Actions

Work Header

In Absentia

Summary:

Peter tidak berfikir akan menemukan pria di bak sampah, tapi itulah yang ia temukan ketika mencari komponen komputer. Tak hanya itu, pria yang setengah mati itu bersikeras tidak ingin dibawa ke rumah sakit. Peter melakukan apa yang selayaknya dilakukan oleh warga yang bertanggung jawab: meminta bantuan Tony Stark.
Ia berharap pria tersebut menghargai usahanya.

Notes:

  • A translation of [Restricted Work] by (Log in to access.)

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

"Tuan Stark, aku tau seharusnya hanya menelepon dalam keadaan darurat, dan menurutku ini bisa jadi darurat, tapi aku tak yakin, karena ini tidak ada hubungannya dengan-" dia menurunkan nadanya "-itu, dan"

"Jangan basa basi, nak," Stark menyela.

"Ok, jadi aku menemukan seorang pria di bak sampah dan dia terluka parah dan aku mencoba untuk menelepon ambulans, tetapi dia memukulku, berbisik jangan panggil ambulan, lalu pingsan."

"Jadi dia sekarang pingsan. Telepon saja ambulans"

Peter ragu. "Tapi dia bilang jangan"

"Dan sekarang dia tak sadar yang artinya dia tidak bisa mencegahmu."

"Tapi dia memukulku," Peter menyanggah

Ada keheningan sesaat ketika Stark menyadari yang terjadi. Jika seseorang berhasil untuk memukul Peter, bahkan ketika ia sedang lengah, maka ada sesuatu yang sedang terjadi.

"Aku akan hadir secepatnya," Stark akhirnya berbicara. "Dan Peter, sudah aku bilang kamu bisa memanggilku Tony."

"Oke, oke, maaf," Peter menjawab, tetapi Stark- Tony- sudah mengakhiri panggilan.

 

Peter mendekati bak sampah, memperhatikan nafas pria tersebut. Ada, dan secara mengejutkan terasa stabil mengingat Peter pikir terdapat rusuk yang patah (setidaknya tiga). Mukanya penuh darah dan setidaknya jambang yang sudah seminggu tak dicukur. Sulit untuk menilai apakah dia bau sebelum masuk ke tempat sampah, tetapi Peter cukup yakin bahwa orang ini adalah seorang tunawisma.

 

Hanya tiga menit berselang setelah Tony menutup telepon ketika Iron Man datang

Ia mendarat di samping Peter dengan perlahan, dan Peter tahu ia sedang memindai pria bak sampah karena ia bersiul panjang dengan penutup muka terbuka.

"Mengejutkan Ia bisa memukulmu," Tony berkata, dan Peter cemberut, tapi Tony tetap melanjutkan, "Karena ia punya empat rusuk yang patah, paru-paru hampir kolaps, belum lagi retak tengkorak, retak di tangan, pendarahan internal dan pecah lutut. Pria ini seharusnya tidak sadarkan diri, jangankan memukulmu."

Peter menganga, terkejut bahwa pria ini masih tetap hidup.

"Aku akan memanggil pasukan," Tony berkata dan dalam sekejap, tiga baju Iron Man datang. Satu di antaranya membuka dan menyelingkupi pria yang sedang tak sadarkan diri itu.

Tony mengangguk. "Baju medis. Misalkan ada cedera tulang belakang, ini akan menjaganya agar tidak bergerak banyak. Juga dapat memacu jantung jika detak menjadi abnormal, memberikan oksigen, dan menyuntikkan beberapa obat seperti epinephrine. Masih dalam pengembangan." Ia mengerutkan kening dan Peter tau ada cerita di balik ini, tapi sekarang bukan saatnya.

Dua baju Iron Man lain mengangkat baju medis kemudian terbang perlahan, melaju ke arah Tower. Tony melayang di udara. "Kamu melakukan hal bagus, nak," suaranya tak memberikan ekspresi apa pun karena tertutupi oleh modulasi baju. Peter berharap ada nada kebanggaan dari suara Tony. "Datanglah setelah sekolah, ada beberapa hal yang ingin aku tunjukkan padamu."

Peter mencoba untuk protes, tetapi Tony sudah pergi, mengejar baju-baju lain dengan singkat dan mengitari mereka yang berjalan lebih lambat, membawa muatan dengan penuh kehati-hatian.

Dia menguman, menatap kakinya yang sedang menapak lorong sempit. "Aku bahkan tak menemukan komputer atau apa pun," Ia masih terus bergumam, sambil berjalan pulang.