Actions

Work Header

Daily Lives of The Shen-Gao Family

Chapter 5

Summary:

Hua Sheng semakin gencar mendekati Shen Lele. Namun, sebuah krisis mendadak terjadi di kediaman Shen.

Chapter Text

Jam pelajaran terakhir baru saja usai. Sebagian besar siswa yang tidak berkegiatan di klub berhamburan keluar gerbang akademi, namun tidak bagi Shen Lele. Remaja cantik dengan feromon vanila itu memilih tinggal lebih lama di perpustakaan lantai dua untuk menyelesaikan tugas ekonomi yang cukup rumit.


Suasana perpustakaan begitu sunyi, hanya ditemani deretan rak buku tinggi dan aroma kertas tua. Lele duduk di sudut paling sepi, fokus mengetik di laptopnya sambil sesekali membolak-balikkan buku di hadapannya.


Tanpa ia sadari, sebuah bayangan tinggi berdiri di samping mejanya. Aroma kayu manis yang hangat, bercampur dengan sedikit dominasi Alpha yang terkontrol, mendadak menyapa indra penciumannya.


Lele mendongak, dan napasnya sedikit tercekat.


Hua Sheng berdiri di sana dengan seragam sekolah yang sedikit berantakan, dasi yang longgar dan kancing atas yang terbuka, membuatnya terlihat jauh lebih mencolok dan... tampan. Di tangannya, pemuda itu membawa sebuah buku tebal seolah-olah ia memang berniat belajar.


"Mau apa kau, Hua Sheng?" bisik Lele setengah protes, berusaha menjaga ketenangannya meski feromon vanilanya mendadak bergetar manis. "Jangan bilang kau mencariku."


"Kalau iya memangnya kenapa?" balas Hua Sheng tanpa merasa bersalah. Ia langsung menarik kursi di sebelah Lele dan duduk begitu saja tanpa diundang.


Jarak mereka menjadi sangat dekat. Sontak, dominasi feromon kayu manis Hua Sheng membuat insting omega Lele merespon, merasa aman sekaligus gugup setengah mati. Hua Sheng melirik layar laptop Lele, lalu mendengkus pelan. "Tugas ini? Kau bisa selesai sampai malam kalau mengerjakannya sendirian. Biar kubantu."


"Aku tidak butuh bantuanmu! Jauh-jauh sana. Nanti kalau Ayahku tahu kau mendekatiku lagi, beliau bisa benar-benar mengirim pasukan khusus ke sekolah!" gerutu Lele, meski pipinya sudah merona merah muda.


Hua Sheng terkekeh pelan, suara bariton rendah khas seorang Alpha muda yang sukses membuat jantung Lele berdetak dua kali lebih cepat. "Biarkan saja Ayahmu tahu. Lagipula, Ayah Wenlang sedang sibuk rapat besar di HS Group hari ini. Dia tidak akan tahu kalau kita sedang... belajar kelompok."


"Sembarangan!" protes Lele, meski ia tidak menolak saat Hua Sheng mulai mendekatkan kursinya dan menunjuk beberapa poin penting di buku Lele yang dapat membantu tugasnya.


Selama setengah jam berikutnya, perpustakaan menjadi saksi bisu kedekatan mereka. Meskipun Hua Sheng terkadang melontarkan godaan-godaan kecil yang membuat Lele merotasikan bola matanya sebal, pemuda berferomon kayu manis itu benar-benar membuktikan bahwa ia bisa diandalkan. Setiap kali Lele kesulitan, Hua Sheng menjelaskan dengan sabar, menunjukkan sisi dewasa yang jarang diperlihatkan di hadapan orang lain.


Namun, di tengah ketenangan itu, ponsel di saku Hua Sheng bergetar hebat.


Hua Sheng melirik layar ponselnya. Sebuah pesan singkat dari sekretaris sang papa, Chen Pinming, masuk dengan tulisan tegas: ‘Tuan Muda Hua Sheng, ini sudah lewat jam lima sore. Tuan Sheng sudah menanyakan keberadaanmu. Pulang sekarang sebelum beliau mengirim pasukan pencari.


Hua Sheng mendengkus, lalu menatap Lele dengan ekspresi menyesal yang langka. "Hah... papa sudah menyuruhku pulang."


Lele hanya meliriknya singkat, jari-jarinya masih menari di atas keyboard. Meski dalam hatinya ada secercah rasa kehilangan yang tersembunyi di balik sikap tak acuhnya. "Makanya, jangan suka keluyuran tanpa izin. Cepat sana pulang sebelum Papamu mencari ke sini. Aku juga sebentar lagi selesai."


Sebelum beranjak dari kursinya, Hua Sheng tiba-tiba mencondongkan tubuhnya. Dengan gerakan cepat dan refleks yang akurat, ia mengecup sekilas celah perpotongan lehernya tepat di area di mana feromon vanila pemuda itu menguar paling pekat.


"Sampai jumpa besok, Lele manis," bisik Hua Sheng lembut, lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan perpustakaan dengan seringai puas di wajahnya, meninggalkan Lele yang membeku di tempat dengan wajah semerah kepiting rebus.


Lele menyentuh kepalanya sendiri, merutuk dalam hati sementara aroma vanilanya meledak-ledak karena salah tingkah. Alpha itu benar-benar semakin berani!

 


 


Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan bias jingga yang menghiasi jendela kaca kediaman keluarga Shen. Sang kepala keluarga baru saja tiba di rumah setelah seharian penuh berkutat dengan rapat panjang di HS Group. Dengan jas yang tersampir di lengan, ia melangkah masuk ke ruang tamu, siap menyambut malam yang tenang bersama keluarganya.


Namun, langkah kaki Wenlang mendadak terhenti. Hidung tajam seorang Alpha dominan langsung menangkap sebuah molekul asing yang sangat dibencinya menguar di udara rumahnya.


Aroma kayu manis. Lembut, tapi sangat jelas membaur dengan aroma manis vanila milik putra sulungnya.


Di ruang tamu, beberapa saat sebelumnya Shen Lele baru meletakkan tas sekolahnya dengan langkah santai, berusaha memasang wajah selurus mungkin. Sialnya, hidung tajam sang Ayah tidak bisa dibohongi.


Wenlang menyipitkan mata. Feromon bunga iris miliknya langsung mendesis pelan, menguar dengan tekanan dingin yang membuat Lele menelan ludah. "Shen Lele... Diam di situ."


Lele memutar bola matanya malas. "Ada apa lagi, Ayah? Aku baru saja sampai."


"Cium aromamu," desis Wenlang tajam, melangkah mendekat dengan rahang mengeras. "Kenapa ada bau kayu manis yang menempel di seragammu? Kau baru saja bertemu dengan Alpha itu lagi, hm? Bukankah sudah ayah bilang—"


Prang!


Ucapan penuh amarah Wenlang terpotong seketika.


Dari arah dapur, suara pecahan porselen menggema nyaring, disusul oleh jeritan melengking penuh ketakutan dari si anak kedua.


"PAPAAAA!" teriak Jiayi histeris. "APA YANG TERJADI? PAPA! BANGUN, PAPA!"


Dalam sepersekian detik, warna dari wajah Shen Wenlang langsung terkuras habis. Seluruh kemarahan dan rasa kesalnya pada Hua Sheng lenyap tak bersisa, digantikan oleh gelombang teror murni yang menghantam dadanya.


Itu suara Jiayi. Dan yang diteriaki adalah Gao Tu.


Omeganya.


Wenlang menerjang koridor seperti badai, melesat menuju dapur dengan kecepatan yang bahkan membuat Lele terkejut. Di belakangnya, Lele dan si bungsu Yuhan yang baru keluar dari kamar lantai atas langsung berlari menyusul dengan panik.


Sesampainya di dapur, pemandangan yang tersaji di depan mata membuat jantung seisi ruangan seperti berhenti berdetak.


Gao Tu tergeletak tak sadarkan diri di lantai marmer putih. Piring berserakan di sekitarnya, pecah berkeping-keping. Jiayi berlutut di samping sang papa, menangis histeris sambil mengguncang-guncangkan lengan Gao Tu, sementara aroma sage yang biasanya menenangkan kini melemah dan hampir tak berjejak. Sebuah tanda darurat dari tubuh seorang omega yang kehilangan kesadaran.


"Papa! Bangun, hiks... Papa!" Jiayi menangis ketakutan, wajahnya pucat pasi.


Wenlang menjatuhkan dirinya ke lantai. Napas pria paruh baya itu tercekat, dadanya terasa sesak seolah dihantam palu besar. Tangannya bergetar hebat saat ia mengangkat tubuh Gao Tu ke dalam dekapannya.


"Tu... Gao Tu, buka matamu... kumohon..." suara bariton Shen Wenlang yang biasanya tegas dan berwibawa kini bergetar parah, nyaris berupa bisikan putus asa. Ketakutan terbesar dalam hidupnya—kehilangan matenya—kembali mencekik lehernya setelah sekian tahun terkubur.


Aroma bunga iris Wenlang meledak liar, tak terkontrol, mencerminkan kepanikan luar biasa dari sang Alpha yang kehilangan kendali.


"Ayah! Ayo kita bawa Papa ke rumah sakit!" teriak Lele dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Remaja berferomon vanila itu gemetar hebat melihat sang papa terkapar tak berdaya. Jiwanya yang biasanya berani mendadak runtuh melihat pemandangan ini.


Yuhan si bungsu berdiri di ambang pintu dapur sambil memeluk dirinya sendiri, menangis sesenggukan tanpa suara. Aroma bunga persik miliknya berubah masam karena ketakutan yang teramat sangat. "Kak... ada apa dengan Papa? Aku tidak mau Papa pergi..."


Mendengar tangisan anak-anaknya dan merasakan tubuh Gao Tu yang terasa dingin di dalam dekapan, kesadaran Wenlang tersentak kembali. Ia tidak boleh hancur sekarang.


"Lele, panggil sopir! Kita ke rumah sakit!"


Tanpa membuang waktu sedetik pun, Lele berlari lebih dulu, disusul Wenlang yang membopong tubuh ringan Gao Tu dalam pelukannya, berlari keluar rumah menuju mobil yang disiapkan secepat kilat. Sementara Jiayi dan Yuhan mengikuti di belakang dengan panik.


Di dalam mobil yang melaju kencang menembus jalanan kota, Wenlang mendekap erat Gao Tu di dadanya, terus-menerus mengecup kening sang omega sambil memanggil namanya berulang kali, berdoa dalam hati agar Tuhan tidak merenggut satu-satunya alasan ia bisa bernapas di dunia ini.

Notes:

sayang banget sama Gao Tu🩵