Actions

Work Header

(Do you think I have forgotten) about you?

Summary:

Tak ada satu hari pun ia lewatkan tanpa memikirkannya, sebab;
Kazuha masih menyimpan memori bersama Kunikuzushi, dengan apik.

Work Text:


 

“Dijodohkan?!” 

Empat pasang mata menatap Kunikuzushi yang terlonjak dari duduknya. Jari telunjuknya tertuju pada pria dua tahun lebih muda darinya, calon suaminya, hanya terdiam dengan ekspresi santai. Pria tersebut tidak memberikan tantrum begitu tahu akan dijodohkan dengan Kunikuzushi, reaksinya justru bertolak belakang dengan Kunikuzushi.

“Kuni, kamu sudah mengenalnya sejak lama.” ujar ibu sambungnya, Nahida.

Benar. Lama yang dimaksud pun dia tidak ingat kapan, bahkan Kunikuzushi akui dia tidak mengingat masa kecilnya sama sekali semenjak wanita yang merupakan ibu kandungnya sendiri membuang Kunikuzushi sampai Nahida menemukannya.

Ia tidak mau mengingat masa lalunya yang kelam, Kunikuzushi terpaksa duduk kembali di sebelah Nahida. Enggan untuk menyuarakan ketidaknyamanannya.

Setelah kepergian tamunya barulah Nahida membiarkan Kunikuzushi untuk menyampaikan yang dipendam oleh putranya sejak tadi. Nahida menyadari kesalahannya karena tidak memberitahu mengenai perjodohan ini terlebih dahulu kepada putranya, tetapi yang dia tahu Kunikuzushi tak akan menyesali apa yang dia lakukan sekarang.

“Seperti yang aku katakan tadi, kalian berdua sudah mengenal satu sama lain. Kamu juga tidak perlu khawatir, putra mereka–Kazuha adalah lelaki yang baik. Aku minta maaf kalau kamu keberatan dengan perjodohan ini… bagaimana kalau kamu gunakan waktumu untuk mengenalnya kembali? Siapa tahu dirimu berubah pikiran?” tanya ibunya sambil tersenyum lebar.

Kunikuzushi melihat binar mata Nahida yang penuh dengan harapan sekaligus suka cita. Dan, bohong kalau dia tidak merasa senang karena ibunya begitu bahagia karena putra satu-satunya akan menikah tidak lama lagi. Di lain sisi, Kunikuzushi tak begitu yakin perihal dirinya yang akan berubah pikiran untuk menerima Kazuha sebagai pasangan hidupnya. Membayangkan dirinya yang jatuh cinta pada lelaki yang tidak dia ingat sama sekali bukankah sedikit menakutkan?

Mau tidak mau. Suka tidak suka. Kunikuzushi menganggukan kepalanya hanya karena tidak ingin Nahida merasa sedih. Setidaknya, ia telah memikirkan sebuah cara lain tanpa sepengetahuan ibunya.

 

—✧—

 

Satu minggu setelahnya, Kunikuzushi mendapatkan kabar sehari sebelum kedatangan Kazuha. Ibunya bilang putra tunggal dari keluarga Kaedehara tersebut akan memintanya untuk makan malam berdua di sebuah restoran. Kencan romantis, kata Nahida. Kalau bukan karena memikirkan perasaan ibunya, mungkin Kunikuzushi sudah menolak mentah-mentah ajakan makan malam tersebut.

Kunikuzushi mengambil napas dalam-dalam sebelum membuka pintu rumahnya, menampilkan sosok Kazuha yang terlihat berwibawa dengan setelan jas. Semua yang dikenakan olehnya jauh berbeda dengan yang Kunikuzushi kenakan, tapi dirinya tidak merasa bersalah sedikitpun. Ia sedang menjalankan rencananya; operasi menggagalkan pertunangan dengan Kazuha, telah dimulai.

“Oh? Gue nggak tahu harus pakai jas. Gimana dong?” tanyanya seakan-akan merasa tidak enak hati dengan pakaiannya.

Kazuha sama sekali tidak curiga. Alih-alih merasa kesal sebab upayanya tidak dihargai justru dia terkekeh pelan. “Nggak masalah. Seharusnya aku yang minta maaf karena terlalu berlebihan, kamu nggak keberatan, ‘kan?” Dia mengulurkan tangannya.

Kesal.

Bukan reaksi seperti ini yang diharapkan olehnya. Kunikuzushi mau Kazuha marah dan berujung pertengkaran yang akan menjadi bukti untuk Nahida bahwa perjodohan yang dia lakukan merupakan sebuah kegagalan.

Kunikuzushi menepis tangan yang terulur padanya. “Tch. Keras kepala.” Dia melengos begitu saja, langsung masuk ke dalam mobil Kazuha. Ia berteriak dari dalam mobil setelah menurunkan kaca mobil, “Jadi makan malam nggak sih?!”

Kazuha tertawa renyah dari tempatnya berdiri. Sebetulnya dia telah mengantisipasi satu dan dua hal yang akan dilakukan oleh Kunikuzushi misalnya seperti sekarang ini. Kazuha tahu bahwa calon suaminya sengaja mengenakan pakaian berbeda dengan yang sudah diberitahukan sehari sebelumnya. Dia juga tahu rencana macam apa yang Kunikuzushi punya namun dirinya bertingkah seolah-olah tidak tahu-menahu tentang upaya dari pria yang lebih tua.

Dari sepanjang perjalanan sampai tibanya mereka di restoran, Kazuha yang lebih banyak berinisiatif untuk memulai percakapan sedangkan Kunikuzushi hanya membalas seadanya.

Dia bersungguh-sungguh ingin membuat Kazuha mengubah niat untuk menikahinya.

Kazuha menarik kursi untuk tunangannya yang tentu saja mendapatkan dengusan dari yang lebih tua. “Makasih.”

Keduanya duduk berseberangan, sama-sama memegang buku menu. Kazuha melirik Kunikuzushi yang ternyata sedang mencuri pandang ke arahnya, Kunikuzushi membuang muka begitu tatapan mereka bertemu.

“Kenapa langsung buang muka gitu?” Ia tertawa pelan. “Nggak masalah kok dipandangin yang lama barangkali kamu jatuh cinta sama aku, lagi.”

“Nggak usah berkhayal kayak gitu deh. Mustahil buat jatuh cinta sama lo meskipun lo mau bilang berjuta kali kalau kita udah kenal dari lama.”

Ada kesedihan di mata Kazuha begitu mendengar ucapan Kunikuzushi yang sedikit menusuk hati namun dia dengan cepat menyembunyikannya. “Padahal waktu kita masih kecil, kamu yang selalu memaksa kita harus bersama-sama terus sampai tua.”

Sewaktu mereka masih kecil.

Kunikuzushi tertawa hambar. Masa kecil seperti apa yang dimaksud oleh Kazuha? Jangankan masa kecilnya, bahkan Kunikuzushi sepenuhnya tidak dapat mengingat kapan terakhir kali membayangkan dirinya yang masih kecil bermain dengan girangnya sebelum dunianya hancur oleh perbuatan satu wanita yang melahirkannya.

“Nggak usah omongin masa lalu. Gue nggak ingat apa-apa kecuali memori tentang dibuang sama ibu kandung sendiri. Maaf aja kalau hal ini ngebuat lo kecewa, tapi gue benar-benar nggak ingat apapun tentang kita yang masih anak kecil.” Tangannya mencengkeram buku menu dengan erat,

“gue hidup untuk diri gue yang sekarang. Nggak ada lagi masa lalu yang tersisa di dalam kepala gue, Kazuha. Dan, kalau lo nikah karena mengharapkan ‘Kuni’ yang dikenal dari kecil… gue minta maaf. Dia udah nggak ada,” jelasnya tanpa menatap mata lawan bicaranya.

Sementara itu, Kazuha yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama. Menyaksikan bagaimana binar mata Kunikuzushi lambat laun meredup sambil bercerita menimbulkan sesak di dada.

Tahu betul semuanya tidak akan disembuhkan dengan kata-kata, dia pun meraih tangan Kunikuzushi yang mengepal di atas meja sampai empunya terperanjat.

“Maaf karena kamu harus menceritakan hal yang menyakitkan untukmu, tapi aku juga berterima kasih karena kamu sudah memberitahuku,” ujarnya seraya mengusap buku jari Kunikuzushi. “Kamu masih Kunikuzushi yang ku kenal meski dirimu sama sekali tidak mengingat satu hal pun tentang aku.”

“Berarti pertunangannya mau dibatalin?”

“Nggak sih.”

“Dih! Males banget.”

Dengan cepat Kunikuzushi menarik tangannya, mengabaikan tawa Kazuha yang sangat puas melihat ekspresi kesalnya. Sekarang dirinya menebak-nebak apakah calon suaminya sepenuhnya waras atau tidak.

 

—✧—

 

Kunikuzushi kira ajakan makan malam waktu itu adalah yang terakhir atau membuat Kazuha jera akibat sikap acuh tak acuh terhadapnya. Akan tetapi, dugaannya salah besar lantaran Kazuha semakin sering bertamu ke rumahnya atau mengajaknya kencan. Ibunya juga malah berpihak dengan calon menantunya, tiap kali Kunikuzushi meminta kepada Nahida untuk membohongi Kazuha bahwa dirinya sedang tidak ada di rumah justru Nahida memberitahukan yang sebaliknya.

Salah satu temannya, Lumine, juga tidak bisa diharapkan. “ANDA KOK BODOH? Bagus dijodohin biar elu nggak jomblo seumur hidup!”

“Lo kata gue seenggak laku itu, berengsek!”

“Kak, lu tololnya jangan keterlaluan deh. Hanya karena dia lebih muda berapa—dua tahun, ya? Terus elu nggak mau nikah sama dia udah gitu katanya kalian kenal dari kecil yang berarti udah kebal sama kelakuan elu. Langsung gas aja!”

“Gas gas, mata lo! Enak lo bilang kayak gitu karena bukan lo yang dijodohin. Tiap hari si Kazuha ke rumah mulu—”

Bersamaan dengannya yang menyebut nama Kazuha tiba-tiba ibunya mengetuk pintu sambil berkata, “Kuni sayang, Kazuha udah ada di bawah tuh.”

“Tuh kan! Apes banget gue sebut nama dia aja langsung muncul anaknya.”

Kunikuzushi menyudahi teleponnya dengan Lumine, beranjak turun dari ranjang dengan berat hati. Saat dia membuka pintu, Nahida sudah menuruni anak tangga tanpa lupa untuk menyengir lebar—wanita tersebut tampak bahagia kedatangan calon menantunya, berbeda dengan Kunikuzushi yang wajahnya tertekuk.

“Aku ada urusan mendadak jadi kutinggalkan kalian berdua.” Nahida melambaikan tangannya. “Sampai nanti.”

Kazuha balik melambaikan tangan, tadi sempat menawarkan untuk mengantar Nahida sampai keluar namun wanita tersebut menolaknya dengan alasan tidak ingin mengganggu waktunya berduaan dengan putranya. Terkadang Kunikuzushi sedikit jengah dengan Nahida yang sama sekali tidak bisa membaca atmosfer di sebuah ruangan. Ada kala ia gondok bukan main karena ibunya yang terlalu baik dan mengutamakan kebahagiaan putra satu-satunya.

Dan sekarang dirinya tengah bersusah payah menahan diri untuk tidak merutuk Kazuha yang duduk terlalu dekat dengannya. Dia melirik album foto yang ada di pangkuan Kazuha, tetapi gelang lusuh yang melingkar di pergelangan tangan pria tersebut lebih menarik perhatiannya sehingga tanpa sadar Kunikuzushi berceletuk, “Gelang udah hampir putus kayak gitu masih dipakai.” 

Kazuha turut melirik gelangnya, secepat mungkin menyembunyikan kesedihannya. “Hari ini aku mau kasih unjuk album foto waktu kita masih kecil.” Dia meletakkan album foto tersebut di atas pangkuan Kunikuzushi, lalu membuka sebuah kotak yang isinya berbagai manisan. “Tadi aku sempat ke toko manisan karena yang aku ingat kamu suka banget makan ini. Sampai sekarang masih, ‘kan?”

Ia menatap kotak manisan dan wajah riang Kazuha secara bergantian, setengah terpana juga sedikit konyol. Bisa-bisanya pria ini mengingat selera makanan kecil yang disukai olehnya sedangkan Kunikuzushi sama sekali tidak mengingat satu hal kecil pun mengenai Kazuha ataupun yang dia sukai. Perasaannya campur aduk; marah, sedih, bingung dan senang.

Memang benar adanya bahwa Kunikuzushi telah berhenti melakukan banyak cara untuk menggagalkan perjodohan mereka, tetapi bukan berarti dia sudah sepenuhnya menerima perjodohan tersebut.

Dia masih berusaha memproses segalanya. Pun ada sedikit rasa tidak nyaman mengingat kalau Kazuha dan dirinya saling mengenal satu sama lain sejak kanak-kanak yang berarti Kazuha tidak lupa dengan Ei.

“Makasih, tapi lain kali nggak usah repot-repot.”

“Kamu nggak pernah merepotkan aku, Kuni. Sedikit pun nggak.”

Kunikuzushi mengangguk, tangannya membuka album. Kebanyakan foto adalah foto mereka berdua, sesekali dia menebak siapa yang mengabadikan momen-momen tersebut.

Sesekali Kazuha menjelaskan sedikit cerita atau suasana saat memori masa kecil mereka sedang diabadikan apabila dia mendapati tatapan Kunikuzushi melekat pada beberapa foto yang menyita konsentrasinya. Salah satunya adalah di mana Kunikuzushi yang sepertinya berusia satu dasawarsa tidak menatap kamera, melainkan ke Kazuha yang memamerkan deretan gigi sambil dua jarinya membentuk huruf ‘V’ ke kamera. 

Oh, Tuhan, dengan dirinya yang sekarang berusia 28 tahun mengerti arti tatapan tersebut. Kunikuzushi kecil benar-benar jatuh cinta.

“Kamu kelihatan indah di foto ini,” ujar Kazuha membuat Kunikuzushi menoleh cepat. “Senyumanmu itu… buat hati tenang. Kenapa ngelihat kayak gitu?”

Ia mengedikkan bahu. “Gue kira lo bohong soal kita temenan dari kecil.”

“Aku nggak akan bohong ke kamu, Kuni. Makanya aku bawa albumnya supaya kamu… Kuni?”

Tangannya gemetaran setelah membalikkan lembar foto, matanya terpaku pada sosok wanita berambut ungu, lidahnya kelu. Kunikuzushi yakin bahwa dirinya lupa cara bernapas begitu seluruh atensinya jatuh pada foto di mana dirinya berada dalam gendongan Ei, ibu kandungnya. Keduanya tampak bahagia, terlalu bahagia sampai tidak akan mengira bahwa empat tahun setelahnya Ei menelantarkan putranya.

Kazuha mengambil foto tersebut lantaran menyaksikan bagaimana tunangannya membeku sampai wajahnya memucat. Ia juga memberikan bolpoin kepada Kunikuzushi yang langsung ditarik, mengamati dalam diam ketika yang lebih tua mencoret wajah wanita tersebut sambil terisak.

Tenggorokannya ikut tercekat mengetahui seorang ibu menorehkan luka mendalam pada putranya sendiri. Kazuha tak dapat membayangkan rasa sakit yang dirasakan oleh Kunikuzushi selama bertahun-tahun. Yang bisa dilakukan Kazuha hanya mengusap punggungnya berharap bisa menenangkan Kunikuzushi walau sedikit. Bahkan ketika fotonya koyak dia tidak berkomentar.

Lima belas menit kemudian, isak tangis Kunikuzushi baru reda. Dia melihat foto yang sudah tak berbentuk dengan nanar, menoleh ke Kazuha yang ternyata menatapnya penuh khawatir meski salah satu benda berharganya dirusak oleh Kunikuzushi.

“Maaf… fotonya robek.”

Kazuha menggeleng. “Harusnya aku yang minta maaf karena nggak buang fotonya. Aku minta maaf ya, Kuni. Sudah merasa baikan?” tangannya bergerak mengusap air mata Kunikuzushi.

“Gue mau tahu sesuatu.”

“Mau tahu?”

“Soal perjodohan kita. Lo tahu kalau mau dijodohkan sama gue?”

Yang ditanya menggeleng, lagi. Kazuha mengangkat tangan sebagai upaya membela diri. “Aku nggak tahu sama sekali, tenang aja, nasib kita sama kok…”

Tawanya terdengar ringan dan tanpa paksaan. Sedangkan Kunikuzushi malu mengakui kalau dia menyukai tawa Kazuha.

“Ayahku baru kasih tahu sehari sebelum perjodohan kita. Dia bilang ternyata anak dari teman kuliahnya adalah teman masa kecilku, kamu.” jelasnya dengan mata ruby yang berbinar penuh kelegaan. “Kuni, andaikan kamu tahu sebahagia apa diriku waktu tahu kalau aku bisa lihat kamu lagi. Hidupku nggak pernah sama semenjak kamu—”

Salah satu alisnya terangkat sewaktu Kazuha sengaja membungkam mulutnya, tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

Kali ini giliran Kunikuzushi yang tertawa lepas karena ‘temannya’ sangat berhati-hati untuk tidak menyinggung perihal masa lalunya.

“Santai aja, tapi lo lebay banget deh masa nggak bahagia karena kita pisah.”

“Loh aku kayak orang sekarat bertahun-tahun nggak lihat kamu. Letih, lesu, love you.” berikutnya pundak Kazuha menjadi sasaran pukulan Kunikuzushi. “Lucunya, orang tuaku juga dijodohkan… mereka sahabatan dari bayi. Siapa tahu kita bisa kayak mereka, ‘kan.” Ia menyikut lengan temannya.

Kunikuzushi menendang Kazuha sampai terjatuh dari sofa. “Mimpi!” tanpa menyembunyikan semburat merah di pipinya.

 

—✧—

 

Mungkin, mungkin, Kunikuzushi mulai mengakui telah terbiasa dengan eksistensi Kazuha dalam hidupnya lantaran tidak ada keinginan kuat untuk menghindar dari yang lebih muda seperti sebelum-sebelumnya. Dirinya hampir jarang menolak ajakan Kazuha untuk pergi berdua, meski kadang harus ada paksaan atau sogokan berupa manisan apabila Kunikuzushi mengelak ajakan tersebut dengan alasan capek yang ujung-ujungnya tetap datang karena tidak terima, “Kamu mudah capek karena sudah tua.” begitu kata Kazuha.

Sekarang, dia lebih menyesali keputusannya untuk mempertemukan Kazuha dengan dua temannya, Lumine dan Aether. Padahal mereka baru berkenalan kurang lebih dari tiga jam namun sudah terlihat akrab sehingga Kunikuzushi cemburu, yang entah cemburunya atas dasar apa. Tentu saja, semua ini terjadi atas permintaan si kembar muda, Lumine, yang dua minggu lalu meminta untuk dikenalkan dengan tunangannya. 

Kunikuzushi menukar minumannya dengan Kazuha. “Biar gue yang minum kopinya, lo nggak tahan yang pahit-pahit.” ujarnya santai, berpura-pura tak menyadari tiga tatapan berbeda terutama dari Kazuha yang terpana. “Minum! Malah bengong.”

“Kamu tahu aku kurang suka yang pahit?”

“Lo pernah bilang,” jawabnya singkat. Lumine memicingkan matanya karena dari ekspresi bingung Kazuha jelas-jelas dapat diartikan bahwa pria tersebut sama sekali tidak memberitahu Kunikuzushi. Dia melotot ke arah Lumine sebab tahu betul apa yang sedang memenuhi kepala wanita itu. “Jangan mulai.”

“Kalau gue nggak suka apa, Kak?” tidak lama kemudian Lumine mengaduh kesakitan setelah Kunikuzushi menendang tulang keringnya dari bawah meja. Sementara Aether yang tidak ingin bernasib sama seperti kembarannya memilih untuk diam.

“Tapi, ‘kan, kamu suka coklat juga. Mau coba nggak?” Kazuha menawarkan minumnya yang seharusnya punya Kunikuzushi. Ia sudah memegang sedotan sampai ujungnya hampir menyentuh bibir tunangannya. “Cobain deh. Aku udah minum sedikit dan ternyata enak banget loh.”

Terhipnotis oleh mata ruby yang tengah menunggunya dengan penuh semangat, Kunikuzushi tak sanggup hati untuk menolak tawaran tersebut walau sempat tersedak saat mendengar Aether yang berbisik ‘ih ciuman nggak langsung’ ke saudarinya yang dapat didengar oleh Kunikuzushi sendiri. Ingatkan lagi bahwa jalan berdua dengan Kazuha lebih baik daripada harus membawa dua orang bermulut ember.

 

—✧—

 

Status untuk operasi menggagalkan tunangan dengan Kaedehara Kazuha; terlupakan.

Kedekatan antara Kazuha dan Kunikuzushi sulit untuk diabaikan oleh Nahida sebab dia dapat merasakan bagaimana sikap putra tunggalnya yang berubah seratus delapan puluh derajat terhadap Kazuha.

Dia tidak perlu lagi membujuk Kunikuzushi sebab putranya sendiri yang telah memberikan kesempatan bagi Kazuha untuk mendekatkan diri padanya. Nahida juga menyaksikan macam-macam ekspresi baru di wajah putranya dan dibalik semuanya adalah Kazuha.

Kazuha yang mengenalkan Kunikuzushi perasaan baru yang belum pernah putranya tahu.

Dia tidak mencecar putranya untuk menceritakan apa saja yang telah terjadi di antara keduanya sebab Nahida yakin betul bahwa Kunikuzushi pasti akan lebih dulu bercerita jika waktunya sudah tiba. Dan, ia sangat terkejut karena waktu yang diperkirakan datang secepat ini.

Kunikuzushi bergerak resah di ujung sofa, malu untuk membuka percakapan.

“Bagaimana kabarmu dengan Kazuha?”

“Biasa aja.”

Nahida tertawa sambil menutup mulutnya, gemas. “Aku lihat kalian kencan terus.”

“Dipaksa sama dia, tapi…” kepalanya menunduk dalam, tangannya memilin ujung bantal sofa yang ada di atas pangkuannya.

“Senang?”

Hmmh. Kami cuma teman, sesuai dengan keputusannya yang aku buat sama dia. Perjodohannya nggak perlu dibatalkan karena Kaju bilang dia nggak terburu-buru mau nikah.” jelasnya.

Nahida mengenal baik Kunikuzushi lebih dari Kunikuzushi mengenal dirinya sendiri. Putranya memiliki gengsi yang cukup tinggi sehingga sulit baginya untuk mengakui sesuatu secara gamblang, hanya perlu membaca gerak tubuhnya saja Nahida langsung tahu Kunikuzushi mulai menaruh hati pada pria bernama Kaedehara Kazuha. “Kesepakatan?”

“Kaju mau ulang dari awal… berteman dari awal, gitu. Dia tahu kalau aku belum sepenuhnya sembuh dari luka lama,”

Ah.

“setiap diungkit soal teman masa kecil aku selalu kebayang dia.” Kunikuzushi memeluk erat bantalnya. “Kazuha nggak mau aku sedih karena teringat tentangnya. Dia memvalidasi perasaanku sama kayak kamu. Kalian berdua sama. Nggak menilaiku sebelah mata, kalian sama yakinnya kalau aku berhak marah sama wanita yang melahirkanku. Aku merasa berterima kasih–” Kunikuzushi harus menarik napas dalam-dalam karena tanpa sadar sedari tadi dirinya menangis tersedu-sedu.

Nahida menggenggam tangan putranya, matanya berkaca-kaca. “Kuni, semua yang terjadi bukan salahmu. Yang dilakukan olehnya adalah karena keputusannya sendiri, dan kamu punya hak penuh atas apa yang kamu rasakan.”

Ia mengusap wajahnya. “Makasih, Hida. Kamu yang terbaik.” Kunikuzushi merasa tidak perlu menjelaskan betapa bersyukurnya dia memiliki Nahida sebagai ibunya. Pun dirinya juga tidak perlu memberitahu Nahida bahwa dia telah menganggapnya sebagai ibu kandung meski tak sekalipun Kunikuzushi memanggilnya dengan sebutan ‘Mama’.

“Jadi, kamu suka Kazuha?”

“Nggak suka!”

“Kalau gitu pendapatmu tentang dia gimana?”

“Kazuha itu bawelnya melebihi dua temanku. Dia selalu mengutamakan bikin aku senang, gak pernah mikir buat dirinya sendiri. Aku iri karena dia cocok pakai baju apapun kayak… nggak ada yang kelihatan jelek! Terus setiap lagi jalan ngelihat kucing warna hitam langsung nunjuk dan bilang aku mirip kucingnya. Kazuha doyan banget cubit pipiku karena bulet padahal karena ulah dia yang sogok aku pakai manisan mulu. Untungnya bawel dia ketolong sama suaranya yang halus, aku suka dengar ketawanya. Aku suka,” semakin Kunikuzushi sadar semakin lambat pula bicaranya. Nahida tersenyum lebar. “Aku suka Kazuha.”

Belum cukup memproses ucapannya sendiri tiba-tiba Kunikuzushi menunjukkan kepada Nahida bahwa ada panggilan masuk dari Kazuha.

“Halo, Kuni?” sesuai dengan deskripsi Kunikuzushi barusan, suaranya lembut sekali. “Minggu depan jalan-jalan lagi, yuk?”

“Jalan-jalannya minggu depan kenapa telepon sekarang?!”

“Biar nggak ada yang ambil kamu. Kalau tiba-tiba ada yang ajak pergi berdua, ‘kan, aku udah ajak duluan.”

Biar nggak ada yang ambil kamu.

“Nggak jelas lo, jelek!”

“Kalau kamu udah ngedumel berarti jawabannya mau. Oke deh. Sampai ketemu minggu depan, Kuni. Jangan lupa kangen aku, ya.”

“Mustahil kangen lo. Bye.” Kunikuzushi menutup panggilan secepat yang ia bisa sebelum Kazuha merespons.

Lalu, dirinya mendapati Nahida yang tertawa geli melihat interaksi lucu keduanya.

 

—✧—

 

Konyol, begitu batin Kunikuzushi setibanya di depan gerbang rumah kediaman Kaedehara dengan bingkisan buah-buahan yang dibeli setelah kemarin malam mendapatkan kabar bahwa sudah empat hari Kazuha demam.

Namun, Kunikuzushi bukan satu-satunya yang hendak menjenguk. Dia dapat merasakan orang asing di sebelahnya sesekali mencuri pandang, mungkin kebingungan dan Kunikuzushi juga tidak punya keinginan menyapa lebih dulu, hanya saja dia sedikit gondok mengetahui ada orang lain yang ingin menemui tunangannya.

Malas menunggu lebih lama lagi. Kunikuzushi menghubungi Kazuha yang tanpa satu detik langsung diangkat oleh empunya.

“Gue udah di depan pintu rumah lo nih. Sanggup turun nggak?”

Beberapa sekon kemudian terdengar teriakan khawatir seorang wanita sambil menyebut nama Kazuha yang tampaknya berlari menuruni tangga dalam keadaan demam. Tak perlu waktu lama sampai pintu di depan mereka terbuka lebar menampilkan Kazuha yang wajah pucatnya bercucuran keringat, tersenyum lebar ketika berhadapan dengan Kunikuzushi, melupakan satu orang lainnya.

“Hai! Kok kamu nggak kasih tahu mau ke sini?”

Mana mau Kunikuzushi mengaku kalau dia sudah kepalang panik semalaman sehabis mendapatkan kabar tunangannya sakit berhari-hari. Dia memilih untuk menyodorkan bingkisan ke Kazuha. “Buat lo. Kalau gitu gue balik aja soalnya lo punya tamu,” katanya dengan ketus melirik pria yang mematung menyaksikan interaksi mereka.

Begitu diungkit barulah Kazuha tersadar kalau mereka tidak berdua yang ternyata salah satu teman kuliahnya. “Halo.”

Ada kepuasan tersendiri untuknya karena sapaan Kazuha barusan tidak terdengar seantusias Kazuha menyapanya tadi.

“Eh… ini—aku bawa bingkisan! Aku khawatir karena dengar kamu sakit berhari-hari. Dia siapa, ya?”

Oh, nantangin rupanya.

Kunikuzushi berkacak pinggang, dagunya terangkat. “Tunangannya. Sini bingkisannya biar gue yang terima karena Kazuha lagi sakit jadi nggak sanggup bawa yang berat-berat,” dia menerima paksa bingkisan dari teman Kazuha. “Makasih udah jengukin tunangan gue.”

Wajahnya merah padam saat Kunikuzushi menekan suaranya pada kata tunangan seolah-olah ingin membuatnya sadar bahwa kehadirannya tidak diterima dengan baik oleh Kunikuzushi.

Dengan terburu-buru mengucapkan selamat tinggal, mengabaikan ucapan terima kasih dari Kazuha.

Sesudahnya kepergian orang menyebalkan tersebut, ia menoleh ketika mendengar tawa kecil dari belakangnya, mendapati Kazuha yang bersandar pada kusen pintu sambil memeluk bingkisan dari Kunikuzushi.

“Berarti sekarang aku udah resmi—”

“Tunangan gue, ya, buat saat ini sih.”

Bukan hanya Kazuha, tetapi dia sendiri pun terheran-heran mendengar apa yang dia ucapkan baru saja. “Kedengarannya kayak lagi diancam sama kamu.”

“Emang.”

Kazuha tertawa, lagi.

Oh, Tuhan, Kunikuzushi menyukai tawanya.

“Ngapain ketawa?”

“Teman-teman kuliahku belum ada yang tahu soal perjodohan kita, tapi kamu udah bilang duluan ke dia. Kayaknya bakalan heboh kalau kabarnya udah menyebar.”

“Terus mau marahin gue?”

“Nggak kok. Ayo masuk,” ia menyingkir dari ambang pintu untuk mempersilakan tamu spesialnya masuk. Namun, pandangan Kunikuzushi tertuju ke pergelangan tangan Kazuha, tak menemukan gelang lusuh yang biasa melingkar di sana. “Kenapa?”

“Gelangnya ke mana?” tanyanya. Sedikit penasaran.

“Oh gelangnya? Dua hari lalu putus, tapi masih aku simpan kok siapa tahu masih bisa aku betulin, ‘kan?”

“Gak mau beli lagi?”

“Nggak. Gelangnya spesial karena yang buatkan juga orang yang paling spesial buatku.”

“Oh gitu...”

Kazuha menarik tangannya sebab Kunikuzushi tak kunjung bergerak dari posisinya. Ia juga melihat bibirnya mengerucut lucu. “Jangan cemburu lagi dong.”

“Siapa juga yang cemburu, bego!”

“Kamu loh lagi cemburu sama dirimu sendiri.”

Sebelum Kunikuzushi merespons, tahu-tahu sudah ditarik masuk oleh Kazuha yang tertawa bahagia melihat ekspresi syok di wajahnya. 

Dunia itu konyol.

Lebih konyol lagi dengan Kunikuzushi yang selama ini menaruh cemburu pada dirinya sendiri.

Banyak hal yang Kunikuzushi benci di dunia ini.

Tetapi, seorang pria yang mengobrak-abrik kehidupannya, bernama Kaedehara Kazuha adalah bukti nyata dari sebuah pengecualian.

 


 

Series this work belongs to: