Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-11-02
Words:
875
Chapters:
1/1
Kudos:
7
Hits:
100

Pilihan Pertama

Summary:

Bagi Rose Weasley, ayah akan selalu menjadi pilihan pertamanya.

Notes:

  • A translation of First Pick by https://www.fanfiction.net/u/2559733/writergirl8

Hasil terjemahan dari fanfiksi First Pick oleh writergirl8

Baca fanfiksi asli di bawah ini:

https://www.fanfiction.net/s/10432415/1/First-Pick

Work Text:

Ayahku oranye
Rambut ayah berwarna oranye, berkibar liar di atas kepala ayah; berantakan pada minggu pagi menyembul dari balik koran ketika ayah membaca komik Daily Phophet. Bintik-bintik di wajah ayah oranye, tampak gemerlap diantara kulit pucatnya ketika terkena sinar matahari.

Sebenarnya bintik-bintik di wajah ayah berwarna cokelat, namun ketika ayah mengendarai sapu di angkasa, dengan rambut yang tampak terbakar di bawah sinar matahari, bintik-bintik ayah terlihat oranye dan berbeda dari bagian tubuh ayah yang lain.

Baju-baju ayah berwarna oranye. Terkadang ayah akan mengendongku di pundaknya ketika ayah mengenakan baju tim Chudley Cannons, kaki telanjangku akan menyentuh kain lembut baju ayah yang beraroma rumput yang baru saja dipotong dan deterjen favorit ibu. Kerumunan orang mendorong dan bergoyang di sekitarku tapi ayah membawaku dengan aman melewati kerumunan. Kadang ayah minum jus labu dengan rum dan nafas ayah juga beraroma oranye: musim gugur bercampur dengan aroma lain yang lebih keras.

Watak ayah oranye. Berkobar terang namun tidak pernah menyulut kebakaran. Kobaran terang itu jarang sekali diarahkan kepadaku, namun ketika ayah berkobar ke arahku, sulit sekali untuk menatap kobaran terang ayah. Tidak ada tempat untuk meneduh di kobaran oranye ayah, aku hanya bisa menunggu hingga kobaran itu berubah warna menjadi lebih lembut. Aku tidak pernah menunggu lama, biasanya hanya butuh satu tetes air mata, atau senyum kecil, atau permintaan maaf.

Ayah menyayangiku karena aku juga oranye seperti ayah.

*

Pertama kali aku meminta senyuman di keping cokelat kue panekukku, ayah membersihkan tenggorokannya dengan keras. Ayah bersikeras dia tidak akan membuat senyuman dari objek tak bergerak untukku.

“Dunia ada di bawah kakimu,” ayah memberitahuku, mengacungkan sudip plastic ke arahku. Adonan memercik ke arahku dan memercik di dinding, aku cekikikan, bertanya-tanya apa reaksi ibu ketika melihat kejadian ini, “Kamu tidak butuh kue untuk tersenyum padamu dengan keping cokelat.”

Tapi aku menggelengkan kepala dengan keras, ayah menghela nafas dan mengambil sebungkus keping cokelat dari tanganku, menatanya di atas kue panekuk yang lembut dan tebal. Ketika ayah melihat senyum bahagiaku, sejak saat itu ayah selalu membuat kue panekuk berbentuk wajah yang tersenyum.

Pada beberapa Minggu, ayah merasa tidak baik. Aku akan berlari dan mengetuk pintu ayah dan ibu, bersemangat untuk mendapatkan kue panekukku, lalu ibu akan keluar dengan perlahan dari kamar dan menutup pintu dengan lembut. Ibu tidak melakukannya dengan keras, tapi hal itu cukup menegaskan dan membuatku paham bahwa aku tidak boleh masuk ke dalam kamar.

“Maaf, Rosie,” ibu akan berkata, berlutut di hadapanku. Rambut pagi hari ibu yang berantakan menutupi pipinya, menggelitiknya, “ayah sedang kurang sehat.”

Bibir bawahku bergetar dan aku mencoba untuk menjadi gadis kuat yang tidak menangis, tapi ibu hanya mencium keningku.

“Ibu tahu panekuk ibu tidak seenak buatan ayah, tapi bolehkah kamu mengijinkan ibu membuatkan panekuk hari ini?

Aku memasukkan jempolku ke dalam mulut dan mengangguk, hanya karena aku tidak ingin membuat ibu sedih. Keping cokelat yang dibentuk ibu membentuk senyuman terlalu rapi; dibuat dengan sahangat hati-hati.

*

Hugo kecil. Ketika ayah menggendongnya, kupikir Hugo cukup di salah satu tangan ayah, ayah bisa menangkupnya layaknya boneka. Ayah sangat berhati-hati ketika menggendong Hugo, ayah meletakkan Hugo di lengannya dengan sangat hati-hati hingga aku merasa sedikit iri di dalam hatiku. Ayah dan ibu sangat sering menatap Hugo, seolah Hugo akan menghilang. Di beberapa hari pertama Hugo, ibu sering menangis, ayah juga menangis, tapi sekarang ibu dan ayah baik-baik saja dan Hugo juga baik-baik saja dan semuanya baik-baik saja.

Ibu dan ayah tidak ingin melepaskan Hugo berhari-hari setelah Hugo lahir, tapi di malam hari dimana ibu akhirnya meninggalkan rumah sakit, aku menemukan ayah duduk di kursi goyang samping ranjang ibu. Ibu sedang tidur, tapi Hugo tidak, dan Hugo mengedip pada ayah dengan mata birunya, hanya menatap ayah.

“Dia mirip denganmu,” kataku karena semua orang juga mengatakan hal yang sama. Kurasa itu yang seharusnya dikatakan jika kamu melihat bayi orang lain untuk pertama kali.

Ayah tertawa.

“Apa kamu mau memegangnya, Rosie?”

Aku mengernyit.

“Tidak.”

“Kenapa?”

Ayah hampir terlihat tersinggung, hal itu membuatku terkejut. Orang akan mengira ibu yang akan tersinggung. Hugo ada di perut ibu selama ini.

“Dia terlalu kecil,” kataku, menggelengkan kepala dengan cepat. Beberapa helai rambut merah jatuh ke wajahku dan aku meniup dengan keras agar helai rambut tu tersingkap, “aku merasa aku akan menjatuhkannya.”

Ayah tertawa, lalu melihat ibu dengan gugup, takut tawanya akan membangunkan ibu. Ibu mengecapkan bibir dalam tidurnya.

“Kamu tidak akan menjatuhkannya,” ayah berjanji padauk, “bahkan jika kamu menjatuhkannya, ayah janji ayah tidak akan memberitahukannya pada ibu.”

Aku menggelengkan kepala sekali lagi, rasa gugup mulai mengular di perutku.

Ayah mengamatiku untuk sesaat, mata kami saling bertemu.

“Rosie, ayah harus membantu ibumu sebentar, jadi ayah butuh Rosie untuk jadi kakak yang baik dan menggendong Hugo untuk ayah. Itu akan sangat membantu.”

Ekspresi ayah sangat tulus di cahaya lampu rumah sakit.

“Baiklah,” kataku, mengerucutkan bibir, ayah mengangguk penuh terima kasih sebelum berdiri dari kursinya dan memberi isyarat untukku duduk di sana. Ayah memberitahuku cara untuk meletakkan lenganku, tersenyum penuh semangat ketika aku membenarkan posisi lenganku, kemudian ayah dengan berhati-hati meletakkan Hugo di pelukanku. Hugo sangat berat untuk ukurannya yang kecil.

Ayah bergerak ke ranjang ibu. Ibu tidak bangun, tapi ayah naik ke ranjang dan merengkuhkan kedua tangannya ke ibu, memeluk ibu lebih erat. Ayah meluruskan satu lengannya, meletakkannya di bawah bantal yang dipakai ibu kemudian mendekatkan tubuhnya ke ibu. Ayah menatap ibu dengan tatapan yang hanya ayah perlihatkan pada ibu.

*