Work Text:
Madara digiring menyusuri hutan, walaupun matanya tertutup dan tangannya diikat oleh benang cakra ia bisa dengan mudah mengetahui kemana mereka akan membawanya. Mereka tidak membawanya ke penjara tapi ke tempat yang lebih mengerikan dari penjara.
Gua yang berada di kaki gunung Konoha. Tempat penjahat paling mengerikan di segel disana. Iya, disegel bukan ditahan.
Bagaimana Madara bisa tahu? Karena pertama, dia lah yang membangun penjara Konoha, dia puluhan kali kesana untuk menyiksa musuh-musuh yang menyerang Konoha dan yang kedua, dia tahu arah ke Gua itu karena hanya ada satu orang yang disegel disana dan Madara salah satu orang yang menyegelnya.
Rasanya Madara ingin tertawa, ironis sekali, sekarang dia juga akan berada disana. Orang itu pasti mengejeknya. Pasti. Madara mengenalnya dengan baik.
Kalian bertanya apa kesalahan Madara hingga ia akan disegel di Gua tersebut?
Banyak.
Menjelaskan semuanya akan memakan waktu jadi biar aku rangkum saja.
Pertama, Madara menentang perintah Hashirama yang merupakan Hokage –yang sebenarnya bukan hal baru lagi tapi perdebatan terakhir mereka membawa masalah serius pada Konoha.
Kedua, Ia meninggalkan Klan dan Desanya setahun yang lalu sehingga membuatnya menjadi missing-nin.
Ketiga dan merupakan hal paling buruk, ia berencana menyerang desa. Desa yang ia bangun dengan Hashirama.
Hal ketiga tentunya yang paling tidak termaafkan –walaupun hanya segelintir orang yang tahu karena sebelum Madara menjalankan rencananya, Hashirama terlebih dahulu mencegahnya dan berakhir dengan pertarungan hidup dan mati keduanya.
Iya, hidup dan mati.
Madara masih hidup, berarti Hashirama kah yang mati?
Tidak. Senju Hashirama tidak mendapat julukan Dewa Shinobi jika ia tidak bisa mengalahkan musuh sekaligus sahabat baiknya berkali-kali.
Madara lah yang harusnya mati, itu akan mengakhiri semuanya tapi tidak, Hashirama tidak akan membiarkan Madara mati. Tidak akan pernah. Madara harus tetap hidup bersamanya. Bersamanya bukan dalam artian dekat dengannya karena bagaimanapun sang Uchiha melakukan kejahatan kelas kakap, jadi Hashirama menyetujui saran Tobirama untuk menyegel Madara.
Madara menahan diri untuk tidak menggigit bibir bawahnya saat ia masuk ke dalam Gua. Ia bisa mendengar suara air terjun yang mengalir. Sudah dua tahun sejak ia menyegel orang itu disini, ia bertanya-tanya apakah tempat ini masih sama seperti dulu atau sudah berubah. Madara akan mengetahuinya sebentar lagi.
"Kita lakukan disini." Suara Tobirama memberi perintah.
Selain para Anbu, ada Tobirama, Hashirama, Ashura serta orang yang paling Madara cintai di dunia, Izuna. Mereka berempat ditambah satu Kapten Anbu lah yang akan menyegel Madara.
Madara tidak mempedulikan mereka –bahkan Hashirama sekalipun tapi dia merasa malu kepada Izuna. Izuna selalu memandang tinggi dirinya tapi lihatlah dia sekarang, menjadi orang paling rendah. Ia mengecewakan Izuna.
Sosok yang ditakuti banyak Shinobi itu merasakan tangan beberapa Anbu –kelompok ninja berbakat yang mengurus masalah gelap desa yang diciptakan oleh Tobirama mulai membuka pakaiannya.
"Biar aku yang melakukannya." Ujar Izuna. Madara tidak merasakan nada apapun dalam suara adiknya dan itu membuatnya sedih. Mengapa adiknya tidak marah padanya? Mengapa Izuna diam saja dan tidak mengatakan apapun padanya?
Izuna harusnya marah padanya. Mengatakan dia adalah kakak paling buruk yang pernah ada tapi sejak ia terbaring ditanah beberapa jam yang lalu, adiknya hanya menatapnya dalam diam.
Madara bisa merasakan beberapa Anbu menahan nafas saat pakaian Madara terlepas dan hanya menyisahkan ia dengan pakaian dalamnya. Kulit tubuh pucatnya jauh dari kata mulus, apalagi selama pertarungan terakhir dengan Hashirama yang berlangsung selama 24 jam membuat tubuhnya dipenuhi luka tapi itu bukan itu yang membuat para Anbu menahan nafas, mereka tidak menyangka mantan pemimpin Klan Uchiha memiliki bentuk tubuh seindah ini, Madara selalu menutupi tubuhnya dengan pakaian khas Uchihanya.
Ashura mengangkat alisnya saat ia melihat tanda segel dalam perut ramping Madara, segel itu tampak familiar namun Ashura tidak mengatakan apa-apa, lagipula Madara akan segera disegel. Ancaman bahaya untuk desa akan segera hilang.
"Segel apa yang ada diperutnya?"
"Segel kontrasepsi." Izuna berkata dengan cepat.
"Tapi kakakmu masih perawan."
"Hanya aku yang boleh tahu Kakakku masih perawan atau tidak."
"Tolong jangan membicarakan keperawananku didepanku."
Madara didudukan ditanah –masih dalam posisi mata tertutup dan tangan terlilit benang cakra, ia lalu merasakan lima tangan mulai membuat segel dengan darah mereka pada tubuh Madara. Madara bisa mengidentifikasi masing-masing pemilik tangan tersebut.
Hashirama, Ashura, Izuna dan Kapten Anbu duduk di empat arah mata angin setelah segel telah selesai dibuat, segel itu sangat panjang dan besar. Lalu Tobirama berjalan masuk kedalam lingkaran segel –diantara mereka hanya dia, Ashura dan Madara juga orang itu yang sangat pandai mengenai segel. Ashura sedang tidak berada dalam kondisi terbaiknya sejak dua tahun yang lalu jadi Tobirama yang melakukannya.
"Anija."
Hashirama yang sejak tadi diam tahu apa maksud Tobirama. Tubuhnya juga sama penuh lukanya dengan Madara.
"Uchiha Madara." Sang Hokage mencoba membuat suaranya agar tidak bergetar mengucap nama sang sahabat. "Kau akan dihukum-"
"Segera segel aku dan enyah." Madara memotong ucapan Hashirama. Walaupun statusnya adalah tahanan, Madara masihlah shinobi paling mematikan yang pernah ada.
Hashirama mengepalkan tangannya. Ia sungguh kecewa akan sosok rupawan didepannya yang telah jatuh terlalu jauh sehingga ia tidak bisa menjangkaunya untuk menyelamatkan. Lagipula Madara sendiri sepertinya tidak ingin diselamatkan.
"Segel dia, Tobirama." Hashirama berkata sambil menundukkan kepalanya.
Tobirama mengangguk lalu membuat gerakan tangan cukup rumit –Madara yang mengajarkannya setelah mereka menyegel orang itu di Gua ini. Dengan gerakan yang cukup keras, Tobirama menekan tangan kanannya dipunggung Madara.
"Segel!"
Madara tidak berteriak kesakitan saat tanda-tanda segel itu bergerak sendiri kearah tubuhnya, segel itu melingkar di kedua pergelangan kakinya, kedua pergelangan tangannya, lehernya dan terakhir dipunggung yang Tobirama tekan. Madara memuntahkan darah yang begitu kental, nafasnya terengah-engah dan iris hitamnya melebar.
Ashura adalah orang yang pertamakali berdiri lalu berjalan keluar Gua namun sebelumnya dia menatap kearah lain –keseberang aliran air terjun, kearah orang yang lebih dulu ada disana, yang sejak tadi diam saja dan menatap proses penyegelan Madara dengan datar.
Kapten Anbu –dan pengikutnya segera keluar untuk kembali ke pos masing-masing.
Hanya sisa lima orang yang ada didalam Gua besar itu –menghitung orang itu.
"Bolehkah aku membuat permintaan?" Suara Madara begitu serak.
Hashirama, Tobirama dan Izuna tidak mengatakan apapun.
"Kumohon."
Uchiha Madara tidak pernah memohon dengan suara semenyedihkan itu.
"Katakan."
"Aku ingin berbicara dengan Izuna untuk terakhir kalinya."
Poker face yang sejak tadi Izuna pasang runtuh seketika. Ia segera berlari kearah kakaknya dan memeluknya. "Aniki, Aniki! Kau tidak perlu memohon seperti itu. Aku akan tetap berbicara padamu!"
"Tidak Izuna, ini akan menjadi yang terakhir. Aku pernah mengatakan padamu kan, apa yang terjadi pada orang yang disegel disini?"
"Anik-"
"Izuna, aku tidak memiliki banyak waktu dan begitu juga kau." Tangan Madara mengelus wajah mungil Izuna, matanya masih ditutup tapi ia menyadari jika adiknya menangis. "Jaga klan dan desa dengan nyawamu."
"Aniki-"
"Jangan jatuh ke lubang yang sama seperti Aniki dan sepupu kita." Madara mencium kening Izuna sehingga ada bercak darah pada kening sang adik. "Aniki bangga padamu, Otouto. Sangat."
Tobirama tahu bahwa waktu mereka sudah habis. Jadi dengan perlahan ia menarik Izuna dari pelukan Madara. Ia tidak melakukannya dengan kasar tapi lembut karena ia tahu Izuna tidak akan pernah lagi menemui Madara.
Seluruh kekuatan Madara sudah disegel dengan sempurna tapi ia tahu Tobirama ada didekatnya. "Tobirama."
"Yah?"
"Tolong jaga adikku."
"Tanpa kau minta pun, aku akan melakukannya, Madara-sama."
Madara tersenyum, senyum yang sama yang terakhir kali Izuna lihat setahun yang lalu sebelum kakaknya meninggalkan desa. "Maaf, Terimakasih dan selamat tinggal."
Tobirama dan Izuna sudah meninggalkan Gua. Meninggalkan Hashirama, Madara dan satu orang yang sampai saat ini tidak berbicara sama sekali.
"Madara."
"Sudah puaskah kau membuat hidupku menderita?"
"Jangan berkata seolah aku yang penjahat disini. Jika kau tidak berencana menyerang Konoha, aku tidak akan melakukan hal ini." Sangat menyakitkan melawan sosok rupawan yang selalu ada dalam pikiran hashirama sejak ia berusia 12 tahun.
"Suatu hari kau akan tahu bahwa apa yang aku lakukan adalah hal benar."
"Mada-"
"Enyahlah. Ada desa yang harus kau prioritaskan." Jaga Konoha, Hashirama. Jaga impian kita.
Kau telah menjadi prioritasku sejak pertamakali kita bertemu. Ingin rasanya Hashirama berteriak demikian tapi tidak bisa. Jadi sang Dewa Shinobi pergi dengan cakra yang meletup-letup bahkan Gua ini bergetar selama sekian detik karena cakra Hashirama.
Kini hanya keheningan yang menyelimuti Gua tersebut.
Benang cakra yang melilit tangan Madara sudah hilang sejak ia disegel, jadi ia melepaskan penutup matanya.
"Kau sangat diam, Indra."
"Halo, Madara." Sapa Uchiha Indra, sepupu Madara dan Izuna serta orang pertama yang disegel di gua ini oleh Madara dan lainnya dua tahun yang lalu, orang yang ditatap oleh Ashura.
Madara melepas penutup matanya dan mata sehitam langit malamnya menatap keseberang aliran air terjun yang memisahkan mereka. Dua sosok berparas rupawan yang memiliki takdir yang sama. "Tidak ingin tertawa?"
Indra tidak mengeluarkan ekspresi apapun. "Madara, sejak pertamakali aku melihatmu, Aku tahu kau akan jatuh ke lubang yang sama sepertiku."
Madara berdiri dari duduknya dan mengernyit kesakitan, ia mau mengutuk Hashirama karena membuatnya terluka namun ia akan lebih marah lagi pada pria itu jika Hashirama menyerangnya dengan setengah hati.
"Menyedihkan."
"Aku?" Tanya Madara.
"Kita berdua." Jawab Indra.
Uchiha Madara adalah Kepala Klan Uchiha dan Uchiha Indra –sepupunya adalah murid terpintar yang dimiliki oleh Rikudou Sennin. Dua Uchiha terhebat yang dimiliki dunia shinobi berakhir jatuh ke lubang yang sama. Lubang kegelapan dan didalam kegelapan itu terdapat misteri yang hanya masing-masing dari mereka yang tahu.
*****
Dua tahun yang lalu Indra disegel didalam gua ini dikarenakan ia menyerang Ashura dan Rikudou Sennin. Serangannya membuat Rikudou Sennin meninggal. Bagaimana bisa sang legenda Shinobi meninggal? Karena Indra menyerang mereka berdua dengan 7 ekor biju.
Semuanya bermula lima puluh tahun yang lalu –jauh sebelum Konohagakure dibangun. Di era peperangan yang tiada henti, sang Rikudou Sennin –legenda shinobi dan orang pertama yang memiliki cakra mengambil murid. Senju Ashura dan Uchiha Indra adalah dua shinobi yang beruntung dikarenakan mereka berdua dipilih secara pribadi oleh Rikudou Sennin. Walaupun kedua Klan mereka bermusuhan namun tekad untuk membanggakan nama Klan masing-masing membuat keduanya mengesampingkan permusuhan mereka dan belajar secara tekun dibawah bimbingan Rikudou Sennin di dimensi lain.
Empat puluh lima tahun telah berlalu di dunia shinobi namun di dimensi lain tempat Ashura dan Indra belajar hanya terasa seperti sepuluh tahun. Ketika Rikudou Sennin mengatakan bahwa pembelajaran mereka telah selesai dan keduanya kembali ke dunia mereka yang sebenarnya. Mereka sudah terlambat. Kedua klan mereka telah berdamai dan membuat sebuah desa bernama Konohagakure.
Ashura dan Indra kembali pada Klan masing-masing –kedatangan mereka disambut hangat oleh Klan mereka juga beberapa pihak yang masih tidak menyukai perdamaian dengan Klan musuh menghasut keduanya untuk memulai pertempuran lain namun ditolak oleh Ashura dan Indra. Sepuluh tahun di dimensi Rikudou Sennin –empat puluh lima tahun di dunia nyata mereka membuat keduanya sadar bahwa peperangan tidak akan pernah melahirkan kedamaian dan keduanya bersyukur bahwa Hashirama dan Madara mengakhiri permusuhan abadi Klan mereka.
Dua tahun yang lalu Rikudou Sennin kembali turun dan memberitahu Ashura dan Indra bahwa dia tidak memiliki umur yang panjang, dia akan memberikan kekuatannya kepada salah satu dari mereka berdua, kekuatan untuk melindungi dunia shinobi.
Baik Indra maupun Ashura tahu jika Indra lah yang akan terpilih karena diantara keduanya, Indra lebih pintar dan berbakat namun tebakan mereka salah. Rikudou Sennin memilih Ashura sebagai penerusnya dan memberikan kekuatannya pada Ashura.
Pada awalnya Indra tidak marah, dia hanya sedikit kecewa namun semua itu berubah ketika penduduk Konoha –yang dimulai oleh Klan Senju menyebarkan rumor bahwa Rikudou Sennin memilih Ashura karena Indra tidak pantas mendapatkan kekuatan Rikudou Sennin dikarenakan Klan Uchiha adalah Klan yang dipenuhi dendam dan kebencian.
Uchiha yang lain awalnya tidak menghiraukan rumor tersebut, namun Indra tahu jika beberapa dari mereka ada yang sudah terhasut, anggota Klannya yang sudah terhasut menyebutnya tidak berguna dan membuang-buang waktu puluhan tahun belajar dibawah bimbingan Rikudou Sennin jika Indra sendiri tidak membawa perubahan apapun pada Klannya.
Indra mengetahui alasan sebenarnya Rikudou Sennin memberikan kekuatannya pada Ashura. Istri Rikudou Sennin adalah nenek buyut dari Klan Senju. Istri Rikudou Sennin menghasut suaminya agar memilih Ashura sebagai penerusnya karena dia tidak suka Uchiha lebih kuat dari Senju.
Hal-hal tersebut sudah cukup menjadi alasan Indra untuk memburu para biju untuk menyerang Ashura dan Rikudou Sennin. Dia ingin membuktikan pada pria tua itu bahwa dia lebih kuat dari Ashura, bahwa dialah yang lebih pantas menjadi penerusnya dan keputusan Rikudou Sennin salah.
Serangan tujuh biju itu merenggut nyawa Rikudou Sennin yang sudah dalam kondisi lemah, juga karena dia telah memberikan kekuatannya pada Ashura.
Ashura berhasil mengalahkan Indra dengan bantuan kekuatan terakhir Rikudou Sennin, Ashura tidak langsung membawa Indra menghadap Hashirama, dia mencoba berbicara dengan Indra, bahkan sang Senju mengatakan bahwa dia mencintai Indra sejak dulu namun Indra hanya tertawa –tawa merendahkan dan mengatakan bahwa dia tidak akan terbujuk rayuan murahan Ashura.
Patah hati yang teramat besar membuat Ashura setuju ide Hashirama dan Madara untuk menyegel Indra di Gua yang berada di kaki gunung Konoha. Kenapa disegel dan bukan dipenjara? Karena menurut Madara, tidak ada penjara di dunia shinobi yang mampu menahan Indra. Jadi mereka menyegelnya.
Itulah lubang kegelapan tempat Indra jatuh.
Lalu bagaimana dengan Madara sendiri?
Satu tahun setelah penyegelan Indra, Hashirama dan Madara bertengkar dikarenakan Hashirama mau memberikan biju pada Desa lain. Biju itu adalah tujuh biju yang ditangkap Indra dan disegel oleh Hashirama, Madara, Tobirama serta beberapa shinobi dari klan Uzumaki. Memang setelah pertempurannya dengan Indra, Ashura tidak mau berurusan dengan para biju dan menyerahkannya pada Hashirama yang merupakan seorang Hokage.
Madara memiliki kepintaran dibawah Indra –yang merupakan murid terpintar Rikudou Sennin yang berarti Indra adalah shinobi terpintar di dunia, dia tahu bahwa desa lain iri pada Konoha dikarenakan Konoha berkembang pesat dan ditambah para shinobi terkuat –Hashirama, Madara, Ashura, Indra, Tobirama, Izuna dan masih banyak lainnya berada di Konoha. Madara mendengar desas desus dari shinobi luar tanah api ketika dia tengah berburu di hutan dengan elangnya bahwa Desa lain saling bekerjasama untuk menyerang Konoha.
Madara yang mengetahui hal itu menyerang para kage terlebih dahulu dan berakhir dengan Hashirama yang marah besar, Madara tidak memiliki waktu untuk menjelaskan karena Hashirama sudah mendorongnya dengan kasar didepan para kage desa lain. Hal itu membuat Madara kecewa dan ia pergi dari Klan dan Desa.
Serangan desa lain pada Konoha terundur selama satu tahun dikarenakan desa lain akhirnya mendapatkan biju dari Hashirama, mereka mencoba menggunakan cakra biju untuk dijadikan senjata dan barulah senjata itu berhasil diselesaikan sekitar tiga bulan yang lalu. Mereka pun mencoba menyerang Konoha namun Madara –yang memiliki Kyuubi menghancurkan senjata tersebut tanpa sisa.
Madara memiliki Kyuubi sejak ia masih bayi, Ayahnya mendapatkannya dari Kakeknya. Saat Madara berumur 15 tahun, dia ingin melepaskan Kyuubi dari dirinya namun anehnya Kyuubi tidak mau, sang biju ekor sembilan mengatakan jika dia sudah terbiasa dengan Klan Uchiha dan tidak mau keluar ke dunia yang dipenuhi kebusukan.
Madara tidak pernah memakai kekuatan Kyuubi seumur hidupnya –pun Ayahnya dan Kakeknya namun kekuatan para biju membuatnya meminta tolong pada Kyuubi –yang memiliki nama Kurama dikarenakan Madara tidak sekuat Ashura, Indra dan Hashirama. Kurama mengetahui dari ikatannya dengan para biju lain, bahwa desa lain akan membuat senjata dari cakra mereka membuatnya secara sukarela menolong Madara. Madara juga berjanji bahwa dia akan membebaskan para biju dan tidak akan mengontrol mereka seperti yang Indra lakukan.
Anehnya setelah Madara dan Kurama menghancurkan senjata tersebut, para biju entah bagaimana menghilang tanpa bekas, Madara –dengan bantuan Kurama mencari keberbagai tempat namun para biju seperti menghilang ditelan bumi.
Kurama yang mengetahui ada hal yang aneh akhirnya memberitahu Madara tentang asal usul dirinya dan menyebut makhluk bernama Zetsu yang ingin membangkitkan Otsutsuki Kaguya, sang Dewi Kelinci. Ibu dari Rikudou Sennin.
Walaupun Madara telah meninggalkan Konoha namun desa itu adalah mimpinya dengan Hashirama, tempat berlindung Klannya dan tempat anak-anak tidak lagi saling membunuh ataupun terbunuh.
Setelah mendengar seluruh kisah Kaguya dari Kurama, Madara berlari menuju Konoha untuk memperingatkan Hashirama namun selama perjalannnya banyak shinobi dari desa lain yang mengejarnya. Madara tidak berencana membunuh mereka, dia hanya menggunakan genjutsu pada mereka dan meninggalkan mereka namun rumor menyebar terlalu ganas. Selama perjalanannya para shinobi mengatakan bahwa Madara sudah menjadi gila dan membunuh ribuan orang hanya untuk kesenangan semata. Rumor itu sampai ke Konoha sebelum Madara.
Selama perjalanan Madara tentu mendengar rumornya sendiri dan dia tahu jikapun dia kembali ke Konoha –dan mengatakan ingin bertemu Hashirama, ribuan Shinobi Konoha pasti sudah bersiap untuk menghalaunya.
Madara tahu itu.
Maka dari itu di minggu-minggu terakhir, dia hampir menyerah dan mengabaikan Konoha untuk melawan Zetsu seorang diri, biarlah nyawanya menjadi taruhannya.
Kurama yang mengetahui dilema Madara akhirnya memberikan ide, Konoha harus hancur agar desa lain dan Zetsu tidak menyerang. Madara jelas menolak ide Kurama, Konoha adalah desa yang ia bangun dengan Hashirama. Madara tidak akan pernah menghancurkan Konoha walaupun Konoha telah menghancurkannya.
"Bagaimana dengan sharinganmu?" Tanya Kurama tiba-tiba setelah Madara menolak idenya mentah-mentah.
"Ada apa dengan sharinganku, Kurama?"
"Kau sudah menggunakan sharingan tanpa henti beberapa bulan ini, aku terkejut kau tidak buta."
"Kurama, aku melawan Hashirama bertahun-tahun mengggunakan sharinganku. Aku tidak akan buta dalam waktu dekat."
"Itu dikarenakan bocah bodoh itu tidak melawanmu dengan kekuatan penuh, makanya sharinganmu baik-baik saja walaupun bertahun-tahun melawannya. Dia selalu menahan diri."
"Apa?" Madara sangat membenci ketika Hashirama menahan diri ketika menyerangnya hanya karena Hashirama lebih kuat darinya ketika mereka masih kecil dulu. "Bagaimana kau tahu?"
"Aku hidup dalam dirimu sejak kau masih bayi."
Jika Madara berkesempatan bertemu dengan Hashirama lagi, dia bersumpah akan menghajar habis-habisan pria itu. Padahal Madara selalu mengatakan pada Hashirama bahwa Hashirama tidak boleh memperlakukannya berbeda hanya karena mereka pernah bersahabat saat masih kecil.
Madara memejamkan matanya dan memijat pelipisnya.
"Dan aku tahu jika matamu sudah buram."
"Hanya buram, tidak buta dan jikapun aku buta, aku masih lebih kuat dari kebanyakan Shinobi."
"Berbicara mengenai kebutaan. Bukankah ada jutsu dari Klanmu yang mengakibatkan kebutaan?"
Pertanyaan Kurama membuat Madara membuka matanya. "Izanagi."
Izanagi merupakan genjutsu dimana pengguna menerapkan ilusi pada realitas itu sendiri. Jutsu ini memberikan pengguna kendali atas apa yang nyata dan tidak selama Izanagi aktif. Meskipun jutsu ini terkesan memiliki kemampuan yang hebat, jutsu ini tetaplah memiliki batasan. Selain itu, bayaran dari jutsu ini sangat mahal, yaitu mata Sharingan yang digunakan untuk melakukan jutsu Izanagi akan buta selamanya. Oleh karena itu, jutsu ini hanya bisa dipakai sekali untuk tiap Sharingan dan Izanagi diklasifikasikan sebagai Jutsu Terlarang.
Madara paham akan hint dari Kurama yang menyebutkan Izanagi. "Kau menyarankanku untuk menggunakan Izanagi?"
"Kau tidak takut kehilangan sharinganmu kan, Madara? Ini demi tempat kecil yang kau sebut Konoha. Konoha yang sudah menghancurkanmu."
Sharingan, kekuatan utama Klannya. Jati dirinya. Apakah dia sanggup kehilangan sharingan demi Konoha? Konoha yang awalnya ia sebut sebagai harapan. Harapan yang menghancurkannya. Harapan yang tidak mempercayainya.
"Tidak. Aku tidak pernah takut kehilangan sharingan." Madara berujar dengan penuh kepastian. "Tapi Jutsu ini tidak bisa dipakai untuk mengendalikan ilusi dan realita untuk skala yang lebih besar, Kurama. Aku tidak bisa menggunakan Izanagi untuk membuat Konoha seakan-akan terlihat hancur. Walaupun aku pemilik sharingan terkuat setelah Indra namun-"
"Aku bisa membantumu."
"Bagaimana caranya?"
"Cakraku. Aku memiliki cakra yang sangat besar. Dengan bantuan cakraku, kau bisa membuat Izanagi dan membuat ilusi seolah Konoha hancur. Desa lain dan Zetsu yang melihat Konoha hancur akan pergi."
Rencana telah dibuat.
Beberapa hari kemudian, Madara berlari kearah desa yang ia bangun dengan Hashirama, ia siap menghancurkan Konoha namun sebelum dia benar-benar sampai seorang Shinobi Konoha yang baru pulang dari misi mendengar desas desus yang sedikit melenceng, dia pun melaporkan pada Hashirama bahwa Madara tengah menuju Konoha dan berniat menghancurkan Konoha dalam arti secara harfiah.
Selanjutnya adalah sejarah yang diketahui oleh seluruh shinobi, Hashirama melawan Madara yang menurutnya ingin menghancurkan Konoha. Madara yang melihat kehadiran Hashirama ingin memberitahu sahabatnya tentang semuanya namun melihat tatapan Hashirama dan cara Hashirama memegang pedang besarnya, Madara tahu, Hashirama tidak akan mau mendengar penjelasannya sama sekali.
Mantan pemimpin Klan Uchiha sekaligus salah satu pendiri Konoha itu merasa dikhianti, selama masa perang, Hashirama tidak pernah menyerah padanya namun mengapa sekarang, di masa yang damai ini sahabatnya menyerah padanya. Pada dirinya yang hanya ingin kedamaian untuk Konoha, untuk seluruh shinobi.
Maka dari itu Madara juga menyerah, ia menyerah untuk mengatakan sebenarnya pada Hashirama, menyerah akan Konoha, menyerah akan hidupnya. Biarlah orang menganggapnya Iblis, biarlah orang membencinya, pada akhirnya mereka yang akan menyesal dan Madara tidak peduli.
*****
Dua bulan telah berlalu sejak penyegalan Madara, Gua tempat dua shinobi Uchiha terhebat yang disegel kini telah berubah. Gua itu sangat besar dan memiliki air terjun kecil yang mengalir menjadi sungai pemisah tempat tinggal Indra dan Madara, Indra berada di sisi kiri dan Madara berada di sisi kanan, masing-masing dari mereka memiliki ranjang sendiri, ranjang Indra diberikan oleh Madara dulu dan ranjang Madara dibawakan Kapten Anbu atas perintah Izuna. Selain ranjang, Kapten Anbu juga membawakan pakaian ganti, bahan-bahan makanan dan hal lainnya yang sekira diperlukan oleh dua Uchiha pembuat masalah ini.
"Jika aku tahu bahwa aku memiliki hak istimewa seperti ini, aku akan meminta baju ganti sejak awal. Aku terlihat konyol memakai daun saat kau disegel."
Madara tertawa. "Kau harusnya tahu itu, orang yang disegel disini akan selamanya disegel. Kita tidak akan pernah keluar dari sini sampai mati. Tentu kita memiliki banyak hak istimewa." Dia tengah menyisir rambut Indra. "Bahasa sederhananya adalah kita tahanan seumur hidup, tentu kita memiliki hak istimewa."
Indra ikut tertawa kecil.
"Tapi pakaian dari daun yang kau kenakan lumayan bagus, darimana kau belajar membuatnya?"
"Sebelum aku pergi ke dimensi lain, kain tidak semudah sekarang ditemukan, jadi kita masih memakai pakaian ala kadarnya."
Indra masih memiliki darah yang sama dengan Madara –garis keturunan utama Klan Uchiha, bagaimanapun dia dan Ashura telah pergi dari dunia shinobi selama hampir lima puluh tahun tapi dia tidak suka disebut Paman apalagi Kakek, dia meminta pada Madara dan Izuna untuk menganggapnya sebagai Sepupu –walaupun usia mereka sebenarnya terpaut jauh.
"Indra-nii."
"Hm?"
Madara menghentikan aksinya menyisir rambut Indra, mata hitam mantan pemimpin Klan itu menatap kelangit-langit Gua, ada lubang seukuran kepalanya, mereka berdua mengetahui siang dan malam dari lubang tersebut.
"Apa yang kau tahu tentang Zetsu?"
Tubuh Indra membeku mendengar nama tersebut. Dia membalikkan badannya dan menatap sepupunya. Sejak sebulan yang lalu, keduanya telah menceritakan versi sebenarnya alasan mengapa mereka berada disini.
"Ada sesuatu yang belum kau ceritakan padaku, Madara?" Tanya Indra dengan serius.
Madara mengangguk, tidak bermaksud membohongi sepupunya sama sekali.
"Kalau begitu katakan sekarang dan aku akan memberitahumu informasi yang aku ketahui tentang Zetsu."
Dan Madara kembali menjelaskan alasan sebenarnya pertarungan hidup dan matinya dengan Hashirama pada Indra. Indra mendengarkan semuanya dengan seksama dan setelah Madara selesai, giliran Indra yang menjelaskan tentang Zetsu.
Indra jelas tahu siapa atau apa itu Zetsu, dia pernah membaca gulungan terlarang Rikudou Sennin dan disanalah dia mengetahui tentang sang Dewi Kelinci dan makhluk hitam aneh yang memiliki obsesi untuk membangkitkannya dengan menggunakan cakra biju. Indra bahkan pernah bertemu dengan Zetsu sekali.
"Saat aku mengumpulkan para biju, aku bertemu dengan Zetsu, dia bahkan membantuku mengumpulkan para biju, andai aku menang melawan Ashura, aku yakin Zetsu akan mendatangiku untuk membantunya membangkitkan Kaguya, sebagai imbalan karena dia membantuku. Aku bersyukur aku kalah dari Ashura." Adalah kalimat terakhir Indra akan penjelasannya. "Apa yang akan kita lakukan, Madara?"
"Kita tidak bisa melakukan apapun, Indra-nii. Kita disegel."
Keterdiaman menyelimuti keduanya.
Indra menatap perutnya dan perut Madara. "Setidaknya rencana Zetsu tidak akan pernah berhasil karena Gyuki –biju ekor delapan ada padaku dan Kurama ada padamu."
"Dan jika skenario terburuk terjadi, Maka mari kita berharap Ashura dan Hashirama berhasil menjaga Konoha dan dunia shinobi ketika Zetsu menyerang."
"Aku berharap demikian."
*****
Sayangnya apa yang diharapkan Madara dan Indra tidak terlaksana.
Tobirama membanting meja kerjanya ketika salah satu pemiliki kedai sake di Konoha pergi. Dua bulan setelah penyegalan Madara, Kakaknya berubah total. Tidak ada lagi senyum ramahnya, tidak ada lagi obrolan hangatnya dengan penduduk Konoha dan tidak ada lagi kebahagiaan yang terpancar dalam diri kakaknya. Patah hati membuat kakaknya sering mabuk dan berjudi.
Sejak masa remaja, Tobirama tahu jika kakaknya suka berjudi tapi setelah dewasa –terutama setelah berdamai dengan klan Uchiha dan membangun Desa, Hashirama telah meninggalkan kebiasaan buruknya itu namun dua bulan yang lalu, setelah pulang dari menyegel Madara, kakaknya segera berjalan ke kedai sake dan berjudi dengan beberapa warga sipil.
Awalnya judi yang Hashirama lakukan masih dalam skala kecil namun dalam dua bulan, Hashirama berjudi dengan para shinobi dan menghabisi seluruh tabungannya –bahkan sang Hokage mengambil tabungan Tobirama secara diam-diam.
Pemilik kedai sake yang datang beberapa saat yang lalu bukan pertamakali terjadi namun hampir puluhan kali dan Tobirama benar-benar muak akan semuanya tingkah Kakaknya. Maka dari itu sang Senju muda segera mengambil beberapa dokumen dan membawanya keruangan kerja Hokage.
"Anija!" Tobirama adalah pria yang tenang, saking tenangnya dia terkesan dingin –jauh lebih dingin dari Madara dan Indra namun ketenangannya hilang total melihat keadaan kakaknya –bukan hanya kakaknya tapi ada juga Ashura. Dua pria yang lebih tua darinya itu terlihat jelas tengah mabuk, padahal hari masih pagi. Tobirama memiliki firasat jika keduanya sudah minum sejak semalam.
"Halo, Tobirama." Sapa Ashura seraya mengangkat botol sakenya, dia minum langsung dari botolnya, tidak menuangkannya lebih dahulu ke cangkir.
"Kalian berdua." Tobirama menggeram. "Mencuri puluhan botol sake itu dari kedai milik Kamurasan bukan?"
"Mencuri?" Hashirama mengernyit dahinya, matanya tidak fokus sama sekali ke adiknya, dia benar-benar mabuk berat, jika ada seorang shinobi yang datang dan belum pernah melihatnya, shinobi tersebut tidak akan percaya jika Hashirama adalah Dewa Shinobi. Penampilannya terlalu acak-acakan untuk mendapat julukan sehebat itu. "Ashura-nii, bukannya aku menyuruhmu untuk membayar?"
"Hashirama, bagaimana aku bisa membayarnya ketika aku tidak memiliki uang sama sekali." Jawab Ashura, penerus Rikudou Sennin itu menenggelamkan wajahnya di meja kerja Hashirama –dokumen menumpuk yang selalu ada diatasnya entah dibuang kemana oleh keduanya.
"Ashura-nii yang mencurinya, Tobirama. Bukan aku." Hashirama berujar dengan nada kekanakan.
Ashura menendang kursi Hashirama. "Tapi kau mengatakan padaku tidak apa-apa karena nanti kau yang membayarnya."
"Aku tidak pernah mengatakan itu, kau salah dengar Ashura-nii."
"Aku tidak salah dengar, aku belum mabuk saat itu. Kau yang sudah mabuk, Hashirama."
Dan keduanya bertengkar, saling menyalahkan karena tidak mau disalahkan.
Ini bukan kali pertama Tobirama melihat keduanya bertengkar secara kekanakan seperti ini dan dia tahu ini tidak akan pernah menjadi yang terakhir. Jadi sang Senju termuda diantara ketiganya segera mengeluarkan Sutonnya dan mengguyur Hashirama serta Ashura.
"Tobirama~" Keduanya merengek.
"Pulang kerumah dan mandi, setelah itu kembali kesini. Kalian berdua memiliki pekerjaan yang harus dilakukan sebagai Hokage dan Ketua Divisi Pertahanan."
Anehnya setelah mendengar jabatan mereka didesa membuat dua Senju itu terdiam. Ekspresi mereka kosong.
"Aku tidak pernah ingin menjadi Hokage."
"Aku juga tidak pernah ingin menjadi Ketua Divisi Pertahanan."
"Seharusnya Madara yang menjadi Hokage, dia akan menjadi Hokage yang lebih baik dariku."
"Pun dengan Indra, harusnya dia menjadi Ketua Divisi Pertahanan, Konoha akan berkembang pesat dibawah pertahanannya."
Tobirama ikut terdiam mendengar ucapan mereka. Dia benar-benar harus bersyukur karena bisa bersama dengan Izuna, keduanya beruntung masih saling memiliki, tidak seperti dua orang didepannya, yang berpisah dengan orang yang mereka cintai. Bukan kematian yang memisahkan mereka dengan sosok yang mereka cintai namun rasanya hampir sama.
*****
Sang Hokage memandang tampilannya didepan cermin. Pria murung dengan rambut acak-acakan membalas tatapannya dicermin. Dia adalah Senju Hashirama, sang Dewa Shinobi namun pria dicermin itu seperti pria pesakitan yang sebentar lagi akan menemui Dewa Kematian.
"Mengapa Dewa Kematian tidak segera datang dan menjemputku?"
Hashirama tersenyum getir. Ia menatap tangannya, tangan yang hampir membunuh seseorang yang paling ia cintai di jagat raya.
Uchiha Madara.
Sahabatnya, musuhnya, pemilik hatinya.
Madara adalah segalanya untuk Hashirama.
Dan Hashirama merana tanpanya.
*****
Dua bulan lagi telah berlalu, Madara –dan Indra kini tengah mendengarkan informasi terbaru tentang desa dari Kapten Anbu. Bagaimanapun Madara adalah salah satu pendiri desa dan Indra adalah salah satu shinobi terbaik di era ini, dia dilatih oleh Rikudou Sennin itu sendiri.
"Terimakasih atas beritanya, Kapten. Kau boleh pergi." Balas Madara setelah Kapten Anbu selesai. Biasanya sang Kapten akan segera pergi namun anehnya dia diam sambil menundukkan kepalanya. Melihat tingkahnya yang seperti itu membuat Madara dan Indra bingung. "Apa ada sesuatu yang penting yang belum kau sampaikan padaku, Kapten?"
"Aku tidak tahu ini penting untukmu atau tidak, Madara-sama. Tapi seluruh penduduk Konoha membicarakannya."
"Dan apa itu?"
"Hashirama-sama mengundurkan diri dari jabatannya kemarin. Dia menunjuk Tobirama-sama sebagai penggantinya."
Baik Madara dan Indra tidak terkejut mendengar Tobirama sebagai penggantinya tapi keduanya tetap bingung. Mengapa Hashirama mundur dari posisinya sebagai Hokage, hanya pria itu yang pantas menyandang gelar Hokage.
"Kenapa dia mengundurkan diri?" Kali ini Indra yang bertanya.
Kapten Anbu tampak bimbang selama beberapa saat sebelum akhirnya menarik nafas panjang. "Tobirama-sama tidak memperbolehkanku mengatakan ini padamu tapi sebagai sahabat serta tangan kanannya dulu, aku pikir kau harus tahu, Madara-sama."
Madara sudah lebih dulu membelalakan matanya sebelum sang Kapten Anbu memberitahu alasannya, dia sudah memiliki tebakan dan tebakan itu teramat buruk.
"A-apa Hashirama meninggal?" Ia bertanya dengan pelan.
"Tidak, Madara-sama. Hashirama-sama tidak meninggal." Kapten Anbu segera membantah.
"Lalu kenapa?"
"Dia berjudi, Madara-sama."
"Aku pikir dia sudah menghilangkan kebiasaan buruknya itu!" Madara sekarang kesal bukan main.
"Dia kembali berjudi ketika kau pergi dari desa, Madara-sama. Namun setelah kau disegel disini, kebiasaan judinya menjadi lebih buruk dan sebulan yang lalu dia pergi ke Istana Daimyo, dia berjudi dengan beberapa bangsawan disana."
"Jangan bilang dia menjual tanah Senju untuk taruhannya?" Tanah Senju yang dimaksud Madara adalah lahan yang ada di luar desa, tempat ketika sebelum mereka membangun Konoha.
"Lebih buruk lagi, Hashirama-sama menjual seperempat lahan desa Konoha pada mereka. Hal itu diketahui oleh Anbu yang mengawalnya dan Anbu itu memberitahu Tobirama-sama. Dua minggu yang lalu entah bagaimana penduduk Konoha mengetahuinya dan menuntut Hashirama-sama untuk mundur dari jabatannya."
Indra dengan cepat mendorong Kapten Anbu menjauh dari Madara, walaupun cakranya disegel namun Indra masih memiliki reflek yang teramat cepat.
Kapten Anbu mengerjapkan matanya melalui topeng rubahnya, dia terkejut akan luapan amarah Madara, sang mantan kepala klan Uchiha itu memukul batu besar yang ada didalam Gua dan membuatnya hancur berkeping-keping, hal itu juga membuat Gua bergetar hebat. Padahal cakra Madara disegel namun kekuatannya itu benar-benar mengerikan.
"Jangan pernah membiarkan Hashirama kemari atau Madara akan berhasil membunuhnya kali ini." Perintah Indra pada sang Kapten.
"Ha'i, Indra-sama." Sang Kapten mengangguk. "Aku terkejut Hashirama-sama tidak terbunuh di pertarungan terakhir mereka."
*****
Seminggu kemudian Tobirama datang mengunjungi Madara, sang Hokage kedua menatap tidak terkesan akan reruntuhan gua yang dibuat Madara minggu lalu –Kapten Anbu yang memberitahunya. "Kau sudah mengetahuinya?"
"Hm." Madara berdiri dari posisi duduknya. "Aku harap kau tidak sebodoh kakakmu dalam menjalankan desa."
"Maka dari itu aku datang kemari."
"Meminta saran bagaimana cara melunasi hutang kakakmu?" Tobirama memang jenius namun si jenius Senju ini juga menyadari jika Madara –serta Indra lebih jenius darinya.
"Hutang kakakku lebih tinggi dari bukit Hokage. Dia memiliki banyak hutang di desa maupun diluar desa. Aku hanya ingin saranmu untuk membatalkan taruhannya yang menjual seperempat lahan desa pada bangsawan Daimyo."
"Tidak ada yang bisa membatalkan taruhannya, Tobirama. Kapten Anbu mengatakan dia melakukannya sebulan yang lalu."
"Ya."
"Itu berarti dia sudah bermain."
Sudut bibir Tobirama melengkung kebawah, tanda dia kesal karena berarti tidak bisa menyelamatkan seperempat lahan Konoha karena ketololan kakaknya.
"Kau tahu, dia kembali berjudi karenamu."
"Aku tahu." Madara memandang Tobirama. "Aku juga tahu kau akan menyalahkanku."
"Tidak sepenuhnya. Jika aku berpisah dengan Izuna, aku mungkin akan melakukan hal yang sama. Melakukan sesuatu yang bodoh yang bisa mendistraksiku memikirkannya."
Madara menatap aliran sungai selama beberapa saat. "Kau bawa kuas dan kertas?"
"Ya." Karena Tobirama adalah pembuat jutsu, dia sering memiliki ide jutsu baru secara tiba-tiba jadi dia sering membawa kertas dan kuasnya.
"Aku dulu pernah menyelamatkan putri bungsu Lord Daimyo, jika tidak salah ingat namanya Kurata-hime, dia berhutang nyawa padaku. Sampai hari ini aku tidak pernah meminta imbalan apapun darinya ataupun keluarganya. Mungkin sekarang saatnya aku meminta imbalan."
Tobirama terkejut akan informasi tersebut, Izuna bahkan tidak pernah mengatakan hal tersebut padanya.
Hutang Hashirama pada para bangsawan lunas tidak sampai seminggu kemudian, semuanya berkat Madara.
*****
Tobirama belum lama menjadi Hokage kedua ketika tujuh ekor biju menyerang Konoha. Serangan itu dipimpin oleh makhluk aneh berwarna hitam. Kepanikan jelas melanda seluruh desa namun Tobirama sudah mengerahkan seluruh shinobi terbaiknya ke garis depan.
"Ashura-sama!" Seorang Jounin dari klan Hyuuga memanggil Ketua Divisi Pertahanan yang sejak tadi hanya diam memandang tujuh biju yang menyerang Konoha dari seluruh sisi. Kedatangan tujuh biju mengingatkan Ashura pada sosok rupawan yang paling ia cintai, Uchiha Indra.
"Ashura-sama, apa rencanamu?" Jounin dari Klan lain bertanya. Ledakan sudah terdengar dimana-mana. Konoha terkepung dari seluruh sisi.
*****
Hashirama untuk pertamakalinya dalam beberapa bulan, akhirnya keluar rumah. Dia memandang kosong para biju. Anehnya beberapa detik kemudian dia tersenyum, mungkin hari inilah dia akan bertemu dengan Dewa Kematian.
"Dimana Tobirama?"
"Nidaime berada digaris depan."
"Dan kita semua harus berada di garis depan."
"Lapor, Shodaime, Para perempuan dan anak-anak sudah berada ditempat aman."
Hashirama memandang bengis Jounin yang melapor. "Bawa kemari anak-anak dan perempuan yang bisa bertarung."
Jounin dari Klan Uchiha menatap bingung mantan Hokage. "Tapi Shodaime, dulu anda dan Madara-sama mengatakan untuk tidak pernah menyuruh anak-anak ke medan perang, apapun situasinya."
"Situasi telah berubah. Kita tidak memiliki pilihan." Ujar Hashirama dengan dingin.
*****
Indra dan Madara mendongak ketika mendengar suara biju.
"Pergi dan bantu desa!" Perintah Madara pada para Anbu. Para Anbu segera menurutinya. "Zetsu sudah memulai rencana Mugen Tsukuyomi."
"Dia mencari Gyuki dan Kurama."
"Kita harus menghentikannya, Indra-nii. Atau dia akan menghancurkan Konoha."
"Ashura dan Hashirama tidak akan diam saja, Madara. Ashura pernah menghentikanku dan tujuh biju, pun Hashirama yang menghentikanmu. Konoha akan baik-baik saja tanpa kita."
"Tapi-"
"Kita juga disegel, Madara. Kita tidak bisa melakukan apapun." Indra mengucapkan kalimat yang sama yang Madara ucapkan dulu. "Mugen Tsukuyomi tidak akan pernah berhasil tanpa Gyuki dan Kurama."
Keduanya terdiam namun mereka bisa merasakan pertempuran yang dahsyat diluar sana.
"Aku tidak bisa diam saja, Indra-nii. Ini adalah desaku."
"Desa yang menghancurkanmu? Desa yang tidak mempercayaimu?" Indra menatap dingin Madara.
"Indra-nii, ketika Rikudou Sennin memilihmu sebagai muridnya, apa motivasimu? Untuk memiliki kekuatan yang besar agar peperangan berhenti, bukan? Agar anak-anak tidak dikirim ke medan perang lagi?" Madara terduduk dan menutup wajah rupawannya dengan tangannya. "Indra-nii, kau jenius. Lebih dari aku dan Tobirama. Aku tahu kau bisa melepaskan segel ini tapi kau memilih tidak melakukannya."
"Karena aku sudah lelah dengan dunia ini, Madara. Biarkan dunia ini membusuk dengan luka mereka. Aku sudah tidak peduli lagi." Indra tidak terkejut Madara mengetahui jika dia bisa lepas dari segel ini dengan mudah. Uchiha Madara tidak menjadi Kepala Klan bukan tanpa alasan. "Jika kau ingin menyelamatkan Konoha, selamatkan saja. Mereka tidak akan pernah berterimakasih pada kita karena kita Uchiha, Klan yang menurut mereka penuh akan dendam dan kebencian."
"Maka mari kita ubah pemikiran mereka! Kita buktikan bahwa Uchiha bukan Klan seperti itu!"
Indra membuang wajahnya, dia tidak pernah bisa melihat air mata Madara sejak ia mengenalnya.
"Indra-nii." Panggil Madara dengan lembut. "Kumohon."
"Kau sungguh keras kepala." Indra mendengus.
*****
Pertempuran berlangsung sangat lama, Konoha benar-benar terkepung dari segala sisi.
"Nidaime-sama." Seorang Anbu muncul disamping Tobirama.
"Apa Ashura berhasil mengalahkan biju?"
"Ya tapi hanya satu biju."
"Hanya satu ekor biju?!" Tobirama benar-benar marah besar sekarang. Beberapa tahun yang lalu Ashura berhasil mengalahkan tujuh ekor biju –dengan bantuan Rikudou Sennin namun kenapa sosok tersebut menjadi selemah ini. "Panggil para penyegel dari Klan Uzumaki untuk membantunya."
"Sudah dilakukan, Nidaime-sama."
"Dan mereka masih belum menyegel yang lainnya?!"
"Tenanglah, Tobirama. Kau bersikap tidak seperti dirimu sama sekali." Ujar seseorang yang tiba-tiba saja sudah berada didepan Tobirama mengejutkan hampir seluruh shinobi yang ada disana.
"Ma-madara-sama!"
"Apa yang kau–Bagaimana-"
"Simpan pertanyaanmu untuk nanti, Tobirama. Ini akan menjadi tarian yang panjang dan mematikan." Madara menggigit jarinya. "Kuchiyose no Jutsu!"
Kyuubi no Kitsune muncul dibawah kaki Uchiha Madara dan bukan hanya itu Gyuki –Biju ekor delapan juga muncul di sisi lain desa, Indra juga memanggil Kuchiyose nya.
"Apa rencanamu?"
"Aku, kau, Hashirama, Ashura dan Mito akan menyegel para biju sedangkan Indra akan mengalahkan Zetsu."
"Zetsu?"
"Sosok yang mengontrol para biju ini. Kau pikir mereka datang secara bersamaan atas kehendak mereka sendiri?"
"Oh, namanya Zetsu."
"Kau melihatnya?"
"Ya, diawal serangan biju tapi dia menghilang dengan cepat. Aku pikir itu hanya imajinasiku. Makhluk itu aneh."
"Dan hanya Indra-nii yang dapat merasakannya."
"Bagaimana bisa?"
"Karena Indra-nii pernah bertemu dengannya." Madara memandang Tobirama. "Panggil Hashirama, Ashura dan Mito."
Tobirama memerintahkan Anbu untuk memanggil tiga orang yang disebutkan oleh Madara.
"Bawa juga Izuna kemari, sudah sangat lama aku tidak melatihnya." Maksud Madara adalah dia ingin memperlihatkan jutsu barunya dalam pertempuran pada sang adik sehingga Izuna bisa mempelajarinya.
"Kita berada dalam pertempuran, Madara. Bukan waktunya melatihnya."
Madara tidak peduli.
*****
Ashura –dengan bantuan beberapa shinobi dari klan Uzumaki baru akan menyegel biju ekor dua ketika Indra tiba-tiba saja berdiri dihadapannya.
"Indra."
"Rikudou Sennin memberikan kekuatannya padamu tapi apa yang kau lakukan?" Sang shinobi berwajah rupawan namun dingin itu hanya menatap datar sosok yang lebih muda darinya. "Bantu Madara menyegel para biju."
Entah kenapa Ashura kesal bukan main dengan kalimat Indra, mereka telah tumbuh bersama di dimensi Rikudou Sennin namun kejadian beberapa tahun yang lalu seolah menghapus jejak kebersamaan mereka. Indra menganggapnya seolah dia hanyalah orang asing.
"Kau pikir aku hanya duduk diam dan melihat shinobi mati? Aku tengah menyegel biju!" Tidak ada senyuman pada wajah Ashura, dia menatap serius sosok didepannya.
"Kalau begitu berhenti bermain-main, Ashura." Indra meninggikan suaranya. "Aku tahu kau bisa berbuat lebih banyak dari ini. Kau dapat mengalahkan tujuh ekor biju dengan mudah tapi kenapa sekarang kau melemah seperti ini."
"Karena kau." Tuduhan Ashura membuat Indra bingung. "Karena kehilanganmu aku menjadi seperti ini, Indra."
"Ashura, aku tidak menghilang." Indra memandang tanah dibawahnya. Gyuki tengah melawan biju ekor empat.
"Aku menyegelmu, Indra. Pria macam apa aku yang menyegel orang yang ia cintai." Ashura tertawa, tawa getir yang menyakitkan Indra. "Didetik darahku menyegelmu, didetik itupula seluruh kewarasanku menghilang."
"Ashura–"
"Tiga tahun yang lalu, bukankah aku mengatakannya padamu." Ashura berjalan mendekati Indra, ia mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Indra. Pipi orang yang ia cintai kini lebih tirus dari terakhir kali ia melihatnya dan itu tidak membahagiakannya sama sekali. "Aku mencintaimu."
"Rayuanmu masih semurah dulu, Ashura."
"Aku tidak sedang merayumu, Indra. Aku mengatakan yang sebenarnya. Bagaimana caranya agar kau mempercayai perasaanku ini?!"
"Aku mempercayaimu, Ashura. Selalu." Indra mundur beberapa langkah hingga, memberi jarak antara keduanya. "Pergilah bantu Madara dan yang lainnya."
*****
Hashirama, Mito dan Izuna datang ke tempat Tobirama dan Madara.
"Aniki." Izuna hampir berlari memeluk kakaknya namun ia tahan. Mereka sedang berada di medan perang.
"Madara-sama." Mito membungkuk penuh hormat pada salah satu pendiri Konoha.
"Madara." Hashirama memanggil sahabatnya dengan penuh kerinduan.
Madara dengan segera memberi perintah pada mereka. "Mito, panggil beberapa shinobi dari Klanmu yang pandai menyegel, kuserahkan ekor dua padamu. Tobirama, kau dan para Anbu menyegel ekor tiga, Hashirama gunakan mokutonmu untuk menyegel ekor empat dan lima, Gyuki –biju ekor delapan milik Indra akan membantu. Izuna, kau dan aku tetap disini. Saat Ashura datang, kau bantu dia menyegel ekor enam. Aku akan menyegel ekor tujuh."
Mito, Tobirama dan para Anbu segera berpencar ke masing-masing biju yang siap mereka segel. Namun tidak dengan Hashirama, sang Shodaime Hokage masih berdiri didekat Madara.
"Bagaimana kau melepaskan segelnya?" Tanya Hashirama.
"Kau meremehkan kehebatan Uchiha Indra, dia tidak terpilih menjadi murid Rikodou Sennin tanpa alasan." Madara menarik nafas, melihat wajah Hashirama mengingatkannya akan kekecewaannya. "Aku tidak peduli dengan kau yang tidak mempercayaiku atau desa yang menghancurkanku tapi jangan pernah membiarkan desa hancur, Hashirama. Karena itu sama saja dengan kau menghancurkan mimpi kita berdua."
"Madara, maafkan aku." Lirih Hashirama.
"Aku kecewa padamu, Hashirama. Bukan karena kau menyegelku, bukan juga karena kau tidak mempercayaiku tapi aku kecewa karena aku melihat anak-anak yang aku yakini belum lulus akademi ikut bertarung." Mata Madara berkaca-kaca, walaupun begitu ia tetap menahan tangisnya.
"Mada–"
"Enyahlah. Ada desa yang harus kita prioritaskan." Adalah kalimat final yang sama yang Madara ucapkan pada Hashirama ketika ia disegel.
*****
Dengan rencana Madara, para biju berhasil disegel dan Indra berhasil menghabisi Zetsu dengan Amaterasu –api hitamnya yang sangat besar. Semakin besarnya Amaterasu, maka semakin berbahaya, maka dari itu Indra menggunakan Susano'o nya untuk melapisi amaterasunya hingga tidak menyebar dan menghanguskan desa.
Madara berdiri disamping Indra setelah ia selesai menyegel biju ekor tujuh, Indra memang telah membakar Zetsu namun Indra juga mengatakan bahwa Zetsu ini bukan manusia ataupun makhluk hidup lainnya, dia adalah bayangan, bayangan yang membisikan kejahatan-kejahatan bagi dunia shinobi.
"Kita harus tetap menyegelnya amaterasu yang membakarnya, setelah itu kita bakar juga segel itu. Agar jejaknya terhapus dari kehidupan ini." Ucap Indra dengan nafas memburu. Mengalahkan Zetsu –makhluk yang tercipta dari sel sang Dewi Kelinci sangat melelahkannya, jangan lupakan cakranya yang tersegel selama tiga tahun membuat Indra cukup kewalahan dalam mengontrol cakranya.
Madara mengeluarkan gulungan segel yang ia ambil dari salah satu shinobi klan Uzumaki ketika ia menuju kemari. "Kau atau aku yang melakukannya, Indra-nii?"
"Kita berdua."
Tidak butuh waktu lama untuk keduanya menyegel amaterasu yang membakar tubuh Zetsu dan setelah tersegel, gulungan itu juga kembali mereka bakar menggunakan amaterasu.
"Selesai." Indra menjatuhkan dirinya. "Ayo kita kembali, Madara."
"Ke Gua?" Madara mengangkat alisnya.
Indra menyipitkan matanya pada sepupunya. "Menurutmu kemana lagi? Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kita ini tahanan seumur hidup? Desa sudah aman, sekarang kita kembali ke tempat kita yaitu Gua"
Madara mendengus. "Gendong aku, Indra-nii. Aku lelah."
Indra kesal, siapa yang tahu ternyata Uchiha Madara yang hebat semanja ini. "Aku lebih lelah darimu. Ingat jika aku yang melepaskan segel kita berdua dan menghabisi Zetsu."
"Tapi aku juga menyegel biju ekor enam dan tujuh."
"Dengan bantuan Ashura dan Kurama."
"Asal kau tahu saja, Indra-nii. Pacarmu itu kemampuannya menurun drastis. Aku dan Kurama serta Izuna harus mengeluarkan cakra extra."
"Ashura bukan pacarku dan kau bisa meminta cakra tambahan pada Kurama. Gyuki pernah melakukan hal tersebut untukku."
"Aku tidak mau dan tidak akan pernah mengekploitasi cakra Kurama seperti itu. Itu bukan hakku."
Keduanya terus berdebat selama beberapa saat sampai Kapten Anbu yang biasa menjaga mereka memanggil keduanya.
"Indra-sama, Madara-sama."
"Apa?!" Balas Indra dan Madara.
"Kapten, Panggil Tobirama untuk melakukan hiraishin kita berdua ke Gua. Aku butuh mandi dan istirahat." Perintah Indra.
"Suruh bawahanmu yang menjaga kita nanti malam untuk membawa garam dan gula. Kita kehabisan stok." Tambah Madara. "Dan bawa juga daging serta beli yukata baru untuk kita berdua, ingat yang berwarna hitam, jangan seperti yang bulan lalu. Kau masih ingat ukuran baju kita berdua kan?"
"Minta uangnya pada Izuna. Dia masih berhutang 70 ribu ryo padaku." Jelas Indra.
"Dia berhutang apa padamu?" Tanya Madara, setahunya sebelum Indra pergi dari desa beberapa tahun yang lalu, Madara selalu memberikan uang pada adiknya dengan nominal yang tidak sedikit.
"Uang."
"Kenapa dia meminjam uang padamu, Indra-nii?"
"Katanya untuk membeli hadiah ulang tahun Tobirama. Dia tahu kau tidak akan pernah memberinya extra uang jika kau tahu alasannya makanya dia meminjam uang padaku."
"Ano, Indra-sama, Madara-sama." Kapten Anbu menghentikan obrolan dua shinobi yang sudah sangat membantu desa.
Madara menyilangkan tangannya didepan dada. "Kapten, kenapa kau belum memanggil Tobirama?"
"Nidaime sibuk, dia masih melakukan evakuasi. Aku dan yang lainnya pun harus segera membantunya."
"Lalu siapa yang tidak sibuk?"
"Hashirama-sama dan Ashura-sama. Aku yakin mereka dengan senang hati mengantar kalian–"
"Tidak perlu." Potong Indra.
"Kami bisa kembali sendiri." Tambah Madara.
"Jangan lupakan pesanan kami, Kapten."
"Kami akan marah padamu jika bawahanmu tidak membawakan pesanan kami."
Dengan itu dua sosok rupawan itu berjalan menuju gua tempat mereka ditahan. Ingat, walaupun mereka telah membantu menyelamatkan Konoha, status mereka tetaplah tahanan.
*****
Tidak mengejutkan Tobirama ketika para penduduk protes didepan gedung Hokage agar ia membebaskan Indra dan Madara. Bagaimanapun hampir seluruh shinobi melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana Madara memberi perintah pada Tobirama dan yang lainnya untuk menyegel biju dan amaterasu Indra yang membumbung tinggi membakar sang pengendali biju.
Jadi, tidak sampai satu minggu setelah serangan biju, Tobirama kembali muncul didalam Gua tempat dua sosok rupawan berstatus tahanan disegel –yang telah dilepas oleh Indra.
"Kalian sudah melepaskan segelnya, mengapa kalian masih ada di Gua ini?" Tobirama bertanya dengan tidak senang.
"Kenapa memang? Kami suka gua ini." Balas Indra, ia tengah memilih pin kupu-kupu yang dibawakan oleh Kapten Anbu padanya, sang Kapten mengatakan jika pin itu dari seseorang.
"Jika perlu aku ingatkan, status kami masih tahanan, Nidaime." Ejek Madara, Mantan Kepala Klan Uchiha itu tengah menyisir rambutnya.
"Seluruh penduduk Konoha ingin kalian dibebaskan."
"Seluruh?"
"Ya, termasuk aku, para tetua, pasukan Anbu dan shinobi lainnya." Tobirama memandang keduanya. "Aku juga butuh bantuanmu untuk mengatasi konflik dengan desa lain dan apa yang harus kita lakukan dengan para biju ini."
"Kalian akhirnya sadar jika kalian bersikap keliru, heh?" Ucapan Madara dimaksudkan akan keputusan Hashirama yang memberikan biju pada desa lain.
"Ya, dan aku sebagai Hokage kedua secara resmi meminta maaf padamu, Madara-sama."
"Bukan kau yang melakukan kekeliruan saat itu, Tobirama."
"Kalau begitu aku meminta maaf atas nama kakakku."
"Dia sudah melakukannya." Madara meletakan sisirnya lalu berjalan melewati Tobirama. "Ayo, Indra-nii, kita keluar. Kau butuh lebih banyak sinar matahari agar kulitmu tidak sepucat hantu."
Indra memutar matanya namun ia berdiri dan mengikuti langkah Madara. "Kau tidak bercermin yah? Kulitmu sendiri lebih pucat dariku."
"Tobirama, tolong kau bawa barang-barang kita yang ada di Gua ini kerumah kita yang baru."
"Termasuk bumbu makanan juga."
*****
THE END of REDEMPTION
*****
OMAKE
[Senju Hashirama x Uchiha Madara]
"Madara." Panggil Hashirama pada sahabatnya. Sang Uchiha tampak begitu mempesona dengan yukata birunya.
"Hm?" Balas Madara. Fokusnya masih pada lentera di tangannya. Malam ini klan Uchiha mengadakan festival lentera. Festival yang selalu diadakan satu tahun sekali di minggu pertama musim semi.
Festival Lentera adalah salah satu tradisi Klan Uchiha, dinamakan festival lentera karena mereka akan membuat ratusan lentera dan menerbangkannya bersama-sama di penghujung malam. Mengapa lentera? Karena lentara adalah cahaya kehidupan. Juga sebagian Klan Uchiha mengalami kebutaan karena penggunaan sharingan mereka secara terus menerus sehingga lentera juga diharapkan menjadi cahaya dalam kegelapan mereka.
"Kau tidak menuliskan harapanmu?"
Klan Uchiha selalu menggambar sharingan mereka pada lentera yang mereka buat juga menuliskan harapan mereka di sisi lainnya. Hal itu dilakukan agar harapan mereka bersinar selamanya sampai terkabul.
"Aku menggambar harapanku." Madara memperlihatkan sisi lain lenteranya dan terdapat satu sharingan lagi disana. Itu berarti Madara menggambar dua sharingannya pada lenteranya.
"Kenapa kau menggambar sharingan lagi?"
Madara tersenyum kecil lalu melepaskan lenteranya –ia telah kembali menyandang status Kepala Klan Uchiha itu berarti dia orang pertama yang harus menerbangkan lenteranya. Terbangnya lentera Madara diikuti oleh ratusan lentera lain yang diterbangkan oleh anggota Klannya.
"Harapaanku yaitu dua sharingan. Artinya, aku tidak ingin Uchiha dipandang sebelah mata lagi, untuk sekarang dan seterusnya" Satu tahun telah berlalu sejak serangan Zetsu dan Klan lain memang telah menghormati Klan Uchiha setelah melihat bagaimana Madara dan Indra menyelematkan Konoha. "Kau sendiri, apa harapanmu, Hashirama?"
Hashirama yang belum menerbangkan lenteranya memperlihatkannya pada Madara, ia menggambar simbol Klan Senju dan Uchiha. "Persatuan."
"Kita sudah bersatu di Konoha, bodoh." Madara tidak terkesan.
Awan gelap entah bagaimana muncul diatas kepala Hashirama. "Persatuan dalam bentuk pernikahan, Madara~"
"Tobirama dan Izuna sudah melakukannya."
"Bukan mereka berdua." Hashirama merengek. "Ini harapanku, aku ingin persatuan dalam bentuk pernikahan."
"Dengan siapa?"
Rasanya seluruh gunung terjatuh dipundak Hashirama.
"Ada apa denganmu, Hashirama?" Madara jengkel, episode depresi Hashirama tidak hilang sama sekali.
"Denganmu, Madara. Aku ingin menikah denganmu."
Seperti yang dikatakan oleh Indra, Madara memiliki kulit pucat, jadi jelas rona merah yang menyebar dipipinya terlihat begitu kentara walaupun hari sudah malam. "Kau ingin menikah denganku?"
"Tentu saja aku ingin menikah denganmu, Madara. Aku bahkan sudah menginginkannya sejak pertamakali kita bertemu dulu."
Wajah Madara kian memerah mendengar ucapan terus terang Hashirama namun ia segera menenangkan dirinya. Sang Kepala Klan Uchiha berdehem dan berucap dengan serius. "Aku setuju untuk menikah denganmu."
Hashirama berteriak senang, ia menerbangkan lenteranya lalu memeluk Madara dengan erat. Ia dan shinobi dari klan lain serta warga sipil ikut meramaikan festival lentera klan Uchiha, mereka bahkan ikut menerbangkan lentera.
"Tapi aku punya satu syarat."
"Ehh?"
"Aku ingin kau melunasi hutang-hutang judimu dulu. Aku tidak mau menikah dengan orang yang memiliki banyak hutang."
Hashirama kembali berteriak, kali ini dengan tidak senang. Dia menangis.
*****
[Otsutsuki Ashura x Otsutsuki Indra]
Indra memandang tangannya yang digandeng oleh Ashura. Butuh waktu lama –terimakasih untuk kesabaran Ashura untuk ia akhirnya membalas perasaan Ashura.
"Sejak kapan?" Tanya Indra secara tiba-tiba. Mereka sudah menikah dengan tengah melakukan bulan madu.
"Eh?"
"Sejak kapan kau mencintaiku, Ashura?"
"Entahlah, terlalu sering kita bersama ketika kita dilatih oleh Rikudou Sennin, perasaan itu muncul begitu saja. Seolah memang dari awal mencintaimu itu sudah menjadi jalan hidupku." Ashura memandang bintang-bintang di langit. "Kau sendiri, sejak kapan kau percaya bahwa aku mencintaimu?"
Ashura ingat, ketika dia pertamakali mengungkap perasaannya pada Indra, Indra menyebutnya sebagai rayuan murahan.
"Sejak pertamakali." Indra menggunakan kedua tangannya untuk memeluk lengan Ashura. "Sejak pertamakali kita bertemu, aku tahu, kau adalah bocah paling bodoh. Kau bodoh karena tidak bisa menyembunyikan emosimu."
"Itu tidak menjawab pertanyaanku." Ada sedikit nada merengek dalam suara Ashura.
Indra tersenyum. "Emosimu itu, aku bisa melihatnya dari matamu. Padahal seluruh orang mengatakan jika mata Uchiha adalah cermin dari emosi mereka tapi menurutku, kaulah pemilik mata itu. Bahagia, sedih, sakit, kecewa terutama cinta. Aku bisa melihat semua itu dalam matamu."
Ashura mencium kening Indra dengan mesra dan Indra yang biasanya membenci mengumbar kemesraan didepan umum membiarkan Ashura melakukannya.
"Aku mencintaimu, Ashura. Maaf sudah membuatmu menunggu lama untuk aku menyadari perasaanku."
"Tidak apa-apa. Bukan rahasia jika Uchiha itu keras kepala bahkan mengenai perasaan mereka sendiri."
Indra membalasnya dengan mendorong Ashura hingga terjatuh.
*****
[Senju Tobirama x Uchiha Izuna]
Izuna menatap tidak terkesan pintu laboratorium tempat dimana suaminya membuat jutsu-jutsu baru. Ia sudah berdiri didepannya selama setengah jam dan selama itupula dia mendengar dua ledakan didalamnya namun sang suami masih tidak keluar sama sekali.
"Tobirama."
"Sebentar lagi, sayang." Balas Tobirama yang ada didalam lab. Sang Hokage kedua sebenarnya tahu jika pasangannya sudah berdiri didepan pintu selama setengah jam –ia adalah tipe sensor namun jutsu yang sedang ia sempurnakan ini begitu penting.
"Aku tidak mau tahu, jika kau tidak keluar dalam lima menit, aku akan menceraikanmu." Ancam Izuna dan segera berlalu dari depan pintu. Ia kembali ke ruang makan dan duduk.
Ancaman adik dari Uchiha Madara jelas amat manjur, Tobirama keluar dari ruang laboratoriumnya lima menit kemudian dengan rambut acak-acakan dan baju kusut. Ia segera menghampiri pasangannya dan memberikan ciuman di pipinya. "Hey."
Mata Izuna menyipit, bibirnya cemberut. "Kau beruntung kau sexy jadi aku tidak akan pernah mau menceraikanmu, Senju."
"Kau juga seorang Senju."
"Aku terlahir sebagai Uchiha. Apa kau tidak melihat sharinganku?"
"Aku melihat sharinganmu sejak umur tiga belas tahun dan ya kau memang terlahir sebagai Uchiha tapi empat tahun yang lalu kau menikah denganku yang seorang Senju. Jadi jelas, kau Senju selama empat tahun ini." Balas Tobirama sambil mengambil mangkuk berisi nasinya.
Izuna tidak terkesan akan ucapan suaminya. "Kenapa tidak kau saja yang menjadi Uchiha?"
"Pertama, kakakmu tidak akan pernah menerimaku sebagai Uchiha, dia lebih suka mengusirmu dari Uchiha dan memberikannya padaku dan yang kedua, bukan aku yang mendesah setiap malam."
"Berengsek!" Izuna melemparkannya dengan teko berisi teh.
*****
