Work Text:
Sebagai touken danshi, ingatanmu tergolong cukup kuat. Kau mampu mengingat semua yang kamu lewati, sedari masih berupa sebilah pedang, hingga tsukumogami-mu menjelma menjadi seorang manusia.
Setidaknya itu yang kamu yakini.
"Ah, iya, aku mengingatnya! Hijikata-san waktu itu lucu sekali. 'Kan, Kane-san?"
Kunihiro yang berkata selagi menoleh padamu itu kamu tatap tanpa kata. Diam satu detik, dua, tiga, yang mana seiring dengan itu, kawan-kawanmu juga turut menatapmu—bahkan Nagasone-san turut merasa heran, karena kamu mendadak bisu.
Karenanya, pelan-pelan kamu membuka bibir.
"Hijikata ... siapa?"
.
.
.
Pertanyaanmu mengundang reaksi yang tak pernah kamu sangka-sangka dari keempat kawanmu.
Kunihiro dan Yasusada dengan cepat melompat dari tempat mereka duduk—mengguncang-guncang bahumu seraya bertanya dengan panik, ada apa dan apa maksudmu. Kiyomitsu juga—segera setelah mereka berdua membombardirmu dengan pertanyaan-pertanyaan yang kamu rasa aneh, ia bangkit dari tempat duduknya dan menempelkan telapak tangannya pada keningmu. Sekilas kamu bisa mendengar dirinya yang bergumam, "Kau nggak demam ...", yang mana tahu-tahu saja kemudian lagi-lagi Yasusada merebut perhatianmu; meraih bahumu dan tanpa aba-aba mencoba menempelkan dahi kalian berdua—berakhir terbentur dan kalian lantas mengaduh, kamu dengan kebingunganmu dan Yasusada yang kemudian dimarahi Kiyomitsu.
Rusuh.
Kamu sempat melirik Nagasone-san. Lelaki itu tampak tenang seperti biasa—tak seperti Kunihiro dengan Yasusada dan Kiyomitsu yang langsung menghampirimu. Namun kamu bisa melihatnya pula—wajahnya terlihat terkejut, juga bingung, seolah-olah kamu baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
"... Izuminokami."
Kamu menoleh padanya.
"... Ya?"
"Kau ... bercanda?"
Dahimu berkerut.
"Atau jangan-jangan kau bukan Izuminokami?!" Ketika kamu menoleh lagi, jemari Yasusada tahu-tahu saja sudah terarah padamu. Sejurus berikutnya Kiyomitsu terlihat memukul pelan kepala temannya yang satu itu, yang mana kemudian ia mengerang, "Kenapa kau memukulku?! Aku nggak salah—Izuminokami yang biasa selalu membangga-banggakan Hijikata-san, tahu!!! Jangan-jangan yang sekarang ini bukan Izuminokami?!"
"Lalu kalau memang bukan Izuminokami, maka yang asli ada di mana, Bodoh?"
"Mana kutahu?!"
"Kalian berdua ..." Kunihiro berusaha menengahi. Akan tetapi agaknya usahanya sia-sia, hingga kemudian ia menoleh padamu. "Hijikata Toshizou, Kane-san—tuan lama kita berdua. Kane-san tidak mungkin tidak mengenalnya, 'kan?"
Dan kamu kembali bisu.
Lantas, pada menit berikutnya kamu menyaksikan, Yasusada dan Kiyomitsu berlari keluar ruangan—kamu tidak tahu mereka pergi ke mana, namun Nagasone-san menyusul mereka selagi Kunihiro menemanimu tetap di tempat. Barulah pada esok harinya kamu mendengar, bahwa mereka pergi ke ruangan Aruji untuk melapor, dan pagi itu kamu dipanggil karena dia ingin memeriksamu.
.
.
.
Sebagai touken danshi, ingatanmu tergolong cukup kuat.
Setidaknya itu yang kamu yakini, hingga pada akhirnya kamu menyadari, bahwa ada seseorang yang luput dari memorimu. Entah siapa—kamu tidak dapat mengingatnya, namun Kunihiro dan yang lain berkata bahwa itu adalah tuan lama kalian.
Tuan lama.
Tuan ... siapa?
Kamu termangu.
Kamu dapat mengingat tuan lama Nagasone-san, tuan lama Kiyomitsu dan Yasusada, atau mungkin seisi Shinsengumi, seluruhnya kecuali "orang itu". Kamu bahkan dapat mengingat tuan lama dari si Mutsunokami Yoshiyuki yang tidak pernah kamu sukai. Akan tetapi untuk tuanmu sendiri—tuanmu dan Kunihiro, entah mengapa rasa-rasanya nihil.
Tidak ada. Seberapa keraspun kamu berusaha mengingatnya, kamu tak bisa menemukan apa-apa. Tak ada kepingan memori milikmu yang mengukir sebuah eksistensi, atau barangkali hanya sebaris nama, dari Hijikata Toshizou yang mereka bilang selalu kamu elu-elukan.
Siapa Hijikata Toshizou?
Kepalamu pusing ketika berusaha mengingatnya.
"... Tunggu, amnesia?"
"Ini hanya dugaan sementara, Izuminokami-san. Namun apa kau mengingat misi di Edo, pada era Enkyou?"
Kamu terperkur sejenak, lantas memberi tuanmu anggukkan kecil. Kamu tentu mengingatnya: suatu waktu pada misi di Edo, kamu dan rekan-rekanmu terpojok. Kamu terluka parah—terlalu parah sampai-sampai kamu tak mengetahui bagaimana akhirnya, karena kamu kehilangan kesadaran di tengah pertempuran. Bilah pedangmu nyaris patah apabila rekan-rekanmu yang tersisa tak segera mundur dan membawamu kembali. Kunihiro yang berada di sisimu kala kamu siuman berkata, bahwa kamu sudah tak sadarkan diri di ruang perbaikan selama satu minggu.
Butuh waktu yang tak sebentar, akan tetapi pada akhirnya kamu benar-benar pulih. Barangkali karena tidak ada yang salah dari fisikmu, dan tak satupun dari sifatmu yang berubah, tuanmu mengira bahwa kamu baik-baik saja.
Tidak ada yang menyadari bahwa kamu tak pernah lagi membawa-bawa nama orang itu pada percakapan manapun, setelah kamu bangun dari tidur panjang. Tidak sampai kejadian kemarin malam.
"Kalau memang amnesia, seharusnya ingatanmu tentang Hijikata-san akan segera kembali—karena ini bukan bawaan sejak awal kalian termanifestasi." Tuanmu tersenyum. "Seperti amnesia sementara pada manusia, butuh waktu untuk semuanya kembali—seharusnya bisa lebih cepat karena kau touken danshi. Tapi segera kabari aku kalau ada apa-apa, oke?"
Lalu ia memperbolehkanmu keluar dari ruangannya. Kunihiro dengan Kiyomitsu dan Yasusada menunggumu di depan pintu, yang mana rekan-rekanmu yang merupakan manifestasi pedang Okita Souji itu langsung memburuimu dengan beribu pertanyaan. Kamu tak lantas menjawab semuanya—intinya hanya satu; kamu butuh waktu untuk benar-benar memulihkan ingatanmu, sesuai kata tuanmu.
... Yang mana meski kamu berkata demikian, kamu tak yakin apa itu akan benar-benar terjadi—sudah lewat beberapa minggu sejak kejadian di Edo, atau memang biasanya butuh waktu selama itu? Kamu tidak dapat menerkanya secara pasti.
Meski begitu, hari-harimu berikutnya tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Kamu bangun dan tidur seperti biasa. Kamu bertarung melindungi sejarah seperti biasa. Kamu mengurus kandang kuda dan perkebunan honmaru sebagaimana yang telah ditetapkan dalam jadwal yang biasa. Yang sedikit berbeda hanyalah sikap rekan-rekanmu—kawan-kawanmu dari Shinsengumi, yang sedikit-sedikit berusaha membantumu kembali mengingat.
Kunihiro masih bersikap sama padamu—membantumu sebagai asisten sekaligus rekan, karena kamu dan dia adalah kawan baik; hubungan yang terbentuk lantaran dulunya kalian berada di bawah tuan yang sama. Namun dapat kamu sadari ia yang beberapa kali bertanya padamu, "Apa Kane-san benar-benar tidak mengingatnya?", yang mana pada saat yang sama pula kamu rasai bahwa interaksi kalian tak lagi seintens dulu, karena kamu terus menjawab dengan hal yang sama: kamu tidak sedikitpun mengingatnya.
Selintas kamu pernah mendengarnya dari Kiyomitsu, Sejarah mencatatmu sebagai pedang milik orang yang kamu lupakan, sementara Kunihiro yang selalu berada di sisimu justru diragukan—hanya berbekal surat yang ditorehkan oleh Kondou Isami, eksistensinya menjadi ada, kendati bilahnya yang benar-benar asli berada entah di mana. Meski mengetahui penyebabnya, namun perasaan Kunihiro barangkali tengah bercampur aduk, karena kamu yang paling dikenang justru melupakan dia.
Siapa Hijikata Toshizou?
Itu bukan sepenuhnya salahmu karena tak bisa mengingatnya—kamu tahu betul itu, akan tetapi tetap saja rasa-rasanya kamu dilingkupi perasaan bersalah. Perasaan bersalah yang datang bersama kosong—benar-benar ada sesuatu yang mendadak terasa hilang, dan kamu tak mengetahuinya secara jelas.
.
.
.
"Ini Hakodate."
Kunihiro menoleh padamu setelah ia berucap demikian, selagi langkah kalian tenang menyusuri Hakodate pada era Restorasi Meiji. Kamu memperhatikan selagi Kunihiro meraih pedangnya dari pinggang—tanpa melepas sarung pelindungnya, matanya kemudian memperhatikan benda itu dengan pandangan penuh arti; hal yang sama dengan yang biasa kamu lakukan pada bilah pedangmu sendiri, tempat jiwa-jiwa kalian yang sesungguhnya berasal. Ia kemudian menoleh padamu. Mata birunya yang besar itu kali ini tidak memberi binar kelewat semangat seperti yang senantiasa ia perlihatkan sebelumnya, meski bibirnya masih tersenyum.
"Hijikata-san akan mati di tempat ini." Hijikata-san lagi. "Kane-san mengingatnya?"
Kamu tidak menjawab. Akan tetapi kendati membisu pun barangkali kawanmu sudah mengetahui jawabannya—terlihat jelas dari ekspresinya yang semakin muram, senyum di bibirnya luntur sedikit-sedikit meski tak seluruhnya.
Kunihiro menyimpan kembali bilah wakizashi miliknya di pinggang. Pandangannya kembali tertuju ke depan.
"Aku pernah berkata andai saja Hijikata-san tidak mati di tempat ini dan tetap hidup. Tapi waktu itu Kane-san langsung mengingatkanku tentang tugas kita yang sesungguhnya." Kunihiro terkikik kecil. "Namun waktu itu Kane-san juga menangis, 'kan?"
Kamu mengangguk. "Kalau yang itu aku ingat," katamu, sedikit mendengkus. Kunihiro terkikik lagi.
Kamu ingat ekspedisi pertamamu dengan Kunihiro ke tempat ini: suasananya, apa yang akan terjadi di tempat ini, kata-kata konyol (menurutmu) yang dilontarkan Kunihiro, juga tentang bagaimana kamu tak sengaja menangis selagi mengatakannya. Akan tetapi seolah-olah ada sebuah lubang pada ingatan itu—kamu tak dapat mengingat siapa yang Kunihiro maksud, kamu tak dapat mengingat mengapa dirimu bisa sampai menangis, kamu tak dapat mengingat siapa salah satu orang yang akan mati di tanah ini.
Ada seseorang yang hilang. Lewat orang lain, kamu dapat mengetahui siapa yang seharusnya berada di sana, akan tetapi memorimu seolah tak pernah mencatatnya; kamu tidak dapat mengingat, siapa.
Siapa Hijikata Toshizou?
Lagi-lagi kepalamu terasa pusing.
"... Kane-san?"
Ketika kamu sadari, tahu-tahu saja Kunihiro sudah menghentikan langkahnya. Matanya menatapmu lekat-lekat entah karena apa. Dahimu berkerut.
"Apa?"
"... Tanganmu ..."
Kamu memiringkan kepala.
Segera saja kamu beralih pada tanganmu—tangan kirimu yang sedari tadi bertumpu pada gagang pedangmu di pinggang. Tanganmu baik-baik saja; masih utuh, tak ada yang terluka, hingga kamu kembali menoleh pada Kunihiro dan hendak bertanya apa maksudnya. Namun belum sempat pertanyaanmu terlontar, matamu menangkap sesuatu.
Samar-samar, meski tak terlalu jelas, kamu dapat melihat sesuatu pada tangan kirimu. Sesuatu yang serupa bayangan, hijau persis seperti rerumputan yang tengah kalian pijak, memenuhi tanganmu. Ketika kamu mengarahkan tanganmu pada langit, warna hijau yang samar itu berubah menjadi biru—seolah-olah tanganmu mulai berubah transparan.
"... Kunihiro ..." Kamu melirik rekanmu sedikit-sedikit. "Apa ..."
Apa yang terjadi?
Kunihiro di sebelahmu menggeleng—ia tidak tahu, wajahnya juga sama terkejutnya seperti dirimu.
.
.
.
Syukurlah kali itu kalian hanya berdua—setelah memastikan tidak ada lagi jikan shokogun yang berkeliaran, kamu dan Kunihiro segera kembali. Kalian menemui sang saniwa, tuan kalian, yang mana setelah kamu menjelaskan dan memperlihatkan apa yang terjadi, ekspresinya seketika berubah.
Tuanmu menyuruh Kunihiro untuk keluar, sementara kamu tetap di ruangannya. Temanmu yang satu itu adalah seorang penurut, hingga meski wajahnya terlihat enggan ketika bertatapan denganmu, pada akhirnya ia keluar dari ruangan. Ketika hanya tersisa dirimu dan tuanmu, tuanmu tak langsung bicara—justru, ia memperhatikanmu dari atas hingga bawah, seolah-olah tengah menganalisis.
"Untuk saat ini hanya tanganmu, ya ..." Tuanmu manggut-manggut. Kamu menatapnya.
Tangan kirimu terangkat—tanganmu yang mendadak memudar transparan, yang tak kamu ketahui sedikitpun menyebabnya. "Aruji ..." panggilmu. "Apa maksudnya ini?!"
"Kalau boleh jujur, aku juga belum pernah melihatnya." Tuanmu menjawab. Nadanya tenang, akan tetapi raut wajahnya masih menunjukkan bahwa ia juga sama terkejutnya. "Aku ... aku akan menghubungi saniwa lain untuk bertanya apakah ada dari touken danshi mereka yang pernah mengalami kejadian serupa. Tapi sebelum itu, Izuminokami-san ....
"Kau ... sudah mengingatnya?" Tuanmu menatapmu, sama lekatnya seperti Kunihiro ketika ia menemukan sesuatu yang aneh pada tanganmu. "Hijikata Toshizou. Kau sudah mengingatnya, Izuminokami-san?"
Kamu terdiam.
"... Belum."
Gelengan kecil lantas kamu berikan, dan tuanmu menghela napas. Pada akhirnya juga ia mempersilakanmu untuk pergi, yang mana sebelum kamu benar-benar pergi, ia berpesan,
"Lagi, ini masih asumsiku, Izuminokami-san. Tapi ... kalau bisa, tolong cobalah ingat-ingat lagi." Ia berkata demikian selagi menatapmu intens. "Aku punya firasat untuk hal ini—dan itu bukan hal bagus."
Tuanmu pasti tahu bahwa kamu juga sudah berusaha keras untuk mengingat—Kunihiro dan yang lain juga sudah membantumu, akan tetapi semuanya nihil. Namun pula ia berkata seperti itu pastilah bukan tanpa alasan.
Ketika mendengar kalimat terakhir tuanmu, entah mengapa kamu turut merasa takut.
.
.
.
Siapa Hijikata Toshizou?
.
Siapa ...
...
Siapa?
.
Kamu masih belum dapat mengingatnya.
.
.
.
Tak semua orang mengetahui masalahmu, namun beberapa dari mereka pelan-pelan menyadari apa yang tengah terjadi.
"Kita coba lagi, ya?" Kiyomitsu menatapmu. "Ini ... bukan kenangan bagus buatku, sih—tapi biarlah. Izuminokami, kau ingat waktu Shinsengumi akan menyerbu sebuah kelompok di Kyoto?"
Ekspresi Kiyomitsu sedikit berubah ketika ia mengucapkannya. Kamu ragu untuk menjawabnya karena alasan di baliknya—yang tentunya kamu ingat jelas—akan tetapi tatapan kawanmu yang bersungguh-sungguh di depanmu itu membuatmu akhirnya membuka mulut.
"Para aktivis anti-Tokugawa, kan? Waktu itu mereka berencana membakar Kyoto." Kamu menjawab dengan lancar—memorimu menyimpan baik-baik sejarah mengenai insiden malam itu. Kiyomitsu di hadapanmu mengangguk.
"Betul. Lalu setelahnya?"
"Ada beberapa lokasi yang menjadi tempat kemungkinan mereka mengadakan diskusi, jadi kita berpencar. Nagasone-san dan kau— ... Kondou Isami dan Okita Souji menyerbu Ikedaya, lalu ..."
"Lalu ...?"
Kamu tak menjawabnya lagi.
Kamu ingat dirimu dibawa menuju ke tempat lain—sebagaimana Shinsengumi yang berpencar menjadi dua bagian guna menyerbu para aktivis. Kamu juga ingat jelas ke mana kamu dibawa, sebelum kemudian berbalik arah dan menyusul ke Ikedaya.
Yang membuatmu menghentikan kata-katamu adalah kamu tidak bisa mengingat siapa yang membawamu malam itu.
Di depanmu, Kiyomitsu menghela napas. Akan tetapi kali ini ia tidak berkata, "Yah ... tidak apa-apa, deh,", seperti yang biasa ia lakukan belakangan ini. Justru, ia menatapmu. Raut wajahnya berubah menjadi khawatir.
Tanpa perlu kamu ceritakan pun orang-orang bisa melihat, tak hanya tangan kirimu yang menjadi tembus pandang—pelan-pelan itu mulai merambat ke lenganmu, kemudian tangan yang satunya, kemudian lagi telapak kaki hingga lutut (hampir serupa dengan hantu, barangkali seorang macam Nikkari Aoe akan berkata demikian). Setengah tembus pandang karena tak sepenuhnya tak terlihat, dan kamu masih dapat memegang benda seperti orang normal, kendati itu tak terlihat bagus karena apapun yang kamu pegang dapat terlihat secara samar pada punggung tanganmu.
Kamu menceritakan apa yang tuanmu katakan tempo hari pada teman-teman Shinsengumi-mu. Kata-kata tuanmu mungkin masihlah sebuah menggantung dan samar, namun kalian mampu mencapai sebuah kesimpulan: kamu harus segera kembali mengingat siapa Hijikata Toshizou, sebelum sesuatu yang buruk benar-benar terjadi.
Siapa Hijikata Toshizou?
Ingatanmu tergolong lumayan kuat, itulah mengapa kamu mampu mengingat rentetan peristiwa yang terjadi sedari dirimu masih menjadi sebilah pedang hingga pada akhirnya menjelma manusia. Maka mengapa dari sekian banyaknya orang yang kamu temui, yang meninggalkan lubang besar pada kepingan memorimu justru orang itu?
Siapa Hijikata Toshizou?
Wakil komandan Shinsengumi, tuan lama dirimu dan Horikawa Kunihiro.
Akan tetapi lebih tepatnya, siapa?
Kamu tidak mampu mengingatnya. Lagi dan lagi kepalamu terasa pusing karena terlalu memaksakannya.
Kiyomitsu beringsut dari tempatnya—mendekati Yasusada yang tertidur dengan kulit-kulit jeruk pada genggamannya, barangkali ia hendak membangunkan kawannya yang satu itu. Nagasone-san dan Kunihiro sedang dalam tugas mengurus kebun dan mungkin akan kembali sebentar lagi, mengingat ini sudah sore. Kamu hanya diam, menatap kosong orang-orang di hadapanmu selagi berusaha mengingat-ingat—meski tahu yang akan kamu dapati ke depannya hanyalah kekosongan abnormal dan sakit kepala.
"Ugh ... sudah pagi ...?"
"Masih sore, Yasusada—ayo, bangun. Kau punya janji ke Shokudaikiri buat membantunya menata meja makan malam ini, 'kan?"
Lalu dapat kamu lihat di hadapanmu, Yasusada bangkit pelan-pelan, setengah sadar sembari mengusap-usap sebelah matanya. Kiyomitsu di sebelahnya masih mengingatkannya soal meja makan malam, akan tetapi kelihatannya kawannya itu tak begitu memperhatikan—justru, ia bertukar pandang denganmu begitu selesai mengusap mata.
"... Izuminokami?"
Kulit-kulit jeruk yang sebelumnya digenggam Yasusada berjatuhan ke atas meja.
Dahimu berkerut, bingung. Jemari Yasusada kemudian tertuju padamu, yang mana kemudian bibirnya dengan gemetar menggumamkan, "... K ... kau ... tubuhmu ..."
Ketika Kiyomitsu menoleh padamu, butuh waktu sekian detik sebelum raut wajahnya turut berubah seperti Yasusada. Kamu tak mengerti.
"Ada apa ...?"
Keduanya tak menjawab pertanyaanmu. Aneh. Sekilas kamu melirik, lalu menoleh ke sebelah. Ruangan tempat kalian berkumpul memiliki sebuah cermin yang biasanya digunakan Kiyomitsu atau dirimu sendiri, hingga kamu memutuskan untuk beringsut dan mencoba memastikan.
Dan kamu kembali membisu—seketika mengerti apa yang membuat kedua kawanmu mendadak bersikap demikian.
Kali ini, bukan hanya lengan dan kakimu yang menjadi tembus pandang. Tubuh dan kepalamu tahu-tahu saja turut menjadi setengah transparan, sama seperti tanganmu kala kamu melihatnya di dataran Hakodate. Kamu mengangkat kedua tanganmu, memperhatikan keduanya yang perlahan-lahan mulai gemetar.
.
.
.
Siapa Hijikata Toshizou?
.
.
.
Semakin banyak waktu yang terlewati, tubuhmu semakin transparan. Rasa-rasanya semakin cepat hingga pada akhirnya tuanmu mengambil keputusan atas perkiraannya yang barangkali memang tepat: kamu, Kunihiro, Kiyomitsu dan Yasusada akan bertolak kembali ke Hakodate pada era Restorasi Meiji malam ini.
"Kalau memang mencoba mengingatnya saja tak membuat memorimu kembali, maka lebih baik kau melihatnya langsung, Izuminokami-san."
Begitulah tuanmu berkata, dan pada akhirnya kalian berempat benar-benar pergi. Nagasone-san sendiri seharusnya bergabung, namun sayang sekali ia berangkat ke era lain untuk misi darurat tepat setelah pekerjaannya di kebun usai. Hakodate yang kamu pijaki saat ini bukanlah Hakodate yang biasa kamu datangi, melainkan Hakodate pada tanggal 20 Juni. Kunihiro yang berdiri di sebelahmu kali ini tampak muram—barangkali memang tak seharusnya ia ikut, yang meski saat ini kamu tak mengerti alasannya, namun ketika tuan kalian juga menyarankannya supaya tidak pergi, temanmu yang satu itu bersikeras ingin ikut.
Kamu menepuk pundak Kunihiro, membuatnya seketika menoleh.
"Kau baik-baik saja?"
Ketika kamu bertanya begitu, Kunihiro hanya mengulas senyum tipis.
"Aku nggak apa-apa," balasnya. Lalu lengkungan bibirnya berubah. "Kane-san semakin tembus pandang ..."
Kamu tak membalas ucapannya.
Kalian berdiri pada satu tempat di mana jalannya pertempuran Hakodate hari ini tidak akan terganggu—tidak akan ada yang menyadari kehadiran kalian berempat, namun kalian akan bisa melihat orang-orang dalam pertempuran itu nantinya.
"Kau mengingatnya, Izuminokami?" Pertanyaan Yasusada membuatmu menoleh. "Aku tahu waktu itu kau nggak di sini—tapi pasti kamu tahu, 'kan, nanti ..."
Nanti, akan ada seseorang yang mati.
Seseorang yang bukan orang biasa—orang yang seharusnya kamu ingat. Akan tetapi kamu tetap tidak dapat mengingatnya. Jawabannya sangat jelas, namun pada saat yang sama kamu tak mampu menerkanya.
Lalu, riuh.
Pertempuran dimulai. Dari tempatmu berpijak, kamu dapat menyaksikan orang-orang bertarung—menyerang musuh masing-masing seraya berusaha saling membunuh. Salah seorang dari mereka yang menunggangi kuda, secara aneh menarik perhatianmu. Tangannya menggenggam sebilah wakizashi, menembus pasukan lawan tanpa mengenal takut.
... Siapa orang itu?
Lagi, kepalamu terasa pusing.
"Hijikata-san ada di sana ..." Dapat kamu dengar Kunihiro bergumam. "Kane-san, kau melihatnya— ... Kane-san? Kane-san?!"
Lalu saat itu juga kamu sadari, tubuhmu semakin tembus pandang—tanganmu terlihat lebih transparan ketimbang sebelumnya, benar-benar nyaris menghilang. Kunihiro berteriak memanggil-manggil namamu, bisa kamu rasakan kedua tanganmu kemudian digenggam olehnya. Seruan Kunihiro pasti menarik perhatian Yasusada dan Kiyomitsu, karena sejurus kemudian dapat kamu lihat mereka mengelilingimu, lantas memanggil-manggil namamu pula. Namun seolah terhipnotis kamu mengabaikan mereka—fokusmu justru pada pertempuran di depan, pada seorang berkuda yang menggenggam wakizashi.
... Siapa orang itu?
Suara letusan senjata api terdengar, dan orang itu rubuh. Tidak ada perasaan apapun yang membuncah kala kamu menyaksikannya—yang ada hanya perasaan kosong. Lalu entah mengapa kemudian perhatianmu kembali pada ketiga temanmu. Tangan-tangan Kunihiro masih menggenggam tanganmu, akan tetapi jemarinya mendadak terasa hampa.
Kunihiro diam, begitu pula Yasusada dan Kiyomitsu. Kamu tidak mengerti.
"Kunihiro?" Kamu memanggilnya. "Kiyomitsu? Yasusada?"
"... Kane-san ..." Kunihiro jatuh terduduk, alih-alih merespons panggilanmu. "Kane-san ... Kane-san ..."
Kiyomitsu dan Yasusada menghampirinya dengan cepat. Kunihiro menggumamkan namamu berkali-kali dengan suara gemetar sembari menatap kedua tangannya sendiri. Kamu dapat melihat air matanya mengalir pelan-pelan, persis seperti dirimu pada misi pertama kalian di tempat ini. Yasusada memeluknya, bahunya gemetar sama seperti Kunihiro, sementara Kiyomitsu masih menoleh ke sana-kemari, seolah-olah tengah mencari seseorang dalam raut wajahnya yang panik, sebelum akhirnya diam di sebelah mereka dengan kepala tertunduk.
Kamu terdiam. Mereka tidak menjawabmu sama sekali. Sekali lagi kamu perhatikan tanganmu yang samar, sebelum kemudian membungkuk di hadapan mereka bertiga.
"... Hei?" Kamu memanggil mereka, sekali lagi. "Kiyomitsu? Yasusada? Kunihi—"
Ucapanmu terputus di sana, ketika tanganmu yang terulur mencoba meraih mereka. Seketika kamu mengerti apa yang terjadi, kala tanganmu justru menembus tubuh ketiga kawanmu.
Rasa kosong itu kembali lagi, kali ini rasanya serupa dengan eksistensimu, karena sampai akhir kamu gagal mengingatnya—orang yang bahkan sekarang tak bisa kamu ingat lagi siapa namanya. []
