Actions

Work Header

es teh dalam plastik

Summary:

(local!au) Kazuha dan Gorou berbagi es teh dalam plastik.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Senin, 16 Juli 2018

"Kak Kazuha, boleh minta tanda tangannya? Buat ngelengkapin buku kegiatan."
Kazuha — yang saat itu sedang duduk santai memperhatikan kegiatan MOS sembari menikmati es teh di plastik — menoleh heran ke adik-adik kelasnya. Pasalnya, ia tidak dapat instruksi apapun dari Cyno — ketua panitia sekaligus sohib kentalnya — untuk berpartisipasi.

"Saya? Tapi saya bukan panitia, apalagi anggota OSIS," jawab Kazuha, walaupun heran tetapi tetap menerima buku kegiatan yang diangsurkan kepadanya.
"Iya, kak. Ini tugas dari Kak Gorou. Katanya biar kenal sama Kak Kazuha yang paling oke."
Kazuha menahan tawa mendengar jawaban dari adik kelasnya. Astaga.
"Ya sudah. Sini, sini ditumpuk dulu. Biar saya tanda tangan." Kira-kira ada 8 orang, dan Kazuha dengan sigap menandatangani buku mereka.

Kazuha mendapat ide setelah menandatangani buku terakhir. "Oh iya, kalau boleh tahu, Gorounya di mana ya?," tanya Kazuha seraya mengangsurkan buku kegiatan terakhir ke adik kelasnya.
"Makasih kak. Kak Gorou posnya di deket lapangan 2 kak, seberang lab"
"Terima kasih, ya. Sudah, sana kalian boleh istirahat dulu. Nanti kalau ditanya Gorou, bilang kalian dapat izin dari Kazuha yang paling oke." Kazuha melambaikan tangannya dan berlalu pergi.

Gorou tengah mengisi laporan harian di buku catatannya saat ia merasakan dingin di pipinya.
"AH– Kazuha! Kaget tau."
Sementara pelakunya hanya tersenyum tidak bersalah, mengulurkan plastik es tehnya pada Gorou.
"Hai, sayang. Gimana hari ini? Lancar?," tanya Kazuha setelah memposisikan diri duduk di samping pacarnya.
"Lancar sih, cuma 1 orang yang lupa bawa barang yang disuruh. Lu udah ketemu anak-anak?"
Kazuha terkekeh, "sudah dong. Tapi kusuruh istirahat dulu. Biar aku bisa ketemu kamu."
"Apa sih," gumam Gorou, memukul ringan bahu Kazuha dengan buku laporannya. Walaupun demikian, Gorou tidak bisa menahan senyumnya.

 

☆☆☆

 

Selasa, 7 Agustus 2018

“Jo, bentar Jo kalo maju bareng gua”
“Lo ke bawah aja tuh, cover Yoimiya lagi dikeroyok”
“Iya Gorouuuuu- aduh! Sini dong. Mana gue gak bawa flicker.”
Sudah menjadi kebiasaan Gorou, Heizou, dan Yoimiya untuk berkumpul di warung belakang sekolah untuk push rank MOBA toksik di jam istirahat walaupun mereka sudah tidak sekelas lagi. Sekarang, geng mereka ketambahan Kazuha (dan Cyno — teman dekat Kazuha — sesekali saat ia tidak sibuk).

“Sudah selesai?,” tanya Kazuha yang baru saja datang, menenteng plastik berisi gorengan dan sebotol air, tidak lupa es teh di plastik, lalu duduk di samping Gorou.
“Belom, sedikit lagi nih. Lo jadi join?,” Heizou menyahut tanpa memalingkan wajah dari ponselnya.
“Jadi, kalau masih bisa,” jawab Kazuha sambil menyodorkan es teh plastiknya ke arah Gorou yang tentu saja langsung disambutnya.

“YES WOOO victory!,” seru Yoimiya, mengepalkan tangannya dengan dramatis. “Rank lagi nih? Bisa gitu main empatan?”
“Bentar gue ajak Bang Itto, tadi kayaknya on. Kalo gak bisa yaudah classic aja,” sahut Heizou.

“Eh, ini ya gorengan kalau ada yang mau,” ujar Kazuha, menyorongkan bungkus gorengannya ke tengah-tengah tongkrongan. Yoimiya langsung mengambil sepotong tahu isi.
“Gue mau es tehnya aja dong, haus nih,” Heizou mengulurkan tangannya untuk mengambil es teh Kazuha, namun Kazuha malah memberinya botol air. “Ini aja, ya,” jawab Kazuha, tersenyum.
“Dih gitu lo,” Heizou memajukan bibirnya, tetapi tetap mengambil botol air Kazuha. “Tadi Gorou dikasih, kok gue nggak.”
Privilege dong, privilege,” sahut Gorou sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Kazuha, menarik tangan Kazuha yang memegang es teh di plastik, lalu menyedot es tehnya dengan wajah bangga.
Heizou hanya tertawa dan menendang ringan kaki Gorou. “Hahaha, geli banget anjir lo. Udah ah yuk main lagi, udah di-invite Bang Itto.”

 

☆☆☆

 

Selasa, 9 Oktober 2018

Gorou
kazuha
boleh minta tolong ga?
liatin dong puisi yang buat tugas bu ning udah ok belom?

Kazuha K.
Boleh, sayang. Kirim aja file-nya

Gorou
docs.booglecom/document/d/1jW8(...)
disini

Kazuha K.
Sebentar ya

Gorou

Kazuha K.
Sudah oke sih. Cuma beberapa
tanda baca aja masih kurang tepat
Sudah aku perbaiki juga
Aku baru lihat kamu poetic gini hahaha

Gorou
wkwkwkw malu jir
thanks kazuhaa
punyalu udah?
mau liat dong kalo udah wkwk
Read at 19:15

 

Kazuha meletakkan ponselnya dan kembali telentang memandangi langit-langit kamarnya. Tugas dari Bu Ningguang sudah diberi sejak 2 minggu yang lalu, dan harus dikumpulkan dua hari ke depan. Tugasnya pun ‘hanya’ menulis puisi. Ya, menulis puisi. Hal yang sudah seharusnya dapat dilakukan Kazuha dengan mata terpejam, pukul 2 dini hari, tanpa kopi, hanya dengan sikat gigi sebagai inspirasinya.
Singkatnya, tidak semestinya ia merasa kesulitan menulis puisi. Satu faktor yang membuat Kazuha menunda tugasnya adalah objek puisinya. Bu Ningguang menugaskan murid-muridnya untuk menulis puisi berpasangan. Berpasangan. Dengan Gorou.

 

Rabu, 10 Oktober 2018

“Aku boleh pulang ke tempat kamu dulu?” tanya Kazuha, menyamakan langkah kakinya dengan Gorou.
“Boleh dong,” Gorou melingkarkan lengannya di bahu Kazuha. “Mau langsung pulang apa mampir jajan?”
“Jajan dulu, deh. Rumah lagi banyak orang nggak?”
“Paling biasa sih, adek-adek gua doang sama ibu. Eh, kata ibu kalo mau beliin jajanan buat ibu aja, soalnya jadi pada susah makan malem kalo udah makan jajanan.”

 

Ibu Gorou sedang menyirami tanaman saat Kazuha dan Gorou sampai. Rumah Gorou selalu ramai, tentu saja. Kakaknya 5, adiknya 5 (ditambah Shirou, shiba inu milik Gorou yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri). Setelah bertukar sapa dengan Ibu Gorou, menolak ajakan Hacchan untuk bermain gelembung sabun, dan menyimpan ‘seserahan’ untuk Ibu Gorou di tempat yang tidak terjangkau adik-adiknya, mereka bisa menyelinap ke kamar Gorou.

 

Kazuha langsung duduk menyenderkan punggungnya ke dipan, menggerai rambutnya, dan membuka bungkusan es teh di plastik miliknya.
“Lu kenapa? Dari pagi keliatan suntuk banget,” tanya Gorou, melepas kemeja seragamnya, menyisakan kaos dalamannya.

“Hmmm?” Kazuha hanya menjawab dengan gumaman, tanpa melepas sedotan dari mulutnya.

Gorou membelai lembut rambut Kazuha sebelum duduk di sampingnya. Kazuha tersenyum, mendekatkan diri dengan pacarnya. Gorou mengambil plastik es teh dari tangan Kazuha dan meminumnya.

 

“Emang puisi gua semalem kacau banget ya?,” Gorou memainkan jemari Kazuha dalam genggamannya. “Lu sampe nggak bales gitu. Terus seharian keliatan suntuk.”
Kazuha hanya melongo mendengar pertanyaan pacarnya. Satu, tentu saja Kazuha tidak berpikir seperti itu; Dua, Kazuha tahu pacarnya memang sensitif, namun ia tidak menyangka kalau Gorou merasakan suasana hatinya yang sedang uneasy karena belum mengerjakan tugas bagiannya.

 

Kazuha tersenyum, mengeratkan tautan jemarinya dengan Gorou. “Puisi kamu bagus, kayak yang aku bilang tadi malam, aku baru tahu kalau kamu bisa nulis yang begitu,” semburat merah jambu muncul di pipi Gorou. “Malah aku yang nggak enak sama kamu, tugas bagianku belum sama sekali.”
“Haah? Lu kan suka banget nulis puisi?” Gorou terheran.
“Betul.”
“Terus? Kenapa bisa belom sama sekali?”
“Karena… uh…,” Kazuha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Karena nggak bisa buat puisi tentang kamu...”
“Tentang aku?” Gorou menunjuk dirinya sendiri. “Kenapa?”
“Itu… tahu kan… kata Jane Austen juga, ‘if I loved you less, I might be able to talk about it more. But you know what I am. You hear nothing but truth from me’. Susah gambarin kamu pakai kata-kata, hahaha…”

Sekarang Gorou benar-benar melongo, walaupun pipinya dirasa panas.
“Astaga… lu nih ya, bisa aja dah. Apa mau pake yang lu bikin pas kelas 10? Pas sebelom pacaran?”
Kazuha berpikir sesaat sebelum berkata, “nggak mau, lah. Kalau diingat masih kayak bocah banget pilihan kata-katanya. Makanya aku mau numpang nulis di rumah kamu, siapa tahu kalau dekat sama objek puisinya jadi lancar nulisnya.”

 

☆☆☆

 

Kamis, 14 Desember 2017

“Hai, sori lancang tapi boleh minta minumnya nggak?”
Kazuha tersadar dari lamunannya, iris rubinya bertemu dengan sepasang hijau laut yang menanti jawaban.
“O-oh iya, ini ya. Belum saya minum kok,” Kazuha mengulurkan es teh di plastiknya yang sekarang sudah kehilangan seluruh esnya. Ia datang ke lapangan untuk menonton anak-anak angkatannya latihan sepak bola untuk classmeeting mendatang. Tentunya es teh adalah pilihan yang tepat di siang hari yang panas. Tetapi sampai latihan selesai, ia malah terlalu fokus dengan pikirannya sendiri.

 

“Makasih ya, nanti gua gantiin deh” teman seangkatannya itu tersenyum lebar. Kazuha tahu dia. Namanya Gorou, dari kelas B. Tidak banyak hybrid di lingkungannya, rumahnya juga searah dengan rumah Kazuha.
“Nggak usah, nggak apa-apa, Gorou. Minum aja,” jawab Kazuha, sambil membereskan barang-barangnya bersiap untuk pulang.
“Eh? Jangan dong gua gak enak. Besok gua gantiin gimana?”
Melihat Gorou yang masih gigih, Kazuha menepuk pundaknya. “Okay, okay. Besok kamu latihan lagi? Nanti saya nonton lagi.”

 

☆☆☆

 

Jum’at, 18 Mei 2018

“...terus tau gak sih, ternyata remote TV ada di kolong kasurnya Mitsucchi. Padahal Kak Saburou udah beli lagi…”
Sejak momen es teh 5 bulan lalu, Kazuha dan Gorou menjadi dekat. Apalagi dengan fakta bahwa rumah mereka searah, berangkat dan pulang sekolah bersama sudah menjadi kebiasaan sehari-hari mereka. Akhir minggu pun seringkali dihabiskan untuk mengerjakan tugas bersama.

Seperti saat ini, sepulang sekolah keduanya berencana mampir membeli jajan sebelum pulang ke rumah Gorou untuk mengerjakan tugas. “Oh iya sama es teh di plastikin aja ya, dua”
“Satu saja ya, Bu.” Kazuha langsung dengan cepat mengoreksi pesanan Gorou.
“Eh? Lu nggak mau?”
“Mau juga.”
"Lah gua juga mau…?”
“Iya, minum satu buat berdua aja. Kayak biasanya.”
“Oh- ah… um…” tampak ekor Gorou mengibas cepat, merah jambu terbit di pipinya  “oke…”

Gorou memutuskan untuk berhenti sejenak di taman dekat tempat mereka membeli jajanan. Kata-kata Kazuha jelas memberikan dampak yang luar biasa pada Gorou. “Kazuha.”
“Gorou.”
Lalu keduanya diam.

“Uh, Gorou? Saya boleh tanya?” Gorou mengangguk, walaupun masih mengalihkan pandangannya.
“Mau nggak…” Kazuha mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya, “...mau nggak sampai seterusnya kita beli satu plastik es teh buat kita berdua? Seterusnya pulang sekolah bersama? Seterusnya lihat saya di pinggir lapangan sepak bola yang nonton kamu bermain? Saya suka kamu, Gorou.”

☆☆☆

Notes:

I was possessed by my corny ass teenlit serial cantik reader ass, hope it doesn't sounds so?? cliché?? (2)

Tidak di-beta read dan tidak di-proofread. Mohon maaf kalau ada kesalahan T_T

Entry buat #GFFBackToSchool karena saya suka highschool au. Lengkapnya cek di sini.

 

additional note:
List nama saudara Gorou (in case ada yang tertarik sama HC saya HAHAH) (also biar saya nggak lupa)

Ichirou (♂), Jirou (♂), Hitoha (♀), Saburou (♂), Futaba (♀), Gorou (♂), Rokurou (♂), Shichirou (♂), Mitsuha (♀), Hachirou (♂), Yotsuha (♀)