Work Text:
Katanya waktu akan sembuhkan luka dengan sendirinya, Jay bahkan sudah ucapkan kalimat itu layaknya mantra setiap hari, tiap pagi dan malam temannya itu akan selalu mengingatkan ia untuk bersabar. Jake percaya itu, percaya bahwa memang ia hanya perlu ruang dan waktu untuk kembali menata diri, bahwa memang tak perlu langsung memaksakan diri, bahwa semua manusia perlu waktu untuk sembuh sendiri. Jake tahu itu, maka ia bersabar, nikmati hari-hari penuh erangan nelangsa tentang betapa ia merindukan mantan kekasihnya itu.
Ketika sudah dua belas kali bulan purnama bersinar, Jake yakini bahwa dirinya sudah sembuh, mungkin belum sepenuhnya, tapi ia rasa sudah tidak seburuk satu bulan pertama yang buat dirinya mengurung di kamar seminggu lebih. Setidaknya ia mulai kembali datangi lapangan basket yang sempat ia jauhi, atau mie instan kesukaannya (yang kebetulan, sangat kebetulan juga merupakan kesukaan Heeseung si mantan kekasih) akhirnya bisa ia santap tanpa kuahnya bercampur dengan air mata, dan Jake tak lagi membuat mie instan dua porsi dengan dalih kebiasaan lama, belakangan ia tanpa sadar membuat porsi yang cukup untuk diri sendiri. Saat kebiasaan sehari-hari perlahan berubah, Jake tak lagi menyapu abu rokok yang terbang dari asbak pada lantai balkonnya. Tak ada lagi yang merokok di apartemen ini. Ia juga mulai terbiasa mematikan lampu nakas sebelah kanan, karena Heeseung sudah tidak lagi tertidur di kanannya. Kasur itu memang terasa lapang, namun justru buat Jake lebih merasa sesak, namun kini ia mulai bisa tertidur tanpa ada guling yang gantikan seseorang.
Maka ada satu tempat yang menjadi urutan terakhir yang ia ingin datangi, karena mau sampai kapanpun Jake menghindar, tentu ia akan kembali kesana, dan itu adalah kafe semula dirinya bekerja. Kisah klise barista dan pelanggan reguler yang tak sengaja jatuh cinta, bahkan masih terekam jelas bagaimana Heeseung yang meminta nomornya untuk sekedar memesan lewat pesan, yang lambat laun obrolan itu mulai berubah sedikit intens dan berakhir dengan telepon ringan menemani keseharian. Jake tak pernah lagi datang kesana. Ia pernah menunggu Heeseung di sana, tiap hari, harap-harap si lelaki oktober mendorong pintu kafe dan ia kembali mendapat kesempatan untuk bertukar kata. Namun sudah satu bulan penuh, Lee Heeseung seolah tahu Jake menunggunya di sana.
Namun ia kini Jake merutuki takdir yang seolah sedang permainkannya, setelah setahun lebih ia tak pernah melihat Heeseung di tiap sudut kota, lelaki itu seolah bersembunyi dari dunia, lagi-lagi tahu bahwa Jake akan cari dia kemana saja, kini sosok itu duduk pada pojok kafe, tempat mereka biasa habiskan waktu sebelumnya. Setelah setahun Jake rasa dirinya telah pulih, luka itu justru menganga kembali, seluruh waktu yang telah berlalu seolah sia-sia. Jake tidak tahu bahwa ia siap kapan pun berlari ke pelukan Heeseung. Jake kembali runtuh, hanya karena satu sapaan pelan dari Heeseung.
“Apa.. kabar?” Ada nada ragu yang terselip pada ucapan Heeseung, mungkin lelaki itu bingung melihat wajah Jake mungkin juga lelaki itu sama seperti dirinya, siap kapan pun lari ke pelukannya . Dan itu tidak mungkin, jiwanya seolah kembali ditarik masuk dan ia sadar bahwa mantan kekasihnya itu terlihat lebih baik sekarang.
“ Good, ” Jemari Jake menggaruk pahanya kasar karena rasa gugup yang penuhi dirinya, “Ka– How about you.. Kak?”
Gugup bercampur keraguan, bagaimana ia harus memanggil Lee Heeseung, apakah mereka benar-benar sepenuhnya menjadi asing sehingga Jake harus memanggilnya dengan Lo ? atau ia masih boleh memanggil sosok di depannya ini dengan Kamu. Dan sekali lagi pikirannya buyar, jiwanya kembali ditarik masuk, Heeseung tersenyum di hadapannya. Jika boleh ia ingin langsung mencium bibir itu dan berkata bahwa ia benar-benar rindu.
“Aku juga baik”
Lalu setelahnya hening. Hening yang sama ketika tiap malam Jake berusaha untuk pejamkan mata, hening yang menyesakkan, hening yang buat bibirnya kelu untuk kembali keluarkan sepatah kata. Heeseung sesap kopi kesukaannya dan Jake kini memainkan jari pada gelas di atas meja
“Aku sehabis wisuda mau pergi”
Hening itu kembali dipecahkan oleh Heeseung, Jake sedikit mengangguk, tak tahu harus merespon seperti apa, Heeseung kembali sesap kopinya. “Lanjut S2”
“Di?” Heeseung mainkan jemarinya mengetuk meja, Jake tahu itu kebiasaan yang lelaki itu lakukan ketika sedang ragu. Apa yang Lee Heeseung tengah ragukan?
“Jepang” Setelahnya Jake lebih pilih untuk perhatikan kepulan kopi miliknya, sesak, rasa sesak itu kembali penuhi rongganya. Tak ada yang aneh dari Jepang andai saja negara itu tidak mereka jadikan impian bersama. Tak akan ada yang aneh dari Jepang jika Heeseung tidak pernah janjikan dirinya keluarga kecil di sana, dengan rumah minimalis dan anjing golden retriever yang akan mereka adopsi nantinya. Tak akan ada yang aneh dari Jepang bagi orang lain, namun jika Heeseung yang berbicara seperti itu pada Jake, lebih baik ia tuli sekarang ini.
“ I hope you are doing great, Jake..” Ia juga berharap seperti itu. Heeseung-nya terlihat baik-baik saja, dan Jake harus begitu juga.
Setelahnya Heeseung bangkit, mata Jake ikuti si lelaki oktober yang mulai membenahi barangnya, apa ia akan pergi, lagi?
“ It’s good to see you, really. Tapi Aku agak sibuk hari ini.. Duluan, ya?” Ia mengangguk, tatap kembali sosok Heeseung lamat-lamat, seolah tengah rekam wajah yang selalu ia lihat bertahun-tahun itu sebelum akan kembali hilang, lagi.
“Kak, can I hug you for the last time?” Heeseung tampak terdiam sebentar, Jake telan kasar air liurnya, ucapan itu benar-benar meluncur begitu saja dari bibirnya. Namun Heeseung justru langsung tersenyum, lebarkan rentangan tangannya isyaratkan Jake untuk peluk dirinya.
“Hati-hati di sana”
