Actions

Work Header

Lotium

Summary:

Aether selalu menjaga Lumine termasuk kepolosannya, tentunya Aether menyayangi sang adik melebihi apapun di semesta. Ternyata, ia sendirilah yang memberikan satu pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan─salah satu rahasia mereka.

Notes:

Komisi cabul AeLumi ke-3 untuk Kanna, sesuai request banyakin foreplaynya hehe~ Semoga porsinya sudah pas semua ya! Happy reading <3

Work Text:

Sinar mentari yang menerobos gorden biru di kamar, membelai kulit rupanya serta membuat kedua pelupuk mata sejemang berkedip lalu mempersaksikan kembar emas setengah sayu.

Aether melirik jam alarm yang menunjukkan pukul 05:00 pagi. Ia hendak bangkit dari ranjang, kala itu pula suara yang dikenal menyelusup ke dalam gendang telinga.

“Ayo, bangun. Sarapan hari ini roti, telur mata sapi dan susu. Yah, karena stok bulanan sudah habis, jadi seadanya saja. Nanti pulang kita belanja, ya?”

Kalimat sang adik hanya dibalas gumam pelan, kedua matanya berupaya untuk tetap terbuka walau sesekali menutup lantaran rasa kantuk yang menyelimuti masih tidak tertahankan.

Lumine yang menyadari gerak-gerik Aether lekas menggoyangkan lengan kanan kakaknya berulang kali seolah mencegah sosok tersebut kembali bertemu mimpi.

“Bangun, kak! Nanti telat!”

“Iya, iya. Sebentar, Lumine─ini sudah bangun.”

“Pasti bergadang main game lagi, kan? Sudah aku bilang jangan tidur terlalu larut, nanti kakak sakit.”

“Besok akhir pekan, Lumine.” 

Perlahan Aether beranjak dari kasurnya dan mengusap puncak kepala Lumine.

“Lagian semalam nggak begitu larut, kok. Aku mau siap-siap dulu.”

“Ish, rambutku jadi berantakan lagi.” Protes Lumine seraya menata kembali helaian pirangnya. “Pokoknya awas saja kalau tidur lagi.” 

“Siap dimengerti, adikku sayang.” Sahut Aether seraya mengangguk dan tersenyum.

Lumine berlalu meninggalkan kamar Aether untuk menunggu di ruang makan.

 


 

Kurang lebih dua puluh lima menit sosok yang dinanti Lumine telah muncul, kini mereka sama-sama mengenakan seragam sekolah.

“Lumine?”

Ponsel di tangan kanan lekas diletakkan kembali ke dalam tas yang berada di kursi kosong sebelah kanan Lumine.

“Sini, kak. Sarapan dulu sebentar, habis itu kita berangkat.”

Aether mengangguk, ia duduk di seberang sang adik kemudian menarik piring berisi roti serta telur mata sapi bagiannya untuk disantap. Begitu pula dengan Lumine, mereka menikmati sarapan dalam diam.

“Bweswok mawu kwemana?” 

Pertanyaan dari Aether mengundang air muka khawatir di rupa Lumine. 

“Rotinya dikunyah dulu, kak. Nanti tersedak.” 

Aether menurut.  “Besok mau kemana?” Ia mengulang seraya bersiap mengambil suapan kedua. 

“Belanja bulannya kan hari ini setelah pulang sekolah, mungkin besok aku nggak kemana-mana. Kalau kak Ae kemana?”

“Sebenarnya ada kerja kelompok, kamu mau ikut? Nggak sampai sore, pulangnya kita jalan-jalan.”

Lumine mengangguk, “Boleh, aku mau ikut. Besok kabarin saja ya jadi atau nggaknya.”

Pun kesunyian kembali menyelimuti mereka hingga tiada lagi makanan ataupun susu yang tersisa. 

Aether melirik jam dinding seajemang, “Sudah setengah tujuh kurang, ayo kita berangkat.” Ia beranjak dari kursi dan mengambil tasnya yang sebelumnya diletakkan di sofa ruang tengah.

“Sebentar, aku taruh cucian piringnya dulu di wastafel.” 

Kali ini Aether yang mengangguk, adiknya memang senang sekali membantu dalam pekerjaan rumah. Padahal sejak awal berulang kali menjelaskan bahwa ia tidak pernah keberatan mengerjakan semuanya sendirian. 

Karena aku sayang kak Ae.

Ya, alasan sederhana seperti itu berhasil membuat Aether senang bukan kepalang. Walau Lumine turut meringankan beban urusan rumah, tetap saja didominasi oleh tenaganya lantaran tidak ingin adik semata wayang terlalu kelelahan.

Lumine menghampiri Aether yang menunggu di depan pintu kediaman usai mengenakan sepatu lalu menggendong tas selempangnya. 

“Yuk berangkat.”

Kehadiran Lumine di satu sekolah yang sama sedikit membuat Aether menikmati rutinitas biasa lima hari dalam sepekan ini, mereka berangkat berdua lalu bel akhir pelajaran berbunyi maka waktunya pulang bersama. Terkadang ada saja kegiatan yang menghalangi, namun sebisa mungkin Aether akan selalu berada di dekat Lumine untuk melindungi. 

Bagi Aether, Lumine adalah semestanya dan ia tidak akan membuat siapapun melukai apalagi membuat Lumine menangis.

 


 

“Lumine, kamu nggak apa-apa?”

Sudah beberapa kali teman sekelasnya mengulang pertanyaan yang sama lantaran rupa gadis empu nama tampak gelisah. Namun, Lumine selalu menggeleng dan membalas bahwa tiada sesuatu yang terjadi seraya tersenyum kikuk.

Andaikata tidak ada ujian mendadak berturut-turut tiap pelajaran usai jam istirahat berakhir hingga bel pulang berbunyi, barangkali Lumine bisa izin pergi ke toilet dan kini sudah hampir tiga jam ia menahan buang air kecil.

Suara yang dikenali menyelusup ke dalam rungu membuat atensi Lumine lekas teralih menatap Aether yang menunggu di depan pintu.

“Ayo pulang, Lumine.”

“Yuk.”

Perlahan Lumine bangkit dari posisinya yang terduduk di kursi lalu menghampiri sang kakak.

“Pulang duluan, ya.”

“Hati-hati.”

Kala mereka baru saja keluar dari gerbang sekolah cakrawala cerah sudah dihiasi awan kelabu seolah kapan saja bisa menurunkan rintik hujan yang membasahi bumi.

“Yah, mendung. Mau lewat jalan pintas supaya lebih cepat sampai rumah?”

Lumine tidak lekas menyahut, ia tampak sibuk memikirkan sesuatu yang bahkan tidak Aether pahami.

“Lumine?”

“I-Iya, Kak … Boleh.” Lumine mengangguk, senyuman turut dipoles pada rupanya.

Aether yang menyadari gerak-gerik menjanggal dari Lumine enggan menggubris, barangkali adiknya melamun lantaran terlalu banyak tugas─biasanya begitu.

“Kamu seperti memikirkan sesuatu, ada apa?” 

“Nggak apa-apa, kok.”

Lumine enggan mengaku lantaran tidak ingin membuat kakaknya khawatir. Setidaknya, ia harus menahan diri hingga sampai di rumah.

Sebab menyadari langkah kaki Lumine yang melambat hingga terhenti di belakangnya, Aether pun lekas mendekati. 

“Kamu kenapa, Lumine? Aku janji tidak akan marah.” 

Gadis tersebut menundukkan kepala seraya meremas rok biru tuanya cukup erat pun bahu bergetar entah disebabkan ingin menangis atau menahan sakit. 

“M-Mau pipis, Kak. Aku sudah menahannya sejak jam istirahat selesai … Nggak kuat lagi.” 

Isak samar yang tertangkap rungu membuat Aether diselimuti perasaan bersalah dan panik dalam sekejap.

“Ya ampun,” Jika sudah seperti ini, mau tidak mau Aether harus mencari tempat lazim untuk buang air. “Tunggu sebentar, ya? Aku cari toko dulu, kamu jangan kemana-mana.

Lumine lekas menggeleng cepat, “M-mau pipis sekarang─” Ia merengek seraya mengangkat rok; kini mempersaksikan celana dalam putihnya ke hadapan sang kakak. 

Aether bergeming, kembar emasnya mengerling ke bawah dari rupa menuju selangkangan Lumine. Susah payah pula ia menelan ludah semata tidak ingin memikirkan sesuatu yang tidak sopan walau bersama keluarga nyatanya berakhir gagal. 

“Jangan di sini. Kita cari tempat sepi, ya?” Aether mengalihkan atensi kemudian menunjuk satu toko yang tidak jauh dari mereka. “Yuk ke sana.”

Lumine hanya menurut, ia bersusah payah tetap melangkah dengan kedua kaki yang bergetar menahan air seni yang kapan saja mengalir membasahi selangkangan. 

“Kamu boleh pipis di sini. Aku akan menjaga agar tidak ada yang melihat.”

Aether pun berjongkok; menyejajarkan rupa dengan tubuh bagian bawah Lumine, tangan kanannya terulur untuk menarik turun celana dalam putih di balik rok usai diangkat. Ia bergeming, bisa-bisanya terpesona dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya. 

Entah mengapa keinginan menyentuh bagian itu mulai hadir dalam benak.

“K-Kak Ae?”

Suara adiknya hanya bergema dan tidak dihadiahi sahut selama beberapa kali hingga Aether tersadar dari lamunan. Kembar emasnya mengerjap beberapa kali kemudian menyunggingkan senyum.

“Iya, sebentar.”

Sekoyong-koyong Aether menurunkan celana dalam Lumine kemudian mengantonginya ke sweater abu-abu yang dikenakan.

“Kamu sudah boleh pipis di sini. Semuanya aman.”

Kepala berhelai pirang dengan jepitan bunga lily mengangguk pelan, kedua tangan yang bergetar menahan rok seiring melepaskan air seni yang sudah ditahan sejak tiga jam lalu.

Sejujurnya, Lumine merasa malu lantaran atensi Aether sama sekali tidak teralih; senantiasa berpusat kepadanya. Bagaimanapun juga, ia percaya sang kakak akan melakukan yang terbaik.

Seksi …

Aether menggeleng pelan kala tersadar bahwa cairan yang mengalir dari selangkangan Lumine berhenti, kini meninggalkan genangan di tanah.

“Dibasuh dulu, ya?”

Lumine mengangguk. Aether mengambil botol minum yang ada di dalam tas, beruntungnya masih tersisa seperempat dari daya tampung. 

Lagi-lagi Lumine mengangguk pelan tanpa sepatah kata; enggan berbicara lantaran peristiwa kala ia pipis di hadapan Aether masih terngiang di kepala. Memalukan.

Aether beranjak dari posisi yang terjongkok untuk membelakangi adiknya lalu menurunkan rok yang masih melingkari pinggul hingga menyentuh kedua mata kaki. Ia menuangkan air dari dalam botol minuman ke tapak tangan dan mulai membasuh labium vagina Lumine, empunya terperanjat akibat sentuhan yang dilabuhkan.

Nyatanya, tidak sampai di sana; Aether turut menyelipkan jemari telunjuk ke liang basah di bagian tengah. Ia akui cukup sulit menemukannya, namun melesak begitu mudah. 

“Bagian dalam juga harus dibersihkan. Jangan khawatir, nggak ada hal buruk terjadi.” 

Aether menjelaskan sebelum Lumine melantun tanya dan gadis itu tidak memberi sahut lagi. Meski tidak paham, ia percaya kepada Aether bahwa sosok tersebut tidak akan pernah melukainya. 

Lambat laun pergerakan jemari telunjuk Aether mulai meningkat dari sebelumnya seiring menyentuh dinding liang yang sesekali seolah mengerat agar menghalau bergerak leluasa di sana.

Kedua kaki Lumine mulai bergetar; sama seperti kala menahan air seni selama tiga jam. Barangkali jika Aether tidak menjadi penumpu beban tubuh, kelak ia ambruk menghantam tanah. 

Liang vagina Lumine bukan hanya basah oleh cairan alami namun juga air minum Aether hingga tiada lagi yang tersisa di botol sebelum melemparkannya ke tempat sampah terdekat. 

“K-Kak Ae, airnya sudah habis─” 

Nada bicara Lumine turut bergetar dan terputus, sayup-sayup menyelusup ke rungu.

“Belum bersih, Lumine.”

Aether menyanggah secepat kilat, ia mulai berupaya melesakkan jemari kedua ke liang vagina sang adik. Perlahan berhasil bersemayam di sana lalu kembali mendorong keluar lalu masuk berulang kali dengan irama cepat dan teratur. 

Sesuatu mulai mengumpul di dalam perut seolah hendak menerobos keluar bersamaan sensasi tersengat aliran listrik; perasaan ini sama seperti kala ia ingin pipis. Sayangnya, Lumine enggan melepaskannya begitu saja lantaran merasa takut jika itu merupakan sesuatu yang tidak Aether inginkan. 

“M-Mau pipis lagi …,” 

“Pipislah di tanganku.”

Kembar aurum Lumine terbelalak usai mendengar kalimat dari Aether, kedua pipi yang merona mulai pekat bahkan tanpa sadar pula air mata sudah sedari tadi menggenang di masing-masing pelupuk mata.

“Nggak mau,” 

Kepala Lumine menggeleng, tangan kanannya mencengkeram erat kemeja lengan Aether sementara jemari di dalam tubuh tidak kunjung memperlambat pergerakan apalagi berhenti. 

Pekik pelan lolos dari bibir Lumine kala Aether menyinggung kelentit merah jambu di pertengahan labium vaginanya pun menekan berulang kali tanpa berhenti menerobos masuk ke dalam tubuh. Punggungnya sedikit melengkung ke depan akibat sensasi aneh yang menyelimuti, ia pun berupaya menutup selangkangan agar sang kakak lekas mengakhiri kegiatan ini.

“Itu menjijikan dan aku takut,” Lumine mulai terisak samar, ia berupaya menyelesaikan kalimat yang mulai sulit terlisan lantaran sibuk mencari cara agar menahan air seninya. “takut Kak Ae kotor …,”

Kali ini, Aether yang menggeleng. Kedua sudut bibirnya menyunggingkan senyum pun tatapan matanya teduh seolah mengisyaratkan kepada Lumine bahwa semuanya kelak baik-baik saja.

“Aku nggak merasa jijik apalagi kotor. Lumine percaya sama aku, ‘kan?”

Pertanyaan Aether dibalas angguk pelan walau sebetulnya mesti bergulat dahulu dengan batin; berupaya menyakinkan diri. Beberapa sekon kemudian, Lumine melepaskan cairannya─yang ternyata bukanlah air seni melainkan orgasme akibat peregangan sebelum kegiatan seksual yang sama sekali tidak diketahui.

Deru napas Lumine tidak teratur sebagaimana dada ia bergerak naik lalu turun dengan tempo cepat, air mata yang sedari tadi menggenang sudah mengalir membasahi kedua pipi meronanya.

Sejemang Aether melirik rupa berantakan Lumine; pemandangan tersebut membuat penis yang masih berada di balik celana seragam sekolahnya berdenyut dan kian sesak.

Sangat seksi …

Aether sungguh dibuat gelap oleh nafsu yang mulai memuncak, namun tidak mau terburu-buru. Ia ingin membuat Lumine merasakan pengalaman yang baru pertama kali terjadi dalam hidup. 

Tentu saja, senang bukan kepalang. Bagaimana tidak jika lelaki yang menyetubuhi adik kesayangan adalah dirinya sendiri?

Lantas Aether kembali mengubah posisi, kini menyejajarkan kepala di depan selangkangan Lumine seperti awal melepas celana dalam putih yang dikantongi. Kedua tangan mulai bergerak membuka sisi labium vagina sang adik, ia berangsur mendekatkan rupa pada daerah merah jambu basah itu sebelum menjulurkan lidah untuk menyapu tiap inci lekuknya.

Manis.  

Barangkali cairan orgasme Lumine kelak menjadi kesukaan Aether setelah susu cokelat. Perlahan kelopak mata menutup sementara organ tidak bertulangnya menjelajah lebih jauh, menekan kelentit menggoda itu berulang kali sebelum berupaya menyelinap masuk ke dalam liang yang sudah diberi penetrasi oleh jemarinya.

“K-Kak Ae─! G-Geli, ahn …,” 

Tanpa sadar Lumine melabuhkan kedua tapak tangan ke puncak kepala Aether pun menyelipkan helaian pirang ke sela-sela jemarinya, ia berusaha tidak mencengkeram lantaran tidak ingin membuat kakaknya kesakitan.

“Mau pipis lagi, mau─”

Aether menggeleng sebagai isyarat bahwa ia tidak memberi izin, reaksi tersebut dihadiahi rengek manis yang tidak dihirau. Liur mulai mengalir dari sudut bibir Lumine yang selalu terbuka melantun lenguh dan berakhir meninggalkan noda di sweater abu-abu sang kakak.

Lantaran menyadari tubuh Lumine bergetar hebat, Aether paham bahwa kesayangannya sebentar lagi mencapai orgasme kedua. Sontak ia menjauhkan rupa dari vagina basah di hadapan kemudian bergerak ke belakang tubuh yang lebih mungil.

“Nggak sekarang, Lumine-ku sayang.”

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Aether menurunkan ritsleting celananya sebelum menyelipkan penis yang telah ereksi di antara selangkangan Lumine.

“Itu apa, Kak Ae─?”

Bagi Lumine, benda itu besar, keras, dan hangat . Hendak menengok ke belakang nahasnya tidak dibiarkan oleh Aether. 

“Kalau kamu mau pipis, coba ikuti aku nanti dan jangan lupa sambil mengapitnya. Aku sudah mengizinkan kamu, Lumine.”

Dan Aether mulai mendorong pinggulnya maju lalu mundur berulang kali dengan tempo lambat. Beruntungnya tidak memerlukan waktu yang lama, Lumine turut melakukan perihal serupa demi menyeimbangi gerakannya.

Kepala Lumine terasa pusing, bukan diakibatkan banyaknya tugas sekolah namun perasaan candu yang sama sekali tidak diketahui. Kala kelentitnya bergesekkan dengan benda keras tersebut, desahan yang keluar dari bibirnya terdengar lebih jelas. 

Beberapa menit kemudian, Lumine melepaskan orgasme kedua; membiarkan cairan alami dari vagina melumuri sesuatu di selangkangan. Kedua kakinya mulai kehilangan keseimbangan lantaran tiada lagi tenaga yang tersisa.

Aether dengan cekatan menahan tubuh mungil di hadapan agar tidak menghantam tanah. Ia bawa adiknya ke meja yang tidak jauh dari mereka lalu membiarkan punggung Lumine bertumpu di sana.

Kaki kanan Lumine diangkat oleh Aether hingga dengkulnya menyentuh bahu sendiri. Tindakan tersebut membuat terheran, ia pikir sudah berakhir.

“Tahan kakimu agar tetap terbuka. Aku nggak bakal nyakitin malahan mau buat kamu enak.”

Air muka Aether kala melantun kalimat tersebut terlihat penuh keyakinan serta senyum lembut turut terpatri jelas. Pandangan mereka yang berserobok sungguhlah intens membuat degup jantung Lumine berpompa melebihi batas wajar; seolah hendak meloncat keluar dari tempatnya.

Lumine turut tersenyum seraya mengangguk, ia pun mengikuti permintaan Aether agar selangkangannya senantiasa terbuka. 

“Aku janji nggak bakal sakit.”

Kecupan demi kecupan mulai dilabuhkan Aether ke puncak kepala Lumine lalu turun menuju kening, hidung dan berakhir di bibir merah jambu menggoda itu.

“Aku percaya Kak Ae─ahn!”

Refleks Lumine melenguh sedikit nyaring kala sesuatu berupaya menerobos masuk ke dalam tubuh; kedua matanya lantas terpejam erat seiring dirinya yang diregangkan lebih lebar dari jemari. 

Aether benar, ini tidak sakit.

“Lumine …,”

Samar-samar Lumine mendengar Aether menggeram samar tanpa menghentikan gerakannya hingga penisnya sudah bersemayam di dalam sana. 

Sensasi memabukkan yang kembali hadir itu membuat Lumine sedikit merasa takut kehilangan kendali atas dirinya namun mendamba lebih, lebih dan lebih. Selama bersama Aether, ia yakin bahwa semuanya kelak baik-baik saja.

“K-Kae Ae─enak, Kak … Mau dicium─”

Aether mengamini tanpa sepatah kata; ia membawa Lumine ke dalam cumbu mesra tanpa berhenti menyentak, lambat laun iramanya mulai cepat dan tidak teratur. Lenguhan samar sesekali terdengar dari sela-sela tautan mereka begitu pula bunyi pergesekan antar kulit yang menjadi melodi pengiring.

Lumine yang mengerjap erat kala meremas penisnya membuat Aether tersadar bahwa adiknya sudah mencapai orgasme yang ketiga. Persetan─ia enggan memberi waktu untuk beristirahat lantaran keinginan mencapai puncak kenikmatan begitu tidak tertahankan lagi.

Maka Aether menarik rupanya terlebih dahulu dan untai liur yang menyatu antara bibir mereka terlihat jelas. Ia melepaskan tangan Lumine yang menahan kakinya sendiri dengan maksud membiarkan sosok tersebut bebas menumpu ke sisi meja.

“Kamu enak banget, Lumine.” Aether terengah, “Sempit, aku suka. Lingkarkan tanganmu di leherku.”

Sejemang Lumine bergeming, kalimat Aether berhasil membuat jantungnya berhenti berdetak barang dua sekon. Kepala mengangguk pelan sebelum bibir terbuka untuk menyahut.

“Iya, Kak. T-Tubuh Lumine punya Kak Ae …,”

Tepat kala Lumine melingkarkan kedua lengannya di leher Aether, sang kakak mempercepat gerakan pinggulnya bahkan deritan meja di bawah mereka tertangkap oleh rungu. 

“Lumine, Lumine─aku mau─”

“K-Kak Ae …!”

Kepala Lumine mendongak ke atas sebagaimana kembar aurum menatap cakrawala mendung kala merasakan semburan hangat memenuhi liang vaginanya dan Aether mendekap begitu erat dengan kepala bersandar di bahu kanan.

Keheningan menyelimuti mereka, tiada yang memilih untuk berbicara pun hanya terdengar suara deru napas yang tidak beraturan. Selang beberapa menit kemudian, Aether menjauhkan diri dari Lumine; kini pandangan mereka berserobok.

“Ayo pulang, Lumine. Mumpung belum hujan.”

Sekoyong-koyong, Aether menarik keluar penis dari tubuh Lumine. Empunya melenguh samar, kala itu melihat mani mengalir keluar dari sela-sela begitu menggoda dan membuat ia kian bergairah─tidak sabar untuk mengisi Lumine lagi.

Aether memakaikan rok Lumine, ya hanya rok saja lalu menggendong sang adik seperti anak koala sebelum mengambil tas mereka dan menyelipkannya di bahu kanan. Ia sedikit mengangkat tubuh lemas Lumine sebelum melesakkan penis yang masih ereksi ke liang vagina basah; mendorong mani yang tersisa di sana. 

“Hnnh─”

Lenguh samar dari Lumine berhasil mengalihkan atensi Aether untuk menatap kesayangannya yang tampak begitu lelah. Jujur, ia tidak tega namun nafsu yang masih memuncak tidak kunjung mereda; setidaknya, bukan sekarang.

“Jangan tidur dulu, kita nggak jadi belanja. Kamu bisa istirahat di rumah saja, biar aku yang pergi sendiri. Oh ya, aku bakal belikan kamu hadiah nanti.” 

Lumine hanya bisa mengangguk samar sebagai sahut atas penuturan Aether. Ia ingin mendekap kakaknya, apa daya tiada tenaga yang tersisa bahkan untuk berbicara.

“Kamu mau kue stroberi atau tiramisu? Aku ingat tempo hari kamu bilang mau beli baju baru, ya? Nanti aku beliin, anggap saja hadiah─bukan hadiah ulang tahun.”

Selama di perjalanan pulang, Aether tidak berhenti berbicara walau tidak kunjung mendapat sahut, ia hanya ingin memastikan bahwa Lumine belum tidur atau lebih tepatnya pingsan.

Langkah kaki Aether yang cepat membuat Lumine melepaskan lenguhan-lenguhan samar lantaran penis di liang vaginanya melesak begitu dalam; bergerak keluar─tidak sampai sepenuhnya─kemudian kembali bersemayam di sana berulang kali.

 


 

“Kita sudah sampai.”

Masih tiada balasan, maka Aether membawa Lumine menuju halaman belakang rumah. Ia meletakkan tas yang berada di sisi kanan bahu ke atas meja sebelum terduduk di kursi taman.

Perlahan Aether menjauhkan tubuh sang adik untuk memastikan jika sosok tersebut masih sadar dan ternyata Lumine menatapnya walau sorot mata kembar aurum itu sayu.

“Satu kali lagi, ya?”

“I … ya─”

Tidak dipungkiri senyum sumringah mengembang di rupa Aether usai mendengar suara Lumine. Ia labuhkan kecup di kening sang adik lalu bergerak turun menuju leher untuk menghidu aroma tubuh yang bercampur peluh; sengaja tidak meninggalkan jejak kepemilikan di sana lantaran tidak ingin rahasia ini terbongkar walau sebenarnya begitu ingin agar dunia tahu bahwa Lumine adalah miliknya.

Kedua tangan Aether bergerak membuka kancing kemeja Lumine satu persatu kemudian ia angkat bra yang menutupi payudara sintal menggoda itu; memberi rangsangan tambahan berupa pijatan dan remasan bahkan puting keras yang berada di antaranya tidak luput dari sentuh kasihnya.

Aether mulai memompa liang vagina Lumine dengan irama lambat lantaran ingin memuaskan diri di tubuh bagian atas terlebih dahulu. Ia dekatkan kepala ke buah dada kanan, menjilat tiap inci sisi lalu mengulum layaknya lolipop sementara tangan yang terbebas meremas buah dada bagian kiri. Sesekali kembar aurumnya mengerling nakal untuk melihat air muka yang dipersaksikan Lumine.

“K-Kak Ae …,”

“Iya, Sayang?”

“Maunh pipis la─gih …,”

“Silakan, aku nggak melarang.”

Benar saja, Lumine orgasme hanya dengan sentuhan di payudara. Tubuh di bawah kuasanya sudah berubah menjadi begitu sensitif. Cairan yang membasahi penis kian membuat pergerakan lebih mudah, lantas Aether mempercepat hentak pinggulnya tanpa berhenti memberi rangsang tambahan di puting Lumine.

“Hahn …! Enak─enak, kak …,”

Lumine ingin sekali mendekap kepala Aether namun tenaganya belum pulih sepenuhnya jika tidak diberi istirahat. Ia hanya bisa mendesah dan pasrah tubuhnya disetubuhi tanpa henti oleh sang kakak.

Aether menjauhkan kepala dan mencumbu Lumine, tangan kanannya bergerak mengelus perut adiknya kemudian berakhir di vagina; ia sengaja memberi pijatan pada kelentit tanpa berhenti mendorong penisnya demi mencapai ejakulasi kedua. 

“Nhh …! Mfhh!”

Tubuh Lumine menggelinjang tidak karuan; sayangnya Aether enggan memberi belas kasih walau orgasme sudah bercampur air seni, ia tidak menghirau. Kepala Lumine begitu pusing akibat kenikmatan tiada henti ini─yang aneh adalah tidak mau sesuatu dalam tubuh pergi─ia dibuat gila oleh kakaknya. 

Suara desah yang terendam cumbuan serta becek akibat persatuan mereka  tanpa henti terdengar rungu. Perlahan Aether melingkarkan kedua tangan di sisi pinggang Lumine seiring menyentak brutal, tautan bibir mereka pun terlepas; ia menghujani kecupan-kecupan di leher Lumine hingga selang beberapa menit kemudian menyemburkan mani di liang vagina yang pasti bercampur dengan ejakulasi pertama.

Aether merasa penisnya dipijat oleh dinding sempit itu, memang tidak lama namun sensasinya begitu memabukkan. Usai berhenti memenuhi tubuh Lumine, hendak ia memindai rupa berantakan adiknya; ternyata sosok tersebut telah kehilangan kesadaran.

“Aduh,” Senyum maklum terpoles di rupa Aether, ia elus helaian pirang lepek Lumine sebelum menarik keluar penisnya. Sekoyong-koyong pula merapikan pakaiannya serta Lumine kala mendengar suara klakson mobil yang hendak memasuki garasi.

Sudah pulang?

Aether pikir kedua orangtuanya kembali lusa; beruntung kegiatan ini sudah berakhir. Ia gendong Lumine memasuki kediaman dan menemukan ibunya meletakkan koper serta berbagai macam barang di lantai. 

“Kami pulang─lho, Lumine kenapa?”

“Selamat datang, Ibu dan Ayah. Ah, nggak apa-apa, kok. Dia cuma kelelahan.” Sahut Aether diiringi kekeh renyah, “Sebentar ya, aku mau bawa Lumine ke kamarnya dulu.”

Lekas Aether meneruskan langkah yang sempat terhenti menuju kamar Lumine, ia tidak sadar bahwa cairan putih kental keluar dari sela-sela selangkangan sang adik lalu jatuh menodai salah satu anak tangga.

Tamat.

Series this work belongs to: