Actions

Work Header

Our Blind Lead the Blindness

Summary:

Everyone have their own battle in war. When Draco Malfoy trying to pull out himself from trauma and prejudice. Astoria Greengrass have been suffered enough, long before the war.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: PROLOG

Chapter Text

The air was thick but the sky was bright
The city feels quite and cold with its people hide inside their room
Like a piece of painting that left out in the corner of the room
When a blind girl felt to the wramth of his hand and leads him to the irony of the world
Everything turn into something more clean and clear

— Page One of Desire

Draco Malfoy menggigit batang cerutunya lebih keras untuk menahan rasa sakit yang menyengat di sepanjang lengan kirinya. Sebuah tanda kegelapan yang ditinggalkan disana untuknya tidak hanya membuatnya menanggung beban pandangan masyarakat tentang siapa dirinya yang sebelumnya, tapi juga meninggalkan rasa sakit yang timbul akibat kekalahan. Kadang kala tanda kegelapannya berdenyut dan memberikan sensasi sengatan yang tajam, itu karena mereka telah terlalu terikat dengan kematian sang pemberi tanda— Dia yang namanya tidak boleh disebutkan.

Dia telah mengambil waktu istirahat dari jadwal agenda hariannya sebagai uji coba Auror "The Watch Time" ketika rasa sakitnya muncul secara tiba-tiba. Perlu setidaknya lima belas menit sampai sengatannya berangsur menghilang dan Draco harus sesegera mungkin pergi untuk menyembunyikan ketidaknyamannya di depan rekan kerja, sebelum mereka mulai curiga tentang apa yang dia sembunyikan di balik lengan jubahnya.

Draco bersandar pada dinding batu di tengah jalanan gang yang sempit dan dingin, hanya tikus-tikus kecil dan debu dari kota yang ditinggalkan yang menemaninya ketika dia berusaha mengatur pernafasannya sembari merapalkan mantera penyembuh ke sepanjang lengannya yang berdenyut dengan tongkat runcingnya. Sesekali dia memenjamkan mata, melepaskan sihirnya, dan menghisap cerutunya dalam-dalam. Ada sensasi yang menenangkan dari bubuk daun tembakau yang terbakar dan itu membuat tubuhnya lebih mudah terbiasa dengan rasa sakit— atau sebenarnya tidak, tapi Draco tidak bisa membiarkan dirinya menjadi lebih dari seorang pecandu rokok hanya karena sesuatu di balik lengan jubahnya.

Tubuhnya merosot ke bawah ketika dia mendapatkan lebih banyak tekanan

Draco melakukan sesi penyembuhan dan terapi cerutunya dalam beberapa hitungan dengan begitu hati-hati sampai dia tidak menyadari ada seseorang yang datang dari ujung jalan.

Seorang wanita berpakaian mewah; dress dengan lengan gelembung berwarna kuning cerah berpadu dengan merah dari jubah bulu, sabuk emas di pinggang, anting-anting yang bergantung dan kacamata musim panas yang mencolok, tampak begitu bertabrakan dan menyakiti mata, berjalan dengan selembar kertas di lengan kirinya dan lengan kanannya menggenggam tongkat sihir yang bergerak naik turun— seperti sedang meraba-meraba. Wanita itu berjalan lurus menyusuri jalanan yang sempit secara perlahan. Tidak tampak seperti sempoyongan, tapi arah langkahnya terlihat sedikit berantakan dan tidak berpola seolah dia benar-benar tidak melihat jalanannya.

"Tuk" dan "Ouch" terdengar secara bersamaan ketika tongkat sihir sang wanita secara tidak sengaja mengenai jam tangan yang melingkar di pergelangan Draco.

Mereka dengan spontan menjauhkan tangan masing-masing dan berusaha menciptakan jarak. Wanita itu menggenggam tongkatnya sendiri ke dekat dadanya dengan raut yang khawatir. Sementara Draco yang terjekut dan tidak menyadari akan kejadian tersebut, dengan panik menarik lengan jubahnya turun dan menutupi tanda kegelapan di lengannya. Dia sedang memejamkam matanya untuk menarik lebih banyak nikotin dari cerutunya ketika itu tiba-tiba saja terjadi, mengakibatkan jantungnya berdetak sangat kencang seolah dia ditemukan sedang melakukan tindakan kriminal.

Tapi wanita itu tampak tidak menghiraukan apapun yang coba Draco sembunyikan dan justru semakin erat menggenggam tongkatnya dengan kedua tangan "Oh," katanya dengan halus "Maaf, penglihatanku buruk. Aku tidak bermaksud, hmm...". Keningnya berkerut sebelum dia melanjutkan, "Apa ini, sepertinya aku sudah sampai di ujung jalan" suaranya terdengar seperti gumaman kecil yang tertiup angin.

Draco mematung di tempatnya, dia tidak pernah melihat yang seperti ini atau— belum dan itu membuatnya bingung. Diamnya Draco membuat wanita itu semakin khawatir dan sama sekali tidak puas. Dia kembali melanjutkan, "Aku benar-benar minta maaf, sungguh. Aku mencium bau asap dari kejauhan, aku pikir itu sesuatu dari cerobong atau Cauldron karena baunya seperti teh pahit, tapi ternyata itu bukan. Apa itu semacam rokok?" pertanyaanya terdengar begitu tulus, tapi Draco masih sama bingungnya.

Draco menatap batang cerutunya semakin bingung, itu sama sekali tidak tampak seperti cerobong atau Cauldron dan bahkan terdengar tidak masuk akal. Dia menatap wanita itu yang tampak seperti sedang menunggu sesuatu, begitu mencolok pikirnya dan dia mulai mengira-ngira apa yang terjadi padanya; apa kacamata musim panas hijau yang dikenakannya telah menghalangi sebagian pandangannya atau wanita itu benar-benar tidak dapat melihat. Tapi sebelum dia bisa menduga lebih jauh, sengatan tajam dari tanda kegelapan di lengan kirinya kembali muncul dan menusuk-nusuk. Draco tidak bisa menahan dirinya untuk tidak meringis dan ringisan kecilnya membuat wanita itu semakin khawatir.

Spontan, wanita itu berusaha meraih Draco dengan lengannya; lembut dan ringkih, meraba-raba apapun di hadapannya sampai dia berhasil mendapatkan lengan kiri Draco yang berdenyut. "Oh, apa aku benar-benar melukaimu? Apa tongkatku melakukan sesuatu?" tanyanya, suaranya terdengar bergetar. Lengannya bergerak naik secara perlahan dan hati-hati menyingkap lengan jubahnya, meraba sesuatu dengan jari-jarinya di atas tanda kegelapan yang meliuk dan terasa panas.

Draco tidak bisa menahan dirinya, sebuah sentuhan ringan di atas tanda kegelapannya terasa menggelitik tapi juga familiar dan entah bagaimana menenangkan sesuatu yang menyengat di dalam sana. Tanda kegelapannya berhenti meliuk dan rasa sakitnya seolah hilang begitu saja. Tapi sesuatu di dalam hatinya tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, dia tidak bisa membiarkan wanita itu melihat lebih banyak tentang tanda kegelapannya. Tidak, dia tidak bisa membiarkan siapapun melihat dirinya sebagai siapa dia sebelumnya.

Tangannya meraih lengan itu dan menahannya, "Tidak ada apa apa. Itu hanya bekas luka di lengan kiriku, aku telah mendapatkannya lebih dulu"

"Benarkah?" Wanita itu memiringkan kepalanya dengan dahi yang mengerut, tidak percaya.

"Ya, itu sama sekali tidak disebabkan olehmu" Draco melepaskan lengan wanita itu dari dirinya dan menuntunnya untuk menyentuh permukaan jam tangan dengan perlahan, berusaha agar itu terlihat sehalus mungkin. "Kurasa tongkatnya hanya menyentuh jam tanganku, lihat!" lanjutnya ketika Draco membiarkan lengan sang wanita berhenti di atas permukaan jam tangan.

Wanita itu menunduk, menurunkan kacamata musim panasnya sampai ujung hidung— Draco dapat melihat mata wanita itu yang terbuka sedikit dan menyipit menatap pergelangan tangannya dengan kerutan di dahinya, berusaha melihat sesuatu. Dia menarik lengannya dan mengetuk jam tangan Draco dengan jari telunjuknya beberapa kali sampai dia merasa puas. "Syukurlah kalau begitu, aku khawatir aku benar-benar menyakitimu" Dia kembali menarik kacamata musim panasnya ke atas. "Tongkatnya terkadang mengeluarkan percikan api dari sihir yang kulakukan, kau tahu? itu sebabnya aku khawatir" jelasnya.

Draco mengangguk, tapi dia masih tetap tidak mengerti, sesuatu terjadi begitu cepat. Sesuatu tentang wanita ini dan gerak geriknya yang asing, serta sesuatu terkait tanda kegelapannya yang tiba-tiba terasa normal kembali. Tapi dia bahkan tidak berani bertanya apapun atau lebih tepatnya tidak dapat memilih apa yang harus ditanyakan, dan menurutnya itu akan cukup tidak sopan jika bertanya apakah wanita ini benar-benar tidak bisa melihat. Dia berusa bersikap setenang mungkin. "Tidak, itu salahku tidak melihat kau datang"

"Tidak, tidak, salahku juga untuk tidak hati-hati" sanggah wanita itu.

"Lebih banyak untukku, aku seharusnya memperhatikan lingkungan sekitar meskipun ini jadwal istirahatku" Draco menyanggahnya balik. Dia kemudian berbisik pelan, "Bagian dari tugasku, kurasa"

Wanita itu tersenyum dan tampak setuju, "Tapi apa itu katamu tadi, sesuatu di lengan kirimu— apa kau punya bekas luka sayatan yang dalam? Ketika aku menyentuhnya itu terasa lebih seperti sesuatu yang terukir atau dijahit, maaf jika itu terdengar terlalu kasar untukmu" tanyanya.

Sedikit tidak menyangka akan pertanyan yang dilontarkannya, Draco menatap wanita ini dengan hati-hati. Tapi jika benar wanita ini tidak dapat melihatnya, dia merasa hal itu bukanlah apa-apa. "Itu, hanya luka gores. Cukup baru, itu akan cepat pulih seiring waktu" jawabnya. Draco tersenyum tipis, fakta bahwa wanita dihadapannya tidak dapat melihat tanda kegelapan apapun di dalamnya membuat dirinya cukup lega atau dalam kata lain— cukup senang. Ada sesuatu dalam dirinya yang bergejolak menyadari ada seseorang yang tidak dapat mengenalinya sebagaimana dirinya dulu.

"Kalau kau butuh sesuatu, mungkin— apapun seperti Ditanny dan ramuan obat-obatan, kau bisa datang ke toko orang tuaku" tawarnya sembari berusaha merogoh sesuatu dari dalam kantung jubahnya; berbulu dan berwarna merah terang. "Mereka menjual banyak ramuan dan ada beberapa hal yang lain yang kau mungkin butuhkan sebenarnya, kami mengelolanya sendiri. Kau boleh datang, oh—" wanita itu tiba-tiba berhenti dan menggantungkan sebuah kartu nama yang dia ambil dari saku jubahnya "Apa aku terdengar seperti sedang berpromosi?" tanyanya pelan.

Draco terkekeh kecil, ekspresi yang dibuat oleh wanita itu baginya cukup lucu, cukup untuk menggelitik hatinya. Dia menggeleng dan menjulurkan tangannya "Tidak, tidak, kau boleh memberikannya padaku" jawabnya dan dia berhasil mendapatkan kartu nama itu darinya.

Sebuah kartu nama yang diukir diatas perkamen kering, ada sedikit ukiran daun di permukaan depan kartu dan sisa aroma bunga melati yang menyengat ketika Draco mengibaskan kartunya. Dia mematung ketika menyadari siapa pemilik sebenernya dari kartu nama tersebut, dia mengenalinya dan dia seharusnya mengenali siapa wanita yang ada di hadapannya ini.

Plan and plants
Green or grass
We had claim what it's called an ancient honour

Ps : Please visit when its reds on callendar for plan and greens for plants
—M. G.

Matanya menatap kartu nama dan wanita itu secara bergantian dengan tidak percaya. Dia kebingungan selama beberapa saat hingga dia menyadari kekeliruannya dari awal. Draco jelas mengetahui siapa wanita ini, itu masih terekam jelas di dalam kepalanya. Tapi dia bahkan tidak bisa mengatakan apapun tentang dia yang mengenalnya, tidak— selama wanita itu juga tidak menyadari siapa dirinya. Draco berusaha menahan diri untuk tidak menyebutkan namanya dan bersikap seolah tidak mengetahui apapun. Begitu sulit dimengerti.

"Aku akan memberitahumu jika aku datang" jawabnya ragu.

"Baiklah, itu terdengar bagus" katanya dan wanita itu bersiap-siap. "Kurasa aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa, kalau begitu" wanita itu melambaikan tangannya pelan dan mulai berjalan ke arah jalanan sempit di sebelah kanan, meninggalkan Draco yang masih mematung.

"Tunggu—" Draco tidak ingin dia pergi begitu saja. Secara harfiah, itu karen dia mengetahui dengan situasi yang cukup aneh bahwa wanita ini buta— atau sesuatu yang membuatnya kehilangan kemampuan dalam penglihatannya dan terutama karena dia mengenal wanita ini. Itu membuatnya memiliki sebuah simpati kacil untuk tidak membiarkan wanita ini berjalan sendiri, di kondisi jalanan yang bertangga dan dengan dengan penglihatan yang buruk.

"Ya?" Wanita itu berhenti dan menengok ke belakang, bingung.

Draco melihat angka-angka di balik jam tangannya dan mengawasi sekeliling. "Apa kau yakin kau bisa pergi dengan dirimu sendiri, nona?"

Wanita itu mengerutkan dahi, "Maksudmu?"

Draco gelisah, "Maksudku, aku tidak berusaha bersikap kurang ajar tapi—"

"Aku tahu kemana aku harus pergi, tuan" potong wanita itu dengan cepat. Dia berbalik untuk menunjukan lembaran kertas dengan garis yang berpola seperti denah dan tongkat sihirnya yang mengeluarkan cahaya merah pudar, seolah memberi tahu bahwa kedua benda tersebut dapat menuntunnya.

Dengan perlahan Draco menarik langkahnya lebih dekat dengan perasaan yang bersalah. "Jalanannya hanya sedikit berundak di depan sana, ada cukup banyak anak tangga dan aku khawatir kau akan merasa kesulitan. Jika itu terasa cukup sopan untukmu, aku berniat untuk mengantar. Hanya sampai aku merasa jalanannya aman untuk dilalui"

Senyum lebar terpatri di wajahnya yang putih pucat dan kemudian wanita itu menjawab, "Aku mungkin bisa mengetahuinya jika kau berusaha menuntunku ke arah yang salah, tapi bagaimana aku mempercayaimu dengan yang sisanya?"

Terlepas dari apapun, baginya Draco Malfoy hanyalah orang asing yang tidak sengaja dia temui di ujung jalan— kecuali jika Draco cukup berani untuk memperkenalkan siapa dirinya yang sebenarnya dan bahkan Draco tidak menyadari akan hal itu.

Wanita itu tertawa seolah menyadari bahwa Draco bergerak dengan kikuk di depan sana. Pipinya memerah seiring tawanya terdengar semakin riang. Tangannya meraih kedua pipinya dan menekannya pelan, memerintahkan dirinya sendiri untuk berhenti. "Hahaha, maafkan aku," katanya dengan tangan yang masih mengapit kedua pipinya "Aku tahu kau tidak bermaksud jahat, terutama untuk seorang calon Auror sepertimu"

Tubuhnya bukan lagi kikuk, tapi cukup tegang untuk beberapa kondisi; dia kembali tidak yakin apakah wanita ini benar-benar buta atau tidak. Draco tidak dapat menduga apapun dari wanita ini, segala halnya bergerak secara cepat namun tersembunyi seperti sebuah misteri. Wanita itu telah memberikannya banyak pertanyaan tapi dia merasa tidak pernah cukup. "Dari mana kau tahu?"

Masih dengan tangan yang mengapit pipi merahnya, wanita itu mulai bergumam, "Hmm, hanya calon Auror terlatih yang diperbolehkan menggunakan jam tangan di jadwal pengawasannya. The Watch Time, bukan? Kau menyebutkannya di awal" tanyanya balik dengan sedikit kekehan.

Draco menghela nafas panjang, wanita itu tidak akan pernah berhenti. "Aku tidak pernah tahu bahwa kau bisa begitu mengejutkan"

Wanita itu menyimpan lembaran kertas dan tongkatnya ke dalam saku jubahnya masing-masing secara terpisah. Dia kemudian menjulurkan lengannya ke depan, sedikit terlalu ke kanan jika dia bermaksud menawarkannya pada Draco. "Jadi, kau masih memiliki waktu dari sisa istirahatmu?"

Draco meraih dan menggandeng lengannya di sebelah kiri lengan atas, berusaha sejauh mungkin dengan tanda kegelapannya. "Tentu saja" jawabnya, dia bisa merasakan bagaimana lengan wanita itu melingkar semakin erat seolah dia telah memberikan sepenuh kepercayaan padanya.

"Kalau begitu kita harus cepat, Madam Malkin mungkin akan mulai khawatir jika aku datang terlalu terlambat. Kita akan melalui jalan memotong" katanya dan wanita itu merogoh kembali lembaran kertasnya. "Aku tahu arahnya" tambahnya sembari menunjukan kertas tersebut ke arah Draco.

Garis-garis petunjuk yang membentuk pola denah di lembaran kertas kecil itu sama sekali tidak pernah bisa Draco mengerti, dia hanya akan membiarkan wanita itu menggandeng dan menuntunnya ke arah yang hanya wanita itu ketahui.

Draco mungkin akan menyimpan kejadian ini di dalam kepalanya sendiri, alih-alih datang kembali dan meminta maaf bahwa dia cukup keliru untuk tidak mengenalinya dari awal. Atau mungkin itu adalah ide yang cukup baik dengan berpura-pura tidak mengenalnya sama sekali dan meninggalkan sesuatu untuk wanita itu ingat; seorang pria asing yang menyelamatkannya atau apapun itu kecuali, seseorang seperti Draco Malfoy sang mantan Pelahap Maut.

Sesuatu tentang wanita itu dan fakta bahwa dirinya tidak bisa melihat, membuat Draco merasakan suatu sisi di mana dia bisa bebas dan tak terlihat dalam hidupnya yang telah terlalu banyak diekspos. Tapi itu juga meninggalkan sebuah lubang di dalam hatinya, tentang apa yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Kekeliruannya tidak berdasar pada kecerobohan, tapi wanita itu telah tumbuh menjadi sosok paling asing yang pernah Draco temui dan itu membuatnya tenggelam dalam hidup yang penuh tanda tanya. Dan Draco ingin tahu kemana itu akan membawanya, karena keingintahuan akan berakhir dengan sebuah penjelasan.

Notes:

This story is highly inspired by Veil Manga, so i would recommend you to read the Original Manga too.

It was only a short fanfiction that i wrote just because i HARDLY find a fic about Astoria that hit my imagination about her so i had to wrote it down by myself. Ofcourse this will based by Canon Event and less conflict but i had to make it a bit different, so you can enjoy "The Joy" as long as is still there :)

And i'm sorry if my writting skill it's not good enough, it's my first time again after a long break.

Hope you enjoy <3