Actions

Work Header

Steep step

Summary:

"Kamu beneran bisa hipnotis?"
“Kalau kamu memang suka sama aku, bantu aku.”
Setelah menyatakan cinta tiga kali, akhirnya Taesan bisa selangkah lebih dekat dengan orang yang sudah lama dia sukai. Namun, yang terjadi adalah hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tidak masalah, namun apakah membantu Jaehyun menemukan kepuasan erotis dengan hipnotis adalah keputusan yang benar untuk Taesan ambil?

 

a.n: cerita ini terinspirasi dari manga お望みでしたら催眠を ~槇さん秘密の恋愛セラピー~.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Saat sedang berada di sebuah acara kampus, seseorang yang kenal dengan hampir semua orang, Myung Jaehyun, tidak pernah berhenti untuk berkeliling meja-meja di restoran grill yang sudah penuh dengan partisipan orang mereka. Suasana riuh tertawa manusia dan bunyi desis daging yang dipanggang membuat semangat gairah muda didalam dirinya mendidih.

 

Sebagai kakak tingkat yang sangat aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa dia tentu sangat menyambut adik tingkat dengan sangat antusias. Namun, ketika pandangannya mengarah ke orang yang berada di ujung meja yang ternyata sedari tadi mengamatinya dengan seksama dia menjadi sedikit tidak leluasa, seperti menciut sedikit. Sangat familiar, karena dari tatapan itu Myung Jaehyun teringat pernyataan cinta yang dia terima baru saja lusa lampau untuk yang ketiga kalinya.

 

Teman-teman seangkatan menyebutnya "Si Tampan yang Sedikit Gila" karena tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pemilik sebutan tersebut aka Han Taesan. Dan Myung Jaehyun adalah korban dari Si Tampan yang sedikit gila bersebut, bagaimanapun, Han Taesan melakukan ketiga pernyataan cintanya secara terang-terangan. Dia bahkan tidak peduli jika ada yang mendengar maupun melihat, dia menuruti intuisi batinnya yang gila itu. Pernyataan sangat kontras dengan kepribadiannya, gap keunikannya sudah sangat diluar kata wajar.

____

 

Kalau diingat-ingat, pernyataan cinta pertamanya sangat malu-malu.

 

"Oh, sepertinya Aku suka Hyung."

 

Yang kedua adalah pernyataan spontan ketika seorang teman menanyakan alasan dia menyukai Myung Jaehyun.

 

"Aku selalu paling suka dia karena mudah diatur."

 

Dan yang ketiga adalah pernyataan gila saat melakukan melakukan pembukaan Unit Kegiatan sebagai ketua, dimana dia harus melakukan puisi dari setiap suku kata.

 

"Aku suka kamu Myung Jaehyun."

 

Apa yang berbeda dari dua pernyataan sebelumnya? Itu karena dia melakukannya di depan semua mahasiswa baru dan dengan bahasa China padahal dia baru saja mempelajarinya (bukan bahasa yang dia kuasai) dan dengan sangat percaya diri.

---

 

 

"Mohon Perhatian semuanya! Mari kita langsungkan dan teguk habis sehingga kita semua menjadi dekat!! Cheers!! " teriak Jaehyun mengangkat gelas birnya dan diikuti teman-temannya untuk melakukan cheers bersama.

 

Semua orang saling berbincang, berinteraksi dengan hangat dan banyak permainan dilakukan. "Ngomong-ngomong, gimana pacar terakhir kamu, Jaehyun?" salah satu temannya membawa topik pembicaraan yang sedikit sensitif untuk Jaehyun akhir-akhir ini. Myung Jaehyun dengan ekspresi kesalnya memukul meja spontan dan menjawab, "Kalian ga bakal percaya, entah kenapa aku bener-bener ga tau bagaimana... tapi semua mantanku tidak ada yang dapat membuatku merasa puas di ranjang."

 

"Hahaha dasar gila." teman-temannya menertawakan ke-frontal-an Jaehyun. "Terdengar seperti pemain kelas atas." sahut satu yang lainnya. Tertawaan mereka sangat menyebalkan, padahal ini masalah serius bagi Jaehyun, dia benar-benar merasa rugi ketika berhubungan seks tapi tidak merasa puas.

 

Terakhir kali saat bercinta, Jaehyun bahkan tidak bisa keluar, dia hanya sampai di pre-cum namun pacarnya sudah berhenti. Bukan, itu bukan yang pertama kali. Sudah sejak 2 tahun berpacaran, dia bertahan karena rasa sukanya namun pacarnya bersekolah di luar negeri akhirnya mereka putus karena tidak sanggup melakukan LDR, ternyata Jaehyun juga tidak begitu suka untuk mempertahankannya.

 

"Kudengar kamu bisa lebih cepat cum kalau badanmu sensitif. Tapi jika tidak punya bawaan genetis memang sedikit susah, mungkin bisa lakukan terapi." ucap teman yang duduk disamping Jaehyun.

 

Jaehyun mendengus, "Aku tidak jago dengan hal begituan, kalian tahu itu.. ck." faktanya, Jaehyun memang tidak pandai melakukan hal konsisten seperti terapi.

 

"Kalau mau instan kamu bisa coba hipnotis,"

 

"Kudengar Han Taesan bisa melakukannya."

 

"Terakhir kali saat adik tingkat kita ada yang takut terhadap serangga dia hipnotis sesaat bisa bahkan memegang serangga.. saat melihatnya aku beneran pikir dia beneran seperti dukun, mungkin kamu bisa suruh dia untuk buat badanmu lebih sensitif, tapi itu lucu sih kalau beneran bekerja."

 

Tahayul omong kosong macam apa yang dibicarakan teman-temannya adalah satu yang datang di pikiran Jaehyun. Tapi karena itu sedikit menarik, dia melirik ke arah Taesan yang juga mendengarkan di meja yang sama. Meskipun posisi mereka sama-sama diujung, mereka bersebrangan jauh.

 

Jaehyun berdiri dan mendekat ke arah Taesan, rasa ingin tahunya sangatlah besar dan darahnya sedikit memanas efek dari minuman bir yang tadi dia minum.

 

"Kamu beneran bisa hipnotis?"

 

Taesan tersenyum kecil melihat orang yang menggemaskan itu disampingnya, rasa sukanya sedari teman di bangku sekolah masih sangat kuat. "Tentu, coba duduk disini." Taesan menarik kursi dari meja lain ke dekatnya. Menepuk kursi kayu tersebut untuk isyaratkan Jaehyun duduk disitu. Sedikit kaku untuk benar-benar mempercayai orang yang sudah dia abaikan pernyataan cintanya tiga kali.

 

"Sebelumnya hipnotis ini hanya bisa berjalan lancar kalau kamu adalah orang yang memang menyerahkan seluruh dirimu saat berada di alam hipnotis, tapi aku yakin kalau kamu orangnya, pasti bisa, Hyung."

 

"Jangan remehkan aku, cepat buktikan saja." tipikal klasik Myung Jaehyun tidak bisa bersabar.

 

"Kamu harus mengikuti arahanku dengan baik.. Pertama kepal tanganmu dan perhatikan ujung jari yang kamu lihat pertama... Fokus dan teruslah tatap..” sembari memberi perintah terhadap Jaehyun, Taesan sebenarnya sangat menahan diri untuk menjaga fokusnya sendiri karena pria dihadapannya begitu menggemaskan, dia hanya ingin melahapnya.

 

“Jangan kehilangan fokus dan jangan memikirkan apapun. Apa yang kamu rasakan?”

 

“Uhm.. jari-jariku perlahan lepas genggaman?”

 

“Ya, itu akan perlahan membuka. Jika kamu terus menatapnya maka kamu akan merasa tanganmu perlahan kaku.. dan dalam hitungan ketiga tanganmu yang kamu genggam itu akan terkepal dan tidak bisa terbuka.” Taesan memeriksa apakah Jaehyun benar-benar terpengaruh, dan dia berhasil. “Satu..   Dua..   Tiga..  coba buka genggaman tanganmu itu sekarang.” Lanjutnya.

 

Ketika Jaehyun mencoba untuk membukanya, dia kesulitan dan merasa aneh, hal ini beneran bekerja. “Sialan.. ini beneran gabisa dibuka, Taesan.” Lalu Taesan tersenyum.

 

“Baiklah jika aku menepuk tanganku sekali kamu akan bisa kembali membuka genggamanmu.” Kemudian Taesan menepukkan tangannya dan benar Jaehyun langsung dapat membuka tangan yang kaku tadi. Teman-teman sebagai penonton pertunjukan tersebut pun memberikan tepuk tangan apresiasi kepada Han taesan.

 

            Jaehyun yang sedikit masih tidak percaya menyuruh Taesan untuk melakukan beberapa trik lain dan mereka melakukan beberapa hal seperti membuat Jaehyun merasakan saus pedas menjadi terasa manis berapapun banyaknya dia memakannya, membuat Jaehyun melihat sebuah ilusi yaitu daun perilla menjadi uang, dan akhirnya Jaehyun mengakui bakat Taesan. Dia bertanya-tanya sejauh mana Taesan dapat melakukan hal tersebut, namun dia pikir sudah cukup dia takut bereksperimen terlalu jauh dan melewati batas.

 

            Selagi acara berlangsung, Jaehyun meminum alkohol sedikit lebih banyak dari porsinya biasanya karena sedikit meluapkan frustasinya dan beberapa hal. Sudah selesai acara berlangsung, beberapa orang melanjutkan pesta dan berencana berpindah restoran lain, namun Jaehyun sudah cukup kehilangan kesadaran sehingga dia memilih untuk berhenti dan akan memilih untuk pulang kerumah saja.

 

            Berjalan terhuyung ke belakang sedikit karena badannya tidak seimbang dan seseorang menahan dirinya agar tidak terjatuh, Han Taesan yang tinggi itu menaruh tangannya di pundak Jaehyun agar dia bisa lebih seimbang. “Hyung yakin bisa pulang dengan keadaan seperti itu ?” Jaehyun merenungkan pertanyaan itu sebentar dan menjawab “Selama kakiku bisa berjalan aku pasti bisa balik kerumah.”

 

“Gabisa, aku pesenin taksi saja ya biar kamu aman, hyung” Taesan melepaskan tangannya setelah Jaehyun sudah sedikit seimbang.

 

            Sebenarnya Jaehyun dan ego-nya yang sedikit besar itu kesal saat menyadari Taesan yang memang terang-terangan menaruh jarak diantara keduanya. Tapi dia juga menyadari jika dia juga akan marah bila seseorang melewati batas, namun tetap dia sedikit kesal dengan Taesan, jika dia begitu menghindarinya apakah itu artinya Taesan tidak sesuka itu kepadanya untuk melakukan modus ataupun menggodanya. Yang selama ini Taesan lakukan hanyalah pernyataan cinta, itulah mengapa Jaehyun tidak menganggap Taesan menarik.

 

“Kalau kamu memang suka sama aku, bantu aku.”

 

“Ya?” si lebih tinggi yang awalnya sibuk berkutat dengan handphone untuk memesan taksi mengalihkan fokus ke orang dihadapannya. “Oh astaga ini kedengarannya memang sedikit aneh, tapi bisakah kamu bantu aku merasakan yang memuaskan dengan hipnotismu seperti tadi dalam hal yang erotis?” ucap Jaehyun dengan sedikit malu dan ragu. “Oh, apa kamu yakin?” Taesan ingin memastikan sekali lagi apa yang dia dengar. Jaehyun menutup mukanya dengan tangannya sebelum kembali menjawab, dia bertengkar dengan ego didalam dirinya. “Aku tidak akan menyesalinya sedikitpun, jadi, apakah kamu mau bantu?” ucap Jaehyun.

 

Sedikit hening karena si yang lebih tinggi sedang berpikir beberapa kemungkinan dan pertimbangan. “Oh astaga aku tahu aku terdengar bodoh barusan, lupakan saja, Taesan. Aku akan pulang saja.” Jaehyun mengucapkannya karena setiap detik menunggu jawaban Taesan terasa membakarnya, Taesan menarik tangan Jaehyun dan berkata, “Jika itu memang membantumu, apapun itu bukan masalah besar.”

 

-----

 

            Keduanya sudah duduk di sofa Apartemen Taesan. Jaehyun melihat kesana-kemari kediaman Taesan dan dia sedikit merasakan iri karena tidak adil pria yang begitu tinggi, tampan, dan bahkan punya tempat tinggal bagus. Apa gunanya menjadi favorit tuhan jika hanya menyukai orang sepertinya, pikir Jaehyun.

 

            Dengan hanya menyisakan pakaian dalam, Jaehyun sebenarnya merasa sangat malu dan lebih ke dalam keadaan tidak menyangka dirinya akan berbuat segitu jauhnya untuk sebuah keingintahuan. Tidak pernah sebelumnya dia merasakan kepuasan, jadi meskipun dia merasa canggung jika nanti harus dihadapkan masalah yang sama saat berada di hubungan romantis, setidaknya dia mengerti standar kepuasan apa yang dia cari daripada bertanya-tanya dan menyakiti pasangannya.

 

“Perlahan ambil nafas yang dalam.. Relax.. pejamkan matamu.” suara Taesan yang begitu tenang membuat Jaehyun merasakan dirinya kalah kepada setiap perkataanya. Seperti sebuah kesadaran yang berada di dalam diri Jaehyun untuk mengambil keputusan saat ini sepenuhnya berada di telapak tangan Han Taesan, menjadikan jiwa raga Jaehyun menjadi milik Taesan.

 

“Kamu sedang berjalan disebuah tangga yang menuju kebawah, yang dimana setiap langkah yang kamu ambil berarti semakin kamu akan semakin turun kedalam dunia yang penuh dengan kepuasan.” Setiap ucapan dan perintah yang diperintahkan ia lakukan, seakan emosi dan sensasi saat ini dikendalikan penuh. “Perlahan tapi pasti.. satu langkah... dua langkah... tiga langkah..” suaranya perlahan terdengar samar dan Jaehyun bisa merasakan sesuatu namun tak dapat ia jelaskan dengan pasti apa hal tersebut.

 

“Hyung sudah sepuluh langkah dalamnya, sekarang yang perlu kamu lakukan hanya membayangkan ‘Perasaan Enak’ dan serahkan sisanya padaku.”

 

            Suara detik jam yang terdengar lebih tajam, angin dari Air Conditioner yang menerpa samar-samar kulit, Jaehyun pun menyerahkan dirinya kepada Taesan. “Dalam hitungan ketiga kamu bisa membuka matamu dan saat terbangun kamu nantinya akan merasakan semua kulit yang terekspos di anggota tubuhmu menjadi sangat sensitif. Satu.. Dua.. Tiga..”

 

“Dari ujung rambut sampai ujung kaki kamu saat ini merasakan semuanya menjadi sensitif.” Ucapan Taesan mempengaruhi Jaehyun sehingga seluruh kulitnya yang tersapu bahkan hanya oleh sofa membuatnya bergidik. “Meskipun saat ini tidak ada yang menyentuhmu secara langsung namun kamu dapat merasakan tangan yang gentle perlahan membelai tubuhmu.”

 

            Badan Jaehyun menggelenyar, merinding dia rasakan hingga tulang belakang. “Lengan.. Punggung.. Perut.. Dada.. konsentrasi pada saraf tersebut. Mereka menjadi lebih dan lebih sensitif.” Taesan dan kontrol yang dia pegang membuat Jaehyun tanpa sadar badannya mengeluarkan suara erangan kecil, ‘Dia bahkan tidak menyentuhku, tapi seluruh badanku merasakan semuanya.’ batin Jaehyun.

 

            “Tae..san..” Jaehyun terbata. “Baik, sepertinya memang bekerja. Orang dengan imajinasi baik memang bisa merasakan kepuasan dari hipnosis. Kamu sudah merasa enak seperti yang sudah kuucapkan tadi.” Taesan bergerak mendekatkan diri ke Jaehyun yang badannya sedikit menunduk, karena ketika ia merasa malu badannya cenderung menghadap ke bawah.

 

Tangan Taesan kemudian berada di perut Jaehyun dan menyapunya perlahan ke atas “Rasa enak yang tadi kamu rasakan perlahan turun menuju kebawah, dengan perlahan-lahan sensitifitas naik di bagian penis dan prostatemu.” Jaehyun yang kelabakan mendapati dirinya mulai sedikit berat dalam mengambil nafas. “Ah.. Tunggu Taesan..” Pahanya bergetar, punggungnya sedikit melengkung kenikmatan. Penis Jaehyun perlahan berangsur menonjol dibawah celana dalamnya, yang dimana Taesan pun tahu hal tersebut pasti tidak nyaman.

 

“Semakin kamu fokus ke area tersebut, semakin rasa panas dan tidak nyaman yang kamu rasakan, namun itu menggesek di celana dalammu hanya memberimu lebih banyak keenakan.” Jaehyun menggeliat tidak nyaman, membuat badannya menyenderkan diri kepada Taesan yang berada di sampingnya. Celana dalam yang tadinya berwarna abu-abu muda menjadi sedikit berwarna tua karena cairan pre-cum mengalir dari ujung penis Jaehyun.

 

“Bayangkan aku menyentuh ujung penismu yang begitu gatal dengan perlahan membuat sebuah lingkaran disana, didekat area yang sensitif.” Keringat berkucur dari kening Jaehyun, badannya yang tereskpos tidak membantu mendinginkan suhu tubuhnya, semuanya terasa panas, bahkan ketika tidak satupun jari menyentuhnya.

 

‘Ini sangat nikmat, pinggangku tak sadar sedari tadi bergetar.’ Batin jaehyun dan tatapannya yang sedikit hilang arah karena dia hanya terfokus pada sensasi yang badannya rasakan. “Mengurut dari atas kebawah membungkus penismu di seluruh tanganku dan meremasnya cukup untuk membuatmu dekat untuk-“

 

“Ah Taesan..ah.. lagi.. sentuh lagi..” tangan Jaehyun meremas baju Taesan. Taesan yang tadi sangat fokus menjadi sedikit resah karena dia tidak mau terbawa diri untuk melahap mangsa potensial yang berada di hadapannya. “Baiklah, Hyung. Dengarkan aku, saat ini aku akan menyentuh jarimu saja. Kamu bayangkan bahwa jari ini terkoneksi dengan penismu.” Jaehyun mengangguk lalu Taesan mulai menjilati jarinya Jaehyun dari ujung ke bawah kemudian menghisapnya sembari memutarkan lidah di jari tersebut.

 

“Enak, Hyung?” pertanyaan Taesan seharusnya tidak perlu dipertanyakan karena jawabannya langsung dapat dilihat dari penis yang bergerak berkedut dibawah celana dalam Jaehyun. Jaehyun tidak menjawab secara lisan namun dia selalu membatin secara berulang ‘Luar biasa..’.

 

“Lihat, Hyung. Apa yang terjadi jika aku menggigitnya sedikit?” lalu berproses untuk melakukannya. “Tunggu.. Ahhh.. Hhah..Gawatt” suara erangannya menjadi lebih keras kakinya menekuk dan jari kakinya melengkung kedalam, Taesan tahu tandanya itu sudah semakin dekat.

Bukannya berhenti, Taesan melanjutkan untuk mengemut lebih banyak dari sebelumnya sehingga Jaehyun sedikit berteriak, “Gaaahh.. Hngg.. Tae..sannn.. Enakkk..” kepalanya menggeleng lalu dia keluar, spermanya keluar mengotori celana dalamnya. “Hmm.. Manisnya.” Ucap taesan spontan.

 

Posisi Jaehyun menjadi berantakan sebab saat mendekati kepuasan tadi dia banyak bergerak sehingga kepalanya sekarang berada di paha taesan. Saat mengalihkan pandangannya kesamping, dia melihat milih Taesan juga sedang berusaha keras untuk sembunyi dibalik celananya. Jaehyun sudah menduga bahwa milik Taesan pasti besar karena orangnya tinggi, namun baru kali ini terlintas dipikirannya apa yang akan terjadi jika sesuatu yang panjang dan besar itu menyeruduk dan memberantakkan bagian dalamnya, semua mantannya tidak ada yang sebesar itu.

 

“Maaf Hyung, seperti yang kamu lihat aku juga berada di batasku. Melihatmu meleleh hanya karena aku menjilat jarimu, aku membayangkan apa yang terjadi jika aku memasukkan penisku kedalam prostat yang terhipnotis, basah dan meminta untuk ditusuk dan ditekan dan aku tidak akan berhenti untuk cum dan cum terus.” Oh itu dia ucapan yang mempunyai kuasa penuh akan jaehyun tadi membuat jaehyun ikut membayangkannya dan menjadi menginginkannya pula.

 

“Hyung apa menurutmu aku bisa cum bahkan ketika aku tidak memasukkanya ke lubangmu ?” tangan Taesan membelai rambut Jaehyun yang dimana muka Jaehyun sudah berada didepan persis kangkangan Taesan. “Huh?” jaehyun bertanya-tanya apa yang Taesan maksutkan.

 

Namun sebelum Taesan bergerak bangkit, Jaehyun terlebih dahulu menahan bagian bawahnya lalu membuka celana Taesan sehingga membuat penis Taesan yang berurat menjulang di depan mukanya. Jaehyun hanya dapat menelan ludah, ‘monster apa ini’ batinnya.

 

“Aku yakin kamu juga tidak nyaman Taesan, aku akan lakukan untukmu. Ayo kita seks.” Kemudian Jaehyun menjilat perlahan biji zakar menuju kebagian ujung milik Taesan. Ini sebenarnya bukan tujuan awal Taesan, namun apa yang berada di hadapannya itu adalah salah satu hal yang bahkan tak pernah ia berani bayangkan, setelah bertahun pernyataan cintanya diabaikan, siapa sangka orang yang dia sukai itu lemah terhadap kenikmatan.

 

“Hyung jika kamu seperti itu, bagaimana nanti aku saat bertemu kamu lagi. Rasa suka-ku sudah cukup membuatku kewalahan, namun sekarang aku akan mengingatmu dikeadaan seperti ini.. itu curang.” Taesan menutupi sebagian mukanya dengan tangannya, sedikit frustasi, telinganya bahkan memerah.

 

“Hey, kalau begitu buat aku jatuh cinta, kepuasan tadi sudah dapat satu langkah kemajuan.” Ucap Jaehyun bahkan saat mulutnya mengemut dan memainkan milik Taesan.

 

“Tentu saja, aku akan buat kamu akan jatuh cinta padaku, Hyung.”

 

Notes:

terimakasih sudah membaca, jika ada kritik dan saran mohon beritahu aku ya.. jangan lupa kudos jika kamu suka ceritanya^^ oiya boleh banget kalau semisal mau bermutualan sesama ddingddong enthusiast ya..

sampai sekarang aku masih kepikiran aslinya dibalik sok jual mahalnya taesan itu dia hanyalah cowo yang lembut.. cara dia care ke Jaehyun meskipun kadang dia suka menggodanya membuat aku meleleh selalu TwT