Actions

Work Header

Kilau Gemilang: Choi Seungcheol Mencari Cinta

Summary:

Sebagai Ibu, keinginan nomor satunya adalah melihat anak bungsunya menikah. Ibu sudah meluncurkan 1000 cara untuk membujuk Seungcheol agar segera menikah tapi, semuanya gagal. And maybe… just maybe, her 1 add on to the thousand and make it 1001 is the answer to her prayers, because Seungcheol finally brings home a boyfriend! (even if it’s because of her trick, but still it is a good news!)

Not until he’s an actor and their relationship is fake, but no one needs to know, right?

Notes:

HI! Because my first au reached 1k likes—thank you so so much for the support guys!—I'm making a fake relationship again, hahaha! Hope you'll like this because I have so much fun while impulsively writing this at night sambil nonton film 'Kapan Kawin?' yang menginspirasi cerita ini~ I made this A LOTTT lighter, less drama, healthier relationship and healthier characters (frrrr) than Behind the Scenes (my first fic) and I hope u guys will love this as much as Behind the Scenes~

OKS! HOPE U'LL LIKE THIS, enjoyyy❤️❤️❤️

p.s.: fic ini full narasi karena I can't afford to make fake tweets and fake chats 😖😖 or maybe i'll add some bonus tweets idk, let's see 👀

Chapter 1: Ide-Ide Buruk nan Cemerlang

Chapter Text

“Kan saya sudah bilang, kulit mangganya harus merah, Mas!”

“Ini apa kurang merah, Bu?” tanyanya sambil menyodorkan sepiring mangga berkulit merah dengan berbagai varian, ada yang sudah dipotong dadu, ada yang sudah dibalik seperti punggung kura-kura, sampai mangga utuh belum terpotong pun ada.

“Aduh, kurang. Gini deh Mas… siapa?”

“Seungcheol, Bu.”

“Mas Seungcheol, saya maunya yang kayak gini!” Ibu itu menyodorkan gambar lewat ponselnya, sumpah demi… demi… demi arwah seluruh kecoak yang selalu ia bunuh pakai Baygon, foto yang ditunjukkan ibu itu sebenarnya foto jantung pisang. HOW SHOULD HE TELL HER?

“Maaf Ibu, tapi itu foto jantung pisang…” Ibu itu dengan cepat memelototi ponselnya, wajahnya berubah untuk sepesekian detik, sepertinya tahu kesalahannya. “Kalau mangga merah, biasanya memang kulitnya oranye rada merah kayak gini, Bu,” lanjutnya takut-takut.

“Ya pokoknya Mas carikan yang warna merah seperti ini, saya nggak mau tahu! Duh, gini aja nggak paham.”

Laki-laki bongsor bernama Seungcheol dan sederet stafnya itu hanya mengangguk sambil merutuki nasib mereka dalam hati.

“Kalau nggak ketemu sampai malam ini, saya bilang suami kalau service kalian jelek!”

Jajaran staf hotel bintang lima itu hanya bisa mengangguk dan berpamitan dengan kepala penuh dengan pertanyaan bagaimana cara menyiasati mangga merah terkutuk yang sebenarnya adalah jantung pisang itu?

“Oh iya, Mas Seungcheol.”

Deep breath, Seungcheol. You’ve signed for this. You’ve spent 4 fucking years on studying this Manajemen Perhotelan and don’t you dare to give up. Not on ibu hamil. You’ve got this.

“Baik, bu?”

“Jangan panggil saya ibu, nanti baby saya terbiasa panggilan miskin itu.”

MISKIN??? YOUR BABY'S NOT EVEN HERE YET MAAM FOR THE LOVE OF GOD.

“Bagaimana saya harus memanggil…” not ‘ibu’ Seungcheol, not ‘Ibu’. “Nyonya?” lanjutnya sambil tersenyum meskipun seluruh tubuhnya bergidik geli.

“Bunda, kedengarannya baik dan mengayomi.”

“Baik, Bunda. Mangganya akan segera datang.”

Sumpah demi spot parkiran paling strategis di hotel ini, dia menahan untuk tidak menekan kata ‘Bunda’ agar tidak terdengar sarkas. He can’t afford to ‘hurt’ this bumil’s heart.

“Kami pamit undur diri, sampai jumpa, Bunda.” Sederet staf yang sudah gatal ingin pergi sejak 15 menit lalu itu membungkuk dan menahan diri mereka untuk tidak berebut keluar. Sesuai SOP hotel, mereka dilarang keras untuk menyakiti hati pelanggan.

Satu pikiran yang muncul di otaknya saat itu, why did I agreed to be the manager, again?

~~~

Sore hari itu, saat ia seharusnya menyudahi kerja dan kembali ke pelukan petualangan gim barunya, Seungcheol sekali lagi mengalah karena para staf meminta bantuannya dengan memelaskan wajah. Akhirnya di sinilah dia, berkumpul bersama staf-staf lain sebelum pulang.

Client kali ini nggak kalah aneh dari yang dukun itu, Mas!” keluh Seungkwan, staf terbaik bulan ini.

“Hus, kamu itu! Namanya aja ibu hamil, pasti ada aja lah ngidamnya.”

“Bah, untung aja aku suka laki! Nggak perlulah kuhadapi ngidam-ngidaman bikin emosi macam itu.”

Mereka semua tertawa, sedikit bisa bernapas karena akhirnya mangga merah yang disemprot dengan pewarna makanan oleh chef yang dengan bakat melukisnya, berhasil membuat warna itu nyata. Bukannya mereka berniat menipu, tapi sudah sepuluh staf yang menyebar ke supermarket besar sampai menyelundup ke pasar buah, tetap tidak ada itu mangga warna jantung pisang. Mereka juga punya ratusan client untuk diurus, bolehlah sekali melakukan kebohongan demi kemaslahatan bersama.

Terus, respon ibu—maaf—Bunda itu?

“Ini dicat ya?”

Belum sampai Seungcheol membuka mulut, Ib—Bunda itu mengangguk-angguk, “Boleh deh, yaudah nggak jadi saya bilang ke suami.”

not a single thank you came out from that red lipstick covered-lips.

“Yaudah ah, saya pulang dulu, ya!” Seungcheol menenggak jus jambunya dan menepuk pundak Seungkwan.

Got something exciting for your birthday, Mas?” Wonwoo—asisten manajer yang juga menjadi sobatnya—mengangkat-angkat alis. Ia tahu betul Seungcheol tidak suka ulang tahunnya diumbar-umbar. Not anything serious, but a reminder that he’s one year older has never been a good news for him.

“Ya Tuhan, Mas… Maaf saya lupa kalau sekarang ulang tahunnya Mas Seungcheol!” yang barusan itu chef si pewarna mangga, Mingyu, hobi mengingat semua detail tentang orang yang penting di hidupnya. A very sweet gesture of him, though.

“Mas Wonwoo kok nggak ingetin aku sih?” salah satu chef, Chan, menepuk lengan atas pacarnya, menggerutu kecil yang kemudian dibalas dengan cubitan gemas di pipi.

“Maaf, Sayang. Aku juga baru inget waktu nggak sengaja lihat notifikasi pulsa masuk di hp Mas Seungcheol.”

Semua orang lantas tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai ada yang memukul pundak kawan sebelahnya dengan cukup keras—Mingyu— dan berakhir dapat pukulan balasan yang lebih keras—Seokmin.

The thing about pulsa masuk = Seungcheol ulang tahun ini sebenarnya cerita yang ia bagikan saat outing staff hotel beberapa tahun silam. Sejak saat itu, hal kecil ini menjadi inside joke andalan mereka.

Pulsa masuk di hari ulang tahun ini adalah cara ibunya memberi hadiah. It’s not a grand gesture, but definitely a cute one from his mom. Bahkan setelah di era paket data dan wifi marak dijual murah seperti sekarang ini, ibunya masih konsisten mengirimkannya pulsa setiap ulang tahun.

Hanya sepuluh ribu, sekali dalam setahun.

Itu semua berawal dari kehidupan keluarganya yang tidak terlalu berada—dulu, sekarang sudah nyaman, sentosa, dan sejahtera #ThankGod—Ibu selalu membangunkannya di pagi hari ulang tahunnya dan menyodorkan dua telur rebus sambil mengucapkan serentetan doanya. Masalahnya, sejak merantau ke Jakarta, Ibu sudah tidak bisa lagi memberi telur rebus. Mungkin ada rasa harus memberi hadiah kepada anak lanang keduanya itu, akhirnya ibu belikan pulsa sebagai gantinya. Bukan Shopeepay, Gopay, maupun uang elektronik lainnya. Hanya pulsa.

Sudah 11 tahun pulsa itu dikirimkan ke hp-nya, sudah 5 tahun pula ia jadi manajer hotel bintang lima yang rajin mengirimkan sebagian gajinya untuk sang ibu tercinta, tetap saja nominal pulsa itu tidak berubah.

Hanya sepuluh ribu, sekali dalam setahun.

Just mom being mom, he guess.

Segerombolan laki-laki pendengar gosip tentang staf habis dihardik ibu hamil ini akhirnya memutuskan bahwa melampiaskan kekesalan mereka pada Seungcheol adalah hal yang bagus. Bold of them to compete siapa yang paling jago dalam kasih komentar pedas ke manajer mereka yang self-proclaimed-high-quality-bachelor ini.

Happy born day, Mas! Bisalah minta upgrade hadiah sedikit, bayarkan token misalnya!” an entry from Minghao, anak finance.

“Selamat ultah, Mas. Kalau mau nyari cewek atau cowok, you can always count on me!” an entry from Chan, chef.

“Happy birthday, champ! Bisalah ya aku minta pulsa mamakmu? Udah mau habis masa tenggangku.” an entry from Hansol, the housekeeping manajer.

“Rasakan kau! Siap ya dengarkan mamak minta menantu 10 jam!” not even a happy birthday. This menace. Seungkwan, anak HR.

Tawa itu makin bertambah keras, banyak diantara mereka yang bertepuk tangan dan mengajak Seungkwan tos, like he did something great.

Well, malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya.

This little gremlin Boo Seungkwan, ate the not-mentioned competition.

~~~

The reality is, yang dikatakan Seungkwan tadi bukannya tak berdasar. Akhir-akhir ini, isi telepon Ibu hanya mengeluh tentang Seungcheol yang tak kunjung menikah. Variasinya ada banyak sekali, mulai dari diawali dengan cerita pacaran masnya yang ternyata sama teman masa kecil sendiri, terus ada yang dari anak teman PKK-nya, bahkan sampai gosip pernikahan dini artis pun dibahasnya untuk pembuka ceramahnya agar Seungcheol segera menikah.

Isinya juga bervariasi, ada yang menggambarkan bagaimana kehidupan pernikahan itu sangat menyenangkan, bercerita tentang pengalaman pernikahannya sendiri, sampai menceritakan bagaimana banyak anak muda yang stres karena tidak kunjung menikah, her words, not his.

Ia jadi sedikit-banyak penasaran, varian baru apa lagi yang akan dikeluarkan Ibu kali ini? Apakah varian lama? Atau Ibu dengan segudang kreatifitasnya itu menciptakan varian baru?

Seungcheol memutuskan untuk mengangkat telepon Ibunya di dering ke lima panggilan ke empat hari itu.

“Halo?” tanyanya, berusaha terdengar sepolos mungkin, meski ia dan Ibu sama-sama tahu apa yang akan dibicarakannya setelah ini.

“Jadi?”

“Nggak ada salam atau ucapan selamat ulang tahun gitu, Ibu?”

“Selamat ulang tahun Seungcheol anak bungsu Ibu! Semoga di tahun ke-TIGA PULUH TIGA kamu hidup ini, kamu bisa segera dapat pasangan. Yang ganteng, yang baik, yang lembut hatinya, yang nyambung diajak bicara, yang bisa jadi teman Seungcheol sampai akhir hayat, yang punya masa depan, yang visi-misinya cocok sama kamu. AAAAMIIIN.”

“Ibu…”

“Bilang apa, Seungcheol?”

“Ibu…”

“Ini doa baik, A…”

“Ibu…”

“A…?”

“Aaamin.”

“Kapan Seungcheol?”

Ia hanya bisa membuang napasnya lelah. The very least thing he wants on his birthday is his mom ranting to him for him to get married. Yet, this is the first thing he got directly for his birthday. What a funny world.

“Sibuk, Bu. Nggak bisa mikirin pacaran," kilahnya.

“Sibuk gimana kamu itu? Kok ya setiap hari sibuk. Kalau gitu berarti tempatmu kerja ndak apik, Le.”

“Wajar dong Bu kalau sibuk, kan manajer.”

“Iya, sibuk. Sibuk ngapusi toh ya?”

Tawa Seungcheol hampir saja menyembur, tapi ia harus tetap akting sakit hati, “Astaga Ibu, kok ya nuduh aku yang nggak-nggak! Beneran sibuk bu, high season. Hotel lagi rame.

“Halah, high season opo. Kamu Desember high season nataru, Januari high season tahun baru, Februari valentine, Maret masih ada valentine, April lebaran, Mei hari buruh—”

“Nah itu ibu hapal.”

“Ya hapal wong bohongmu sama terus.”

“Mau aku ganti?”

“Seungcheol!”

Dalem, bu?” tanyanya, lagi-lagi sok polos.

“Dua minggu lagi itu kan ulang tahun pernikahan bapak dan ibumu yang ke 38 tahun, anak ibu lanang-lanang iki udah pada besar dan sukses, toh…”

“Iya…”

“Jadi Ibu pingin kamu yang mengatur acaranya, Le.”

Jantungnya berhenti, ini adalah kesempatan emas baginya!

Finally, setelah gagal menyiapkan acara pernikahan masnya—ia ditipu, sialan— akhirnya keluarganya jadi tidak pernah ‘memakai’ jasanya. Saat itu satu keluarga sedih, sebagian besar uang habis untuk menciptakan pesta pernikahan megah sialan itu, tapi karena kebutaan Seungcheol saat itu, uang puluhan jutanya dibawa kabur begitu saja. Sebenarnya tidak ada makian yang keluar dari mulut keluarganya, tapi rasanya semua seperti trauma untuk menyuruh Seungcheol mengatur acaranya.

He understands it, tho. Dulu ia sampai harus menemui psikolog untuk mengembalikan rasa percaya dirinya. Masalahnya sebagai manajer, ia harus percaya pada dirinya sendiri dulu baru bisa dipercaya orang lain untuk bisa meng-handle acaranya.

“Yang bener, Bu?”

“Iya, Ibu dan Bapakmu rasa, ini sudah saatnya kamu mengemban tanggung jawab sebagai kepala kel—”

“Ibu..."

“Kepala pelaksana maksudnya, ya pokoknya orang yang mengurusi itu lah, apa itu namanya.”

“Iya deh, percaya.”

“Ada satu syaratnya.”

Seungcheol hanya diam saja. Suddenly, the math is mathing. Ibu berhasil menciptakan varian baru cara memaksa anak lanangnya menikah; bangun rasa percaya dirinya sampai membumbung tinggi dan tantang egonya untuk menyelesaikan tugas—kalau punya histori gagal, biasanya lebih manjur untuk pembuktian karena egonya tersenggol— kemudian beri syarat yaitu…

“Bawa pacarmu kemari.”

There it is!

“Udah ya Ibu sayaang, ini aku mau istirahat yaa, terima kasih pulsanya.”

“Kalau nggak ada pacarmu, Ibu batalkan acaranya!”

“I love you Ibu.”

“SEUNG—”

Ia langsung merapalkan seribu maaf dan memendam hpnya dalam-dalam. Ia akan menggoreng kentang dan mengubur diri dalam gim malam ini.

Baru saja ia selesai menggoreng kentang, ada notifikasi pesan dari Wonwoo.

wonu bocah epep: how was it? baru selesai telepon sama ibu kan?

wonu bocah epep: got something to rant about?

you: ada sih, tapi game gue—

wonu bocah epep: do whatever you want man, it’s your birthday

wonu bocah epep: driver di depan btw, a present from me and channie honey

you: HAH? OKE BENTAR AMBIL

you: BOCAH EDAN

you: SERIOUSLY????? SEMOGA CEPET DAPET JODOH CARD ON A SUSHI BOX?

you: wait what is this?

wonu bocah epep: what?

you: halo nama aku Cinta, meskipun aku cuma pegawai resto sushi, but i assure you i’ll be the perfect husband since i really checked all of the boxes from what your friend—

you: ANJING JEON WONWOO? LO NGASIH TAHU ORANG RANDOM DI GOFOOD? YOU’RE ((LITERALLY)) THROW ME UNDER THE BUS???? AM I THAT DESPERATE TO YOU???

wonu bocah epep: no, but your mom is, i just want to help her

wonu bocah epep: THAT’S COOL THAT HE CHECKED ALL OF THE BOXES CHEOL!!!! GO MEET HIM

you: what the fuck did you wrote on that stupid note for the restoran anjing

wonu bocah epep: ya kalo this friend of mine (lo) is a decent man yg mapan but kinda busy at work so have no time for looking for a date hence his BESTESTEST friend (ME) helping him out. he’s 33 (today’s his birthday) and he just looking for a cute girl/guy, prefered to be younger than him, independent, dependable, and point plus if you likes movie and games! just write down your account (real or fake, it’s fine) so u guys can texts comfortably first ando no privacy spilled before getting know each other

you: ANJING WTF IS THAT???

wonu bocah epep: TELL ME IM SMART U UNGRATEFUL BRAT

you: no that’s stupid ya anjing

wonu bocah epep: HE CHOSE CINTA AS HIS FAKE NAME CHEOL!!! BE YOUR OWN CINTA DAN RANGGA!

you: nggak ya won

wonu bocah epep: OH PLEASE GIVE IT A TRY!!!

you: never in your wildest dream

wonu bocah epep: BOOOOOOOO!!!! PAYAH!!!!

you: just throw the note in the trash🥰🥰

wonu bocah epep: man dont even know how to say thank you

wonu bocah epep: we’re doomed

you: terima kasih wonie dan chanie, semoga cepat dapat restu

wonu bocah epep: anjing

wonu bocah epep: stop talking about me, its your day

you: BARU SATU BUBBLE YA ANJING

wonu bocah epep: SO? cerita gak?

you: game gue…

wonu bocah epep: cerita gak?

you: YAA WAIT, ambil teh

wonu bocah epep: ok

you: but really won, makasih sushinya

you: dan perhatian tersembunyinya meskipun tolol

wonu bocah epep: wkwkw u’re welcome

~~~

“Jadi gitu, Won, nggak jauh beda sih sama tahun-tahun sebelumnya. but im so tired of this shit demi…”

“Demi pulsa sepuluh ribu dari Ibu?”

“Ya, boleh.”

Keluhnya sambil bersandar pada kursi gamingnya. Pc di depannya masih mati karena akhirnya ia berpikir bahwa bercerita tentang tantangan baru Ibu yang impulsively ia terima berkunjung malapetaka lebih penting untuk dilakukan.

“Gimana ya, Cheol… gue juga ga tau masalahnya. Tapi apa lo bener-bener saklek nggak mau sama Rinda kemarin?”

“Won… she’s a lesbian…”

“Emang mau kalau yang kayak dia tapi nggak lesbian?” tanya Wonwoo, retoris.

“Nggak.”

“Tuhkan dari lo aja gak mau. It’s a YOU problem!

“Memang.”

Di ujung sana, Wonwoo berdecak sebal. “Sama temen SMA Chan kemarin yang super ganteng itu juga lo nggak mau kan?”

Childish.

“Sahabat Hansol yang bule?”

“Terlalu clingy, di publik lagi, nggak suka.”

“Tetangga Mingyu?”

“Sukanya dikit-dikit nanyain kabar, wegah. Takutnya bibit-bibit posesif.”

“Pilihan Seokmin?”

Long haired pretty boy, big no.” Di titik ini, Seungcheol sudah rebahan di kasur karena menjawab pertanyaan-pertanyaan Wonwoo itu adalah hal yang paling gampang kedua di samping tertidur di meeting.

“What’s wrong with that?!” tanya Wonwoo yang sebenarnya lebih mengarah ke hardik.

Looks like a high maintenance.

“Dafuk man…”

Told ya, this high-quality jomblo got such a high standard.

“Rot in hell you bitch.” Kalau saja Wonwoo di sampingnya, pasti ia langsung menjitak kepalanya.

Mereka berdua sama-sama diam, Seungcheol asik mengunyah kentang dengan saus kejunya sambil menunggu si sobat cerdas ini memunculkan ide-ide buruk nan cemerlangnya. Kali ini bukan untuk membantu Ibunya menyukseskan acara Kilau Gemilang: Choi Seungcheol Mencari Cinta, tetapi membantunya untuk setidaknya bisa mengatur acara anniversary pernikahan orang tuanya tanpa banyak drama perjodohan.

Just hire an actor then.

Seungcheol langsung tersedak soda, demi sushi box kiriman wonu yang ternyata enak, rasanya SAKIT SETENGAH MATI. Hidungnya langsung panas dan kepalanya pusing.

“GILA.”

“Cuma buat pamer depan Ibu, for their big events!

Wait, that sounds not bad…

Masih dengan hidung yang panas, Seungcheol bertopang dagu, “Gimana caranya?”

“Ya hire aja?”

“Gak gitu anjir, maksudnya gimana konsepnya? I mean, what the hell will we do then?

“Ya lo hire actor, explain the dos and don’ts selama di sana dan bagaimana cara mengelabui KELUARGA BESARMU. Ya Tuhan maaf kalau malah mengajari anak bodoh ini berbohong. Terus kalian pura-pura pacaran, udah deh, lo bayar dan dia pergi!”

That’s… kinda smart, tolol, but smart.”

“Jangan remehkan otak brilianku, bro,” timpal Wonwoo dengan kesombongan menembus telepon.

“Terus gimana aktornya? Cari dari mana?”

“Gampang, Chanie punya banyak kenalan aktor. I’ll ask him for the best recommendation ya. Sediain aja uang yang cukup biar tuh aktor mau meskipun mepet-mepet gini.”

 

author’s note:

Put an podcast Agak Laen easter egg on this chapter! yang nemu komen dongg, HAHAHA. Mari saling menyapa sesama pasukan bermarga 😄😄