Work Text:
Namanya Marno, Marno Adriansyah. Lahir di salah satu desa di Jawa Barat. Umurnya baru menginjak 26 tahun ini. Ia tinggal seorang diri di suatu desa di Sukabumi. Pekerjaan tetapnya ya berkebun tanaman hias dan berjualan sayur keliling. Hidupnya itu monoton, pagi pagi ia akan berjualan sayur keliling sampai siang lalu ia mengambil waktu rehat sebentar. Di sore hari ia akan lanjut mengurus kebun dan mengambil stok sayur untuk dijual esok harinya.
Tidak ada kata libur untuk Marno, setiap hari ia pasti bekerja. Entah tubuhnya terbuat dari apa, Marno belum pernah absen dalam berjualan sayur. Mau sakit atau tidak enak badan pasti Marno akan terus membawa gerobak sayur miliknya mengelilingi desa satu ke desa lainnya. Mungkin Marno adalah reinkarnasi dari pekerja romusha.
Berganti ke Abel, namanya Abel Johandra. Nama yang cukup aneh untuk orang yang tinggal di desa. Namun nama akhirnya adalah gabungan nama bapak dan abangnya. Keren kan? Kalau kata ayahnya, si ketua desa, “Biarin nama saya jelek tapi buat my boy harus bagus!”. Abel lahir di pertengahan tahun, zodiaknya gemini. Makanya dia agak ngeselin. Bisa dibilang Abel adalah anak kesayangan Johan. Berbeda dengan abangnya, Hendra. Abel tumbuh sangat amat manja, nurun dari sifat papanya. Namun baik Hendra atau Johan tidak mempermasalahkan hal ini.
Umur Abel sudah genap 24 tahun. Ia dilarang Johan dan Hendra untuk bekerja. Katanya tidak perlu kerja, bapaknya masih sanggup beli beras untuk 10 tahun kedepan. Jadi disinilah ia, terperangkap di desa bersama keluarganya. Kalau ditanya kegiatan apa saja yang dilakukan Abel pasti bakal dijawab, “Saya mah kerjaannya beres beres rumah, masak buat bapak sama abang. Kalau udah beres palingan saya ngedakom di kamar. Jarang sih pergi sama temen soalnya dia mah udah nikah jadi berduaan mulu sama suaminya”.
Aji, teman satu satunya yang tersisa di desa ini. Tak sedikit teman satu sekolah mereka pergi merantau ke kota untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan lagi. Namun Aji dan Abel memutuskan untuk tetap di desa. Alasannya ya lebih nyaman di desa dibandingkan di kota.
Pagi-pagi sekali Abel bangun dari tidurnya. Ia langsung mandi dan berganti pakaian. Tak lupa ia memakai sunscreen dan kalung peninggalan papanya. Abel langsung beberes rumah dan membuka jendela. Sinar matahari mulai masuk menyinari rumah Kepala Desa itu.
“My boy, maaf ya bapak belum beli sayur kemarin sore. Kamu nanti beli aja yah di si Marno. Sekalian kamu cuci mata my boy” ledek Johan. Abel yang sedang menyapu hanya mendengus pelan. Ia sudah sering diceng-cengin oleh bapak dan abangnya itu. Apalagi sama tukang sayur langganan bapaknya itu. Bisa dibilang keluarga Johan jarang membeli sayur di Marno. Palingan hanya sesekali saat si bapak desa lupa pergi ke pasar kemarin malamnya.
“Bapak hari ini ada kerjaan?” tanya Abel mengalihkan topik. Jujur ia pernah bertemu sekali dengan Marno sebelumnya. Menurutnya Marno ya seperti lelaki pada umumnya.
“Lho my boy lupa. Kan desa kita siang ini ada gotong royong. Sama ada pesta pernikahannya anak Mbok Junem nanti malam. Bapak ya diundang, kamu mau ikut?” tanya Johan.
“Ngga deh. Aku di rumah aja” ucap Abel. “Bapak mau kopi? Biar Abel buatin” ucapnya lagi.
“Peka banget my boy. Kopi item ya my boy thanks you” ucapnya.
Semenjak si hape si bapak didownloadin tiktok sama mba konter pulsa, tingkat kealayannya semakin tinggi. Role model si bapak itu Mursid, tiktokers yang berhasil membeli moge dengan hasil endorse celana tartan kolor itu. Setelah Abel membuat kopi dan memberikannya ke si bapak, ia masuk ke dalam kamar abangnya itu.
“Bang, bang, ABAAANG” panggil Abel.
“Apa dek apa?” jawab Hendra yang masih setengah tertidur itu.
“Temenin belanja sayur, ayo bang adek takut” ucap Abel.
“Sendiri aja adek. Noh ambil duit abang di dompet ya terserah berapa. Abang ngantuk banget semalem baru beres kerja jam tiga” ucap Hendra.
Abel memanyunkan bibirnya. Dengan langkah yang tergesa ia berjalan menuju meja kerja Hendra, mengambil dompet kulit berwarna coklat itu lalu mengintip dalamnya. Ada 4 lembar uang berwarna biru, tak tanggung-tanggung Abel langsung ambil semuanya.
“Pak, mau makan apa hari ini?” tanya Abel sembari memakai sendal.
“Terserah my boy aja deh. Oh ya dek, kamu beli tempe tahu sama sirop juga ya di si Marno. Nanti kamu gorengin buat warga yang gotong royong” ucap Johan.
“Oke pak” ucap Abel.
Gerobak sayur Mas Marno selalu ngetem di depan sawah Mbak Yati. Namun ia tak tahu pasti apa jam segini Marno sudah ngetem apa belum. Jarak 300 meter harus ditempuh Abel. Dari kejauhan sudah terlihat gerobak sayur namun tidak ada penjualnya. Perlahan ia dekati gerobak itu.
“Beli” ucap Abel pelan.
“Beli apa dek?” Marno muncul di belakang Abel, tentu saja Abel terkejut setengah mati. Jantung Abel rasanya mau copot.
“Anu mas. Ngagetin aja” ucap Abel.
“Hehehe. Tumben Dek Abel yang beli sayur. Bapak kemana?” tanya Marno. Rupanya ia habis mengambil ember air untuk mencuci sayuran. Penampilan Marno selalu rapih, handuk kecil yang melingkar di leher, kaus dan celana pendek, dan tak lupa topi yang menyerupai ember miliknya.
“Bapak di rumah, Mas. Ini mau beli ayam fillet aja sama bumbu sop. Oh ya mas, sirop ada?” ucap Abel lalu menatap lawan bicaranya. W-Woah…. Benar ini Marno si pedagang buah? batinnya. Abel sekarang paham dengan perkataan mbak-mbak tukang rumpi di dekat Balai Desa, Marno memang setampan itu!
“Dek?” panggil Marno.
“E-Eh iya mas” Abel baru tersadar dari lamunannya.
“Jadi tiga puluh dek. Mau tambah apalagi?” tanya Marno sembari memasukan potongan ayam fillet ke plastik.
“Oh iya, Sirop dua, tempe lima ribu, tahu enam ribu deh” ucap Abel lagi. Kini ia tak mau menatap Marno lama lama.
“Mau ada tamu dek? Kok beli sirop?” tanya Marno. Memang tukang sayur satu ini kelewat ramah. Mau pembeli lama atau baru pasti diajak ngobrol. Memang yah bener bener nih pedagang satu, kalau ada pembeli yang baper bagaimana?
“Mau bikin cemilan untuk yang gotong royong nantinya, Mas” ucap Abel. Marno mengernyitkan alisnya. Oh ya ia baru ingat ada gotong royong siang ini.
“Oalah yaudah ini saya tambahin tahu tempenya ya biar bisa ngasih banyakan” ucap Marno. Ia memasukan dua balok tempe dan satu balok tahu ke dalam plastik Abel.
“Eh mas gak usah repot repot..”
“Gapapa toh buat warga ini. Jadi lima puluh ribu aja Dek” ucap Marno.
“Lima puluh ya, Mas” ucap Abel lalu memberikan selembar 50.000.
“Makasih dek. Salam buat bapak dan Hendra ya!” ucap Marno.
Di perjalanan pulang Abel tak bisa berhenti senyum-senyum sendiri. Membayangkan setiap paginya ia membeli sayur, melihat wajah tampan Mas Marno, pdkt lalu menikah. Aduh Abel jadi makin senyum. Tak sadar ia sudah sampai di rumahnya.
“Beli apa dek?” tanya Hendra dengan rambut acak-acakan khas orang baru bangun tidur.
“Sop sama ayam geprek aja. Bapak malem ada kondangan, abang gak temenin?” tanya Abel sembari melepas sendalnya.
“Temenin. Kamu gak ikut?” tanya Hendra.
“Males” ucap Abel.
Kegiatannya sehari-hari ya begini, ngurusin bapak sama abangnya di rumah, masak, masakin warga dan kadang juga Abel yang ngurusin kandang milik bapaknya. Berbeda dengan Hendra, ia bekerja jadi PNS. Abel tak tahu pasti jabatan atau pekerjaannya apa yang penting abangnya itu PNS.
Sesampainya di dapur, tangannya mulai memotong bawang dan menyiapkan bumbu lainnya. Tak terasa sudah tiga jam ia berurusan dengan masakan. Sudah tak perlu diragukan lagi keahlian memasak Abel. Rasanya pasti enak no debat no kecot.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi. Masih ada waktu 3 jam untuk ia beristirahat sebelum ikut bapak gotong royong.
Setelah pekerjaan rumah dan masakan beres sudah waktunya Abel untuk sarapan, sendiri. Bapak dan abangnya sudah duluan karena harus bekerja. Dan kembalilah ia ke kamarnya, istilahnya ngaso. Ia mengambil ponsel miliknya lalu menekan telefon ke kontak seseorang.
“Halo”
“Kamu dimana?” ucapnya ke seseorang itu.
“Ke rumah sini, Ji, kalo udah beberes aja. Mas Jendra ntar ikut gotong royong kan? Kita barengan aja ke balai nanti” ucapnya lagi.
“Iya lagi males kesitu. Makanya kesini ya ajak aja suamimu, kutunggu” ucapnya lalu mengakhiri teleponnya.
Aji, orang yang ditelpon Abel.
————
11.00, Kamar Abel.
“Kalian tau Mas Marno gak?” tanya Abel.
Mereka bertiga sudah berada di dalam kamarnya Abel. Sudah biasa bagi Aji untuk membawa suaminya main ke rumah Abel. Lagipula mereka bertiga masuk sekolah yang sama, main di grup yang sama, tidak perlu takut Abel akan jadi pelakor kayak di video tiktok.
“Tau. Dia pedagang sayur yang dulu di sekolah sebelah kan?” tanya Aji.
“Tadi aku beli sayur di dia” ucap Abel sembari mengunyah tempe goreng yang dibuatnya tadi.
“Lho emang biasanya kamu beli sayur dimana, Bel?” tanya Aji.
“Di pasar malem. Bapak kan yang beli, ini aku baru pertama disuruh beli sayur di Mas Marno. Ternyata dia ganteng juga yah bener kata kamu, Ji” ucap Abel. Aji mah senyum senyum aja. Benar kan apa kata dia? siapa suruh Abel dari dulu denial kalo dikasih tau.
“Itu temen kamu, Mas” ucap Aji ke Jendra.
“Siapa?” tanya Jendra kebingungan.
“Yang suka mompa ban gerobak di bengkel. Kamu lupa? Katanya udah jadi cs” ucap Aji.
“Oh namanya Marno? Dia suruh aku manggil dia Eno aja. Jadi aku bingung” ucap Jendra.
“Ganteng dia ih dari pagi aku kepikiran dia” ucap Abel. Normal bukan untuk laki-laki berumur 24 tahun untuk jatuh cinta pada pandangan pertama?.
“Akhirnya kamu jatuh cinta ya, Bel” ucap Aji.
“24 tahun kita hidup di desa ini baru kali ini aku denger kamu ngomongin cowok loh” ucap Jendra.
Abel jadi salah tingkah dibuatnya. Memang baru kali ini Abel merasa aneh. Padahal Mas Marno sudah hidup berdampingan tapi kenapa mereka sama sekali tidak pernah bertemu?
“Bingung aku tuh sama kamu” ucap Aji. “Dulu mau dilamar sama anak jagal babi di desa sebelah tapi kamu nolak. Sekarang sama tukang sayur mau” ucapnya lagi.
“Anak tukang jagal babi? Aa Himdan? Dia kan udah duda, pantes aja Abel gamau” ucap Jendra.
“TUHHH! Suamimu aja tau. Masa kamu mau sahabat kamu nikah sama duda anak tiga? Mau sekaya apapun gak dulu deh. Aku tuh nikah mau berduaan dulu sama suami, anak nanti aja dulu” ucap Abel.
“Yaudah kamu minta nomor wa nya si Mas Marno, nanti habis itu pdkt aja. Kamu gas duluan, eh tapi dia udah berkeluarga belum? atau ada pacar? Coba Mas, kamu selidiki dulu” ucap Aji ke Jendra.
“Belum. Aku udah ngobrol duluan sama dia ya, intermezzo aja. Dia tuh hidupnya sendiri, jualan sayur dari selesai SMA. Dulu tinggal sama pamannya tapi sudah meninggal. Jadi ya gitu deh” ucap Jendra.
“Cinta cintaan dia gak terlalu ngurus. Katanya cari uang dulu biar bisa nikah yang cepet. Aku tanya udah ada calonnya belum No? gitu katanya belum terus ketawa. Kayaknya emang selera komedi dia jelek” ucap Jendra.
“Kamu juga gitu, Jen” ucap Abel membela Marno.
“Nanti gotong royong ada dia gak ya?” tanya Abel. Abel tidak jatuh cinta sama tukang sayur itu, ada rasa lain yang ia tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikannya. Yah semoga saja pas gotong royong ada Mas Marno.
———————
14.20, Balai Desa.
“Bapak” panggil Abel sambil menenteng sebakul gorengan tak lupa ada Aji yang membantu bawa segalon sirup. Jendra sudah duluan ke Balai karena sudah dipanggil oleh Johan via whatsapp. Jangan diragukan kekuatan Aji, badannya kekar meskipun di ranjang dia yang dimasukin.
“Eh my boy! Warga ayo dimakan dulu sini” ucap Johan ke warga. “My boy makasih ya” ucapnya lagi.
Disaat warga sedang santai menyantap gorengan Abel, ia dan Aji duduk di pendopo depan Balai.
“Tuh si ganteng” ucap Aji sambil menunjuk Marno dan Jendra. Benar kata Jendra, mereka sudah jadi cs.
“Ngapain toh sama suamimu itu” ucap Abel.
“Gatau, coba aku panggil. MAS! MAS JENDRA! sini!” Aji memberi isyarat agar Jendra kesini.
Jendra berjalan menghampiri Aji dan Marno juga ikut bersamanya. Jantung Abel berdegup kencang, mukanya memucat, ia gugup setengah mati. Takut harus bersikap seperti apa di depan Marno nantinya.
“Enak gorengannya, Bel” ucap Jendra.
“Makasih, Jen” ucap Abel.
“Eh, Mas” panggil Aji ke Marno.
“Halo Dek Aji, Dek Abel” senyumannya sangat amat cerah. Abel makin salah tingkah dibuatnya. Ia hanya tersenyum membalas sapaan Mas Marno. Sumpah, Mas Marno dengan kutang putih dan celana pendek menambah kesan gantengnya.
“Dek, ikut mas ketemu bapak dulu yuk” ucap Jendra ke Aji.
“Bentar ya” ucap Aji, lalu meninggalkan mereka berdua di pendopo.
Suasana canggung membuat Abel jadi kurang nyaman. Otaknya berpikir topik apa yang harus dibahas bersama Marno. “Lagi sibuk apa Dek?” tanya Marno.
“E-eh” Abel gugup sendiri. Tapi untungnya Marno yang memulai obrolan duluan. “Bantuin bapak di rumah doang, Mas. Kalau mas gimana? Udah punya pacar?” goblok. Abel goblok. Kenapa to the point banget.
“Ahahaha kenapa emangnya dek? Mau daftar jadi pacar aku?” tanya Mas Marno lalu ia teguk sirop buatan Abel itu. Terik matahari menyinari wajah Mas Marno, asli, Abel jadi… ah…
“Berarti belum ya?” Abel meneguk salivanya, Mas Marno ganteng banget.
“Belum. Oh ya tadi Jendra bilang kata kamu aku tuh ganteng ya?” goda Mas Marno.
Keparat bajingan Jendra dan mulut problematicnya itu. Abel jadi bingung mau jawab apa. “Iya mas. Oh iya boleh minta nomor whatsapp gak? Biar gampang kalau mau beli sayur” ucap Abel lagi.
——————————
Rumah, 18.20
“My boy jaga rumah ya. Kalau takut nanti panggil Aji aja” ucap Bapak yang sudah rapih dengan batiknya. Hendra pun sama, batiknya kembar sama bapak.
“Abel udah gede pak. Udah gak perlu ditemenin Aji. Nanti kalau Abel pengen keluar pasti Abel kabarin” ucapnya.
Setelah bapak dan abangnya pergi, Abel mengunci pintu dan menyetel TV keras keras. Ia ambil ponselnya lalu mengetik suatu nama di kolom pencarian whatsappnya.
You.
Mas Marno, mau beli sayur bisa…
Mas Marno.
Lho kenapa malam malam gini? Aku udah selesai jualannya…. Besok pagi mau gak dek?
Aduh typingnya aja ganteng. Jantung Abel berdegup makin kencang. Ia kembali mengetik jawabannya.
You.
Sekarang, mas.
Bisa gak ya? Kalau bisa aku ke rumahmu aja mas.
Abel deg degan menunggu jawaban Mas Marno. Ia berdoa ke mendiang papanya, katanya dalam hati gini, “Pa, please aku pengen Mas Marno!”.
Ting!
Mas Marno.
Bisa dek. Kesini aja ya.
Di dekat balai, rumahnya gang kecil nanti masuk aja saya jemput di dekat gang.
Serasa dapat restu dari papanya, Abel langsung senang setengah mati. Ia mematikan TV lalu mengunci rumah. Tak lupa ia mengabari bapaknya. Izinnya sih ke rumah Aji.
Sepanjang perjalanan menuju Balai desa Abel mati matian menahan asam lambungnya yang bergejolak. Begini nih kalau Abel lagi gugup, asam lambungnya langsung naik. Tak terasa ia sudah dekat dengan Balai Desa, ia ambil ponselnya lalu mengabari Mas Marno.
“Dek” panggil Mas Marno.
Belum juga dikabari ternyata Mas Marno sudah menunggu di depan gang. Senyuman terukir di wajah Abel. Ia mempercepat langkahannya.
——————
19.30, Rumah Mas Marno.
“Maaf kalau rumahnya kecil ya dek” ucap Marno.
Penampilannya malam ini sangat.. tertutup. Ia memakai sweater dan celana panjang kotak kotak. “Mau sayur apa dek? Sayurnya ada di belakang soalnya gerobaknya habis saya cuci jadi masih dikeringin” ucap Marno lagi.
“Anu.. Mas.. Mau bawang aja..” ucap Abel.
“Bawang aja?”
“Cabe! Mmmm… Udah deh itu aja” ucap Abel.
Marno pergi ke gudang belakang sementara Abel duduk di sofa ruang tamu. Untuk orang yang tinggal sendiri memang rumah ini dibilang pas. Kecil namun pas. Gerobak Mas Marno terparkir di depan Abel. Ia pun bingung kenapa gerobaknya bisa masuk ke dalam rumah.
“Ini dek” ucap Mas Marno lalu memberikan sekantong belanjaan yang diminta Abel.
Abel merogoh kantongnya, mencari dompet miliknya. “Eh.. Mas.. Kayaknya aku lupa bawa dompet..” ucap Abel. Ia jadi merasa tidak enak, ia kelupaan bawa dompetnya.
“Yowes gapapa. Kita kan kenal. Kapan kapan aja bayarnya” ucap Mas Marno lalu duduk di samping Abel.
“Kamu serius dek kesini cuma mau beli bawang sama cabe? Gak bisa nunggu besok kah?” tanyanya.
“Sebenarnya ada lagi sih mas..”
Marno menatap Abel dalam, menunggu jawaban dari anak kepala desa ini. “Apa yah…. Terong ada mas?” tanyanya.
Sedikit terkejut dengan jawaban Abel membuat Marno jadi ingin ketawa. Sebisa mungkin ia tahan. “Terong adanya besok, Dek” ucapnya.
“Yah.. Sekarang kosong banget?” tanya Abel.
“Ada sih.. Terong aku, mau?” ucap Marno.
Keduanya terdiam. Abel jadi bingung menanggapi Marno entah ini bercanda atau bukan tapi Abel mau, mau terongnya Mas Marno. “Emang boleh? Nanti pacarnya mas marah kalau diambil aku” ucap Abel.
“Tadi kan udah ditanya dan jawabannya gak ada. Gak percaya banget sih kamu” ucap Marno.
Abel terdiam, bingung mau menanggapi apa. Haruskah ia menjadi binal? atau ia harus jaga image? Aduh Abel bingung.
“Kamu suka ya sama saya” ucap Marno.
“A-Apa sih.. Geer” ucap Abel.
“Keliatan dek. Muka kamu tuh kayak minta diterkam sama mas” ucap Marno.
“Kalau aku minta diterkam di atas gerobak sama Mas Marno gimana? Mau gak?” tanya Abel.
“Hah…” jujur Marno bingung. Bagaimana? Di atas gerobak…..? Ia tidak salah dengar..?
“Aku gak suka sama Mas Marno… Aku tuh… Birahi… Aduh maaf, Mas… Aku pulang aja ya” ucap Abel. Ia membawa plastik belanjaannya lalu berjalan cepat ke pintu. Ia coba buka pintu itu namun pintu itu tertutup. “Mas.. aduh..” ucap si Abel.
“Iya mas kunci biar kamu gak bisa lari. Ya ampun dek, baru pertama kali liat mas langsung birahi. Minta dientotin di atas gerobak lagi” ucap Marno. Ia menghampiri Abel yang masih berdiri di depan pintu.
“Mas.. Aduh.. Mas maaf yah…”
“Jangan minta maaf toh dek. Wajar namanya juga laki laki dewasa, mas juga birahi kalau kamu aduh aduhan terus” ucap Marno.
“Aduh… Aduh.. Aduh”
“Malah sengaja. Jadi kamu mau dientotin di atas gerobak?” tanya Marno.
Abel menunduk malu… birahi memang wajar.. apalagi ia laki laki berumur 24 tahun dan belum pernah sama sekali berhubungan dengan orang. “Mas.. mau kah?” tanya Abel.
“Mas takut dimarahi bapakmu” ucap Mas Marno.
Abel mendengus pelan, ia jadi tidak bisa apa ap kalau Marno sudah bawa bawa bapak. Ia memajukan bibirnya, malu melihat Mas Marno. “Tapi kamu bisa jaga rahasia kan?” tanya Marno.
Tubuh Abel digendong naik ke atas gerobak kayu itu. Bibir mereka masih saling melumat, ini kali pertama Abel beradu lidah dengan seseorang. Berbeda dengan Marno, ia seperti sudah pro dalam hal ini. Tangannya menangkup wajah Marno, ia sedikit kesusahan mengimbangi tempo ciuman Marno. “M-Mas aduh…” lenguhannya keluar saat Marno menciumi leher bening Abel.
“Mas makin sange kalau kamu aduh aduhan terus, dek” ucap Marno. Sudah tidak peduli omongannya terlalu kotor atau tidak.
“Adek juga.. aduh mas panas.. mau dientotin Mas Marno” Abel juga ikut-ikut ngomong kotor kayak gini bikin Marno makin semangat. Paha Abel dibuka lebar lebar sama Marno sembari lehernya dikecup kecup. Tubuh Abel disandarkan ke tiang gerobak Marno. Kaki Abel yang jenjang sengaja dilingkarkan di pinggang Marno.
Tangan Marno masuk ke dalam baju Abel, meraba perut lalu turun ke pinggang, meremas pinggang ramping itu. Bibir mereka kembali disatukan oleh Abel. Rasanya malu ketika Marno menyentuh dirinya. “Mmmhh” erang Abel saat tangan Marno berpindah ke putingnya.
Putingnya dipilin, diputar, dan dicubit bergantian oleh Marno. Lumatan di bibirnya juga enggan dilepas oleh keduanya. “Mas… Mas.. Mas panas…” ucap Abel di tengah ciuman mereka.
“Mau dibuka sekarang dek? Gak sabaran banget mau dientot terongnya mas ya?” ucap Marno. Ia melepas pilinan di puting Abel lalu membuka sweater miliknya. Otot di perut Mas Marno memang gak keliatan malah tubuhnya cenderung kurus. Namun hal ini menjadi poin plus bagi Abel karena di pikirannya orang yang tubuhnya kurus pasti staminanya dikit.
Abel pun sama, ia kesusahan membuka bajunya itu. Tubuhnya masih lemas tak percaya kalau sekarang dia sekarang berada di atas gerobak Mas Marno. Melihat Abel yang kesusahan, Marno berinisiatif menolong. Ia buka baju dan celana Abel.
“Seksi banget dek, aduh mas jadi makin sange liat kamu begini. Mulus banget” ucap Marno. Tangannya mengeksplor tubuh Abel, diraba raba sesekali gundukan di dadanya diremas. “Montok dek. Pasti sering kamu remes remes sendiri kan di kamar?” ucap Marno lagi.
Sementara Abel cuma bisa pasrah, tubuhnya lemas setiap kali disentuh Marno. Kepalanya ia anggukan cepat, mulutnya menganga lebar mengeluarkan desahan nakal. “Mmh! Mas! Mas! Nghh! I-Iyaah!!”
Selesai tangannya meremas dada Abel, sekarang bergantian dengan mulutnya. Satu tangannya melingkar di punggung Abel, menahan agar punggung si cantik tidak langsung menempel dengan tiang. Kepalanya menunduk, lidahnya menjulur menjilat puting menonjol itu.
“Mas- Ahhh!”
Abel meringis saat putingnya digigit kecil oleh Marno. Tangan Abel meremas kuat surai hitam milik Marno. Hisapan di putingnya menguat, seperti nyusuin bayi gede.
“Dek, Mas gabisa stop. Enak banget susunya” ucap Marno di sela sela nyusu mereka. “Tahan ya dek, mas mau pindah ke yang kanan” ucap Marno.
Hisapannya berpindah ke puting sebelah kanan. Puting sebelah kiri sudah mulai memerah namun Marno tidak ingin berhenti. Jarinya mencubit, memilin, lalu memutar puting itu. Tubuh Abel jadi gelinjangan. “Hhhh! Hnghhh! M-Mas! M-Mau keluar mmhh!” erang si cantik.
Bukannya berhenti Marno malah makin mempercepat tempo jilatannya. Tubuh Abel sudah bergerak kesana kemari, wajahnya juga sudah tidak bisa dikontrol. Matanya juling ke atas, penisnya berkedut ingin memuncratkan sesuatu.
“Mas! Mas! Mas Marno!” ucap Abel sebelum cairan putih kental keluar dari penisnya. Marno terkekeh melihat Abel yang masih gemetaran itu. Spermanya muncrat mengotori tubuh telanjang Abel dan sedikit muncrat ke perut Marno.
“Enak dek? Padahal cuma dimainin loh biji dadanya” kekeh Marno. Kini ia sedang mengumpulkan sperma Abel di jarinya.
“M-Mau apa mas?” tanya Abel. Penampilan dirinya sudah amburadul, rambutnya lepek karena keringat, dan juga keringat yang bercucuran di lehernya.
“Mau masukin kamu? Katanya mau dientot di atas gerobak?” tanya Marno. Ia mengoleskan sperma Abel ke lubangnya. Kemudian ia lepas celana panjangnya itu. Abel merinding saat melihat ukuran “terong” milik Mas Marno. Terongnya gemuk, berurat dan sedikit bengkok? Abel jadi menelan ludah sendiri.
“Dek coba ngeludah sini” ucap Marno lalu dituruti Abel, ia meludah di telapak tangan Marno. Lubangnya diusap Marno sebelum penisnya masuk. “Siap dek?” tanya Marno lagi.
“Bentar! Mas.. boleh sambil cium? Aku takut…” ucap Abel.
“Baru pertama ya dek?” tanya Marno. “Kalau takut gapapa kok gak usah dek..” ucapnya lagi.
“Nggak mas.. Cium aja apa susahnya ayo” Abel menarik leher mas Marno lalu ia langsung “lahap” bibir seksi itu. Sementara Marno masih bsedikit kesusahan memasuki lubang Abel.
“Hnghh! Hhh!” bibir Marno digigit oleh Abel. Cengkraman di pundaknya juga menguat. “Mas- Ahh! Nghh S-Sakit Hhhh!” erang Abel.
“Aduh sempit banget, Dek. Mas diemin dulu ya? Takut gancet…” ucap Marno. Dengan hati hati ia diam tidak bergerak, takut malah menyakiti Abel.
10 menit mereka diam di posisi yang sama. Sedari tadi Marno mengecup bibir atau mata Abel. Ia jadi merasa tidak enak dengan Abel. Marno tidak tahu ini kali pertamanya Abel berhubungan dengan orang. Kalau saja dari awal tau pasti ia setidaknya akan foreplay dulu.
“Masih sakit, Dek?” tanya Marno.
Abel menggeleng. “Coba mas gerakin, aku bisa tahan” ucapnya.
Marno bergerak perlahan, jujur ia juga merasa sakit karena lubang Abel sangat sempit. “Gimana dek?” ucap Marno.
“E-Enak mmh.. Enak mas”
Mendengar desahan seksi anak kades itu membuat Marno senang. Perlahan ia menggenjot lubang sempit itu. Pinggulnya ia gerakan maju mundur. Ukuran gerobak ini memang kecil dan bisa dibilang tidak terlalu tinggi makanya Marno tidak kesusahan sama sekali.
“Mas ahh! AHHH! iyah! iya disitu!”
Marno sudah menemukan titik kenikmatan Abel, ia mulai menghentak penisnya ke titik itu. Abel menutup mulutnya sendiri, ia malu jika terlalu berisik. “Hhh! Hnghh! Hhh!” erangnya setiap kali Marno menghentak pusat kenikmatannya itu.
“Gausah ditahan dek, mas suka denger desahan kamu” ucapnya.
Genjotan Marno semakin dipercepat membuat Abel jadi kewalahan. Ia sudah tidak bisa bergerak, tenaganya habis. Pasrah, Abel hanya pasrah dibawah Mas Marno. Tubuhnya terhentak hentak ke belakang tiang gerobak. Keringatnya berjatuhan ke perutnya. Penisnya juga sudah becek akibat cairan spermanya.
“Ssshh Dek, aduh mas mau keluar” ucap Marno. Ia menggenjot lubang itu perlahan, ekspresi wajahnya tak bisa tertahan.
“Di dalem- dalem M-Mas!”
Penis berurat itu menghentak lubang sempit Abel berkali kali. Mau dilepas, dikeluarin di luar juga nanggung. “Shh! Ahh! Mas!” mata Abel juling ke atas. Sperma Marno muncrat, tumpah di dalam lubang Abel.
Nafas mereka berdua terengah-engah. Suhu panas keluar dari tubuh mereka namun satu sama lain enggan melepaskan tautan di bibirnya. Perlahan Marno cabut penisnya dari lubang itu lalu ia turunkan tubuh Abel dari gerobak sayur miliknya.
“Bisa jalan gak dek?” tanya Marno khawatir.
“Bisa tapi ini gerobak mas jadi kotor lagi..” ucap Abel.
Gerobak Marno kondisinya sama seperti lubang Abel, penuh sperma Marno. Namun peduli apa Marno? Yang penting Abel bukan gerobak.
“Gapapa gerobak mah. Kamu gapapa? Mau duduk dulu?” tanya Marno sembari memegangi lengan Abel perhatian.
“Ke Dapur, mau minum aja” ucap Abel.
Mereka berdua sudah berada di dapur. Hanya berdua di rumah, tanpa busana. Marno memberi segelas air ke Abel.
“Capek dek? Mau mas antar pulang? Udah jam 9 ini” ucap Marno.
“Masa langsung pulang” ucap Abel setelah meneguk segelas air itu tanpa tersisa.
Marno terkekeh, ia menaruh gelas yang kosong ke wastafel cuci piring. “Emangnya mau ngapain lagi? Mau nginep disini?” tanya Marno.
“Mau anu..”
“Anu di dapur? Mas ada kamar loh dek…”
“Tapi maunya di dapur…”
“Yaudah iya apa sih yang engga buat Dek Abel”
Abel siap, sampe pingsan juga siap.
—
“Ssshh! Mas Aduh” erang Abel saat Marno mendorong tubuhnya ke belakang. Punggungnya kini bersentuhan ke lemari piring. “Mas, aku nungging aja ya?” ucap Abel lalu membalikan tubuhnya.
“Montok banget dek. Inimah mas bisa nagih” ucapnya. Marno menarik pinggang Abel ke belakang.
“Mas masukin ya dek?” ucap Marno. Ia mengarahkan penisnya ke lubang itu kembali. “Sempit banget dek.. Mas kesusahan ini” ucap Marno.
Abel sedikit kesusahan menahan tubuhnya yang lemas itu. Sekuat tenaga pantatnya ditunggingkan ke belakang, menggesek penis Marno yang setengah tegang itu “Dek.. Aduh.. Gak sabaran banget mau dikontolin sama mas ya” ucap Marno.
Tangannya meremas kedua pantat Abel lalu ia kembali memasukan penisnya ke dalam lubang itu. “A-Aahhh” desah Marno saat batang penisnya dijepit di dalam sana.
Kedua tangan Abel bertumpu di gagang pintu lemari piring. Tubuhnya terhentak-hentak ke depan akibat ulah Marno. “Mas-Mas aahh! Ahhh ahhh ahh!” desahan nakal itu keluar tanpa malu.
“Enak dek? Enak dimentokin dari belakang?” tanya Marno. Kedua tangannya menahan pinggang Abel agar tetap diam di tempatnya. Abel tak bisa merespon ucapan Mas Marno, dirinya hanya bisa angguk-angguk pasrah. Hentakan ajaib Marno tak berhenti sedari tadi. Bunyi kulit bertemu kulit memenuhi ruangan dapur ini.
“Jawab dong, Dek, Enak gak?” ucap Marno lagi. Kali ini ia bergerak pelan namun dalam. Mau tau apa itu pelan namun dalam? Tanya saja ke Abel, dia yang rasain tuh.
“E-Enak hnghh.. Enak Mas Marno, apalagi kalau dimentokin pelan kayak gini, Aduh! Ahhh! Massh!” erang Abel tak tertahan, tubuhnya dibuat lemas dan makin lemas.
“Seneng dengernya dek. Padahal baru pertama kali mas entotin kamu tapi kamu udah keenakan gini, lama lama mas hamilin kamu ya? Nanti kita nikah terus bisa begini setiap hari” ucap Marno sembari terengah engah. Pinggulnya tidak bisa berhenti serasa hilang kendali. “Dek.. Aduh jangan disempitin” ujarnya.
Tubuh Abel diputar menghadap dirinya, punggungnya menempel dengan lemari piring itu. Pasrah, sekali lagi Abel hanya pasrah. Wajahnya sudah kacau, liur yang menetes di ujung bibir dan tak lupa bibirnya bengkak. Satu kaki Abel diangkat oleh Marno, lalu ia kembali menghantam lubang Abel.
“Shhh! Mmhhh!” kepala Marno terangkat ke atas, kalau gini nikmat dunia mana lagi yang didustakan. “E-Eh dek!” terkejut ia karena lagi-lagi Abel keluar tanpa disentuh. Cairan spermanya tidak sekental tadinya, mungkin karena efek sudah tiga kali keluar.
“Maaf.. aduhh! Hhh! Massh! Capekhh” ucap Abel terbata-bata. Pipi Marno ia tangkup lalu dilumatnya bibir tukang sayur itu. Suara kecipak ludah mereka kembali terdengar. Dapur rumah Marno memang bisa dibilang pengap, ventilasi udaranya ditutup jadi angin tidak bisa masuk. Suhu tubuh mereka semakin panas, keringat tidak berhenti bercucuran. Namun stamina Marno tak ada habisnya. Ia malah semakin semangat menggenjot lubang itu.
“Dek! Siap siap” ucap Marno.
Hentakkan pertama, disusul kedua lalu ketiga. Marno keluar di dalam lagi di hentakkan yang kelima. Tubuh Marno hampir ambruk di atas Abel, untung saja tangannya menahan tubuhnya itu.
Beberapa saat kemudian, setelah ia mengambil nafas dan mengumpulkan tenaga, ia gendong tubuh anak kades itu masuk ke kamarnya.
—----
“Mas kayaknya aku gak bisa jalan pulang deh” ucap Abel. Mereka berdua sudah tiduran di ranjang kecil Mas Marno, lebih tepatnya Abel sedang tiduran di atas pelukan Marno.
“Aduh dek.. Mas anter pulang ya? Nanti kita jujur aja ke bapak” ucap Marno panik. Sedari tadi tangannya mengusap-usap punggung telanjang Abel. “Mas siap, mati di tangan bapak juga siap” ucapnya lagi.
“Ih! Mas! Udah aku pulang setengah jam lagi. Kamu anter aku sampe depan gang aja” ucap Abel. Ia mendusal di dada bidang Marno, hmm bau asem, Marno butuh mandi.
“Mas, ngobrol boleh?” tanya Abel.
“Boleh”
Abel ingin kenal lebih dalam dengan Mas Marno, tapi ia takut ingin bertanya. Bingung memulai darimana. “Mas Marno suka Messi?” tanya Abel.
“Saya gak suka bola. Kecuali bola kamu sih” ucap Marno.
“Mas ih! Mas Marno tinggal sendiri doang?” tanya Abel.
“Iya. Kamu mau nemenin saya?” tanyanya. Abel terdiam sebentar, ia bingung kalau ditanya gini. Masalahnya baru kenal dan Mas Marno asal usulnya belum jelas. Kalau ternyata dia itu bandar narkoba yang nyamar jadi tukang sayur gimana?
“Duit aku lumayan banyak dek. Tapi paman Mas ninggalin tanah di kota sebelah. Kalau disuruh nikahin kamu sekarang juga sanggup” ucap Marno lagi. Abel memukul pundak Marno pelan. Ia menatap lawan bicaranya itu, masih enggan berbicara.
“Orang tua mas kemana?” tanya Marno.
Marno terdiam sebentar. Ia menatap balik Abel, senyumnya terangkat. “Di Jakarta, udah punya hidup masing-masing. Mas udah gak diurus juga” ucap Marno.
Abel melingkarkan tangannya ke leher Marno, memeluknya erat. Ia tak sangka Marno hidup semenyedihkan ini. “Gapapa dek, gak usah begini. Mas udah biasa” ucap Marno. Ia mengusap pinggang ramping Abel sembari dikecup-kecup pundak si cantik itu.
“Mas udah gak tau kabar mereka lagi?” tanya Abel.
“Terakhir ibu yang nelpon itu dua bulan lalu, biasa minta surat tanah pamannya mas. Mau dijual katanya untuk biaya anaknya kuliah” ucap Marno.
“Mas kasih?” tanya Abel.
Marno terkekeh lalu menggeleng. Ia menghela nafasnya panjang, “Mas aja rela gak kuliah ke kota karena gak mau jual tanah itu. Masa mas kasih ke mereka?” ucap Marno.
“Waktu paman meninggal mereka kemana? Gak ada tuh dateng kesini, waktu pakde masih hidup juga sekedar jenguk makam aja nggak” ucapnya lagi.
Abel hanya terdiam mendengar ucapan Marno. Abel tipikal orang yang kurang bisa merespon cerita orang. Ia lebih memilih untuk diam, mendengar, dan menemani ketimbang harus memberi saran atau jawaban. Seperti sekarang ia enggan melepas pelukannya walaupun tubuhnya dan Marno sudah sama sama lengket.
“Maaf ya malah jadi curhat gini akunya” ucap Marno yang dibalas anggukan oleh Abel. Selama dua menit mereka enggan untuk bergerak. Marno merasa nyaman dengan hadirnya Abel. Setidaknya sekarang ia bisa menceritakan keluh kesah kehidupan pahitnya ke orang lain.
“Kalau mau cerita kamu bisa panggil aku, aku bakal dengerin. Tapi maaf, aku bukan pemberi saran handal. Aku cuma bisa dengerin kamu, nemenin kamu kalau lagi sedih, marah, atau apapun itu sebisa mungkin aku temenin” ucap Abel.
“Mas gak butuh saran, Dek. Mungkin suatu saat bakal butuh tapi untuk sekarang mas butuh didengerin doang. Makasih ya udah mau dengerin celotehan mas yang gak jelas ini” ucap Marno.
Abel menganggukan kepalanya, ia mengeratkan pelukan mereka. Janji Abel malam hari ini menjadi alasan baru untuk Marno tetap tersenyum. Marno sekarang tau bahwa ia sudah tidak sendiri lagi, ia sudah punya teman untuk berbagi keluh kesah.
“Bapak kamu pasti bangga punya anak kamu” ucap Marno.
“Mas..” panggil Abel.
“Hm?”
Abel melepas pelukannya, ia tatap indra penglihatan Marno.
“Mas pasti kesepian, ya?” ucapnya.
Marno lagi-lagi hanya terkekeh, ia rengkuh erat tubuh Abel di sampingnya itu.
“Sepi banget. Kamu mau gak nemenin mas?” tanya Marno.
—
Marno lahir di Malang. Hidupnya dari awal sudah dilimpahi kekayaan. Ibu dan Bapaknya seorang pengusaha restoran ternama. Namun ketika umur empat tahun, Marno dititipkan ke pamannya di Sukabumi. Ia maupun pamannya tidak tahu mengapa orang tuanya menitipkan dirinya. Namun yang diketahuinya adalah itu hari terakhir ia melihat orang tuanya,
Marno tumbuh dengan baik. Sesekali ia akan bertanya ke pamannya mengenai Bapak dan Ibu namun selalu dibalas dengan “Tunggu bentar lagi ya, mereka bakal jemput kamu”. Marno tahu pamannya itu berbohong, Bapak dan Ibunya tidak pernah mengunjunginya sejak itu.
Saat masuk SMP, Marno bersekolah di desa sebelah. Alasannya karena sekolah itu menjadi incarannya sejak kecil. Di usia puber ini Marno sudah tidak terlalu memikirkan orang tuanya. Tiba dimana saat Ibunya datang ke desa.
Ibu dan bapaknya berpisah saat Marno berumur 4 tahun. Ia baru tahu fakta pahit itu saat kelas delapan. Marno tak ambil pusing soal ini. Ia juga tak peduli akan orang tuanya, masa kecilnya lebih banyak bersama Pamannya ketimbang kedua orang tuanya.
Pamannya wafat saat ia berada di bangku SMA. Marno sangat terpukul saat itu, hidupnya seakan berhenti saat itu juga. Ia jadi lebih murung, jarang pergi keluar kecuali bersekolah. Setelah pamannya wafat ia baru sadar akan satu hal. Ia sendirian dan rasanya begitu sakit. Tak punya siapa-siapa, tumbuh dewasa sendirian.
Lulus sekolah ia memutuskan untuk melanjutkan dagangan sayur milik pamannya itu. Sebenarnya warisan pamannya cukup untuknya pergi kuliah ke kota, namun ia memilih untuk tetap di Desa.
“Dek, pake baju dulu yuk? Mas anter pulang habis ini” ucap Marno.
Langkah kaki Abel tertatih-tatih akibat perih di lubangnya. Marno jadi gak enak karena ulah “terong” milik Marno. Sesampainya di rumah Abel, di dalamnya sudah ada Bapak dan Abang yang baru saja kembali dari kondangan.
“Antar sampai sini aja, Mas. Makasih ya” ucap Abel.
“Gak sopan atuh. Mas masuk aja ya?” ucap Marno. Belum sempat Abel mengiyakan, Marno langsung mengetuk pintu kayu itu.
“Malam.. Mau mulangin Abel” ucap Marno.
“Eh, No. Loh kok sama kamu? Bukannya dia main ke rumah Aji? Loh kamu kenapa jalannya gitu?” tanya Hendra.
“Anu..”
“Abel tadi jatoh di depan Balai Desa, Bang. Untung ada Mas Marno yang nolongin kalau gak mah pingsan kali” ucap Abel.
Johan datang dari belakang, wajahnya panik melihat wajah pucat anaknya. “My Boy! Aduh My Boy kenapa.. Marno, anak saya kenapa, No?” tanyanya.
“Ayah ih.. Aku jatoh di depan situ.. Udah bukan salah Mas Marno, dia yang nolongin aku” ucap Abel.
Johan menghela nafasnya lalu membantu Abel masuk ke dalam rumah. Tak lupa ia berterimakasih kepada Marno yang sudah “membantu” anaknya. Andai saja Johan tau kalau sebenarnya Marno itu membantu anaknya menghilangkan birahinya.
“Makasih ya aduh.. My boy.. Oh iya, No” panggil Johan.
“Kamu besok jadwal ronda kan?” tanyanya lagi.
“Ditemenin sama Hendra ya besok”
Marno mengangguk lalu berkata, “Iya pak. Besok ada jadwal ronda”.
“Yah, aku gak bisa ronda besok ada rapat sampai malam” ucap Hendra.
Abel tersenyum mendengarnya, ada satu bohlam lampu diatas kepalanya. Ia punya ide bagus. “Ayah, aku aja yang nemenin Mas Marno di pos ronda” ucap Abel.
—-----------------------------------------------------
Esok harinya Abel pagi-pagi bangun, tampak bersemangat untuk memulai harinya. Bagian bawahnya sudah tak terlalu sakit, tapi yah perih dikit lah. Hari ini Abel lagi full senyum, membayangkan nanti ia menghabiskan satu malam full dengan Mas Marno.
“Dek, senyum senyum terus kenapa nih” Johan menoel pipi anak bungsunya itu.
“Ih apasih ayaaah” ucap Abel manja. Tangannya masih mengiris bawang putih dan teman-temannya. “Ayah hari ini nyambel aja ya? Abel males masak banyak banyak” ucapnya. Johan mah nurut aja, ia bukan tipe bapak yang mau dilayani terus-terusan.
Pagi berubah menjadi siang, siang berubah jadi sore, sore berubah jadi malam. Abel sudah siap dengan pakaian rondanya hari ini. Ia memakai kaos nirvana #anjay #TIRIZZZ dan celana piyama panjangnya, celana kotak kotak milik papa sebenarnya. Ia pakai karena di keluarga ini yang badannya 11 12 dengan papa ya dia.
“Ayah, jangan dikunci ya takut abang gak bawa kunci. Terus juga jangan tidur malem malem.. Nanti habis subuh aku pulang” ucap Abel.
“Iya my boy. Udah gih sana, udah jam sembilan ini. Hati-hati ya dek” ucap Johan.
Abel mengangguk lalu memakai sendal shinchannya. Baru saja ia melangkahkan satu kaki keluar, sudah ada Marno di depannya. “EH.. Setan kaget… Mas Marno??” kaget Abel.
“Mas ini bukan setan” ucap Marno.
“Maaf.. mas.. Kaget soalnya” Abel jadi cengengesan.
Abel tak menyangka bakal dijemput gini di depan rumahnya. Kan kalau gini bawahnya jadi cenat cenut.. Aduh Mas Marno ini ya bener bener.
“Kamu kayak anak SMP, Dek” ucap Marno memecah keheningan. Abel memukul pelan lengan Marno lalu menutup wajahnya itu. Abel pick me boy.
“Bisa aja, Mas” ucap Abel.
Mereka sudah sampai di pos ronda Desa. Kebetulan pos ronda ini berdekatan dengan Balai Desa, cuma beda dua jalan. Mereka duduk samping-sampingan. Situasi menjadi lumayan canggung karena Marno yang kehabisan topik obrolan. Sedangkan Abel, ia terlalu salting untuk memulai obrolan.
“Masih sakit, Dek?” tanya Marno.
Aduh… Abel harus jawab apa…
“Hng… Anu… Masih sedikit mas… Semalem khilaf main sama es…” entah sejak kapan Abel bisa seterbuka ini dengan orang baru. Entah sejak kapan juga Abel menjadi nafsuan?
“Lho… Kok main sama es dek?” tanya Marno.
“Anu… Udah ah mas…”
Marno terkekeh pelan. Ia melihat ke arah Abel yang sibuk menepuk-nepuk lengannya. Ia digerogoti nyamuk rupanya.
“Nih pake dulu” ucap Marno lalu memberikan satu sachet obat salep anti nyamuk.
Mereka berdua sudah terjaga di pos ronda kurang lebih lima jam. Sekarang sudah pukul dua pagi. Abel nampaknya sudah mulai mengantuk.
“Tidur aja dek kalau ngantuk, Mas bisa kok sendiri” ucap Marno.
“Gak ah gak enak sama mas. Jam segini ada warung yang buka gak ya? Aku mau beli kopi” ucap Abel.
“Warung Mbok Nana masih buka. Mau mas belikan?” tanya Marno.
Abel mengangguk pelan. Marno langsung ngibrit ke warung Mbok Nana yang lumayan agak jauh dari pos ronda. Abel ditinggal sendirian bukannya takut malah salting gak jelas. Dasar anak muda.
Lima belas menit kemudian Marno kembali dengan dua plastik di tangannya. Satu berisikan gorengan dan beberapa ciki, yang satu lagi isinya es kopi dan air mineral.
“Air panasnya habis jadinya dikasihnya air dingin, gapapa kan dek?” tanya Marno.
“Gapapa, makasih ya mas!” ucap Abel.
“Mas gak beli minum?” tanya Abel lagi.
“Udah tadi minum disana. Minum STMJ Mang Naryo, ngehabisin sisa soalnya mau pulang dia” ucap Marno.
STMJ, Susu Telor Madu Jahe. Ayah biasa minum ini kalau mau nonton bola sama abang. Khasiatnya sih bikin stamina naik, apalagi kalau pake telur ayam kampung…
“Telurnya telur kampung, mas?” tanya Abel.
“Iya. Kenapa dek?” tanya Marno.
“Ayah biasa minum kalau nonton bola malem-malem sama abang” ucap Abel.
Hening. Hanya ada suara kunyahan gorengan dari mulut masing-masing.
“Masih sakit, dek?” tanya Marno.
“Mas udah nanya tadi…”
“Aduh maaf ya.. Gugup”
Abel terkekeh pelan.
“Emangnya mas mau lagi? Nanya nanya terus” ucap Abel.
Marno mendekat ke Abel, dirinya tersenyum lalu mencubit hidung Abel.
“Masa disini sih” ucapnya.
“Tuh ada sarung, bisa lah diem diem” ucap Abel.
Entah sudah kepalang nafsu atau bagaimana, Abel kini masuk ke dalam sarung 2 meter itu. Tubuhnya ditidurkan berdampingan dengan Marno. Posisi mereka menyamping, dada bertemu punggung. Celana panjang Abel diturunkan sedikit, tak semua takut ketahuan warga kalau Abel telanjang kaki. Kalau kayak gini kan bisa aja alibi kalau Abel lupa bawa sarung jadi satu berdua.
“Mas, aduh.. Deg degan” ucap Abel.
“Mau nunggu di rumah aja dek?” tanya Marno.
“Nggak…. Hehe…”
Marno terkekeh lalu melihat ke bawah. Ia bingung, kemana pergi celana dalamnya Abel?. Ia usap bongkahan pantat itu lalu meremasnya pelan. “Nakal ya gak pake kancut kesini. Biar apa sih begitu? Biar kalau mau dipake gampang buka celananya?” tanya Marno.
“Hngg ayo cepet mas.. Udah panas nih” ucap Abel. Tubuhnya panas bagai masuk ke dalam oven. Keringat membasahi bajunya tapi mana mungkin ia lepas disini?
Perlahan Marno masukan penisnya ke dalam lubang sempit Abel. Masih sempit.. Bahkan sempit sekali. Erangan Abel memenuhi indra pendengaran Marno, reflek tangannya menutup mulut Abel.
Setelah seluruh penisnya masuk, Marno mulai bergerak pelan. Ia masih menutup mulut Abel, pinggulnya bergerak maju mundur menghentak lubang Abel. “Dek.. Shhh jangan berisik” bisiknya di telinga Abel. Yang dibisikin cuma bisa angguk angguk aja. Dikira gampang kali nahan desah waktu digenjot Marno.
“Hhhh! Hhh! M-Mas!!” erang Abel di balik telapak tangan Marno. Air liurnya sudah berjatuhan membasahi telapak tangan itu tapi siapa yang peduli?
Marno masih bergerak di bawah sana. Penisnya bergerak menggenjot lubang Abel. “Dek enak gak? Mau lagi?” tanya Marno.
Abel mengangguk. Tangannya mencengkram sarung, matanya juling ke atas. Ngeri ngeri sedap juga kalau ketauan tapi lagi lagi, siapa peduli?
“Dek-hhh ssshhh, jangan disempitin mas jadi susah” bisik Marno di telinga Abel. Ia menciumi belakang telinga Abel lalu menjilat daun telinganya, godaan extra.
“Mas hhhh! Mas- ahhh!” Abel menggigit jari Marno pelan.
Sperma Abel muncrat keluar dari penisnya. Marno masih belum sampai puncaknya, ia masih bergerak stabil di bawah. Penisnya sudah berkedut, namun ia belum memelankan tempo. Ia masih bergerak cepat di bawah.
“Mas keluarin ya? Adek mau kan dikeluarin mas?” ucap Marno.
Abel mengangguk cepat. Tak lama kemudian sperma Marno memenuhi lubang Abel.
Waktu sudah menunjukan pukul tiga pagi, mereka berdua tidak melanjutkan kegiatan mesum di pos ronda. Kali ini mereka hanya peluk-pelukan manja.
Tapi boong.
“M-Mhhh” erang tertahan Abel karena ulah jemari Marno yang bermain dengan putingnya. Puting itu dipilin, diputar-putar bagai anak kecil lagi makan oreo. Sebenarnya mulutnya sudah haus ingin jilat-jilat juga tapi takut keciduk warga.
“Mas- aduh.. Aduh geli..” erang Abel pelan. Ia masih membelakangi Marno, Bajunya sudah penuh dengan keringat namun ia engan menjauh dari Marno.
Abel menyingkirkan tangan Marno lalu membalikkan tubuhnya, tangannya mengusap penis Marno yang sudah mulai menegang itu. “Gantian biar tangan aku yang enakin mas” ucap Abel.
Tangannya mengusap-usap batang penis itu sembari sesekali diremas. Pemiliknya hanya bisa merem keenakan. Batang penis itu dikocok dengan tempo lambat oleh Abel. Jangan salah, Abel sudah ahli dalam hal mengocok.
Tubuh Marno gelinjangan seperti menahan sesuatu. Rasa geli-geli nikmat memenuhi tubuhnya. Ia bawa tubuh Abel mendekat, sesekali ia remas pinggang ramping itu.
“Aduh… ahh! Gakuat!“ erang Marno.
“Pelan pelan nanti didenger warga” ucap si kecil. Matanya terpejam keenakan, Marno juga gigit bibir bawahnya. “Dek hhhh!”
Bukannya dipercepat kocokan di batang penisnya, Abel malah memperlambat temponya. Kepala penis itu dimainkan oleh ibu jari Abel. Diusap-usap lubang pipisnya sampai Marno makin gelinjangan.
“Mmhh! Ahhh! Dek!” erang Marno.
Jujur saja Abel suka ketika Marno mendesah. Desahan Marno adalah semangat hidup Abel. #Anjay.
“Keluarin aja Mas. Gausah ditahan gitu dong” goda Abel.
Tak lama kemudian tangan Abel sudah penuh dengan cairan sperma Marno. Penisnya berkedut, batangnya naik turun mengeluarkan spermanya.
Deru nafas Marno terdengar di telinga Abel. Mereka berdua tersenyum lebar. “Enak, Mas?” tanya Abel.
“Enak. Tapi jadi kotor. Lap ke sarung aja sini”
“Gausah” ucap Abel lalu menjilati telapak tangannya. Rasa sperma Marno manis, walaupun kecut dikit. “Enak” ucapnya lagi.
“Aduh dek… Mas jadi pengen lagi kalau liat kamu gini” ucap Marno.
“Pulang ronda aku nginep rumahmu ya mas” ucap Abel.
“Mau di gerobak lagi?” ledek Marno.
Abel memukul pundak Marno pelan. Pipinya semerah tomat, kejadian semalam terputar di otaknya. Duh jadi birahi lagi. Pengen digagahin Mas Marno di gerobak lagi rasanya.
