Work Text:
Renjun menopang dagu pada telapak tangannya, kedua matanya ia arahkan pada panorama di sisi kirinya yang berbatasan dengan dinding kaca, menampakan pemandangan malam seisi kota yang dihiasi kerlap-kerlip lampu. Gedung-gedung itu terlihat begitu kecil dari atas sini.
Dari ekor matanya, Renjun menyadari bagaimana seseorang di hadapannya itu tengah menatapnya, Renjun lantas menoleh dan balas memandang.
Donghyuck terlihat begitu tampan dalam balutan kemeja yang rapi, sepasang mata berwarna cokelat gelap itu menatap Renjun dengan tatapan teduh yang dapat melemaskan kedua kaki Renjun.
Makan malam romantis di restoran yang menyajikan pemandangan kota dari ketinggian memang telah lama dinantikan Renjun. Hatinya terasa penuh begitu Donghyuck mewujudkan keinginannya.
Renjun kemudian merasakan bagaimana perlahan Donghyuck mencoba menggapai sebelah tangannya yang terletak di atas meja, merasakan bagaimana kekasihnya dengan lembut mengelus punggung tangannya dengan ibu jari.
“Rasanya aku tidak ingin bangun,” gumam Renjun.
Namun kalimat yang lolos dari bibirnya sendiri itu membuat Renjun kemudian terperangah, tak mengerti mengapa ia mengatakan hal tersebut.
“Renjun!”
Renjun terperanjat di kursinya, samar-samar mendengar suara yang begitu mirip dengan suara Donghyuck yang ia tidak ketahui berasal dari mana memanggil namanya.
Donghyuck yang kini berada di hadapannya tetap bergeming menatap Renjun, senyumnya menampakkan seolah ia sama sekali tak mendengar suara teriakan itu.
“Ada apa?” tanya Donghyuck lembut.
Melihat Donghyuck mencoba untuk membaca ekspresinya, Renjun mencoba untuk mengesampingkan rasa was-wasnya. Mungkin Renjun salah dengar. Donghyuck jelas-jelas ada di hadapannya dan teriakan itu tak mungkin nyata. Renjun lantas menggeleng sebelum akhirnya kembali meminum wine dari gelas kaca yang ia pegang.
“Renjun!”
Kini suara teriakan itu semakin lantang dan jelas. Renjun lalu melihat sekelilingnya dengan getir, mencoba mencari tahu dari mana teriakan yang terdengar seperti Donghyuck berasal.
“Renjun..” panggil Donghyuck yang berada di hadapannya.
Begitu mendengar namanya dipanggil dengan lirih, Renjun tak sempat menjawab karena Donghyuck yang ada di hadapannya itu seketika mendekat dengan wajah yang bersimbah darah.
Pada saat itu juga Renjun berteriak dalam mimpinya.
Begitu ia membuka mata, hal pertama yang menyambutnya adalah wajah Donghyuck yang lebih familiar, kecemasan dan waspada berkecamuk pada raut Donghyuck saat mendesis, “Renjun, ayo, kita harus pergi dari sini.”
Fokus Renjun kemudian beralih pada pemandangan yang ada di balik kepala Donghyuck yang sedang merunduk padanya. Pohon-pohon tinggi yang batang serta daunnya rapat-rapat itu menjadi pengingat untuk Renjun tentang keberadaan ia dan Donghyuck kini.
Refleks mengambil alih kendali diri Renjun, ia segera bangkit dari posisi berbaringnya lalu duduk menghadap Donghyuck, baru menyadari bahwa semalaman ia tertidur dengan memposisikan kepalanya di pangkuan Donghyuck. Sedangkan kekasihnya itu duduk bersandar pada pohon besar yang cukup lebar untuk menyembunyikan keberadaan keduanya dari sisi lain.
Renjun hendak mengatakan sesuatu, namun ia kemudian mendengar suara erangan lemah yang diikuti dengan bunyi gesekan pada dedaunan kering. Donghyuck lantas mengarahkan telunjuk di depan bibirnya, memberi gestur pada Renjun untuk tidak bersuara.
“Sepertinya hanya sekitar satu atau dua,” bisik Donghyuck begitu pelan, relap matanya terlihat lebih tenang meski masih terdapat was-was yang terpancar disana. “Tapi lebih baik kita pergi.”
Dengan cepat Renjun mengangguk setuju, instingnya mengarahkan ia untuk meraih tasnya yang tak jauh dari jangkauannya. Di saat yang sama, Donghyuck dengan gesit menggulung selimut yang tadinya membaluti mereka dan kemudian membantu Renjun untuk bangkit.
Ketika Renjun menarik tangan Donghyuck untuk segera berjalan menjauhi tempat mereka bermalam, seketika Donghyuck meringis dan Renjun menatapnya jeri.
“Kakiku keram..”
Pantas saja, karena semalaman Renjun membebankan kepalanya pada Donghyuck yang mungkin sama sekali tak menggerakkan kakinya demi tidak membangunkan Renjun. Ingin rasanya Renjun merutuk dirinya sendiri karena telah menyusahkan Donghyuck, namun waktu mereka begitu sempit.
Dengan was-was Renjun melirik arah yang mereka yakini dimana sosok-sosok mayat hidup itu akan muncul bila didengar dari suara erangannya, sebelum akhirnya merekatkan genggamannya lebih erat pada Donghyuck.
“Pelan-pelan.. ya? Bisa?”
Donghyuck mengernyit, menahan rasa keram pada kedua kakinya, namun ia mengangguk dan mengikuti langkah Renjun yang kemudian menuntunnya.
Lengan kanan Renjun ia lingkarkan pada pinggang Donghyuck untuk menopangnya berjalan, sedangkan tangan kirinya meraih sebilah belati yang selalu ia sematkan pada ikat pinggangnya, mengandalkan refleks serta intuisinya untuk segala serangan yang tak akan pernah memberinya peringatan.
Sama dengan Renjun, sebelah tangan Donghyuck juga tengah terkepal tegas menggenggam pisau yang ukurannya lebih besar dari belati milik Renjun. Meski kompetensi Donghyuck dalam bertarung maupun bertahan tidak lagi Renjun ragukan, Donghyuck jelas sedang kekurangan stamina untuk menghadapi kemelut apapun yang menghalangi jalan mereka.
Keduanya terus berjalan secepat dan sesenyap mungkin menjauhi jantung hutan tempat mereka menghabiskan malam. Sinar matahari yang menembus melalui celah dedaunan jatuh di sisi kiri mereka, hal itulah yang menjadi penentu arah bagi keduanya untuk mengambil langkah.
Renjun dan Donghyuck kian mendekati pinggir hutan, dan akhirnya memutuskan untuk berjalan menyusuri jalanan besar yang membelah hutan. Jika semalam keduanya memilih untuk menyelinap di antara pepohonan besar untuk menyembunyikan diri, kini mereka memilih untuk mencari peruntungan di tempat yang lebih terbuka.
“Kenapa kamu tidak bangunkan aku?” tanya Renjun.
Ia dan Donghyuck kini berjalan perlahan di pinggir jalanan membentang yang dapat memuat kendaraan dari dua arah berlawanan. Bunyi langkah mereka menjadi satu-satunya suara di tengah kesunyian.
Donghyuck lantas tersenyum sebelum menjawab, “Kamu perlu istirahat.”
“Kamu juga perlu,” dengan cepat Renjun membalas.
Karena Renjun yakin bahwa semalaman Donghyuck terjaga. Renjun ingat bahwa ia hanya berniat untuk tidur setidaknya satu jam dan bergantian mengambil giliran berjaga. Namun kenyataannya rasa lelah membuat ia justru tertidur semalaman.
Donghyuck lalu meraih sebelah tangan Renjun dan meremasnya pelan.
“Tidak apa-apa. Kita akan segera menemukan tempat bernaung lalu sama-sama istirahat. Ya?”
Renjun melirik kedua manik mata Donghyuck bergantian, sekali lagi terpana oleh kekasihnya yang masih mampu mengucapkan afirmasi.
Terkadang tak dapat Renjun pahami bagaimana bisa Donghyuck condong pada sisi positif namun tetap tak pernah lengah. Renjun selalu dibuat terpukau pada Donghyuck yang selalu menemukan caranya untuk memecahkan masalah, selalu tahu apa yang harus dilakukannya dan percaya bahwa intuisinya takkan pernah berkhianat.
Perlahan Renjun tersenyum, entah apa yang dapat membuatnya layak dipertemukan dengan sosok Donghyuck saat dunia telah hancur seperti ini. Sejenak Renjun berpikir jika tanpa Donghyuck, ia mungkin tak akan bertahan sejauh ini.
“Semalam aku bermimpi,” ucap Renjun.
Matanya ia alihkan pada kedua sepatunya yang menggesek aspal jalanan yang mereka lalui, kemudian pada tangannya dan tangan Donghyuck yang terpaut.
“Tentang?” tanya Donghyuck pelan.
Kali ini Renjun melirik Donghyuck saat menjawab, “Kencan makan malam dengan kamu. Di saat dunia masih baik-baik saja.”
Mendengar hal tersebut Donghyuck lantas tersenyum, Renjun bertanya-tanya apakah Donghyuck dapat membayangkan betapa indahnya momen itu dalam mimpi Renjun, sebelum akhirnya ia terbangun dengan akhir mimpi yang buruk.
“Kadang aku berpikir,” lanjut Renjun. “Bagaimana jadinya kalau kita bertemu sebelum semuanya menjadi seperti sekarang?”
Sebelum dunia luluh lantak.
Kalimat yang ia lontarkan membuat Donghyuck menautkan kedua alisnya seraya memiringkan kepala, matanya memancarkan kepolosan yang kian sarat pada raut wajahnya kemudian.
“Jangan berandai untuk takdir yang telah terjadi, Renjun,” larangnya. “Pertemuan kita sudah digariskan seperti ini.”
Sebelah tangan Renjun yang tengah dalam genggaman Donghyuck kemudian ditarik perlahan dan Renjun tak dapat menahan senyumnya saat Donghyuck mendaratkan sebuah kecupan pada punggung tangannya. Pada saat itu pula Renjun merasa hatinya penuh.
Donghyuck benar, pertemuan keduanya mungkin sudah digariskan sedemikian rupa, tidak ada yang tahu jika dunia baik-baik saja maka mereka mungkin saat ini jauh dari satu sama lain, tidak saling mengenal maupun mengetahui keberadaan masing-masing.
Setelah berjalan cukup jauh, Renjun hampir tak dapat apa yang ia lihat. Berjarak tak jauh dari keduanya berada, terdapat pondok yang masih terlihat kokoh. Renjun menatap Donghyuck yang telah lebih dulu menoleh padanya, hanya melalui pandangan keduanya lantas sepakat untuk mencoba mendekati bangunan tersebut.
Pondok itu dikelilingi pagar yang terbuat dari kawat dan kayu yang tingginya hanya sebatas pinggang Renjun. Begitu memasuki pekarangan pondok, Donghyuck dan Renjun berpisah untuk mengelilingi luar pondok dari arah yang berlawanan, mengecek keadaan sekitar.
Renjun mencengkeram belatinya dengan kuat, mengerahkan segala indra untuk bersiap akan segala serangan, berjaga-jaga apabila ia harus menghadapi mayat hidup maupun mereka yang masih seutuhnya hidup.
Begitu hampir mencapai sisi belakang pondok, Renjun terhenti saat mendengar gemerisik dedaunan, detik itu pula ia bersiap untuk membela diri dengan menggertak belati yang ia cengkeram. Di saat itu pula dari balik sisi pondok muncul Donghyuck yang cukup tersentak oleh gertakan Renjun.
Donghyuck lantas terkekeh saat melihat Renjun yang masih terbelalak karena sama terkejutnya dengan dirinya.
“Sejauh ini kelihatannya aman,” serunya.
Renjun kemudian menghela napas, mengail daya untuk tahap selanjutnya. “Kita cek dalamnya kalau begitu.”
Donghyuck mengangguk setuju dan keduanya kembali menuju sisi depan pondok, memasuki pekarangannya. Tiga anak tangga kecil yang mengarah pada beranda depan pondok itu berdenyit begitu Renjun dan Donghyuck menginjaknya.
Renjun melihat Donghyuck mengintip isi pondok dari kaca jendela di samping pintu sebelum akhirnya menggedor pintu, mencoba untuk mengintai para mayat hidup yang mungkin ada di dalam pondok. Karena akan lebih mudah bagi keduanya mematikan mayat-mayat itu di ruang terbuka dibanding menghadapinya di dalam ruangan. Namun tak tedengar apapun dari dalam pondok yang merespon.
“Sepertinya kosong?” terka Renjun.
Donghyuck membasahi bibirnya sebelum menjawab. “Tunggu beberapa saat lagi, sayang.”
Kemudian Donghyuck menggedor lebih kencang dari sebelumnya, membuat Renjun terperanjat dari posisinya. Dengan getir Renjun menoleh ke sekitar pondok dengan cemas, khawatir jika gedoran Donghyuck justru mengintai mayat-mayat hidup yang ada di luar pondok. Namun keadaan tetap sunyi senyap dan sesaat kemudian Donghyuck meraih gagang pintu untuk membuka pondok yang tak terkunci itu.
Begitu sampai di dalam pondok, keduanya lantas kembali berpencar untuk mengecek tiap ruangan yang ada di dalam pondok tersebut. Renjun berjalan sendiri menyusuri lorong sempit yang diterangi seberkas cahaya dari jendela di ujung lorong, matanya tertuju pada bilik dengan pintu yang sedikit terbuka.
Perlahan tangan Renjun meraih gagang pintu, kembali suara denyit terdengar saat pintu itu berayun terbuka dan di saat itulah sedikit demi sedikit Renjun dapat melihat sosok lusuh yang berdiri di balik pintu.
Fokus Renjun sontak terarah pada wajah remuk sang mayat hidup yang kemudian mengerang, menyadari keberadaan Renjun dan segera menerkamnya.
Dengan refleks Renjun menendang mayat hidup itu, sama sekali tidak membiarkan dirinya termangu meski teror seketika mengalir di sekujur tubuhnya. Namun mayat hidup itu kembali bangkit, mulutnya yang telah robek kembali mengeluarkan erangan saat berusaha kembali menggapai Renjun.
Di waktu genting itu, Renjun memindai sekitarnya seraya mencari alternatif strategi yang harus ia lakukan untuk menumbangkan mahluk di hadapannya. Detik selanjutnya, insting Renjun mengarahkan tubuhnya untuk bergerak maju, segera menancapkan belati miliknya pada kepala sang mayat hidup yang tangannya berhasil meraup kemeja Renjun.
Begitu mahluk itu tumbang, cengkeramannya pada dada Renjun mengendur dan Renjun sekali lagi menendangnya, napasnya tersengal.
Kemudian ia dengar suara derap langkah yang terburu-buru, baru sekarang Renjun menyadari bahwa Donghyuck telah berkali-kali memanggil namanya bahkan sebelum ia dapat melihat Renjun.
“Renjun,” panggil Donghyuck kembali di sela napasnya yang juga tersengal.
Donghyuck yang telah melihat keberadaan mayat di ruangan itu lantas menangkup wajah Renjun dengan kedua tangannya. “Kamu terluka?”
Selang beberapa detak jantung, Renjun merasa sudah jauh lebih baik, tubuhnya bagai sudah terbiasa untuk melampaui gemetar yang kerap hadir saat berhadapan dengan para mayat hidup. Untuk menjawab kekasihnya, Renjun lantas mengangguk.
Dan Donghyuck mengenalnya cukup baik untuk mengetahui bahwa Renjun memang kuat dan tahu bagaimana caranya bertahan serta bertarung. Kekasih Renjun itu lalu ikut mengangguk, relap matanya mengantarkan Renjun pada ketenangan.
Setelah selesai menyingkirkan mayat itu keluar pondok, Renjun dan Donghyuck kembali memastikan keamanan dalam hingga luar untuk beberapa kali. Renjun kemudian memasuki dapur dan memeriksa isi lemarinya, mengharapkan ada sisa makanan yang mungkin dapat dikonsumsi, namun yang ia dapati hanya kaleng kosong pada rak yang berdebu.
Renjun kini beralih ke jendela yang ada di samping dapur, memandang pekarangan belakang pondok yang terlihat begitu sepi. Ia hampir saja tercekat begitu mendapati sepasang lengan menyelinap pinggangnya dan melingkari tubuhnya dari belakang, namun detik selanjutnya kecemasan Renjun mereda begitu ia merasakan bagaimana Donghyuck mendaratkan dagunya pada sebelah pundak Renjun.
“Aku sudah periksa sumur yang di belakang, airnya banyak dan bersih, setidaknya kita tidak akan kekurangan air,” ujarnya, lagi-lagi menenangkan.
Renjun kemudian menggumam pelan, menikmati pelukan Donghyuck untuk beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan diri dan berbalik menatap kekasihnya.
“Kita masih punya sisa makanan yang kita dapat minggu lalu,” ucap Renjun pelan. “Masih cukup untuk dua hari lagi tapi mungkin besok kita bisa coba berburu di sekitar sini.”
Donghyuck mengangguk seraya menatap kedua manik mata Renjun bergantian, kedua lengannya yang masih melingkar pada tubuh Renjun menariknya lebih dekat lagi, mengukir seuntai senyum di wajahnya.
“Apa?” tanya Renjun pelan, mengenali binar pada kedua mata yang sedang ia tatap.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Donghyuck, kemudian tatapan Donghyuck tak lagi terarah pada sepasang iris Renjun melainkan jatuh pada bibirnya.
Begitu mudah untuk keduanya saling tertarik, saling terhipnotis oleh eksistensi satu sama lain. Saat Renjun merasakan bagaimana Donghyuck mengecup bibirnya, ia mendapati dirinya menyondongkan wajahnya lebih dekat lagi pada Donghyuck, meski tak ada lagi jarak yang tersisa, meski jelas Donghyuck pun tak berlakon bagai akan mengendurkan rengkuhannya.
Renjun tidak ingat bagaimana cara mereka berjalan menuju salah satu bilik di pondok itu, dirinya tenggelam pada ciuman mereka hingga pada suatu titik Renjun menyadari bahwa ia kini terhimpit oleh ranjang yang berdenyit dan Donghyuck yang secara konstan meraba tiap lekuk tubuhnya.
Sejenak Renjun lupa bahwa beberapa saat sebelumnya nyawanya terancam, yang kini dapat ia proses hanyalah bagaimana mencintai dan dicintai oleh Donghyuck adalah hal yang dapat membuatnya bertahan.
Samar-samar Renjun mengingat Donghyuck berbisik bahwa ia akan keluar sejenak, hendak mencari kayu yang mereka bisa isi untuk perapian agar mereka tidak kedinginan pada malam hari. Donghyuck lalu mengecup pelipis Renjun sekilas sebelum meninggalkannya yang masih berbaring karena mengantuk usai bercinta.
Kini saat kesadaran Renjun terkumpul, dirinya bangkit dengan tergesa. Ia tidak tahu sudah berapa lama sejak Donghyuck keluar dari pondok karena dari jendela bilik terlihat bahwa langit sudah menjadi kelam.
Dengan tergopoh-gopoh Renjun keluar dari bilik dan mengecek seisi pondok.
“Hyuck!”
Ketika ia hampir memanggil nama kekasihnya lagi, ia mendengar suara Donghyuck dari luar pondok.
“Jangan keluar!”
Dan sebagaimana melanggar larangan kerap mendesak, Renjun mengabaikan perintah Donghyuck dengan bergegas menghampiri pintu pondok dan membukanya.
Disana ia mendapati Donghyuck yang berdiri di pekarangan pondok tengah memunggunginya, ada beberapa potongan kayu berserakan di dekat kakinya, yang mungkin mau tak mau ia jatuhkan karena kini keduanya terangkat sebagai tanda menyerah.
“Oh,” seru seorang pemuda yang saat ini menodongkan pistolnya pada Donghyuck, seringai familiar yang terbentuk di wajahnya membuat Renjun bergidik. “Lama tidak berjumpa, Renjun.”
