Chapter Text
teatrikal – babak satu: sandiwara
**
YIN NEZHA adalah laki-laki yang aneh.
Rin kira mereka akan berteman. Mustahil untuk tidak berpikir demikian. Nezha menolongnya untuk masuk kelas dengan selamat. Memberinya instruksi jelas mengenai rute yang harus dicapai untuk saksi yang minimal dan mendiktenya tentang alasan terlambat. Rin dengan jengkel mendengarkan semuanya sebelum mendorong pemuda itu pergi. Karena, duh, Rin tidak bodoh. Dia kerap terlibat kekacauan dan tahu saat kapan harus menutup mulut. Dia tidak akan gagal di hari pertamanya di Sinegard.
Natural saja Rin berencana untuk menyapanya seusai kelas. Dia sudah mengamati Nezha dengan seksama dari kursinya di belakang sejak masuk ke ruang kelas. Tetapi Rin kehilangan kesempatan. Pertama, karena asik melakukan review sehingga dia tidak bangkit sampai bel istirahat berubah menjadi bel masuk. Kedua, karena Rin sangat tertekan dengan silabus gila Sinegard dan mengorganisir ulang jadwal belajarnya setelah jam sekolah berakhir. Pemuda itu pulang duluan.
Rin tidak menyadari dia berharap dihampiri oleh Nezha sampai kelas hanya menyisakan dirinya dan gadis yang lain yang diingatnya duduk di samping Nezha. Bangku tunggal tidak memberikan mereka kesempatan untuk punya teman sebangku namun teman di samping adalah hal terdekatnya. Rin mengerjap-ngerjap polos saat gadis itu (amat sangat cantik, kalau Rin boleh jujur, seperti seorang putri) yang memelotinya dengan tidak ramah.
“Apa urusanmu dengan Nezha?”
Rin membutuhkan dua detik untuk menjawab. “Maaf?”
“Kau menatapnya sepanjang pelajaran, dia sampai lari terbirit pulang—kau membuatnya tidak nyaman.”
Apa-apaan? Rin mengernyit tidak terima. “Aku tidak menatapnya sepanjang pelajaran.”
“Kau yakin?”
“Kalau iya pun, itu otomatis. Melihatnya dan melihatmu, dan semua orang di depanku. Aku duduk di belakang.”
Gadis itu mencibir. Dan itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. “Terserah apa katamu. Jangan lakukan itu lain kali.”
“Apa-apaan?!”
Rin memekik ketika ruangan sudah kosong sepenuhnya. Apa maksudnya itu?
Esoknya, Rin datang pagi-pagi buta penuh determinasi. Dia bersedekap di dan mengamati semua orang dengan galak dan merutuk kesal ketika yang keluar dari balik pintu bukanlah Nezha. Dia mendapat tatapan aneh dari seluruh kelas tetapi peduli setan dengan semua itu. Rin harus segera mendapatkan kejelasan.
Kejelasan perihal apa? Jujur, ini lebih ke pelampiasan rasa sakit hati karena … bayangkan seseorang yang ingin kausapa sepulang sekolah kabur karena tidak mau berbicara denganmu padahal pagi harinya dia menangkapmu yang meloncat dari atas pohon. Rin ingin mencekik dirinya sendiri.
Rin langsung beranjak dari kursi ketika melihat sosok familier itu masuk ke kelas. Dia membuka mulut, kakinya telah bergerak keluar dari bangku namun berhenti ketika melihat sosok lain masuk. Wali kelasnya.
Rin melotot marah sepanjang pelajaran. Nezha sama sekali tidak terganggu. Dia bicara di sela-sela penjelasan, dengan perempuan di sampingnya atau pemuda ikal di belakangnya. Menoleh ke belakang pun, matanya sama sekali tidak menyentuh Rin.
Bajingan tengik, Rin menggigit pensilnya geram. Baiklah kalau begitu maumu.
Pemuda itu begitu lihai menghindar. Tahu benar bahwa Rin tengah mengejarnya. Saat jam istirahat, dia keluar ketika Rin masih berusaha mencerna semua ocehan guru. Jika Rin ke kantin, Nezha dikelilingi oleh orang-orang sederajatnya yang (jika Rin memicing) seolah membentuk lingkaran protektif di sekitar Nezha sehingga gadis itu tidak bisa bahkan hanya untuk melakukan kontak mata. Gadis cantik yang kemudian diketahuinya bernama Sring Venka paling giat untuk mengusir Rin dengan tatapan tajam, Rin tanpa absen selalu mencebik ke arahnya.
Sibuk mengurusi Nezha, Rin sama sekali lupa untuk bersosialisasi. Dia hanya kenal Niang, yang duduk di depannya. Juga Han, yang duduk di sebelahnya. Namun mereka berdua telah memiliki lingkaran pertemanannya masing-masing. Semua sudah saling kenal sebelum masuk Akademi Sinegard. Rin menguping dan mengetahui mereka memang satu tutor, satu bimbel, atau satu forum internet—sesama pejuang masuk Akademi Sinegard yang nantinya akan otomatis menjadi mahasiswa Universitas Sinegard. Bagi orang yang bukan lulusan Sinegard, kata ‘mustahil’ tidak cukup menjelaskan seberapa sulit tes yang harus ditempuh. Jalur lazim yang tidak membunuh untuk menjadi bagian lapisan masyarakat elit Sinegard adalah masuk Akademi ini.
Rin tahu seberapa prestisius sekolah ini, hanya tidak menyangka kalau semuanya akan segila ini. Lingkaran pertemanan yang begitu ketat, gunjingan bagi orang asing (baca: Rin), sampai obsesi semua orang untuk meraih nilai tambahan dengan beramah-tamah dengan para guru. Rin sederhananya hanya mengincar beasiswa penuh yang ditawarkan kepada sepuluh siswa dengan nilai ujian masuk terbaik yang mana akan berlanjut sampai ke universitas jika dia bisa bertahan dan beruntung. Beasiswa itu resmi menjadi tujuan hidup Rin ketika mereka menambahkan asrama bebas biaya ke dalam manfaatnya. Asrama tidak wajib bagi siapa pun tapi bodohlah dia jika tidak mengambil kesempatan itu.
Karenanya Rin belajar sendiri, itu keahliannya. Dia jadi tidak punya teman.
Sisi baiknya, dia tidak dirundung. Hanya dikucilkan dan sesekali jadi bahan gunjingan. Mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing.
Gadis itu mengamati lagi selebaran yang diselipkannya di buku catatan harian. Mulutnya sibuk meniup kuah sup yang kelewat panas bahkan setelah berada di udara terbuka sembari membaca Chen Kitay, Yin Nezha, Rin Jiang, Sring Venka. Urutan nilai ujian masuk itu tidak berpengaruh banyak padanya sebelum mengetahui bahwa semua orang itu sekelas dengannya sekarang. Oh, persaingan peringkat kelas akan sangat menakjubkan.
Seseorang menjatuhkan pantatnya dengan sembrono di hadapan Rin hingga sendok di tangannya bergetar dan menumpahkan kuah panas itu ke catatan hariannya. Rin meletakkan sendoknya kesal dan mendapati pemuda ikal yang biasa duduk di belakang Nezha di kelas tengah menyengir tanpa dosa. Ketika melihat tatapan menuduh Rin, dia menyadari perbuatannya dan mulai meminta maaf dengan kecepatan luar biasa sembari menggosok pelan catatan Rin yang basah dengan saputangannya.
“Oh, maafkan aku—aku tidak sengaja—aku kira—”
Rin mengembuskan napas panjang sebelum menutup catatannya dengan bunyi keras yang memuaskan. “Lupakan.”
Pemuda itu menggigit bibir bawahnya dan Rin melotot seolah berusaha mengatakan ‘Ayo bicara lagi, aku akan menggigitmu’. Rin dengan marah mulai menyendok nasi dan memasukkannya ke mulut dengan cepat, pemuda itu mengikutinya pelan-pelan.
Dan dia memang meminta untuk digigit.
Dia mulai bercerita mengenai kegiatan belajarnya sebelum ujian, bagaimana belajar kelompok yang dilakukannya kerap tidak efektif, bagaimana seseorang terlihat sangat menyedihkan ketika berusaha menghapal satu paragraf dan bagaimana dia tidak bisa membayangkan hidup menderita seperti itu. Omong-omong dia Chen Kitay, ikut program percepatan saat SMP sehingga dia pasti lebih muda dari Rin, dan … oh! Dia punya memori fotografis.
“Aku Rin,” ucapnya setelah memutuskan bahwa pemuda itu tidak cukup buruk untuk tidak dijadikan teman.
“Oh, kau yang dihindari Nezha.”
Rin mendengus keras-keras. “Aku tidak mengerti apa masalahnya. Dia yang—”
“Menolongmu? Yah, sebagian besar sudah tahu ceritanya,” Kitay melirik ke sudut ruangan tempat Nezha dan Venka tengah makan siang. “Dia memang aneh seperti itu. Jangan terlalu dipikirkan, besok juga kembali seperti biasa.”
Apa definisi seperti biasa itu? Rin memutar bola mata. “Orang akan berpikir aku pernah berusaha menculiknya dengan reaksi seperti itu.”
“Berikan dia waktu,” ucap Kitay santai sebelum dia berbinar menatap Rin. “Dan bukan hanya Nezha yang perlu kauberi terima kasih. Pernah berpikir bagaimana mulusnya kau masuk ke kelas di hari pertama? Aku adalah orang yang merancang penyelamatanmu itu, lho.”
Rin kemudian menghabiskan sisa waktu makan siangnya dengan mendengarkan celotehan Kitay dengan sudut bibir yang perlahan tertarik penuh. Kitay tidak buruk. Pemuda itu terbaik.
Rin juga memutuskan Akademi Sinegard tidak seburuk itu, teman kelasnya bisa lebih buruk dari ini. Beberapa tahu kisah lengkap keterlambatan nyarisnya di hari pertama, beberapa tahu sepenggal saja tetapi semua tutup mulut tanpa diminta. Rin ingin tahu kekuatan siapa itu, apakah Kitay atau Nezha. Ketika dia menanyakan itu, Kitay hanya mengedikkan bahu, bilang kalau skandal Rin tidak semenarik itu juga untuk disebarkan dan tidak ada keuntungan dibalik pengaduan.
Rin merengut dan menyentil telinganya.
**
Gadis itu akrab dengan Kitay. Memiliki seseorang yang akan terus menumpahkan isi demi isi kepalanya di sisimu sungguh merupakan pengalaman baru. Belum lagi semua yang ditumpahkan begitu gurih dan berkelas sehingga Rin tidak mungkin memalingkan perhatian. Rin berusaha menebak apa kiranya yang didapat Kitay dari berteman dengannya. Namun di kemudian hari ketika Rin secara antusias mempertanyakan sistem ujian masuk anti contek milik Akademi Sinegard, mereka mengobrol sampai Rin nyaris melewatkan jadwal ekskulnya.
Rin tahu begitulah teman, mereka menghabiskan waktu bersama karena memiliki ketertarikan yang serupa. Atau mereka menyukai presensi satu sama lain. Ini pertama kalinya seseorang sukarela menjadi teman Rin dan tidak lari setelah mengobrol dua kali.
Rin akrab dengan cara pemuda itu menulis, cara pemuda itu memberi anotasi pada bukunya, cara pemuda itu menyusun mejanya sebelum belajar. Rin akrab dengan cara pemuda itu merencanakan segalanya dengan detail, dia adalah seorang strategis—semua sesuatu yang dilakukan Kitay memiliki tujuan dan tidak ada perbuatan sia-sia. Dan ketika Kitay menawarkan dia akan membantu Rin menyelesaikan masalahnya, gadis itu tertarik.
Rin mengikuti strategi Kitay. Dia berhenti menatap Nezha, ikut menghindarinya, ikut tidak peduli terhadapnya. Dia bergaul dengan Niang, dan Han. Menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan Kitay. Sepulang sekolah, dia akan mendekam di perpustakaan bersama pemuda itu dan berusaha beradaptasi dengan silabus Akademi Sinegard. Semuanya tidak terlalu abstrak ketika Kitay membantu memetakan tiap mata pelajaran dan menyorot hal-hal yang penting. Siklus itu berlangsung sampai tes triwulan mendekati dan suasana sekolah makin mencekam.
Bahkan Nezha kini tidak bertukar bisikan dengan Venka di sela-sela pelajaran. Keduanya menunduk dan menggerakan tangan dengan kilat di atas kertas. Hanya Kitay yang tampak santai dan menyimak penjelasan dengan syahdu seolah dia tengah diceritakan dongeng sebelum tidur. Rin berencana akan memukulnya usai mereka tes nanti.
Di sinilah rencana itu berjalan. Hari Senin sebelum tes triwulan pertama dimulai, Yin Nezha tidak akan mengira bahwa dirinya disudutkan tepat setelah dia memasuki koridor lantai dua. Pelakunya adalah Rin, yang menarik kerah seragam pemuda itu tanpa ampun, mengabaikan protes tertahan Nezha dan melangkah marah. Pemuda itu lebih tinggi dan lebih berat darinya, Nezha bisa saja mengempaskan tangan Rin dan berlari ke kelas. Namun Rin samar-samar mendengar Nezha mengembuskan napas pasrah sebelum membiarkan dirinya diseret ke gudang kebersihan.
“Sebutkan alasan mengapa kau bertingkah seolah aku membawa virus mematikan dan menghindariku selama—tiga bulan?! Kuakui aku sangat terkesan. Seseorang tidak akan mengambil pusing ketika ada orang yang tidak saling bicara kecuali orang-orang mulai menyadari,” Rin menjeda omelannya ketika menyadari Nezha yang entah sejak kapan memasang ekspresi dingin dan aura tidak bersahabat. Dia menyentak tangan pemuda itu. “Ya? Aku menunggu.”
“Aku tidak berhutang penjelasan padamu.”
Rin pasti mirip ikan sekarang. Membuka-tutup mulut tanpa tujuan dan hanya menatap Nezha dengan kedua mata yang terbuka lebar. Karena, jujur, dia mengharapkan hal lebih baik dari ini. Nezha menghindarinya begitu ahli sehingga Rin pikir dia pastilah berbuat salah. Atau jika dia memang ingin tidak mengenal Rin tiga tahun ke depan, pemuda itu hanya tinggal minta.
Mereka bertukar pandang selama semenit penuh. Rin menyipit penuh amarah sementara Nezha menatapnya tenang. Seolah siap dengan semua pukulan yang mungkin dihantamkan Rin.
“Kukira kita bisa berteman,” semburnya getir ketika menyadari waktu mereka tidak punya waktu banyak lagi. Rin benci ini. Rin benci. Seorang murid Sinegard yang dilihatnya pertama kali, yang juga menolongnya, dan dia hanya ingin mengulurkan tangan untuk berteman. Rin paham betul dia bukan orang paling mudah untuk diajak berteman. Dia tahu akan kesulitan di Sinegard, tetapi Nezha di hari pertama memberinya harapan, Kitay memberinya harapan—lalu sekarang … hal ini terjadi.
Sepertinya Rin telah menyenggol hal yang personal ketika melihat dingin Nezha luruh dalam sekejap. Pemuda itu membuka mulut untuk bicara tetapi Rin dengan cepat berbalik meninggalkan ruangan dan menutup pintunya keras-keras sebagai tambahan.
Sesuatu seolah berbisik di belakang kepalanya. Sampai sini saja. Cukup sampai sini saja. Jika dia ingin, dia akan mengejarmu. Jika tidak, memang tidak akan.
**
Kitay tidak mengorek lebih jauh lagi ketika Rin bilang bahwa dia telah menyelesaikan urusannya dengan Nezha. Kendati pemuda itu kerap mengangkat alisnya ketika menyadari mereka masih tidak menatap mata satu sama lain saat duduk berhadapan di meja kantin yang penuh. Kitay yang malang, berusaha membangun jembatan beberapa kali kendati mengetahui kalau Rin pasti akan membakar jembatan itu.
Sehari-harinya, Rin nyaris tidak membuka mulutnya kecuali untuk menjawab pertanyaan guru, atau berbicara dengan Kitay. Ditambah tidak muncul lagi usaha beramah-tamah dengan Rin karena tidak ada gunanya; Rin tak punya koneksi, tak punya uang, tak punya prestasi. Menjadi juara kelas sejak kau memasuki lingkungan sekolah tidak dianggap prestasi di sini.
Berbeda dengan Yin Nezha, si pangeran sekolah. Bukan hanya memiliki ketampanan legendaris yang layak menjadi bahan prosa para penyair, dia ternyata adalah putra kedua dari Gubernur Provinsi Naga. Dan ketika Rin membayangkan seorang anak gubernur pastilah congkak dan pongah dan tidak berisi. Nezha mematahkan ekspetasi karena dia adalah congkak dan pongah yang berisi; dia langganan juara olimpiade sains nasional, sempat berlaga di idnternasional dan mendapatkan medali perak. Dia dan Kitay adalah jagoan yang menuangkan parfum secara berlebihan ke seluruh sekolah dan mengharumkan nama alumni mereka hingga saat ini. Dan Nezha rupanya juga menggeluti bela diri dan beberapa kali mengikuti kontes meski prestasinya tidak segemilang di bidang sains.
Semua hal tentangnya menarik magnet seisi kelas—seisi sekolah. Sedangkan tidak seorang pun mau mendekati Rin. Bukan karena warna kulitnya, atau aksen canggungnya, atau tubuh pendeknya—semua sesederhana Rin tidak membawa manfaat apa-apa bagi mereka, Rin tidak berarti. Lalu fakta bahwa Nezha pun tidak mencoba bicara padanya lagi setelah kejadian di gudang itu membuat Rin mau tak mau beranggapan hal tersebut memang benar adanya.
Setiap kali dia menjawab pertanyaan di kelas, gurunya selalu menampilkan ekspresi seolah mereka tidak menyangka bahwa Rin bisa; orang yang tidak dikenal ini bisa. Namun dia hanya dianggap anomali sesaat, tidak untuk didekati atau diberi perhatian lebih. Setiap tahun muncul orang sepertimu, mata mereka seolah berkata, kau akan segera berlalu.
Kecuali Kitay. Dan Kitay memiliki hati yang lebih suci dari pendeta. Rin tidak akan tega memuntahkan semua perasaan dekil ini padanya.
Karena itu tiap menginjakkan kaki di kelas, dia dikuasai perasaan jengkel tak masuk akal yang mengancam akan menelannya bulat-bulan jika tidak hati-hati. Semua tekanan itu terakumulasi—menggosok kulitnya hingga perih sehingga sedikit sentuhan pun akan membuatnya berteriak, ditambah dia hanya tidur tiga jam setiap malamnya dan itu pun dilakukan susah payah karena dia begitu merindukan rumah; Rin adalah bom yang siap meledak jika seseorang bernapas dengan cara yang salah di dekatnya.
Oleh karena itu, Rin menjauhi semua orang layaknya semua orang menjauhinya. Toh Rin juga tidak membutuhkan siapa-siapa.
“Diskusi strategi. Ayo ikut.”
Kecuali Kitay, lagi. Gadis itu menekan pelipisnya dan membuka mata dengan malas. Dia mengamati Kitay yang kini duduk bersila menghadapnya.
“Kau saja lakukan,” Rin menjeda kunyahan permen karetnya. “Kau sudah tahu apa-apa yang bakal kukatakan.”
“Rin, kau tahu kau harus bicara dengan teman sekelasmu sesekali,” ungkapnya kewalahan. “Dan kau perlu bicara dengan Nezha. Kita akan segera naik tingkat dan lihat dirimu—”
“Coba kau katakan itu pada temanmu,” Rin beranjak dari sandarannya di jendela dan meludah mengeluarkan permen karet. Benda itu mendarat sempurna di tong sampah sudut ruangan. Rin menyengir bahagia. “Yin Nezha adalah sahabatmu sedari kecil.”
Kitay memutar mata. “Kau mengasumsikan aku tidak mengomelinya juga? Setiap pagi kami harus satu mobil dan yang dia berbicara tentangmu, sering, tetapi terus menolak jika disuruh benar-benar bicara padamu.”
Rin merengut. Dia tidak suka ini. “Kenapa dia membicarakanku?”
“Kenapa? Mungkin alasannya sama dengan kenapa kau membicarakannya setiap hari.”
“Aku tidak membicarakannya setiap hari!”
“Hampir setiap hari kalau begitu.”
“Kitay, kali ini kau benar-benar menyebalkan,” ucapnya pedas dan Kitay meringis.
Pada akhirnya Rin membiarkan dirinya menghibur Kitay dengan ikut rapat strategi tim putih. Semua murid menganggap setiap acara sekolah begitu serius seolah mereka akan pergi ke medan perang hingga Rin harus memaksa dirinya untuk tidak memutar mata setiap ada orang yang mengungkapkan pendapat dengan terlalu menggebu-gebu. Sungguh, memenangkan festival olahraga tidak akan bisa ditampilkan di resumemu.
Dia duduk dan mengunyah permen karet dengan bosan.
“Urutannya begini. Nohai, Venka, Nezha, Rin.”
Rin merasakan darahnya mulai mendidih. Nezha? Dia akan menyela kalau saja tidak ada orang lain yang melakukannya terlebih dahulu.
“Venka? Serius? Jangan tersinggung, tapi dia bukan pelari.”
Venka adalah figur menawan, tampak rapuh di mata orang-orang meskipun dia adalah salah satu atlet panah terbaik Sinegard, Rin menguping fakta itu di kamar mandi perempuan satu kali—tentang bagaimana bosannya Venka harus berurusan dengan semua omong kosong laki-laki yang ingin kencan dengannya. Rin juga dengar dia masuk seleksi kompetisi nasional musim panas nanti.
Sedangkan Rin ikut ekstrakurikuler lari di akademi. Dia tidak melakukannya untuk perlombaan, tentu saja. Dengan semua beban akademis bernapas saja tampak mewah bagi beberapa penghuni Sinegard.
“Oh, aku berlari,” balas Venka dengan suara menantang. “Aku berlari lebih baik dari semua orang di sini. Aku ringan. Seharusnya aku pelari terakhir.”
“Pelari terakhir tidak selalu penting. Momentum bisa dibentuk semau kita. Strategi itu pasaran,” ujar Rin berusaha diplomatis.
“Kalau begitu biarkan Nezha jadi pelari pertama, aku terakhir,” kata Venka dengan senyum keji. “Itu momentum yang menakjubkan.”
Rin mendelik marah ke arah Kitay yang mengangkat tangan tanda menyerah.
“Semua perang didasarkan pada tipu muslihat,” kata Kitay sehari sebelumnya. “Hubunganmu tidak baik dengan Venka. Menempatkan Venka sebagai pelari terakhir daripada kau yang betulan anak lari akan membuat burung menyebarkan kabar bahwa posisi itu diambil Venka atas dasar ingin merundungmu. Semua orang telanjur memahami bahwa Venka adalah seorang putri yang perlu dilindungi, dia tidak bisa berlari—sedangkan kau klub lari pasti bisa; rumornya akan kukembangkan sampai situ. Pada kenyataannya, Venka bisa berlari. Sangat bisa. Begitu pula denganmu. Staminamu bagus tapi kaki Venka lebih panjang.”
“Jadi, urutannya?”
“Nohai, Han, Kau, Venka,” Kitay tersenyum menampilkan semua giginya. “Jangan tersinggung, Rin. Kau adalah pembalik momentum dan Venka akan melanjutkannya.”
“Dan kau tidak bisa mengumumkannya langsung? Kenapa mesti sandiwara?”
“Sandiwara diperlukan karena kita tidak tahu siapa mata-mata yang akan melaporkan strategi kita ke tim lain.”
“Memangnya bakal ada?”
“Kau akan terkejut, Rin.”
“Sekolah ini konyol.”
“Percayalah ketika aku bilang semua gerak-gerik kita dinilai di sini.”
Rin menghela napas. “Aku masih tidak mengerti mengapa strategimu bisa berhasil.”
“Berhasil, Rin,” kata Kitay mantap. Dia meremas bahu Rin. “Karena kau akan membuat kekacauan.”
Oh, betapa pemuda itu merancang kekacauannya dengan cantik.
“Aku yang klub lari di sini,” kata Rin jengah. Kitay sangat memahami reaksi teman sekelas mereka terhadap Rin dan wah, kalau saja pemuda itu tidak selalu benar setiap saat. Dia berusaha melirik Kitay dan pemuda itu tengah berbisik dengan anggota kelas lain.
Persetan dengan Kitay. “Aku mau jadi pelari terakhir.”
“Kredibilitasmu meragukan,” ungkap salah seorang teman kelas Rin. “Aku tidak pernah melihatmu di lintasan.”
Rin berusaha untuk tidak mendengus, “Aku tidak berlari di lintasan. Aku berlari di belakang sekolah ini, di bukit.”
“Melakukan orientasi selama itu? Kau pasti sangat buruk,” ungkap Nezha santai.
Kuku-kuku Rin menancap di telapak tangan.
Alis Han naik satu. “Sungguh, Rin? Sudah akan tes triwulan kedua dan kau masih orientasi?”
Klub lari memiliki tradisi untuk melatih murid kelas sepuluh lari di bukit belakang Akademi Sinegard sampai ke mata airnya dan turun lagi. Biasanya hal tersebut berlangsung selama dua bulan pertama sebelum mereka diizinkan lari di lintasan. Namun Rin adalah kondisi khusus. Rin memilih untuk lari di sana, memilih untuk melakukannya sendiri sembari mengamati pemandangan asri yang akan melepaskan belenggunya sejenak. Setelah Rin mengungkapkan hal itu, pembimbing klub yang kebetulan seorang filosofis sangat terkesan dengan resolusi Rin dan membiarkan gadis itu berlari sesuka hati asalkan dia melaporkan kegiatan hariannya.
Rin tidak sudi membeberkan itu semua.
“Setidaknya aku berlari dengan rutin,” kata Rin sengit. Mungkin dia akan minta maaf pada Kitay karena merusak strateginya nanti. Gagasan sebagai pelari terakhir sudah tertancap kuat di kepalanya. “Aku tidak melakukan olahraga cantik seperti kalian.”
“Olahraga cantik?!” Venka menggebrak meja. Rin tidak berjengit sedikit pun. “Apa kau tidak tahu betapa kokohnya sebuah lengan harus dibentuk agar bisa menarik sebuah busur? Apa kau tahu bagaimana seseorang yang berlatih bela diri harus diet ketat untuk menjaga berat badan tetapi harus memiliki cukup kekuatan untuk membanting lawan mereka? Maaf, kalau kau terlalu sibuk dengan dunia kecilmu sehingga tidak melihat hasil nyata dari olahraga kami?”
Rin menendang kursi di depannya. “Kalau begitu ayo selesaikan ini, Venka. Hanya kau dan aku. Di lintasan.”
“Oh, tidak perlu,” kata Venka beralih menatap jari-jemari lentiknya. “Aku sudah tahu aku akan jauh lebih baik darimu.”
“Berhenti menggertak dan ayo tanding denganku!”
“Kurasa mempertontonkan kekuatan kita pada musuh adalah hal yang buruk,” ujar Kitay pelan.
“Aku rasa aku percaya Rin untuk yang satu ini,” cicit suara kecil milik Niang, yang juga tidak menyukai perdebatan. “Rin anak klub lari. Masuk akal untuk menempatkannya sebagai pelari terakhir.”
“Masuk akal tentu saja,” Nezha membalas, akhirnya pemuda itu melirik Rin dari sudut mata. “Kau bilang momentum bisa dibangun sejak kapan saja. Dan terserah pada kita. Kalau begitu biar Rin jadi pelari terakhir. Dia tidak harus membangun momentum. Jadi Nohai, Venka, aku, Rin. Saat putaran terakhir, tidak ada momentum yang harus dibentuk lagi, Rin tinggal melanjutkan.”
“Karena kau akan mengamankan posisi?!” Rin memekik. “Apa kau tidak dengar dirimu? Kau terdengar begitu percaya diri, begitu sombong—tidak ingat Seni Berperang?”
“Perang didasari pada tipu muslihat,” ungkap Nezha mantap. Dia menepuk meja dua kali seolah keputusan sudah final. “Tipu muslihatnya adalah Rin adalah emas kita dan akan membalikkan momentum. Biarkan ini didengar tim merah dan tim biru.”
Gadis itu bisa merasakan denyut di belakang kepalanya mengeras dan menyebabkan dengung pada telinganya. Dia tidak menyadari lututnya naik ke atas meja dan tangannya telah mencengkram kerah Nezha di detik berikutnya. Seisi kelas senyap melihat perkembangan ini sebelum Venka yang syok segera mendorong Rin ke belakang dan menarik Nezha.
“Apa-apaan kau?!” Venka memekik nyaring. “Ketika kau sedang berdiskusi, kau bicara ketika tidak suka dengan sesuatu—bukan memukul layaknya orang barbar!”
“Diskusi tidak menyudutkan seseorang!” Dia ingin bergerak maju namun Kitay memeluk bahunya dari belakang. “Lepas kau, Bajingan—”
“Rin, berpikir jernih—”
“Kau minta jadi pelari terakhir, Rin, kau mendapatkannya,” Suara Nezha memasuki telinganya dengan jelas di tengah keributan itu. Rin menahan diri untuk tidak mengerjap atau air matanya akan jatuh. “Kenapa harus kecewa?”
Pertanyaan itu diajukan dengan begitu lembut dan hati-hati seolah Nezha memang ingin tahu, bukan untuk mengejek atau mencerca. Namun entah mengapa semuanya membuat pandangan Rin memerah.
“Bangsat.”
Gadis itu mendorong Kitay dan keluar dari kelas.
**
Partisipasi di Festival Olahraga adalah wajib. Rin mengajukan izin dan disambut dengan kompensasi ‘mahal’ di mana dia harus ujian tertulis olahraga dan mengambil minimal dua cabang lomba pada tahun depan. Dan namanya sudah terdaftar sebagai pelari estafet tim putih, mundur adalah bunuh diri. Rin terbahak keras ketika guru konseling menyudutkannya keesokan hari karena mendengar keributan yang disebabkan Rin saat rapat. Seluruh kekuatan tubuhnya dipakai untuk tidak meludah di kaki wanita itu.
Sinegard sangat peka ternyata, sesuai kata Kitay. Tetapi baru muncul setelah kejadian itu membuktikan banyak hal tentang sekolah ini.
“Aku tidak akan mengundurkan diri,” ucapnya datar sebelum keluar dari pandangan guru itu dengan gerak kaki super cepat.
Rin mencapai rekor baru antisosial. Niang mencoba mengajaknya bicara namun Rin tak acuh padanya. Dia bangun pagi, menempuh satu kilometer jarak asrama ke Akademi Sinegard dengan kakinya, belajar, berlari di belakang bukit, berjalan ke asrama kala matahari yang sudah seluruhnya terbenam, lalu belajar hingga hari berganti. Dia tidak bicara pada Kitay.
“Rin, aku—”
Rin merasakan perutnya mual, bersyukur tidak ada sarapan yang masuk tadi. Dia berbalik begitu cepat hingga Kitay nyaris menabraknya. “Aku percaya padamu. Dan kau mengkhianatiku.”
Kitay secara mengejutkan juga tampak akan muntah kapan saja. “Rin, jika kau mau mendengarkanku….”
“Sebegitu kecilnya kepercayaanmu padaku?”
“Kuakui diskusi itu tidak sesuai dengan rencanaku tapi Rin—”
“Aku memercayaimu, dan begini hasilnya,” Rin merasakan lidahnya berubah kelu ketika meihat Nezha dan Venka memelankan langkah mereka ketika melihat Rin dan Kitay berdebat di koridor. “Sebaiknya aku tidak melakukannya lagi,” bisik Rin sebelum melarikan diri.
“Nezha, lepas! Akan kutangkap sundal kecil itu!” pekik Venka. Rin telah memelesat jauh.
Gadis itu menangis ketika berlari hari itu. Apa sungguh dia tidak punya tempat di mana pun? Menjadi tipu muslihat? Tentu dia adalah komponen penting dalam strategi, Rin berusaha bersikap rasional, tetapi mengingat reaksi teman sekelasnya dan Venka dan Nezha dan Kitay—membuat rasa pahit tak mau meninggalkan mulitnya. Dia mengingat lagi suara tertahan Kitay memanggilnya di koridor dan Rin meningkatkan kecepatannya.
Ketika hari festival datang Rin sudah terlalu lelah. Dia yakin bisa mengalahkan tim biru, tapi tim merah menempatkan juara nasional sebagai pelari terakhir mereka. Teman sekelasnya tidak menaruh harapan pada Rin, melihat mereka mulai gencar diskusi untuk memaksimalkan poin di olahraga lain tepat setelah Rin menarik kerah Nezha hari itu.
Dia tengah duduk dan memandangi sepatunya dengan penuh kebencian ketika ada bayangan memasuki pandangan. Rin mendongak dan mendapati Sring Venka bersedekap marah di hadapannya.
“Apa?” ketus Rin.
“Kau menyedihkan, kau tahu?”
Rin menghela napas. Dia tidak butuh cercaan hari ini. “Dengar ….”
“Mana pitamu?” Venka berdecak dan menjatuhkan pantatnya di samping Rin dan dengan tidak sopannya memegang dan mengacak helai cokelat pendek milik Rin. Buru-buru dia menepisnya.
“Ck, apa maumu?”
“Kau berencana lari seperti itu?”
“Bukan urusanmu.”
“Urusanku ketika kau akan menjadi pelari terakhir kita,” kata Venka tidak acuh. Dia mengeluarkan sesuatu dari celana olahraganya. Sebuah karet dan seutas pita putih. “Kita gencatan sehari, Rin. Dan kau akan berterimakasih padaku setelahnya.”
Rin membuka mulut tapi Venka menyelanya lagi, “Aku memikirkanmu belakangan ini. Banyak waktu terbuang untuk memikirkanmu. Dan aku tidak akan membuang waktu lain untuk tidak memberitahukannya padamu: kau payah, kau menyebalkan, kau perlu seseorang untuk memukul kepalamu.”
Rin mendidih. “Dan kau adalah putri manja yang—”
“Sssst, dengarkan aku,” Venka mulai menyisiri rambut Rin dengan jemari lentiknya. “Kitay, tidak bodoh. Aku tidak bodoh. Begitu pula Nezha. Sisanya aku tidak peduli. Kau berlari mendaki bukit, juara nasional itu berlari di lintasan datar—ada banyak variabel tetapi orang bodoh pun tahu bahwa kau punya kesempatan tinggi untuk jadi pemenang.”
Rin menoleh terlalu cepat tapi Venka menjambak rambutnya. “Diam.”
“Sakiiit!”
“Dengar dulu,” desis Venka galak. “Aku tidak tahan kau mencampakkan Kitay, dia layaknya bebek yang kehilangan induknya sekarang. Orang itu percaya kau bisa membalikkan momentum di mana pun kau berada, makanya dia beri kekuasaan padamu untuk menyetir diskusi itu—satu-satunya strategi yang dibutuhkan tim yang kuat hanyalah rumor; dia terlalu cerdas untuk melakukan sebaliknya. Jadi berhenti marah padanya, oke?”
Rin terdiam sejenak. “Kitay cerita padamu?”
Venka mendengus. “Dia pertama yang mengabaikan kami setelah bertemu denganmu tapi dia kembali juga ketika kau tak ada. Oh, jangan khawatir, aku yang memaksanya bicara kok bukan tulus dari hati kecilnya. Dia tidak punya pilihan.”
Rasanya seperti teriris secara perlahan. “Biarkan dia bersama kalian kalau begitu.”
“Aku inginnya sih begitu tetapi dia terlalu menyedihkan selama kau mengabaikannya,” Rin bisa merasakan tangan Venka membuat simpul pita rapi. “Bagaimana kalau kau saja yang bergabung dengan kami.”
Venka tidak menggunakan nada bertanya, hanya gumaman iseng. Rin tetap saja terperanjat. “Apa?”
“Dipikir lagi, jangan, Nezha tidak mau berurusan denganmu,” katanya geli dan Rin menoleh lalu mendelik marah.
“Menangkan ini, Rin,” Venka secara mengejutkan membalut tangan Rin dengan tangannya sendiri dan meremasnya. “Juara nasional itu mencoba menciumku di kencan pertama dan aku harap kau akan mempermalukannya hari ini.”
Itu di luar dugaan hingga Rin harus tertawa meski sedikit dipaksakan. “Kenapa pula aku harus lakukan ini untukmu?”
“Lakukan ini untuk dirimu sendiri, tentunya. Aku kebagian hasilnya karena percaya padamu.” Venka melepas pegangannya kemudian, dan melangkah pergi tanpa berucap sepatah kata pun lagi.
**
Semua mata tertuju padanya. Rin memaksa dagunya tetap terangkat tinggi meski kaki bergerak lebih cepat untuk mencapai Venka, Nezha, dan Nohai. Rin menginterupsi acara bisik-bisik mereka. Venka menyeringai penuh kemenangan, Nohai menahan diri untuk tidak berekspresi jijik sementara Nezha seperti biasa sulit dibaca.
“Nah, telah bergabung bersama kita, Sang Kunci Kemenangan.”
“Berisik,” desisnya pada Venka. Rin bersedekap. “Jadi? Hanya tinggal lari, kan?”
Nezha mengangguk. “Benar. Dan jangan keluar lintasan.”
Rin menahan diri untuk tidak tersinggung dan hanya mencibir ke arahnya. Nohai hendak membuka mulut namun instruksi telah diberikan untuk para pelari mengambil posisi. Gadis itu tidak gugup, sama sekali tidak, hanya saja ini pertama kali dirinya melakukan sesuatu non-akademis dan dipercayai untuk memenangkannya. Rin tahu batas kemampuannya, dia sudah menguji diri berkali-kali setelah disepakati sebagai pelari terakhir. Terdapat lebam di tumit kakinya tapi Rin menolak tunduk.
Dia akan menang. Dia akan buktikan kalau dia bisa menang.
Ketika Nohai berlari, Rin menahan napas.
Terik matahari menambah gusanyar. Rin mengusap leher yang telah berkeringat dan tidak sengaja menatap Nezha yang mengamatinya. Pemuda itu tampak terbuat dari es selama ini dan sekarang dia akan menjaga titelnya jika bukan karena dahi dan lehernya yang memerah, meski begitu Rin belum melihat tanda-tanda keringat.
“Kau harus melihat pertandingannya,” ucap Rin pelan.
Nezha menggeleng. “Kau yang harus lihat pertandingannya.”
Rin tahu Nohai tidak memimpin, dia ada di urutan tiga dari empat namun larinya stabil. Gadis itu menahan diri agar tidak berdecak sedari tadi karena Venka tampak puas dengan performa Nohai dan Nezha tidak memberikan komentar apa-apa.
Lintasan tak sepanjang itu, Nohai tiba dengan sedikit napas terengah. Tidak ada tanda-tanda dia menyesali penampilannya yang stabil pada posisi tiga. Venka tersenyum manis ketika menangkap tongkat estafet dari Nohai.
“Lihat aku.”
Rin sama sekali tidak mengerjap sampai Venka berbelok dan menyalip pelari tim biru. Mereka terlihat sengit, berulang kali saling menyalip dan Rin bisa melihat Venka berbicara pada peserta perempuan itu. Rin mendongak ketika Nezha terkekeh.
“Itu gadis yang menolak Venka minggu lalu.”
Rin merasa dagunya akan merosot ke tanah. “Haruskah dia melakukannya di lintasan? Saat berlomba? Haruskah aku khawatir dia akan mengalah?”
“Venka tidak pernah mengalah.”
Dan benar saja sesaat setelah Nezha menggumam begitu, Venka meningkatkan kecepatannya. Semua orang tentu menyangka Venka akan bergerak secara elegan, namun tidak secepat itu—segesit itu, dan bagaimana rambutnya yang dikepang kuda berkibas begitu indahnya; semua orang terpana tetapi tidak dengan wakil tim biru yang berlari dengan air mata yang tertahan. Mereka menginjakkan kaki dengan penuh emosi dan seluruh akademi tersihir. Rin tanpa sadar berjinjit ketika Venka perlahan mendekati mereka.
“Ayo! Ayo! Putih! Maju, Putih!”
Tangan dingin menyentuh dan bergerak melepas genggamannya, memecah sihir itu. Rin terkesiap ketika menyadari dirinya telah menggenggam erat ujung jaket Nezha sejak tadi. Gadis itu menganga ketika Nezha meletakkan kembali tangan Rin di sisi tubuhnya. Ekspresinya tidak mengkhianati apa pun dan ketika Venka melemparkan tongkat itu padanya, Nezha menangkap dan berlari.
Dia tidak mendengarkan Venka yang mengoceh dengan Nohai. Venka telah mengklaim posisi kedua yang berhimpitan dengan tim merah. Nezha melanjutkan perjuangan itu dengan tekun. Dia tidak terlihat terganggu dengan orang besar berteriak-teriak yang merupakan wakil tim merah. Nezha terlihat tenang dan yakin, sedangkan Rin merasa jantungnya akan segera lepas dari dada.
“Baji. Dia atlet tinju,” ujar Nohai. “Memiliki dendam pribadi pada tiap pentolan olahraga bela diri lain di akademi. Haus darah.”
“Kenapa bukan dia pelari terakhir?” bisik Rin.
“Karena pelari terakhir adalah pelari sungguhan. Semua orang memakai strategi ini. Kalau kau perhatikan, tim biru punya Unegen—dia selalu jadi nomor dua di klub larimu,” Venka menginformasikan. “Kau harus kalahkan dia juga. Seandainya kau hadir kemarin, Kitay punya….”
“Aku tahu Unegen, aku juga tahu si pelari nasional,” potong Rin bersikeras. “Aku akan mengalahkan mereka.” Rin harus percaya pada dirinya sendiri, jika tidak dia akan terjatuh dalam dua langkah. Semut-semut kecil seolah merayap di lengannya, menggigitnya dan Rin harus menyentak diri dua kali sebelum beradu pandang dengan Nezha yang sebentar lagi selesai di lintasannya.
Syukurlah dia berkeringat, atau Rin akan mengira dia bukan manusia. Pemuda itu tidak menoleh ke kanan atau kiri namun lurus ke arahnya. Lensa cokelat itu berusaha menyampaikan sesuatu pada Rin dan gadis itu kesulitan memahaminya berkat panas dan kebisingan di sekitar mereka. Waktu terasa begitu lama sebelum tangan kiri Nezha menarik pergelangan tangannya dan meletakkan tongkat itu dengan mantap di tangan Rin sebelum menutup genggaman tangan Rin dengan jemarinya sendiri.
Semua terjadi begitu cepat dan setelah mengamati dari dekat, Rin paham sepersekian persen arti tatapan itu adalah Nezha percaya padanya. Samar terdengar suara Venka, dan bagaimana Kitay berteriak dari kursi penonton paling optimal. Dan di antara semua keributan itu Rin mendengar suara familier lain menyebutkan namanya berulang kali tetapi satu suara akan tersangkut di telinga bahkan sampai Rin menginjak garis finish.
“Lari.”
Rin berlari, meninggalkan Nezha serta Venka dan Nohai. Dia berlari. Dia menabrak angin yang mengahalangi. Dia seolah melayang. Langkahnya begitu ringan, seperti tidak ada tanah yang dipijak. Sekilas rasa takut merayapinya tetapi Rin berlari, dan berlari. Dia merasakan seseorang berbicara di sisi kirinya, dia tahu itu Unegen—apakah semua orang melancarkan serangan psikologis macam ini? Rin menggertakkan gigi dan berlari.
Tangannya menggenggam tongkat terlalu erat, dan dia yakin jika dia punya cukup tenaga tongkat itu akan patah ketika sisi kanannya terisi dan orang itu merebut posisi pertama darinya. Rin tahu tubuhnya kecil dan kurus, dia berlari dengan gesit namun langkah yang diambilnya lebih banyak daripada orang yang memang tinggi. Namun itu tidak masalah, karena Rin akan segera mengalahkannya.
Gadis itu merasa dia salah meletakkan kaki ketika tiba-tiba merasakan tanah (seharusnya dia melayang), dan dia merasa semua hasil lari tanpa diawasi selama ini terempas ke tubuhnya—memaksanya berlutut, menghentikannya berlari. Rin tidak tunduk pada impuls itu; dia tetap menggerakaan kaki sampai tidak ada eksistensi di sisi kanan dan kirinya. Lalu dia terkesiap ketika telah menginjak garis finish dan kakinya menolak untuk berhenti. Pandangannya berkabut, paru-parunya seolah tersumbat. Rin berlari dan tidak bisa berhenti—kalau berhenti adrenalinnya akan habis dan dia akan merasakan perih luar biasa pada pergelangan kakinya, dia tidak ingin—tidak ingin—
Rin terbelalak ketika siluet memasuki pandangannya. Gadis itu memekik dan tabrakan yang kemudian terjadi sama sekali tidak cantik. Dahinya terantuk dengan dagu tajam dan kakinya tak sengaja menendang tulang kering penangkapnya. Dia baru bisa bernapas ketika mereka berdua telah sukses jatuh ke tanah dan suara tepuk tangan tidak lagi begitu membanjiri kebisingan.
Bahunya dipeluk dengan penuh keyakinan lalu diguncang perlahan, Rin tidak ingin bangun. Dia tidak mau mengangkat kepala dan mengetahui bahwa kemenangannya hanya ilusi.
Tubuhnya diguncang keras kali ini. Seseorang menarik jaket olahraganya dan Rin memekik lagi.
“Hei!”
Sosok yang sangat familier berdiri di hadapannya. Mata cokelat itu menyipit tidak suka ke arahnya dan kemudian ke arah Nezha yang masih berusaha duduk.
“Altan…” sapanya dengan dada yang terasa nyeri. Dia tidak tahu ekspresi macam apa yang terpasang di wajahnya, terkejut atau bahagia atau campuran keduanya.
“Rin,” Altan menghela napas dan menggeleng tanda tidak terhibur. “Aku bangga padamu, tapi sungguh seleramu sangat buruk.”
“Altan!” Merah menghiasi pipi Rin. Dia berusaha melangkah namun nyaris saja terjatuh jika Altan tidak memegangi bahunya. Gadis itu meringis ketika menyadari denyut yang membalut lutut sampai ujung jemari kaki kirinya.
“Riiiinnn!”
Kitay datang dan menabraknya, kembali membawa Rin jatuh ke tanah, kali ini dengan erang kesakitan yang tidak bisa ditahan lagi sehingga semua berusaha menjauhkan mereka berdua dan sepakat Rin harus diangkat dengan tandu.
**
Itu bukan ilusi. Rin menang.
Dan tim putih adalah pemenang festival olahraga yang separuh acaranya tidak bisa dilihatnya akibat mendekam di ruang kesehatan. Kelelahan luar biasa. Pergelangannya terkilir dan otot kakinya memar-memar akibat aktivitas larinya yang berlebihan selama ini. Gadis itu duduk dengan gusar dan menerima semua omelan bukan hanya dari petugas kesehatan tapi juga Altan. Kitay dengan bijak hanya duduk di sisi kasur Rin dan menggenggam erat tangannya.
Di samping Altan berdiri pemuda berambut putih aneh yang berulang kali tersenyum geli ketika melihat Rin. Rin memicing dan matanya bertemu dengan kilau emas menakjubkan yang balik memicing main-main ke arahnya. Kenapa orang ini?
“Jadi, yang mana pacarmu? Yang ini atau yang menangkapmu tadi?” Chaghan Suren bertanya kalem.
Rin terlalu terpana bahkan untuk menjawab. Kitay bersedekap. “Rin tidak punya pacar,” ujarnya defensif.
“Oh, begitu,” Chaghan menggoda. “Aku yakin memang begitu.”
“Akademi ini terlalu padat untuk aktivitas semacam itu.”
“Oh, aku yakin sekali,” balasnya sebelum berkedip pada Kitay dan meninggalkan ruang kesehatan.
“Kenapa kau bisa pacaran dengannya?” tuntut Rin. “Tunggu, jangan jawab. Aku tidak ingin tahu.”
Altan secara mencengangkan tersenyum tipis. Altan tidak pernah berbagi detail kehidupannya dengan Rin secara gamblang, dan Rin tidak menyangka hal pertama yang akan Altan ceritakan adalah mengenai pacar barunya—pacar pertamanya. Rin dan Kitay mendengar secara seksama sembari mengerjap-ngerjap layaknya burung hantu. Altan tampak tak mempersalahkan itu, sayangnya pintu diketuk dan dongeng itu terjeda sesaat.
Nezha dan Venka berdiri di luar pintu. Gadis itu tersenyum lebar sambil mengangkat piala tinggi-tinggi sementara Nezha yang tangannya penuh dengan buket bunga memutar mata.
“Kalian melewatkan upacaranya!” kata Venka terlampau senang.
“Aku yakin kau sangat menyukainya,” canda Rin sarkastik namun efeknya tidak sesuai yang dia harapkan.
“Kau akan menyukainya, Rin,” timpal Kitay. “Mengingat perolehan poin kita berbeda sangat tipis dengan tim merah. Menang telak di estafet benar-benar mengamankan posisi sehingga kau pahlawan sekarang.”
“Oh, Rin akan sangat menyukainya.” Altan tampak puas ketika Rin tersenyum masam. Dia mengacak rambut pendek gadis itu. Sepupunya itu tidak repot-repot memperkenalkan diri dengan Venka atau Nezha, hanya mengangguk saja sebelum memeluk Rin sejenak dan meninggalkan ruangan.
Altan memberitahu kalau orang tua Rin sangat ingin datang namun kesibukan sang ibu dan keengganan ayahnya meninggalkan istrinya sendirian di rumah menjadi penghalang, Rin hanya mengedikkan bahu mendengar itu. Dia bahkan tak tahu kalau Altan akan sempat datang. Hubungan Rin dengan kedua orang tuanya menegang karena Rin secara teknis kabur dari Speer, dan meski berbicara di telepon secara rutin dengan ayahnya … mereka secara spesifik menghindari topik kepergiannya itu.
Venka datang mengunjungi Rin semata-mata untuk pamer piala dan menyeret Kitay yang dicari oleh kakak perempuannya sejak tadi. Sahabatnya itu dengan enggan melepas tangan Rin dan memeluknya juga sebelum meninggalkan ruangan, berjanji akan menebus semuanya pada di musim panas nanti. Rin menggeleng dan segera mempersilakannya keluar.
Nezha berdiri canggung di tengah ruangan sepanjang semua kesibukan itu. Ketika pintu ruang kesehatan tertutup rapat, dia bergerak untuk duduk di kursi tepat di samping kasur. Nezha lalu membaringkan empat buket bunga di pelukannya samping Rin. Gadis itu mengamati bunga-bunga dengan serius, menghitung kelopaknya satu per satu, karena jika dia mendongak dia akan melihat Nezha yang mengamatinya intens.
“Aku minta maaf.”
Mau tak mau Rin menatap Nezha cepat hingga rasanya sesuatu terjadi pada tulang lehernya. “Maaf?”
“Untuk apa yang kukatakan saat diskusi strategi.”
Rin merasakan panas familier memenuhi dadanya. Bagus, dia lebih senang marah kepada Nezha, mengenyahkan perasaan aneh yang merongrong selama ini. “Jangan bohong. Kau terlihat sangat siap, hanya menunggu saat yang tepat untuk mengucapkannya padaku. Kau mendapatkan kesempatan itu dan mengambilnya.”
Nezha berjengit. “Itu tidak benar.”
“Tipu muslihat, kau menganggapku inferior dan—”
“Tidak. Tidak, Rin, aku tidak menganggapmu inferior,” jelasnya lelah. Dia tidak seperti manusia es yang Rin amati dari belakang selama ini, atau atlet bugar yang tadi berlari tanpa napas yang memburu sedikit pun. Dia seolah tidak tidur selama berhari-hari.
“Lalu, mengapa kau—” Rin menelan ludah. Bagaimana caranya tidak menyedihkan ketika mengutarakan, “mengapa kita begini, Nezha?”
Pemuda itu tampak tersesat.
“Mengapa kau mengabaikanku?” Rin berusaha merubah nada bicara menjadi ketus. “Jika kau tidak merasa aku lebih rendah darimu, mengapa mengabaikanku?”
“Aku … aku akui kepalaku rasanya tidak benar setelah masuk Akademi. Aku memikirkannya, Rin, sumpah, kenapa aku harus menempatkan diriku di risiko seperti itu untuk menyelamatkanmu? Saat pertama kali kita bertemu, dan saat tadi. Aku tidak tahu. Aku hanya melihatmu dan merasa bahwa kau …” Nezha mengembuskan napas. “Bahwa aku harus melakukannya.”
Rin seolah kembali ke lintasan dan berlari. Dia mengerjap dua kali dan memutar kalimat itu di kepalanya berulang kali.
“Aku minta maaf, aku tahu aku menyakitimu,” katanya perlahan. “Saat diskusi strategi aku tahu Kitay berniat melakukan sesuatu, jadi aku ikut serta di dalamnya. Ya, jangan tatap aku seperti itu, Kitay tidak memberitahuku—aku tahu karena aku telah berteman dengannya sejak lama. Dia tidak semisterius yang dirinya bayangkan.”
Rin tersenyum tipis. “Ya, Kitay memang tidak misterius.”
“Mengetahui rencana Kitay dan ikut serta di dalamnya tidak menghapus fakta bahwa aku telah menyinggungmu. Aku minta maaf.”
Ketika menatap sorot mata cokelat itu, Rin bisa merasakan oksigen di ruangan menipis dan memaksa napasnya untuk memburu. Semua detail tentang lawan bicaranya memaksa masuk ke otak Rin. Nezha telah melepas jaket birunya, hanya kaos putih Sinegard sekarang. Ikat kepala putih simbol tim mereka yang hendak lepas, dan sensori berlebihan membuat Rin menyadari bagaimana kulit putih itu berkilau ditimpa cahaya matahari terbenam. Ekspresi Nezha tertutup namun penuh pengharapan. Rin mengerjap dua kali.
Semenit. Dua menit.
“Oke.”
Jika suatu hari Rin menyesalinya, dia pikir dia tidak akan sanggup menyesalinya dalam waktu lama; melihat bagaimana sudut bibir Nezha perlahan terangkat dan menampilkan senyum paling brilian sepanjang masa. Pikirannya berbisik bahwa ini keputusan terbaiknya setelah memutuskan untuk datang ke Sinegard.
“Aku hanya … tidak suka seseorang melakukan sesuatu di belakangku, memutuskan sesuatu yang melibatkan aku tetapi melakukannya di belakang punggungku. Seolah aku hanya alat, yang tak pantas tahu, hanya boneka lain yang perlu ditarik benangnya untuk pertunjukan sandiwara yang lengkap.”
Rin lari dari Speer karena itu. Anak kandung perempuan satu-satunya, didikte sedari dahulu bahwa hidupnya bukanlah miliknya—bagaimana semua orang membandingkannya dengan sang ibu; sang ibu yang pintar, rapi, berwibawa. Bagaimana dia memiliki wajah sang ibu namun tingkah petakilan sang ayah, bagaimana dia harus didisiplinkan untuk menjadi pewaris yang pantas.
Hidup Rin adalah lelucon sedari dahulu, sesuatu yang cocok ditonton karena teatrikalnya akan membuatmu menangis karena terlalu banyak tertawa.
“Jika kau adalah boneka, Rin, aku yakin kau akan memutus benang itu di hari pertama, tidak peduli jika kau tak bisa hidup tanpa benang itu. Karena hidup tidak artinya selama kau masih mengikuti naskah yang telah ditulis sebelumnya, bukankah begitu?”
Rin terbahak keras. Nezha menatapnya bingung.
“Kau sangat puitis.”
“Kau yang memulai dengan boneka dan sandiwara,” timpalnya tidak terima.
“Sangat puitis,” Rin cegukan sekali, kehabisan tawa. “Sayang kau sedikit keliru.”
“Oh?”
“Aku tidak semulia itu. Aku mungkin akan membakar benangnya, berharap api itu akan bergerak ke jari-jari pengendalinya.”
“Kau bisa melukai dirimu sendiri kalau melakukan itu. Api jarang bisa dikendalikan.”
Rin mendengus geli. “Menjadi boneka lebih buruk, ingat?”
“Benar. Maka kau hanya perlu memutus benangnya saja, membakar itu tindakan balas dendam.”
“Yah, bersyukurlah aku tidak memiliki api, bukankah begitu?” tukasnya jengkel. Kenapa Nezha begitu persisten menentangnya?
Pemuda itu senyap kemudian. Dia menunduk, jarinya menyentuh satu per satu kelopak bunga matahari di buket dengan gerakan lamban. Rin merasakan detak jantungnya kembali normal ketika mengamatinya kendati tidak meredakan sama sekali panas yang sedari tadi menyelimuti banyak bagian tubuhnya.
“Aku mengerti, Rin,” ujar Nezha lembut, matanya tak terlepas dari bunga itu.
Nezha duduk menemaninya hingga matahari betul-betul tenggelam. Mereka berbicara dengan suara kecil nyaris berbisik. Tentang hari pertama itu, tentang Kitay, tentang Venka, tentang lari tadi, tentang lebam di dagu Nezha yang disentuh Rin tidak sengaja karena penasaran (dan Nezha terkekeh, Rin mencengkram erat bantalnya), tentang tes triwulan mendatang, dan tentang bunga-bunga yang dibawa Nezha.
“Untukmu.”
“Aku tidak butuh ini,” rengutnya. “Aku mau pialanya.”
“Pialanya akan dipajang di ruang kelas,” Nezha tampak terhibur. “Bawalah, semua orang ingin kau memilikinya.”
“Jadi aku betulan sudah jadi pahlawan?”
“Betulan.”
Nezha membiarkan Rin melingkarkan tangan di pinggangnya sementara tangan pemuda itu merangkul bahu Rin. Mereka masing-masing membawa dua buket secara kesulitan sehingga perjalana mereka untuk keluar dari gedung pun terasa begitu lama. Rin mencurigai mereka juga sengaja mengambil langkah terlalu kecil, tidak ingin percakapan ini berakhir, tidak ingin hari ini berakhir.
Karena bagaimana jika semua hanya fragmen imajinasinya semata? Bahwa berbaikan dengan Nezha tidak pernah terjadi, dirinya memenangkan estafet tidak pernah terjadi, Sinegard tidak pernah terjadi? Serotonin dan dopamin yang beredar di tubuhnya menyebabkan stimulasi berlebih membuat Rin tidak bisa berhenti tersenyum dan tergelak pada hal yang sama sekali tidak patut atas reaksi macam itu. Ketika dia nyaris tersandung batu dan Nezha mengeratkan rangkulan pada bahunya, baru Rin sadar kalau semua ini bisa raib kapan saja.
Rin menelan ludah dan perlahan melepas pegangan pada pinggang Nezha.
Ketika keluar dari gedung, cahaya rembulan menyambut mereka. Putih pucat sinarnya dengan lembut menyentuh Nezha, membuat pemuda itu menjadi makhluk yang sama sekali lain di lensa Rin. Dia sadar Rin mengamati dan tersenyum begitu tipis kalau-kalau Rin berkedip dia ragu senyum itu pernah ada di sana. Namun pengaruhnya akan tinggal selamanya.
Jika dia tampak tampan di bawah sinar matahari maka kini Yin Nezha terlihat begitu menawan. Sebuah pemandangan yang akan berusaha diilustrasikan para pelaku seni sampai dekade berikutnya; sesuatu yang terlalu fantasi untuk menjadi nyata sekaligus terlalu nyata untuk menjadi sebuah fiksi.
Rin merasakan tangannya kembali meraih pinggang Nezha.
Semua bisa raib kapan saja tetapi pemuda ini—dan semua hal yang terjadi setelah Rin menatapnya untuk pertama kali; Rin berharap tidak ada skenario di mana mereka tidak mengalaminya, di mana dia tidak bertemu dengan Nezha atau Kitay atau Venka, di mana mereka tidak berusaha untuk meraih Rin, di mana mereka tidak berusaha untuk berjalan bersisian.
Oh, Dunia, Rin mendapati dirinya berbisik dalam hati, tolong jangan rebut mereka dariku.
**
teatrikal babak pertama – selesai
