Work Text:
“Tan—ngh…!”
Dengan susah payah tangan kanan Jeno menggapai pinggul ramping yang sedang bergerak maju mundur dengan tempo cepat—berusaha menahan gerakannya agar tidak menggenjot analnya yang sudah luar biasa ngilu.
“Tan… AH! Tante—hiks, udah Tan… nggak kuat…”
Rasa nyeri yang menjalar di seluruh badan ia salurkan dengan mengencangkan cengkraman pada kain sprei. Hanya itu yang dapat ia lakukan ketika si Tante tidak kunjung memberinya belas kasihan, padahal ini adalah ejakulasinya yang kedelapan.
Tangan lemas Jeno pun tidak mampu lagi menahan pergerakan pinggul Tante Reni. Saking tidak ada tenaganya, tangan laki-kaki itu hanya bisa dengan lunglai menyentuh perut yang lebih tua—sehingga si Tante masih dapat dengan leluasa menghujam kontol tegangnya keluar masuk lubang bengkak pecun langganannya.
Tanpa repot-repot merespon permohonan yang lebih muda, Reni menarik kemaluannya hingga hanya tersisa ujungnya. Cincin anal Jeno yang sudah sangat menggembung karena iritasi terasa ketat menyelubungi kepala kontolnya yang gendut. Hah, enaknya mengentot brondong. Belum lagi selangkangan, pantat, hingga paha Jeno yang memerah kini terlihat lengket dan basah karena dikotori dengan peju—pemandangan itu membuat nafsunya semakin menggebu-gebu. Kalau lacurnya semengundang ini, bisa-bisa Reni tambah 3-5 ronde lagi.
Seluruh berat badannya kemudian ia limpahkan ke arah Jeno, hingga tubuh anak SMA itu seperti terlipat jadi dua. Kedua kaki kekar yang ada pada pundaknya bergetar hebat karena posisi ini membuat sodokannya lebih dalam.
“NGH—AKH! TANTEEE!”
Tubuh lemas Jeno spontan meronta-ronta heboh ketika Tante Reni berusaha memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam lubang rektumnya yang sensitif. Ia hanya bisa meringis sambil sesekali mendesis karena anjinggg, Tante Reni seperti nggak habis-habis mendorong kontolnya masuk. Laki-laki itu kemudian menjengit karena pada sodokan terakhir si Tante sengaja menghentakkan penisnya dengan kasar—sampai-sampai kepala yang lebih muda membentur headboard kasur.
Perempuan paruh baya itu kembali menarik penisnya keluar, yang disambut dengan gelengan panik beserta protes heboh dari laki-laki di bawahnya,
“Tan, jangan Tan… Jeno udah nggak kuat…”
Lagi-lagi penolakan laki-laki itu dianggap angin lalu; karena Reni kembali menarik penisnya hingga ujung, melumat bibir si ABG sewaan agar tidak banyak protes, lalu menyentak kemaluannya masuk dalam satu dorongan.
Teriakan nyalang kembali memenuhi kamar hotel itu, yang dilanjut oleh bunyi tepukkan antar kulit beritme cepat.
Tangis yang sedari tadi berusaha Jeno tahan akhirnya pecah juga. Remasan pada kain sprei sudah tidak bisa mendistraksi rasa ngilu yang ia rasakan sekarang. Nyeri yang timbul karena prostat sensitifnya terus menerus distimulasi sekarang dibarengi dengan rasa tidak nyaman pada perutnya yang seperti dikocok-kocok; tidak lain karena penetrasi yang terlalu dalam oleh kontol besar si Tante.
“Jeno sayang…”
Hentakan pada analnya masih sama kuat.
“Jeno masih mau beli handphone sama bayar SPP, ‘kan?”
Susah payah Jeno berusaha meraup napas di sela-sela rintihan dan tangisan. Kepalanya terasa kencang karena tidak bisa berhenti menangis.
Dengung pada telinganya membuat bocah itu tidak bisa mendengar perkataan yang lebih tua, sehingga ia pun tidak menyadari kalau perempuan itu sedang menunggu jawaban.
Tiba-tiba saja kepalanya tersentak ke atas, dan kulit kepalanya terasa nyeri luar biasa. Mata Jeno yang sebelumnya tertutup langsung terbelalak kaget karena rambutnya dijambak mendadak.
“Jawab.”
Jeno hanya bisa membuka-tutup mulutnya bingung, kesulitan untuk merangkai jawaban karena pertanyaannya saja ia tidak tau. Otaknya pun terasa buntu karena kepayahan menghadapi stimulasi tak henti-henti dari perempuan itu.
Belum sempat menjawab, cengkeraman pada rambutnya mengetat, yang membuat Jeno mendesis kesakitan dan secara tidak sadar mengeratkan dinding analnya,
“Shhh—fuck, dasar lonte tolol, harus saya ulang omongannya?”
Yang lebih muda hanya bisa menanggapi dengan anggukan dan lirihan.
“Kamu masih harus bayar SPP dan kepengin beli handphone baru, ‘kan?”
Lagi-lagi respon yang bisa Jeno berikan hanya anggukan. Jawaban verbal tidak lagi mampu lagi ia berikan karena rahangnya sudah terkunci akibat digigit keras-keras.
“Kalau gitu,” perempuan itu memposisikan kedua tangan Jeno pada belakang lututnya, menyuruh laki-laki itu untuk menahan kakinya sendiri, “kamu nggak ada hak nyuruh-nyuruh saya.”
Ia kemudian menarik rambut Jeno sehingga kepalanya menekuk ke arah perut, kemudian mulai menggenjot lubangnya lagi.
Posisi ini membuat Jeno dapat dengan jelas melihat penisnya yang sekarang berwarna merah terang terkulai loyo di atas perutnya. Keluar delapan kali membuat kontolnya sudah tidak dapat berdiri lagi. Bahkan air mani yang keluar bukan lagi berwarna putih keruh, tapi sudah bening dan encer.
Leher dan mukanya seketika terasa menghangat setelah ditampar realita. Semua ini sungguh memalukan. Demi bisa bebas jajan dan lancar sekolah, ia rela dipakai sampai mentok oleh perempuan yang umurnya hanya berbeda enam tahun dari ibunya. Lebih parahnya lagi, dari segi ukuran, badan Jeno jauh lebih besar daripada perempuan itu. Harusnya, sebagai lelaki bertubuh tinggi besar, Jeno jadi pihak yang mendominasi, mengontrol, menguasai. Tapi kalau sudah bertemu di kasur dengan si Tante, ia selalu berakhir jadi pihak yang bertekuk lutut dan menurut.
Melihat Jeno yang terpaku dengan apa yang ada di hadapannya, Reni ikut mengarahkan pandangannya kepada objek perhatian laki-laki itu. Gelak tawa tidak mampu ia tahan ketika menyadari bahwa ada pemandangan yang sangat menyedihkan di bawahnya. Setiap kali analnya disodok, kemaluan Jeno hanya bisa berkedut-kedut lemas, dan saat prostatnya ditusuk, lubang pipisnya melelehkan lendir cair dan transparan. Ah, ini alasan lain enaknya nyewa brondong. Nggak banyak mau tapi dijamin puas.
“Mmmh, liat, ‘tuh, itil kamu,” dengan sengaja secara beruntun Reni menargetkan prostat Jeno, “nggak berhenti kedutan kalau saya genjot.”
Yang diajak bicara hanya bisa menahan malu. Tubuhnya yang terhentak-hentak membuat penis lemasnya ikut geleparan. Lewat tangan, Jeno dapat merasakan otot pahanya mengencang setiap kali titik sensitifnya ditekan oleh kepala kontol gendut si Tante.
Seperti belum puas mengerjai Jeno, puting kiri laki-laki itu dikorek menggunakan kuku runcingnya. Daging kecil yang sudah bengkak karena sebelumnya dihisap dan digigit sekarang digaruk dan dicubit-cubit. Tangis sesenggukan Jeno kini bergantian dengan desahan tersengal. Tubuhnya mengejan hebat karena stimulasi baru yang ditambahkan.
“Fuck, udah dientot berjam-jam memek kamu masih aja rapet, sayang.”
Akumulasi dari berbagai rangsangan yang diberikan Tante Reni, ditambah dengan pemandangan indah di depan mata berupa toket besar si Tante yang naik turun seiring dengan genjotan sadisnya membuat Jeno semakin ingin muncrat.
“Tante… mmhh… Tante…! Nggak kuaatthh… hnghhh… nggak kuat!”
Bulu kuduknya meremang ketika kram di perutnya terasa semakin intens. Beberapa sodokan setelahnya seluruh tubuh Jeno kembali kejang-kejang tak terkendali. Tapi tidak seperti ejakulasi-ejakulasi sebelumnya, ejakulasi yang sekarang sungguh tidak memuaskan. Penis lemasnya tidak lagi bisa memuncratkan sperma kental, yang keluar hanya lendir encer yang sama dengan cairan yang berkubang di pusarnya. Lubang kencingnya pun terasa panas setelah klimaks.
Tidak ada ekstasi panjang atau euforia pasca orgasme, yang ada hanya denyut kepala yang semakin menjadi-jadi dan tubuh yang terasa kebas.
Sayup-sayup Jeno dapat mendengar Tante Reni mendesah di atasnya, “Ah, ah, ah, anjing, iya rapetin terus memeknya, sayang. Emang nggak salah Tante nyewa kamu, fuck–ah…”
Mungkin rasa pedih dan linu pada lubangnya membuat segala sakit yang ia rasakan pada bagian-bagian lain di tubuhnya seperti tidak ada apa-apanya. Buktinya Jeno tidak lagi bisa merasakan sakit pada kulit kepalanya, padahal rambutnya masih terus dicengkeram hebat. Mengukur seberapa intens rasa sakitnya sekarang, Jeno yakin ada bagian analnya yang lecet akibat genjotan brutal si Tante.
Hentakan pinggul Tante Reni yang eraktik diakhiri dengan tiga sentakan keras, dan Jeno dapat merasakan lubangnya diisi penuh oleh sperma kental dan hangat milik perempuan itu. Sensasi tersebut membuat seluruh tubuhnya menggigil. Perih yang ia rasakan sebelumnya mereda setelah cairan tersebut menyelimuti seluruh rongga analnya. Genjotan Tante Reni juga terasa lebih licin, sehingga friksi antara penis perempuan itu dan dinding rektumnya yang lecet menjadi tidak terlalu intens.
Sambil masih terus memompa kemaluannya keluar masuk, Tante Reni menciumi pipi lembab Jeno,
“Pinter banget, sayang, bikin enak Tante,”
Jeno rasa inderanya sudah dibuat konslet oleh yang lebih tua. Badannya seperti tidak lagi memiliki tulang. Periferi pandangannya mulai menggelap ketika perempuan itu melanjutkan perkataannya,
“Tante jadi makin nggak sabar ngewein kamu sampe memek kamu ngowoh nggak bisa nutup,”
Hentakan keras selanjutnya dapat Jeno rasakan sampai ke perut,
“Tante pake terus, ya, memeknya sampe bocor?”
