Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-03-30
Words:
399
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
28
Hits:
503

Restu

Summary:

"Tenang aja ya? Aku yakin ayah bakal suka sama kamu.”

Mendengar kata ayah yang diucapkan, seketika senyumnya langsung lenyap. Perutnya kembali bergejolak, dan rasanya ruangan ini semakin sesak.

Notes:

Buat ini karena konten noren jadi guest di salah satu channel dan seketika kepikiran: mungkin gini gambaran nono kalo minta restu ke orang tua njun. Dibuat 5 menit doang jadi beneran kayak pocket size story alias cuma sekali hap dan udah selesai.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

"Gimana muka aku?"

 

Renjun tersenyum mendengar pertanyaan itu, “Ganteng”

 

Jeno yang mendengarnya tidak lantas membuat hatinya jadi tenang. Masih ada beberapa - Jeno enggan menyebut kata banyak - perasaan waswas yang bercokol di hatinya. Padahal dia sudah menyiapkan skenario terbaiknya dari minggu lalu. Dan semalam skenario itu entah kenapa menjadi buyar di pikirannya. Dia hanya memikirkan skenario terbaik dengan tidak mempedulikan skenario terburuk. Pikirannya jadi melanglang buana.

 

Renjun menyadari kecemasan Jeno. Ketukan kaki Jeno, keliman jari tangannya, dan sesekali hembusan napas berat itu jadi pertanda kalau saat ini merupakan salah satu momen terberat dalam hidup Jeno.

 

Tangan kanan Renjun menyentuh tangan Jeno dengan sangat pelan, tidak mau mengagetkan kekasihnya selama dua tahun ini.

 

Jeno menatap genggaman tangan itu sebelum akhirnya beralih ke kedua mata indah milik sang pujaan hati. Jeno tersenyum, sepintas lupa tentang kegugupannya.

 

“Tenang aja ya? Aku yakin ayah bakal suka sama kamu.”

 

Mendengar kata ayah yang diucapkan, seketika senyumnya langsung lenyap. Perutnya kembali bergejolak, dan rasanya ruangan ini semakin sesak.

 

“Sayang, kayaknya aku sakit. Apa kita ke rumah sakit aja ya sekarang? Batalin dulu dinner hari ini.”

 

Tangan Renjun yang menganggur bergabung dengan tautan tangan mereka, “ayo kita ke rumah sakit sekarang, abis itu kita juga ke tempat kenalan kamu itu minta appointment sama WO-nya dibatalin. Nanti kalo ditanya alesan, bilang aja calon mempelainya takut gamau minta restu ke calon mertua.”

 

“Sayang..” Jeno mengeratkan genggaman tangan mereka. Dia tau Renjun hanya bergurau, tapi bayangan mereka gagal menikah bahkan lebih menakutkan ketimbang berhadapan meminta restu dari ayah kekasihnya.

 

“Tenang Jeno, selera aku sama ayah hampir sama jadi ayah pasti juga suka sama kamu. Kamu cukup jadi diri kamu sendiri aja ya?” Renjun tersenyum lembut sembari menenangkan Jeno.

 

“Serem yang, ntar kalo ayah suka sama aku malah ayah yang minta dinikahin..”

 

Ucapan Jeno tidak dia selesaikan karena tiba tiba saja Renjun mencubit pinggangnya. Dia pura pura kesal namun detik berikutnya malah tertawa karena candaan Jeno.

 

“Udah bisa bercanda berarti udah siap ketemu ayah ya?” Goda Renjun mengetahui kalo Jeno sudah mulai lupa tentang rasa gugupnya.

 

“Asal hadiahnya bisa nikah sama kamu, ketemu presiden pun aku sanggup.” Kelakar jeno sambil wajahnya maju sedikit hendak mencium pipi kekasihnya itu. Namun sebelum bibirnya menempel pada pipi renjun, pintu ruangan privat yang mereka sewa itu terbuka menampilkan sosok yang paling Renjun segani.

 

“Ayah..” Renjun langsung mendorong Jeno untuk menjauh darinya, kalau begini caranya Renjun yakin ayahnya pasti akan sedikit mengulur waktu untuk memberikan restu.

Notes:

Streaming smoothie everyone!!!