Work Text:
Malam pertama.
Satu-satunya hal yang mampu mengubah tingkah seorang Michael yang arogan tiba-tiba gugup menunggu suaminya yang bergiliran membilas diri di kamar mandi.
Michael terduduk di tepi ranjang dengan hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Tadinya pikirannya sedang melambung tinggi memikirkan kira-kira apa yang harus dilakukan olehnya di malam pertama mereka.
Michael mengacak-acak rambutnya, tidak menyadari kalau Sae baru saja keluar dari kamar mandi. “Ada apa kok kamu sampai jambakin rambut gitu?”
“Eh!” Sontak Michael langsung berdiri tegak. Entah setan apa yang merasukinya sampai-sampai gelagatnya jadi aneh begini. Pasti Sae akan berpikir bahwa dirinya aneh. “Nggak kok gak ada apa-apa.”
“Kamu nyesal kah nikahin aku?”
Niat hati hanya ingin menggoda karena biasanya Michael yang sering mengisenginya setiap kali mereka sedang berduaan, tapi bukannya tertawa justru ekspresi Michael berubah serius.
Pacar–suaminya itu langsung mencengkeram lengan Sae dan berkata, “jangan ngomong sembarangan. Aku gak berpikiran kayak begitu.”
“Aku cuma mau goda kamu, tapi gak berhasil ya? Maaf.”
Lantas tatapan tajam tersebut luntur begitu saja menyadarkan Michael bahwa dia salah paham dengan ucapan Sae barusan. Ia menerima kecupan pada rahangnya yang diberikan oleh suaminya. “Maaf, love, aku… aku gugup. Please don’t laugh at me.”
“Nggak. Aku cuma kaget ternyata Michael Kaiser bisa gugup juga. Dan, wow, ini pertama kalinya kamu bakalan ngelakuin seks.”
“No, sex sounds wrong to me. Aku mau bercinta sama kamu. Also, darling, emangnya kamu kira aku pernah tidur sama semua orang yang aku suka?”
Sae mengedikkan bahu, “Siapa tahu ‘kan.” Ia mendorong tubuh Michael supaya duduk kembali di tepi ranjang.
“Satu lagi—nama kamu juga sekarang Kaiser,” katanya seraya merangkul pinggang Sae saat dia naik ke pangkuannya. “Sae Kaiser. That's hot.”
“Lebay.” Sae menengadahkan kepalanya memberikan kesempatan bagi Michael untuk mencumbui lehernya. “Kamu gak mau lepas ini?” pertanyaan tersebut ditujukan pada ujung handuk yang sama sekali tidak melakukan tugasnya dengan baik karena buktinya Sae bisa melihat rambut kemaluan Michael yang mengintip dari balik handuk.
“Kamu yang lepasin.”
Namun, Sae turun dari pangkuan Michael dan memberikan pertunjukkan luar biasa dengan menanggalkan gaun ganti dari tubuhnya. Memperlihatkan tubuh mulusnya di depan mata Michael yang langsung membola. Sae melirik ereksi Michael yang menegang bersembunyi di balik handuk yang sedang Sae buka.
“Sae,” Michael melenguh resah karena merasa Sae sengaja mengulur waktu. “Mau kamu. Aku mau kamu, ya?”
Anggukan kepala dari Sae diberikan sebagai jawaban atas permohonan Michael yang tentu saja membuatnya gembira bukan main. Sae tidak diberikan waktu untuk terkejut sewaktu tubuhnya dengan tiba-tiba ditarik begitu saja sampai berbaring di atas ranjang dengan sepasang mata biru yang menilik tubuhnya dari atas sampai bawah. Pandangan penuh cinta dan nafsu bercampur menjadi satu sehingga Sae tersadar bahwa tubuhnya terekspos penuh untuk Michael.
“Jangan dipandang begitu. Malu.” Sae hendak menarik selimut guna menutupi badannya namun tangannya ditahan oleh Michael.
“Nggak perlu malu. Sorry kalau kamu jadi gak nyaman. Maaf, sayang,” bukan maksud hati Michael mendatangkan perasaan tidak nyaman bagi Sae. Dia hanya sedang mengagumi Sae dari sudut pandangnya yang begitu sempurna… serta indah. “Aku boleh sentuh kamu?”
Sekali lagi pertanyaannya dibalas dengan anggukan. “Boleh. Kamu boleh sentuh. Cintai aku lebih banyak malam ini, Michael.”
Dan, mustahil jika dia tak menitikkan air mata mendengarnya. Oh Tuhan, betapa besar cinta Michael untuk Sae. Kemudian perlahan-lahan Michael mengikis jarak di antara wajah mereka, mempertemukan bibirnya dengan Sae sebagai pembuka untuk malam panjang sambil menunggu matahari keluar dari tempat persembunyiannya.
—✧—
Michael Kaiser adalah pria yang simpel. Dia akan langsung bertanya, “mau keluar di dalam atau di mulut, sayang?” tanpa peduli Sae yang meracau tidak karuan di bawah kungkungannya. “Kamu gak jawab berarti minta di dalam, ya.”
Michael menahan diri karena dirinya merasa sedikit kesal sebab Sae terus-menerus memfokuskan seluruh kenikmatannya pada bantal yang dipeluk begitu erat dibandingkan memeluk tubuhnya.
Padahal usia pernikahan mereka kurang lebih hampir tiga tahun namun Sae masih suka malu untuk memperlihatkan wajahnya ketika sedang disetubuhi oleh suaminya.
“Sayang,” Michael menyingkirkan bantal yang berada di dalam pelukan Sae. “Sayang, kenapa kamu malah jadi peluk bantal terus?”
Sae mendengus karena satu-satunya bantal yang tersisa di atas ranjang bernasib sama dengan yang lainnya yaitu tergeletak di lantai. Kedua lengannya dituntun supaya melingkar di bahu Michael. “Emangnya kenapa? Ahh… Michael–tunngh…”
Tanpa memberikannya kesempatan untuk berbicara, Michael menekan penisnya lebih dalam sampai ujung kaki Sae menekuk. Senyuman bangganya terlukis di bibir. “Enak, sayang?” Pertanyaannya mendapatkan jambakan dari suaminya. “Enak, ya.”
Ketika mereka sedang bercinta Michael selalu mengutamakan kenikmatan Sae di atas segala-galanya. Kalau keegoisannya ada di tingkat nomor satu, berarti Sae masih ada di tingkatan atasnya lagi. Tak ada satupun yang mampu bersaing dengan suami tercintanya meski Michael berikan pilihan antara Sae atau dunia. Tentu saja tanpa perlu berpikir dua kali dirinya akan memilih Sae.
Membahagiakan Sae adalah salah satu tujuan hidup Michael selain mencintainya.
“Sae. Sae. Sae… fuck.” Michael menenggelamkan wajahnya di leher Sae yang lengket karena keringat namun dia tidak peduli. Ia menyebutkan nama Sae berulang kali bagaikan sebuah mantra tanpa menyadari bahwa suaminya tersenyum tipis karena menyukai tingkahnya yang sebentar lagi ejakulasi.
Sae tahu Michael sebentar lagi mencapai puncaknya jika sudah meracau dan temponya tidak lagi terkontrol.
Dia mendesah tepat di belakang telinga Michael sembari mengeratkan pelukannya pada kekasihnya sebelum beberapa sekon kemudian hentakan terakhir dari Michael yang menekan ereksinya ke bagian terdalam Sae.
Keduanya sama-sama melenguh panjang sampai akhirnya Michael membiarkan tubuhnya terjatuh di atas Sae. Ia menoleh dan mencium pipi yang tercinta sebelum ikut berbaring di sebelahnya. “Ich liebe dich.”
Sae membiarkan salah satu tangannya digenggam erat yang kemudian diangkat tinggi menyadari kebiasaan Michael selalu memandangi cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. Melingkar dengan sempurna. “Aku harus bales pakai bahasa yang sama juga?”
“Nggak dibales pun gak apa,” jawabnya sambil menarik tubuh Sae ke dalam pelukan yang mendapatkan keluhan karena Sae tidak suka tubuhnya yang lengket oleh peluh. “Ih kenapa gitu?”
“Nggak suka. Lengket. Mau mandi.” Baru saja ingin bangkit tiba-tiba badannya ditarik paksa kembali ke pelukan. “Kaiser, lepasin. Aku mau mandi.”
“Kaiser? Siapa sih Kaiser tuh aku nggak kenal.”
Tahu betul sifat keras kepala Michael membuat Sae mau tak mau berhenti memberontak. “Terus kamu mau kita tidur dalam keadaan lengket begini? Aku sih najis ya sama kamu.”
Michael mencubit gemas bibir suaminya. “Najis najis begini kamu juga cinta berat. Habis manis sepah dibuang ceritanya? Aku ‘kan habis bikin kamu enak.”
“Nggak usah alay deh, Kaiser.”
“Kaiser di sini ada dua,” tutur Michael yang mengubah posisinya jadi duduk kemudian membalikkan tubuh Sae jadi bertelengkup mempertontonkan bokong polosnya. Michael bersiul ketika menyaksikan anus Sae yang tak sanggup menampung seluruh spermanya.
Lalu Sae menendang perut Michael dengan pelan namun Michael malah menariknya sampai berakhir di atas pundak bertato mawar beserta akar yang menjalar di lengan sebelah kiri. “Udah, Michael. Aku udah nggak sanggup.”
“Satu kali lagi, ya? Please, love.”
“Kamu udah bilang begitu tiga kali. Kalau kamu gak mau wajahmu babak belur sekaligus tidur di ruang tamu selama dua minggu… turutin omonganku.”
“Emangnya tega?”
“Kenapa harus gak tega sama kamu?”
“Tunggu satu jam lagi deh, boleh?”
Sae memiringkan tubuhnya. Ujung kakinya menyentuh perut Michael kemudian bergerak naik sampai ke dada bidangnya. “Ini perutku udah penuh sperma kamu kayaknya nanti orang lain kira aku lagi hamil.”
Begitu mendengar ucapan yang blak-blakan tersebut sukses membuat wajah Michael memanas karena langsung muncul bayangan seperti apa saat Sae sedang hamil tua nanti. Perut besarnya yang membulat. Ia langsung menghambur dan mengusalkan wajahnya di perut Sae yang masih berotot.
“Kamu pasti tambah cantik kalau perutnya udah besar nanti.”
“Ganteng juga gak? Masa cuma dibilang cantik aja.”
Sebuah anggukan kepala ragu-ragu membuat Sae terkekeh. “Iya… ganteng juga.”
“Kamu kayak orang gak ikhlas.”
“Soalnya di mataku kamu cantik banget.”
Sae menghadiahkan cubitan di pipi Michael. “Berhenti ngegombal karena aku tetap gak akan kasih satu ronde tambahan.”
“Nggak mengharapkan itu kok… Aku emang lagi muji suamiku.”
“Masa?”
“Iya. Serius. Sumpah.”
“Terus ini jari kamu ngapain tekan prostatku?”
“Hehehe…”
—✧—
Michael itu lebih suka seluruh mata tertuju padanya. Oleh karena itu, dirinya memilih untuk meniti karir menjadi model ternama yang telah mendunia di usia muda membuat namanya melejit sebagai seorang model dengan tawaran terbanyak dan paling mahal. Profesinya tersebut mengharuskan Michael bepergian dari satu negara ke negara lain demi tuntutan pekerjaan yang mana terkadang membuatnya sedih sebab harus meninggalkan suaminya seorang diri meski Sae tidak pernah memiliki masalah walaupun Michael harus pergi selama setengah tahun.
Terkadang Michael suka bertanya-tanya apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Sae begitu tahu dirinya akan meninggalkannya cukup lama karena urusan pekerjaan. Sebab setiap kali Michael membawakan kabar dan reaksi yang diberikan oleh Sae hanya anggukan kepala juga ekspresi wajah datar.
“Aku rindu suamiku,” ujarnya sambil mengecup layar ponsel yang kemudian mendapatkan tawa kecil dari penata rias yang sedang mendandaninya. “Nggak boleh ketawa ya karena kamu juga bernasib sama denganku.”
Wanita tersebut menyengir lebar. “Aku memaklumi kamu yang masih pengantin muda. Kamu bilang suamimu itu pemilik perusahaan bukan? Dia pasti juga sama sibuknya mengurus perusahaan besar. Coba sehabis sesi foto ini selesai kamu menghubunginya.”
Bibirnya mengerucut. Benar juga, Sae jauh lebih sibuk darinya yang mengurus perusahaan seorang diri–tidak, berdua dengan adik iparnya. Ah menyebalkan kalau teringat Rin, adik ipar, yang sampai sekarang masih menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap Michael sebagai suami dari kakak laki-lakinya.
Setiap kali Michael berusaha untuk bermanjaan dengan Sae ketika mereka sedang mengunjungi rumah orang tua Sae… di sana sudah pasti ada Rin yang terus mencuri Sae darinya. Seakan-akan tidak sudi kalau kakak laki-lakinya dirangkul mesra oleh suaminya sendiri. “Asal lo tau ya, dek. Kakak lo itu selalu gue bikin enak tiap malam.”
Mungkin Rin sudah langsung mengajaknya berguling sambil memberikan pukulan pada wajah masing-masing kalau saja tidak ada Sae di tengah-tengah mereka yang melipat kedua tangan di depan dada. “Besok aku siapkan ring biar kalian bisa saling sumbang tinju.”
“Kaiser. Sudah waktunya sesi foto. Kaiser?”
Ketiga kali namanya disebut berhasil membuyarkan seluruh lamunan Michael. Ia melihat pantulan dirinya dari cermin dan memuji ketampanan seorang Michael Kaiser yang tak tertandingi. Langkah kakinya terhenti ketika mendapatkan dua orang pria yang akan menjadi pasangannya dalam sesi foto hari ini membuat Michael membuang napas frustrasi.
Dia sempat melupakan bahwa profesinya tak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan model lain terlebih lagi dengan tema pemotretan yang kadang berlebihan sehingga membuat Michael tidak nyaman walaupun berujung tetap memenuhi tanggung jawabnya sebagai model profesional.
Ada kalanya Michael bersyukur atas sikap acuh tak acuh Sae terhadap tuntutan pekerjaannya apabila dia mendapatkan tawaran untuk melakukan pemotretan hanya berdua yang kemudian diarahkan untuk berpose mesra dan lumayan intim.
Michael memasang raut wajah datar dengan tatapan tajam yang membuat keberanian kedua model di depannya hilang dalam kedipan mata.
“Saya harap pemotretan hari selesai dengan cepat, ya. Jadi kalian berdua jangan menyusahkan pekerjaan saya. Fuck, kenapa saya harus bekerja dengan model tak berpengalaman seperti orang-orang ini sih?” tanyanya sambil berkacak pinggang. Berjalan melewati dua orang yang membungkuk meminta maaf meski sejujurnya mereka sama sekali tidak melakukan kesalahan.
Semua staf yang berada di ruangan tersebut paham betul bagaimana tingkah seorang Michael Kaiser ketika telah berada di dalam ranah pekerjaannya. Dia berubah menjadi orang yang paling profesional merangkap menyebalkan.
Akan tetapi, tak ada satu orang pun yang berani berkomentar karena memang Michael selalu melampaui ekspektasi semua orang. Setelah hampir lima belas menit pemotretan mulai tiba-tiba manajer pribadinya berlari dengan raut wajah panik yang membuat jantung Michael berdebar-debar karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya.
Dia tahu ponsel yang dipegang oleh manajernya sedang terhubung dengan Sae. “Sayang, love, darling, are you okay?”
Dua kata berikutnya yang ditangkap oleh telinga Michael sukses membuatnya berlari meninggalkan ruangan tanpa peduli teriakan para staf karena sesi pemotretan belum selesai. “Aku hamil.”
—✧—
“Aku hamil,” ucapnya dengan benda mungil yang ada di tangannya menunjukkan tanda tambah bernasib sama seperti tiga test pack yang tergeletak di tepian wastafel. Alih-alih mendapatkan respons justru sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Michael. “Tolong jangan bilang dia langsung kabur dari tempat kerjanya…” Sae tiba-tiba menyesali keputusannya memberitahu kabar bahagia ini kepada Michael di jam kerja.
Hanya berselang sepuluh menit pintu ruangannya dibuka begitu saja tanpa diketuk lebih dahulu. Sosok Michael yang berdiri di ambang pintu dengan penampilan cukup berantakan, rambutnya sudah tak tertata rapi.
“Michael, kamu bukannya ada pemotretan hari ini?” Sae bangkit dari kursinya, mengabaikan tumpukan laporan yang harus ditandatangani hari itu juga.
“Sayang,” yang dipanggil namanya menghambur ke arah Sae. “Kamu… kamu—” Michael kesusahan merangkai karena tak kuasa membendung air mata. Pertanyaannya malah berganti menjadi isak tangis.
“Hei… kenapa kamu malah nangis?”
Menangis merupakan satu hal yang jarang atau bahkan mustahil ditunjukkan oleh Michael Kaiser yang terkenal dengan keangkuhannya sehingga banyak orang yang mengira dia tidak pernah menangis seumur hidupnya.
Padahal mereka tidak akan menduga-duga bahwa Michael tentu saja pernah menangis dua kali; ketika berdiri di atas altar bertukar pandang dengan Sae yang sedang berjalan ke arahnya dan sekarang dia menangis di hadapan Sae setelah mengetahui anggota keluarga mereka bertambah satu.
“Aku sering bayangin kita punya keluarga kecil sendiri. Kamu ‘kan tahu nggak masalah buatku harus tunggu lama karena selama aku punya kamu, itu udah lebih dari cukup. Tapi, kamu justru kasih kabar bahagia ini lebih cepat dari yang aku kira and I…”
Sae mengulum senyum, menyapukan tangannya ke pipi Michael, “Jadi kamu senang atau gak?”
“Senang banget. Makasih. Aku–aku gak tahu harus berkata apa… cuma bisa bilang terima kasih dan aku sayang kamu. I love you.”
Sae dapat menyadari keraguan saat Michael hendak memeluknya. Oleh karena itu, dirinya berinisiatif untuk merangkul tubuh suaminya seraya berbisik, “kamu gak bakalan melukai bayi kita hanya karena kamu mau peluk aku, Michael.”
Bayi kita.
Oh, Tuhan, bukankah itu terdengar membahagiakan?
Dan, ya, Michael Kaiser menangis untuk ketiga kalinya di hadapan Sae.
Kali pertama baik bagi Michael juga Sae membuat janji dengan dokter kandungan atau mungkin lebih tepatnya Sae yang menyewa dokter pribadi selama masa kehamilannya berlangsung, tentu saja Michael lebih setuju dengan keputusan suaminya dibandingkan mereka harus pergi ke rumah sakit yang penuh dengan banyak orang–bisa jadi kericuhan kalau ratusan pasang mata melihat pasangan ternama sedang mengunjungi dokter kandungan.
“Selamat ya atas satu bulannya!”
Satu bulan! Dokter bilang usia kandungannya sudah menginjak bulan pertama. Sae susah payah menahan diri untuk tidak memperlihatkan senyuman lebarnya. Buru-buru ia bertanya kepada Anri, dokter pribadi mereka, “Apa aku masih bisa bekerja? Maksudku Mbak ‘kan sudah tahu seperti apa keseharianku.”
“Aku gak bermaksud buat kamu takut, tapi trimester pertama itu beratnya bukan main. Kamu tidak boleh terlalu memaksakan diri. Risiko keguguran di trimester pertama cukup tinggi, jadi kamu paham maksudku ‘kan?” Anri mengetuk keningnya sendiri. “Terus jangan sampai stres berlebihan.”
“Urusan pekerjaanku gak pernah bawa stres. Sumbernya paling banyak malah dari dia,” jari telunjuk Sae tertuju pada Michael yang sejak tadi terdiam mendengarkan pembicaraan antara dirinya dengan Anri. “Rasa-rasanya aku jadi punya dua bayi cuma yang satunya bayi bongsor.”
“Aku nggak bayi ya!”
“Lihat ‘kan? Dia udah tantrum aja waktu aku bilang kayak bayi.” Sae sama sekali tidak menoleh ke suaminya karena tahu betul pandangan seperti apa yang sekarang Michael berikan kepadanya. Setelahnya, Anri menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh sepasang kekasih yang sangat antusias dengan kehamilan pertama Sae. Dia juga tak lupa memberikan informasi penting seperti makanan dan vitamin apa yang wajib dikonsumsi oleh Sae sampai beberapa bulan ke depannya.
“Anak papa harus tumbuh sehat ya!” Michael berbisik sambil mengusap perut berotot Sae setelah Anri telah meninggalkan rumah yang hanya menyisakan mereka berdua di rumah sekarang. “Papa sayang kamu.”
“Kamu tuh ngomong sama siapa? Dia belum punya telinga.”
Michael mendengus kesal karena Sae merusak suasana yang sedang dia bangkit bersama si buah hati. “Biarin aja. Kamu jangan ganggu begitu dong.”
“Terserahmu. Aku ngantuk jadi sekarang gendong aku ke kamar.”
“Oke.”
Sae mengalungkan tangannya pada leher Michael ketika tubuhnya dibopong dengan mudahnya. Tiba-tiba terbesit sesuatu di kepalanya, “kita lupa tanya sesuatu deh.”
“Tanya apa?”
“Lupa tanya kita boleh atau gak bercinta selama aku hamil.”
“Kamu–” dia terkekeh sebelum melanjutkan, “bisa-bisanya mikir ke arah sana.” Yah, lain kali ingatkan Michael bertanya tentang hal tersebut kepada Anri karena dirinya juga tidak sempat memikirkan apa pun selain mendengarkan penjelasan dokter pribadi mereka tentang si buah hati yang sekarang ada di dalam perut Sae.
—✧—
Trimester pertama terlewatkan begitu mudahnya berkat Michael yang selalu merawatnya serta bantuan yang Anri berikan selama Sae menjalani tiga bulan pertamanya dengan baik. Walaupun Michael bersikeras untuk berhenti sementara dari pemotretannya, tapi Sae terus membujuk suaminya bahwa dirinya akan baik-baik saja sebab masih ada Anri yang turut menjaganya sewaktu Michael sedang tidak berada di sisinya.
Kala itu Michael baru kembali dari New York kira-kira selang dua jam tertidur mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan. Sekonyong-konyong ia terbangun dan menoleh ke Sae yang duduk bersila mengusap-usap perut, kemudian bersuara, “Mau onigiri.”
Ia mengerjapkan matanya antara kebingungan dan kaget dibangunkan pada jam 3 pagi. “Kamu mau nasi kepal?” Sae menganggukan kepala. “Nasi kepal aja? Mau yang lain nggak?” Michael pun turun dari ranjang sesekali mencari atasan piama yang ternyata dipakai oleh suaminya. Piama tersebut tampak kebesaran untuk tubuh kecil Sae. “Kamu mau ikut ke dapur atau mau tunggu di sini?”
“Ikut.” Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Michael juga tidak menyalakan lampu di seluruh ruangan kecuali dapur dan ruang makan. Dalam hati merasa bersyukur karena sempat belajar membuat nasi kepal dengan ibu mertuanya jadi dia tidak perlu kalang kabut kalau-kalau Sae membangunkannya tengah malam karena mengidam nasi kepal seperti sekarang.
Sedangkan Michael yang sibuk membuatkan nasi kepal demi suami juga buah hati mereka, Sae duduk dengan manis sambil memuja punggung telanjang Michael yang tegas dari belakang. Dia tak akan secara terang-terangan mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. Namun, kadang kala apa yang diniatkan tidak sejalan dengan jalan pikiran karena pada akhirnya Sae kelepasan berbicara. “Seksi.”
Sendok yang berada di tangan Michael hendak menakar minyak wijen tahu-tahu terjatuh dengan suara keras. “Sorry, love.” Suaranya terdengar grogi.
“Hmmh.”
“Tunggu sebentar lagi, ya. Pesanannya hampir jadi baru bisa kamu makan yang puas.”
Sae menopang dagu, menyeringai meski Michael tidak bisa melihatnya saat ini. “Selain makanannya, aku juga mau makan kokinya.”
“Kamu jangan mulai deh.”
“Mulai apa?”
“Jangan pancing aku buat yang nggak-nggak.”
“Kamu ‘kan suamiku. Nggak-nggak gimana?”
“Sae…” Michael memperingatkan kekasihnya sebab Sae lebih memahami dia yang punya kesulitan dalam mengontrol diri. Selesainya membuat nasi kepal atas permintaan Sae, ia meletakkan piring dengan tiga nasi kepal berukuran sedang di depannya. “Selamat makan, sayangku.” Michael mencium pucuk kepala Sae sebelum memutuskan untuk duduk berhadapan dengannya. “Ayo dimakan biar kamu bisa langsung tidur ‘kan besok harus kerja setengah hari.”
“Aku gak usah masuk kerja aja ya besok? Mau ngewe sama kamu.”
“Habisin makanannya, Sae.” Michael menyuapkan nasinya ke Sae yang wajahnya langsung tertekuk karena jelas-jelas Michael secara sengaja mengganti topik pembicaraan mereka.
Tentu saja Sae tidak menghabiskan nasi kepal ketiganya dengan alasan sudah kenyang bodoh jadi dia menyodorkan nasi kepal yang terakhir di depan mulut Michael. Mengingat hormon suaminya yang masih belum stabil membuat Michael bergidik ngeri membayangkan Sae yang bisa saja tiba-tiba marah hanya karena Michael menolak untuk memakannya.
Cepat-cepat Michael melahapnya ketika melirik senyuman di bibir Sae luntur. “Thank you, love. Ayo sikat gigi dulu baru habis itu kita balik ke kamar.”
Sae mengiyakan ajakan dari Michael tanpa memberikan komentar apa pun. Dia juga tidak memberontak sewaktu Michael menggotong badannya sampai ke kamar, terlalu malas untuk bersuara ditambah rasa kantuk mulai menyapa. Bibirnya mengerucut karena Michael menurunkannya dari gendongan namun dengan cepat Michael segera berbaring di sebelahnya dan Sae bergerak mendekat sampai tidak ada jarak antara keduanya.
Michael tertawa membuat Sae mendongak. “Kenapa ketawa? Kamu pikir aku badut?”
Ia mendesis pelan karena perutnya jadi sasaran cubit Sae yang salah memahami tawaannya barusan. “Aduh! Kok aku dicubit sih?”
“Habisnya kamu ngetawain aku ‘kan.”
“Aku ketawa karena kamu lucu banget, sayang.”
“Aku gak percaya. Tukang bohong. Jelek lu.” Sae langsung berbalik, membiarkan punggungnya menghadap Michael namun ia tidak menjauh sama sekali. Lalu sekon berikutnya Sae sudah menemukan dirinya terisak. Ia menggerutu dalam hati karena suasana hatinya sangat mudah berubah beberapa minggu terakhir ini.
Dengan serta-merta Michael memeluknya dari belakang, mengecup tengkuknya berulang kali berharap bisa membuat tangisannya reda. “Darling, aku minta maaf. Aku gak bermaksud bikin kamu kesal.” Permintaan maafnya tak digubris sama sekali membuat Michael semakin merasa bersalah dan jadi tidak tenang. “Sayang, lihat aku dong.”
Memerlukan waktu sekitar sepuluh menit sebelum Sae kembali menghadap Michael yang ternyata kedua matanya juga sudah berkaca-kaca. “Kok kamu jadi malah ikutan nangis?”
“Nggak nangis.” Suaranya yang gemetar dan air mata yang jatuh bertolak belakang dari apa yang dia ucapkan. “Aku gak nangis.”
“Cengengnya…” Sae membawa Michael ke dalam pelukannya, mengusap punggung suaminya yang lekas menenggelamkan wajahnya pada leher Sae. “Nanti adik bayi ketawa kalau tau Papanya lebih cengeng dari dia.”
“Emang adik bayi bisa ketawa di dalam perut kamu?”
“Kadang kamu cocok dibilang beloon.”
—✧—
“Michael, pipiku tambah bengkak.”
Untuk kelima kalinya Michael mendengarkan keluhan yang sama dari suaminya yang terus-menerus memandangi wajah di depan cermin sambil menusuk-nusuk pipi gembilnya menggunakan jari telunjuk. Michael kelimpungan harus memberikan respons seperti apa yang tidak membuat nyawanya berada di ujung tanduk.
“Porsi makanku juga tambah banyak ‘kan. Kayaknya aku harus diet.”
“Sayang, kamu ‘kan makan untuk dua orang. Jadi wajar kalau porsi makan kamu bertambah toh biar adik bayinya tumbuh sehat di perut kamu.”
Michael mengulang semua hal yang diberitahukan oleh Anri beberapa hari lalu datang berkunjung. Sae telah memasuki bulan kedua pada trimester terakhirnya yang berarti tersisa satu bulan lagi sebelum keduanya dapat menggendong bayi mereka. Omong-omong tentang bayi, mereka sepakat untuk tidak mengecek jenis kelamin si buah hati karena Sae mau hal tersebut menjadi kejutan baginya dan Michael.
Oleh karena itu, Sae menyarankan Michael untuk tidak perlu tergesa-gesa membeli semua barang atau peralatan yang dilihatnya setiap kali mereka pergi untuk berbelanja beberapa baju bayi yang bisa digunakan untuk laki-laki dan perempuan. Kalau-kalau Sae tidak pernah ikut setiap kali Michael pergi ke mal boleh jadi Michael menggunakan ratusan juta membayar setiap barang yang ditunjuk olehnya.
“Nanti kamarnya dia harus bersebelahan sama kamar kita.”
“Kata kamu mendingan beli empat atau enam kamera pengawas? Tujuh?”
“Adik bayi suka tempat tidur yang kayak gimana, ya?”
“Michael,” Sae mengusap lengan suaminya sehingga Michael berhenti mengoceh panjang kali lebar. “Adik bayinya harus satu kamar sama kita sampai beberapa bulan. Kita cuma perlu satu baby monitor buat ditaruh di kamar dia nantinya.”
“Oke. Oke. Ide bagus.” Ia mengangguk setuju dengan jawaban Sae.
Dadanya terasa hangat begitu mengetahui bahwa Michael sama besar antusiasnya menunggu kedatangan anak pertama dalam keluarga mereka. Ada berjuta rasa yang tak dapat Sae ungkapkan dengan kata-kata, betapa bersyukur dirinya memiliki Michael yang sangat mencintainya. Sae sempat berburuk sangka bahwa tidak akan ada satupun orang yang mau menghabiskan sisa hidup mereka dengannya namun prasangka buruknya dipatahkan saat Michael datang ke dalam hidupnya.
Hubungan mereka tidak selamanya mulus sebab dua kepala yang berarti dua pemikiran berbeda. Ada kalanya Michael tidak setuju dengan pendapat Sae atau sebaliknya. Setiap pasangan pasti menghadapi lika-liku dalam hubungan mereka, tidak terkecuali pula yang dialami oleh Michael dan Kaiser. Antara keduanya yang lebih egois dan tidak mau kalah adalah Michael akan tetapi dia jugalah yang pertama meminta maaf dalam setiap pertengkaran.
“Sae?”
“Hmmh?” Sae mengalihkan pandangannya dari cermin. Entah sudah berapa lama ia berdiri sambil melamun dengan memori lama yang berputar di kepalanya. Sae menunduk untuk mengamati perutnya yang sudah membesar bahkan ia sampai tidak bisa melihat kakinya sendiri. “Ayah minta maaf karena banyak ngeluh. Ayah suka lupa kalau kamu ada di dalam perutnya.”
“Kamu lagi ngobrolin apa sama adik bayi?” tanya Michael yang sekarang berlutut, menyetarakan wajahnya dengan perut besar Sae. “Halo, kesayangan Papa. Adik lagi bobok, ya? Bangun dong soalnya Papa mau ngerumpi sama kamu.”
“Papa bawel jadinya aku tidur aja.” Sae menjawab dengan suara mirip seperti anak kecil seolah dirinya sedang mewakilkan bagaimana bayi mereka merespons pertanyaan Michael tadi. Dia pun menarik Michael untuk bangkit kemudian menuntunnya ke sofa panjang di ruang tamu karena Sae tidak kuasa menahan sakit pada pergelangan kakinya yang membengkak.
Michael lebih memilih untuk duduk di atas karpet bulu yang sengaja digelar di ruang tamu. Sae sama sekali tidak terlihat keberatan sewaktu Michael memposisikan dirinya di antara dua kakinya yang diluruskan. Sae menonton film kartun yang ditayangkan oleh televisi, sesekali menutup mata karena kantuk bersamaan dengan suara lembut Michael mencoba untuk berbicara dengan bayi mereka. Tangan Michael yang mengusap-usap perutnya memberikan kenyamanan yang Sae tidak pernah tahu bahwa dia membutuhkannya.
Selang beberapa puluh menit akhirnya Michael ikut menonton, menyandarkan kepalanya pada perut Sae. Saat sedang asyiknya menikmati suasana hening tahu-tahu Michael merasakan kepalanya ditendang, dia menoleh dan panik bukan main mendapati wajah Sae yang pucat pasi. “Kenapa? Perutnya sakit?” Alih-alih menjawab kekhawatiran Michael justru suaminya menarik tangannya dan diletakkan pada bagian bawah perut Sae. “Kenapa, sih? Kamu jangan buat aku takut dong.” Tak lama kemudian telapak tangan Michael kembali merasakan tendangan tadi. Matanya melebar, “Ini…”
Baru kali pertama bagi Sae merasakan tendangan bayi mereka dalam keadaan sadar sebab boleh jadi tendangan yang mereka rasakan bukanlah yang pertama bagi si kecil. Bisa saja tendangan pertamanya sewaktu Sae sedang terlelap. Tanpa sadar air matanya mengalir deras membasahi pipi kalau saja Michael tidak mengusap wajahnya. Mereka saling bertukar pandang, dada Sae terasa sesak dan tangisannya pecah.
Perasaan senang dan takut bercampur aduk menjadi satu. Sae memeluk suaminya seerat mungkin. “Aku bahagia sama hidupku sekarang, tapi aku juga sama takutnya. Takut kalau aku gak bisa memenuhi peranku sebagai orang tua buat anak kita. Aku juga takut selama ini gak membuat kamu bahagia sama sekali. Rasa takutku makin besar misalkan kamu bosan denganku dan pergi…”
Bohong kalau hatinya tidak hancur berkeping-keping mendengar alasan dibalik tangisan suaminya. Michael menyalahkan dirinya sebab tidak pernah menyadari Sae sanggup untuk berpikiran demikian. “Sayangku, kenapa–aku minta maaf. Tolong jangan pernah kamu merasa kayak begitu lagi. Jangan pikirkan sesuatu yang mustahil karena aku gak akan pernah tinggalkan kalian berdua. Astaga, Sae…” Matanya turut memanas karena tangisan pilu Sae,
“Sayang, satu kali pun nggak pernah terbesit di kepalaku tentang itu. Justru aku merasa orang paling beruntung sedunia karena aku punya sosok yang mencintaiku apa adanya dan sekarang dia lagi mengandung buah cinta kami. Sae… aku mohon kamu percaya seberapa besarnya rasa terima kasihku buatmu, sama besarnya dengan cintaku ke kamu. Jangan mikir kayak gitu lagi, ya? Aku nggak mau sesuatu yang buruk terjadi ke kamu dan adik bayi.” Lanjutnya.
Tak sedetik pun Michael melepaskan pelukannya sampai isak tangis Sae mulai reda. Ia baru benar-benar menjauhkan tubuhnya setelah yakin tidak mendengar sesenggukan yang berasal dari Sae. Michael menuruti permintaan Sae yang meminta untuk digendong sampai ke dalam kamar. Sesampainya, dia terduduk di tepi ranjang dengan Sae yang berada di pangkuannya menghadap Michael. “Aku berat, ya?”
“Wajar karena ada adik bayi di perutmu.”
Lewat beberapa menit, dari keduanya tak ada yang berani membuka suara, hanya ingin menikmati keheningan dengan saling mengamati wajah masing-masing. Napas Michael sempat tercekat kala Sae menangkup wajahnya.
Awal mula Michael mengikuti gerakan mata Sae yang tengah meneliti pahatan wajahnya sampai pada akhirnya jemari Sae menyentuh tiap bagian wajah; mulai dengan alis, matanya, jari telunjuknya menuruni batang hidung mancung Michael sampai berakhir pada bibirnya. Ia menerima tiap sentuhan dengan senang hati meski sejujurnya dalam hati bertanya-tanya atas dasar apa Sae melakukan semua ini.
Michael mengecup jari Sae sehingga senyuman tipis terpatri di bibirnya. “Ayo tidur siang.”
“Sekarang hampir jam tujuh malam kalau kamu lupa.”
“Oh ya? Aku nggak sadar karena terlalu fokus pandangi wajahmu mulu.”
Mereka berbaring di atas ranjang, membicarakan banyak hal; tentang sifat siapa yang diturunkan ke anak pertama mereka, apakah dia mewariskan wajah Michael atau Sae, atau bagaimana Michael membayangkan jika si kecil ternyata perempuan pastinya rumah mereka akan penuh dengan boneka maupun mainan yang Michael belikan tanpa perlu diminta.
Sae memukul dada suaminya sampai Michael mengaduh kesakitan. “Kamu nggak bisa belikan semua yang anakmu minta. Hanya karena kedua orang tuanya berkecukupan bukan berarti dia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.” Mungkin terlalu sering melakukannya, tahu-tahu Sae sedang mengusap perutnya yang semakin hari bertambah kencang dan membesar. “Aku berharap anak kita lebih mirip kamu, toh kamu lebih tampan dariku,” lanjutnya.
“No, love! Aku mau dia mirip kamu. Kamu tampannya melebihi aku… and also you're so gorgeous.” bantahnya.
“Aku belum siapkan nama untuk si adik bayi jadi aku serahkan tugas besarnya ke kamu.”
Mengetahui bahwa Sae memberikan tugas pemberian nama untuk buah hati mereka sungguhlah mengejutkan Michael. Sebisa mungkin ia menyembunyikan kepanikan dari wajahnya karena tak sanggup hati memberitahu kepada Sae kalau Michael sendiri masih belum menyiapkan satu nama pun. Maka dari itu, Michael hanya mampu untuk memberikan senyuman tipis sekaligus kecupan pada dahi Sae.
“Memangnya kamu gak punya nama yang kamu mau kasih ke adik bayi?” Berharap ada jawaban dari suaminya, Michael menoleh hanya untuk menemukan kedua mata Sae terpejam, tertidur larut.
Dengan tersisa Michael yang belum menyusul Sae ke dalam bunga tidur, kantuk tak kunjung datang jua meski Michael telah menunggu hampir satu jam. Mungkin, mungkin saja karena isi kepalanya sibuk memikirkan nama apa yang akan dia berikan untuk anak pertamanya.
Michael membuka laci nakas paling atas, mengambil kacamata berbingkai bulat sempurna beserta buku dan bolpoin. Satu demi satu nama yang terbesit dalam benaknya dituangkan ke atas kertas putih yang tak lama kemudian penuh dengan coretan.
Sesekali Michael mengecek Sae yang bergerak resah dalam tidurnya. Berbalik dari kanan ke kiri mencari posisi yang sekiranya nyaman, ada sekitar dua menit barulah Michael turun dari ranjang untuk segera mengambil dua bantal yang disimpan di lemari khusus. Dia pun perlahan-lahan memiringkan tubuh Sae ke sebelah kiri yang lalu menyelipkan bantal tadi ke bawah perut suaminya, tak lupa juga meletakkan satu bantal lainnya di bawah betis Sae.
Michael kembali menyandarkan punggungnya pada frame ranjang, mengusap perut Sae dari belakang yang tiba-tiba mendapatkan tendangan cukup keras sehingga Michael berucap, “jangan tendang terlalu kencang. Kasihan loh ayahmu. Kamu juga ikut tidur ya, sayang.” Dan, selepasnya Michael tak merasakan pergerakan lagi barulah ia kembali melanjutkan kembali kegiatan mengumpulkan nama yang sempat tertunda.
Satu jam kemudian, Sae terbangun dan membalikkan tubuhnya menghadap Michael yang masih terjaga. Menikmati apa yang indra penglihatannya tangkap dengan bantuan lampu nakas yang menyala. Tak bisa dipungkiri Sae dibuat terpukau dengan ketampanan Michael yang semakin bertambah setiap kali kacamata aneh, menurutnya, bertengger di batang hidung Michael.
“Aku jadi grogi nih ditatap serius banget sama kamu.”
Sae menyandarkan kepalanya di dada Michael, matanya masih setengah fokus namun yang dia tahu ada begitu banyak tulisan. Tawanya terdengar berat, “Kamu lanjut nanti siang aja. Sekarang waktunya tidur.”
“Okay, love.”
Keduanya tertidur nyenyak dengan Michael yang memeluk Sae dari belakang—tangannya melingkar pada perut suaminya.
—✧—
Pagi hari Michael disambut dengan beban berat di atas tubuhnya menyebabkan Michael sedikit kesulitan untuk bernapas. Perlu beberapa sekon baginya sebelum menyadari Sae yang bertelanjang bulat berada di pangkuannya. Belum sempat angkat bicara tiba-tiba Sae telah menuntun pangkal penis Michael ke anusnya.
Tanpa adanya peringatan, Sae pun langsung membawa Michael melambung tinggi sampai ke langit ketujuh. Masing-masing melenguh panjang, Michael mengcengkeram paha Sae yang berada di sisi tubuhnya.
“Oooh…”
Napas Sae tercekat sewaktu Michael mengangkat pinggulnya sehingga prostatnya dengan mudah ditemukan. Ujung kaki Sae tertekuk, tubuhnya hampir terjatuh ke belakang kalau Michael tidak langsung terduduk dan menangkapnya.
“Fuck, oh… fuck,” rasanya Michael mulai hilang kewarasannya sebab dinding rektum Sae sama sekali tidak memberi ampun saat memijat penisnya. Semakin tinggi pula keinginannya menyetubuhi Sae bagaikan binatang yang sedang kawin.
Sae yang bergerak naik dan turun di atasnya membuat Michael luar biasa takjub dengan suaminya yang terlihat seksi dengan perut besarnya—merupakan hasil percintaan mereka tiap malam sampai Sae mengandung anaknya. Dari sekian banyak hal yang berubah, Michael tersadar bagaimana tubuh Sae semakin berisi seiring usia kehamilannya bertambah—dadanya… terlihat berat. Dia jadi teringat ucapan Anri sebulan lalu yang berkata produksi air susu sejatinya dimulai ketika memasuki trimester ketiga.
Michael menatap wajah Sae yang ternyata tengah memejamkan matanya. Entah setan apa yang merasukinya sampai salah satu tangannya bergerak cepat untuk menangkup dada Sae.
“Mic—ngh… haa… Michael?”
Ia tidak mengindahkan panggilan Sae. Apa yang dilakukan oleh Michael berikutnya sukses membuat mereka berdua melongo. Wajah Michael tersembur air susu yang muncrat dari puting Sae karena ulahnya sendiri.
“My goodness.” Michael menjilat sudut bibirnya dan ber-hm panjang. “Manis.”
Sae menghadiahkan pukulan di pundak suaminya. “Kamu sinting ya! Tiba-tiba remas dadaku begitu. Bikin syok aja tahu gak?”
“Maaf, Sayang. Aku jauh lebih syok karena susumu muncrat ke wajahku.” Michael diam saja ketika Sae membersihkan sisa air susu yang ada di wajahnya menggunakan kaus yang sempat dikenakan oleh suami tercintanya. “Boleh minum lagi kah?” tanyanya seraya menyandarkan pipinya ke dada Sae.
“Jangan mulai deh.”
“Emang kenapa sih? Aku ‘kan cuma mau minum sedikit aja.”
“Sedikit buatmu, banyak buatku. Nggak. Apa gak malu kalau dia tahu Papanya ambil susu yang seharusnya diminum sama dia?”
“Adik bayi nggak bisa protes, aku ini Papa dia… yang bikin dia.”
Sae menjitak kepala pria yang lebih muda dua tahun darinya. “Kujepit ya mulut kamu.”
“Boleh dong. Ya? Boleh, ya, ya, ya? Please.”
Sebetulnya Sae ogah mengiyakan, tetapi dia juga tidak bisa berbohong kalau dirinya merasa tergoda dengan permintaan Michael. Jadi, Sae mengangguk setengah ragu dan yakin.
“Tapi—!” Sae menutup mulut Michael yang hampir melahap dadanya. “Hari ini kamu harus gendong aku terus. Kamu juga pijatin kaki aku. Deal gak?”
“Deal. Aku juga bakalan masakin kamu makanan enak yang banyak hari ini.
“Sejak kapan kamu jago masak?”
“Aku diam-diam ikut les masak tanpa sepengetahuanmu hehe. Soalnya pasca persalinan ‘kan kamu pasti dilarang ngelakuin kegiatan berat. Nah, soal itu biar aku yang urus segala macam di rumah termasuk angkat barang berat dan belanja bulanan. Terus…”
Sae mendengarkan dengan saksama celotehan Michael yang tiada henti. Wajahnya cerah akan kegembiraan yang membuat dada Sae terasa hangat mengetahui Michael sama tidak sabarnya menunggu kelahiran buah hati mereka. Sae yakin seribu persen kalau nantinya Michael akan menjadi Papa yang luar biasa. Semuanya dapat terlihat dari antusiasme yang ditunjukkan oleh suaminya.
Bahkan, Sae sendiri tidak pernah mengira kalau Michael bisa-bisanya mengikuti les masak tanpa memberitahunya. Padahal ia juga tidak akan pernah keberatan apabila harus menjadi satu-satunya koki di rumah, tapi suaminya yang satu ini teramat menyayangi Sae. Yah, mana bisa Sae marah?
Ia menangkup wajah Michael sampai suaminya berhenti mengoceh. Mengerjapkan mata kebingungan. “Aku cinta kamu yang banyak, Michael. Aku dan adik bayi senang banget punya suami dan papa sehebat kamu. I love you.”
“Aku cinta kamu lebih banyak lagi!” Lalu Michael membungkuk sedikit untuk menghujani kecupan di perut Sae, “Papa juga sayang kamu.”
Pagi hari berakhir dengan Michael yang terus menghadiahkan kecupan di sekitar wajah Sae sampai suaminya merengek, meminta Michael untuk berhenti walau pada akhirnya Sae pasrah dan membiarkan Michael melakukan apa yang dia mau.
Tiada hal lain yang Sae inginkan selain menghabiskan seluruh sisa hidupnya berbahagia dengan Michael meskipun dia tidak akan mengucapkannya secara terang-terangan di depan suaminya, Sae berharap mereka akan tetap bersama dalam waktu yang sangat lama.
Selamanya.
—✧—
