Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Fandom:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-06-09
Words:
405
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Bookmarks:
1
Hits:
16

Keparat Melarat

Summary:

mungkin, Dia ingin dice merasakan jadi kucing hitam liar yang hidup dengan mengais sisa makanan di belakang restoran. nasibnya melarat, namun tetap kena tendang karena dianggap keparat.

kucing hitam bawa sial, katanya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

arisugawa dice selalu punya sanggahan untuk pertanyaan, "jika hidup bukanlah sebuah pilihan, lantas apa?"

 

hidup adalah pertaruhan.

 

satu-satunya papan permainan yang dice rela pertaruhkan apa saja, bahkan seonggok nyawa tak berharga, untuk dapat menari di atasnya. hidup adalah pertaruhan; jika ia menjebakmu dalam sebuah situasi sulit, napasmu di satu detik kedepan harus jadi taruhan. jika ia membuatmu memilih salah satu dari dua pilihan berat, pilihan yang lain harus jadi taruhan. dan dice hanya ingin hidup dengan cara paling naif dan paling bebas yang pernah terpikirkan olehnya.

 

dice sering berkoar bagaimana nasibnya disetir oleh sebutir dadu dan bagaimana nyawanya dipertaruhkan hanya demi lembaran uang. "'ku pertaruhkan nyawaku untuk yang satu ini!" untuk permainan-permainan kecil yang nilainya bahkan tak lebih dari setengah juta yen. namun, apakah dice bersungguh-sungguh atas bualannya? buktinya, sampai saat ini segepok pecahan sepuluh ribu yen belum tiba di kantongnya serta nyawanya masih terlipat rapi di dalam raga. tiada seorangpun manusia bisa menukar jiwanya untuk mata uang yang tidak bernilai apa-apa di hadapan Sang Penguasa.

 

bicara tentang Dia, yang eksistensinya di luar kapasitas nalar manusia; dice, layaknya miliaran manusia lain, pertaruhkan nyawa dirinya untuk kehidupan gemerlap yang mengizinkannya buat berfoya-foya sampai kalap. ayolah, setidaknya sebuah tempat tinggal dan pekerjaan tetap? nyatanya, dice hanyalah seorang keparat yang melarat. dice tidak membenci-Nya; walau tiada pernah menjejakkan kaki ke kuil selain untuk berlindung dari hujan serta kepanasan, dice selalu merapal nama-Nya ketika dirasa napas sudah tiba di ujung tenggorokan dan kantong sudah ada di ambang kehampaan. mungkin, Dia ingin dice merasakan jadi kucing hitam liar yang hidup dengan mengais sisa makanan di belakang restoran. nasibnya melarat, namun tetap kena tendang karena dianggap keparat.

 

kucing hitam bawa sial, katanya.

 

besok makan apa? kombinasi mata dadu bernilai tujuh untuk kelinci liar panggang spesial kamp busujima-san, tetapi… ramen cup murahan stok studio ramuda juga kedengaran bagus. dice mana mau kalau bukan tujuh, maka kombinasi lain yang akan muncul dipertaruhkan untuk meminjam seratus yen kepada gentaro atau mengais remahan di belakang konter makanan. dice mulai menghitung mundur sebelum melempar butir dadunya. ayolah, ia bukan seorang pemula! keberuntungannya pasti akan menuntunnya hidup dan bertahan satu hari lagi.

 

empat. empat. bangsat!

 

dice tertawa getir, menyeret kakinya gontai untuk segera menemui gentaro yang tidak kalah keparat sebelum dirinya kelaparan sampai sekarat. pada akhirnya, dice tetaplah kucing hitam melarat yang mengemis sana-sini demi sesuap nasi. mau bertaruh lagi, akankah si phantom sialan itu memberinya pinjaman atau malah menagih hutang lama yang bahkan sudah dice lupakan?

Notes:

satu fakta menarik: tulisan ini dibuat di suatu waktu saat aku kejebak di kota rantauan, kelaparan sendirian pas akhir bulan.