Work Text:
Malam ini terasa sunyi. Mungkin karena sudah lewat tengah malam, orang-orang telah kembali ke atapnya masing-masing untuk beristirahat. Tak terkecuali Keiji dan Shoyo yang energinya terkuras habis karena mengangkat barang-barang ke apartemen baru hari ini. Ini pertama kalinya mereka memutuskan untuk tinggal bersama setelah setahun lebih menjalin hubungan. Jadi, malam ini cukup istimewa bagi mereka. Mulai malam ini, mereka hanya tinggal berdua saja dan bisa menghabiskan waktu bersama jauh lebih banyak.
Wangi semerbak menguar tatkala Shoyo keluar dari kamar mandi. Ia selesai membersihkan diri. Tetes-tetes air dari rambutnya yang masih basah itu mengenai kausnya. Handuk kecil yang bertengger di kepalanya jadi sia-sia.
Shoyo menghela napas. Pikirnya akhirnya ia bisa beristirahat, merebahkan tubuhnya di atas kasur baru dan kali ini ia tidur ditemani oleh seseorang. Memikirkan hal tersebut, Shoyo mengembangkan senyum lebar dan bersenandung kecil seraya melangkah masuk ke kamar—kamarnya dan Keiji. Namun, senyum itu sedetik kemudian luntur begitu saja. Ia mematung tepat di depan pintu yang terbuka.
Shoyo berkedip beberapa kali untuk memastikan apa yang ia lihat saat ini juga adalah hal yang nyata. Sungguh? Ia tidak bermimpi, ‘kan? Shoyo berpikir demikian. Ia meneguk salivanya, lalu mundur perlahan dan tangannya meraih gagang pintu. Ia menutupnya pelan tanpa memalingkan pandangannya dari pemandangan di depan.
“Hei, Shoyo.” Keiji membuka suara dan tiba-tiba saja mendengar namanya sendiri disebut membuatnya bergidik.
Hei, Keiji. Shoyo ingin membalas sapaan pacarnya itu, tetapi bibirnya kelu. Ia tidak bisa berpikir jernih. Apa yang ada di hadapannya bukanlah sesuatu yang sama sekali masuk akal di kepalanya. Ia kira ia akan gila dalam beberapa detik selanjutnya.
Tidak mendengar apapun dari laki-laki yang tak berkutik di depannya, Keiji tersenyum. Itu manis. Manis sekali sampai Shoyo mati rasa. Bagaimana tidak? Dua meter di depannya ada seorang Akaashi Keiji, pacarnya, yang dengan lancang menggodanya.
Shoyo menyoroti Keiji dari bawah ke atas. Rok tenis putih di atas lutut, sangat pendek. Itu mengekspos kaki jenjangnya dan Shoyo dapat melihat pacarnya baru saja mencukur bulu kakinya entah kapan. Sial, sial, sial. Berarti Keiji memang sengaja. Lalu, lihat apa yang ia kenakan. Kaus abu-abu miliknya karena, sumpah, Shoyo tahu Keiji tidak punya kaus berwarna tersebut. Laki-laki itu pasti dengan asal mengambil dari lemari.
Pacarnya itu mendekat dua langkah. Shoyo melihat jemarinya sibuk meremas ujung rok mini tersebut. Mungkin masih merasa tidak nyaman atau tidak terbiasa, tapi persetan, ia tahu mereka tidak peduli soal itu. Keiji pernah menunjukkan pakaian rok yang menurutnya bagus atau lucu atau cantik, tetapi ia tidak pernah berpikir bahwa pacarnya tertarik dengan hal itu.
Lalu, dari jarak ini Shoyo dapat melihat sepasang jepit rambut yang tersemat di sisi rambutnya, memperlihatkan sedikit pelipisnya. Tidak ada yang spesial dari jepit rambut itu. Tidak ada pita atau bentuk-bentuk lucu, hanya jepit garis berwarna merah muda. Namun, itu mengubah total imej Keiji dari biasanya. Keiji luar biasa cantik dan manis. Shoyo berpikir bahwa laki-laki itu pasti sudah gila. Membuatnya ikut menggila juga.
Keiji berhenti beberapa jengkal di depannya. Shoyo menahan napas entah yang keberapa kali dan kali ini lebih lama. Wangi parfum menyeruak ke dalam hidungnya. Wangi Keiji berbeda, ini bukan parfum yang biasanya Keiji pakai. Kali ini lavender. And Shoyo likes it .
Sekali lagi, Shoyo memandangnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia terang-terangan menelanjangi Keiji dengan tatapan “seperti kosong” dari atas hingga bawah. Bagian selanjutnya ia akan benar-benar menelanjanginya secara harfiah.
"Keiji—" Shoyo tercekat bahkan ketika ia baru saja menyebut nama sang kekasih. Oh, ini buruk, tentu saja.
"Shoyo," Keiji menyebut namanya pelan, lalu menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga. Keiji bersikap centil. " How do I look? Pretty? "
Tinju Shoyo sekarang. Keiji sialan, brengsek, bangsat. Shoyo tak henti mengumpat dalam hati. Ini gila. Keiji sudah membuatnya hilang kewarasan.
Laki-laki oranye itu tidak berpikir dan ia tidak perlu menjawab pertanyaan bodoh tersebut. Ia menarik rahang Keiji dengan sedikit kasar, berhenti sejenak untuk memandangi bibir yang terlihat sedikit lebih merah muda. Kemudian, ia mendorong bibirnya dengan milik Keiji. Melumat dan menjilat dengan terburu-buru—tidak sabaran, tetapi Keiji tak acuh (malah suka) sampai ia merasakan ada yang berbeda dengan bibir Keiji. Seperti berminyak , pikir Shoyo.
"Licin …," lirih Shoyo setelah melepaskan pagutan mereka.
Seolah tahu apa yang dimaksudnya, Keiji menjawab, "Aku pakai lip gloss ."
Lip … apa? Lip gloss ? Apa itu? Semacam lipstik?
Informasi tentang Keiji mengenakan rok mini saja sudah menyita sebagian besar pikirannya, sekarang ia mendapat informasi baru bahwa pacarnya itu pakai lip gloss , entah apa intinya itu adalah kosmetik.
" Lip— lip gloss … oh, yeah … it suits you. "
Ujung bibir Keiji terangkat. " Does it? Really? "
Shoyo mengangguk, lalu ia meracau, "Cocok. Cantik. Cantik banget, kamu. Pakai rok, pakai jepitan, pakai lip gloss . It's already midnight , kamu mau nge- date sama siapa sampai harus dandan segala?"
Shoyo meracau sambil menilik setiap jengkal yang Keiji kenakan. Pandangannya ke sana dan kemari hingga ia kembali bertemu dengan bibir yang terlihat mengkilap. Ia menyentuh bibir bagian bawah Keiji dan mengusapnya lembut dengan ibu jari. Detik itu, jiwa Keiji seolah-olah melayang dari tubuhnya karena itu sangat sensual. Keiji bahkan belum sempat menjawab pertanyaan retoris tersebut, ia telanjur dicumbu lagi. Ia membalas, memperdalam pagutan keduanya dan membiarkan kedua saliva mereka bercampur aduk dengan nafsu. Tangan Keiji mulai merambat dari pinggang ke lengan Shoyo, kemudian mengelusnya. Lengan Shoyo kekar, ia dapat merasakan otot-otot yang terbentuk di sana.
Tak bisa diam, Shoyo mulai menyelipkan tangannya ke balik rok dan membelai pinggulnya dengan sentuhan halus. Keiji melenguh pelan. Napasnya menjadi berat begitu tangan Shoyo kemudian bermain pada celana dalamnya, ditarik lalu dilepas hingga mengeluarkan bunyi kencang. Selagi bibirnya asyik bermain dengan lidahnya, tangannya mulai bergeser pada bagian belakang Keiji. Ia meremas bokongnya dengan keras, lalu menampar salah satu bongkahannya sampai Keiji mendesah.
Keiji membawa Shoyo lebih dekat. Ia rengkuh punggung lebar itu hingga mereka saling terbentur . Ia bisa merasakan keduanya yang (sudah) mengeras dan milik Shoyo terlihat menonjol di balik boxer pants -nya. Percayalah, Keiji pun ada di kondisi yang sama. Celana dalamnya sudah sempit dan ia berharap Shoyo untuk lucuti saja semua pakaiannya.
Belum puas dengan bibirnya yang sudah membengkak, Shoyo pindah spot pada lekukan leher dan tulang selangka, bahkan dengan paksa menurunkan kerah kaus agar ia dapat menjangkau dada. Ia menjejakkan bercak-bercak merah di atas kulit tan -nya. Setelah itu, ia mendorong Keiji hingga terjatuh di atas kasur. Kali ini, tangan kanannya menyelinap di balik kaus miliknya yang Keiji kenakan dan bermain pada salah satu puting—dipilin dan dicubit. Ia ulang terus-menerus hanya untuk mendengar suara "ah" yang Keiji tak henti lontarkan.
Kemudian, Shoyo berhenti. Tangannya kini berada di dua sisi mengungkung Keiji. Nafas mereka terdengar beradu cepat. Peluh sudah membasahi sekujur tubuh padahal mereka belum melakukan apapun. Mereka seperti dibakar habis oleh api nafsu dan Keiji dapat melihatnya dari sorot mata Shoyo. Bola mata yang melebar, Shoyo seakan melihatnya sebagai mangsa yang harus ia terkam malam ini juga. Matanya bergerak liar, memandangi seluruh lekuk tubuh Keiji yang saat ini sudah berantakan dibuatnya. Ia menyunggingkan senyum kala melihat tanda yang ia buat di sekitar leher hingga dada terekspos dengan indah.
" Keiji, you just have the perfect body. So pretty, so sexy and so good to me. It only belongs to me. "
Keiji mendesah hanya dengan sekadar pujian yang terucap dari bibir Shoyo. Tak ayal bahwa ia senang sekali jika Shoyo bilang “cantik”, “manis”, atau “seksi” padanya. Ia seperti diapresiasi karena untuk siapa lagi ia berdandan seperti ini? Hanya untuk Shoyo seorang. Jadi, ketika Shoyo meluangkan waktu secara cuma-cuma untuk dirinya, bahkan ketika Shoyo hanya menciumnya lembut, Keiji sudah sangat senang. Tapi, malam ini luar biasa. Bukan berarti di luar ekspektasinya, justru inilah yang Keiji inginkan. Shoyo yang melihat hanya kepada dirinya.
Keiji menangkup kedua pipi Shoyo dan menariknya. Mata mereka bertemu, tetapi kali ini apa yang dipancarkan tak hanya hasrat belaka, tetapi juga kasih. Keiji terdiam. Ia memandangi wajah Shoyo dengan saksama, ibu jarinya sesekali mengelus pipi, lalu tersenyum lembut.
Shoyo mencium kedua pipi Keiji, lalu pada keningnya. Tiba-tiba, ia terkekeh. " You look pretty. "
" You already told me ."
" Then let me say it again. " Shoyo mengecup bibirnya, lagi. Ia tampak tidak bosan. " You look happy, too. "
Semburat merah mekar di kedua pipi Keiji. Ia tersipu. "Karena kamu."
"Oh, ya? Kamu senang karena aku … karena mau aku tiduri?"
Mata Keiji terbelalak mendengar ucapan senonoh dari Shoyo. Ah, mulut Shoyo kembali sembarang bicara. Warna merah di pipinya semakin merekah.
"Iya, nggak? Kamu senang karena aku merespons sesuai keinginan kamu? Kamu mau aku cumbu, mau aku puji-puji, mau aku lucuti dan aku masuki, ya." Shoyo berceloteh kotor. Ada kepercayaan diri di dalam intonasi bicaranya karena semuanya yang ia katakan memanglah benar. Keiji mengakui dalam hati, ia menginginkan itu semua.
"Aku benar, nggak, Keiji? Jawab."
Keiji mengangguk pelan. Namun, Shoyo menyentil bibirnya. " Verbal . Aku butuh jawaban dari mulutmu."
"Iya …." Keiji menjawab lirih. "Iya, Shoyo. Mau. Mau semua."
"Mau apa? Yang jelas bicaranya."
"Mau kamu … malam ini. Tolong. Cium aku. Telanjangin aku sekarang. Just … fuck me hard ."
Setelah mendengar jawaban dari Keiji, Shoyo malah terkekeh. Ia terlihat puas melihat pacarnya berada di bawah dirinya sedang memohon-mohon untuk disetubuhi. “ Now you sound desperate. "
“ I do. ” Keiji tidak bisa menunggu lama. Tangannya bergerak ke bawah, mencari-cari sesuatu milik Shoyo, lalu diremasnya pelan. Shoyo mengerang keras atas perlakuan Keiji yang tiba-tiba. Mata mereka masih terkunci satu sama lain, tetapi Keiji dengan lihai memijat penis Shoyo seraya membubuhkan kecupan di wajahnya, sesekali ia menggigit bibirnya hingga Shoyo mengaduh.
Shoyo merasa ditantang dan ia tidak mau mengalah. Jadi, ia turuti apa kemauan pacarnya. Dengan cepat, ia membuka baju Keiji dan melucuti celana dalamnya sebelum ia melemparnya asal entah ke mana. Hanya tersisa rok pendek yang terangkat dan sekarang mengekspos seluruh tubuh Keiji.
" Fuck. " Shoyo mengumpat saat ia melihat bagaimana penis pacarnya sudah berdiri tegak dengan ereksi yang luar biasa.
" Yes. Fuck me, Shoyo. "
Shoyo menurut. Ia memasukkan jarinya pada mulut Keiji dan Keiji melaksanakan tugasnya dengan baik. Awalnya satu, tetapi Shoyo langsung menambah dua jarinya. Perlahan, ia melumasi jari-jari panjang tersebut dengan air liurnya. Ia menikmatinya. Begitu sensual dan erotis. Setelah itu, Shoyo memasukkan kedua jarinya pada lubang milik Keiji. Detik itu juga, Keiji bagai dilayangkan ke langit ketujuh. Desahan panjang menguar membuat atmosfer di sekitar bertambah panas.
Shoyo melakukannya dengan perlahan, membiarkan Keiji menyamankan dirinya terlebih dahulu sebelum akhirnya memasukkan satu jari lagi ke dalam liang tersebut. Lalu, jemari Shoyo bergerak seperti mengoyak dari dalam. Muka Keiji yang merah padam ia tutupi dengan lengannya. Ia malu, tetapi di satu sisi ia enak .
Shoyo. Shoyo. Shoyo. Keiji tak henti-henti mendesahkan nama pacarnya dengan melenguhkan ah di setiap jeda namanya. Ini gila. Shoyo hampir gila. Namun, Keiji lebih gila. Ia bisa ejakulasi hanya dengan jari Shoyo.
"Shoyo … ah … udah, please … cepet …."
“‘Udah’ atau ‘cepet’, nih? Plin-plan.”
“ Fuck it, you know what I mean, Sho. ”
Shoyo menghentikan pergerakannya dan mengeluarkan tiga jarinya. Ia terdengar kesal. “ I don’t like it. Why did you curse to me? ”
Keiji mengintip dari balik lengannya dan ia bisa melihat raut wajah pacarnya yang berubah. Ia menatap takut-takut. “Nggak begitu …. Maaf, Sho …, maaf.”
“ What do you want? Vokal.”
Keiji tahu Shoyo hanya bermain-main dengannya dan tidak benar-benar marah padanya. Ah, walaupun sudah bersamanya lebih dari setahun dan ini bukan kali pertama mereka bercinta, Keiji masih kerap kali merasa malu. "Maksud aku … udahan fingering -nya. Langsung ke intinya aja bisa, nggak?"
"Inti apa?"
" Your dick. Your penis. Inside me. Now. ” Persetan. Keiji berterus terang saja. " Is that clear enough for you? "
Air muka laki-laki berambut oranye itu jadi lembut. Shoyo tersenyum lalu memberi kecupan di bibirnya. Lalu, berubah jadi ciuman yang dalam. Keiji suka. Selalu suka dengan cara Shoyo—dan apapun yang laki-laki itu lakukan. Enak sampai ia sedikit merasa kecewa begitu Shoyo melepaskan ciuman mereka—ia masih ingin lebih.
" Good. Good boy. That's very clear. Thank you, Cantik."
Good boy. Cantik. Good boy. Cantik. Good boy. Cantik.
Dua kata itu menggema di dalam kepala Keiji. Dia anak baik, dia cantik. Shoyo memujinya. Keiji senang bukan kepalang. Keiji jadi membayangkan bagaimana jadinya kalau Keiji selalu berkata jujur dengan perasaan dan keinginannya, ia mungkin akan lebih sering mendapat kata-kata itu dari Shoyo, lalu ciuman panasnya ….
Raut wajahnya berubah total menjadi sumringah. Senyumnya lebar hingga membuat pipinya terangkat hingga ke mata. Tanpa menyadari bahwa Shoyo sudah ancang-ancang untuk aksinya. Keiji tersadar bahwa Shoyo sudah bertelanjang dada dan sekarang ia sedang membuka celana boksernya, memperlihatkan tonjolan besar yang membuat ia meneguk saliva. Shoyo menurunkan dalamannya, lalu mengeluarkan penisnya yang sudah berkedut. Oh, ia tahu bahwa Shoyo sama tersiksanya dengan dirinya. Shoyo mengurut pelan batangnya sambil memposisikan dirinya di depan Keiji.
Keiji menjerit dalam hati. Astaga, astaga, ia akan melakukan seks dengan laki-laki yang dicintainya. Ini bukan kali pertama, tetapi rasanya kali ini yang paling mendebarkan. Apa karena ini adalah malam istimewa mereka? Atau karena memang mereka sudah lama tidak bercinta? Keiji menahan napas, bersiap untuk merasakan sesuatu yang besar masuk ke dalam lubangnya.
" Ah— " Keiji mengerang keras.
" Is it okay, Keiji? Is it good? " tanya Shoyo memastikan.
Keiji mengangguk lemah. " Uh-huh, it feels … so good. "
Shoyo mendengus. "Sabar. Aku belum masuk semua."
Keiji mencengkeram tangan Shoyo tatkala laki-laki itu mendorong kemaluannya jauh lebih dalam. Ia tidak bisa merespons apapun. Itu terasa sangat menyesakkan, tetapi di satu sisi itu hal yang paling nikmat.
Shoyo tidak langsung bergerak. Ia kembali mengecup dan membubuhi tanda merah di sekujur tubuhnya. Mulai dari leher, dada, hingga menuju perut yang membuat Keiji terkesiap dan menggeliat geli. Setelah dikira Keiji sudah siap, Shoyo meminta izin. " Can I? "
Sekali lagi, Keiji menganggukkan kepala seperti anak anjing yang tunduk pada tuannya.
Tempo dimulai perlahan dan Keiji sudah seperti di puncak. Luar biasa . Itu satu-satunya hal yang terlintas di dalam kepalanya tentang malam ini. Pada menit selanjutnya, Shoyo menambah kecepatannya. Ia berpegang pada kedua sisi pinggul Keiji sambil terus menghentak. Keiji tidak sanggup untuk bicara apapun lagi selain mendesah, padahal di dalam otaknya penuh hal-hal kotor. Penis Shoyo besar. Enak. Selalu enak. Mau lagi. Mau begini terus sampai pagi.
Kedua selangkangan yang saling bergesekan menciptakan suara tepukan yang nyaring memenuhi kamar apartemen baru mereka. Maaf saja, tetapi Keiji tidak merasa bersalah kepada tetangga-tetangganya apabila mereka mendengar suara yang tidak wajar datang dari dinding ini.
Setiap hentakan Shoyo selalu mengenai titik yang tepat, menambah suhu panas yang membakar Keiji dari dalam. Cairan praejakulasi mulai mencuat. Ia akhirnya memutuskan untuk mengocok kepemilikannya sendiri untuk segera mencapai klimaks selagi Shoyo terus menaikkan temponya.
Ketika Keiji merasa hanya butuh sedikit lagi untuk mencapai puncak, Shoyo justru melambatkan temponya. Ia memejamkan matanya ketika menerima ciuman di bibir (lagi-lagi). Shoyo tidak berhenti, konsisten dengan menggerakkan pinggulnya bersamaan dengan melumat penuh bibir Keiji yang sudah ranum. Bagai zat adiktif, ia kecanduan. Bibir Keiji bukanlah suatu kebosanan, ia tidak akan pernah jenuh menjumpa ke sana meski beratus-ratus kali.
Ternyata tak butuh waktu lama untuk Keiji mengeluarkan ejakulasinya diiringi dengan desahan panjang yang nikmat. Spermanya berceceran di atas tubuh polosnya dan bahkan mengenai perut Shoyo yang sedang merunduk padanya. Ia terkulai lemas. Paha dan bibirnya sama bergetarnya sedangkan Shoyo masih kuat menggenjotnya, kali ini lebih cepat. Lalu, pada detik selanjutnya, napas Keiji tercekat begitu cairan hangat meleleh dan memenuhi lubangnya.
Shoyo mengeluarkan penisnya setelah selesai mengeluarkan seluruh air mani dan membawa sisa cairan sperma yang membasahi selangkangan pacarnya. Ia terengah-engah, lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Keiji yang hampir tak sadarkan diri.
“ What a good sex ,” ujar Shoyo yang hanya bisa Keiji respons dengan anggukan lemah. Ia menggenggam erat tangan Keiji dan mengelusnya lembut. “Tapi, malam masih panjang, Keiji.”
Mendengar kalimat terakhir, mata Keiji yang sudah berat itu langsung terbuka dengan sempurna. Ia menengok ke sebelahnya dan mendapati pacarnya dengan tatapan yang mencurigakan. “M—maksud?”
Keiji tidak sempat memproses apa yang terjadi selanjutnya. Tak sempat terkesiap tatkala tubuhnya diangkat dan ditaruh di atas pangkuan Shoyo.
“Shoyo? Tunggu—”
Namun, laki-laki itu tak memberinya kesempatan untuk mengambil oksigen barang sehirup pun. Pergerakannya terkunci dan ia berusaha menjaga keseimbangan dengan menaruh telapak tangannya pada pundak Shoyo. Rok yang ia kenakan sudah ditanggalkan dan kini, Keiji benar-benar telanjang bulat.
Shoyo mengelus pahanya dan naik ke atas pinggul. Matanya mengerling pada penisnya yang masih menegang. “ Go , Keiji.”
Kali ini, Keiji yang meneguk ludah. Dengan perlahan dan masih dalam keadaan yang lemas, Keiji mengangkat tubuhnya sedikit dan berusaha memosisikan lubang analnya dengan penis Shoyo. Kemudian, ia mendudukkan diri dan membiarkan batang Shoyo menancap di dalam dirinya sekali lagi. Ia lagi-lagi meloloskan desahan panjang.
“Shoyo ….”
Ia tahu Shoyo sama menikmatinya. Ia memejamkan matanya dan berdesah, “Keiji ….”
Setelahnya, kegiatan mereka terus berlanjut sambil sahut-menyahut nama satu sama lain di atas kenikmatan. Keiji berpikir apakah Shoyo membaca isi kepalanya? Untuk terus melakukan ini sampai pagi hari menyambut. Benar saja. Mereka tidak berhenti sampai keduanya benar-benar tidak memiliki sisa energi bahkan tak sanggup untuk bersih-bersih. Mereka berdua ambruk dan terlelap hingga sinar matahari menerobos masuk lewat celah-celah tirai jendela.
Keiji terbangun dengan perasaan yang campur aduk. Badannya sangat sangat pegal, tetapi di satu sisi ia masih merasa penuh membayangkan potongan-potongan adegan erotis semalam. Ia menurunkan pandangannya dan melihat Shoyo yang masih mendengkur sambil memeluknya. Mereka berdua masih telanjang tanpa busana, hanya dibalut dengan selimut tebal saja. Maka, Keiji menaikkan selimutnya agar Shoyo tetap hangat. Tangannya mengusap-usap pelan pucuk kepala Shoyo dan menciumnya.
Harus diakui, tadi malam menjadi salah satu malam yang paling spektakuler. Ia tidak akan pernah melupakannya ataupun menyesalinya meskipun ia mungkin tidak akan pernah lagi menggunakan rok pendek. Terlalu melebihi ekspektasi hingga ia tidak bisa memprediksi kelanjutannya.
END.
