Work Text:
Ucup terbangun ketika merasakan telapak tangan kanannya menyentuh sesuatu. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha melihat lebih baik benda apa yang sudah mengganggu tidurnya.
Tangan. Sepasang tangan sedang menggenggam tangan kanannya. Lebih spesifiknya, itu tangan Piko, yang pemiliknya sedang memandang Ucup dengan sepasang mata sayu. Belum–atau tidak tertidur, mungkin. Dengan Piko, dua-duanya punya kemungkinan yang sama.
“Pik?” gumam Ucup, kini mengangkat tangan yang sedang tidak digenggam Piko untuk menyentuh pipi kekasihnya. Seperti kedua tangannya yang sedang memegang Ucup dengan erat, wajah Piko juga terasa dingin. Ucup mengernyitkan dahi, berniat untuk mendekat dan memeluk Piko sebagai upaya menghangatkan tubuhnya, tetapi Piko mengeratkan genggamannya, otomatis mencegah Ucup untuk berkutik.
“Lanjutin ngomongnya, dong, Cup,” pinta Piko, dengan suara serak, seolah menahan tangis.
Kekhawatiran Ucup bertambah. Tangan kirinya yang tadi sekadar menempel di pipi Piko, kini bergerak mengelusnya secara perlahan, menawarkan distraksi bila memang diperlukan, sesuatu untuk membuatnya fokus pada Ucup dan bukan pada pikiran apapun yang sedang membuat hatinya kalut.
“Kamu mau aku ngomongin apa?”
Mata Piko terpejam sesaat, tetapi segera terbuka kembali setelah sepersekian detik, seolah kegelapan yang bersembunyi di balik kedua kelopak matanya menyimpan mimpi-mimpi buruk Piko, bersiap untuk menyergap kesadarannya segera setelah matanya tertutup.
“Terserah–” bisik Piko, beberapa saat kemudian ditambahkannya, “--apa pun, aku mau denger suara kamu.”
Sembari memutar otak mencari sesuatu untuk diceritakan, Ucup bersusah payah mencondongkan kepalanya, kemudian melayangkan satu ciuman ringan pada kening Piko yang sedari tadi menghadapnya. Piko bergumam rendah, menerima kecupan penuh afeksi dari Ucup dalam diam.
“Tadi pagi aku sama Gofar ketemuan sama Fella di cafe,” mulai Ucup, kini tangan kirinya berganti membelai rambut panjang Piko. Piko bergumam lagi, memberi tanda bahwa ia mendengarkan Ucup dengan saksama. “Fella mau minta tolong sesuatu soal pekerjaannya,” lanjutnya, mengingat-ingat detail pertemuan mereka pagi tadi.
“Kebetulan waktu aku sama Gofar masuk ke tempat ketemuan, ada cewek mau keluar. Cantiiiik banget orangnya. Eh, tapi gak secantik kamu sih,” Piko tersenyum kecil. Dalam hati, Ucup bersorak karena sudah berhasil menarik sebuah senyuman dari sang kekasih.
“Gofar gak sengaja nyenggol pundak si cewek ini, nih. Terus, terus, waktu dia mau minta maaf, dia malah melongo liat wajah si cewek. Tuh cewek sampe ilfeel deh kayanya ngeliat Gofar mangap-mangap kaya ikan.”
Ucup tersenyum ketika mendapati Piko tertawa kecil. Menit-menit selanjutnya mereka habiskan dengan diisi cerita-cerita Ucup mengenai hal-hal menggelikan yang dilakukan teman-teman mereka. Kadang diselingi cerita mengenai pelanggan Ucup dengan demand konyol mereka yang disampaikan dengan gaya meng- ghibah , otomatis membuat Piko tersenyum geli melihat tingkahnya. Beberapa kali Ucup tak tahan melihat ekspresi Piko yang menggemaskan dan berusaha mencuri ciuman darinya, yang tentunya disambut dengan pukulan playful dari Piko.
Selama semua hal itu berlangsung, tidak sekalipun Piko melepaskan genggaman tangannya dari tangan Ucup.
“Udah cukup ceritanya?” Ucup bertanya pada Piko yang kini menyembunyikan wajahnya di dada Ucup. Piko menarik kepalanya sedikit, menengadahkan wajahnya untuk melihat wajah Ucup.
“Kamu udah ngantuk?” Tanyanya, tetapi segera disanggah sendiri. “Eh, nanya apa, sih, aku. Pasti kamu ngantuk, ya? Maaf udah ganggu kamu tidur,” gumam Piko dengan ekspresi menyesal. Ucup dengan sigap menangkup wajahnya dengan tangan kirinya.
“Jangan minta maaf, Pik. Aku malah bersyukur bisa bantuin kamu,” ucapnya dengan tegas. “Kalo kamu mau cerita sekarang, aku siap dengerin. Kalo nggak, let’s cuddle ‘til we fall asleep .”
Walaupun terdengar corny , apa yang Ucup katakan barusan adalah tulus. Dengan sifat Piko yang sejatinya pemalu dan tertutup, Ucup menyangka kekasihnya itu akan memutar bola matanya atau melayangkan komentar mengenai betapa berlebihannya Ucup.
Yang tidak ucup sangka adalah Piko yang tiba-tiba menangis, air mata mengalir deras dari kedua matanya yang terbuka lebar. Hilang sudah sisa-sisa rasa kantuk yang tadinya mulai membayangi Ucup. Hatinya kalut melihat ekspresi Piko yang penuh dengan kesedihan.
“Hei, hei, Piko, kenapa, sayang?”
Melepaskan sejenak genggaman tangan Piko–yang kini mulai gemetar–Ucup gantian menggenggam tangan Piko, salah satu tangannya ia tarik dan ia cium dengan lembut, sementara tangan Ucup satunya mengusap air mata Piko yang masih mengalir tanpa henti.
“...takut…” adalah apa yang Ucup tangkap di sela-sela sesenggukan Piko.
“Takut apa, sayang? Aku di sini, kok,” jawab Ucup dengan sabar.
Piko menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Tak lama, air matanya mereda, menyisakan mata yang memerah dan wajah penuh bekas air mata.
“Aku gak mau tidur, Cup.” Berhenti sesaat.
“Aku takut, waktu bangun nanti, semua ini cuma mimpi,” matanya kembali berkaca-kaca. “Aku takut waktu aku bangun nanti aku kembali di hari aku kehilangan semuanya–” Piko memutus perkataannya dengan tercekat.
“Makanya, tolong biarin aku pegang tangan kamu, ya?” Satu kalimat itu diucapkan Piko dengan senyuman pahit, beberapa tetes air mata lolos dan mengalir jatuh ke pipinya sekali lagi.
Ucup kehilangan kata-kata. Ditariknya tubuh Piko mendekat dan dipeluknya erat-erat sang kekasih. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga melayangkan kecupan-kecupan ringan di seluruh wajah Piko, menghapus jejak air mata yang masih tersisa.
“Aku gak bisa janji untuk selalu ada di sisi kamu, Pik.” Karena itu artinya aku bohong sama kamu . “Tapi aku bisa janji, selama aku masih ada, kamu boleh pegang tangan aku kapanpun kamu mau.”
“Karena sama seperti kamu yang jadi anchor aku, aku juga bakal jadi anchor kamu.”
Piko mengangguk terharu.
Menit-menit selanjutnya mereka habiskan dengan saling merengkuh kehangatan satu sama lain.
