Actions

Work Header

Destiny

Summary:

Keadaan dunia semakin kacau. Daftar nama NOC telah jatuh ke organisasi hitam. Agen rahasia terbunuh satu per satu. Masa depan terlihat semakin kelam dengan adanya Pasukan Pengubah Sejarah yang diluncurkan. Untuk menanganinya, Jepang mengirimkan tiga pasang alpha - omega terbaik sebagai Saniwa.

 

Termasuk Akai Shuichi, sang peluru perak FBI, dan Furuya Rei, omega sekaligus agen terbaik PSB dengan nama 'Nol'.

Chapter 1: Prolog

Chapter Text

Katanya, ini tugas Negara.

Katanya juga, ini demi kemaslahatan umat.

Masih katanya, hanya mereka yang mampu mengemban tugas ini.

Tapi entah kenapa,

“Kau bilang apa tadi, James?”

“Aku tidak salah dengar kan, boss?”

rasanya,

“Akai Shuichi, kau akan dipasangkan dengan Furuya Rei dari PSB dan di kirim ke masa lalu untuk menyelamatkan sejarah.”

“Furuya Rei, demi kemaslahatan Jepang, kau akan didaftarkan secara resmi sebagai omega milik Akai Shuichi dari FBI dan dikirim ke masa lalu untuk menyelamatkan sejarah.”

Kok seperti dimanfaatkan, ya?

Rasanya Furuya Rei ingin terjun bebas dari Tokyo Tower saat itu juga.

[Destiny?]

Detective Conan © Aoyama Gosho

Touken Ranbu © DMM Nitroplus

Ensemble Stars © Happy Elements

Destiny ? © Velia Michaelis

Main Pairing : Akai Shuichi/Okiya Subaru x Furuya Rei/Amuro Touru

WARNING :

Rate E, Omegaverse, BL

[Untuk keperluan cerita, pasukan Jikan Shokogun/Retrogarde Army/Pasukan Pengubah Sejarah di sini dibuat dan dikembangkan oleh Black Organization. Sementara program ‘Saniwa Sage’ didirikan oleh Pemerintahan Jepang dan mendapat sokongan dari PBB.]

.

.

.

.

.

Saat ini dunia sedang dilanda oleh kepanikan massal. Pasalnya, bukan saja daftar NOC sudah bocor ke Black Organization (BO), tetapi mereka juga dikabarkan telah meluncurkan program baru yang menyerang masa lalu. Para agen yang berhasil selamat setelah menyusup ke dalam BO berkumpul dan menyerahkan laporannya. Rapat PBB pun digelar untuk mencari solusi. Pemerintahan Jepang memutuskan untuk mengirim orang – orang dengan kekuatan spiritual tinggi ke masa lalu dan membangkitkan jiwa senjata kebanggaan mereka, pedang dalam berbagai jenis. Mereka disebut sebagai ‘Saniwa’.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebagai saniwa selain memiliki jiwa spiritual tinggi.

Pertama, orang itu harus setia dan mau bekerja sama dengan Jepang.

Kedua, orang tersebut harus berusia 16 – 35 tahun.

Ketiga, ‘Saniwa’ harus kuat dan sehat secara mental dan fisik.

Keempat, para pejuang ini harus cerdas dan memiliki wawasan akan sejarah Jepang.

Lalu yang terakhir, mereka yang menjadi saniwa haruslah pasangan alpha – omega yang terikat satu sama lain paling tidak secara negara.

Dan dengan itu, terpilih lah tiga pasang dari sekian banyak kandidat yang akan menjalankan tugas sebagai Saniwa.

.

Furuya menggebrak meja tidak terima.

saat ini ia sedang duduk berhadapan dengan Akai. Di salah satu ruang pertemuan pemerintahan Jepang. Satu jam sebelum pencatatan mereka sebagai pasangan resmi yang menikah.

“Kenapa harus kau, dari sekian banyak alpha di luar sana?” Rei mendesis pelan. Matanya memicing sinis ke pria di hadapannya. Masih terekam jelas di otaknya Rye yang membunuh Scotch.

Akai tidak berekspresi, ia hanya menegakkan tubuhnya sebelum berbicara.

“Kau tau alasannya.”

“Ugh…” Rei menahan lidahnya. Karena walaupun Akai adalah orang paling menyebalkan di mata Rei, tetapi ia benar. Rei tahu alasannya. Suara atasannya di PSB masih terdengar jelas di telinga pria berkulit gelap itu.

“Akai Shuichi adalah agen terbaik di FBI saat ini, Furuya – san. Kau, adalah agen terbaik yang kami miliki. Jika saja daftar nama NOC tidak bocor, maka kami yakin kau masih dapat berbaur dengan mereka. Karena itu, kami mohon bantuan mu sekali ini lagi.”

Mereka berdua adalah kandidat terbaik penyelamat Jepang.

“Jadi sekarang bagaimana? Apa kau menerima begitu saja ‘perjodohan’ ini!? Kalau mereka ingin mengirim orang, kenapa tidak kirim pasangan detektif muda itu saja!? Kenapa harus aku, yang dipasangkan dengan KAU!?” Lagi, Rei menggebrak meja. Kali ini berhasil membuat Akai agak berjengit karena kaget.

Ha ha ha.

Rasakan.

“Kudou – kun dan Hattori – kun dibutuhkan di masa ini. Mereka harus membantu kepolisian dan rekan – rekan kita menyelesaikan kasus yang pasti akan semakin menggunung. Kau dan aku, sebaliknya, harus melakukan tugas lain. Identitas mu sebagai anggota pasukan special Jepang dan sebagai omega telah ketahuan. Kau kira kau bisa bertahan hidup berapa lama?”

Rei menggeram tidak suka. Sedari dulu, ia selalu direndahkan karena masalah statusnya yang omega. Bahkan setelah ia berhasil masuk satuan khusus kepolisian pun, masih ada para bajingan yang terus menghina statusnya. Ia tahu Akai bukan lah orang seperti itu, tetapi tetap saja, memikirkan bahwa ia akan segera jadi milik orang lain. Di mana sebentar lagi jika ia melawan perintah Akai, ia bisa dipenjarakan, membuatnya tidak senang.

“Lalu sekarang apa? Aku tidak mau mating dengan mu!”

“Tidak perlu. Kita hanya perlu mengesahkan hubungan kita secara Negara. Tetapi untuk itu, ada satu hal yang harus dilakukan. Kau tahu apa itu, kan, Furuya – kun?”

Bonding.

Tidak perlu mating, mereka hanya butuh sang alpha menggigit tengkuk omega. Menandai mereka sebagai milik. Membuat omega tersebut menjadi tanggung jawab alphanya. Memastikan bahwa aroma feromon mereka bercampur menjadi satu.

Sepuluh menit lagi.

Rei tidak bodoh, ia tahu alasan mengapa ia dikunci berdua dengan Akai di ruangan ini.

Menghela nafas kesal, Rei melepaskan jasnya dan melemparkan sembarangan. Ia melonggarkan dasi hijau yang dikenakan sebelum membuka tiga kancing teratas yang dikenakan. Sedikit menarik kemeja putihnya, pria yang dulunya dikenal sebagai ‘Zero’ memastikan tengkuknya terekspos dengan jelas sebelum berbalik memunggungi Akai.

“Lakukan dengan cepat.” Rei memerintah tak acuh. Dua jarinya dengan sengaja memijat pelan lehernya. Memastikan bahwa feromonnya keluar memenuhi ruangan.

Ia mendengar geraman tertahan dari belakang.

Disusul kemudian dengan aroma yang membuat tubuhnya serasa ringan. Sepasang lengan kokoh melingkari pinggangnya. Rei memejamkan mata.

“Furuya – kun, aku akan memberitahumu kebenaran di balik kematian Scotch nanti. Tapi untuk saat ini,” Akai menjilat tengkuk Rei. Membiarkan saliva membasahi sebelum ia menghirup dalam – dalam aroma omega di pelukannya.

“terima kasih karena bersedia bekerja sama.”

Rei menjerit.

Rei menjerit keras saat gigi – gigi Akai merobek jaringan kulit tengkuknya. Ia tahu bahwa melakukan bonding rasanya akan sakit, tetapi ia tidak menyangka akan sesakit ini.

Ia dapat merasakan dengan jelas bagaimana terbentuknya koneksi antara pikiran dia dan Akai. Bagaimana tubuh mereka seakan menyatu padahal tidak. Ia dapat mencium aroma Akai dengan sangat jelas. Mengecap rasa sedih, marah, lega, dan sedikit takut.

‘Kenapa Akai sedih?’

Pertanyaan tersebut melintas begitu saja di benak Rei. Perlahan, rasa sakit yang ia rasakan berubah. Rei dapat merasakan hangat yang menjalari tubuh, juga rasa aman yang mulai menyelimuti. Ia tidak sadar bahwa kakinya sudah lemas dan bahwa ia akan jatuh ke lantai kalau saja pelukan Akai tidak menahannya. Perlahan, Akai melepaskan gigitannya dan menjilati sera sesekali menciumi tengkuk Rei. Berusaha menutup lukanya.

“Sudah selesai.” Pria bersurai hitam itu berbisik sebelum membalikan tubuh Rei. Membantunya merapikan pakaian sehubungan sang omega masih terlalu syok untuk merespon.

Rei menghitung mundur angka sepuluh sampai satu dalam hati. Berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia menampik tangan Akai yang berusaha memakaikan jas.

“Senang kau bisa melakukannya tepat waktu.” Agen PSB itu kembali memunggungi si FBI. Ayo segera kita selesaikan urusan ini.

.

Dan itulah, kawan ku, bagaimana seorang Furuya Rei dapat menjadi omega Akai Shuichi dan dikirim ke masa lalu.

.

Selesai mengurus segala berkas yang harus mereka penuhi, Akai  dan Furuya berjalan berdampingan ke lahan parkir.

“AH! Akai – san! Amuro – san!”

Sebuah suara yang familiar menyapa mereka.

“Ah Kudou – kun, selamat sore” seulas senyum tipis Akai tawarkan begitu melihat sosok yang begitu mereka kenal. Sementara itu, Rei hanya menunjukan cengirannya ketika melihat pasangan dari Kudou Shinichi mengikuti dari belakang.

“Kemari untuk menikah, eh?” Pertanyaan itu sukses membuat Heiji merona.

“Jangan bicara sembarangan!”

“Justru kami ke sini, untuk mengucapkan selamat atas pernikahan kalian!” Shinichi dan Heiji nyengir tanpa dosa.

Suara teriakan Rei menghiasi sekaligus menutup sore itu.