Actions

Work Header

Living Doll (Wrecked)

Summary:

Julian merasa ia cukup berhasil untuk mengelabui pikiran Naraga. Si tuan kecil kini tidak banyak menolak dan membantah, ia jadi lebih mudah menerima.

Julian begitu senang melihat kekasihnya itu susah payah menahan matanya yang sayu, berusaha keras untuk menuruti permintaan Julian agar dirinya tidak kehilangan kesadaran.

Tepat ketika Julian memuji sang kekasih, dengan pujian, "good girl" seperti yang biasa ia lakukan. Naraga tersenyum, ia kemudian kehilangan kesadaran setelah dipakai empat orang selama lebih dari dua puluh empat jam.

I'm a good girl. Kata Naraga dalam hatinya, yang dulunya selalu merasa tak terima jika dipuji demikian oleh sang kekasih, kini merasa begitu bahagia mendengar pujian itu.

Notes:

Please read the tags before continue reading this fics!
Au ini kasar, hardcore, and sick!!
Yang gak suka, tolong jangan dibaca.

MINOR JANGAN BACA!!

Work Text:

Jeno sebagai Julian

Jaemin sebagai Naraga

Mark sebagai Marvel

Renjun sebagai Rava

Donghyuck sebagai Hargi

 

Tags:

BxB, NSFW, foursome, cross dressing, roleplay, misgendering, sex toys, nipple clamp, nipple torture, humiliating, degrading, slut shaming, barebacking, unprotected sex, creampie, manipulation, mindbreaking, mind play, face slapping, spanking, blow job, throat fucking, anal penetration, double penetration, get used until black out. Used harsh words like slut, jalang, kontol, and memek. 


Dibaca dulu tagsnya, this is sick story. Kalau kalian nggak nyaman, jangan dibaca. Cerita ini kasar dan lebih ke hardcore, no vanilla sex sama sekali. If you don't like it then don't read this. Ok?

 

Minor, tolong jangan baca cerita ini. If you are under 20 please close this!!!


 

💦

 

Argghh!!!

 

"I miss your pussy. Tapi gua mau memek lo agak rapet pas dipake temen-temen gua. Aduhh!! Yang bener, anjing! Jangan pake gigi!"

 

Plak!

 

Julian menampar pipi Nara dengan kencang setelah mengeluarkan penisnya dari mulut Nara yang menganga. Yang di bawah sudah basah kuyup oleh sperma Julian, entah sudah kali keberapa si dominan memakai wajahnya seharian ini. Nara kewalahan, ia banyak berharap sperma dalam tubuh kekasihnya hari ini segera habis. Ia rasanya sudah tak sanggup untuk melayani Julian lagi. 

 

"Lo nanti jangan malu-maluin ya, jalang! Gua liat itu memek lo nggak bisa rapet. Tapi gua gamau tau, lo harus rapetin memek lo buat besok. Ngerti?"

 

Nara susah payah membuka matanya yang lengket tertutup sperma, ia lalu menatap sayu ke atas dari bawah kaki Julian yang terbuka.

 

"U-udah gak bisa, kak. Ini lagi a-aku rapetin." 

 

Julian menatap kaca besar yang sengaja ia simpan di depannya, Nara sedikit menungging untuk memperlihatkan bagaimana ia mengetatkan lubang analnya yang memang sudah tak bisa rapat sepenuhnya. Padahal, selama sepuluh hari terakhir, Julian sudah menahan diri untuk tidak memakai lubang anus Nara. 

 

Julian menghela napasnya, tanpa bicara apa pun, ia menarik kepala Nara dan kembali memakai mulutnya seenak hati. Ia abaikan Nara yang tersedak penisnya, hingga akhirnya pelepasan kembali ia muntahkan di dalam mulut Nara.

 

"Enak nggak, susunya, sayang?" Julian bertanya dengan lembut, berbanding terbalik dengan sikapnya selama menyetubuhi mulut Nara seharian ini. Namun bodohnya, Nara tetap suka pada sikap Julian yang ini, terlepas kejamnya sang kekasih beberapa detik yang lalu. Nara tersenyum dengan manis, ia mengangguk sebagai menjawab.

 

"Good girl."  Puji Julian.

 

I'm a boy!!! Sanggah Nara dalam hatinya.

 

"Besok, kita ke villanya Marvel yang di Lembang selama dua hari. Kamu ngerti, kan, dua hari itu ngapain?" 

 

Nara otomatis melotot. Ia tak mau melayani teman-teman Julian selama itu, jadi apa tubuhnya dipakai selama dua hari? Tidak. Nara tidak mau!

 

"Kak, kemarin kakak nggak bilang dua hari." Nara berusaha menyanggah.

 

"And I never said how long this games end, sayang. Udah baik aku kasih dua hari, kamu emang mau jadi lonte rame-rame selama sebulan?" Julian berujar dengan tenang, tangannya mengelus rambut Nara, meski sesekali ia menjambak kencang dan kembali mengelusnya. Nara menangis.

 

"Nggak kak, please, jangan sebulan." Rengek Nara, ia bahkan menggosokkan kedua telapak tangannya, memohon pada sang dominan untuk sedikit saja mengasihaninya. 

 

Julian tertawa. Lucu melihat wajah Nara saat ini, bibirnya bengkak akibat segala aktivitas seksual yang mereka lakukan, mata Nara sayu, dan sebagian besar area wajahnya sudah dipenuhi peju yang mulai mengering.

 

"Makanya nurut, sayangku. Besok, selama dua hari, kamu tau, kan, kamu harus ngapain, sebagai pacar aku yang baik?" Julian kembali bertanya, ia menjambak rambut Nara agar kepalanya menenggak lurus ke atas. 

 

Bola mata Nara mengarah ke bawah, ia berusaha menatap mata Julian selagi menjawab, "ngerti, a-aku harus ngelayanin kakak sama temen-temen kakak. A-aku nggak boleh ngelawan, nggak boleh bikin kakak malu, harus jadi lonte yang tahan lama. Soalnya kakak udah bilang ke temen-temen kakak, kalau aku spek lonte murah kualitas oke. Iya, kan, kak?"

 

Julian tersenyum senang, Nara mengingat apa yang sudah ia katakan pada Nara selama beberapa hari terakhir. Tentang lonte tahan lama . Kali pertama Julian mengatakan itu, ia bisa melihat raut sedih di wajah sang kekasih. Namun, sekarang dengan mudahnya Nara mengulang kembali ucapannya.

 

Julian senang, ia akhirnya memberikan hadiah berupa kecupan ringan pada bibir Nara. Hadiah itu membuat pipi Nara semakin memerah. Ia terlalu lemah pada sikap Julian yang lembut, karena sikap itu jarang sekali Julian berikan padanya. Jika Julian bersikap lembut, itu berarti, Nara sudah berhasil menjadi pacar yang baik. 

 

"Pinter banget, pacarku! Kamu sayang, kan, sama aku?" Tanya Julian, ia masih menjambak rambut Nara dengan kencang. Nara pun seolah tak masalah, karena wajahnya justru memancarkan raut bahagia karena Julian masih terus bicara dengan lembut padanya.

 

"Sayang! Aku sayang banget sama kak Julian! Kakak juga sayang, sama aku?" Kini Nara yang bertanya, ia menunggu jawaban dari lelakinya dengan penuh harap. Ia deg-degan. Jantungnya seolah siap meledak kapan saja.

 

"Ya sayang dong, makanya aku suka pake memek kamu. Kamu kali tuh, yang nggak sayang sama aku. Nolak mulu kalau mau aku pake, nggak pernah nawarin pula."

 

Nara terdiam, kepalanya kini sibuk berpikir. Oh, jadi selama ini aku yang salah paham? Kak Julian cuma nunjukin rasa sayangnya, ya? Iya. Aku nggak pernah nawarin memek—eh, pantat aku maksudnya—Aku nggak pernah nawarin kak Julian. Harusnya aku yang nawarin! Kan aku sayang sama kak Julian!!

 

"Kakak maaf, aku sayang sama kakak. Pake aja lubang pantat aku, kak, ini buat kakak." 

 

Julian tersenyum, memanipulasi Nara nyatanya begitu mudah. Ia bahkan berhasil melakukannya dalam hitungan hari. Ini minggu kedua dari usahanya untuk pelan-pelan memanipulasi pikiran Nara, memainkan intonasi dan setiap kata agar Nara menurut padanya. Ia berhasil.

 

Udah bego, makin bego aja pacar gua. 

 

"Iya, makanya, besok tunjukin. Kalau kamu sayang sama aku, jangan pingsan kalau kita belum ada yang puas make badan kamu. Ngerti, nggak?" 

 

Nara mengangguk dengan antusias. Iya! Aku mau tunjukin ke kak Julian kalau aku sayang banget sama kak Julian! Ujarnya dalam hati. Kepalanya  masih mengangguk, meski anggukannya itu terasa sakit karena rambutnya yang masih saja dijambak kencang oleh Julian.

 

"Satu lagi. Otak kecil kamu ini harusnya inget, kalau lubang pantat yang kamu maksud tadi itu, namanya memek. Memek! Ngerti, nggak, sayang?" 

 

Air mata Nara keluar otomatis, perasaannya seperti menaiki roller coaster, naik turun pada setiap bahasan yang Julian katakan. Kali ini, ia begitu sedih, karena sejak dulu, ia tidak suka mengganti anggota tubuhnya dengan sebutan yang biasa dipakai untuk merujuk pada organ reproduksi perempuan. Aku ini laki-laki, kak Julian. Bisik Nara dalam hatinya. Namun, kepalanya tetap mengangguk untuk menjawab pertanyaan Julian.

 

Aku nggak suka pantatku disebut memek, tapi kak Julian suka. Kalau aku sayang, harusnya gapapa ya? Tapi aku ga suka ….

 

Naraga yang malang, kepalanya seolah diajak berpikir hal yang membingungkan, padahal, sejak lama, ia memang tak pernah suka direndahkan. Lalu kenapa sekarang ia mulai mempertimbangkan semua cara dan perkataan Julian yang merendahkannya?

 

Nara tidak bermaksud untuk mengatakan jika lubangnya disebut memek, maka ia jadi direndahkan, bukan. Nara hanya berpikir, Julian tidak menghargai diri Nara yang sebenarnya lelaki. Begitu. 

 

Aku laki-laki. Tapi pantatku namanya memek. Kata kak Julian, otak aku terlalu kecil buat ngerti. Gitu ya, kak Julian?

 

Nara masih berdebat dalam pikirannya, seolah ada dua orang di dalam kepalanya yang tengah berdebat. Satu mempertahankan diri bahwa Nara adalah lelaki, dan yang satunya menentang.

 

"Oke, pinter! Nah, besok, kita berangkat dari sini pagi-pagi. Kamu harus udah siap pake baju yang udah aku siapin. Tuh, aku gantung di situ." Julian menjelaskan, tangannya menggerakkan kepala Nara yang masih dalam genggamannya ke arah gantungan baju di dekat lemari. Sang dominan menikmati bagaimana mata Nara membulat melihat pakaian yang harus dikenakannya.

 

"Kakak … itu baju perempuan …. " Ucap Nara, dengan air matanya yang kini mengalir lebih deras dari sudut matanya.

 

"Iya, that maid dress udah aku bikin spesial buat kamu, Nara. Besok, wajib, dipakai." 

 

Nara menggelengkan kepalanya.

 

"Oh, kamu nggak sayang, sama aku ya?"

 

Nara menggeleng lebih keras.

 

"Aku sayang sama kakak!"

 

"Then, wear that maid dress, with no panties!" Julian menahan amarahnya, ingin sekali ia memaki dan memaksa laki-laki yang masih berlutut di bawahnya. Namun, ia ingin mulut Nara menyetujui dengan sendirinya.

 

"Tapi itu bajunya kecil banget, kakak … titit sama memek aku bisa kelihatan kalau nggak pake panties."

 

"Erghh!!!" Julian menjambak rambut Nara lebih kencang hingga si submisif mengerang kesakitan. Julian kepalang kesal. Ternyata ia masih butuh banyak waktu untuk memanipulasi pikiran Nara, untuk membuat laki-laki di bawahnya ini menurut tanpa membantah, menurut tanpa berpikir. It's still a long way to go.

 

"Kamu mau putus, ya, sayang? Udah nggak sayang lagi ya kamu sama aku? Aku nih kurang sayang apalagi sih sama kamu?"

 

"Enggak! Aku nggak mau putus! Iya, bajunya aku pakai, aku nggak pake cangcut juga!"

 

Julian akhirnya puas, ia tersenyum dan memberi satu kecupan pada bibir Nara sebelum meninggalkan Nara seorang diri di dalam kamar. Yang ditinggalkan jadi bingung sendiri dengan semua situasi yang baru ia hadapi.

 

Kenapa aku nggak mau putus? Bukannya aku selama ini nyesel ya, pacaran sama kak Julian? Apa karena aku sayang sama kak Julian, ya? Jadi nggak mau putus, kan? Mungkin aku emang nggak nyesel jadi pacarnya kak Julian kali, ya? Aku seneng, kan?

 

Kepala Nara begitu ribut, ia bahkan lupa membersihkan dirinya yang kotor hingga ia tertidur di lantai kamar, tanpa pakaian, dan masih dipenuhi sperma milik sang dominan.

 

💦

 

Nara sudah duduk tak nyaman di kursi penumpang mobil Julian. Pantatnya bergerak untuk mencari posisi aman, dan nyaman. Namun tak bisa. Cairan dingin yang ada di dalam memeknya membuat Nara tak nyaman. Ia harus memastikan tak ada yang tumpah keluar selama perjalanannya hingga ke Lembang. Berapa jam? Tiga? Empat? Yang pasti, Nara kini masih berusaha keras mengetatkan memeknya yang disumpal plug kecil. Penyumbat memeknya itu dipasang hanya sebagai hiasan dan rasa kasihan Julian karena lubang kekasihnya yang sudah menganga. Ia terlalu sering dipakai sampai lubangnya tak bisa tertutup rapat. Lalu, perihal cairan di dalamnya, Julian memasukkan satu botol lebih pelumas ke dalam memek Nara. Supaya siap pakai, kata Julian yang disetujui Nara meski awalnya tak mau.

 

Perihal sebutan memek untuk lubang pantat Nara, si tuan kecil sudah menerima saat bangun dari tidurnya. Seolah perkataan Julian malam sebelumnya begitu menempel di dalam otaknya. 

 

"Kamu minum ini dulu deh, yang. Kasian, kamu pasti kedinginan gara-gara pake baju kayak gini. Ini minuman bikin badan kamu ngerasa anget kok." Julian memberikan satu botol air putih keruh ke tangan Nara. 

 

"Emang ini apa?" Tanya Nara bingung.

 

"Minum aja, sayang … aku bikinin barusan spesial untuk pacarku yang cantik ini." Tangan Julian meraih dagu Nara, lalu melumat bibir yang dipoles lipstik merah menyala yang terlihat kontras dengan warna kulit Nara. Yang dipuji dan dicium itu merona, senang karena diperlakukan lembut.

 

"Makasih ya, sayang. Udah mau nurut pake baju pembantu, pake high heels, pake make up, dan nggak marah sama aku waktu kamu bangun udah pake ekstensi rambut. Kamu cantik banget. Jadi makin sayang deh aku sama kamu, kalau kamunya nurut nggak banyak nolak gini."

 

Benar. Nara bangun dari tidurnya dengan rambut panjang sepunggung. Ia sangat ingin marah, namun, ia juga tak berani. Maka ia hanya diam dan pasrah. Terkait pakaian … Nara menundukkan kepalanya, melihat bagaimana ia berpakaian saat ini. 

 

"Tapi ini aku jadi kayak telanjang, kakak … titit sama memek aku nggak ketutup roknya. Roknya cuma kayak iket pinggang, terus transparan. Ini … bra segitiga yang cuma nutupin dada aku juga tadi kakak bolongin, pentil aku jadi ke mana-mana."

 

Julian terkekeh, ia memandangi badan Nara sebelum akhirnya mengambil hoodie dan celana pendek dari tasnya.

 

"Dipake aja, buka Hoodie sama celananya pas kita sampe ke villa. Oke?" 

 

Nara tersenyum senang, ia mengangguk antusias dan langsung memakai hoodie milik Julian. Ia tak jadi telanjang selama perjalanan. Senangnya!!!  

 

Setelah tiga puluh menit perjalanan, Julian kembali mengingatkan minuman yang sebelumnya ia racik. Ia meminta Nara untuk menghabiskan minumannya sekaligus. Nara yang masih terlampau bahagia karena diberi pakaian pun langsung menurut tanpa membantah. 

 

Dua puluh menit kemudian ….

 

Mata Nara berkabut.

 

Aliran darahnya seolah bekerja lebih cepat.

 

Panas.

 

Nara menggerakkan tangannya di depan wajah, bingung sendiri karena kini tubuhnya kepanasan. Nara mendekat pada AC mobil, namun tak ada yang berubah, ia tetap kepanasan.

 

"Kak, kok panas ya?" Tanya Nara.

 

Julian menahan senyumnya, wajahnya ia buat sekhawatir mungkin, hingga Nara juga dapat melihat bagaimana raut khawatir di wajah Julian. Yang lebih tua lantas menempelkan tangannya pada dahi Nara, kemudian turun untuk menyentuh perpotongan leher Nara. Nara melenguh. Julian pura-pura terkejut mendengarnya, dan yang melenguh pun ikut terkejut karena respon tubuhnya.

 

"Kamu sangean banget, sayang." Ujar Julian diikuti tawa meremehkan, Nara menggelengkan kepalanya, tak mampu menjawab karena rasanya malah ingin mendesah.

 

"Coba turunin celananya, liat kontol kamu. Belepotan ga?" 

 

Benar. Penis Nara bocor, ia melenguh dengan wajah kebingungan. Namun Julian hanya tertawa dan tetap mengemudikan mobilnya melintasi jalan tol yang untungnya masih sepi. Ini masih pagi buta, matahari bahkan belum muncul, tapi Nara sudah dikerjai oleh sang dominan.

 

Setelah tiga jam perjalanan, mobil Pajero milik Julian akhirnya terparkir di villa pribadi milik Marvel. Mobilnya terparkir di sebelah mobil Range Rover hitam milik Hargi. Teman-temannya sudah tiba lebih awal, menunggu sang bintang tamu yang kini masih mendesah tertahan di samping Julian.

 

Katakanlah Julian lebih sadis dari iblis, selama perjalanan, ia membiarkan Nara kesusahan. Badannya kepanasan karena obat perangsang yang Julian campurkan di minuman Nara, lalu ia tidak mengizinkan Nara untuk menyentuh tubuhnya sendiri. Hingga yang bisa Julian dengar hanya desah dan rintihan dari Nara yang tak bisa mengeluarkan kata. Mulutnya disumpal celana pendek yang sebelumnya Nara pakai, agar ia berhenti mendesah dan tidak mengganggu konsentrasi Julian.

 

"Masih sange, nggak?" Tanya Julian yang sudah melepaskan sabuk pengamannya. Nara mengangguk cepat, ia ingin disentuh, ia butuh disentuh.

 

"Kita masuk ke dalem dulu, inget ya, kamu harus jadi lonte murah yang tahan lama, oke?" 

 

Nara mengangguk antusias, yang ada di kepalanya saat ini mungkin hanya kontol. Julian tersenyum, ia menarik celana pendek yang sudah basah dengan liur dari mulut Nara, lalu melemparnya dengan asal ke bangku penumpang.

 

"Kamu pengen apa, sayang?"

 

"Mau kontoool." Rengeknya.

 

And here we are.

 

Nara duduk bersimpuh di depan empat laki-laki dominan yang tengah menatap Nara remeh. Hoodie yang sebelumnya Nara pakai sudah dilepas, sehingga empat dominan di depannya bisa memandangi tubuh Nara yang hampir tidak tertutup pakaian pembantu kurang bahan ini. Nara terus menggerakkan pantatnya karena gatal dan panas, tak begitu mengindahkan tatapan merendahkan yang seharusnya menyakiti perasaan Nara.

 

"Heh, lonte! Jawab dong, kita lagi ngajak ngobrol!" Hargi membentak kesal, yang dibentak malah mendesah.

 

"Hhhhh kakak hhh mau kontol, mau dikontolin kakak … memek aku gatel, udah becek, tinggal pake hhhhh." Nara menggesekkan pantatnya ke lantai, menekan-nekan penyumbat lubangnya yang sudah becek. Pelumas yang ada di dalam lubang Nara sudah tumpah-ruah.

 

Keempatnya tertawa.

 

"Baik banget lu jadi lonte, Nar. Yang anniversary lu sama Julian, yang dikasih hadiah kita." Rava berujar setelah menghembuskan rokoknya ke udara.

 

Anniversary?

 

"Hhhh hhh mau kontol, kakak …. "

 

Nara sudah pusing, ia hanya ingin disentuh, bukan diajak ngobrol seperti ini. Namun yang ia dapatkan justru sebuah kain pel dan ember berisi air sabun. Nara yang kebingungan pun menegakkan kepalanya, menatap empat orang di depannya dengan mata yang berkabut penuh nafsu yang kini memandang mereka kebingungan.

 

"Lo ngepel dulu, bersihin villa ini dulu, baru kita ewein lo ampe tolol." Hargi berujar dengan santai, yang mana membuat Nara menatapnya tak terima, mulut Nara memble ke bawah, ia merengek minta kontol yang lagi-lagi hanya ditertawakan oleh empat dominan di depannya.

 

"Anjing, sange banget dia, Jul! Dari Jakarta dia udah begini?" 

 

Julian terkekeh dan mengangguk, ia tidak terlalu tersiksa melihat Nara yang ia buat sange. Karena Julian memakai mulut Nara beberapa kali saat mereka berhenti di rest area. Tapi Nara tidak disentuh, dan si tuan kecil itu sudah mabok ingin disentuh.

 

"Lo mau dipukul, ya, Naraga?" 

 

Nara yang mendapat pertanyaan seperti itu dari kekasihnya pun berusaha mengumpulkan kewarasannya yang bercecer dalam kepalanya. Menyingkirkan sebentar keinginannya untuk disentuh dan dipakai.

 

Nara takut, takut malah dibiarkan tak disentuh lebih lama. Maka ia ambil kain pel di depannya, memasukkannya ke dalam ember, lalu diperas. Nara mengepel lantai secara acak, otaknya tak cukup berfungsi untuk memikirkan lantai mana yang harus ia bersihkan, Nara hanya bergerak acak. Tubuhnya menungging, memamerkan pantat sintal yang sama sekali tidak tertutup rok mininya. 

 

"Becek gitu memeknya, dikasih apa, Jul?" Marvel bertanya setelah melihat ada yang menetes dari pantat Nara.

 

"Gua masukin pelumas, ada kayaknya sebotol lebih. Sisa pelumas yg gua punya sama satu botol pelumas baru. Penuh dah tadi, udah pada luber aja itu." Julian menjelaskan dengan santai, tiga temannya tertawa dan menggelengkan kepalanya. Takjub dengan segala ide Julian untuk mengerjai tubuh kekasihnya sendiri.

 

"Eh gua udah install kamera dari tadi, Jul." Rava menunjuk tiga kamera di sisi sofa dan di meja yang tak jauh dari tempat Nara menungging. Julian mengacungkan jempolnya.

 

"Gua jepit pentilnya ya, Jul?" Hargi meminta izin, ia baru saja mengeluarkan sepasang nipple clamp dengan lonceng dan pemberat yang menggantung.

 

Setelah mendapatkan izin, Hargi menghampiri Nara yang masih susah payah mengepel lantai yang sebenarnya sudah sangat bersih. Hargi dapat mendengar suara rintihan Nara yang terus menyebut konto, seolah ia hanya mengenal kontol di hidupnya. Hargi tertawa, ia menendang belahan pantat Nara cukup keras hingga si tuan kecil hampir tengkurap.

 

"Bangun, lonte! Kasih liat mana pentil lo." 

 

Yang disuruh pun menurut, Nara bangun susah payah dan memegang dadanya dengan kedua tangan, menunjukkan pentil coklat yang keluar dari lubang bra yang dikenakannya. 

 

"Ahhhhh, ss-sakit …. "

 

Pentil Nara ditarik Hargi hingga tubuhnya maju, lalu dijepit dan ditekan kencang sampai Nara berteriak kesakitan. Hal serupa juga Hargi lakukan pada pentil kiri Nara. Ia menampar pipi si tuan kecil sebelum kembali ke tempat duduknya.

 

"Lanjut lagi, bibi!" Teriak Rava, sedangkan Marvel, Julian, dan Hargi malah tertawa mendengarnya. Berbanding terbalik dengan Nara yang malah menangis karena tak suka dipanggil bibi. Aku bukan bibi ... keluh Nara dalam hatinya.

 

Nara tetap menurut, ia kembali menungging dan membersihkan lantai, masih dengan air matanya yang tak bisa berhenti menetes. Nipple clamp yang terpasang pada pentilnya pun membuat Nara semakin kehilangan kewarasannya. Pentilnya seolah ditarik ke bawah karena pemberat yang bergelantungan, belum lagi, ada suara lonceng yang terus berbunyi setiap kali Nara bergerak. Sedikit demi sedikit, otaknya yang masih agak mampu bekerja itu mulai tak fokus. Mulutnya tanpa sadar meminta sesuatu yang sangat dibutuhkan tubuhnya, mau kontol, kata Nara berulang kali.

 

"Aduh, anjing, nggak kuat gua, Jul." Marvel membuka dan menurunkan celana untuk mengeluarkan penisnya yang sudah tegang sempurna, Marvel mengurut penisnya dengan cepat sebelum berjalan menghampiri Nara.

 

Nara merasa plug yang sejak tadi menyumpal memeknya ditarik keluar. Lubangnya menganga, bergerak mengetat dan mengendur meski tak bisa tertutup sempurna. Nara mendengar umpatan dari belakang tubuhnya, lalu ia mendesah kala sebuah tamparan menyapa pantatnya.

 

"Anjing becek banget, ditabok malah makin banjir. Persis memek gini, Jul, keluar lendir." Marvel mengumpat selagi memandangi lubang anus Nara yang luber dengan pelumas.

 

"Aahh!!" Nara berteriak ketika tiba-tiba tubuhnya dipenuhi penis Marvel, pelumas yang ada di dalam lubangnya pun sebagian terdorong ke dalam dan sebagian lagi tumpah ruah mengelilingi penis Marvel. 

 

Mata Nara bergulir ke atas, setelah berjam-jam dikuasai nafsu, akhirnya memeknya dipakai seperti yang ia inginkan. Desahan tak berhenti keluar dari belah bibirnya.

 

"Baru ditusuk udah bocor aja itu kontol kecil!" 

 

Plak!

 

Wajah Nara ditampar keras oleh Hargi, lalu tangannya mencengkram rahang Nara dengan kuat. Nara melenguh, matanya sudah bisa sedikit lebih fokus, ia melirik ke samping kirinya. Nara malah semakin mendesah ketika matanya melihat Julian yang hanya duduk di sofa dengan penis yang ia kocok dengan tangannya sendiri. Seolah tak masalah kekasihnya tengah dipakai kedua temannya.

 

"Mau kontol, nggak?" 

 

Mata Nara menatap lelaki yang masih mencengkram pipi dan rahangnya, ia mengangguk untuk menjawab. Bibirnya mengatakan kontol tanpa suara karena hanya desahan yang terus keluar dari belah bibirnya. Matanya kembali bergulir ke atas saat tiba-tiba Hargi memasukkan penisnya ke mulut Nara.

 

Nara kembali memuncratkan air maninya ke lantai di bawahnya. Tubuh Nara bergerak maju mundur dengan cepat karena tusukan di dua lubangnya secara bersamaan. 

 

"Ah anjing, enak banget memek lu!" 

 

Marvel mengumpat dan menampar pantat Nara dengan kencang. Nara mendesah, namun akhirnya malah tersedak karena penis Hargi yang terus menusuk tenggorokannya semakin dalam.

 

"Memek yang ini juga enak banget, njing. Lipstiknya luntur kena kontol gua."

 

Hargi menjambak rambut panjang Nara, ia menggunakan jambakannya untuk menggerakkan kepala Nara dengan lebih brutal. Mengabaikan Nara yang mungkin kesakitan. Kedua tangan Nara sudah bertumpu di paha Hargi, meremas celana yang hanya diturunkan sebatas paha dengan erat.

 

"Gua join sama lu dong vel!" Rava yang sejak tadi mengocok penisnya pun mendekat pada tiga manusia yang tengah bersetubuh. Marvel yang masih asik menumbuk titik sensitif Nara pun berhenti. Membuat Nara yang mulutnya masih dipakai Hargi kembali tersedak karena rengekannya sendiri setelah lubangnya kosong.

 

"Gi, ganti posisi dulu, anjing! Ini si lonte juga cengap-cengap pengen dipake memeknya!" Omel Rava karena Hargi masih terus menggempur mulut Nara. 

 

"Ganggu aja lu, ah!" Hargi protes, namun ia tetap menghentikan kegiatannya dan mengeluarkan penisnya dari mulut Nara.

 

Julian masih mengocok penisnya, ia begitu menikmati pemandangan di depannya. Kekasihnya yang selama ini berada di bawah kakinya itu kini sedang kewalahan di bawah kuasa ketiga temannya. 

 

Mulut Nara tetap menganga meski penis Hargi sudah tak lagi bersarang, lidahnya menggantung keluar seperti anjing. Tubuhnya yang dikuasai nafsu itu mendesah setiap kali ada tangan yang menyentuh kulitnya. Sangat sensitif.

 

Nara yang mulanya hanya terus mendesah ketika ada dua kepala penis menyapa lubangnya, kini berteriak kesakitan. Hargi baru saja menekan pundaknya tak sabar, menekan Nara agar dua penis temannya langsung masuk sepenuhnya ke dalam lubang Nara. Posisinya, Rava dan Marvel berada di bawah, lalu Nara dibuat mengangkang dan menunggangi dua penis Marvel dan Rava yang tebal dan panjangnya tidak normal bagi Nara. Jauh berbeda dengan ukuran penis Nara yang lebih kecil. 

 

Nara menangis, badannya seperti dibelah dua. Tangannya berpegangan erat pada pundak Rava yang berhadapan dengannya. Wajahnya sudah berantakan, lipstik merah yang Nara kenakan juga sudah luntur mengotori pipi dan dagunya. Bibirnya bergetar ketika Marvel mulai menggerakkan pinggulnya.

 

"Ss-sakit …. "

 

"Sini, biar nggak sakit, mulut lu gua pake lagi." Hargi menarik kepala Nara dengan menjambak rambutnya, lalu memasukkan seluruh penisnya ke dalam mulut hangat Nara. 

 

Seperti layaknya boneka sex hidup, Nara dipakai dengan brutal oleh tiga laki-laki yang baru pertama kali menyetubuhinya. Tangan Nara berpegangan pada paha Hargi, badannya terus bergerak atas bawah dengan cepat hingga membuat penis Hargi masuk lebih dalam. Hidung Nara bahkan selalu menabrak perut bagian bawah Hargi pada setiap hentakan Marvel dan Rava yang menumbuk titik sensitifnya.

 

Sudah tak terhitung, kali ke berapa Nara mengeluarkan spermanya. Tubuhnya lemas, namun Hargi, Marvel, dan Rava masih belum mencapai pelepasannya sama sekali.

 

Plok clokhh plok plok

 

Plok clokhh clokhh plok

 

Suara pertemuan antar kulit, suara geraman, dan suara tenggorokan Nara yang dipakai brutal memenuhi seisi villa ini. Julian mengambil ponselnya, ia mengocok penisnya lebih cepat dan berjalan mendekati sang kekasih yang kini terlihat seperti boneka seks. Julian mengambil video, menampakkan penisnya dan kegiatan empat orang di depannya secara bergantian.

 

"Liat, pacar gua bukannya ngurusin kontol pacarnya malah keenakan diewe tiga kontol. Lo suka kontol, ya, Naraga Alvian?" 

 

Yang ditanya tak bisa menjawab, hanya terdengar suara dari tenggorokannya yang tertahan penis di dalamnya.

 

"Ahh anjing, enak! Desah aja terus lu biar geter-geterin kontol gua!" Hargi menjambak rambut Nara lebih kencang, yang disuruh pun mau tak mau menurut. Ia terus bersuara meski rasanya sangat perih. Air matanya menetes deras dari kedua sisi matanya.

 

"Nara, pacarnya nanya bukan dijawab malah sibuk sama kontol!"

 

Mata Nara bergulir ke atas, Rava dan Marvel menggeram di bawahnya karena lubang Nara yang mengetat lebih kencang. Nara bergetar, ia mencapai pelepasannya lagi karena suara sang kekasih. Mengotori lantai dan baju Rava yang sudah basah penuh peju milik Nara.

 

Masih dalam euforia pelepasannya, hentakan pinggul Marvel dan Rava justru semakin cepat dan kasar. Keduanya sama-sama mengejar putih. 

 

"Ketatin memek lu lagi, lonte!" 

 

Marvel menampar pantat Nara dengan kencang,  ia mendesah, lalu ia tersedak karena Hargi menekan penisnya lebih dalam, memuntahkan peju yang sangat banyak ke dalam tenggorokan dan mulut Nara. Lubang Nara pun mengetat dengan kencang, lalu hangat menyapa perutnya begitu banyak. Marvel dan Rava sama-sama memuntahkan pejunya ke dalam tubuh Nara.

 

"Enak banget, anjing!" Rava yang baru selesai menikmati pelepasannya kini mencengkram pinggang Nara. Tubuh si submisif bergetar. Perutnya terlihat mengembung karena dua penis besar masih bersarang di dalam memeknya tanpa bergerak.

 

"U-udah …. " Nara berujar susah payah, suaranya sangat serak bekas permainan kasar Hargi di mulutnya. Ada banyak peju yang luber keluar dari mulutnya, namun tak ada satupun yang berniat membersihkan si tuan kecil.

 

"Tadi minta kontol, masa baru segitu udah payah? Lo lonte bukan?" Hargi menampar pipi Nara dengan penisnya, lalu berganti dengan tamparan keras dengan tangannya.

 

Yang ditampar malah mendesah.

 

Tubuh Nara diangkat keluar dari dua penis yang mengerjainya sejak berpuluh menit yang lalu. Badannya kemudian dibiarkan tergeletak di tengah ruangan, dengan lubangnya yang semakin menganga dan menumpahkan isi pantatnya hingga membuat genangan di lantai.

 

"Lu nggak make juga, Jul?" 

 

"Dicrotin aja lah ke badannya, biar makin bau peju." 

 

Julian mengocok penisnya di atas tubuh Nara yang terkulai lemas. Nara menatap penis Julian dari bawah, entah mengapa ia begitu ingin menyentuh Julian. Maka dengan sisa tenaganya, Nara bangun untuk berlutut dan membuka mulutnya untuk Julian. Sang kekasih tentunya tersenyum bangga, ia langsung memakai mulut Nara dengan brutal hingga Nara berkali-kali menepuk paha Julian karena tak bisa bernapas.

 

Hhhh hhhh hhhhh uhuk!!!

 

Nara mengais napasnya susah payah setelah Julian mencapai pelepasannya di dalam tenggorokan Nara. 

 

"Pejunya enak?"

 

Yang ditanya mengangguk, ia membersihkan pinggiran mulutnya dengan tangan yang bergetar, lalu memasukkannya kembali ke dalam mulut. Nara melakukannya sambil menatap Julian, berharap sang kekasih merasa senang karena tindakannya.

 

"Udah cocok, sayang." Alis Nara berkerut mendengar respon dari Julian.

 

"Udah cocok jadi pelacur, mau gua jual aja, nggak?" 

 

Nara menggeleng ribut, ia menangis dan mendekati Juliannya yang kini berjalan mundur. Nara tetap mendekat dengan berjalan memakai kedua lututnya.

 

"Nggak mau, jadi pelacurnya kakak aja, jangan dijual. Aku pelacurnya kakak, tapi jangan dijual!" 

 

Tiga lelaki yang baru saja menikmati sigaretnya tertawa melihat pertunjukan di hadapan mereka. Terlihat jelas bagaimana rusaknya pikiran Naraga Alvian setelah tunduk di bawah Julian Abirray.

 

"Padahal dulu lu macarin dia karena taruhan ya, Jul. Hoki amat dapet spek lacur begini." Kata Rava dengan santainya, ia tak mempedulikan Nara yang bisa saja mendengarnya. Toh, Nara juga sudah tau perihal taruhan itu, dan ia tetap bertahan bersama Julian.

 

"Otaknya udah isi kontol doang, Rav, sekarang. Susah nih gua training lacur ini." Ujar Julian. 

 

Ia masih mengabaikan Nara yang kini memohon di bawahnya, si submisif bahkan berinisiatif dengan kembali melakukan blow job untuk sang kekasih, membangunkan lagi penis Julian agar kembali tegang.

 

"Is he a brat? " Hargi bertanya, matanya tak lepas memandangi lubang pantat Nara yang cengap-cengap dan masih mengeluarkan sisa peju dan pelumas ke paha putihnya yang memerah.

 

"Iya, awal-awal nolak mulu, ribut mulu gua sama dia. Diem dan nurut sama gua kalau gua tabok kenceng nih muka. Dua minggu terakhir ini baru dah agak nurut dikit. Jadi inisiatif kayak gini juga." 

 

Rava tertawa mendengar penjelasan Julian, ia memperhatikan Nara yang masih sibuk sendiri memaju-mundurkan kepalanya meski sering kali lututnya kepeleset karena peju yang tumpah ruah dari pantatnya.

 

"Memeknya aja udah longgar gitu, gabisa nutup." Kata Marvel. Ia langsung tertawa keras begitu melihat pantat Nara yang sedikit bergerak, lubangnya diketatkan untuk membuktikan perkataan Marvel salah, tapi Nara gagal total karena yang terjadi malah semakin banyak peju dan pelumas yang keluar dari lubangnya. Lubangnya tetap menganga tak bisa rapat.

 

"Kuat nggak dia kalau dipake seharian, Jul?" Hargi kembali berjalan mendekat, ia mengocok penisnya, lalu menusuk pantat Nara dengan penisnya tanpa aba-aba. Nara tersedak, baru saja mau menarik kepalanya keluar dari penis Julian. Kepalanya sudah ditahan lebih dulu.

 

"Kamu kuat, kan, sayang? temen aku mau pake memek kamu sampe besok, kamu kuat, kan? Kamu nggak akan pingsan sampe besok, kan, ya? Lonte aku kan tahan lama! Boleh ya, dipake sampe besok?" Tanya Julian dengan intonasi yang sangat lembut. Lagi, tangannya menjambak rambut panjang Nara lebih kencang. Yang ditanya mengangguk dan menjawab dengan geraman tertahan. Toh ia memang tak bisa menjawab karena penis Julian yang bersarang sangat dalam di mulutnya.

 

Tidak ada istirahat bagi Nara. Ia digilir, dipakai seenak hati dengan berbagai posisi dan di segala penjuru tempat. Nara kembali dicekoki obat perangsang ketika tubuhnya sudah terkulai di lantai. Lalu si tuan kecil kembali bergerak resah, meminta dengan lemah pada empat tuan yang sejak Sabtu siang ini sudah menggagahinya.

 

"Mau kontol … mau dikontolin lagi .... " 

 

Dengan kebaikan hati Julian dan teman-temannya, empat dominan itu memberikan apa yang Nara minta. Terus-menerus. Hingga perut Nara menggembung dipenuhi peju para dominan. Hargi juga mengerjai kontol Nara yang terus memuncratkan peju, lalu memasukkan peju Nara ke dalam mulut atau memek Nara yang sedang tak tersumbat kontol. Perut Nara kembung.

 

💦

 

"Hari ini sampe sore aja ya, gays." Julian yang baru turun dari lantai dua pun berujar santai. Nara masih sibuk bergerak naik turun di atas penis Hargi dan Marvel dengan kakinya yang bergetar hebat, tubuhnya dipenuhi bercak merah dan ungu, pentilnya membengkak karena nipple clamp yang tidak dilepas sejak kemarin siang.

 

"Why? Lacur lo masih bisa gerak ini, Jul." ujar Marvel sambil menarik nipple clamp yang masih saja dipakaikan di pentil Nara yang membengkak. Nara teriak kesakitan di atas singgasananya sejak pagi ini—dua kontol yang masih bergerak menumbuk memeknya.

 

"Mau gua ajak jalan, dia mau ngedate banget vel, kasian." 

 

Mata Nara membulat. Kondisinya sangat kacau saat ini, dan Julian, benar-benar akan membawanya kencan?

 

"Ngah!!" Nara menolak, namun yang keluar dari mulutnya lebih seperti desahan tak jelas.

 

"Ngah m-mauhh ahhh ahhh …. " 

 

Hargi menumbuk Nara lebih kencang ketika si tuan kecil di atasnya membuka mulut.

 

"Kenapa nggak mau, kan kamu yang mau kita kencan?" Julian sudah berdiri di depan Nara yang kondisinya sudah jauh dari kata baik.

 

"Ngahh! Me-me-mek a-ku sss-ahhh!! Ss-sakit, kak aahh!" Racau Nara di antara desahannya.

 

"Mau besok aja? Tapi kamu nggak boleh dibersihin sampe besok. Nggak makan sampe besok, gapapa?" Julian kembali bertanya.

 

Nara mengangguk, ia sama sekali tak ingin makan, perutnya sudah penuh. Ia kekenyangan peju yang terus diisi tanpa ampun sejak kemarin siang.

 

"Udah tolol kontol gini mah, mana bisa mikirin makan sih, Jul?" Ujar Rava. Lelaki itu baru saja selesai mandi. Padahal ia juga berniat kembali mengotori diri setelah ini, apalagi penisnya kembali bangun begitu melihat Nara yang masih saja digenjot brutal dua lelaki di bawahnya.

 

"Yaudah, lanjut aja pake dia, ampe dower mulut sama memeknya." Julian berjalan menjauh setelah menampar pipi Nara bolak-balik.

 

Pipi Nara sudah bengkak, ia terus-menerus mendapat tamparan yang cukup keras setiap kali otaknya tidak bekerja dengan baik saat ditanya oleh para dominan. Ia juga selalu ditampar untuk mengembalikan kesadarannya. Nara susah payah bertahan, kepalanya tanpa sadar mengulang apa yang Julian katakan Jumat lalu. 

 

Kalau kamu sayang sama aku, jangan pingsan kalau kita belum ada yang puas make badan kamu.

 

Dalam kepalanya, Nara seolah diingatkan kalau ia harus menunjukkan rasa sayangnya pada sang kekasih. Ia berusaha mengabaikan satu suara lain yang berteriak dalam tubuhnya.

 

Nggak, walaupun lo sayang sama Julian, lo nggak seharusnya rendahin diri lo di depan temennya Julian! Jangan jadi lonte beneran, Naraga!

 

Pada kenyataannya, Nara merasa suara itu malah mengganggu kenikmatannya. Ia hanya ingin berfokus pada empat kontol yang terus memasuki memeknya secara bergantian. Emangnya salah kalau jadi lonte mereka? Kan Julian senang? Ia juga harusnya senang!

 

Enak, kan, dikontolin? Jangan nolak lagi kalau Julian minta tiap hari, kan kamu enak kayak sekarang! Ahhh, memek kamu dipakai! Kalau Julian bilang, ini tanda cinta Julian! Dia mau kamu seneng dan keenakan. Julian baik! Julian kasih empat kontol buat kamu, Nara! Empat kontol!

 

Iya, Nara lebih mendengarkan suara itu. Maka, tubuhnya ia paksa untuk lebih kuat, meski rasa perih dan sakit sudah merajai tubuhnya.

 

Hingga akhirnya Nara tak lagi mampu.

 

Ia terkulai lemah di tengah ruangan, telanjang di atas lantai, dan di tengah dinginnya kota Bandung malam itu. Tubuhnya ditelantarkan begitu saja. Memeknya disumpal oleh dildo berukuran besar dan diikat dengan belt khusus yang memiliki sebuah gembok. Nara tak akan bisa melepaskannya sendiri.

 

Mulutnya menganga dengan lidah yang juga keluar dari mulutnya, ia tak punya tenaga hanya untuk menarik lidahnya kembali masuk, meski begitu, mata Nara masih bisa bergerak lemah.

 

"Keren dah, dia belum pingsan aja, Jul."

 

"Permainan otaknya yang gua pake, Rav. I guess it's finally works. Badannya udah capek banget tapi otaknya nyuruh dia buat tetep sadar, jadinya kayak gini dah." 

 

"Untung gua dua minggu ini nahan nahan coli, anjing. Abis dah peju gua dibuang ke memek Nara." Ujar Hargi yang sudah segar setelah mandi air dingin beberapa waktu lalu.

 

"Gua juga."

 

"Me too. "

 

Julian tertawa, ia sengaja mengundur acara bermain mereka setelah permintaannya kepada Nara tentang tubuh Nara yang dipakai rame-rame. Setidaknya, ia punya waktu mempermainkan cara kerja otak Nara. Ia bisa mengatakan kalau ia cukup berhasil.

 

Julian berjalan mendekati Nara, kakinya menendang pelan tubuh sang kekasih hingga si tuan yang semula terkulai menyamping pun kini tergeletak rebahan di atas lantai. Julian sedikit merasa kasihan, namun ia juga merasa sangat senang melihat kekasihnya susah payah menahan matanya agar tak tertutup.

 

"Good girl. Besok kita jalan-jalan ya. Nih perutnya udah kayak orang hamil, padahal isinya peju kamu sama peju empat orang yang make memek kamu. Seneng, kan?"

 

Nara mengangguk lemah. 

 

I'm so happy. I'm a good girl. I'm a good girl!! I look like a pregnant girl! I'm happy!!

 

Nara tersenyum sebelum akhirnya yang ia lihat hanya gelap. Nara pingsan.

 

💦

Series this work belongs to: