Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-05-05
Words:
1,268
Chapters:
1/1
Kudos:
1
Hits:
27

Reparasi

Summary:

Tiada lili putih untuk Odasaku kali ini.

Notes:

WARNING: MAJOR 55 MINUTES SPOILER!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tiada lili putih untuknya kali ini.

Kaki jenjang Dazai menjejak rerumputan yang tumbuh di atas tempat raganya berbaring. Nisan penanda identitas yang telah lama ditinggalkan diusap pelan olehnya, seakan mencari jejak debu kenangan yang pernah keduanya lalui bersama. Tak sejengkal pun ukiran huruf di batu itu pudar, tak juga ilalang dibiarkan meranggas, pria tersebut sendiri yang memastikan rumah sosok paling berartinya mendapat perawatan berkala.

Hanya itu yang bisa Dazai lakukan, membersihkan dan memperasri tampilan pemberhentian final ia yang sudah tinggal nama. Tidak dibutuhkan apresiasi, terima kasih, apalagi permohonan maaf sudah merepotkan. Orang mulia seperti temannya tak perlu tunduk pada sang pelayat, lebih-lebih ketika tenggat waktu bernapasnya telah usai.

Dazai tekukkan lutut, berjongkok demi menghadap nisan. Sejenak ia mencitrakan diri telah dipertemukan oleh si empunya liang. Sejumlah tangkai dandelion ia letakkan dengan khidmat. Bunga-bunga cantik segar Dazai kirimkan kepadanya tiap saat. Hari ini, ia lega diberi kesempatan untuk kembali ke mari dan memberikannya langsung.

“Aku tidak membawa lili putih untukmu, Odasaku.”

Dedaunan berlenggak-lenggok diiringi alunan semilir angin musim panas, seperti menjawab terhadap pemberitahuan Dazai. Membran telinganya tak mampu menangkap banyak bising selain gemerisik daun serta angin yang bersiul. Suasana tempat tinggal kawannya amatlah tenteram, cocok untuk ia yang tak suka keramaian.

“Aku putuskan untuk mengunjungimu setelah mengalami kejadian aneh di sebuah pulau apung buatan manusia. Kau takkan percaya jika kuceritakan,” ucapannya terjeda sebentar, “tetapi mengingat kau bisa melihat lima sampai enam sekon ke depan, kau tak mungkin anggap aku ataupun rekan-rekanku gila.” Dazai terkekeh, dipandangnya permadani hijau disesaki ranjang abadi para individu yang tertidur di hadapannya.

“Manusia hanya menumpang di dunia. Pada akhirnya semua akan ditendang dari sini. Sebagian beruntung bisa pamit baik-baik, beberapa harus merasakan sakit bertubi-tubi. Sejumlah lain jadi saksi sisi bengis sesama kaumnya sebelum nyawa mereka diambil mengatasnamakan 'pengorbanan'.” Dazai mengernyit, wajahnya berubah gelap meski surya masih bersinar terik. Terjangan segumpal memori di masa terpuruk hidup pria itu membuatnya terhenyak, darah dingin berdesir mengisi atom-atom tubuhnya. Ia menelan saliva, menggeleng tak ingin imaji kubangan merah meloncat keluar dari visinya.

Mimpi buruk.

Dazai ingin menatap Odasaku lagi, mendengar suaranya, dan berbincang seperti hari-hari emas dahulu. Ia berharap ada kekuatan ajaib yang mampu mengembalikan Odasaku utuh kepada dunia, kepada dirinya. Kendati ia menderita dari rindu yang tak berkesudahan, sesuatu masih mengganjal batinnya.

Dazai dijerat rasa kecewa atas dirinya sendiri.

Sejak peninggalan Odasaku, pria itu sibuk menjahit benang pengandaian dalam benaknya; pengandaian akan apa yang bisa dicegah jika Dazai menghentikan Odasaku sedikit lebih awal. Ia marah. Mengapa dari segala kemungkinan buruk dalam semesta, Dazai harus kehilangan seseorang yang ia jadikan sokongan hidup?

Ingin ia menyalahkan Gide, yang rela kembali ke medan perang hanya untuk mati di tangan musuh yang layak. Mori, dengan pikiran peliknya diam-diam menyusun sebuah rencana cerdik yang menempatkan Odasaku sebagai pion, menyebabkannya tersingkir dengan mudah. Dazai ingin sekali melampiaskan segala kekecewaannya. Namun menyalahkan orang lain tidak memberikan Dazai apa-apa selain amarah yang kian menggelapkan hatinya. Barangkali, alih-alih orang lain, Dazai justru harus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak lebih sigap dalam berbuat.

“Tapi kau takkan senang dengan itu, kan?” Dazai berbisik, tampak merana. “Kau termasuk golongan yang pergi secara baik-baik, sebab kau lah yang menetapkan waktu kematianmu sendiri, Odasaku. Aku akan jadi orang paling kurang ajar yang tak tahu cara bersyukur kalau kubiarkan perasaan bersalah ini menghantuiku.”

Kepergian Odasaku membuka gerbang baru bagi Dazai untuk diarungi. Nasihat Odasaku lah yang menggeser posisinya dari bawah samudra ke puncak gunung. Jangan salah paham, Dazai muak dengan kehidupan yang sangat setan takdirnya. Walau begitu, Dazai tetap terus hidup untuk Odasaku.

“Kau tahu? Lucunya, aku hampir mati kemarin—sudah mati malah. Si pembuat onar melayangkan trik cerdas dan berhasil mengelabuiku, kupuji ia untuk itu. Namun hal selanjutnya yang ia lakukan justru nggak sopan sekali,” tersiar kekesalan dari intonasi Dazai, “ia menusukku dengan sebuah pisau! Bisa kau bayangkan, Odasaku? Penjaga itu… seperti tak tahu tata krama.” Ia menggeleng dan berdecak, walau ekspresinya jenaka sekaligus terperangah.

Hidung Dazai menyita udara dengan kalap lantas mendengus panjang. Angin berembus kencang, seolah ada yang lupa mematikan kipas angin di rumahnya. Telapak tangannya membelai rumput, mengusir koloni semut yang tengah berbaris menuju sarangnya. Kalau semut-semut itu adalah pengendara mobil, maka tangan Dazai adalah pengendara motor yang suka menyalip tak lihat-lihat; seenak jidat.

“Aku bisa betulan mati kemarin, tapi rupanya dunia masih membutuhkan pesonaku.” Dazai melucu, tetapi sorot teduhnya berkata ada sesuatu lain yang menyetrum benaknya.

“Detik sebelum kesadaranku lenyap, aku merasa lega karena akhirnya aku dapat bertemu denganmu. Rindu hanya bisa dibayar dengan perjumpaan, betul kan? Tapi lihatlah di mana aku sekarang. Di sini, berjalan dan bernapas sebebas kupu-kupu yang terbang berburu nektar.” Dazai mengulum senyum sebelum melanjutkan. “Mereka yang membuatnya mungkin untukku, mereka lah yang menyelamatkanku. Entah itu perbuatan paling bebal di seluruh tata surya, atau malah sangat terpuji sampai pantas dikatakan heroik. Aku serahkan itu untuk kau nilai sendiri.”

Dazai menengadahkan kepala, menatap dedaunan pohon yang rindang. Ia tidak bercanda, dirinya sendiri tidak tahu apakah pantas baginya untuk kembali hidup walau kematian berada di depan mata? Ia sungguh hilang pencerahan. Dunia layaknya terbalik baginya sekarang. Pikirannya terbelah menjadi sejumlah fraksi yang masing-masing memaksakan kehendaknya. Dazai tidak tahu persisnya apa yang ia pikirkan.

Kendati ketika ia melihat kecemasan pudar dari tampilan wajah-wajah familier itu….

Pandangannya kembali jatuh pada guratan nama yang merupakan bagian dari sejarah. “Aku bukan penggemar hal-hal baru. Amanah yang kau tinggalkan lebih mudah didengar daripada dilakukan.”

Ada pusaran air yang bergerak ganas dalam benak Dazai, siap menariknya kapan saja. Karena itu ia terus berbicara. Frasa secara beruntun ia satukan, tak peduli kalau-kalau ia coba melantur.

“Sudah cukup sulit bagiku bekerja sama dengan orang lain. Akan selalu ada jarak antara aku dan orang yang mengenalku. Tetapi orang-orang itu… mereka membantuku menarik tuas jeruji yang selama ini menghalangiku, mereka memotong jarak itu. Memang tidak mudah bagi kami—untukku, namun kejadian kemarin membuatku membuka mata lebar-lebar. Mereka… membutuhkanku. Dan untuk kali pertama setelah kau dan Ango, aku tidak menolak.” Dazai mengabaikan hangat yang membuncah dadanya.

“Jika kau bertanya, apakah aku menyesal?” Ditatapnya langit lazuardi yang bertaburan kapas. “Kurasa kita berdua tahu jawabannya.”

Dazai sadar sepenuhnya jika Odasaku sudah benar-benar pergi. Pemuda itu takkan membiarkan dirinya termakan delusi pengharapan besar, menganggap Odasaku masih hidup. Meski terus terang, Dazai yakin pria itu masih ada bersamanya, menyaksikan dari kejauhan. Itulah alasan mengapa Dazai selalu bersua ke tempat peristirahatan kawan lamanya, berbicara panjang lebar kepada udara kosong, karena Dazai tahu ia tetap punya audiensi.

“Hei, Odasaku. Kau tahu filosofi dandelion?” Dazai meraih lagi setangkai bunga dandelion yang tergeletak di depan batu nisan. Dirinya usil meniupnya pelan, sejumlah kelopak tanggal, lantas memulai perjuangannya menentang angin. “Tak setangguh kawanannya, bunga ini mudah rontok diterpa angin. Cantik, tetapi rapuh. Namun tiap-tiap bibit dandelion yang terbang dan kembali mendarat di sebuah tempat akan menumbuhkan tunas. Jatuhnya mereka tidak berujung tersapu, terlupakan, atau mati, melainkan memberikan kehidupan baru.” Dazai memutar-mutarkan tangkai bunga.

“Dandelion merupakan simbol kebahagiaan, pengharapan dan penyesuaian yang selalu berhasil. Seolah flora kecil ini berusaha meneriakkan, 'Hiduplah seperti aku! Biarkan angin membawamu mengitari dunia sekalipun, kau pasti bisa tumbuh dan beradaptasi di mana pun kau terdampar nantinya!'” Dazai menyunggingkan sebuah cengiran bodoh. “Terdengar familier, heh?”

Dazai tidak percaya dengan akhiran bahagia. Tidak dalam dunia dongeng, terlebih lagi dunia kompleks yang menampungnya sekarang. Dazai juga tidak yakin ia bisa menempuh hidupnya sedikit lebih lama lagi, berusaha mencari tujuan konkret bersama orang-orang yang rela melaju beriringan dengannya.

“Haaa, kelihatannya mulai sekarang aku harus berpikir ratusan kali jika hendak mencolek ajal. Aku tak mau mereka menangis karenaku.” Dazai mengusap wajah. Ia bangkit dari duduknya, meregangkan tangan sebelum menyelipkannya ke saku mantel.

“Hei, Odasaku?” Ia meninggikan intonasi, diangkatnya netra kelamnya ke angkasa. “Berbanggalah di atas sana. Sebab aku tak bawa lili putih hari ini.”

Notes:

hello, thanks for reading! kudos and comments are appreciated :D