Chapter Text
Bertemu Lewat Suara dan Udara
-
“Start landing briefing.”
“Roger.”
“Hari ini saya boleh coba ambil kendali buat landing nggak, Mbak?”
“Boleh aja, kalau kamu yakin.”
Norawit tersenyum lebar mendengar jawaban itu lantas memandang sekitarnya. Ada banyak cahaya mentari yang masuk ke dalam indra penglihatannya selagi mereka masih memiliki beberapa waktu yang tersisa untuk tiba pada destinasi. Di sebelahnya duduk seorang wanita berusia 40-an, menjabat sebagai kapten untuk kapal terbang yang ia bantu untuk bawa sampai dengan selamat.
“Cerah banget siang ini, Mbak. Enaknya ngapain ya kalau udah nyampe tanah nanti. Mana cantik banget itu mataharinya ada lingkarannya.”
Yang Norawit panggil dengan sebutan honorifik ‘Mbak’ tadi seketika mengernyit mendengar ujaran dari Norawit. Matanya tak elak juga turut melihat ke arah di mana mata Norawit memandang. Terlihatlah olehnya cahaya matahari yang dikelelingi lingkar seupa pelangi yang sekilas memang tampak indah seperti yang diujarkan oleh Norawit. Sesaat kemudian kapten perempuan itu menghela napasnya, mengundang sorot mata penuh tanya dari mata bulat berbinar milik Norawit yang tadinya telah berkilat penuh semangat.
“Kamu udah berapa lama jadi First Officer, Wit?”
“Hmm … tiga tahun, masuk tahun ke-empat ini seingetku, Mbak.”
Rekan kerja dari Norawit itu lantas menggeleng dengan senyumnya yang penuh arti. Norawit tahu, jika dibandingkan dengan dirinya yang masih kurang pengalaman, Mbak Nidha—nama dari kapten pilot yang kini bertugas di pesawatnya, pasti jauh lebih memiliki banyak pandangan terhadap banyak situasi penerbangan dari pada dirinya. Norawit pun kini juga turut mengernyitkan kening.
“Kenapa ya, Mbak?”
“Kamu tau nggak apa tandanya kalau ngeliat halo di sekitar matahari?”
Mata Norawit sontak membeliak dan menegang karena teringat sesuatu dari apa yang dipelajarinya selama belajar di sekolah penerbangan, lalu tiba-tiba saja turbulensi terjadi akibat cuaca buruk yang mendadak mereka alami. Ah, benar. Sesuatu yang indah biasanya tidak selalu baik dan berlangsung abadi. Norawit akhirnya dapat mengingat bahwa lingkaran cahaya di sekitar matahari bisa berarti cuaca buruk akan menghadang, Microburst.
Keduanya akhirnya sama-sama siaga agar bisa membawa pesawat aman sampai tujuan. Norawit di tahun ketiganya menjadi co-pilot, baru kali ini menghadapi cuaca buruk setelah dengan percaya diri mengatakan pada Nidha bahwa penerbangan kali ini ingin ia atasi sendiri. Sekarang dia malah akan bergantung pada Nidha kembali.
Di dalam suasana yang mencekam dan gugup, sebuah suara dari radio telekomunikasi terdengar menginformasikan mengenai informasi substansial angin dan cuaca yang akan mereka alami di landasan pendaratan.
“TVJ 201. Curent wind speed on runway 22 at 150 degrees is 20 knots.”
“Roger.”
“Crosswinds at 20 knots—,“ Nidha berhenti berbicara seraya memutar kepalanya ke samping untuk memandang Norawit yang sedikit cemas lalu berkata dengan bisik rendah, “Saya saja yang pegang kendali landing-nya ya, Norawit.”
“Tapi kalau kita ngitarin Suvarnabhumi sambil nunggu cuacanya membaik, bahan bakarnya bakal cukup, Mbak?”
Norawit cukup panik karena tidak ada jawaban dari Nidha. Dia tentu saja sangat menghormati dan percaya dengan kinerja yang dimiliki Nidha, hanya saja cuaca buruk akan selalu bisa menakutinya walau ia bersama dengan orang yang paling ia percaya sekalipun.
Di tengah kepanikan dan keresahan dari Norawit akhirnya sebuah suara menginterupsi. Suara yang khas di mana ia bisa merasa lebih tenang karena tutur katanya yang runtut dan terdengar sangat bisa dipercaya. Suara yang bisa dijadikan pedoman dan tempat bergantung. Suara yang seakan menyihir dan tiba-tiba membuat jantungnya berdetak lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
“TVJ 201. Contact Bangkok Tower 118.57.”
“TVJ 201, go ahead.”
“Dengan alasan keselamatan, saya akan menggunakan bahasa Thailand,” izinnya mengawali arahannya. “Tenang saja, microbrust sebenarnya perlahan telah meninggalkan landasan. Angin yang datang dari arah 140 derajat dari lintas angin adalah 15 knot dan sekarang semakin berkurang.”
“Kami akan mendarat,” putus Nidha yang disambut dengan anggukan dari Norawit yang kini sudah mulai lebih yakin.
“TVJ 201, runway 22, Cleared to land. Wind at 140 at 15, maximum 27.”
“TVJ 201, runway 22. Cleared to land.”
“Wind 150 at 15, maximum 25.”
“Gear down.”
“Roger. Gear down.”
Mendengar perintah itu, Norawit akhirnya dengan berani menggerakkan lengannya untuk menurunkan tuas.
“500.”
“Roger.”
“Approaching minimum.”
“Six.”
Fifty.
Fourty.
Thirty.
Twenty.
Ten.
Akhirnya Norawit bisa bernapas lega kala ia bisa merasakan roda pesawat bersentuhan langsung dengan tanah. Ia mengembus napas walau kini ia disambut dengan landasan dan suasana bandara yang mendung serta hujan yang masih lebat. Tidak ada mentari cerah yang benar-benar menyambutnya di Bangkok siang itu. Lalu, suara manis laki-laki yang menuntunnya tadi kembali bersuara.
“TVJ 201. Contact Bangkok Ground, 121.62.”
“TVJ 201, 121.62. Terima kasih atas informasi yang disampaikan dengan detail. Berkat arahan Anda—“
“VN 611, traffic vacating. Runway 22. Cleared to land, wind at 14.”
Lalu terputus. Norawit bahkan tidak bisa menyampaikan rasa terima kasihnya dengan benar lalu hanya dapat tersenyum kecut. Mbak Nidha yang ada di sampingnya mungkin tidak terlalu menyadari betapa berharganya momen Norawit yang amat sangat terbantu oleh suara itu.
Mungkin, nanti ia akan mencarinya lagi.
-
Norawit tidak dapat berbohong bahwa suara dari pengendali lalu lintas udara yang membantunya itu bisa melekat di kepalanya hingga berhari-hari lamanya. Karena, entahlah. Ini baru kali pertama Norawit merasa terbuai hanya karena sebuah suara yang rupa orangnya saja ia tidak tahu. Terlebih lagi, yang dilakukan oleh suara itu hanyalah sebuah kewajiban dari pekerjaan orang di balik suara radio telekomunikasi yang ia dengar dari telinga.
Apalah yang istimewa dari membantu sopir pesawat udara agar bisa parkir dengan aman dan selamat di bandar udara. Memang sudah tugas pria dengan suara manis itu, kan? Norawit seharusnya tidak meromantisasi kejadian di salah satu cuaca buruk dari banyaknya kejadian cuaca buruk yang dia alami. Tetapi nyatanya, kini dia tetap penasaran hingga ia tanpa sadar menyusup ke ruang kontrol. Di sana ada beberapa kapten pilot yang sedang berkumpul untuk bertukar informasi mengenai beberapa penerbangan yang akan mereka lakukan selanjutnya, serta bilik-bilik dengan banyak perangkat komputer dan alat-alat yang Norawit sedikit banyak mengerti fungsinya apa karena sering bertanya kepada petugas kontrol di sana.
“Japan air 106 Preceding to leaving. Runway 22, cleared to land. Wind 160 at 18.”
“Suara itu!” pikirnya.
Salah satu pegawai yang memegang kendali informasi keluar dan masuk penerbangan memandangnya heran.
“Ada apa?” tanya petugas itu.
Norawit membalasnya dengan cengiran malu-malu sambil menggaruk pelipisnya. “Nggak ada, Pak. Ini suara dari menara Air Traffic Control?”
Petugas itu mengangguk ringan, melanjutkan pekerjaannya sambil berusaha untuk tidak menghiraukan Norawit yang masih penasaran soal ini dan itu. Kadang Norawit pun juga bertanya apa fungsi tuas yang ada di sudut keyboard, juga makna dari warna-warna lampu yang berkedap-kedip tanpa henti.
Norawit selalu begitu.
Bandara Survanbhumi sungguh luas dengan banyaknya orang di dalamnya dengan berbagai peran dan profesi. Tetapi dari sekian banyak itu, nyaris semua orang mengenal co-pilot Norawit si pembuat onar dan pembawa sial. Dalam artian yang baik, orang-orang juga menyukai Norawit karena Norawit begitu ramah, baik hati, dan terlampau sering menolong orang.
Seperti saat ini ia menyadari petugas ruang kontrol yang berbunyi perutnya ketika Norawit menanyai pria paruh baya itu dengan pertanyaan yang remeh, ia akhirnya berlari untuk mencari makanan yang mengenyangkan walau ia baru saja mendarat dan memiliki kejadian buruk berupa landing yang tidak terlalu mulus.
Setelah mendapat sekotak bekal makan siang seharga 100 baht dari kantin bandara yang letaknya cukup tersembunyi, ia berlari dengan riang kembali ke ruang kontrol dan memberikannya ke pria itu.
“Nih, Pak. Diambil ya buat makan siang!” serunya. “Pak—?”
“Chadet. Saya Chadet, Mas … Norawit,” ucap petugas itu walau dengan mencuri pandang pada nametag yang melekat di seragam Norawit yang kemudian Norawit sadari belum ia ganti sejak mendarat beberapa menit yang lalu. “Ternyata ini toh Mas Norawit yang sering diceritain orang-orang.”
“Wah, orang-orang siapa nih, Pak? Saya emang seterkenal itu, ya?” canda Norawit dengan gerlingan jenaka lalu terkekeh.
“Hahaha, ya banyak, Mas. Saya ke toilet aja janitor di sana bilang kalau ada co-pilot yang suka bantu bersih-bersih.”
Norawit tertawa mendengar tentang dirinya dari mulut orang lain. Setidaknya ini cerita yang baik, mungkin akan ia banggakan pencapaian ini pada ibunya nanti.
“Tapi terkenal karena co-pilot-nya ganteng juga nggak sih, Pak?” sahut Norawit lagi penuh percaya diri dengan sedikit berbisik. Petugas itu tertawa lepas sambil menggeleng. Diam-diam berpikir bahwa rumor itu benar, ada seorang pilot yang tidak merasa dirinya lebih tinggi meski ia sudah lebih sering terbang ke langit, orang yang tidak menyepelekan keberadaan orang-orang kecil seperti dirinya meski ia tengah tengah memijak tanah.
“Ada-ada saja sih kamu ini,” komentar si bapak.
Norawit akhirnya melirik arlojinya sebelum berteriak heboh bahwa ia telah sedikit lupa waktu. Pekikan itu membuat salah satu senior pilot yang ada di sana menyadari eksistensinya yang sudah mondar-mandir dari tadi.
“Duh, Pak. Udah jam segini ternyata! Saya belum tidur hampir 24 jam, lho. Saya pulang dulu, ya. Salam buat anaknya Pak Chadet tadi … yang siapa ya namanya?”
“Khim.”
“Nah, iya! Khim. Salam sama istrinya Pak Chadet juga, ya.”
Norawit memang seperti itu pribadinya. Semua orang mengetahui itu seperti layaknya sebuah plastik bening yang sudah bisa terbaca dengan jelas. Interaksi penuh ramah tamah itu tak elak membuat salah satu senior pilot dari maskapai penerbangan yang sama dengan Norawit mendekati Norawit dengan wajah yang ketat.
“Norawit?” panggilnya dengan seruan yang rendah tetapi dapat menghentikan langkah Norawit yang sudah ingin bergegas dan berlalu.
“E—Eh, Pak Pirapat?” sahutnya gerogi. Norawit menampakkan seluruh wujud giginya karena tersenyum terlampau lebar. Sejujurnya ia hanya ingin menutupi kelakuannya kali ini yang sudah sering kali ditegur oleh beberapa seniornya.
Pirapat adalah salah satunya. Seniornya itu sebenarnya sudah nyaris kepala empat dan perawakannya penuh wibawa. Norawit bahkan lebih takut dengan Pirapat dari pada ayahnya sendiri jika ia boleh jujur. Selama ia belajar di akademi penerbangan, dari pada mengenal Pirapat sebagai seorang senior, Norawit lebih ingin menganggap Pirapat sebagai guru yang pantas untuk ia hormati selama karirnya berjalan sebagai pilot.
“Kamu ke ruang kontrol lagi?”
Norawit terdiam sejenak lalu mulai menata alasan yang sebenarnya memang jujur ia lakukan. “Tadinya saya bantuin petugas baru yang angkatin kardus-kardus, Pak. Terus saya malah penasaran sama alat-alatnya Pak Chadet, makanya mampirnya kelamaan.”
Lalu, Norawit tercengir lagi. Pirapat tetap diam menampilkan ekspresinya yang garang tanpa ada perubahan raut wajah yang berarti.
“Jangan terlalu sering berkeliaran hingga melunturkan wibawa kamu, Norawit.”
Norawit mengernyitkan keningnya lantas menjawab, “Wibawa apa ya yang harus saya jaga, Pak?”
Tetapi pada saat itu tidak ada jawaban dari Pirapat selain dengusan tak suka dan langkah kakinya yang meninggalkan Norawit tanpa sepatah kata. Hal itu yang membuat Norawit kini menggerutu bak anak-anak di depan temannya, Chokun.
Chokun adalah salah satu teknisi mesin pesawat yang memeriksa keadaan pesawat sebelum layak terbang. Norawit mengenalnya karena mereka bertemu di sebuah resto buffet favorit mereka di hari pertamanya bekerja sebagai pilot pesawat komersial resmi, lalu akhirnya menjadi teman dekat karena mereka sebaya dan memiliki selera musik yang sama.
Kembali pada Norawit yang menggerutu tanpa henti dan seakan tidak ingin membalikkan dagingnya sendiri, Chokun menghela napasnya lelah lalu melempar satu potong daging yang nyaris gosong ke piring Norawit.
“Kali ini masalah apa lagi, sih?”
Norawit tahu, Chokun pasti sudah begitu lelah menghadapinya. Orang-orang berkata, Norawit ini adalah sosok yang cukup serampangan sehingga ada banyak masalah yang mengekorinya walau pribadinya yang cerah disukai oleh kebanyakan orang. Norawit pun bukan tipikal orang yang akan mengeluhkan satu-satu masalah yang ia anggap akan terus datang dan berlalu. Tetapi untuk urusan yang kali ini, ia tidak bisa untuk tidak mengeluh.
“Gue kayaknya nggak salah apa-apa deh. Kok tuh orang sinis banget sih ke gue? Kayak, lo iri yeee gue akrab sama orang bandara? Makanya tuh muka jangan ditekuk aja! Ya nggak sih, Kun?”
Chokun menggeleng mendengar cerita tanpa konteks yang disemburkan oleh Norawit. “Ini gue harus ngerespons apa sih, orang yang lo ceritain aja nggak jelas siapa?”
“Ya, si Pirapat itu lah! Heran kok suaminya yang dokter cakep itu mau sih sama orang galak unreasonable kayak dia!”
“Eh, anjir, Wit. Lo bicarain orangnya sekarang, tuh orangnya di belakang lo bisa denger!”
“HAH?! MANA?!”
Ketika Norawit refleks menoleh ke belakang, ia bisa mendengar gelak tawa Chokun yang menggelegar seakan menguar ke seisi restoran. Norawit hanya mendengus pada aksi jail Chokun yang sudah menjadikannya korban berkali-kali. Ia masukkan daging-daging gosong itu ke mulutnya dengan cemberut di wajah. Tidak peduli lagi dengan pahit gosong yang dapat ia kecap dari permukaan lidahnya.
“Lagian. Lo ngomong begitu di ruang publik begini kalau orangnya denger gimana? Okelah, orang yang bersangkutan nggak ada, tapi ini resto masih deket-deket sama bandara, kalau ada orang terdekat Pak Pirapat denger gimana?”
Norawit tertegun mendengar pertanyaan Chokun yang seakan mengetuk kepalanya. Memang, benar, tampaknya ia terlalu ceroboh.
“Ya, gue kesel aja, Kun. Tuh orang kayak dendam banget sejak gue mulai tugas di sini. Apa aja yang gue kerjain salah mulu. Gue napas aja kayaknya salah kali. Emang gini nih, ciri-ciri haters.”
Rentetan kalimat penuh percaya diri dari Norawit dibalas Chokun dengan gelengan tak percaya.
“Mungkin Pak Pirapat punya alasannya sendiri, Wit. Gue tau nih, orang oversharing kayak lo ini bisa bahaya. Kali aja Pak Pirapat takut orang polos kayak lo diseret-seret sama permainan politik maskapai, lo kan kelampau ramah. Nggak mau ah gue liat lo mejeng di thread spill-an warganet.”
Mendengar penuturan itu membuat Norawit bergidik ngeri. Chokun, sahabatnya ini, ada benarnya juga. Dia mungkin selama ini menganggap dunia begitu baik hingga tidak pernah pula ia pikirkan ada sisi-sisi buruk yang menanti jika ia tidak hati-hati dalam melangkah.
“Udah deh, dari pada lo keki bagini buat gue nggak mood juga, mending lo ikut gue deh besok. Gue besok mau kenalan sama flight attendant terus dia bilang juga mau bawa temen. Pas kan jadinya, kayak double date gitu?” ucap Chokun sambil menaikkan alisnya main-main.
Norawit mendengus kasar. “Ah, lo tau sendiri gue males gitu-gituan. Gue lagi nggak mau nyari pacar, apa lagi pramugari. Udah tiap hari kali gue liat tapi nggak minat, mohon maap nih. Lo aja deh, mending gue besok tidur.”
“Nggak nyari pacar pramugari cantik tapi lo nyari ATCer yang suaranya ganteng itu, kan?”
Norawit yang tadinya menegak segelas air sontak menghentikan kegiatannya. “Maksud lo?”
“Kata cewek yang kenalan sama gue itu, besok dia bakal bawa temen satu, ATCer. Kan kalau lo ikut lo bisa nanya-nanya soal suara yang lo denger itu? Barang kali orang yang dibawa sama kenalan gue itu kenal sama ATCer yang lo maksud?” ucap Chokun menggerling genit.
Norawit lantas berdecak. “Ini nggak yang kayak lo pikirin ya, Kun. Gue murni cuma mau terima kasih aja. Soalnya gara-gara dia gue jadi tau cara nge-handle cuaca buruk kayak kemaren itu tanpa harus muterin nunggu hujan reda.”
“Alesan lo aja ini.”
“Dih, beneran elah. Emang lo, pikirannya cewek mulu?”
“Iya deh, iya….”
“Pokoknya jangan lupa, besok bakal ketemuan di sini lagi. Jangan telat! Jam 7 malem!”
“Iyaaa.”
-
Pagi-pagi sekali Norawit sudah merasa harinya begitu baik. Walau biasanya ia bangkit cukup siang di hari liburnya, kali ini ia memutuskan untuk pergi ke pusat kebugaran di gedung kondominiumnya untuk berolahraga selama satu jam setengah. Lalu kembali ke unitnya sendiri dengan senyum yang mengembang.
Ada banyak skenario di dalam kepalanya tentang bagaimana jalannya untuk bertemu secara nyata dengan suara manis yang masih bersarang di dalam kepalanya. Padahal kejadian itu sudah berlalu seminggu lebih, tetapi suara itu seakan masih segar ada di dalam gendang telinganya seakan tidak ingin pergi.
Lelaki itu bersiul rendah memerhatikan cermin yang tergantung setinggi badannya. Memeriksa satu-satu piranti tubuh dan wajahnya yang memang dikatakan oleh orang-orang cukup rupawan. Norawit menyisiri rambutnya beberapa kali yang mulai panjang, sepertinya ia akan memangkasnya di salon ibunya di waktu selanjutnya ketika ia senggang sebelum ia kembali ditegur oleh seniornya karena takut rambut-rambut itu mengganggu penglihatannya ketika terbang.
Norawit memang lebih memilih untuk menikmati waktu liburnya di unit kondominium yang sengaja ia sewa dekat dengan bandara. Selain memang lebih efisien waktu jika ia memiliki jadwal terbang yang nyaris bersinggungan, ia senang bisa memandangi pesawat yang datang dan pergi dari balkon kediamannya ini. Terkadang ia nikmati sebelum tidur, terkadang juga ia lihat ketika pagi sambil menyesap kopi. Seperti saat ini ia baru saja selesai olahraga dan sedikit bersantai menjelang siang, ada belasan pesawat yang ia dapati masuk ke kawasan Bandara Suvarnbhumi.
Sejak kecil, Norawit sudah bercita-cita ingin menjadi pilot. Cita-cita yang begitu besar dan klise bagi seorang anak kecil untuk Norawit yang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Norawit cukup beruntung tidak harus membayar penuh uang pendidikannya karena saat itu ia mendapatkan bantuan dari salah satu akademi setelah melalui berbagai seleksi yang ketat. Meski begitu, orang tua Norawit masih harus merogoh kocek yang terbilang tidak kecil untuk mewujudkan cita-cita putra bungsu mereka.
Walaupun Gemini memiliki peruntungan yang cukup di tanah terlebih dengan sifatnya yang super menyenangkan, Gemini tidak meemiliki peruntungan yang baik di udara. Kata beberapa kapten yang sempat menjadi partner terbang Gemini, Gemini selalu dirumorkan sebagai pilot pembawa sial. Ya, mungkin saja benar. Kejadian cuaca buruk itu menjadi salah satunya. Ia sudah bersyukur kalau-kalau ia masih diberi kesempatan hidup hingga kini.
Setelah memilih pakaian yang rapi serta menata rambutnya agar terlihat lebih klimis walau rambut panjangnya sedikit menjuntai, Norawit mendengar teleponnya berdering heboh di atas nakas. Nama Chokun sudah tampil di layar yang membuat Norawit mengernyit heran.
“Yang bener aja lo, Kun. Ini baru jam enam?” sapanya langsung tanpa berbasa-basi.
“Eh, lo harusnya sebagai pilot ya yang lebih disiplin.”
“Nggak ada hubungannya sama kerjaan gue, Kun,” ucap Norawit sambil merootasikan bola matanya yang jelas tidak bibsa dilihat oleh Chokun dari seberang telepon. “Lagian gue jalan sambil ngesot juga lima belas menit sampe kok.”
“Iya, deh… Elo dan kondo lo yang oke itu.”
Ejekan itu hanya direspons dengan dengusan oleh Norawit sambil ia memilih jam tangan yang akan ia gunakan malam ini. “Eh, udah dulu. Ini gue mau berangkat.”
“Oke, ntar meja tujuh belas.”
“Iya, santai.”
Tepat pukul setengah tujuh, Norawit bertolak dari kondominiumnya. Memang benar, jarak kondominium yang ia sewa dan resto langganan mereka sebenarnya cukup dekat. Norawit memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat tersebut sembari memerhatikan sekitar.
Jalanan yang ia tempuh merupakan jalanan yang sepi penduduk, tetapi cukup tenang dan hanya ditemani oleh suara pesawat yang lepas landas. Walau begitu, Norawit masih menyempatkan diri untuk menyapa beberapa orang yang tengah beraktivitas di depan rumah mereka. Kebanyakan adalah lansia yang menunggui rumah yang cukup besar dengan halaman penuh bunga. Norawit diam-diam tersenyum menyadari bagaimana indahnya kehidupan hanya dengan mensyukuri aktivitas sehari-harinya.
Ketika sampai di restoran, dari jauh Norawit sudah dapat melihat Chokun yang mendadak berdiri heboh karena kedatangannya. Tangannya melambai—lambai dengan ribut seakan takut Norawit akan kabur atau tidak mendapati meja yang mereka reservasi meski keduanya telah datang ke restoran tersebut belasan kali.
“Eh, Wit! Sini!”
“Iya, iya!”
Norawit akhirnya duduk sambil mengernyit karena bertanya-tanya mengenai eksistensi dua orang yang sudah memenuhi meja mereka. Walau dia sudah bisa menebak dua orang ini lah yang dimaksud oleh Chokun untuk mereka temui hari ini. Salah satu orang yang menduduki kursi di seberangnya adalah seorang gadis dengan rambut sebahu, tubuhnya cukup tinggi, tetapi tidak semenjulang itu karena lelaki yang ada di sampingnya tampak lebih tinggi darinya. Lelaki yang ada di samping gadis itu mengenakan kacamata bingkai besi yang cukup necis, wajahnya lumayan tampan (menurut Norawit sendiri), sehingga dia tidak terlihat culun pun juga tampak manis.
“Heh, bengong lo! Liatin apa sih?” sergah Chokun mengakhiri observasinya pada kedua orang tersebut. “Nih, dua orang yang kemarin gue bilang. Yang ini pramugari Bangkok Airways yang gue ceritain, namanya Pahn. Ini temennya, ATCer yang baru ditugasin ke sini minggu lalu, Mas Nattawat.”
Sebenarnya Norawit cukup bingung kenapa Chokun memanggil laki-laki itu dengan sopan, karena melihat dari perilaku Chokun yang terlampau ceplas-ceplos, biasanya temannya itu cukup santai untuk berinteraksi dengan siapapun. Jadi, Norawit asumsikan lelaki yang bernama Nattawat ini memang lebih tua dari mereka.
“Dih, aku dipanggil Pahn doang, tapi Nattawat kamu panggil mas?” protes perempuan itu main-main. Norawit bisa menilai bahwa perempuan itu juga periang karena senyumnya yang tidak pernah pudar menatap mereka satu per satu.
“Kan, pengen dekat lebih dari sekarang? Jadi nggak boleh nih manggilnya santai aja?” balas Chokun pula. Norawit yang mendengar itu hanya membuang wajah jengah sementara ia menyadari Nattawat hanya diam saja melihat interaksi mereka yang sudah heboh.
“Udah pada pesen belum ini?” tanya Norawit untuk mengubah topik agar mereka pun bisa segera makan malam yang pada akhirnya menjadi ajang Chokun dalam memperkenalkan menu makanan resto kesayangan mereka ini bak pramusaji yang andal. Setelah satu per satu makanan mereka sampai, percakapan pun kembali mengalir, tetapi tidak satu pun suara Nattawat yang bisa didengar oleh Norawit. Karena itulah, dia ingin sedikit memancing lelaki itu untuk bersuara.
“Mas Nattawat, udah seminggu ya berarti nugas di Suvarnabhumi. Gimana, Mas? Betah, nggak?”
Mendengar namanya dipanggil, Nattawat mendongak sambil berpikir dengan wajahnya yang datar. “Lumayan,” jawabnya.
“Lumayan betah atau nggak betah nih, Mas?” tanya Norawit sedikit bercanda, tetapi Nattawat tidak begitu menghiraukannya dan hanya melanjutkan makannya. Melihat itu sontak Norawit sedikit merasa terluka, Pahn yang ada di samping lelaki itu tampaknya juga tidak enak sehingga sesaat kemudian Pahn serta Chokun kembali membangun suasana dengan pembicaraan yang lain.
“Nih, Norawit ini hobi banget ngitarin bandara. Kadang di kantin pegawai lah, kadang di kantor bea cukai, kadang datengin outlet oleh-oleh, tapi yang paling di luar nalar dia pernah berkebun di taman bandara!” seru Chokun menggebu-gebu sambil mengingat-ingat kelakuan Norawit yang dapat membuatnya terbahak seharian. Norawit hanya menggeleng malu, sementara Pahn tertawa kecil, dan Nattawat masih fokus diam menyantap makanannya.
“Kalau Mas Nattawat dulu nugas di bandara mana, Mas?” tanya Norawit lagi-lagi berusaha memancing suara laki-laki itu.
“Udon Thani.”
“Wah, saya jarang sih dapet flight ke sana. Tapi beberapa kali pernah!” seru Norawit yang dibalas senyum sekenanya.
“Berarti emang asal sana, Mas?” tanya Chokun pula.
“Iya, saya di sana dari kecil bareng Kakek,” jawab Nattawat yang tidak disangka Norawit akan menjawab cukup panjang karena pertanyaan dari Chokun. Ada perasaan asing yang mmembuatnya sedikit sebal karena Nattawat tidak menjawabnya dengan respons yang sama seperti bagaimana lelaki itu menjawab Chokun.
“Kami berdua satu asal daerah gitu deh,” timpal Pahn pula. “Temen SMA.”
Norawit dan Chokun akhirnya mengangguk mengerti dengan bagaimana hubungan keduanya bisa terjalin karena sejujurnya di dalam lubuk hati keduanya cukup bertanya-tanya.
“Oh, iya hampir lupa! Gini, Norawit kemarin abis ditolong ATCer gitu, katanya keinget suaranya dia mulu. Kira-kira bisa tolong temuin nggak ya, Mas?”
Ucapan Chokun membuat Nattawat menurunkan sumpitnya lalu menatap dengan tatapan bingung. Norawit juga sudah cukup berharap karena akhirnya jawaban yang selama ini dia tunggu akan ia dapatkan.
“Ditolong? Maksudnya?”
“Waktu itu saya ngalamin cuaca buruk pas landing, terus dia yang nuntun sampai akhirnya saya mendarat. Tapi pas saya mau ngucapin terima kasih, radionya langsung keputus gitu aja.”
“Bukannya emang itu tugasnya ATCer? Kenapa harus terima kasih?”
“Ya, nggak ada sih…,” ucap Norawit yang kini merasa tidak yakin dengan keputusannya. “Saya mau nemuin aja.”
“Terus kalau udah ketemu mau apa?”’
“Ya itu kan, ngucapin terima kasih. Lagian kenapa sih, cepet banget mutusinnya, padahal nunggu ucapan terima kasih sampai selesai juga kayaknya nggak bakal lebih dari 10 detik.”
Norawit tidak tahu kenapa bisa ucapannya yang rasanya tidak terlalu menyinggung dapat membuat Nattawat terlihat begitu kesal. Nattawat memang dari tadi hanya diam saja dan tidak banyak bicara, menyaksikannya seakan terbakar emosi membuat Norawit sedikit takut.
“10 detik? Walau 10 detik itu juga berharga,” ucap Nattawat dengan suaranya yang rendah. “Suvarnabhumi bandara paling sibuk di Thailand, setiap harinya ada kurang lebih 283 pesawat yang datang dan 354 pesawat yang berangkat. Jika semua pesawat yang datang dan pergi itu ditambahi waktu 10 detik lebih lama cuman karena kalimat remeh itu, ATC bisa nuntun 10 sampai 21 pesawat lain dalam sehari.”
“Kalimat remeh…,” desis Norawit pelan. Kepalanya tertunduk dalam dan sebenarnya ia juga diam-diam sedikit kecewa dengan laki-laki yang baru ia temui hari ini. Menangkap atmosfer yang tidak mengenakkan dari keduanya, Pahn serta Chokun berusaha menengahi keduanya dengan tawa canggung.
“W-Wah…, jadi ada tambahan wawasan baru nih, Mas. Ternyata kerjaan ATC harus se-efisien itu, ya…,” komentar Chokun canggung sambil sesekali melirik kawannya yang masih terdiam.
“A-Ahahaha, maaf ya, Chokun, Norawit. Nattawat ini emang agak kaku orangnya,” tambah Pahn pula merasa tidak enak karena walau bagaimana pun, Nattawat adalah temannya.
Tetapi setelah itu suara kursi berderit mengakhiri ucapan-ucapan dari Pahn dan Chokun. Norawit tak elak juga ikut mendongak melihat Nattawat kini bangkit dari kursinya.
“Aku mau keluar bentar, Pahn,” pamitnya kepada kawannya. Pahn lantas juga hanya dapat mengangguk canggung dan raut wajahnya yang tampak mengatakan bahwa ia merasa tidak enak pada Chokun dan Norawit. Sementara Chokun hanya mengibaskan telapak tangannya dengan riang.
“Gue juga mau keluar deh, cari angin,” ucap Norawit pula.
Awalnya Chokun dan Pahn sedikit bingung, tetapi suasana sudah menjadi kacau seperti ini, mungkin keduanya juga ingin jauh dari hiruk pikuk restoran. Pada akhirnya Chokun hanya mengangguk dan Pahn juga menyetujui.
Berjalan keluar dari resto membuat Norawit sesekali mengembuskan napasnya dengan berat. Seketika ia keluar, Norawit dapat melihat Nattawat bersandar pada pembatas besi jalanan dengan sepuntung rokok yang menyala di sela jarinya. Norawit hanya diam saja sebelum mengambil tempat di samping Nattawat tanpa suara.
Nattawat melirik keberadaan Norawit lewat sisi matanya lalu mengembuskan asap rokok yang ia hirup ke sisi jalan. Lalu tak lama, Norawit dapat melihat sekotak rokok itu ada di depan matanya.
“Mau?” tanya Nattawat. Kali ini suaranya terdengar sedikit ramah di telinga Norawit walau nyatanya tidak begitu.
Norawit menggeleng halus sambil mendorong kotak itu kembali kepada Nattawat. “Nggak, Mas. Terima kasih. Saya nggak bisa merokok, suka batuk-batuk gitu jadinya.”
Mendengar itu Nattawat hanya terdiam, lalu perlahan menurunkan puntung rokoknya untuk ia injaki. Norawit mengernyit bingung, ia ingin sekali berkata pada Nattawat untuk melanjutkan kegiatannya tapi ia takut terdengar sedikit mengatur atau terlalu percaya diri Nattawat mematikan rokok itu demi dirinya.
“Hmm … Mas, kalau matiin rokok karena saya, sebenernya nggak apa-apa lanjutin aja, Mas. Nggak usah sungkan.”
“Siapa bilang saya matiin rokok karena kamu? Saya cuman udah nggak pengen lagi aja.”
“Wah, Mas Nattawat nggak mood lagi karena saya dateng, ya? Maaf ya, Mas.”
“Hadeh, nggak gitu, Norawit….”
Norawit terkekeh geli melihhat wajah Nattawat yang kini mulai menyenangkan untuk ia lihat. Wajah pasrah itu terlihat sedikit menggemaskan kini. Eh, apa?
Setelah hening menyelimuti beberapa saat, Norawit akhirnnya buka suara.
“Mas, maaf ya tadi saya kayaknya terlalu excited karena baru pertama kali ketemu sama ATC in person begini. Saya juga nggak tahu kalau antrian parkir pesawat sesibuk itu, eh, tau sih. Tapi maksud saya—“
“Iya, nggak apa-apa,” potong Natttawat dengan suaranya yang datar. “Saya juga sadar saya terlalu kaku, kayak apa yang dibilang sama Pahn.”
“Ah … syukur deh kalau begitu. Saya takut banget tau tadi, Mas. Seumur-umur saya hidup, saya nggak pernah ngerasa dibenci orang. Saya takut Mas benci sama saya.”
“Emang bener?”
“Bener apa, Mas?”
“Kamu nggak pernah dibenci orang.”
“Bener kok, Mas. Tanya aja Ibuk saya.”
“Jadi semua orang suka kamu gitu?”
“Ya, gitu deh, hehehe....” Nattawat menahan tawanya melihat tingkah Norawit yang kini tercengir lebar sambil menggaruki kepalanya. “Emang Mas nggak suka sama saya?”
“Hah?”
“Hah?”
“Eh, bukan, maksudnya … kenapa tiba-tiba deh?”
“Saya ganteng nggak sih, Mas? Baik juga? Ramah juga, terus katanya orang banyak yang ngincer jadi pasangan pilot gitu.”
“Dih, narsis,” ujar Nattawat yang diakhiri dengan kekehan yang tidak bisa ia tahan. Tetapi hal itu malah membuat Norawit berhenti bernapas. Karena bagaimana Nattawat tersenyum hingga matanya menghilang, bagaimana tangannya dengan kasual mendorong kembali bingkai kacamatanya yang melorot, bagaimana rambutnya yang klimis akhirnya berantakan terbawa angin.
“Ganteng.”
“Hah?”
“E—Eh, nggak ada. Bukan apa-apa.”
Anehnya mereka kini mendadak akrab. Mungkin karena sifat Norawit yang terlampau akrab, Nattawat juga turut takjub dengan bagaimana Norawit bisa menarik dirinya untuk lebih terbuka, lebih santai, dan lebih mudah untuk tertawa lepas. Malam itu mereka menikmati berbagai kendaraan yang berlalu-lalang di depan resto sambil bersandar pada pagar besi yang dingin.
Norawit kala itu bercerita bagaimana ceritanya ia bisa menjadi pilot di tengah keluarganya yang biasa saja. Bagaimana kala itu ia ditentang habis-habisan hanya karena dia anak bungsu dari tiga bersaudara.
“Saya ngerti sih, Mas. Keluarga saya cuman khawatir. Padahal semua profesi pasti ada resikonya, kan? Cuman ya resiko pilot yang bisa aja jatuhin pesawat terus mati kedengeran lebih ngeri aja daripada meninggal karena kelelahan lembur mulu di kantor.”
Nattawat tidak mengerti dan ingin tahu apa yang sebenarnya ada di kepala Norawit. Lelaki itu bisa menceritakan hal paling menyedihkan dan serius, tetapi tidak sedikit pun terdengar ia sedang bercerita soal penderitaan dan nelangsa akan duka. Norawit bisa dalam sepersekian detik kembali berkisah soal hal paling konyol lalu Nattawat akan kembali tertawa lepas.
“Analoginya gini, Mas. Orang-orang pasti lebih takut mati karena dimakan ikan hiu daripada mati digigit nyamuk Aedes aegypti.”
“Ada-ada aja sih kamu.”
Nattawat menggeleng menyisakan tawanya yang membuat Norawit juga turut tersenyum.
“Eh, astaga udah jam segini. Kok Chokun belum manggilin, ya?” seru Norawit pada dirinya sendiri ketika ia melirik jam tangannya menunjukkan pukul sepuluh malam.
“Iya juga, ya. Pahn juga nggak ada chat saya.”
Karena tidak enak sudah mengajak Nattawat bercengkrama hingga larut, Norawit memandang lelaki yang ada di sebelahnya. “Omong-omong, Mas. Mas bakal ada yang marah nggak kita ngobrol lama begini?”
“Hah?”
“Eh, kenapa, Mas?”
“Kamu ini tipe laki-laki buaya gitu ya jangan-jangan?”
Norawit gelagapan menanggapi pertanyaan itu. Ia tidak mengerti mengapa pertanyaannya dengan maksud agar tidak membuat pasangan Nattawat menunggu di rumah mereka disalahartikan begini.
“Bu—Bukan, Mas. Maksud saya, Mas udah ada pasangan belum? Pacar? Istri?”
“Duh, tuh, ‘kan? Udah biasa ya Norawit yang begini-begini tuh? Apa ya istilahnya, sepik-sepik?”
Mata Norawit yang sudah bulat kini semakin membulat lucu, dalam diam Nattawat ternyata menikmati raut panik yang Norawit tunjukkan padanya. Ternyata menjaili co-pilot ini membuatnya sedikit terhibur.
“Bukan, Mas! Serius!” Norawit menggaruki kepalanya lagi lalu menatap Nattawat yang kini tersenyum jail sambil memerhatikan ponselnya yang menyala. “Maksudnya kalau nggak ada yang marah—eh, nggak ada pasangan … duh, anu, saya—“
“Ini kata Pahn dia udah pulang duluan sama Chokun, dan udah dibayarin juga. Entar Chokun yang bagiin pembagian bill-nya.”
“Mas! Jangan ngalihin topik gitu dong…,” rengek Norawit yang Nattawat tidak mengerti kenapa lelaki yang baru ia temui ini bisa sebegini berisiknya.
“Udah ah, Norawit. Saya mau pulang dulu kayaknya.”
Mendengar itu mata Norawit kembali membulat. “Mas, saya anterin, ya!”
“Tuh, kan. Playboy nih pasti aslinya kamu.”
“Enggakkk!!!”
Nattawat tidak mengerti sejak bertemu Norawit beberapa jam yang lalu dia menjadi banyak tertawa karena banyak hal yang tidak terlalu penting. Kini mereka menyusuri tepian jalan raya dengan Norawit yang mengiringi Nattawat berjalan sambil memegangi sepedanya.
“Saya kira kamu mau nganterin saya tuh karena punya mobil atau apa gitu,” ucap Nattawat membuka obrolan karena Norawit sedikit lebih diam dari dirinya beberapa waktu lalu.
“Saya juga nawarin nganterin Mas Nattawat karena saya kira Mas Nattawat jalan kaki juga. Kata Chokun, Mas Nattawat tinggal di kawasan bandara juga,” balas Norawit sedikit sebal. Nattawat tidak menyangka ia bisa dengan nyamannya menjaili orang yang baru saja dikenalnya. Mengingat bagaimana selama ini dia begitu sulit untuk bergaul dengan siapa pun.
Norawit ini kalau Nattawat boleh jujur, memang memiliki sifat yang cerah sebagaimana laki-laki itu dengan bangga mendeskripsikan dirinya sendiri. Laki-laki itu bisa menempatkan dirinya sesuai dengan siapa yang ia ajak bicara. Fakta bagaimana Norawit bisa meluluhkan pertahanannya dalam sekejap membuat Nattawat juga takjub.
“Saya 26, Mas.”
“Eh?”
“Barangkali Mas penasaran sama umur saya.”
“Nggak penasaran, sih. Tapi ini saya harus bales biar impas gitu?”
“Kalau umur termasuk privasi dan Mas nggak mau kasih tau juga nggak apa-apa sih.”
Nattawat berdecak pelan. “Kamu jangan guilt-tripping gitu dong.”
“Nggak maksud lho, Mas.”
“Saya 28.”
Norawit tersenyum mendengarnya. “Berarti udah bener saya panggil ‘Mas’.”
“Kalau pun ternyata melenceng dari yang kamu kira, saya udah anggep kamu sopan aja, Norawit.”
“Oh, iya, iya…,” bisik Norawit pada dirinya sendiri sambil tersenyum tipis. Lalu tanpa sadar keduanya sudah ada di pertengahan jalan, jalanan mulai sepi dan Norawit menyadari bahwa sampai sekarang mereka belum mengambil jalan terpisah.
“Ini emang bener jalan ke rumah Mas Nattawat?”
“Iya, bener kok.”
Balasan singkat itu ditanggapi Norawit dengan anggukan pelan lalu memndang ke arah yang berlawanan dengan kuluman senyum yang canggung.
“Jangan-jangan kondo kita satu gedung, Mas?”
“Masa sih?”’
Lalu keduanya berhenti, di gedung yang sama.
“Ini kondo saya, Mas.”
“Oh, ini tempat tinggal saya juga.”
“WAH, YANG BENER?”
Norawit melonjak senang seakan dia mendapatkan hadiah yang ia senangi. Nattawat menjadi terheran sendiri karena mata itu seolah memancarkan cahaya takjub yang tidak bisa dibendung Co-pilot yang satu itu.
“Seneng banget ternyata kita tetanggaan.”
“Loh, kenapa?”
“Saya jadi bisa ketemu sama Mas Nattawat kapan aja.”
Nah, kan. Ucapannya bahkan kurang bertanggung jawab soalnya Nattawat sedikit yakin bahwa Norawit mengatakan itu bukan atas dasar ia ingin menggoda atau mendekatinya. Sederhananya, Norawit hanyalah seorang pria muda yang memiliki mulut manis. Dan hal itu, berbahaya bagi Nattawat.
-
