Work Text:
"Hari yang berat di tempat kerja?"
"Kau akan terkejut."
"Oh, tolong," aku tergelak, "ketika kau seorang bartender, merangkap profesi menjadi terapis dadakan itu naluriah." Dentingan nyaring terdengar begitu sebongkah es batu diselamkan ke gelas. "Percayalah, aku pernah mendengar yang lebih buruk."
Ketika senyum menyingsing di wajah elusif itu, benang yang mengekang hatiku merenggang, perasaan lega merasuki tubuhku. Kukira setelah dua tahun, presensinya di ruangan terpencil ini jadi imaji belaka. Kukira sosok itu betulan lenyap, padu bersama aliran ombak yang destinasinya entah siapa yang tahu. Mendadak saja darahku mendidih oleh antusiasme seakan seseorang baru saja membisikkan rahasia mencurangi kematian. Kuharap itu tidak terlihat terpampang di wajahku.
“Tentu saja, kau adalah dewi yang menyaksikan segalanya,” sahutnya jenaka.
“Kau membuatnya terdengar agung. Jangkauanku terbatas, hanya yang terpapar di antara dinding-dinding ini.” Aku mengoreksi, menggeser gelas kosong di sebelahnya. Ia mempertimbangkan ucapanku, seringaian terpoles di wajahnya.
“Bagaimana dua tahun belakangan?”
Aku bisu sejenak, menimbang-nimbang kata yang kususun. “Tidak banyak berubah. Tunggal nada. Tiada banyak yang bisa kukatakan,” timpalku. “Tetapi, ah, seorang kawan lama sempat bersitatap denganku tempo hari lalu.”
“Terdengar merepotkan bagiku.”
“Hei, bijaknya tidak menyamaratakan pandangan orang lain denganmu.”
“Dan apakah aku mengenal seseorang ini?”
Aku mendelik ke tangga, satu-satunya akses keluar masuk bar ini. Memori figur seseorang yang menuruninya masih terpatri dalam ingatanku. Ia mengenakan setelan jas, terlihat sama seperti terakhir kali kujumpanya. “Itu pertanyaan retorik, Dazai.”
"Kurasa." Bahunya serta-merta terangkat mengacuhkan.
Dazai menyesap bir. Atensinya teralih pada permukaan meja, sungkan mendongakkan kepala. Aku meninggalkannya sebentar, menghampiri seorang wanita paruh baya yang menunggu di ujung meja.
Hanya aku seorang yang bertugas malam ini, karyawan yang lain tengah ambil cuti. Aku bersyukur pelanggan tak banyak yang mampir. Mungkin karena di luar, rintik air sedang semangat-semangatnya membasuh bumi.
"Aku bekerja untuk organisasi lain sekarang." Dazai memberi tahu begitu aku kembali menghadapnya.
Kupindai perawakannya. Dazai tidak terlihat telah menambahkan berat badan, apalagi menguranginya. Walau tinggi badannya jelas bertambah, potongan dan gaya rambutnya masih sama seperti yang kuingat. Perban yang membungkus mata kanannya, untuk alasan tertentu yang luput dari pengetahuanku, kini ditanggalkan. Namun tampaknya sekujur tubuhnya dibiarkan tetap dibalut perban.
"Yeah, aku agak bisa menebaknya," kutautkan kedua tangan, membiarkan siku bertumpu di atas meja, "kau tidak lagi tampil seperti hendak bertamu ke pemakaman seseorang. Kau tahu, dengan semua pernak-pernik legam." Aku menunjuk pakaiannya.
"Maksudmu mengantar." Ujung bibirnya berkedut, seolah menekan urgensi mengulum senyum. Aku menggeleng tak habis pikir. Pria ini pandai membuatmu merasa ciut hanya dengan satu, dua kata yang dilontarkan mulut berbisanya.
"Lalu apa yang kau lakukan sekarang?" Kubelokkan topik.
"Mengusut misteri. Kau tahu… yang detektif lakukan.”
Aku memandangnya skeptis. "Yang benar saja. Kau orang baiknya?”
Alisnya berkerut. “Aku tidak berpikir begitu. Lagi pula, aku punya alasanku sendiri." Dazai tampak baru menelan getah mentimun.
"Aku mendengarmu.” Kupertegas pernyataan, mencoba menemukan petunjuk di balik topengnya. “Aku hanya sedikit terkejut. Kelihatannya aku melewatkan segudang hal menarik.”
"Aku lebih suka tak mengungkitnya. Tempat itu neraka dunia." Intonasi rendahnya terngiang di kepalaku, menanamkan tanda tanya. Paparannya barusan terdengar meragukan, membuatku menarik kesimpulan lain; yang Dazai alami jauh lebih kompleks dari yang bisa diasumsikan.
"Ah, tapi," kuabaikan sekelebat sorot nestapa yang dicerminkan kedua matanya, "bukankah kau menganggap segenap semesta adalah neraka?"
Ekspresi wajahnya mendadak berubah misterius. Gerakan tangannya terhenti. Perkataanku barusan ternyata menohoknya. Kutampik ragu sekali lagi, memaksa diri meluapkan apa yang kupendam. "Kubilang padamu tadi, aku mendengar banyak, yang berarti aku juga bertemu banyak. Dan aku tahu kau, Dazai. Sejak kali pertama kau menjejakkan kaki di bar ini."
Kurendahkan volume suaraku. "Sesuatu mengusikmu. Itulah mengapa kau datang." Kuperhatikan raut wajahnya yang kaku—tandas akan kalbu, tidak bereaksi barang secercah emosi pun. "Apa yang menggugah hatimu untuk melepas diri dari jerat tempat itu? Kukira bekerja di bawah bayang-bayang bukan masalah besar bagimu. Kukira kau bergabung dengan mereka karena terlanjur putus asa.”
Aku berusaha tidak terlalu menekannya. Ia tidak berutang penjelasan padaku. Kendati demikian, kubiarkan kata-kata itu menghujaninya bagai peluru senjata api. Dazai mematung, bibirnya terkunci rapat. Jemarinya memeluk gelas erat-erat. Selama sesaat, kupikir kacanya akan retak.
"Maaf." Satu kata itu lolos dari bibirnya, senyumnya penuh arti.
Aku memutus kontak mata, membelakanginya. “Aku seorang bartender, oke. Bar-ten-der. Kau tidak punya alasan untuk meminta maaf.” Tanganku membenahi botol-botol alkohol di puncak rak.
Bohong. Aku lega Dazai terbuka akan rasa bersalah yang mengungkungnya.
“Ango bilang kau baik-baik saja. Ia tahu soal keberadaanmu dua tahun terakhir, iya kan?” Aku menoleh dari balik bahu; Dazai mengangguk. “Itu sudah cukup jelas bagiku.”
Jeda sejenak. Dazai terlihat berkubang dalam genangan pikirannya. Bir di gelasnya telah diteguk tak tersisa, mengecualikan sebongkah es batu yang belum cair. Aku bertanya seumpama ia butuh segelas bir lainnya, tetapi pemuda itu menggeleng pelan.
"Aku bawa mobil."
"Eh, kau menyetir?"
"Ya. Ada masalah?"
"Tidak juga, tapi…," aku mengibas tangan, "teman-temanmu bersikeras untuk tidak pernah membiarkanmu mengemudi. Bisa-bisa nyawa seseorang melayang." Aku ingat dua persona familier yang mewanti-wanti diriku suatu malam di masa lampau.
"Mereka tidak salah," tuturnya ringkas; aku menepuk dahi. Perintah 'mengemudilah dengan aman' jadi sebatas mitos bagi Dazai.
"Setidaknya coba bantah dulu," ujarku pasrah.
Ia tertawa. "Membantah saat kebenarannya baru diungkap justru membuang-buang waktu."
"Ada apa dengan keseriusanmu malam ini?" Aku merasakan hati kecilku berdansa. Fakta bahwa beberapa malam terakhir aku kembali dipertemukan dengan kawan-kawan lama membuatku gembira bukan main.
"Dilematis, barangkali."
Aku menanti.
Dazai menutup kelopak mata. "Perkataan seorang teman mengilhami.” Ia memulai. Butuh beberapa saat bagiku untuk menyadari maksud pemuda itu—alasan pengunduran dirinya dari Port Mafia.
"Bersikukuh menetap di sudut dunia yang memuja kekerasan dan pertumpahan darah tidak akan membawaku ke mana-mana." Kutilik intonasinya; terlalu cepat. Dazai berbicara seakan risau ada yang menguping. "Keseharianku dihabiskan untuk mengintimidasi dan menuntaskan hidup orang lain. Itu hanya akan memperparah keadaan. Aku bisa-bisa membusuk terjebak pada porosnya." Kedua mata gelapnya membuka, ia menopang dagu. "Karena itu aku di sini."
Pandangannya bersahabat, hampir-hampir bersimpati. Selama sesaat, aku tak mengenalnya—terkesima. Dazai yang kutahu, tidak pernah menampakkan sisi lunaknya.
"Aku pikir itu bagus." Kubuka suara setelah senyap lama menjamah ruangan. Dazai beralih padaku, tertarik menggubris. "Sebuah penawar manjur untuk serabut jiwa yang tersesat tidak tahu arah. Temanmu itu betul-betul memahamimu, heh?"
Mata Dazai berkilat-kilat di bawah penerangan bar. Perhatiannya bergulir pada bangku bulat kosong persis di samping kanannya.
Aku menarik napas, tertegun. "Odasaku?"
"Satu-satunya."
Aku bersumpah suaranya bergetar kala ia berbicara. Tatapannya dibebat lara, seolah segala bentuk kebahagiaan direbut paksa darinya. Aku tidak yakin apakah tatapannya membawa berita baik atau buruk. Lantas seulas senyum pahit menanjak garis-garis wajahnya. Pandangan penuh sesalnya mengisap habis udara di paru-paruku.
Kala itu aku menyadari sesuatu.
Ango enggan menempati kursi yang biasa dirinya duduki. Wajahnya tercoreng pilu tatkala kuseret sepenggal nama itu. Ia menolak menjawab rentetan pertanyaan yang kuajukan mengenai eksistensi pria itu.
Aku menggertak gigi. Aku tahu alasan sesungguhnya Dazai Osamu berkunjung malam ini.
"Odasaku sudah mati, kau tahu?"
