Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-08-22
Words:
988
Chapters:
1/1
Kudos:
56
Hits:
680

After 'Dazed'

Summary:

Sunghoon mengingkari janjinya dengan Ni-ki untuk bermain game setelah pemotretan majalah Dazed dengan Jake. Dia kabur ke kamar kekasihnya untuk menghindari si Bungsu dan menagih ciumannya pada si cantik, Jake.

Work Text:

Jake berlari kecil dari arah kamar mandi melewati ruang tengah dorm mereka. Rambutnya yang basah tersisir ke belakang. Badan mungilnya dibungkus handuk sebatas dada hingga seperempat pahanya.

 

Hari ini ia dan Sunghoon baru saja menyelesaikan jadwal pemotretan. Jake terpaksa berlama-lama di kamar mandi untuk membersihkan produk rambut yang menumpuk di kepalanya. Belum lagi make up yang lebih berat dari biasanya. Rasanya ia mengigil karena terlalu lama di kamar mandi.

 

Jake mendorong pintu kamarnya tergesa-gesa sampai ia dapati seonggok manusia berbadan besar berbaring di ranjang. Pandangannya mengedar mengamati kamarnya rapi seperti sediakala. Padahal tadi berantakan karena ia harus mengemas pakaian untuk penerbangan ke Jepang besok.

 

"Kok ke sini?" tanya Jake mengunci pintu kamar.

 

"Emang mau ke mana lagi?" jawab Sunghoon meletakkan lengannya di bawah kepala sambil memperhatikan lekuk tubuh Jake dari ujung rambut hingga kaki.

 

Jake merasa was-was dengan tatapan jail Sunghoon. "Tadi Ni-ki bukan ngajakin main game di kamarnya?"

 

"Kabur. Biar aja dia ngajakin Heeseung."

 

Sambil kepalanya celingak-celinguk mencari pakaian yang sudah ia siapkan sebelumnya Jake membalas, "anak itu kalau udah pengen ngajakin satu orang dia bakalan nyariin sampai kemauannya terpenuhi."

 

"Makanya aku gak bawa HP. Kamarku kukunci." Sunghoon memamerkan kunci dari celana panjangnya kemudian dia lempar sembarangan.

 

"Kamarmu dikunci otomatis dia nyari ke sini," balas Jake.

 

"Ya, sudah. Berarti kalau dia manggil gak usah nyahut. HPmu sudah ku-silent."

 

Jake hanya bisa berdecak kemudian menepuk lengan Sunghoon agar menyingkir dari kasurnya. "Awas, bajuku ada di sini."

 

"Ngapain pakai baju," celetuk Sunghoon menggoda Jake.

 

"Sunghoon, aku udah kedinginan!"

 

Bukannya menyingkir, Sunghoon malah merentangkan tangannya menawarkan pelukan. Memamerkan bisepnya yang tidak terbungkus pakaian. Hanya Sunghoon dan kaus kutang andalannya itu. Biar merk Prada tetap saja itu kaus kutang! Yang setiap Sunghoon ingin bagikan kepada penggemar potretnya ia harus minta izin dulu pada Jake.

 

Tak ingin Jake cemberut, akhirnya Sunghoon mengalah mengambil pakaian yang tertimpa di bawah tubuhnya. Dia serahkan pada kekasihnya, tak lupa mencuri sentuhan gemas pada bokong Jake. "Akh! Mesum!" pekik Jake memukul dadanya.

 

Cepat-cepat Jake berbalik menggunakan pakaiannya sedangkan Sunghoon sambil berbaring menikmati pemandangan tubuh sang kekasih dengan khidmat. "Enaknya malam ini ciuman berapa menit?" ucap Sunghoon.

 

"Enggak ada! Nanti ujung-ujungnya yang lain!"

 

"Buat apa pakai celana?" goda Sunghoon tak henti-hentinya.

 

Total tubuh Jake memanas karena malu. Sampai akhirnya keseluruhan tertutup pakaian ia berbalik menatap Sunghoon kesal. "Keluar aja deh! Sana, sana, aku gak mau malam ini aneh-aneh. Besok pagi kita udah ke bandara."

 

"Enggak aneh-aneh kok, cuma cium aja," ajak Sunghoon. Ia menarik lembut lengan kecil Jake mendudukkan kekasihnya itu di pangkuannya.

 

Tadi di sela-sela pemotretan Sunghoon sudah tak sabar mencicipi bibir Jake, namun ia masih waras untuk tidak menghancurkan make up di wajah mereka. Akhirnya keduanya mencuri waktu bertukar ciuman mesra di kamar mandi setelah mengganti pakaian. Juga berciuman di mobil perusahaan yang disupiri manager.

 

"Ciuman aja?"

 

"Iya, ciuman aja," sahut Sunghoon menyanggupi.

 

"Oke," cicit Jake perlahan berpegangan di pundak kokoh Sunghoon.

Matanya terpejam lembut saat wajah Sunghoon mulai mendekat. Deru napas mereka yang hangat bertubrukan hingga terasa sepasang daging menempel di permukaan bibirnya. Di awali dengan kecupan-kecupan lembut yang menggelitik hati. Dilanjutkan dengan Sunghoon yang mulai mencecap bibir bawah Jake perlahan.

 

Hembusan napasnya memburu mengikuti dentam jantung. Perlahan bibirnya mulai basah dikulum hati-hati seolah takut melukai. Jake tahu Sunghoon bukan orang yang sabaran, tapi ia yakin pria ini hanya berniat lama-lama mencicipi mulutnya.

 

Punggungnya yang dibalut kemeja tipis Sunghoon raba dengan sensual. Sungguh telapak tangan pria itu terasa hangat dan lebar menyusup di balik bajunya. Setiap jilatan di mulutnya membuat punggungnya melengkung tanpa sadar merengek. "Unghh," keluh Jake meremas rambut belakang Sunghoon.

 

Bibirnya diisap kuat seolah tak cukup. Air liur bercampur menetes di sudut bibir entah milik siapa tidak ada yang memusingkan. Keduanya sibuk mencecap mulut satu sama lain sampai yang terdengar hanya lenguhan basah yang berisik.

 

Sunghoon merapatkan pelukannya di punggung sempit Jake, memburu bibir ranum itu kecanduan. Rasanya jauh lebih manis daripada sebelumnya. Tidak terburu-buru, hanya mereka berdua menjalin keintiman.

 

"Hoon," sela Jake mendorong bahu Sunghoon lembut.

 

Bibir keduanya terlepas membiarkan Jake mengambil napas panjang. Sunghoon menyeka air liur di sekitar dagu sang kekasih sambil mencuri sentuhan di bibir bengkak si cantik. Sejenak ia naikkan dagu Jake yang menunduk, mengamati wajah merah yang selalu bersemu setiap bersamanya.

 

"Cantiknya, Sayangku," puji Sunghoon membenamkan bibirnya di pipi Jake. Mencium gemas kekasihnya yang terlampau lucu.

 

Jake tertawa kecil menghentikan kecupan Sunghoon di pipinya. "Kenapa?" tanya pria itu merapatkan posisi Jake di pangkuannya. Ia tersenyum jail karena tahu maksud tatapan malu-malu serta gerak-gerik sang kekasih yang memainkan rambutnya.

 

Perlahan-lahan Jake mendekatkan bibirnya ke bibir Sunghoon sekali lagi. Sentuhan tipis yang terkesan main-main membuat keduanya tergelitik geli. Kali ini Jake memulai mencumbu Sunghoon antusias. Menciumi kekasihnya semangat menikmati manisnya satu sama lain.

 

Hati-hati Sunghoon merebahkan Jake di ranjangnya, mengungkung laki-laki mungil tersebut sambil mematikan sakelar lampu di samping tempat tidur Jake. Tinggallah cahaya temaram dari lampu tidur membingkai tubuh cantik Jake dalam genggamannya.

 

"Cantik ... Jaeyunku yang cantik," pujinya lembut menandai tengkuk sang kekasih.

 

Pakaian Jake sudah tidak berbentuk lagi. Jemari tebal Sunghoon sibuk memilin pucuk dadanya sedangkan pria itu bermain di lehernya yang jenjang. "Jangan sampai ada bekasnya," rengek Jake.

 

Tak satu pun dari keduanya menyadari ponsel Jake berkedip-kedip menampilkan panggilan dari si Bungsu.

 


 

"Sunghoon hyung!" teriak Ni-ki tersenyum kemenangan memasuki dorm Jake, Sunoo, dan Jungwon. "Aku tahu kau ada di sini, cepat keluar! Kau sudah janji kita main game di kamarku setelah kau pulang pemotretan!"

 

Ni-ki masih tersenyum lebar menggeledah ruangan dorm tersebut melewati Jungwon yang sedang bersantai di ruang tengah. "Mana Sunghoon hyung?" tanyanya tapi tidak menunggu jawaban dia langsung bergegas ke depan kamar masing-masing anggota.

 

"Sunghoon hyung! Jangan coba-coba sembunyi!" teriak Ni-ki cekikikan.

 

Jungwon yang melihat tingkah Ni-ki hanya bisa menggeleng kasihan. Pintu kamar Jake digedor-gedor tapi tak satupun menyahut. Ni-ki melongok ke arah Jungwon menunjukkan ekspresi bertanya.

 

Melihat ekspresi Jungwon sepertinya Ni-ki tahu. Raut bahagianya hilang berganti dongkol. Si Bungsu lekas menempelkan telinganya di pintu kamar Jake sampai terdengar sayup-sayup desahan lembut yang tidak ingin dia tebak milik siapa.

 

"Sunghoon hyung!" teriak Ni-ki mengamuk.