Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Categories:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-01-30
Words:
4,616
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
403
Bookmarks:
42
Hits:
37,802

RED SKIRT - NOREN

Summary:

Tak pernah ada dalam benaknya kalau hidupnya akan berubah sedrastis ini hanya dalam waktu 1 bulan sejak dirinya menginjak usia kedewasaan sebagai seorang gadis dari keluarga bangsawan.

An explicit Noren / JenRen historical AU.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Tak pernah ada dalam benaknya kalau hidupnya akan berubah sedrastis ini hanya dalam waktu 1 bulan sejak dirinya menginjak usia kedewasaan sebagai seorang gadis dari keluarga bangsawan.

Renjun ingat betul bulan kemarin ia masih bisa bersenda gurau dengan sang ibu sambil menjahit di paviliun rumahnya saat sore hari sambil menikmati cemilan dan teh hangat yang disiapkan pelayannya.

Tapi lihatlah sekarang...
Ia terduduk sendirian di sebuah kamar asing yang mewah dan besar dengan ornamen naga merah keemasan khas kerajaan di setiap sudutnya.

Ia gugup tentu saja.
Tangannya tak berhenti gemetar dan berkeringat sejak sore tadi. Ia tak henti meremas rok chima berwarna merah yang sedari tadi membalut tubuh rampingnya.

Hiasan rambut besar yang menempel di kepalanya terasa semakin berat. Rasanya ingin sekali segera melepaskannya.

'Tidak.. Dirinya tak seharusnya duduk disini..'

Hati dan pikirannya terus saja merapalkan kalimat itu.

Harusnya sang kakak lah yang berada disini.
Harusnya sang kakak lah yang menyandang gelar sebagai Putri Mahkota, bukan dirinya.

"Putra Mahkota telah tiba!!"

Seruan dari luar pintu itu menghentikan pikirannya yang berkecamuk. Matanya menatap dengan awas pada pintu yang dengan perlahan bergeser terbuka.

Suara derap langkah yang tegas terdengar di telinganya, bersamaan dengan sesosok lelaki dewasa berpakaian kerajaan berwarna biru tua dengan gambar naga tepat di dadanya, muncul dengan beberapa dayang mengikuti di belakangnya.

'Putra Mahkota...'

Sang Putra Mahkota mengambil tempat untuk duduk di hadapannya, kemudian dayang yang tadi mengikutinya mulai menata berbagai macam makanan dan minuman untuk menemani malam mereka berdua.

Tangan yang lentik itu semakin erat meremas roknya saat menyadari kalau lelaki dihadapannya ini tak berhenti untuk memandanginya dengan sangat lamat.

Dayang yang paling tua, Renjun asumsikan sebagai dayang senior, mulai menuang minuman ke dalam dua gelas cangkir yang sudah ditata di atas meja.

"Tolong tinggalkan kami berdua. Aku tidak ingin diganggu."

Suara baritone yang dalam cukup membuat hatinya bergetar.
Dalam 15 tahun kehidupannya, baru kali ini Renjun berhadapan sangat dekat dengan seorang lelaki selain ayah dan kakak laki-lakinya.

Hening mendera saat semua orang meninggalkan kamar yang ditempati oleh 2 manusia itu.

"Renjun.."

Deg!

"Makan dan minumlah dulu. Aku tau kau lelah dan juga bingung."

Perlahan kepala mungil itu mengangguk, setuju dengan apa yang diucapkan oleh sang Putra Mahkota.

Tangannya dengan perlahan mengambil gelas dihadapannya dan tanpa pikir panjang segera meneguk habis isinya tanpa sisa.

"Uhuk!!"

Arak??
Ah kenapa Renjun tidak menyadari kalau minuman yang disediakan saat ini adalah arak!

Terasa tepukan yang ringan hinggap di punggungnya.
Dan sejak kapan Putra Mahkota sudah berpindah duduk menjadi disampingnya?

"Kau tentu sudah diberitau bukan kalau minuman yang disediakan selama malam pernikahan adalah arak?"

"Maafkan hamba Yang Mulia."

Tepukan tadi berubah menjadi usapan pelan di punggungnya. Cukup untuk membuat batuknya menjadi lebih ringan.

Ini adalah jarak terdekat mereka berdua!

Dilihat dari sedekat ini Renjun jadi paham kenapa Putra Mahkota begitu dielu-elukan oleh rakyat terutama para kamu hawa.

Ia memang sungguh sangat tampan..

"Panggil aku Jeno saja saat kita sedang berdua."

"Yang Mulia..."

"Hanya saat berdua.. Renjun.."

Renjun jadi ingat pertemuan pertamanya dengan Putra Mahkota 1 tahun silam setelah masa pemilihan Putri Mahkota selesai dan kakaknya terpilih.

Putra Mahkota Lee Jeno secara resmi mengunjungi rumah keluarganya untuk menjemput sang kakak perempuan dan membawanya ke istana.

Renjun yang saat itu memang belum memasuki usia legal tentu saja tidak boleh untuk mengikuti kompetisi itu. Usianya dan sang kakak perempuan yang terpaut 2 tahun membuatnya sangat dijaga dengan ketat dan selalu dalam pengawasan keluarganya.

Lalu 3 minggu yang lalu, keluarganya mendapat kabar tentang kematian sang kakak karena penyakit yang diidapnya makin mengganas.

Sang kakak memang memiliki riwayat sesak nafas.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban pada kerajaan atas kematian kakaknya, dan tidak ingin dianggap sebagai pengkhianat karena sudah merahasiakan penyakit sang kakak, maka Renjun dipilih untuk menggantikan posisi tersebut sebagai istri sekaligus Putri Mahkota.

Ciuman di pipi kirinya membuyarkan pikirannya yang melayang ke masa lalu. Matanya yang cantik menatap dalam mata tajam yang menatapnya sedari tadi.

"Apa yang kamu pikirkan, hmm?"

Kepala itu menggeleng pelan, "Yang Mulia.. Aku hanya merasa aneh.."

Cup!

Matanya melotot saat merasakan sebuah kecupan mendarat di bibirnya.

"Panggil aku Jeno.."

"Jeno.."

"Aku sudah terlalu lama menunggu untuk malam ini Renjun."

Tangan yang besar itu menghampiri tengkuknya, kemudian mendorong kepalanya untuk semakin maju. Semakin dekat pada wajah yang tampan rupawan itu.

Hembusan nafas yang harus hinggap di bibir dan hidungnya. Jeno terasa berbicara diatas bibirnya yang tipis.

"Menunggumu sampai usia legal sungguhlah menyiksa."

Mata Renjun melotot saat mendengarnya. Merasa aneh dan terkejut dengan ucapan sang Putra Mahkota.

Tak lama sebuah ciuman menghampiri bibirnya dengan dalam dan tangan yang sedari tadi ada di tengkuknya bergerak untuk melepas binyeo dan membuka ikatan rambut yang tadi sudah ditata dengan sangat rapi oleh dayang.

"Mmh.."

Lenguhan itu tanpa sengaja keluar dari bibir tipisnya yang kini tengah dilumat oleh sang lelaki.
Ciuman pertama yang telah dijaganya selama ini kini diserahkan secara sukarela kepada sang calon penguasa negeri.

Ayah dan ibunya selalu berkata untuk tidak menolak setiap apapun yang dilakukan oleh Putra Mahkota terhadap dirinya. Itu bisa jadi dosa terbesarnya juka dengan berani berkata "tidak" kepadanya.

Maka dengan itu Renjun membiarkan saja ketika tangan yang lebih besar bergerak untuk membuka simpulan tali jegori yang menutup tubuh bagian atasnya.

Matanya tertutup saat bibir yang tadi menguasai mulutnya kini berpindah ke lehernya yang sudah telanjang tanpa penghalang. Satu-satunya yang melindungi tubuh atasnya hanya kain dalaman yang membebat dadanya.

Tubuhnya meremang, bergidik merasakan rangsangan yang diberikan Jeno pada seluruh titik sensitif di lehernya. Tangannya semakin erat meremas gaunnya, melampiaskan seluruh euforia yang terasa.

Renjun ingin sekali mendekap kepala yang saat ini bergerilya di lehernya. Meremas rambut hitam yang tebal itu sebagai pelampiasan atas apa yang tengah mereka berdua lakukan.

Tapi dirinya tak bisa melakukan itu. Tata krama kerajaan melarangnya untuk menyentuh kepala calon rajanya. Terkecuali jika sang calon penguasa memberinya ijin, maka ia akan dengan senang hati melakukannya.

"Ahh.. Yang.. eung~ Mulia~"

Hisapan keras makin terasa di lehernya. Lelaki ini benar-benar menjajah seluruh permukaan leher dan selangkanya tanpa sisa, sementara Renjun hanya bisa mendesah dan mendesah.

Jeno melepaskan leher itu sejenak sementara tangannya masih tetap bertengger disana. Menikmati ekspresi kenikmatan yang ditampilkan gadis perawan nan lugu didepannya.

Panas..

Tenggorokannya terasa kering..

Sebelah tangannya mengambil cangkir berisi arak yang sudah disediakan dayang tadi, kemudian menenggaknya dengan rakus.

Gadis didekapannya ini sungguh sangat panas.
Bagaimana bisa tatapan yang sangat sayu itu begitu terasa membakar tubuhnya ini?

Dengan perlahan Jeno melepaskan dekapannya pada Renjun. Dan mulai melepaskan jubah biru kebesarannya dengan tergesa sehingga hanya tersisa gaun tidur putihnya yang tipis.

Kembali Jeno tuangkan arak untuk mengisi cangkir mereka berdua yang sudah kosong. Meminumnya lagi sampai gelasnya kosong, sementara Renjun hanya menatapnya dengan bibir yang bengkak dan leher yang penuh ruam merah.

Tangan lelaki itu meraih gelas Renjun dan mendekatkannya pada bibir si gadis, "Minum Renjun."

Mendengar perintah itu dengan segera Renjun membuka mulutnya untuk menerima cairan arak yang dengan perlahan masuk ke dalam kerongkongannya.

"Ini akan membantumu mengurangi rasa sakit nanti."

Lagi.. Jeno kembali menuangkan arak ke dalam gelas Renjun dan meminumkannya pada gadis itu.

4 tenggakan dan Renjun sudah merasa cukup melayang. Ia gelengkan kepalanya untuk tetap dapat melihat wajah Jeno dengan jelas.

Lelaki itu tertawa cukup keras dengan wajah yang bahagia. Merasa senang membuat gadis yang lugu ini mulai menikmati arak termahal dari negeri sebrang.

"Yang Mulia.. bolehkah hamba menyentuh anda?"

Suara yang lembut itu mulai terdengar parau setelah semua cumbuan yang dirasakan. Membuat Jeno tentu saja senang karena bisa merubah gadis yang baru menginjak usia dewasa ini merasakan hal yang nikmat.

"Oh Renjun-ku sayang.." Kecupan kembali Jeno curi, "Tentu saja boleh. Kau boleh menyentuhku."

Wajah cantik yang sudah merah itu makin memerah saat dirinya dipanggil sayang. Membuat Jeno semakin tak tahan untuk merusak kepolosan dan keluguan gadis didepannya ini.

Tangan yang lentik itu mulai merambat naik menuju dada Jeno yang bidang hasil dari semua pelatihan yang dilakukannya sedari kecil. Usapan halus terasa disana, masih sungkan untuk menyentuhnya dengan berani.

Mata Jeno tak henti menatap gadis didepannya, "Kau ingin membukanya?"

"Bolehkah?"

Oh sial!

Kenapa Renjun harus menatapnya dengan mata yang penuh kemurnian itu?!

Jeno mendesah tak tahan, sudah lama sejak terakhir ia melakukan hubungan badan karena istrinya yang sakit-sakitan itu. Tapi ia tak bisa serta merta langsung masuk ke inti ritual malam pernikahan mereka ini. Ia harus dengan perlahan agar Renjun dapat dengan nyaman dan menikmatinya.

Tangannya meraih tangan yang mungil dan halus itu, lalu mengarahkannya pada simpul tadi baju tidur teratasnya. Menuntun tangan Renjun yang terasa bergetar untuk membukanya.

Ikatan itu terbuka, menampilkan dada Jeno yang bidang dan begitu liat. Mampu membuat gadis itu membeku karena disuguhkan pemandangan yang baru dilihatnya seumur hidup.

Belum pernah.. Renjun belum pernah sama sekali melihat tubuh telanjang seorang manusia yang menjadi lawan jenisnya. Ibunya selalu mengatakan bahwa seorang perempuan dari keluarga dengan status sosial tinggi harus mampu menjaga pandangan dan tata krama.

Tapi lihat sekarang.. Ia buta atas apa yang akan dilakukannya bersama sang suami yang baru dinikahinya tadi sore. Dirinya tidak tau harus melakukan apa saat ini.

Dan Jeno tau akan akan hal itu.. Kebingungan dengan jelas nampak pada wajah cantiknya yang memerah.

'Sungguh sangat polos.' Jeno membatin. Merasa gemas ingin sekali segera menyantap hidangannya ini.

Dengan segera Jeno mengarahkan tangan si gadis menuju dadanya. Meletakkannya dengan tepat diatas dada yang berdentum dengan hebat. Merasa bersemangat atas malam ini.

Telapak tangan Renjun merasakan dengan nyata bagaimana kulit lelaki itu terasa panas menyentuhnya. Detakan yang kuat disana menjadi bukti bahwa bukan hanya dirinya saja yang menantikan semua ini.

Perlahan tangannya bergerak untuk mengusap tonjolan berwarna coklat disana. Terasa keras dan tegang ketika menyapa ujung jarinya yang masih senantiasa bergetar.

"Renjun.."

Bisikan yang halus itu terdengar, membuatnya mendongak menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu. Melihat ekspresi kenikmatan tercipta hanya karena sentuhannya yang ringan.

"Yang Mulia.."

Suaranya mendayu. Entah kenapa perutnya terasa geli dan bagian diantara pangkal pahanya terasa lembab.

Jeno memejamkan matanya sejenak. Ia selalu memiliki kontrol yang baik terhadap dirinya sendiri, tapi entah kenapa saat ini dirinya tidak ingin menahan segala ego yang ada.

Tangan besar itu dengan cekatan membuka ikatan simpul yang menutup dada yang ranum itu. Begitu ahlinya seolah kain yang membelit itu tidak menyulitkannya sama sekali.

Ketika kain yang membelit dada Renjun dengan cukup kencang itu terjatuh, seketika dadanya terasa ringan. Pucuk dadanya terasa merengut merasakan hawa dingin dan malu karena ditatap dengan sedemikian rupa oleh lelaki dihadapannya ini.

Bulatan kenyal itu terasa sangat pas di tangannya. Jeno tak menyisakan waktu lebih lama untuk segera menyentuh payudara yang masih ranum itu langsung dengan tangannya sendiri. Dada itu terasa sedikit membusung begitu sang pemilik menghirup udara dengan sangat rakus.

Kulit putih yang terasa halus tak pernah terjamah ini begitu Jeno damba. Selalu ia idamkan dan bayangkan ketika bersenggama dengan istrinya yang penyakitan.

Jeno baringkan tubuh elok yang ringan itu di kasur tebal berlapis kain emas miliknya. Ini pertama kalinya ia akan melakukan percintaan di kamarnya, di atas kasurnya sendiri.

Biasanya ia akan mengunjungi kamar Putri Mahkota dan menghabiskan malam disana. Menyimpan kehangatan kasurnya hanya untuk gadis pujaan hatinya ini.

Oh lihat.. Payudara itu bergoyang mengikuti gerakan pemiliknya yang menyamankan diri di atas kasur.

Jika dilihat dari atas sini, ini adalah pemandangan paling erotis yang selalu ia bayangkan.

Memiliki Renjun diatas kasurnya, untuk ia nikmati sepanjang malam tanpa henti.

Lelaki itu merunduk, memenjarakan gadis perawan dibawahnya ini. Dengan perlahan kepalanya maju menuju sasaran yang sudah dibidiknya.

"Ahh~"

Lenguhan halus Renjun terdengar kala bibir tebal sang Putra Mahkota menyapa pucuk payudara sebelah kanan miliknya. Dijilat dan dihisap dengan sangat keras.

Payudara kirinya kini sedang diuleni dengan begitu ahli seperti adonan roti yang sering dibuatnya bersama sang ibu.

Rangsangan ini begitu terasa nikmat untuk dirinya yang baru pertama kali merasakan hal seintens ini.

"Angh!" Teriakan terdengar saat Jeno dengan sengaja menggigit puting berwarna pink yang sudah tegang itu.

Remasan terasa di rambutnya saat bibir Jeno berpindah pada puting yang satunya. Memperlakukannya dengan sama seperti sebelumnya.

Tangannya mulai menjalar mencari ikatan rok yang dikenakan oleh Renjun. Ingin segera melihat tubuh telanjang gadis ini dan memulai pergumulan yang panas.

Setelah menemukan simpulan itu Jeno bangkit dan dengan tergesa membukanya. Terpaksa meninggalkan payudara yang begitu disukainya itu untuk fokus menelanjangi Renjun.

Rok merah itu terbuka, menjadi alas tubuh telanjang Renjun yang berbaring di kasurnya. Pemandangan yang sangat-sangat erotis dilihat oleh matanya.

Kulit putih Renjun dan rok berwarna merah itu berpadu dengan sangat cantik. Begitu cocok untuk hal membara yang akan mereka lakukan.

Renjun malu..
Untuk pertama kali ia bertelanjang di hadapan seorang pria. Ditatap dengan sedemikian rupa seolah ia adalah santapan utama untuk sang Putra Mahkota.

Lipatan vaginanya terasa semakin basah saat mata itu terus menatapnya.

"Renjun.. aku akan menikmatimu dengan hikmat."

Sentuhan pelan dari kulit yang kasar terasa menyeruak di vaginanya. Terasa naik turun menggoda lipatan yang baru diketahui bisa memberikan rasa nikmat.

"Mmh.. Engh~"

Kepalanya mendongak saat jemari Jeno tak henti menggoda bulatan kecil yang begitu sensitif itu. Menggosok terus-menerus yang membuat tubuhnya bergidik.

Tangannya menangkup payudarannya sendiri, merasa tergoda untuk memberikan remasan seperti apa yang dilakukan Jeno tadi. Tanpa sadar kini kakinya mengangkang, memberikan akses lebih leluasa untuk Jeno terhadap tubuhnya yang terbuka.

"Ssh.. Renjun.."

Jeno melihatnya. Melihat apa yang dilakukan gadis perawan itu dibawahnya. Entah sadar atau tidak seperti menyerahkan diri sepenuhnya untuk diperawani.

Kejantanannya terasa semakin keras. Menggembung membuat tenda di celana yang terasa semakin sesak. Matanya melihat permukaan celana dibagian pusat tubuhnya itu basah, sepertinya cairan precum sudah keluar karena hal-hal yang sudah mereka lakukan.

Dengan tergesa Jeno menelanjangi dirinya sendiri. Membuat penisnya terbebas dari rasa sesak karena terperangkap dalam celananya.

Tangannya mengurut penisnya agar semakin keras. Memastikan kalau ia sudah siap untuk menuju permainan inti dari ritual malam pernikahan mereka.

Sembari terus mengurut penisnya, tangannya yang satu lagi Jeno bawa untuk kembali merangsang vagina Renjun yang sudah memerah itu. Terasa semakin basah karena cairan reproduksi yang terus keluar dari lubang kawinnya.

"Angh~ Ahh.."

Renjun melihat apa yang sedang dilakukan Jeno. Matanya tak henti menatap benda panjang yang sedari tadi sedang dipompa itu, terlihat besar dan berat. Cairan putih terlihat sedikit demi sedikit keluar dari lubang disana, membasahi tangan dan sedikit mengenai vaginanya.

Lagi-lagi hal ini menjadi yang pertama untuk Renjun. Melihat tubuh telanjang dan kemaluan seorang lelaki. Benda yang selama ini selalu bersembunyi dibalik pakaian itu begitu panjang dan besar.

Pemandangan yang sangat panas.. Membuatnya tak tahan untuk semakin meremas kedua payudaranya sebagai bentuk pelampiasan.

"Renjun, kamu sudah sangat siap untukku."

Renjun mengangguk. Mengantisipasi atas apa yang akan terjadi selanjutnya.

Jeno mendekatkan tubuh mereka berdua. Meletakkan penisnya yang berat diatas lipatan vagina yang sudah basah dan merah merekah.

Gadisnya yang baru mekar ini akan langsung Jeno renggut sari-sari madunya hanya untuk dirinya sendiri.

Memaju-mundurkan pinggulnya untuk menggesek penisnya di lipatan itu. Menambah friksi yang sangat nikmat untuk keduanya.

"Yang.. ahh Mulia~"

"Kenapa.. hmm? Baru pertama kali merasakan ini ya?"

Renjun mengangguk. Sungguh baru pertama kali merasakan hal nikmat ini apalagi bersama lelaki paling dipuja seluruh kaum hawa di negeri ini.

"Sshh~" Mulutnya berdesis begitu merasakan sebuah benda keras yang asing menyeruak masuk ke dalam dirinya.

Tangannya manggerapai mencari pegangan untuk pelampiasan akan rasa sakit yang mulai terasa mendera tubuh bagian bawahnya. Sakit ini terasa berbeda dengan yang ia rasakan setiap datang bulan.

"Sempit sekali sayang." Dengusan yang jantan terdengar dari mulut Jeno yang tengah berusaha menerobos pertahanan gadisnya ini. "Padahal aku sudah merangsangmu dengan sedemikian rupa."

"Ahh.. Angh!!"

Teriakan Renjun yang nyaring menjadi pertanda kalau Jeno sudah masuk kedalam tubuhnya yang terdalam. Menembus perisai tipis yang melindungi dirinya, merenggut segala kesucian dan keluguan yang selama ini dijaga.

Sekarang saatnya Jeno untuk menunjukkan keperkasaannya sebagai seorang penerus tahta kerajaan dengan sesegera mungkin membuat Renjun hamil.

Liang itu terasa begitu hangat membungkus kejantanannya dengan rapat. Sensasi pijatan yang meremasnya terasa sangat nikmat, mampu memicu gairahnya yang selama ini terkekang.

Tumbukan pelan namun dalam Jeno berikan agar Renjun bisa merasakan sedalam apa ia merasuki tubuhnya. Sebesar apa ia didalamnya.

"Emh, ahh.." Persenggamaan ini begitu terasa nikmatnya, Renjun akui itu.

Sebagai gadis yang baru pertama kali melakukannya, ia cukup senang dengan fakta bahwa dirinya bisa memberikan tubuhnya untuk dinikmati oleh sang Putra Mahkota.

Bagaimana batang yang keras itu terus merojok masuk didalam sana. Menjelajahi setiap sudut yang dirinya sendiripun tidak tahu.

Bibirnya kembali dicumbu oleh lelaki diatasnya. Dilahap rakus sembari kakinya dibuka dengan sangat lebar untuk memudahkan ia menggenjotnya.

"Aku akan membuatmu hamil, sayang.."

Bayangan tentang dirinya yang mengandung apalagi anak sang putra mahkota Lee Jeno terasa sangat menyenangkan. Dirinya merasa panas dengan gambaran perutnya yang akan membesar membawa sebuah kehidupan.

Membayangkan lelaki rupawan dengan rambut hitam yang telah lepek karena keringat diatasnya ini menjadi ayah dari anak-anaknya begitu membuat hatinya berbunga-bunga.

"Kamu mau hamil anakku kan Renjun?"

Mendengar pertanyaan itu tentu saja Renjun mengangguk dengan sangat antusias, seantusias gerakan maju-mundur penis Jeno dalam liang vaginanya.

"Aku akan terus menggaulimu setiap saat, setiap kesempatan.. ah! Kamu harus selalu siap jika aku menginginkanmu dimanapun."

Bibir Jeno menghampiri payudara yang sejak tadi bergerak kesana-kemari. Mengulum putingnya dan sesekali menyedot dengan rakus, berimajinasi kalau air asi akan keluar dari sana.

Gerakan pinggulnya semakin cepat bersamaan dengan pijatan dinding vagina yang semakin keras. Liang vagina itu terasa semakin basah karena cairan yang terus-menerus mengalir.

"Engh, mmh! Jeno.."

"Hmm?"

"Lebih.. hmph cepat~"

Permintaan itu seperti memantik sesuatu dalam dirinya untuk terus membuat Renjun tak berdaya dalam kuasanya.

Maka ia lepaskan kedua payudara yang sedari tadi menjadi jamahannya. Bangkit menegakkan tubuhnya dan menghentikan gerakan pinggulnya meskipun ia tidak rela.

Matanya menatap penyatuan tubuh keduanya. Melihat sebasah apa Penis dan vagina yang saling bertaut erat itu.

Rasa puas muncul dalam benak Jeno begitu melihat seberapa rusak dan berantakannya Renjun malam ini. Tubuh telanjang itu bersimbah keringat di atas kasurnya dengan beralaskan rok merah miliknya sendiri.

Begitu terbuka untuk dinikmatinya seorang diri..

"Yang Mulia.." Rengekan Renjun kembali terdengar karena kenikmatan yang dirasakan berhenti.

Melihat Jeno yang hanya diam sembari menatap tubuh telanjangnya membuat Renjun malu, namun ia masih ingin merasakan kenikmatan tadi.

Dikesampingkannya rasa malu itu, Renjun mulai dengan mengedutkan vaginanya. Namun yang didapatkannya malah senyum miring yang sangat tampan. Sungguh membuat jantungnya berdebar dengan kencang.

Jeno mendengus begitu merasakan kedutan yang cukup kencang di penisnya. Gerakan naik-turun juga diberikan Renjun untuk memompa kembali penisnya yang saat ini hanya terdiam menikmati.

Gadis polosnya kini sudah berubah menjadi gadis pemuas nafsu.

Miliknya.

Kedua tangan Jeno hinggap di pinggang ramping gadis itu. Menghentikan segala gerakan yang sempat dilakukan Renjun.

"Tidak sabaran."

"Angh!" Hentakan keras dan dalam dirasakan Renjun.

"Diam dan nikmati saja saat ini."

Setelah ucapan itu Jeno menggenjot penisnya dengan sangat cepat dan dalam. Tak memberikan jeda untuk Renjun menyesuaikan diri pada ritmenya.

"Oohh, mmh~"

Renjun bisa merasakan bagaimana batang penis itu terasa sangat besar dan keras di dalam tubuhnya. Bagaimana penis itu merojok dengan sangat dalam disana. Dan ia hanya bisa terus mendesah atas semua perlakuan Jeno yang diberikan padanya.

"Engh.. engh.."

Gerakan Jeno jadi semakin berantakan. Vaginanya juga semakin terasa semakin sensitif karena penis didalamnya terus-menerus menumbuk di posisi yang tepat.

"Jeno, angh.." Renjun tidak tahan, tubuhnya terlalu sensitif!

"Apa.. ahh, sayang?"

"Tolong, ngh~ Yang Mulia~"

Jeno paham..

Tubuh dibawahnya akan segera orgasme. Mencapai kenikmatan tertinggi dalam persenggamaan ini. Terlihat dari gerakan yang tak bisa diam dalam cengkeramannya.

Maka dengan itu Jeno semakin mempercepat gerakan pinggulnya untuk sama-sama mengejar kenikmatan bersama.

"Renjun.."

Isakan mulai terdengar. Renjun sungguh sudah sangat tidak tahan.

"Jangan ditahan, sayang.."

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Renjun menyerah.

"Mmph, engh.. Jeno!"

Semprotan yang deras Jeno rasakan menghinggapi penisnya dan keluar di sela-sela penyatuan mereka.

Tubuh itu menggelinjang atas euforia kenikmatan yang terasa bagai terbang ke langit ketujuh. Seluruh cairan yang tadi ditahannya kini terasa keluar dari lubang kawinnya yang saat ini masih tersumpal penis besar Jeno.

Jeno bangga karena bisa mengantarkan gadis lugu ini menuju kenikmatan bersenggama yang sesungguhnya.

Lelaki itu terkekeh. Tanpa menunggu dan memberi waktu beristirahat pada Renjun, ia kembali memompa penisnya di liang panas yang terasa semakin licin itu pasca orgasme.

"Bangun sayang.." Penis keras itu kembali bekerja mencari kepuasan, "Aku masih belum selesai."

Renjun hanya bisa pasrah. Tubuhnya sudah sangat lelah pada ritual perkawinan mereka yang pertama kali ini. Tapi tenaga Jeno seperti tidak ada habisnya.

Selepas mendapatkan orgasme pertamanya, lubang vaginanya kembali digempur oleh penis besar itu tanpa jeda.

Jika dilihat dari bawah begini, Jeno benar-benar sangat tampan. Rahangnya yang tegas sesekali mengetat begitu merasakan kedutan kencang dari vaginanya.

"Mmh, Yang Mulia.."

Tubuhnya masihlah sangat sensitif dan kini Jeno kembali menghantarkannya pada orgasme kedua yang terasa begitu panas.

"Aku.. ah, akan membuatmu hamil, Renjun!"

Tumbukan terakhir yang keras Renjun rasakan bersamaan semprotan panas yang terasa mengalir di dalam tubuhnya.

Rasa kantuk dan lelah mulai mendera mata gadis itu. Samar-samar tubuhnya masih merasakan genjotan dan semprotan pelan dari penis Jeno di dalam tubuhnya. Memastikan tidak ada cairan sperma yang terbuang sia-sia.

Sebelum Renjun jatuh terlelap dalam tidurnya, ia bisa merasakan Jeno berbaring di belakang tubuhnya dan memanuver tubuhnya dengan sedemikian rupa kemudian melanjutkan kembali genjotan penis yang masih keras itu di dalam liang vaginanya.

Ketika Renjun terbangun di pagi hari, ia mendapati dirinya sudah terbalutkan gaun tidur sutra diatas kasur yang masih sedikit berantakan sisa perbuatannya dengan sang Putra Mahkota semalam.

Pipinya sontak memerah begitu mengingat betapa panasnya persenggamaan mereka semalam. Jeno benar-benar menyetubuhinya semalaman penuh tanpa jeda.

Bau percintaan menguar kuat di kamar yang luas ini.

Beberapa dayang membantunya untuk makan, mengisi tenaga sebelum memulai aktivitas hari pertamanya sebagai Putri Mahkota sembari menunggu air untuk mandinya selesai disiapkan.

Dayang-dayang itu begitu mafhun begitu masuk ke dalam kamar Putra Mahkota. Merasa wajar untuk pasangan muda yang baru menikah untuk menghabiskan waktu berdua saja.

Begitu air mandinya sudah siap, dayang-dayang senior membantunya berjalan menuju kamar mandi. Karena jujur saja kakinya saat ini terasa seperti agar-agar.

"Air mandi anda saat ini sudah dicampur dengan berbagai rempah untuk mengembalikan stamina anda dan menambah kesuburan." Ucap salah satu dayang senior yang saat ini sedang menyisir rambut panjangnya.

"Terimakasih." Renjun semakin menyamankan dirinya pada bak mandi yang berisi air hangat ini. Membiarkan dayang-dayang itu memijat tubuhnya yang kelelahan.

Tak memperdulikan tubuhnya yang telanjang itu memamerkan karya Jeno semalam.

Terdengar pintu kamar mandinya terbuka, dan terlihatlah tubuh besar sang Putra Mahkota di hadapan Renjun. Membuat para dayang yang tadi sedang merawatnya itu menjauh.

Rupanya suaminya ini sudah selesai pada kegiatan memberi salam pada para tetua istana.

"Tolong tinggalkan kami berdua."

Titahnya terdengar mutlak dan seketika para dayang di belakangnya keluar dari area kamar mandi.

"Boleh aku bergabung?"

Oh siapa Renjun jika dengan berani menolak permintaan Putra Mahkota?

Tanpa menunggu lama, Renjun mengangguk. Memberi izin pada lelaki itu untuk bergabung di dalam bak mandi ini.

Ia tau kemana arah yang akan terjadi selanjutnya.

Jeno mulai melucuti pakaian kebesarannya sampai telanjang. Kemudian mulai masuk kedalam bak mandi berisi air hangat yang wangi ini.

Penis itu.. Terlihat sudah sangat keras. Bergerak memantul seiring dengan langkah kakinya yang semakin dekat.

Bagaimana bisa Jeno beraktifitas seperti biasa dengan penis yang ereksi seperti itu?

Riak air terdengar saat Jeno Mendudukkan dirinya dengan nyaman di sebrang Renjun yang menatapnya dengan lamat.

Renjun mendesis pelan melihat pemandangan tubuh telanjang sang Putra Mahkota dalam keadaan sadar ini.

"Kemari Renjun."

Itu perintah, bukan permintaan.

Maka dengan anggun, Renjun bangkit dari duduknya. Tetesan air berlomba untuk turun dari tubuhnya.

Memamerkan tubuh dengan penuh bercak merah karya lelaki itu.

Dengan pelan Renjun berjalan menghampiri Jeno. Kemudian mendudukan diri di atas pahanya yang terbuka. Menghimpit batang keras yang sedari tadi sudah menggodanya.

"Kamu ingat ucapanku semalam kan?"

Renjun mengangguk, "Yang Mulia ingin membuatku hamil."

Jeno tergelak mendengarnya. Gadis yang sudah diperawaninya ini benar-benar pintar.

Dengan mendesah pelan, Jeno menyibak rambut panjang Renjun ke belakang. Tangannya menghampiri tengkuk si gadis untuk membuatnya mendongak sembari menjambak sedikit rambut yang halus itu.

Lelaki itu tergoda untuk kembali membubuhkan ciuman disana. Memberikan ciuman kupu-kupu yang mampu membuat perut Renjun terasa berdesir akan godaan.

"Aku akan menggaulimu setiap saat, Renjun." Gigitan cukup kencang diberikan untuk menambah tanda di leher yang jenjang itu.

"Bahkan jika perlu kau tidak usah memakai pakaian apapun lagi dibalik gaun hanbok mu, sayang.. Agar aku bisa langsung memasukimu kapanmu yang aku mau."

Tanpa menunggu lebih lama lagi Jeno menuntun kebanggaannya yang perkasa untuk segera memasuki lubang surgawi yang sudah membuatnya tidak fokus saat bertugas kenegaraan tadi.

Remasan pelan diberikan Renjun pada pundak yang lebar itu sebagai pelampiasan karena belum terbiasa akan aktivitas yang mereka lakukan saat ini.

Penis itu terasa masuk lebih dalam jika dalam posisi ini. Terasa lebih menyentuh bagian-bagian yang membuatnya merasakan nikmat.

Tangan yang kekar itu menghampiri pinggangnya, "Bergerak sayang.." Dan mulai mengarahkan untuk tubuhnya bergerak naik-turun seolah sedang menunggangi kuda.

"Yang.. engh.. Muliaah.."

Mata sipit Jeno menangkap pemandangan erotis lainnya yaitu bagaimana tubuh mungil dengan payudaranya yang bergerak kesana-kemari sedang mengendarainya.

"Yaa sayang.. beginilah caramu untuk memuaskan calon penguasa negeri ini.."

Renjun suka..

Renjun suka bagaimana cara Jeno menatapnya seolah hanya dirinyalah yang mampu memuaskan lelaki itu.

Renjun suka bagaimana cara penis lelaki ini begitu besar dan begitu pas di dalam tubuhnya.

Renjun suka dijadikan budak seks dan tempat pembuangan air mani dari lelaki ini.

Di tengah kenikmatan yang mendera, gerakan naik-turunnya dihentikan dan kekosongan mendera lubang kawinnya karena Jeno memindahkan tubuhnya ke samping.

Lelaki itu memposisikan tubuh Renjun untuk menungging dengan kaki yang dibuka lebar dan tangan yang bertumpu pada sisi kolam pemandian. Sementara ia mengambil tempat di belakang tubuhnya.

"Angh!!" Lenguhan beserta rengekan keluar dari mulut manis Renjun saat penis yang masih keras itu kembali memasuki lubang kawinnya.

Jeno memompa panggulnya dengan keras. Memaju-mundurkan penisnya dengan cepat tak beli bagaimana tubuh mungil Renjun terlonjak-lonjak karena dirinya.

"Ahh.. Jeno, angh!!"

Tangan kiri lelaki itu menghampiri payudara sebelah kiri Renjun yang sedari tadi memantul, meremasnya dengan gemas membuat desahan yang cukup keras terus menerus berkumandang.

Punggung itu ditegakkan dan menempel dengan dadanya yang keras dan liat. Jeno melihat cermin besar yang terpajang didepannya. Memantulkan bayangan mereka berdua yang sedang bersenggama.

Renjun terlihat memejamkan matanya, menikmati gerakan Jeno yang sangat keras. Dirinya terasa ringan, otaknya terasa kopong. Yang diinginkannya sekarang hanyalan penis Jeno yang terus mengawininnya.

Tangan kanan Jeno mendekap pinggan ramping itu, menahan segala gerakan Renjun untuk tetap berada di posisi yang dia inginkan.

Telinga gadis itu menangkap geraman dan desahan jantan dari lelaki yang tengah menggaulinya dengan keras itu.

"Renjun.." Dengusan keras terdengar memanggilnya.

Membuat Renjun mau tak mau membuka mata dan hal pertama yang ia lihat pertama kali adalah bayangan tubuh telanjangnya yang sedang didekap erat oleh Jeno.

Bagaimana kedua tangan lelaki itu mengunci tubuhnya..

Dan..

Bagaimana penis besar lelaki itu bergerak timbul dan hilang di dalam vaginanya..

Pemandangan paling erotis yang pernah ia lihat seumur hidup!

Seketika euforia untuk kembali meluncur bebas menghampiri Renjun. Desahan semakin keras keluar dari mulutnya.

"Ah.. Yang Mulia.. uhh!"

"Ya.. sayang.."

"Aku.. ngh~"

"Bicara sayang.."

"Tidak, mmh.. sanggup lagi ahh!"

Gelak tawa Jeno terdengar, bibirnya menghampiri bahu Renjun. Mengecupnya pelan.

"Kau boleh keluar sayang.."

Dan dalam tumbukan ketiga yang Jeno berikan, Renjun meluncur bebas tak berdaya atas pergumulan hebat yang dilaluinya pagi ini.

Tubuhnya kaku, teriakan terdengar melolong memenuhi seluruh ruang mandi. Bahkan mungkin terdengar sampai keluar kamarnya. Menunjukkan bagaimana hebatnya sang Putra Mahkota menggauli gadis perawan ini.

Melihat betapa erotis dan seksinya Renjun saat orgasme ternyata mampu membuat Jeno gelap mata. Dengan tergesa ia kembali memompa penisnya yang masih sangat keras itu untuk segera menjemput pelepasannya.

Tanpa menunggu Renjun selesai, Jeno menumbuk Renjun dengan begitu keras dan dalam.

"Mmhh.. Engh.."

Sementara gadis itu hanya bisa terdiam lemas, membiarkan Jeno melakukan apapun pada vaginanya. Jika saja lelaki itu tidak mendekapnya mungkin ia sudah jatuh terjerembab di dalam air.

"Renjun.."

Tumbukan keras diberikan.

"Kau harus hamil anakku."

Tumbukan keras kembali diberikan.

"Mengerti?"

Renjun mengangguk mendengarnya.

Tak lama gigitan keras di bahunya dan dorongan pelan dari Jeno terasa, "Ahh.. Angh!!"

Lelaki itu sampai dengan begitu keras di dalam tubuhnya.

Begitu dahsyatnya kegiatan mereka pagi ini sehingga rahimnya tak mampu menampung semua air mani yang Jeno keluarkan.

Tetes demi tetes berlomba untuk keluar dari sela-sela penyatuan mereka.

Air yang tadinya hangat kini mulai mendingin. Jeno mau tak mau segera mengeluarkan penisnya dari liang hangat itu dan membasuh tubuh keduanya.

Jeno akan membiarkan gadisnya ini untuk beristirahat sejenak sebelum ia kembali menggaulinya dengan posisi yang lebih panas lainnya.

 

© meiyoursme

Notes:

Hai, apakabar semuanya?

It's been soo long since my last writing haha
Real life aku beneran sibuk dan tahun 2023 ternyata bukan tahun terbaik aku, jadi aku rehat dari nulis tapi ternyata kelamaan yaa 😂

Tapi selama itu aku nulis banyak banget AU yang sekarang udah numpuk banget di write.as haha
So this is my comeback.. Enjoy yaa~