Chapter Text
Deru mesin kereta berdengung di telinga. Pagi hari yang cukup baik, gumam Minghao dalam hati. Sabtu pagi ini dia bangun pagi, mandi, dan bersiap agar tidak tertinggal kereta. Dia telah memesan tiket pulang pergi ke kampung halamannya—setidaknya begitu yang dia yakini, bahwa dia masih punya tempat berpulang.
Minghao sudah merencanakan perjalanan kali ini dengan baik, dia membeli beberapa snack untuk dimakan di kereta, dan bahkan telah menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya agar dapat bepergian dengan tenang. Kesibukannya sebagai mahasiswa Seni Rupa yang juga berkesibukan sebagai part-timer pramusaji di sebuah rumah makan cukup menguras tenaga serta emosinya.
“Istirahat kali, Hao. Bolos sekali dua kali di kampus kan masih oke, jatah bolos tuh dipake makanya,” ujaran Seokmin itu tidak hanya diungkapkan sekali. Sudah berkali-kali Seokmin memperingati Minghao untuk menikmati waktunya sekali-sekali. Hingga akhirnya, kali ini Minghao menuruti saran sahabat baiknya itu.
Setelah menemukan kursinya, Minghao menaruh tas ranselnya dan duduk dengan sebuah buku dalam pangkuannya. Seorang ibu di samping Minghao menatapnya, sedikit gelisah. Namun, ia mengangguk sambil tersenyum, membuat sang ibu menarik bibirnya untuk tersenyum simpul.
Kampung halaman Minghao dapat ditempuh sekitar 6 jam menggunakan kereta. Tidak perlu menunggu lama, Minghao mendengar suara pemberitahuan sebelum akhirnya kereta mulai berjalan. Ia dengan khidmat membaca buku. Akar karya Dee Lestari itu bertengger manis dalam genggaman Minghao.
Lalu, Minghao kembali dikejutkan oleh sebuah tepukan dari sampingnya. Sang ibu yang duduk di samping Minghao tampak ragu, tetapi dia tetap berujar, “Nak, ibu mau tukeran sama orang yang di sana, soalnya mau duduk di samping anak Ibu. Kamu nggak keberatan kan?” Minghao mengikuti arah tangan sang ibu menuju kursi di seberang mereka. Seorang laki-laki tinggi dan besar sedang menatap ke arahnya. Minghao kemudian kembali fokus pada sang ibu dan menjawab, “Iya, Bu, silakan,” sambil tersenyum manis.
Setelah menerima ucapan terima kasih sang ibu, Minghao kembali fokus membaca bukunya sambil menyandarkan kepala pada jendela kereta. Dia berusaha fokus membaca dan menghiraukan kebisingan yang terjadi ketika seseorang duduk menggantikan sang ibu di sebelahnya. Minghao hanya melirik laki-laki yang baru saja duduk menggantikan sang ibu. Dengan tubuh yang besar, dia terlihat tidak selaras dengan wajahnya yang cukup menggemaskan—tampan, tentu saja.
“Suka Dee Lestari, ya?” sebuah suara menginterupsi Minghao. Alunan suara itu terdengar berat tapi manis dalam telinganya, seolah gelombang suara tersebut dialiri butiran gula.
Minghao menolehkan kepala dan menemukan laki-laki itu tengah menatapnya, seolah menunggu jawaban atas pertanyaannya barusan. Dia sedikit kikuk, tapi tetap memantapkan diri untuk menjawab, “Nggak, sih. Gue baru mulai baca buku fiksi,” ujarnya pelan. Minghao dapat melihat si laki-laki mengangguk-angguk mengerti.
“Emang biasanya baca apa?” ia bertanya lagi, membuat Minghao menutup bukunya kemudian mengubah posisi duduk agar lebih nyaman.
“Seringnya baca nonfiksi,” jawab Minghao sambil menatap laki-laki itu—yang sepertinya tidak bergerak dari posisi semula; menatap Minghao. Senyum tipis terlukis pada wajah laki-laki di sebelah Minghao, membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
“Lo baca Dee Lestari juga, ya?” Minghao kali ini memegang inisiatif, dia membetulkan letak kacamatanya sambil memperhatikan raut wajah laki-laki di sebelahnya yang berubah—seperti ada sebuah sinar tersendiri yang terpancar dari sana.
“Baca! Dee Lestari tuh beneran salah satu penulis fenomenal. Nggak banyak yang bisa bahas fisika kuantum sebagai metafora dalam tulisannya. Belum lagi, kalau lo habisin seri Supernova ini, lo bakal amazed karena ternyata semua cerita dari buku pertama akan bermuara di satu pangkal. What I’m trying to say is, iya gue baca Dee Lestari juga,” ada sebuah kekehan kecil yang keluar ketika laki-laki itu selesai berbicara. Minghao menatapnya seolah takjub, ada senyum lebar yang tak ia sadari terulas sejak pertama kali mendengarkan dia berbicara panjang dan cepat. Minghao berpikir mungkin saja
“Okay, get it. Emang suka baca buku banget ya lo,” balas Minghao yang dijawab dengan bahu yang terangkat, seolah itu bukan fakta sebenarnya.
“Not really, sih. Gue suka baca cuma bukan hobi juga. Baru dua tahun belakangan aja gue suka baca, awalnya karena kuliah gue aja sih,” Minghao mengangguk-angguk tanda mengerti. Laki-laki di sebelahnya melanjutkan, “Gue anak sastra soalnya,” sambil tertawa pelan.
Dia menelisik wajah Minghao yang melukiskan senyum lebar, kemudian berkata, “Ya, udah biasa sih dilihatin gitu. Muka gue emang nggak cocok jadi anak sastra,” yang tentu saja semakin membuat Minghao gemas.
“I’m not saying that,” jawab Minghao sambil mengangkat tangannya yang dijawab anggukan paham. Tidak lama berselang, si laki-laki mengulurkan tangan. Dengan tubuh yang besar dan tinggi, Minghao harusnya tidak heran ketika tangannya juga besar dan terlihat memiliki banyak otoritas.
“Mingyu,” ujarnya sambil tersenyum. Minghao menyambut tangan itu dan menggumamkan namanya. Jabatan tangan mereka dalam sekejap berubah menjadi situasi yang cukup menggelitik.
“Bagus ya, nail art lo,” Mingyu tersenyum ketika mengatakannya. Sepasang matanya berkerlip sambil memandangi jemari Minghao yang lentik, Mingyu kemudian menyentuh nail art Minghao dengan kekaguman yang tercurah dalam tatapannya.
Minghao tertawa, suara tawanya membuat Mingyu terkesima. Satu sudut bibir Mingyu tertarik lebih lebar. Suara tawa itu seolah berputar dalam kepala Mingyu, membuatnya terpaku sambil menatap jemari lentik Minghao. Hingga akhirnya Minghao berkata, “Udah dong kagumnya, pegel,” sambil menarik tangannya. Mingyu hanya tertawa sambil menggumamkan kata maaf.
“Lo emang suka nail art apa gimana?”
“Iya, suka gue. Meskipun nggak selalu sih, kadang aja kalau ada uang lebih,” Mingyu mengangguk paham. Minghao menyisir rambutnya dengan tangan sambil menimbang-nimbang harus bicara apa lagi.
“Berarti lo nggak suka jurusan lo sekarang ya?” tanya Minghao seolah ada sebuah kamus besar dalam kepalanya. Dia juga tak tahu mengapa, tapi rasanya berbicara dengan Mingyu mengalir dengan begitu mudahnya.
“Suka kok, suka banget. Gue dulu emang nggak terlalu suka baca, bukannya gue males atau gimana, tapi ya gue emang punya hobi yang lain. Tapi, akhirnya gue pilih sastra biar Papa marah aja,” Minghao menatap Mingyu lekat, mendengarkannya dengan seksama. Dia dapat memperhatikan wajah laki-laki itu tersenyum meskipun ada sebuah kerutan di dahinya, tanda bahwa Mingyu mungkin tidak suka dengan pembahasan ini.
Namun, Minghao masih diam. Dia memberikan ruang sebesar mungkin bagi Mingyu untuk memutuskan sendiri apa yang akan dibahas berikutnya. Jauh dari perhitungan Minghao, Mingyu melanjutkan ucapannya, “Soalnya, gue emang nggak boleh pilih jurusan sendiri, harus sesuai kemauan dia. Kalau nggak ekonomi ya hukum, tapi gue nggak mau. Nekat aja gue daftar sastra last minute dan keterima, gue lepasin hukum yang udah gue dapet buat itu. Hahaha, abis itu diamuk deh gue,” ada tarikan napas yang cukup berat. Minghao masih menatapnya dalam diam, hingga Mingyu melanjutkan, “At least gue nggak ikutin kemauan dia, sih,” ucap Mingyu menyelesaikan ceritanya.
“Sastra berarti kemauan lo? Bukan getaway car?” Mingyu tersenyum mendengarnya, dia menatap Minghao sambil sedikit menimbang-nimbang.
“Susah sih, gue bingung gimana jelasinnya. Tapi, turns out gue enjoy banget. Soalnya, kan belajar di sastra bukan cuma kesusastraannya aja, ada soal kebahasaan, bahkan banyak juga unsur budayanya. It honestly making me excited, sekarang sastra juga bukan soal novel aja lho! Gue sering bedah film, bahkan camera movement juga termasuk di dalamnya. Jadi, sebagai orang yang tertarik di bidang fotografi dan videografi, gue enjoy banget sih,” lagi, Minghao menatapnya takjub.
Mingyu seolah punya banyak perbendaharaan kata di dalam kepalanya dan dapat tumpah kapan saja. Berbeda dengan Minghao, dia akan menimbang-nimbang lebih lama sebelum bicara. Mingyu seolah dapat bicara tanpa berpikir. Namun, Minghao menikmatinya. Perbincangan dengan Mingyu terasa nyaman, seolah mereka teman lama yang bertukar kabar setelah puluhan tahun berpisah.
“Glad to hear that. Soalnya, it’s gonna be nothing kalau lo juga nggak enjoy sama pilihan lo, nggak ada bedanya juga ‘kan sama jurusan pilihan orang tua lo,” Mingyu mengangguk sambil menatap bibir Minghao. Namun, Mingyu buru-buru mengalihkan tatapannya ke depan.
“Gue jurusan Seni Rupa,” kedua mata Mingyu membulat serta bibirnya mengerucut seolah kalimat barusan membuatnya kaget sekaligus bangga. Satu alis Mingyu terangkat, seolah menggoda Minghao.
“Pantesan cakep banget gini,” kali ini giliran Minghao yang mengangkat alisnya, membuat Mingyu salah tingkah dan mulai menyangkal. “Maksud gue—maksudnya style lo cakep banget gini,” lanjut Mingyu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Gue ‘kan anak Seni Rupa, bukan Tata Busana,” Mingyu menggaruk kepalanya, lagi. Secara otomatis hal tersebut membuat Minghao tertawa, suara tawanya yang renyah dan manis secara bersamaan membuat degup dalam dada Mingyu bergemuruh.
“Ya, gitu deh maksud gue. ‘Kan kalau anak seni suka punya sense of fashion yang bagus,” kali ini Mingyu berujar lebih perlahan, dengan senyum yang juga terlukis indah pada wajahnya. “That’s what I’m trying to say,” lanjutnya yang kemudian dijawab anggukan oleh Minghao.
“Tapi, jujur aja style lo juga keren kok. Anak sastra juga beragam banget kan? I think you’re the stylish one, especially your boots,” Mingyu tertawa mendengarnya. Sedangkan Minghao menelisik laki-laki itu lebih jauh, chain necklane yang dipakai Mingyu, kaos putih yang fit dengan badan besarnya, jeans hitam, serta highlight yang tak kalah dari chain necklace adalah sepatu boots hitam yang Mingyu kenakan.
"Bilang aja lo suka sama boots gue,” ujar Mingyu sambil memamerkan kedua gigi taringnya. Minghao sedikit pening melihat senyum itu, seolah senyuman Mingyu barusan dapat menyebabkan diabetes pada dirinya.
“Tuh, sih, tau. Lagian gue mana punya budget buat tampil stylish,” jawab Minghao yang langsung dibantah Mingyu dengan cepat.
"That’s the point! Lo bisa tampil sekeren ini dengan budget seadanya tuh, wow—that’s even makes me…”
Mingyu berhenti berkata-kata, seolah tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menggambarkan bagaimana impresinya pada Minghao. Senyum terlukis pada wajah Minghao diiringi dengan kekehan pelan yang Mingyu yakini akan ia ingat sepanjang sisa hidupnya.
“Lo emang selalu excited gini ya, Gyu?”
“Gyu?” Minghao mengangguk, “Soalnya Mingyu kepanjangan, nggak papa, ‘kan?”
“Nggak papa, it’s just… sounds cute,” Mingyu mengucapkan kalimat itu dengan senyum yang tertahan. Minghao hanya menggeleng dibuatnya.
“Emang lo nggak pernah dipanggil Gyu?”
“Bukan, banyak kok yang panggil gue Gyu. I mean, the way you called me that way, it’s just… oh good God, sorry,” Mingyu mengusap-ngusap wajahnya, dia salah tingkah. Ini sama sekali tidak masuk akal bagi Mingyu, sebab baru saja Minghao membuatnya gemas tidak tertara, tapi kini malah dia yang salah tingkah.
“I think you’re cuter than me,” ujar Minghao akhirnya, Mingyu hanya menggigiti kukunya, berusaha menyembunyikan rasa malu dalam dirinya. Namun, tentu saja hal itu justru membuat Minghao gemas. Maka, dia menyentuh lengan Mingyu dan menjauhkannya dari mulut laki-laki itu.
Minghao hanya tersenyum ketika Mingyu menatapnya. Kemudian, Minghao melemparkan tatapannya ke luar jendela. Membiarkan mereka hanyut dalam keheningan sebentar saja.
“Lo mau kemana, Minghao?”
“Hao,” Minghao menoleh ke arah Mingyu dan melanjutkan, “Panggil Hao aja.”
Mingyu mengangguk dan kemudian berujar, “Jadi, mau kemana nih, Hao?” dengan suaranya yang jauh lebih lembut daripada sebelumnya. Minghao tersipu, kemudian ia mulai menjawab.
“I’m not consider it as my home, tapi bisa dibilang rumah kerabat gue.”
“Berarti bukan your parents house, ya?”
“Bukan, rumah orang tua gue udah ngga ada sejak lama. Hmm—bukan gitu sih, lebih tepatnya they’re passed away, a really long time ago,” air wajah Mingyu berubah ketika mendengarnya. Kedua matanya menatap Minghao dengan kilauan yang membuat Minghao hanyut dibuatnya.
“Sorry for that,” ujarnya berikutnya. Minghao hanya menggeleng.
“Udah lama banget juga. My mom had schizophrenia, she barely doing anything, and she can’t even cook my meal. Jadi, most of the time gue masak sendiri, masak nasi, telur, gitu doang sih sejak kecil. Meskipun waktu awal, gue berakhir punya banyak luka bakar karena belum terlalu ngerti cara masaknya,” Minghao berhenti bercerita untuk menarik napasnya sekaligus untuk tersenyum ke arah Mingyu, memberitakan bahwa dirinya tak apa-apa.
“My mom’s husband is an alcoholic, he always beat my mom to death. Sampai suatu hari dia nggak pulang, and I’m so grateful for that,” Minghao menoleh ke arah Mingyu dan tersenyum miring. “Beberapa bulan setelahnya, ada berita kalau dia meninggal. I’m not sure but it’s kind of konflik sama gangster gitu—gue bingung istilahnya,” Minghao tertawa, sedangkan Mingyu masih memakukan tatapannya. “Nggak sampai setahun, my mom’s dead karena kecelakaan. Kejadiannya waktu gue lagi sekolah, orang-orang bilang dia lari ke jalanan begitu aja sampai akhirnya ketabrak.”
Minghao menoleh ke arah Mingyu untuk akhirnya menemukan bahwa laki-laki itu tidak bergerak sedikit pun. Mingyu menatapnya tak henti-henti, seolah Minghao akan menghilang ketika dia berkedip.
“Abis itu, gue dirawat sama salah satu rumah asuh sampe SMP sebelum akhirnya gue pindah untuk merantau dan tinggal sendiri. Untungnya gue dapet beasiswa, jadi soal sekolah gue nggak kebingungan, tapi buat kebutuhan yang lain gue coba cari sendiri. Nah sekarang, gue mau ke rumah asuh yang gue maksud,” Mingyu menundukkan kepalanya lemas. Namun, Minghao menggenggam jemari laki-laki itu dengan lembut.
“Hey, Gyu, it’s okay. I’m fine,” ujar Minghao lembut, senyum masih setia menghiasi wajahnya. Sedangkan Mingyu mendongakkan kepala, kedua matanya meredup dan menatap Minghao dengan lamat.
“Tau, nggak sih. Sometimes I wish I can leave my parents, tapi karena uang jajan, kebutuhan kuliah, atau sehari-hari masih dari mereka gue jadi nggak pernah pergi meskipun I hate my dad so damn much. But it just hurts me, you’re suffering alone and here I’m ungrateful person.”
"Do you wanna talk about it?” tawar Minghao sambil mengusap punggung tangan Mingyu dengan ibu jarinya. Mingyu menatapnya sekali lagi, mencari segores luka di dalam sana, tapi sayangnya Mingyu tak pernah menemukan itu.
“My dad is a neurologist surgeon, meanwhile my mom is a consultant. Mereka tinggal di ibu kota. And I’ve always had a zero chemistry with my dad, because sometimes… he hurt my mom—physically and mentally,” Minghao menatap Mingyu yang kini tampak meredup. Ada sebuah dorongan dalam hati Minghao untuk mempertahankan sinar pada kedua mata Mingyu, untuk membuat laki-laki itu bersinar bahkan lebih terang lagi.
“Dia nyakitin lo juga?” Mingyu menggeleng.
“Not physically. Gue selalu minta Mama buat tinggalin aja, tapi Mama nggak pernah mau. Bahkan, sejak gue kuliah, gue nggak tau tuh berapa kali Mama gue harus menghadapi itu sendirian. I can say that she’s the only reason gue masih mau pulang ke rumah.”
Sentuhan pada jemari Mingyu kini bergeser pada punggungnya. Minghao mengusap punggung Mingyu pelan sambil berujar, “Nggak papa, you don’t have to be grateful to have an abusive father. I think it isn’t how it works. You should’ve grateful for being your mom’s son instead,” Mingyu tersenyum sambil menatap Minghao tanpa henti.
"Sorry, jadinya malah lo yang comforting gue,” bisik Mingyu sambil membuat cengiran lebar—memamerkan gigi-giginya, yang membuat Minghao gugup. Namun, laki-laki itu menggeleng sebagai jawaban atas pernyataan Mingyu.
“Nggak kok, It’s really a relief to have you by my side,” keduanya tersenyum, ada sebuah rasa nyaman yang terus menyelimuti Minghao ketika bersama Mingyu. Dia bertanya-tanya apakah laki-laki di sebelahnya merasakan hal yang sama.
Mingyu kemudian menawarkan Minghao untuk pergi ke kereta makan. Mereka akhirnya memesan beef teriyaki yang mereka nikmati dalam diam. Namun, ketika Minghao dan Mingyu akhirnya kembali ke kursi mereka, Mingyu dengan cepat berbisik, “I swear to God, gue bisa bikin lebih enak dari itu, Hao,” dengan menggebu-gebu.
Minghao tertawa, membuat Mingyu terhipnotis sebentar.
"Masa sih? Lo suka banget masak ya?” Mingyu mengangguk menjawab pertanyaan itu. Minghao menatapnya, siap mendengarkan.
“Gue suka masak soalnya dulu sering bantuin Mama di rumah. Mama emang kerja tapi dulu masih sering di rumah juga, akhirnya kita sering masak bareng. Sampe akhirnya gue juga suka masak, suka baking juga!!”
Minghao mengangguk dan memuji kehebatan Mingyu memasak walaupun dia sama sekali belum pernah mengecap masakan buatan Mingyu. Hingga akhirnya Mingyu menawarkan, “Mau gue masakin nggak lain kali?”
“Oh, bakal ada lain kali, nih?”
Keduanya terdiam. Mingyu menatap Minghao dengan senyum aneh tanpa kata, sedangkan Minghao hanya memainkan kuku dengan jemarinya. Setelah berjam-jam menghabiskan waktu di kereta, baru kali ini mereka merasakan atmosfer yang lebih pekat dan sulit diurai.
"Do you believe in destiny, Hao?”
Minghao mengangkat bahunya, dia tak tahu jawaban atas pertanyaan itu. Jauh dalam diri Minghao percaya Tuhan itu ada, meskipun memang dia tak pernah punya hubungan yang intens dengan Tuhan. Namun, setidaknya dia masih merasa bahwa dalam dunia yang berantakan ini, masih ada satu nama yang berdiri di atas semua itu. Maka, Minghao akhirnya mulai menjawab.
"I don’t really believe it, maksudnya gini. Gue percaya kalau ada beberapa yang udah ditulis sama Tuhan di atas sana—karena deep down gue percaya Tuhan itu ada. Tapi, gue juga percaya kalau hidup itu terdiri dari serangkaian peristiwa yang punya hubungan sebab akibat. Pilihan gue atas satu hal bisa jadi mempengaruhi berbagai kejadian berikutnya.”
"Oh, you’re a religious one, huh?”
Minghao menggeleng, “I’m not, tapi gue percaya ada yang pegang kendali.”
“Kenapa?” Mingyu menelisik Minghao lebih jauh, kedua matanya memancarkan minat maksimal. Minghao tersenyum dibuatnya.
“Nggak tau, Gyu,” dia terkekeh pelan, “Gue jujur bingung sama jawabannya. Tapi, yang gue pikirin selama ini adalah kalau memang nggak ada Tuhan, terus kita semua hadir atas kehendak siapa? So, what’s the point of living kalau nggak ada yang ciptain kita?” Mingyu kali ini mengangguk, seolah kalimat barusan dapat dia terima dengan baik.
“Ribet ya. Gue sebenernya terlahir religius—Mama gue yang religius. Dulu gue sering temenin Mama ke gereja tiap minggu dan banyak lagi deh. Mungkin karena itu gue jadi cukup percaya sama Tuhan dan takdir. Meskipun, bisa dibilang gue juga bukan orang yang religius. Gue hampir nggak pernah berdoa lagi, tapi ya kayak yang gue bilang, masih ada rasa percaya dalam diri gue.”
“Okay, so, you believe in destiny, huh?” tanya Minghao yang diakhiri dengan tawa keduanya. Mingyu menatap Minghao lekat, kedua matanya kini kembali bersinar, dan Minghao menyadari hal tersebut.
“Hao,” panggil Mingyu pelan, Minghao mengangkat alisnya dan menunggu Mingyu melanjutkan kalimatnya. “Mau turun di stasiun berikutnya nggak? Main sama gue dulu, abis itu baru lo kejar kereta lain buat ke tempat tujuan lo. Masih ada dua stasiun lagi kan setelah gue turun?” Minghao mengangguk pelan.
“Kenapa?”
“Kenapa apa?”
“Kenapa mau gue turun sama lo?”
Mingyu tak pernah kehilangan kata ketika berbicara dengan Minghao. Namun, kali ini dia kehilangan kata-kata, seolah semua kemampuannya menyusun kata telah direnggut begitu saja. Namun, dia tetap menjawab dengan penuh keragu-raguan.
“Because I think there’s something unusual in our conversation? Because I found something between our conversation, I consider it as a comfort but it could be more. We’re kinda have a chemisty, didn’t we?”
Ada sebuah keheningan di antara mereka, Mingyu mengenggam tangannya sendiri dengan kuat—seolah mencari kekuatan di dalam sana. Sedangkan Minghao masih diam, seolah menimbang-nimbang.
"I also think we have a chemistry, Gyu. You make me comfortable with all of your gesture.” Mingyu tersenyum mendengarnya, tapi ternyata Minghao belum selesai. “Tapi, gue nggak bisa. Maaf banget, gue harus stick to the plan karena besok pagi udah harus balik lagi.”
Mingyu terdiam sambil memainkan bibirnya. Minghao menunggu laki-laki itu bersuara. Jika boleh Minghao akui, dia telah mempertimbangkan untuk mengeluarkan pulpen dan kertas—untuk memberikan kontaknya pada Mingyu. Namun, tentu saja rencana itu dia kubur dalam-dalam.
“Okay, that’s totally fine. Kalau gitu gue pamit ya?” ujar Mingyu akhirnya. Minghao hanya mengangguk pelan. Kedua mata mereka terkunci satu sama lain. Mingyu menatap Minghao seperti anak anjing yang terluka. Sedangkan Minghao berharap Mingyu menanyakan kontaknya agar dia dapat segera mengeluarkan buku dengan pulpen—setidaknya sebelum kereta benar-benar berhenti.
Namun, hingga akhirnya kereta berhenti dan Mingyu bangun dari kursi, Minghao tidak pernah perlu mengeluarkan buku serta pulpen miliknya. Mingyu hanya berlalu setelah mengucapkan, “See you when I see you,” yang membuat Minghao mengutuk dirinya dalam hati.
Harusnya Minghao mengeluarkan kertas dan pulpen tanpa diminta.
Sejak kecil, hampir semua orang di sekitar Mingyu bergumam penuh iri kepadanya. Lahir dari keluarga terpandang, Papa yang merupakan seorang Dokter Bedah Saraf ternama dan Mama yang adalah seorang konsultan. Hidup Mingyu selalu menjadi hal paling diidamkan—setidaknya bagi seluruh temannya semasa sekolah.
Keberuntungan memang gemar memanjakan Mingyu, dia bahkan sempat mengakuinya dalam hati. Keluarga yang berkecukupan, tubuh tinggi dan atletis yang membuatnya menjadi anggota tim sepak bola nomor satu, serta daya tangkap yang sangat memadai membuat laki-laki itu di atas langit. Namun, Mingyu tidak lagi percaya keberuntungan.
Kala itu, Mingyu pulang cepat karena para guru di sekolah tengah rapat. Ketika sampai di depan rumah, ia mendapati pintu sudah terbuka. Udara menyeruak dengan janggal, Mingyu bahkan masih mengingatnya dengan jelas. Tanpa perlu mengamati dengan terlalu keras, kondisi rumah telah berubah menjadi lebih buruk daripada berantakan. Batal-bantal sofa bergeletakan di sana-sini, vas bunga yang pecah dan menjadikan lantai basah, beberapa ornamen berserakan. Ragu, Mingyu menyisir seluruh ruangan, langkahnya berat, dengung dalam kepalanya merangkai berbagai kemungkinan. Hingga, ketika akhirnya dia menemukan Mama meringkuk di sudut ruangan dengan pipi, leher, dan beberapa lebam di badan, juga darah pada ujung bibirnya, Mingyu tahu bahwa dia tak pernah bisa percaya pada apa pun lagi.
Dunia berbalik dengan tak hentinya mencurahkan lelucon tepat ke wajah Mingyu. Kejadian itu seperti sebuah tombol pengaktif yang akhirnya memutar kembali berbagai memori dalam pikirannya, menggabungkannya satu per satu sehingga semua tampak lebih buruk dari yang dapat Mingyu bayangkan. Mama yang beberapa kali tak pernah melepaskan cardigannya dan memakai pakaian tertutup dari kepala hingga ke kaki. Atau Mama yang seringkali menggigit bibirnya keras-keras ketika menunggu Papa pulang.
Sama seperti Mingyu yang berhenti percaya pada keberuntungan, ia juga berhenti menaruh harap pada takdir. Setidaknya, hanya itu yang bisa dia lakukan. Hanya dengan begitu, Mingyu mampu bertahan. Menurutnya, kalau takdir memang kehendak yang tak pernah bisa diganggu gugat, maka, takdir begitu tak adilnya sehingga membuat Mama menderita. Satu-satunya jalan untuk menerima bahwa Mama—yang begitu cantik, harum, baik hati, ceria, dan lembut harus mendapatkan cerita yang sebegitu menyakitkan—adalah dengan bersikeras bahwa hidup dirancang oleh serangkaian peristiwa yang terhubung oleh hubungan kausalitas.
Begitulah Mingyu hidup untuk beberapa waktu setelahnya. Dia berusaha keras untuk bertahan. Bertahan untuk terus mendapingi Mama meskipun wanita terkasihnya itu tak kalah kerasnya menolak uluran tangan Mingyu. Dia mulai mengurangi waktunya main, terlebih ketika Papa sedang ada di rumah.
Namun, lagi-lagi semua berubah sejak konflik antara Mingyu dengan Papa memanas akibat rencana studi Mingyu. Laki-laki itu melawan setengah mati seluruh rencana yang telah disodorkan padanya. Hal itu mengakibatkan Mingyu harus rela berjauhan dengan Mama dan hanya pulang beberapa bulan sekali untuk menjenguk wanita terkasihnya.
Hidup Mingyu terus berputar. Setelah menjadi salah satu mahasiswa Sastra Indonesia, dia mulai melihat hidup dengan cara yang berbeda. Manusia serta kompleksitasnya kini telah memberikan banyak pelajaran, terutama untuk terus melebarkan jarak pandangnya sehingga tidak melihat satu pun objek di dunia dengan hanya sebelah mata.
Dengan proporsi badan yang besar, Mingyu selalu terlihat mencolok di mana pun ia berada. Namun, semua berubah ketika ia masuk ke salah satu fakultas dengan berbagai karakteristik manusia di dalamnya. Mingyu dengan tubuhnya yang besar seolah tak berarti karena beberapa kawannya justru tampil jauh lebih ekstrem. Rambut yang diwarnai dengan warna mencolok, rambut yang memanjang sampai punggung, tindikan di berbagai tempat, merokok bersama para dosen, celana compang-camping yang seringkali Mingyu rutuki karena mirip pengamen, atau bahkan tingkah tak masuk akal di crop-circle dalam salah satu agenda teater mereka.
“Bang, bikinin puisi dong buat next lagu kita,” ini lagi salah satu stereotipe yang selalu digabungkan dengan setiap mahasiswa sastra. Mingyu meradang mendengar permintaan Vernon yang sengaja diluncurkan untuk mengoloknya.
Vernon sendiri merupakan vokalis tampan dari Saga—band lokal yang telah berkiprah sejak mereka di bangku SMA. Bersama dengan Jihoon sebagai keyboardist, Joshua sebagai bassist dan Seungcheol sebagai drummer. Malam itu tergambar jelas dalam ingatan Mingyu, mereka semua duduk melingkar dan menyambut Mingyu sebagai anggota baru di antara mereka.
Bukan. Mingyu bukan bergabung untuk menjadi salah satu personel Saga, lebih daripada itu, Mingyu akan menjadi suara bagi mereka. Seungcheol yang dahulu memegang kewajiban sebagai manager yang menyusun segala kebutuhan band telah mempercayakan Mingyu untuk mengambil posisi tersebut. Tentu saja, kemampuan bersosialisasi Mingyu yang sangat mumpuni, kemampuannya berbicara serta menarik hati banyak orang memang memiliki harga besar yang mampu membuat ketiganya yakin atas usulan Seungcheol. Lagi-lagi, langkah itulah yang membawakan Mingyu ke fase baru dalam hidupnya.
“Bang Cheol, gue kayaknya nggak bisa pergi bareng kalian deh” ujar Mingyu sore hari itu ketika ia baru saja duduk di kursi setelah terpapar debu jalanan. Abang yang dimaksud Mingyu itu menoleh dan bertanya, “Kenapa?” sambil melanjutkan aktivitasnya menyuap gorengan ke dalam mulut.
“Gue tiba-tiba diminta jadi MC buat acara penutupan Gema Budaya. Tadinya yang handle emang anak himpunan, gue ‘kan bukan siapa-siapa ya. Tapi, ternyata ada problem lah makanya mereka minta tolong gue yang backup, masalahnya acara begituan panjang banget, Bang.”
“Acara gimana emang?” kali ini yang angkat suara Vernon, lagi-lagi lelaki yang satu tingkat di bawah Mingyu ini selalu terlihat antusias mengenai segala sesuatu tentang Mingyu—mencari bahan olokan.
“Namanya juga Gema Budaya, ada banyak penampilan gitu lah, dari berbagai sanggar, banyak. Posisi MC sebenernya nggak terlalu signifikan, cuma ya ‘kan gue harus hadir sampe acaranya selesai. Sorry ya, Bang,” Mingyu mengakhiri kalimatnya sambil mengedarkan tatapan ke arah Seungcheol, Joshua, dan Jihoon yang dijawab dengan anggukan kegitanya.
“Iya, santai lah, Gyu. Tapi, lo jadi ikut? Tiket pesawatnya gimana?”
“Jadi kok, Bang Shua, gue bakal refund tiket gue. Terus nanti beli tiket kereta buat Sabtu pagi aja,” Joshua mengangguk-angguk lagi mendengar jawaban Mingyu.
“Nggak re-schedule aja, Gyu?” kini, giliran Jihoon yang menimpali.
“Kayaknya gue mau coba naik kereta aja sih, Bang. Nggak terlalu lama juga, masih bisa catch up karena kalian performnya kan sorean. Kira-kira siang juga gue udah sampe kok.”
Hanya dengan satu keputusan yang sederhana, Mingyu akhirnya naik kereta itu. Dia duduk di dekat jendela bersama seorang remaja perempuan, lalu kemudian Mingyu diminta berpindah tempat oleh ibu dari remaja tersebut. Sederhana sekali, tidak ada keputusan besar yang terjadi. Namun, serangkaian keputusan kecil dan sederhana tersebut mengantarkan Mingyu untuk bertemu Minghao. Laki-laki yang duduk bersamanya sepanjang perjalanan.
Dari apa yang terekam dalam memori Mingyu, Minghao berparas mungil yang wajahnya seperti seni, membuatnya kembali pada kelas estetika. Meskipun Mingyu tahu betul bahwa estetika tidak sama dengan preferensi, dia sepenuhnya yakin bahwa laki-laki yang duduk di sampingnya memang terlahir dengan keindahan itu. Keindahan yang terpancar darinya bukan hanya keindahan yang lahir melalui preferensi Mingyu pribadi. Bulu matanya yang lentik, kelopak mata yang indah, belum lagi matanya yang akan melengkung ketika tertawa, bibir merah muda yang tampak plumpy, leher jenjang yang terbuka dan menampilkan anak-anak rambutnya yang mulai memanjang pada kepala bagian belakangnya.
Minghao memancarkan keindahan dan Mingyu yakin dia tidak dapat menghindar dari pancaran yang menyilaukan pandangannya itu. Bahkan, kalau pun dia bisa, dia tak ingin begitu.
Duduk berdampingan dengan Minghao selama berjam-jam ternyata memberikan banyak sekali emosi serta pemikiran dalam diri Mingyu. Ketika keduanya tengah duduk di kereta makan, tangan kanan Mingyu yang terkulai bebas di meja bergesekan dengan tangan kiri Minghao yang juga tersampir bebas. Ada sebuah sengatan yang membuat dadanya berdegup. Bersamaan dengan itu, muncul berbagai anomali dari cara pikirnya tentang takdir.
Bagaimana kalau takdir memang ada? Bagaimana kalau Tuhan dan segala sesuatu yang ada di balikNya memang merencakan beberapa hal untuk terjadi? Bagaimana kalau semua ini memang telah dirancang? Bagaimana kalau memang pertemuannya dengan Minghao merupakan salah satu bagian dari rencana itu? Apa yang terjadi kalau dia memilih naik pesawat daripada kereta? Apa yang terjadi kalau Mingyu mampu menolak permintaan teman-temannya dan pergi bersama dengan Saga seperti rencana mereka?
Beberapa jam menghabiskan waktu dengan Minghao membuatnya ingin kembali percaya, bahwa Tuhan memang merancang beberapa skenario terbaik untuk dilalui manusia. Mingyu ingin percaya, ia ingin mencoba.
Mingyu tak pernah suka bertaruh. Alasannya sederhana, dia tak lagi percaya bahwa keberuntungan ada di pihaknya. Namun, setelah bertemu Minghao, dia mulai bertaruh.
“Mau turun di stasiun berikutnya nggak? Main sama gue dulu, abis itu baru lo kejar kereta lain buat ke tempat tujuan lo. Masih ada dua stasiun lagi kan setelah gue turun?” pelan, Mingyu berusaha menahan gejolak emosi dalam dadanya. Sebisa mungkin dia ucapkan kalimat tersebut.
Dadu terlempar, Mingyu hanya perlu satu keberuntungan untuk menyambutnya.
Dadanya bertalu-talu, entah mengapa dia butuh lusinan keberanian hanya untuk kalimat yang dia lontarkan sebelumnya. Padahal, jika dirunut ulang, dia hampir tak pernah perlu keberanian sebanyak ini. Berbagai peristiwa berkelibat di depan mata Mingyu yang sedikit gamang. Rangkaian peristiwa yang sebetulnya jauh lebih menguras energi, ketika dia menolak rencana studi yang dibuat Papa, ketika dia keluar dari rumah tanpa restu darinya, bahkan ketika Mingyu cilik yang takut ketinggian itu naik ke atas pohon untuk menyelamatkan kucing.
“I also think we have a chemistry, Gyu. You make me comfortable with all of your gesture.” Kalau Tuhan yang Mama sembah memang benar ada, detik itu rasanya Mingyu ingin berdoa agar dia menang taruhan. Namun, entah siapa yang merancang ini semua, atau memang dunia tak pernah dirancang siapa-siapa. Mingyu kalah taruhan.
“Tapi, gue nggak bisa. Maaf banget, gue harus stick to the plan karena besok pagi udah harus balik lagi,” rasanya seperti kehilangan seluruh tabungan untuk perjudian yang tak mampu Mingyu menangi. Dia tersenyum tipis, kedua matanya menatap wajah cantik di sebelahnya.
Mingyu tak mengerti hampir seluruh hal di dunia. Dia bahkan tak mengerti apa arti tatapan Minghao yang dia temukan. Tidak juga soal makna apa yang ada dari pertemuan mereka. “Ah, kampret, emang nggak ada makna. Gue aja yang terlalu berharap,” gumamnya dalam hati.
Hingga akhirnya kereta berhenti dan dia turun dari gerbong, dunia rasanya berjalan dengan cara yang ganjil. Dalam hati, Mingyu merutuki Minghao—sekaligus memuja—karena sosok itu ternyata membawa segudang misteri yang tak pernah dia temukan sebelumnya. Sejak hari itu, dunia Mingyu kembali berubah.
Sejak pertemuan pertama—dan mungkin yang terakhir—dengan Minghao, Mingyu selalu menemukan dirinya mengedarkan pandangan jauh lebih lama dan lamat. Seperti ketika dia sedang duduk di sudut kafe, ketika sedang berjalan-jalan di pusat kota dengan kamera tergantung di leher, ketika sedang duduk di dalam rumah makan cepat saji. Ada beberapa bagian dalam dirinya yang berharap dapat menemukan Minghao di tengah-tengah manusia lainnya.
Butuh beberapa waktu bagi Mingyu untuk akhirnya berhenti berharap. Hari berganti dan bumi terus berotasi, Mingyu mulai melupakan harapannya. Namun, lagi-lagi dunia selalu mempermainkannya.
“Bang, katanya Bang Cheol mau beli roti dulu,” angin yang bertiup terasa jauh lebih kencang karena Mingyu sedang mengemudikan sepeda motornya. Suara Vernon yang duduk di belakangnya terdengar mengambang di udara. Mingyu hanya menghembuskan napas.
“Aduh, dibilang gue harus balik ke kampus, juga!” seru Mingyu sedikit jengah.
“Nggak tau, ‘kan ini titipan Bang Cheol,” jawab Vernon tepat di telinganya.
Mingyu hanya menghembuskan napas sambil melipir ke salah satu kafe sekaligus bakery yang jadi langganan Seungcheol. Ketika motor baru saja terparkir sempurna, Mingyu sudah bertitah, “Buruan pesen!” yang direspon Vernon dengan berlari masuk lengkap dengan helm yang masih mengait di dagunya. Sedangkan Mingyu setia duduk di motor, enggan masuk ke dalam.
Rasanya hampir seluruh hal berjalan tak sesuai rencana Mingyu. Tidak lama setelahnya, Vernon keluar dengan gigi berderet yang membentuk senyuman konyol. Wajah Mingyu mulai masam, hingga akhirnya Vernon berujar, “Uangnya kurang, Bang, hehe,” dengan tawa menyebalkan yang hampir membuat Mingyu murka.
Kemudian, dia melepas helmnya dan beringsut masuk ke dalam. Suasana tempat itu cukup menarik, wangi cinnamon, keju, dan kopi menyeruak secara bersamaan. Langkah besar Mingyu membuatnya dapat melintasi ruangan dan sampai ke depan kasir dengan mudah. Transaksi selesai, keduanya kini duduk di kursi sambil menunggu pesanan mereka siap. Mingyu fokus pada ponselnya, membaca pesan-pesan dari temannya di kampus.
Seharusnya, hari ini Mingyu ke kampus untuk menyerahkan laporan penelitiannya. Tenggat waktu pengumpulan kini sudah menyempit, tersisanya hanya kurang lebih 30 menit lagi. Namun, sialnya Vernon menginterupsi acara pentingnya dengan memohon pada Mingyu untuk mengantarnya ke studio karena kendaraan Vernon sedang diperbaiki.
Pesanan mereka siap, Vernon bangkit dengan sigap. Helm yang dikenakan Vernon tampak konyol, tapi Mingyu malas menertawakannya karena dia masih menahan diri untuk tidak bersungut-sungut lagi. Ketika dia berdiri dan mulai berjalan ke luar, sepasang mata menatapnya dari sudut ruangan, Mingyu mengenali kedua mata tersebut. Langkahnya terhenti, tubuhnya memaku.
“Hai, Gyu,” sapanya pelan, terdengar hampir berbisik. Mungkin Minghao mengucapkannya dengan lantang, mungkin telinganya saja yang tak mampu menangkap kalimat itu dengan lebih baik.
Dunia di sekeliling Mingyu berputar, berpendar, rasanya seperti sesuatu menginvasi kepalanya. Samar, Mingyu dapat melihat Minghao yang duduk sendirian dengan satu cangkir kopi dan sepotong roti yang telah digigit mengulaskan senyumnya. Dia masih terpaku, hingga suara Vernon menginterupsi, “Siapa tuh Bang?” dengan pelan di dekat telinganya. Mingyu kembali memijak bumi.
“Eh, halo, Hao. Sendiri aja?” Minghao mengangguk mendengarnya. Hingar bingar kafe sekaligus bakery yang ramai seolah lenyap di belakang kepala Mingyu. Satu tepukan di bahu yang Vernon lancarkan dan bisikan, “Gue tunggu di depan, Bang” membuat seluruh kesadarannya akhirnya terkumpul.
“Lagi buru-buru banget ya, Gyu?” lontar Minghao setengah asal. Mingyu hanya tersenyum simpul, dia melirik arloji di pergelangan tangannya sekilas. Jantungnya berpacu, Mingyu kemudian menjawab, “Iya, gue buru-buru nih, hampir telat,” dan kemudian kedua matanya menangkap Minghao sedang menuliskan deretan angka pada secarik kertas, Mingyu menebak itu merupakan nota transaksinya.
“Just hit me up, anggap aja ucapan maaf gue untuk penolakan sebelumnya,” Minghao menyodorkan secarik kertas tersebut. Mingyu tersenyum, dia mengulurkan tangan untuk menyambut carikan kertas yang digenggam Minghao. Sudah tidak ada lagi jejak nail art yang Mingyu lihat pada pertemuan mereka—berbulan-bulan lalu.
“Thanks,” kedua mata Mingyu bertabrakan dengan milik Minghao. Ada pancaran yang tidak berani Mingyu petakan maknanya. Pikirannya berkecamuk, dadanya berdentum. Dengan berat, Mingyu menyeret langkahnya keluar.
Hujan baru saja selesai mengguyur bumi. Saga yang sebelumnya terancam gagal tampil akhirnya dapat menutup acara kampus mereka dengan membawakan lima lagu yang telah mereka persiapkan sejak lama. Tiga lagu merupakan milik mereka, sedangkan dua yang lain adalah lagu yang akan spesial mereka bawakan. Hari itu Joshua telah mempersiapkan penampilannya membawakan Sunday Morning milik Maroon 5. Sedangkan Jihoon akan membawakan Grenade milik Bruno Mars.
"Mingyu,” Joshua menghampiri Mingyu yang berjarak tak jauh darinya kemudian berbisik pelan, “ada yang mau ke backstage, tamu gue. Tadi, udah gue suruh tunggu, katanya dia di deket booth yang jual bakpao itu, tau ‘kan?” yang diakhiri dengan kedua alisnya terangkat, memastikan Mingyu paham dengan baik.
“Pacar nih, Bang?”
“Soon to be” jawabnya dengan senyum manis yang terulas. Mingyu hanya terkekeh sebelum kemudian melanjutkan, “Berapa orang sih, Bang? Satu doang ‘kan?”
“Mungkin dua, katanya dia bareng temen,” Mingyu mengangguk sebelum kemudian keluar dari backstage dan berjalan menuju booth yang Joshua maksud.
Ketika sampai di sana, dia melihat seorang laki-laki dengan jeans, kemeja biru, serta baseball cap tengah berdiri sambil menatap ponselnya. Mingyu mengulaskan senyum tipis membayangkan bagaimana laki-laki ini akan berdampingan bersama Joshua. Keduanya akan sangat serasi, pikir Mingyu.
“Halo? Mau ketemu Bang Joshua ‘kan?” laki-laki yang dimaksud Mingyu mendongak dan tersenyum kikuk.
“E-eh iya, halo. Kenalin gue Seokmin,” tangan laki-laki yang memperkenalkan diri sebagai Seokmin itu terulur. Mingyu menggapai tangan itu dengan sigap seraya memperkenalkan dirinya.
“Gue Mingyu” yang dijawab dengan anggukan. “Lo sendirian aja? Tadi Bang Shua bilang lo berdua” lanjut Mingyu.
“Temen gue nggak mau ke backstage katanya, dia mau nonton sendiri aja.”
“Ohh gitu, ya udah, yuk gue anter,” Mingyu berjalan berdampingan dengan Seokmin. Mereka melangkah dengan perlahan karena tanah masih basah akibat hujan. Mingyu dapat merasakan bahwa Seokmin merasa sedikit canggung.
“Santai aja, Seok. Kita semua open sama orang baru kok, apalagi lo tamunya Bang Shua,” Seokmin tertawa mendengarnya.
“Hahaha iya agak malu aja gue,” Mingyu tersenyum. Kemudian dia menyerahkan sebuah VIP pass agar Seokmin dapat keluar masuk backstage dengan mudah.
Tiga puluh menit berikutnya berlangsung dengan penuh tawa. Seokmin dengan mudah bergabung dengan mereka, membuat Joshua tertawa bahkan bertingkah sama konyolnya dengan laki-laki yang Mingyu gambarkan memiliki wajah geometris itu. Hingga akhirnya Saga naik ke panggung dan Seokmin mulai beringsut untuk menonton di barisan paling depan. Mingyu yang biasanya hanya melihat dari samping stage, kali itu memutuskan untuk bergeser dari sana dan berdiri tak jauh dari penonton yang kini mulai bersorak.
Lagu mulai berputar, bersamaan dengan itu Mingyu mengedarkan pandangannya. Tubuhnya yang tinggi dan besar memungkinkan Mingyu untuk melihat ke berbagai sudut, hingga akhirnya kedua mata Mingyu berhenti memindai pemandangan di sekelilingnya. Kini, dia terpaku pada satu titik. Jauh di barisan belakang penonton, seseorang berdiri dengan kedua lengan terlipat di dada. Minghao.
Musik yang berdentum melalui pengeras suara, suara Vernon yang mengalun, riuh sorakan penonton mengagumi Saga dan ketampanan mereka tampak lenyap. Seolah semua yang tengah terjadi hanya berada di belakang kepala Mingyu dan yang menjadi fokusnya adalah Minghao dan rambutnya yang kini memanjang.
Tanpa keberanian dan hanya dengan bekal suara di sudut hatinya, Mingyu mendekat. Langkahnya yang besar menyebrangi jarak di antara keduanya dengan mudah. Minghao tampak menawan, hanya itu yang berputar dalam kepala Mingyu.
"Hai,” bisik Mingyu ketika dia telah berdiri di samping Minghao. Membuat Minghao yang sebelumnya sedang menggerakkan kepala serta kakinya seirama dengan lagu dengan cepat menoleh.
Minghao tersenyum. Kali ini, senyum itu bukan senyuman lebar atau kekehan yang membuat matanya ikut berekspresi. Senyuman itu hanya berupa satu tarikan di sudut bibir Minghao.
“Kenapa di sini? Sendirian aja?”
“Emang gue nggak boleh di sini?” balas Minghao tanpa menatap Mingyu.
“Bukan, emm… Cuma kayak, I didn’t think you’re Saga’s fan aja. Soalnya gue baru lihat lo kali ini,” Mingyu menggaruk tengkuknya, tangan kiri Mingyu kemudian berada di belakang kepalanya cukup lama. Aksi tersebut diikuti rutukan bodoh pada diri sendiri.
“I’m not really a fan, gue dateng bareng temen buat liat Kak Joshua—”
“Temen lo Seokmin?” Mingyu tidak dapat menahan gejolak di dalam hatinya. Suaranya kini terdengar sangat bersemangat, kedua bola matanya membulat seolah tak percaya. Hingga reaksi Mingyu tersebut akhirnya membuat Minghao terkekeh kecil sebelum kemudian mengangguk.
“Lo siapanya Saga?” kali ini Minghao bergeser sedikit, membuatnya lebih nyaman menatap Mingyu ketika berbicara.
“Manager, kind of. Tadi gue bawa Seokmin ke backstage, and I don’t have any idea that his friend is you. Not even a single thought!”
“Of course, you don’t. We don’t even know each other tho,” Minghao tertawa setelahnya. Sedangkan Mingyu hanya memajukan bibirnya sedikit sambil menatap Minghao nanar, seolah tengah menimbang-nimbang harus berkata apa untuk membela diri.
“I lost your number. Jadi, ceritanya gue taruh nomor lo di kantong celana. Terus, ternyata gue kelupaan sampe akhirnya gue masukin celana itu ke mesin cuci. Nah, pas gue cek tinta di kertasnya udah hilang dan kertasnya berakhir kotorin kantong gue,” Minghao hanya tertawa mendengarnya.
“What a clumsy,” balas Minghao dengan senyum jahilnya.
Angin yang berhembus di antara mereka menyapu kulit dengan cara yang lebih kejam. Rasanya seolah hujan yang turun sebelumnya masih belum cukup menyampaikan dingin ke bumi. Entah ini akan terdengar sebagai alasan belaka, atau karena angin memang bertiup lebih dingin, atau bahkan karena keberadaan keduanya seperti medan magnet yang menarik satu sama lain. Namun, jarak yang dibuat Minghao sebelumnya seolah terhapus. Kini Mingyu dapat merasakan lengannya bergesekan dengan milik Minghao, membuatnya tak berhenti tersenyum.
“But don’t get me wrong. It’s not like I’m waiting for you,” lanjut Minghao pelan. Mingyu dapat melihat kedua sudut bibir Minghao tertarik ke atas, membentuk senyum manis yang membuatnya ikut tersenyum.
“Got it! Bagus juga karena it means I don’t owe you an apology,” Mingyu menoleh ke arah Minghao, mendapati laki-laki itu mengangguk.
“Anggap aja impas,” jawabnya pelan. Mereka tersenyum dalam diam. Namun, bahkan tanpa saling bertatapan, keduanya tahu dengan pasti bahwa ada senyum yang merekah hanya karena kebersamaan ini.
Lagu telah berhenti dilantunkan. Vernon dan Joshua sedang berkelakar di atas panggung. Kedua tangan Minghao yang sebelumnya melipat di dada kini tersampir dengan bebas. Jarak keduanya yang sangat dekat membuat jemari Minghao bergesekan dengan milik Mingyu. Gesekan itu secara otomatis membuat Mingyu mengalihkan tatapannya ke berbagai titik selain Minghao.
Tidak lama berselang, Joshua telah melantunkan Sunday Morning dengan suaranya yang lembut. Minghao secara tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Mingyu, membuatnya sedikit tertegun. Namun, Mingyu dengan cepat mencondongkan badannya, mempermudah Minghao untuk berbisik tepat ke teliganya.
“Ini yang katanya Kak Joshua’s signature song ya,” suara Minghao menyapu telinga Mingyu dan membuat seluruh inderanya mati kutu. Seolah gelombang suara yang keluar dari mulut Minghao adalah kutukan yang membuatnya membatu.
Mingyu terkekeh, giginya yang berderet menampakkan diri dan membuat lelaki itu jauh lebih manis daripada cookies yang pernah Minghao coba sepanjang hidupnya.
“I swear to God, I am done with it. Kita semua udah hafal lagu ini di luar kepala just because Bang Shua loves it that much,” tertawa, Minghao tertawa sebelum kemudian menjawab.
“Same on me. I heard a lot about Kak Shua’s trivia just because Seokmin loves him that much,” suara Minghao bersambut dengan tawa kecil Mingyu. Rasanya hangat. Seolah mereka sedang menyeduh satu cangkir teh untuk masing-masing dari keduanya.
Kedua pasang mata mereka menemukan satu sama lain. Aliran yang hadir ketika mata mereka bertatapan, desiran dalam hati keduanya selaras dengan aliran darah. Semua terasa benar, terasa tepat.
Teriakan di sekitar mereka menggema semakin kuat ketika Jihoon berdiri di atas panggung lengkap dengan bass dan Seungcheol yang bersiap di balik drumnya. Suara Jihoon mulai mengalun bersamaan dengan gelombang teriakan yang semakin masif. Mingyu tersenyum lebar menatap pemandangan di atas panggung.
“Grenade rock version? Hell, I didn’t see it coming!”
Senyum pada bibir Mingyu semakin melebar. Sedangkan Minghao telah menggerakkan tubuhnya seirama dengan suara Jihoon. Minghao melompat, bergerak ke kanan dan kiri, seolah seluruh tubuhnya memiliki sinergi untuk berjalan berdampingan dengan alunan musik dan lagu yang kini berdentum di telinga mereka.
Mereka berdua bergerak, berdampingan, berirama. Mingyu menikmati semuanya, suara Jihoon yang tak pernah mengecewakan, dentuman musik dan teriakan di sekeliling mereka, kedua bibir Minghao yang tertarik ke atas, tubuh Minghao yang bergerak bebas di sampingnya. Keduanya menikmati itu tanpa kata, hanya ada anggukan kepala, tatapan yang tak pernah mudah untuk diartikan, dan senyum yang tak henti berkembang.
I would go through all this pain
Take a bullet straight through my brain
Yes, I would die for you, baby
But you won't do the same
Minghao memutar tubuhnya hingga menghadap Mingyu, menyanyikan lirik demi lirik dari post-chorus tersebut sambil memakukan tatapannya ke arah Mingyu. Kalau Tuhan yang Mama sembah benar ada, Mingyu ingin berdoa agar detik ini berhenti. Namun, waktu tak pernah berhenti. Sebagai gantinya, ada semburat jingga yang muncul di langit, menyempurnakan kebersamaan mereka, mengubah waktu itu menjadi jauh lebih magis daripada yang pernah Mingyu kira sebelumnya.
”You’ve gotta give me your number again, Minghao. I’d stay here until you finally did,” kalimat Mingyu disambut senyuman jahil Minghao.
“Seokmin tau nomer gue kok, Kak Shua juga. You can ask them if you desperately want to have it,” tawa Mingyu membuncah. Dia mengangguk pelan.
Wajah Minghao yang bersinar di bawah matahari sore ini memancarkan keindahan yang ingin Mingyu uraikan, menjadikannya sebuah esai yang tak akan pernah Mingyu selesaikan karena begitulah Minghao yang selalu Mingyu petakan di dalam kepalanya. Keindahan yang tak berujung.
