Work Text:
Suara televisi memenuhi ruang kamar dengan pemuda manis yang tengah fokus memperhatikan film yang sedang di tayangkan di televisinya.
semangkuk camilan menjadi teman menonton chenle, sungguh nyaman dan nikmat.. sebelum jisung datang untuk mengganggunya.
"sayang, aku udah mandi nih" jisung mendudukkan dirinya di sebelah chenle, lengan kekarnya bergerak melingkar di pinggul ramping chenle.
"terus?" tanya chenle cuek.
"cium dong, tadi ga mau cium karena aku bau. sekarang udah mandi nih"
"diem ah, lagi seru ji!" chenle mendorong dada bidang jisung yang semakin lama semakin menempel dengannya.
"mau kamu yang cium aku atau aku yang cium kamu?" jisung menegakkan tubuhnya, netra jisung menatap lurus ke chenle, jisung sungguh kesal seharian ini di perlakukan dengan cuek oleh chenle.
chenle seketika menoleh saat mendengar suara jisung yang terkesan datar dan penuh penekanan, chenle ciut saat jisung sudah dalam mode begini.
chenle mengulurkan tangannya untuk menangkup pipi jisung "iya ini cium, gitu aja udah kesel sih" chenle mengecup ujung hidung jisung, kedua pipinya dan kecupan terakhir mendarat pada bibir berisi jisung.
"kesel lah, seharian kamu jutekin aku terus. sadar ga kamu kayak gitu ke aku seharian?" ucap jisung dengan nada yang sedikit tinggi.
"engga... yaudah maaf, sini peluk lagi" bibir chenle jadi sedikit mencebik karena merasa bersalah.
jisung masih kesal sih, tapi kalau di tawari peluk oleh pacarnya itu.. mana bisa menolak, di tambah mimik wajah pacarnya sudah seperti kucing yang memelas.
jisung kembali memeluk chenle dan menyandarkan kepalanya di bahu chenle, dengan sesekali chenle menyuapi camilan kemulut jisung.
sudah sekitar dua puluh menit berlalu dan film yang mereka tonton belum juga habis, chenle masih setia fokus kepada filmnya namun tidak dengan jisung yang sudah mulai merasa jenuh.
jisung mulai memasukkan tangannya kedalam piyama chenle dan bergerak mengusap perut datar chenle, niatnya jisung ingin mendapatkan perhatian chenle, namun si manis tetap cuek dan malah menikmati usapan tangan jisung.
merasa tidak berhasil kini tangan jisung mulai turun ke arah paha chenle yang hanya terbalut celana pendek longgar, usapan tangan jisung pada paha chenle terus bergerak naik turun di sana, bahkan sekarang tangan jisung dengan berani masuk ke dalam celana pendek chenle.
jisung berhasil mendapatkan perhatian kecil dari chenle, satu tangan chenle bergerak mengusap usap kepala jisung, namun matanya tetap fokus ke arah televisi.
"sayang" merasa tak puas hanya dengan perhatian kecil kini jisung mulai mengecupi leher jenjang chenle.
"apaa... sebentar lagi film nya"
jisung mendecih saat sadar perhatian chenle terbagi dua hanya untuk film yang bahkan bisa di tonton lagi nanti, aneh sih cemburu dengan film... namun jisung tetap lah jisung yang ingin chenle hanya menatap ke arahnya.
jisung mulai menggenggam tangan chenle dan mengarahkan telapak tangan chenle untuk menyentuh penisnya yang masih terbalut celana.
chenle segera menoleh saat merasakan telapak tangannya menyentuh benda yang tak asing "sange aku, yang. sepongin bentar dong"
"nanti dulu, ini lagi seru banget ihh. kamu kan kalo di sepongin bentar aja udah langsung di kontolin akunya" chenle kembali memfokuskan dirinya ke film yang masih berlanjut.
jisung sih masih sabar walaupun nafsu hampir di ujung tanduk. jisung menggerakkan tangan chenle untuk menggesekkan telapak tangan chenle pada penisnya.
"aahhh" dengan sengaja jisung mendesah berat tepat di telinga chenle, dengan posisi kepalanya bersandar di bahu chenle memudahkan jisung untuk menggoda si manis.
jisung kini menarik turun celananya sendiri hingga penisnya menyembul keluar, jisung kembali menarik tangan chenle untuk menggenggam penisnya "kocokin aja deh kalo kamu ga mau nyepongin aku"
"aku ga bilang aku ga mau nyepong kamu kok, aku bilang sebentar" kini fokus chenle sudah sepenuhnya terfokus kepada jisung, tangan chenle pun sudah bergerak naik turun di penis besar jisung.
"sshhh ahh" mata jisung terpejam menikmati servis yang sedang chenle beri ke penisnya.
sungguh lubang chenle kini terasa basah hanya menatap wajah jisung yang sedang menikmati servisnya, mata jisung terpejam dan mulutnya sedikit terbuka mengeluarkan desahan berat.
chenle jadi ingin di masuki cepat cepat, tapi kini chenle harus memuaskan sang dominant terlebih dahulu. dengan segera chenle mendudukkan dirinya di bawah, di sela sela kaki jisung.
chenle menatap wajah jisung dari bawah, rahang tegas dan garis wajah yang nampak sempurna di mata chenle kini sedang di landa nikmat karena tangan chenle yang bermain di penisnya "tangan aku enak?"
jisung menundukkan kepalanya menatap chenle yang berada di bawah nya "all parts of your body... always feel like i have my own heaven love, ahh"
kata kata jisung berhasil membuat lubang chenle bertambah gatal, wajah sialan! mulut sialan! semua itu milik chenle.
chenle menjulurkan lidah dan mulai menjilat ujung penis jisung, matanya terbuka dan terus menatap jisung dengan tatapan menggoda.
jisung terkekeh sembari menatap chenle, chenle selalu berhasil 'menggoda' jisung dan membuat jisung bertambah nafsu. ibu jari jisung bergerak mengusap pipi chenle "tambah cantik kamu kalo lagi ngisep kontol aku, apa lagi kalo udah beneran di kontolin di bawah aku"
"i wanna be on top then" chenle memasukkan penis jisung hingga menyentuh tenggorokannya sendiri.
"sure my love, tapi jangan ribut capek sebelum aku keluar. i bet you look prettiest if youre on top and your tight hole eat my dick well"
chenle mengeluarkan penis jisung dari mulut nya, chenle bangkit dan menutup mulut jisung menggunakan tangannya "shut your mouth motherfucker!!!"
bukan nya diam jisung justru tertawa, jisung menarik pinggul chenle hingga terduduk di atas pangkuannya, jisung mengecup telapak tangan chenle yang kini sedang menutup mulutnya, di singkirkannya tangan chenle dari wajah jisung dengan mudah "kenapa? tambah sange ya aku ngomong gitu? lubang nya gatel pengen di kontolin? tapi bener sih yang aku omongin, kamu cant-"
"diem ga! kalo mau ngewe gausah banyak ngomong, tinggal kontolin aku gausah bacot gitu. bikin sange doang dipuasin engga"
jisung tertawa lepas melihat kekasih nya mengomel di depan wajah nya "jadi beneran mau langsung di kontolin nih? buka dulu dong bajunya manis, kasih liat lubang yang mau aku kontolin"
chenle bangkit dari pangkuan jisung dengan wajah merengut nya, ia kesal karena jisung membalasnya, padahal tadi chenle hanya menggoda jisung sedikit.
"kenapa diem? mau aku yang bukain?"
chenle tidak menjawab, namun jemari lentiknya mulai bergerak membuka satu persatu kancing baju nya, setelah bajunya terlepas chenle menarik turun celana pendek dan juga dalamannya hingga menyisakan tubuh cantik chenle tanpa sehelai benang.
jisung diam menatap tubuh chenle dari bawah hingga ke atas, ahh.. bagaimana kekasihnya bisa secantik ini, bahkan setiap bagian tubuh nya terlihat cantik dan hampir sempurna.
chenle yang merasa jisung hanya menatap nya tanpa berniat melakukan sesuatu merasa malu, bahkan semburat merah mulai muncul di pipi chenle. chenle berinisiatif duduk di pangkuan jisung, dan mulai mencium ranum jisung.
jisung dengan senang hati mengambil alih dan mendominasi ciuman mereka, tangan jisung bergerak turun untuk meremas bokong sintal chenle.
chenle bergerak gelisah di tengah ciuman mereka karena jisung hanya bermain pada bokongnya, jisung seolah mengerti apa yang di inginkan chenle kini mengusap luar lubang anal chenle dengan sensual.
"emhhh" chenle mencengkram kuat kerah baju jisung, saat merasakan tangan dingin yang mengusap anal nya dengan sensual.
jisung memasukkan dua jarinya ke dalam anal chenle dan membuat gerakan menggunting untuk menyiapkan lubang sang kekasih, jisung bahkan terus menggerakkan tangannya saat tangan chenle mengisyaratkan dirinya untuk berhenti.
"mmph aahh! nggh!" chenle melepaskan ciuman mereka dengan sepihak, dirinya tidak sanggup untuk menahan desahannya lebih lama.
"desah yang kenceng sayang" jisung terus menggerakkan jarinya di dalam lubang chenle, bahkan sekarang jisung juga menggesekkan penis mereka berdua.
"AAHH! tunggu ji! owhh" kaki chenle gemetar menahan pelepasannya.
"keluarin aja sayang, i let you.." jisung terus mempercepat pergerakan tangannya hingga putih chenle tiba.
"AAAHHH!" chenle menjatuhkan kepalanya di pundak lebar jisung, nafasnya yang memburu berusaha ia netral kan kembali.
tanpa bicara jisung bangkit dengan chenle di gendongannya menuju ranjang mereka, jisung membuka lebar paha chenle "kamu keluar lumayan banyak, kayaknya ga usah pake pelumas lagi.. kontol aku udah penuh cairan kamu semua ini" jisung mengocok penisnya di hadapan chenle dan mengarahkannya untuk masuk ke dalam lubang chenle.
jisung berhasil memasukan penisnya ke dalam lubang chenle tanpa protes dan rengekan dari sang kekasih, belum juga jisung menggerakkan pinggulnya, chenle menarik narik baju yang jisung kenakan.
jisung faham betul apa yang di maksud chenle, jisung kembali menegakkan tubuhnya dan melepas baju yang ia kenakan "satisfied love?" jisung memamerkan tubuh kekarnya ke pada sang kekasih.
chenle mengangguk dan mengulurkan tangannya pada jisung "mau peluk" ucap chenle dengan sedikit rengekan.
jisung tentu tidak menolak permintaan chenle, jisung mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan perlahan memastikan sang kekasih nyaman.
"cepetin aja, mhhh i'm okay.. " chenle mengerahkan pelukan nya pada leher sang dominant.
lagi lagi jisung menuruti permintaan sang kekasih, jisung menghentakkan penisnya di dalam chenle dengan cepat dan sangat dalam.
"AAHH! m-mmhh enakhh ahh" chenle sedikit menjambak rambut jisung sebagai pelampiasan atas kenikmatan yang di terimanya sekarang.
"sshh ya, desah yang kenceng sayang" bagaimana jisung tidak tergila gila dengan chenle dan tubuhnya, setiap kali mereka bercinta chenle selalu ketat dan terlihat lebih cantik dari biasanya.
"desah yang kenceng sayang, biar mahasiswa yang suka kamu tau kamu itu cuma punya park jisung" jisung mengecup daun telinga chenle, kecupan jisung terus turun hingga berhenti pada puting mencuat chenle.
"a-aahhh jisunghh nhh, owwh im close"
jisung semakin gencar untuk menggempur chenle, tangan jisung meraih penis chenle dan mengocok nya dengan sangat cepat.
"AAHHH"
"arghh!"
deru nafas jisung dan chenle saling bersautan, jisung mengusap air mata yang berada di ujung mata chenle lalu mengecup kedua kelopak mata chenle yang menutup "that was amazing.. you always amazing love"
chenle membuka mata dan memfokuskan pengelihatan nya kepada jisung "i don't think thats enough for you"
jisung tertawa pelan "you really know me. kuat buat berdiri?" jisung menyingkirkan helai rambut chenle yang menutupi keningnya.
jisung menggendong chenle dan menuju jendela kamar mereka, saking bersemangat jisung bahkan tidak mengeluarkan penisnya dari lubang chenle.
"j-ji.." chenle menahan tangan jisung yang sedang membuka lebar tirai kamar mereka.
jisung abai akan panggilan sang kekasih dan semakin membuka lebar tirai kamar mereka "kenapa? biar unit sebrang sekalian tau kalo chenle primadona FMIPA lagi di kontolin sama pacarnya. desah yang kenceng sayang, desahin nama gue yang kenceng"
jisung menyandarkan punggung chenle pada kaca jendela kamar mereka dan mulai menggempur chenle seakan tak ada hari esok untuk melakukannya lagi bersama sang kekasih.
"AAAHH JISUNG!!! TUNGG- AHHNNHH" chenle memeluk jisung erat, kepalanya tiba-tiba merasa pusing akibat penis jisung yang dengan kasar menumbuk prostatnya.
"bagus! arrgghh terus desah yang kenceng, biar jadi gosip dan sampe ke telinga jaemin yang sering deketin lo di depan gue terang-terangan"
jisung seperti orang kesetanan saat mengingat bagaimana jaemin terus terusan mendekati chenle di depan matanya, jisung melampiaskan semua kekesalannya pada chenle, jisung ingin chenle tahu dirinya sungguh tidak suka dengan kehadiran jaemin yang seakan menggantikan jisung jika dirinya sedang tidak ada di sisi chenle.
"jiii! aaahh o-ouuhh" chenle tidak bisa menyampaikan apa yang ada di benaknya dengan sempurna, chenle hanya bisa mendesah dan menyebut nama jisung ber ulang kali.
jisung terus menggerakkan pinggulnya dengan kasar, tak ada sedikit pun niat untuk mengurangi kecepatan sodokan penisnya di lubang chenle.
"c-cum.. i'm Cumming- AAAHHHHH" chenle mencapai pelepasannya, kaki chenle gemetar akibat pelepasan yang begitu nikmat.
jisung menurun kan chenle, memutar balikkan tubuh chenle hingga menghadap ke arah luar jendela
*plak*
"berdiri yang bener! nungging!" jisung menampar bokong chenle, jisung terus terusan menyuruh chenle untuk berdiri dengan benar, tak perduli chenle baru saja pelepasan dan kakinya kini sedang bergetar hebat.
jisung kembali melesak kan penisnya kedalam hole chenle, jisung kembali menggempur lubang chenle tanpa ampun.
"aakkhh jisunghhh! t-tunggu aku sensitifhh hnghh" chenle menggeliat berusaha menahan jisung agar tidak bergerak di dalam sana.
lagi-lagi jisung tidak perduli, jisung malah meraih kedua tangan chenle dan menguncinya di belakang.
"dimana yang sensitif sayang? di sini?" satu tangan jisung mulai mengusap dan memainkan puting chenle, chenle hanya bisa meresponnya dengan desahan keras.
"di sini sensitif juga?" tangan jisung turun untuk mengusap perut chenle, bahkan sesekali jari nya bermain pada pusar chenle.
"aaahh jisunghh udah hhahhnh"
"udah? udah gimana.. aku belum keluar sayang" berbisik dengan sensual, telinga chenle jisung jilat hingga sang empu memiringkan kepalanya.
"kalo di sini gimana sayang? ini paling sensitif?" jisung meremas penis chenle dan mengocok nya dengan sangat cepat.
"AAAAHHH NO! JANGANHH MMHHH"
jisung fokus untuk mengejar pelepasan keduanya, terus menghiraukan protes yang keluar dari mulut sang kekasih.
"hands behind your back, jangan berani gerak!" tangan kiri jisung masih fokus untuk mengocok penis chenle, dan tangan kanannya kini turun untuk memeluk dan mengusap perut chenle.
jisung tersenyum saat merasakan penisnya yang menonjol di perut chenle, bergerak naik turun dengan cepat di sana "liat kebawah sayang. liat kan kontol aku nonjol di sana karena nyodokin lubang laper kamu"
"Aahhh gila, enak banget lubang kamu yang. i'm cumming aarrggh..."
jisung mencapai pelepasannya dan menyemburkan semua putih nya di dalam anal chenle, jisung menundukkan kepalanya melihat ke arah penis chenle yang ternyata sedang mengeluarkan cairan.
cairan bening di susul cairan putih berlomba-lomba keluar dari penis chenle, chenle hanya bisa memejamkan matanya, suaranya sudah serak dan bahkan untuk sekedar fokus saja chenle tidak bisa.
"pipis? enak banget ya sampe pipis gitu hm?" jisung mengecup pipi chenle, tangan jisung masih hinggap pada penis chenle dan melakukan sedikit pijatan pada penis submisif nya.
jisung dengan iseng menekankan tonjolan penisnya pada perut bawah chenle "AH! janganh di teken, udahh"
"belum, kamu masih keluar tuh.. sampe banjir gini"
"i know you like it when i press your tummy, kamu keluar setiap aku neken ini.. liat" jisung kembali menekan tonjolan penisnya, dan benar saja chenle putih terus keluar setiap kali jisung menekannya.
"u-udah hikss capek.. nghhh jisung hiks" chenle sungguh lelah, chenle benar-benar tak sanggup berdiri kalau jisung tidak menahan pinggulnya. chenle menangis karena perutnya mulai keram namun pelepasan nya belum juga berhenti.
jisung menutup tirai jendela lalu mendudukkan diri dengan chenle di pangkuannya, jisung melebarkan kedua paha chenle dan satu tangannya sibuk mengusap perut chenle yang terasa keram "relax babe, look! you leaking"
jisung memperhatikan penis chenle yang masih saja mengeluarkan cairan putih tidak banyak namun cairan itu terus menetes sedikit demi sedikit.
"jangan diliatin mmhh" chenle meraih rahang jisung dan menatap mata sang dominant agar tidak terus terusan melihat ke arah penisnya yang sedang 'bocor' itu
"kenapa? i just makesure you okay"
chenle tidak membalas dan memilih untuk mencium ranum jisung, ciuman santai dan tulus tidak di selingi nafsu.
chenle melepaskan ciuman mereka sejenak dan meraih tangan jisung "usapin perut aku lagi, masih keram" pinta chenle dengan sedikit rengekan, setelah mendapat apa yang di mau chenle kembali mencium ranum jisung.
selang beberapa menit keduanya memilih untuk menyudahi ciuman mereka "kamu berendam dulu ya di bathtub, sambil nungguin aku bersihin ini. banjir banget yang, kamu keluar segitu banyak" jisung tertawa pelan melihat wajah kesal chenle yang di hiasi semburat merah.
"gara-gara kamu! kayak orang kesetanan gempur akunya!"
"tapi suka kan? buktinya samp-"
"DIEM!" wajah chenle total memerah, jisung ini tidak ada habisnya ya jika masalah menggoda sang kekasih.
mari kita tinggalkan sepasang kekasih ini yang pasti akan bermesraan sehabis ini, jisung si posesif dan chenle yang senang bermain dengan sifat posesif jisung, tidak akan ada habisnya jika membicarakan kecemburuan di antara mereka karena bisa kalian lihat dari sifat mereka yang... yah seperti itu adanya.
- josse
