Actions

Work Header

Drabbles On Road

Summary:

Hasil request drabble. Each chapter has their own tags.

Chapter 1: MamaLeo Mutual Pining

Chapter Text

DRABBLES ON ROAD

Fandom: Ensemble Stars

Pairing: Mikejima Madara x Tsukinaga Leo

Mutual Pining

 

Teh Eichi sudah habis setengah cangkir ketika ia melihat pemandangan dua sahabat memasuki kafetaria sambil bergandengan tangan. Tangan yang terpaut itu tidak diam, tapi bergerak seiring langkah ke depan dan belakang bagai anak kecil yang senang bisa pulang bersama temannya.  

Manik biru langit mengamati dalam diam ketika dua sahabat dengan perbedaan tinggi yang terlihat jelas itu memesan makanan dan berbalik membawa nampan. Kali ini sudah tidak bergandengan tangan tapi jelas tubuhnya menempel bagai terkena magnet. Matanya bersibobrok dengan zamrud yang langsung melambaikan tangan riang, nyaris menumpahkan nampan di tangan kalau bukan karena tangan sigap Madara yang membantu. Sudut bibir Eichi tertarik tinggi ketika mendapati wajah Madara yang berkerut masam ketika melihatnya.

“TENSHIIII.” Suara kursi yang ditarik di hadapan membuat seringai tadi berubah menjadi senyum tulus.

“Tidak usah berlari seperti itu, Leo-kun.”

“Tidak ku sangka kau akan cukup sehat untuk sarapan di sini pagi ini, Tenshouin. Kemarin habis pingsan katanya?”

“Hanya terlalu lelah seperti biasa, Mikejima-kun. Terima kasih sudah khawatir.”

Mereka bertiga makan dalam damai.

Lebih tepatnya, Eichi makan dalam damai. Memperhatikan dua insan di hadapannya berceloteh riang sembari sarapan.

“Mikejimama! Ini enak! Ayo coba aaaaa—”

“Aaaa—” Madara menerima suapan dari pemuda mungil itu, tidak memperhatikan satu alis sang emperor yang bergerak naik melihat tingkah laku mereka.

“Saya tidak tahu kalau kalian ternyata tipe yang suka menunjukan kemesraan di muka umum.” Teh yang mendingin di cangkir terlupakan, adegan di hadapan sepertinya jauh lebih menarik.

“Aku tidak bermesraan di muka umum, Tenshiiii!” Walau tipis tapi Eichi menyadari semburat merah di pipi itu. Manik Madara menatap tajam, tapi tidak ada ancaman. Eichi mengambil kesimpulan bahwa aman untuk melanjutkan.

“Saya dengar dari Ritsu-kun kalau minggu lalu Mikejima-kun ikut menjemput mu ke bandara.”

“Oh ayolah Tenshouin!” Madara menyandarkan tubuh besarnya ke kursi. Tangannya bersedekap di dada dengan mata tajam menyelidik. “Apakah seaneh itu menjemput kawan sendiri?” Seringai menyebalkan terlihat.

“Ohiya lupaaaa, ga punya teman ya?”

“Mikejimama ja—”

“Lalu katanya kemarin ada yang makan malam berduaan—”

“OH ITU!” Leo menelan makanan di mulut sebelum melanjutkan. “Mikejimama bilang ia masak terlalu banyak~ Jadi aku diundang untuk makan malam berdua wahahaha!”

Eichi membuka mulut untuk menlanjutkan, tapi belum sempat sepatah kata pun keluar Madara memotong.

“Kau memata-matai kami, Tenshouin?”

 Eichi tampak berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Benar.” Teh dihabiskan dalam tiga tegukan. Ekspresi wajah menunjukan tidak menikmati rasa teh yang mendingin.

“Lebih tepatnya, baru mulai memutuskan untuk memperhatikan setelah saya mendengar gosip yang…agak lucu di kelulusan kemarin.

“Huh? Gosip ap—?”

“Kalian berpacaran?”

Madara tersedak nasi.

“HAH NGACO BANGET?”

“Iya ngaco ba—sebentar Mikejimama, kamu ga mau pacaran sama aku?”

“BUKAN BEGITU TAPI—eh emangnya kamu mau?”

Eichi menghela nafas, lelah.

“Back then when you carried Leo—”

“Itu karena aku habis jatuh!”

Madara menenggelamkan wajah pada tangkupan tangan.

“Kami itu hanya teman, Tenshiiii. Benar!” Leo menunjukan dua jarinya yang membentuk tanda peace.  

“Kalian berdua tidur berpeluka—”

“Mikejimama bilang lagi ingin tidur bareng!”

“Juga cium pipi?” Satu alis terangkat.

“Bonus cium pipi!” Leo menjawab mantap.

Madara mau pulang.

“Leo-kun.” Eichi menatap lurus ke manik zamrud. Senyum trademark terlukis jelas di paras.

“Apa semua yang saya jabarkan tadi, hal-hal yang kalian lakukan, terdengar seperti hal normal yang dilakukan oleh dua orang sahabat?”

Gebrakan meja terdengar bersamaan dengan suara kursi didorong ke belakang. Tubuh mungil Leo diangkat dengan mudah.

“Kami pergi, Tenshouin. Nikmati sarapan mu sendiri haha.”

“Melarikan diri, Mikejima-kun? Mau sampai kapan?”

“Belum saatnya.” adalah jawaban singkat yang didapatkan sebelum dua sosok itu menghilang dari kafetaria. Tentu saja dengan dibumbui protes dari yang diangkut bagai karung beras.

Mungkin nanti, ketika mereka sama-sama menyadari bahwa perasaan saling berbalas, mereka akan berani untuk mengungkapkan kepada satu sama lain.