deret kalimat dari buku yang ia pegang malah hanya berakhir membuatnya merasa muak, tak senang, dan pada keputusan terakhir, buku itu malah ia banting malas ke depan.

"Kenapa Channie? Bosen ya? Bobok aja sini kalo boseen." Ajak Donghyuck.

Panggilan dari Donghyuck membuat Haechan menoleh ke samping. Pada kembarannya yang hanya memakai celana dalam itu, melihatnya sudah berbaring tenang sambil membaca buku.

Haechan salah fokus, bukannya segera berbaring seperti yang Donghyuck katakan. Haechan malah sibuk menatap kedua dada milik Donghyuck yang ukurannya memang lebih besar dan montok darinya. Bulat dan terlihat lembut sekali, membuat Haechan sangat ingin menyentuhnya.

Tinggal sentuh saja, lagipula selama ini mereka juga sudah biasa saling sentuh tubuh masing-masing. Tapi dahulu hanya sentuh saja, bukan sampai meraba-raba, meremasi, memijat seperti yang sedang ia lakukan sekarang pada dada Donghyuck.

"Uungh... Channie kenapa diremeessh dadaahku??" Donghyuck tak bisa fokus dengan bacaannya saat kedua dadanya diremas oleh Haechan. Buku yang ia baca segera ia letakkan, dan kemudian mengangkat dadanya, membusung di depan Haechan yang nampak sangat senang meremasi dadanya.

"Dada kamu gede banget, Hyuck. Aku jadi iri, mau yang gede juga kayak punyamu..." Ucap Haechan dengan nada sedih, ia cemberut sambil melirik dadanya sendiri yang ukurannya tidak sebesar Donghyuck.

"Aahh... Ka-kamu sih mamnya kurang banyak-nghhh! Channieeh, pentil akuhh jangan dicubit gitu!" Tentu saja Donghyuck kegelian saat dadanya diremas sambil putingnya dicubiti.

"Oohh... Mamnya harus banyak ya? Tapi, kalo diremesin gini bakal bisa tambah besar gak Hyuckie?" Tanya Haechan kepada kembarannya.

Donghyuck sulit menjawab, ia tidak tenang dalam posisinya saat putingnya malah dikorek-korek oleh Haechah. Badan menggeliat, kedua kaki ia rapatkan dan gesek-gesekkan dengan sangat resah sebab bisa ia rasakan kelaminnya mulai lembab.

"Mu-mungkin bisaah... Mau coba? Aashh! Channieeh memek akuh kedutan! Uda duluuuh!" Donghyuck tidak kuat untuk terus menerima stimulasi yang baginya terlalu hebat ini. Kakinya sejak tadi bergerak resah, dan tangannya juga terus meremas kain di bawahnya kuat sebagai pelampiasan dari sebaran gelenyar nikmat yang menguasai tubuhnya.

"Kayanya kalo rajin diremes bakal besar deh." Ucap Haechan sambil melepaskan dada milik Donghyuck. Ia angkat tangannya dari dada tersebut, melepaskannya.

Donghyuck akhirnya bisa bernapas lega. Ia bangun dan melirik ke bawah, bahwa celana dalam berwarna merahnya telah mencetakkan jejak basah akibat sedikit lendir pelumas yang telah kelaminnya lelehkan.

"Mau coba? Sini aku remesin biar besar kayak punyaku!" Donghyuck beralih menatap Haechan. Ia berikan tatapan penuh binar semangatnya kepada sang kembaran.

"Boleh! Ayo, ayo! Remesin dada aku biar besar kayak punya kamu!" Haechan melepaskan baju tidurnya lebih dulu, ia buang dengan asal dan terpampanglah payudara tanpa bra yang ukurannya memang lebih kecil dari Donghyuck.

Sebenarnya tidak sekecil itu, dada Haechan juga sudah mencuat, membesar selayaknya bocah seusianya. Hanya saja karena ia membandingkannya dengan milik Donghyuck yang besarnya sampai tumpah-tumpah, maka sudah jelas itu membuat Haechan merasa kerdil karena perbedaan ukurannya sangat jauh sekali.

"Kamu bobok ya, biar gampang remesnya!" Ucap Donghyuck sambil mengarahkan Haechan agar berbaring dan dirinya sendiri duduk di sebelah sosok tersebut.

Haechan berbaring, ia memasang senyum lebar, tidak sabar dadanya digarap oleh Donghyuck.

"Uungh..." Baru remasan pertama dan Haechan sudah mendesah. Remasan yang disusul dengan pijatan yang lembut. Donghyuck memerlakukan dada Haechan seperti sebuah adonan roti. Dipijat lembut, diuleni sambil sesekali juga diberi sedikir tekanan ke dalam, atau pun ditarik naik ke atas.

Desahan Haechan melantun dengan lembut. Ia memejamkan mata sambil mendongak, lalu terbuka lagi saat putingnya yang mancung itu terus bergesek dengan telapak tangan Donghyuck.

Merem-melek Haechan dibuat oleh kembarannya sendiri karena dadanya dimainkan. Tangan Haechan sendiri tidak bisa diam. Ia masukkan tangannya ke dalam celana, meraih kelaminnya sendiri, untuk mengecek apakah itu basah atau tidak sebab sejak tadi ia sudah merasakan kelaminnya menjadi begitu lembab. Sejak Donghyuck terus memberi pijatan yang intens dengan sesekali sengaja menekan putingnya, bahkan secara mencubit dan memelintir putingnya, hingga sukses memberikan efek pada kelaminnya yang mulai melelehkan lendir pelumas, dan terasa berkedut pelan.

"Hyu-Hyuckiih! Anghh... Udah, udah dulu! Memek akuuh basah, kedutan-aahhh!" Haechan mendesah keras saat Donghyuck dengan nakal malah mencubit putingnya secara bersamaan, lebih lagi itu juga diangkat ke atas sampai-sampai punggung Haechan ikut terangkat naik.

"Tapi pentil kamu gemes, mancung banget! Aku emut boleh gak?" Tanya Donghyuck dengan muka memelas penuh harap. Donghyuck memiliki puting yang berbeda dengan Haechan, tidak terlalu nampak dan malah seperti tenggelam. Sehingga saat melihat puting Haechan yang menjuat tinggi, mancung sekali, itu membuatnya gemas ingin mengemutnya.

Beginilah, mereka sama-sama saling memiliki kekurangan dan kelebihan. Dan itu membuat mereka menjadi begitu tertarik terhadap tubuh satu sama lain.

Haechan bahkan belum menjawab di saat puting kanannya sudah masuk ke dalam mulut hangat milik Donghyuck. Sensasi basah dengan jilatan lidah yang kasar segera menyambut putingnya. Membuat Haechan semakin dihantam rasa pusing akibat nikmat berlebih yang diberikab oleh kembarannya. Matanya makin merem-melek keadaan, dan kelaminnya di bawah sana terasa semakin basah, becek, sampai celana tidurnya pun ikut basah.

"Uunghhh... Hyuckiiehh..." Haechan mendesah lemas, ia rasakan putingnya dihisap kuat sampai ia lihat pipi milik Donghyuck mengempis. Area bawah pusarnya langsung bergolak tidak nyaman saat melihatnya. Seperti diterbangi oleh banyak kupu-kupu hingga ia sedikit merinding saat terus memerhatikannya.

"Susu kamu kayanya harus rajin dipijet deh, Channie. Biar cepet gede! Nanti aku pijetin tiap hari ya!" Donghyuck lepaskan puting Haechan, hanya untuk beralih ke puting satunya.

Dan Haechan sudah tak bisa berkata-kata lagi, terlalu bingung harus bicara bagaimana dan lagipula dalam situasi ini untuk bicara pun terasa sangat sulit. Haechan lebih memilih untuk menikmati apa yang Donghyuck lakukan pada tubuhnya, sambil tangan ia ulurkan ke bawah dan memelorotkan celananya supaya ia bisa membebaskan vaginanya yang sudah sangat basah serta licin itu.

Celana beludru pendek yang Haechan pakai sudah tanggal. Tiada celana dalam di baliknya, sehingga dengan begitu maka sekarang kondisi Haechan sudah bertelanjang bulat secara sepenuhnya.

Donghyuck menyadari kondisi Haechan. Ia pindai tubuh kembarannya, yang meski pun punya dada belum besar-besar amat, tapi panggulnya besar, dan bokongnya sangat semok. Kedua kakinya sama jenjang dengan miliknya, dan kedua paha sekal itu, nampak lebih padat serta berisi darinya.

Dan untuk vagina milik Haechan. Donghyuck melepaskan dada Haechan lebih dulu, ia turun ke bawah sambil menatap kelamin Haechan begitu intens.

Terlihat sama tembam dengan miliknya.

"Iish, jangan diliatin Hyuck!" Haechan merasa aneh saat Haechan menatap kelaminnya terlalu intens, apalagi memeknya sudah dalam kondisi basah dan licin, jika diliati terus yang ada malah hanya membuatnya semakin banjir saja nanti.

"Channie, memek Hyuckie juga uda basah banget! Gara-gara dari tadi terus dengerin desahan kamu, perut aku jadi kaya diterbangin kupu-kupu, terus dari lubang memek aku jadi kayak basah, becek begini." Donghyuck buka kakinya lebar, memamerkan celana dalamnya yang basah secara sepenuhnya itu kepada Haechan.

"Lihat, becek banget kan?" Donghyuck.

Melihat itu membuat Haechan langsung bangun. Ia duduk di depan Donghyuck. Ia lihat lipatan labia milik Haechan yang tercetak jelas di balik celana dalam basah itu. Sedikitnya Haechan tahu bahwa milik mereka memang sama-sama tembem.

"Hyuckie, buka dong. Aku uda bugil ni, mau liat memek kamu juga." Haechan maju ke depan sambil ia buka kakinya, seperti sebuah isyarat agar Donghyuck juga melakukan hal yang sama seperti dirinya.

Donghyuck pun melakukan apa yang Haechan minta. Ia lepaskan celana dalamnya yang sudah sangat basah itu asal, membuangnya ke atas rumput dengan sangat sembarangan.

"Ssshh...punyakuh, udah kedutan banget dari tadi-aahhh... Kamu?" Donghyuck bertanya sambil ia juga membuka kaki lebar-lebar, mendekatkan diri pada Haechan hingga mereka saling berhadapan. Dan mulai melebarkan labia miliknya, ia gesek-gesek pelan sambil sesekali nakal memasukkan jari ke dalam lubang memeknya yang sudah berkedut.

Haechan melihat tingkah Donghyuck dengan tanpa berkedip, melihat kembarannya itu sedang keenakan mencolok memeknya sendiri dengan dua jari. Bunyinya becek sekali, gesekan antara kulit tangan dan liang memek yang sudah sangat basah dan licin. Keluar-masuk, menimbulkan lirih suara yang membuat Haehan ikut tergerak melakukan hal yang sama.

"Ahh... Sa-samaa Hyuck! Uda kedutan, gateehl jug-aahhh... Enak banget dicolook beginih Hyuck!" Haechan mendapatkan sensasi nikmat saat ia colok dan kocok lubangnya sendiri, sambil melihat kembarannya yang juga melakukan hal yang sama -tambahan bonus Hyuckie juga sambil meremasi dadanya sendiri yang montok itu, hanya membuat Haechan merasakan badannya semakin panas dan memacunya untuk ikut melakukan hal-hal yang lebih lagi.

Sesuatu yang membuat Haechan makin panas, bersemangat, dan bergairah dalam memanja tubuhnya sendiri. Haechan kocok memeknya lalu menyodok dalam-dalam -walau tidak sampai mentok, tapi itu tetap membuatnya merasa enak. Dan desahan nyaring dari Donghyuck, benae-benar terdengar seperti nyanyian pemacu gerakan tangannya agak tak pernah berhenti, tetap sodok makin dalam, kocok makin kuat.

"Aahhh! Hyuckieeehh!" Haechan mendesah dengan lantunannya yang merdu. Ia tatap kembarannya, dan kondisi mata mereka sama-sama sayu, hal ini hanya membuat mereka berakhir semakin intens menyentuh tubuh masing-masing.

Makin bernafsu, dikejar oleh nafsu yang terlalu tinggi dan membara.

Dan mungkin karena terlalu terbakar oleh gairah, tiba-tiba saja Donghyuck mendekat kepada Haechan dan memosisikan kaki mereka agar menyilang, satu pahanya menimpa paha Haechan, sedang satu paha lainnya ia taruh di bawah paha Haecahn, kemudian terus ia rapatkan sampai bagian selangkangan mereka saling menempel, memek berlendir mereka saling menabrak.

"Aarghh! Hyu-hyuckhhh! Mau apaah!" Haechan mendesah tidak karuan, ia tak menyangka bahwa Donghyuck akan melakukan hal gila seperti ini. Haechan mendesah heboh apalagi saat Donghyuck mulai menggenjotnya dari atas. Badannya menjadi lemas dan seketika ambruk ke belakang, dengan badan Donghyuck yang juga ikut condong ke arahnya.

Tapi Donghyuck malah seperti kesetanan, Donghyuck terus menggerakkan pinggulnya keras, menggenjot kasar memertemukan memek becek mereka hingga semakin becek, benyek, dan benar-benar kacau kondisinya.

"Ke-kemaren... Aku nongtohhn bokeep sama Mina! Aahhh.... Enak bangeet!! Teruus ada adegan gini Channiieeh! Enaak kaah-aaarghh!" Donghyuck mengerang keenakan saat labianya ia buka, kemudian klitorisnya ia pertemukan dengan milik Haechan. Ia tekan pinggulnya di sana, berbupar beberapa kali hingga itu juga sukses mengundang desahan hebat dari Haechan.

Sudah Donghyuck pastikan, kalau Haechan pasti juga keenakan karena ulahnya ini.

"Haaah... Iyaaah! En-enaakh Hyuckiieh! Aakhh! Aakhh!" Bahkan Haechan mendesah sambil memekik keras. Haechan gelengkan kepalanya kasar, melihat kebrutalan kembarannya yang sedang bergoyang menumbukkan kelamin mereka. Gerakan Donghyuck yang sangat brutal itu memancing Haechan untuk juga ikut mengangkat pinggulnya, ia gerakkan beriringan dan seirama dengan gerakan Donghyuck, hingga akhirnya semua itu sukses untuk menghantatkan nikmat yang luar biasa untuk keduanya.

Donghyuck mulai menggigil, sekujur tubuhnya merinding luar biasa, sepertinya sebentar lagi dia akan orgasme. Demi agar bisa meraihnya segera, Donghyuck pun mulai kencangkan gerakannya, ia dorong pinggulnya kuat sambil kedua tangan memainkan dadanya sendiri frustasi. Ia remas dan ia kucek putingnya. Memberi efek yang gila sebab sedetik kemudian pinggulnya langsung mengejan, pahanya merapat mengapit selangkangan Haehan dan lendir kawinnya meleleh lebih banyak dari sebelumnya.

"Aaahhhh....." Donghyuck orgasme. Dan itu terasa sangat nikmat sekali. Tubuhnya menjadi basah keringat, rambutnya menjadi agak basah dan lepek, kemudian mukanya nampak super merah.

"Nghhh!!" Kali ini desahan berasal dari Haechan, ia melenguh sambil menaikkan pinggangnya saat Donghyuck sudah berubah posisi menduduki perutnya, menunggunginya kemudian mengincar kelaminnya untuk dijilati.

Haechan benar-benar merasa bahwa Donghyuck memang sangat senang memberi kejutan, hari ini sudah banyak sekali kejutan yang diberikan oleh kembarannya itu kepadanya. Menurut Haechan, Donghyuck benar-benar menjelma menjadi seseorang yang begitu nakal, dan terlalu banyak memelajari terlalu banyak hal dari Mina. Mina sendiri adalah teman sekelas mereka yang memang gemar berbagi tontonan dengan mereka, kadang video dari artis porno, kadang video dari situs gelap yang isinya adalah rekaman kamera tersembunyi di sebuah toilet atau pun kamar hotel, bahkan kadang juga video Mina sendiri dengan beberapa mantan pacarnya.

"Channiee karena Channie belum keluar, Hyuckie bantu yaah..." Ucap Donghyuck sambil menjilati klitoris milik Haechan semangat, rakus sekali.

Dan Haechan jelas saja langsung mendesah-desah keras dibuatnya.

Di balkon rumah, ada lelaki yang sejak lama tadi sudah berdiri di sana, hanya diam dan terus memerhatikan apa yang sejak tadi dua anak kembar itu lakukan. Dari adegan saling gesek, menindih dan menggenjot satu sama lain, hingga kini telah berganti dengan yang satu telentang lebar, kaki mengangkang cuma-cuma, dan yang satu tengah sibuk menenggelamkan kepala di selangkangan, menjilat-menyeruput-menghisap kelamin dari saudarinya sendiri.

"Pak Mark, karena jadwal saya sudah selesai, saya pamit pulang dulu ya, Pak."

"Hm. Hati-hati kamu." Pesan Mark kepada asisten pribadinya, Karin.

Setelah Karin pulang, Mark melangkah untuk turun ke bawah dan menyusul si kembar yang sedang asik bergumul di belakang rumah.

Mark melangkah santai sambil melepaskan kancing lengan kemeja birunya. Tatapan mata fokus ke depan, tidak sedikit pun beralih mata dari kegiatan Haechan dan Donghyuck yang rupanya sudah mulai berganti posisi. Berganti Donghyuck yang mengangkang lebar dan Haechan yang menungging di depan, menenggelamkan kepala di selangkangan Donghyuck.

Mark sedikit mendengus, tidak menyangka jika si kembar kecilnya yang biasanya bertingkah lucu, imut, manis super menggemaskan, sekarang telah berubah dan menjelma menjadi dua pelacur binal yang begitu haus sentuhan. Dengarkan juga desahan keduanya, bersahut-sahutan keras seperti tidak mau kalah dari satu sama lain.

Mark merasakan penisnya menegang di balik celananya. Mendengar desahan seru mereka, melihat sendiri kegiatan gila keduanya, semua itu sangat sukses memancing birahinya untuk naik. Badannya sedikit panas, dan dadanya berdetak cukup keras, mungkin ini karena telah muncul hasrat di dalam dirinya -sebuah dorongan tidak sabar yang menggebu, ingin segera dan cepat-cepat ikut bergabung bersama dua pelacur kecilnya yang nakal itu.

Datang dengan zipper celana telah ia turunkan, sepertinya Mark akan bergabung sama telanjangnya dengan kedua gadis kembar itu.

Mungkin karena terlalu asik bermain-main, baik Haechan dan Donghyuck sama sekali tidak menyadari kehadiran Mark yang kian lama kian mendekat. Mark melangkah dari sisi belakang Haechan yang sedang menungging memakan kelamin milik Donghyuck yang sekarang sedang telentang dan mendesah keras menyuarakan nikmatnya.

Sampai akhirnya sebuah tamparan cukup keras Haechan dapatkan di bokongnya dan itu segera menyadarkannya bahwa ada kehadiran sosok lain di belakangnya. Dan saat Haechan menoleh, maka terkejutlah ia saat mendapati jika itu adalah Daddy-nya yang sejak tadi sudah sangat ia rindukan.

"Dad-"

'PLAK!'

Ucapan Haechan tidak bisa tuntas saat sekali lagi Mark mendaratkan tamparan keras pada bokongnya.

Perhatian Donghyuck juga teralihkan. Donghyuck terkejut melihat Mark sudah setengah berdiri di belakang Haechan.

"Lanjut Channie sayang, siapa yang izinkan kamu berhenti?" Tanya Mark sambil sekali lagi menabuhkan tamparan di bokong Haechan. Lalu juga meremasnya, dan melebarkan kaki anaknya agar jari-jemarinya bisa mudah untuk menyelinap masuk ke dalam kelamin berlendir itu.

"Angh-" Haechan mendesah saat ada jari yang membelai kelentitnya, tapi desahan itu terbungkam saat Mark mendorong kepalanya supaya kembali tunduk pada selangkangan Donghyuck lagi.

Haechan sulit untuk fokus setelah itu. Kelentitnya dimainkan, dikucek dan digosok kasar, dia sedang dibuat enak sampai rasanya bagai diterbangkan dan dilemparkan jauh ke langit. Tapi di sisi lain, dia juga harus membuat enak kembarannya yang sekarang memek basah milik Donghyuck itu sedang berada tepat di depannya, di depan matanta, dan tak bisa ia abaikan begitu saja, agar adil mereka sama-sama merasakan enak.

Desahan Haechan dan Donghyuck kembali bersahutan, tapi yang lebih vokal adalah Donghyuck karena mulut gadis itu tidak tersumpal apa pun seperti kondisi Haechan sekarang. Haechan juga ingin mendesah, karena demi apa pun sekarang Mark telah memasukkan jari ke dalam lubang kawinnya, memberi genjotan dan sodokan yang keras sampai badannya ikut terentak-entak, terdorong maju beberapa kali, menjadikan ia tiap mau buka mulut untuk mendesah sudah terhenti lebih dulu sebab mulutnya selalu terbentur pada kelamin milik Donghyuck.

"Aanghh! Enak! Enaaak bangeet Channieeh! Teruush jilaat-aakh! Jangan berentiih!"

Haechan bisa mendengar protes dari kembarannya karena ia berhenti menghisap biji kelentit itu dan malah sibuk mendesah sendiri, sebab sekarang lubangnya sedang digenjot kasar dab kelentitnya sendiri sedang diusak kacau oleh Daddy mereka. Jika seperti ini maka Haechan menyerah, ini terlalu nikmat dan ia tidak bisa fokus lagi, tidak bisa mengimbangi untuk juga memberi nikmat pada Donghyuck.

"Aanghh! Da-Daddyyhhh aahhh di sanaah! Iyaaah terus di sanaah! Enaaak.... Terus sodokk!" Haechan keenakan disodok jari oleh Mark. Tak memedulikan yang lain, hanya terhanyut pada kesenangannya sendiri. Bahkan saat Donghyuck memilih bangun dari hadapannya, Haechan tidak peduli sama sekali, ia biarkan saja kemudian lanjut menunduk menenggelamkan kepalanya pada alas kain mereka seiring dengan makin kerasnya sodokan dan kucekan yang ia dapatka pada lubang kawin dan keletitnya.

"Ssshhh!! Aaahh.... Dikit lagii! Aahhh! Iyaa! Iya! Daddyy-aarghhh!" Dan Haechan rapatkan kakinya, menungging lebih tinggi sedangkan punggungnya meliuk turun ke bawah, dalam kondisi panggul mengejan hebat saat akhirnya orgasmenya datang. Orgasme yang dibarengi dengan kucuran air kencing dari uretra miliknya.

Haechan kencing deras sekali, dan pahanya masih merapat, yang artinya tangan Mark masih terjepit di sana. Tapi Mark tidak mengacuhkan itu, membiarkan tangannya tetap terjebak di sana sedangkan mulut mulai meladeni ciuman dari Donghyuck yang sekarang sudah berdiri dengan lutut di hadapannya. Mereka berciuman, dan tangan Mark yang lain bergerak meremas dada Donghyuck, mengusak putingnya hingga Donghyuck harus beberapa kali menghentikan ciuman mereka sebab ia merasa kegelian.

"Aahhh..." Desah Donghyuck dengan suara lirihnya. Dan itu malah membuat Mark semakin senang memainkan dada besar itu dalam tangkupan telapak tangan lebarnya.

Haechan baru pulih dari orgasmenya, menarik napas dengan lemah lalu menoleh ke belakang untuk melihat kembarannya asik berciuman dengan Daddy mereka. Haechan jelas tidak mau kalah, dan tidak mau diam saja. Ia segera berbalik untuk menungging di depan Mark, di depan selangkangan Mark lebih tepatnya. Haechan buru-buru menurunkan celana Mark yang zippernya sudah terbuka, menarik turun bokser serta semuanya ia tanggalkan sampai akhirnya batang kontol milik Mark tersaji di depan muka.

Haechan tersenyum senang dan tidak perlu diberi aba-aba, benda itu segera ia mainkan dengan mulut dan kedua tangannya. Melumurinya dengan liur sampai licin total, menjilatinya dari pangkal hingga ke pucuk, dan kemudian memberi hisapan pada bola kembarnya. Perlakuannya ini membuat Haechan mendapatkan hadiah berupa rambut bagian belakangnya yang dijambak kasar oleh Mark. Dijambak lalu ditekan ke depan saat ia sudah melahap penis itu, ditekan kuat sampai seluruh penis itu masuk menyentuh tenggorokannya.

"Ssshhh! Hebat banget mulut kamu, Haechan! Belajar dari mana-aahh.... Kayak pelacur kamuh!" Mark mendesah sambil terus mendorong kontolnya memenuhi mulut Haechan, ia genjot mulut itu, menyentak tenggorokan Haechan berkali-kali hingga menimbulkan bunyi nyaring selayaknya orang yang akan muntah -tapi terdengar lebih kasar dan berat.

Tapi Mark sebenarnya tidak puas dengan hanya menggunakan mulut, dia menginginkan yang lebih sempit, basah, becek dari mulut ini, dan itu adalah lubang kawin milik si kembar. Mark tarik penisnya, dan entah siapa dulu ia tak peduli dan tak pilih-pilih, akan Mark pakai untuk menyarangkan penisnya. Karena Haechan berada tepat di hadapannya, dan sekali dorong gadis belia itu telah kembali dalam posisi setengah berbaring sambil mengangkang, maka Mark pun lantas memasukkan penisnya di sana. Mendorongnya dalam sekali hentak yang membuat Haechan langsung menyuarakan desahan merdunya.

"Aaahhhh!!" Seperti itulah Haechan mendesah keenakan saat lubang kawinnya dipenuhi oleh kontol besar, kekar, berurat dan panjang milik sang Daddy. Penuh sekali, sampai dari kulit perutnya tercetak jelas bentuk kontol Mark yang memenuhinya.

"Aahhh Daddyyhh pleasee... Ayoh genj-genjot langsuung-aahh!" Haechan mendesah keenakan sebab Mark mulai menggenjot lubang kawinnya dengan gerakan yang cepat, dan itu juga langsung menyerang titik nikmatnya dengan tepat.

"Nghh! Hyuckiieh juga mau! Hyuckkiee mauu!" Donghyuck iri melihat Haechan digenjot oleh Mark. Ia merengek sambil ikut berbaring di sebelah Haechan, membuka kakinya lebar, lalu labianya ia belah dengan jari-jarinya, memamerkan memeknya yang sudah sangat basah dengan lubang kawin yang berkedut ingin cepat dikawini juga.

Mark akan bersikap adil, ia tampar memek Donghyuck sampai si gadis itu tersentak kaget. Setelah menamparnya, Mark usak-usak kelentitnya kasar, sebelum mulai mengarahkan dua jarinya masuk ke dalam liang kawin tersebut. Jari bekerja di sana, sedangkan kontolnya tetap konsisten menggenjot Haechan yang sekarang sedang merem-melek keenakan.

Mark perhatikan ekspresi keenakan yang dipertunjukkan oleh kedua gadis kembar kesayangannya ini secara bergantian. Haechan dengan mulut terbuka yang terus mengeluarkan desahan, tak mengatup sedikit pun mulut itu hingga membuat beberapa liur menetes dari sana. Muka Haechan sangat merah, penuh keringat dan matanya nampak begitu sayu, mata itu juga terus merem-melek setiap kali ia memberikan genjotan yang kuat hingga terdorong sampai mentok, pasti keenakan sekali bocah itu. Tangan Haechan juga tak bisa diam, meremasi dada sendiri atau kadang malah nakal meremas dada kembarannya yang ada di sebelah.

Dan Donghyuck, beralih pada si gadis dengan dada super besar untuk gadis seusianya itu. Rambut Donghyuck ajak-ajakkan sekali, Mark lihat ada bekas tali rambut yang putus di ujung rambut Donghyuck, menjadikannya tahu apa penyebab rambut itu bisa sekacau ini. Tergerai, bergelombang, dan saat badan terhentak-hentak, maka rambut itu langsung mengembang tidak karuan. Namun karena Donghyuck terus berkeringat, setidaknya rambut itu tidak nampak semengembang itu, tapi malah berakhir sedikit lepek dan kucal. Rambut berantakan, muka memerah dengan banyak bulir keringat yang menetes, serta mata yang juling ke atas dengan punggung yang ikut melengkung tinggi ke atas. Mark pikir Donghyuck akan mencapai orgasmenya.

"Aakhh! Ma-mauuu pipiisssh!" Donghyuck berkata lirih.

Mark juga bisa merasakan dinding lubang kawin Donghyuck berkedut, memijat jarinya yang sejak tadi keluar-masuk. Benar, sebentar lagi orgasme itu akan datang. Langsung saja Mark tekan kelentit Donghyuck dengan jempolnya kuat lalu ia gesek kasar, disusul dengan dua jarinya yang terus -lagi dan lagi menggenjot lubang kawin Donghyuck gila-gilaan.

Gerakan jari itu juga memengaruhi gerakan pinggul Mark yang terasa semakin cepat. Memompa lubang kawin Haechan penuh semangat sampai Haechan harus menaik-naikkan pinggulnya demi agar bisa mengikuti ritme milik Mark.

"Aaarghh! Daddy! Daddy! Ma-mau pipisss-aaahhh!" Donghyuck menggeliat kacau di sebelah Haechan saat orgamesnya datang. Kedua tangannya menekuk sambil mengepal di depan dada, orgasme hebat dengan semburan air kencing yang sekarang sedang dikacaukan oleh Mark. Ditampar permukaan uretra milik Doonghyuck, digesek kasar, dan menyipratlah seluruh semburan air kencing Donghyuck.

Sedangkan Donghyuck mulai lelah dan lemas sendiri, kini Haechan pun akhirnya bisa mendapatkan perhatian Mark secara penuh. Ia ulurkan tangan untuk mendekap bahu ayahnya, mencium bibirnya, dan biarkan lubang kawinnya terus digenjot hingga menghasilkan bunyi bising dari kulit yang saling membentur, dan itu akan mencari warna yang indah untuk pagi cerah mereka di taman belakang yang sangat luas ini.

Mark bosan dengan posisi ini, ia lepaskan penisnya yang mengundang erangan protes dari Haechan, tapi kemudian protesan itu langsung terputus saat Mark menariknya supaya bangun dan setengah berdiri membelakanginya.

Haechan berdiri dengan bertumpu menggunakan lutut, kakinya dibuka sedikitdan kemudian Mark memeluknya dari belakang sambil mulai memasukkan penisnya kembali ke dalam lubang kawin milik Haechan. Masuk secara perlahan, dan saat sudah masuk, Mark menyuruh Haechan merapatkan kakinya, hal itu membuat Mark merasakan penisnya semakin dijepit.

"Aahhh..." Dan Mark mendesah saat merasakan semakin sesaknya apitan paha dan lubang kelamin Haechan secara bersamaan.

"Aarghh! Dadddy... Uuuhhh! En-enaak bangeet lebiih kenaa!" Haechan mendesah saat Mark mulai menggenjotnya. Dalam posisi ini, bisa Haechan rasakan titik nikmatnya terstimulasi dengan lebih kuat, apalagi sodokan Mark pun terasa lebih keras, hanya membuat ia makin mabuk kepayang saja dengan kenikmatan yang ada.

"Enak sayang? Mau lebih mentok lagi hm?" Bisik Mark dari sisi telinga Haechan dengan suara yang serak dan berat.

"Aahh! Aarghh! Dad-" Haechan bahkan belum sempat berkata tapi dia sudah disodok dengan sangat mentok lagi oleh Mark. Badannya terentak kuat, sedangkan kepala ia dongakkan tinggi, tak sanggup menanggung segala nikmat ini.

"Aahh! Pentiil akuuh!" Makin kacau lagi saat dadanya juga dimainkan oleh Mark. Diremas-remas dengan puting yang dipelintir, betapa enaknya seluruh sentuhan yang ia dapatkan.

Dalam beberapa menit, Haechan merasakan kontol di dalam lubang kawinnya makin membesar, dan entah mengapa itu membuat badannya, kakinya semakin lemas hingga akhirnya tak mampu untun terus berdiri dengan bertopang pada kaki. Haechan ambruk ke depan, dalam posisi menungging dan itu membuat penis Mark sempat terlepas sebentar, sedetik saja sebelum Mark tarik pinggul itu mendekat kembali memasukinya dengan tidak sabar.

"Aaahhh!!" Posisi ini tetap membuat Haechan lemas, dan bergetar sebenarnya. Tapi setidaknya masih ada kedua tangannya yang membantu untuk menopang berat tubuhnya, tidak seperti sebelumnya yang hanya kedua lutut saja. Tapi meski pun begitu, siku milik Haechan juga tetap bergetar heboh, sebab mau bagaimana lagi badannya benar-benar lemas menerima sodokan dahsyat dari kontol besar Mark yang kian lama kian menggembung di dalam lubangnya.

"Uunghh Channie, mau nen gaak?" Lama suara Donghyuck tidak terdengar, kini gadis itu sepertinya sudah berhasil mengumpulkan seluruh energinya kembali. Ia datang kepada Haechan, menawarkan dadanya yang bulat besar itu kepada Haechan, barangkali Haechan mau mengenyot susunya.

"Aaahh.... Channiieee!" Dan benar saja, Donghyuck mendesah keenakan saat Haechan benar-benar menghisap susunya. Ia duduk di depan Haechan yang badannya terus terantuk maju-mundur seiring sodokan Mark di belakang sana.

Air liur Haechan menetes deras di puting susu Donghyuck. Meleleh di sana banyak sekali sebab sesekali Haechan melepaskan puting itu demi membebaskan desahannya. Dalam kondisi mulut yang terbuka, mendesah-desah, dan mengalirlah banyak air liur dari mulutnya membasahi puting Donghyuck.

Haechan sudah teler sekarang. Lubangnya dikawini begitu hebat oleh batang perkasa milik Mark, genjotan itu kian kuat dan kian menyentaknya hingga membuat lubangnya berkedut keras. Dia juga akan meraih orgasmenya dalam waktu dekat. Haechan kini mengulurkan tangan untuk mengusak itilnya sendiri kasar, melakukan itu sambil melihat Donghyuck yang sedang meremasi dadanya sendiri, menyebabkan seluruh bekas liur di sana jadi merata membuat licin seluruh permukaan dada. Haechan makin panas, dadanya berdetak makin keras, dan napasnya kian memburu, sedikit lagi orgasmenya akan datang.

"Uungh! Aaahh! Mau ke-luuarghh! Daddiehhh!" Haechan menjerit keras saat akhirnya ia orgasme yang kemudian juga disusul oleh Mark.

"Aarghhh!" Pria itu menggeram, mendorong kuat bokongnya ke depan, menempelkan selangkangan mereka erat-erat untuk memastikan agar seluruh spermanya masuk ke liang Haechan, memenuhinya sampai tumpah-tumpah.

"Ssshhh!" Haechan mendesis merasakan perutnya menghangat, dan merasakan sesuatu seperti mengalir memenuhinya di dalam sana.

"Anget, peju Daddy anget bangeet! Haaah... Ngghh!" Ucap Haechan dengan putus-putus.

Mark melepaskan penisnya saat ia rasa semuanya sudah ia semburkan di dalam sana. Saat ia tarik keluar, ia melihat Donghyuck bergegas menghampirinya, menungging sambil memosisikan kepala di depan penisnya. Mark tidak menyangka kalau gadis kecilnya yang biasa bertingkah imut itu kini malah sedang berantusias menyambut kontolnya yang baru keluar dari lubang Haechan.

"Uuhh! Giliran aku! Giliran aku!" Donghyuck bersemangat untuk meraih penis Mark yang masih tegang itu, ia jilati dan masukkan ke dalam mulutnya untuk kemudian merasakan percampuran antara cairan kawin Haechan dengan peju milik sang Daddy.

"Nakal banget kamu, Hyuckie. Siapa yang ajari?" Tanya Mark sambil mengambil posisi duduk, ia buka kakinya lalu membiarkan Donghyuck memosisikan diri di tengah-tengah kakinya yang terbuka.

"Hyuckkie sejak dulu memang nakal Daddy, tapi dia selalu pura-pura jadi lucu dan sok imut saja!" Celetuk Haechan yang sekarang dalam posisi duduk, mengangkang, menunduk melihat lubant kawinnya melelehkan beberapa sisa cairan peju milik Mark yang tidak dapat tertampung semua.

"Oh, begitukah? Kalau begitu, Hyuckkie layak mendapatkan hukuman karena sudah jadi nakal." Perkataan dari Mark ini adalah sebuah awal dari panjangnya pagi mereka.

Berlangsung lebih panjang dari yang kedua gadis itu bayangkan, sebab mereka berdua terus digilir oleh Mark sendiri secara bergantian satu per satu, bak tiada lelah. Saat Donghyuck sudah lemas dan lelah, nyaris jatuh terlelap, ia masih bisa melihat Haechan sedang dikawini oleh Daddy mereka dalam posisi berdiri dan tubuh Haechan diapit di pohon.

Tapi setelah itu Donghyuck sudah tak ingat lagi, ia jatuh terlelap karena kelelahan dan saat terbangun tiba-tiba sudah pindah ke kamar dalam kondisi sudah berganti baju dan nampak bersih, tanpa bau keringat, tanpa bau peju atau pun bekas peju. Bersih sekali. Saat terbangun juga matahari sudah hilang, berganti malam. Ternyata tidurnya panjang sekali.

Donghyuck tidak mendapati keberadaan kembarannya. Ia berkeliling rumah mencari Haechan, dan saat ketemu ternyata Haechan sedang bermain bersama Daddy di ruang penelitian. Donghyuck melihat Haechan sedang digenjot oleh tentakel, ya -tentakel yang dulu lagi. Digenjot tentakel sambil mulut sedang memberi blowjob pada penis Daddy mereka.

"Daddy! Hyuckie ikut! Hyuckie ikut!" Dan masuklah Donghyuck ke dalam ruang penelitian ayahnya tersebut untuk bergabung dalam kegiatan yang sama seperti yang sudah pernah mereka lakukan dulu. Bersama Daddy, Haechan, dirinya dan juga tentakel-tentakel besar yang menggelikan tapi juga sangat membuat enak itu.

"Sini, Hyuckie!" Mark menerima kehadiran Hyuckie sambil memberikan senyumnya. Dia sudah sangat siap untuk kembali memulai malam yang lebih panjang jika dibandingkan dengan kegiatan panas mereka tadi pagi. Kegiatan yang lebih gila.

 

***

 

END

Notes:

Tinggalkan jejak pwiissss😔😔😔

Notes:

JANGAN LUPA REVIEW ALLL BIAR AKU MAKIN SEMANGAT MENULIS 🥺🥺🥺