Actions

Work Header

our paths always crossed

Summary:

Jeonghan ngerasa barang dia sama Wonwoo selalu ketuker. pertama, kartu e-money (e-money mereka sama). kedua, pesanan minuman mereka (kali ini, pesanan mereka nggak sama). ketiga, map tugas mereka.. and that's what makes a feel enough is enough and Jeonghan call it out.

Work Text:

Jeonghan dikenal sebagai bendahara BEM yang galak, seenggaknya itu yang diomongin banyak orang. Tapi, kalau dipikir-pikir, semua itu emang masuk akal sih. Dia pernah marah besar cuman karena ada anggota yang memanipulasi laporan keuangan. Dia juga punya kontribusi besar untuk organisasi. Deal dengan banyak sponsor tiap ada acara kampus selalu sukses Jeonghan amankan. Mungkin itu juga alasan kenapa orang-orang segan macem macem sama dia. Padahal, Jeonghan cuma menjalankan tugasnya aja. Ditambah lagi, dia sering malas ngobrol sama orang lain, jadi ya kelihatannya galak.

"Lo tuh bisa nggak sih makan yang bener," ucap sahabatnya, Mingyu, sambil duduk di kursi depan Jeonghan.

"Lah, bener ini gue makan." Jeonghan melanjutkan makan mienya sambil menatap Mingyu sebal karena acara makannya di ganggu. Mingyu lebih sebal lagi lihat menu makan Jeonghan yang nggak pernah berubah.

"Makan nasi. Gue perhatiin lo dari kemarin beli mie mulu."

"Bingung, nggak ada yang gue suka di sini."

"Besok gue masakin deh biar makan lo agak bener dikit." Jeonghan cuma ngangguk-ngangguk aja denger omongan Mingyu. Seneng juga sih, jadi nggak perlu repot mikirin mau makan siang apa besok. Mingyu lanjutin menikmati makan siangnya sementara Jeonghan sibuk dengan ponselnya.

"Gyuu..." panggil Jeonghan, disambut gumaman Mingyu yang lagi asik ngunyah.

"Saldo e-money gue kok ngurang terus ya? Padahal nggak gue pake," kata Jeonghan sambil mengernyitkan dahi, merasa aneh setelah cek saldonya.

"Ketuker kali? Mau gue tanyain di grup?"

Belum sempat Jeonghan menjawab, ponselnya berkedip, menandakan ada notifikasi masuk. Kemudian Jeonghan yang sudah menghabiskan makanannya beralih memeriksa ponselnya.

Wonwoo: Han, kayaknya e-money kita ketuker deh. Aku mau balikin, sekalian gantiin saldo yang kepake.  

Wonwoo: Kamu di mana, Han? Biar aku samperin.  

Jeonghan: Nggak usah, aku aja yang ke sana. Kamu di mana?  

Wonwoo: Aku di sekre. Sorry ya, Han..

Pesan itu berakhir jeonghan baca saja. 

"Benar ketuker, gue mau nuker dulu. Lo duluan aja ke parkiran," ucap Jeonghan sambil beres-beres barang. Mingyu cuma ngangguk dengan mulut penuh, sementara Jeonghan beranjak pergi ke tempat Wonwoo.

“Won,” panggil Jeonghan ketika sampai di sekre dan melihat Wonwoo yang sedang sibuk di depan komputer, main photoshop—yang Jeonghan nggak ngerti sama sekali tiap fungsi toolsnya buat apa. Wonwoo menoleh, menyuruh Jeonghan masuk dan duduk di kursi sampingnya.

Udah sore, sekre BEM tentu saja sepi, jadi tinggal Wonwoo seorang di sana karena dia seksi pubdok. Sebenarnya Wonwoo bisa aja ngerjain itu di kosannya, tapi jeonghan tahu betul dia lebih suka diam di kampus.

"Ko belum pulang, Han? Bukannya kelas kamu udah selesai dari jam tiga tadi?" tanya Wonwoo sambil menyerahkan kartu e-money yang diambilnya dari tas. Jeonghan pun menukar dengan kartunya yang asli.

“Iya, tadi abis makan sama Mingyu. Kamu sendiri belum pulang?”

“Biasalah, ini belum selesai. Aku nggak ganggu kamu makan kan?”

“Enggak kok, udah selesai tadi. Eh, ini kamu ko bisa sadar ketuker sama aku? Aku aja baru sadar tadi pas cek saldo.”

“Kayaknya ketuker pas rapat, aku juga awalnya nggak ngeh. Tapi pas mau tap-in, gagal terus. aku baru sadar pas ngeliat belakang kartu, terus pas diisi muncul nama kamu.”

Jeonghan ngangguk-angguk sambil memperhatikan sekitar, lalu tatapannya berakhir di Wonwoo, yang juga menatap dia.

“Kamu udah mau pulang, Han?”

“Iya, udah beres juga. Kamu masih lanjut kah?”

“Enggak, udah selesai. Kamu mau bareng aku ga, atau udah janjian sama yang lain?”

Alis Jeonghan terangkat sedikit mendengar pertanyaan itu, sebelum dering ponselnya tiba-tiba menjawab lebih dulu, seakan menjawab pertanyaan Wonwoo.

“Iya, gue udah selesai ini. Tunggu bentar,” ucap Jeonghan sambil melirik ke arah Wonwoo yang mulai membereskan barangnya.

“Kepo lo. Ya udah, terserah mau ke mana, gue ngikut.” Kemudian panggilan di matikan bersamaan dengan Wonwoo yang sudah selesai, siap untuk pulang.

“Ayo turunnya bareng aja."

Wonwoo itu mantan Jeonghan. Belum ada sebulan sejak mereka putus, mengakhiri hubungan yang sudah berjalan sebelas bulan. Kalau ditanya kenapa putus, mereka pasti bilang, "Udah nggak cocok." Padahal, alasan sebenarnya lebih kompleks. Wonwoo yang terlalu posesif, sedangkan Jeonghan nggak suka dikekang dan selalu ingin bebas. Ada lah beberapa perkataan Wonwoo yang membuatnya sakit hati kemudian memutuskan untuk mengakhiri hubungan.

Semua orang tahu kalau Jeonghan itu cinta pertama Wonwoo, sedangkan Wonwoo cuma salah satu dari sekian banyak pria yang pernah ada di hidup Jeonghan. Tapi, bagi Jeonghan, Wonwoo berbeda. Dia cowok berkacamata pertama yang menarik perhatian Jeonghan, yang kasih pet name yang sampai sekarang masih Jeonghan suka, yang ngajak dia coba makanan-makanan aneh tapi ternyata enak, yang bikin Jeonghan bisa manja—sesuatu yang jarang dia lakukan.

Intinya, dulu cinta Jeonghan dan Wonwoo sama besarnya.

"Oh, sama Mingyu?" tanya Wonwoo.

"Iya, duluan ya, Won. Kamu hati-hati," pamit Jeonghan sambil tersenyum, melambaikan tangan sebelum akhirnya naik ke motor Mingyu yang langsung membantu memasangkan helm ke kepala Jeonghan.

"Sama mantan lo itu ketukernya?"

"Iya, udah, cepet jalan. Katanya lo mau es krim."

"Sabar, dia masih liatin lo tuh."

"Bodo amat, cepet ih!" Jeonghan memukul pundak Mingyu yang tertawa, kemudian motor melaju meninggalkan Wonwoo yang masih diam, menatap keduanya pergi. Malamnya, yang telat Jeonghan sadari, saldo e-money miliknya bertambah lima ratus ribu.


Hari ini, Jeonghan benar-benar merasa sial. Meski nggak ada yang namanya "hari sial" di Kalender, cuaca yang terik sukses membuat mood-nya memburuk. Panasnya bikin dia nggak nyaman sepanjang hari, dan nggak ada cara yang terlintas di benaknya untuk meredakan amarah, kecuali satu: segelas jus segar. Tiba-tiba, Jeonghan teringat dengan jus favoritnya di sebuah kios kecil. Tempat itu udah lama nggak dia datangi sejak putus dengan Wonwoo. Biasanya sih, dia nitip temen, males ke sana langsung. Tapi hari ini, rasa gerah ngalahin segalanya.

Jeonghan sampai di kios jus itu dan nggak sengaja ketemu sama Wonwoo, yang juga baru datang. Tempat ini memang sering mereka datangin dulu, rekomendasi dari Wonwoo sih memang. Setelah putus, Jeonghan jadi jarang kesini, ngehindarin kenangan yang ada di tempat kecil itu. Wonwoo menyapanya dengan senyum yang hangat, membuat Jeonghan sedikit kikuk tapi dia langsung nyamperin Wonwoo dan duduk di sebelahnya.

“Mas Jojo mau pesen dong,” ucap Jeonghan.

"Udah lama saya nggak lihat Mas Jeonghan sama Mas Wonwoo barengan ke sini," kata Mas Jojo, si penjual jus, sambil tersenyum lebar. "Kemarin-kemarin Mas Wonwoo aja sendiri, katanya Mas Jeonghan sibuk banget." Wonwoo berdehem dan melirik ke arah Jeonghan, yang menahan senyum kecil sambil mengangkat alis.

"Ini kayak biasa kan? Semangka sama strawberry?" lanjut Mas Jojo.

Jeonghan yang menjawab, “Mas Jojo masih inget aja ya, keren. Iya mas, kayak biasa.” Pipi Wonwoo sudah merah samar, mungkin malu karena komentar Mas Jojo tadi. Dia cuman diam, mungkin menghindari tatapan Jeonghan.

"Inget dong, Mas Wonwoo hampir setiap hari beli. Katanya buat pacarnya yang sibuk," goda Mas Jojo lagi. Kali ini muka Wonwoo benar-benar merah, dia berdehem lagi, lebih canggung dari sebelumnya. Sementara itu, Jeonghan mengerutkan dahi, bingung. Sejak kapan Wonwoo mempunyai pacar.

"Kamu udah punya pacar, Won?" bisik Jeonghan, langsung nanya to the point. Soalnya, di telinganya sama sekali nggak ada kabar atau desas-desus soal Wonwoo pacaran lagi.

"Nggak," jawab Wonwoo menegaskan, "itu aku jawab gitu biar nggak ditanya-tanya. Kamu tau lah Mas Jojo gimana."

Jeonghan ngangguk-ngangguk, setuju. "Iya sih, terus jus strawberry-nya buat siapa?"

"Chan, Seungkwan, atau aku tawarin aja ke yang lain.”

"Oh gitu," gumam Jeonghan paham, meskipun dia tetap heran kenapa Wonwoo harus beli dua jus setiap hari. Apalagi, Wonwoo bukan penggemar jus strawberry. 

Pesanan mereka nggak lama selesai, dan keduanya mengambil jus itu bersamaan. Saat Jeonghan hendak membayar, tangannya ditahan oleh Wonwoo yang sudah lebih dulu menyerahkan uang ke Mas Jojo.

“Ini aja, Mas. Makasih ya,” ucap Wonwoo sambil memaksa Jeonghan memasukkan kembali uangnya. Jeonghan tersenyum kecil, lalu mengucapkan terima kasih. Mereka keluar dari kios dan berjalan beriringan, Jeonghan ngerasa-nya kayak pas mereka pacaran.

"Aku ganti nanti, ya," ujar Jeonghan pelan.

"Nggak usah, kayak sama siapa aja.”

Jeonghan hampir aja bilang ‘emang kamu siapa?’ untung dia tahan. Jeonghan memilih mengucapkan terima kasih sambil menyeruput jus miliknya. Tapi baru satu tegukan, alisnya berkerut.

"Won, ketuker. Ini semangka," ucap Jeonghan.

"Lah iya, warnanya juga beda." Wonwoo tertawa kecil sambil menusukkan sedotan ke jus strawberry yang belum diminumnya, kemudian memberikan jus nya ke Jeonghan. "Tuker aja sini." 

Jeonghan menerimanya dengan tatapan bingung. Dulu mereka sering bertukar makanan atau minuman seperti ini tanpa pikir panjang. Sekarang, meski sudah putus, kebiasaan itu masih terasa... akrab.

"Tapi yang ini udah aku minum. Aku beliin baru aja, yuk?" tawar Jeonghan.

“Nggak usah, dulu juga sering begini kan?” jawab Wonwoo. Memang, waktu mereka pacaran, hal-hal kecil kayak tukeran minuman itu biasa. Mereka sudah melakukan lebih dari berukar minuman . Sekarang, terasa sedikit aneh, tapi Jeonghan tetap menerima tanpa protes.

“Oke,” jawab Jeonghan, hanya bisa mengangguk. Mereka meminum jus masing-masing.

"Abis ini mau kemana, Han?" tanya Wonwoo.

"Masih ada rapat sama harus ngerjain tugas kelompok sih. Kamu?" Jeonghan balik nanya sambil memeriksa jam di ponselnya.

“Mau ke sekre lagi. Tapi ayo, aku anterin kamu ke kampus dulu,” kata Wonwoo, masih dengan nada perhatian yang nggak berubah.

Jeonghan sedikit heran. "Tumben kamu pulang siang. Tapi nggak usah, Won, aku bisa sendiri."

"Nggak apa-apa, aku anterin ya, Jeonghani."

Anjing

Itu kata Jeonghan dalam hati. Udah lama banget Wonwoo nggak manggil dia dengan nama panggilan itu. Jeonghan jadi deg-degan gajelas, tapi dia cuman ngangguk sambil berusaha menjaga ekspresi tetap santai. Mereka pun berjalan beriringan menuju kampus. 

Gatel banget itu tangan Jeonghan pengen gandeng tangan Wonwoo karna udah kebiasaan. untungnya dia tahan.

Begitu sampai di ruangan kelas, Jeonghan berterima kasih sebelum Wonwoo pamit. Di kelas tentu saja Jeonghan langsung disambut ledekan dari Seungcheol yang kebetulan ada di sana. "Eh, jalan bareng mantan nih, ciee Jeonghan sama Wonwoo!" Seungcheol memang hobi ngegoda kalau soal beginian. Cuma dia dan Mingyu yang berani ngelakuin itu ke Jeonghan.

"Berisik lo," jawab Jeonghan sambil melirik tajam. "Lo juga kan masih sering jalan sama mantan lu si Joshua." 

Seungcheol langsung panik, "Eh bacot, jangan kenceng-kenceng ngomongnya!"


Jeonghan sebenarnya sangat malas hari ini. Dia baru aja dikerjai teman sekelasnya yang nyuruh dia merapikan makalah sekaligus mencetak dokumen tersebut. Dia sih iya-iya aja, walau sambil marah-marah karena formatnya berantakan dan banyak banget yang harus diedit.

“Aneh lu, marah-marah tapi tetep dikerjain,” komentar Seungcheol yang duduk di samping, sambil menatap Jeonghan yang ngomel sendiri. Siang itu, Mingyu dan Joshua juga udah kumpul, soalnya bakal ada rapat bareng semua divisi. Tapi cuma mereka berempat yang datang duluan, jadi sambil nunggu yang lain, mereka gotong-royong beresin ruangan dan pasang proyektor.

“Kesel gue, dikira mereka doang apa yang sibuk? Tai banget.” Jeonghan terus ngoceh sambil berusaha merapikan file-file makalah itu.

"Lu suruh mereka bayar dong, itu kaya ngerjain lo tau," saran Seungcheol dengan nada sok bijak.

"Emang!" Jeonghan menjawab cepat. "Makanya gue minta mereka beliin gue minuman biar gue nggak ngambek."

“Masa cuma minuman doang? Murah amat.” 

Ucapan Seungcheol langsung dibalas lemparan kertas dari Jeonghan, tapi Seungcheol malah ketawa. 

“Selama seminggu.”

“Gokil, terus diiyain?” Mingyu yang lagi berusaha masang proyektor ikut nimbrung.

“Ya iyalah,” jawab Jeonghan sombong, merasa menang karena temannya udah nge-iya-in permintaannya. Setelah beresin makalah itu, Jeonghan ngerasa capek banget jadi dia jalan nyamperin Joshua yang lagi duduk di lantai, terus rebahin kepalanya di atas paha Joshua.

"Capek," keluhnya. Tangan Joshua yang lagi nggak pegang HP refleks ngusap-ngusap kepala Jeonghan yang mulai nutup mata, ngerasa nyaman banget di usap begitu.

"Lo tidur jam berapa semalem?" tanya Joshua sambil memainkan rambutnya.

"Jam tiga, kayaknya," jawab Jeonghan pelan, setengah mengantuk.

“Yaudah, tidur aja dulu, masih sejam lagi sebelum rapat mulai,” kata Joshua, menasihati seperti biasanya. Jeonghan ngangguk kecil dan mulai memejamkan mata. Dielus-elus begini bikin dia ngerasa damai banget, sampai nggak peduli dengan tatapan Seungcheol yang dari tadi melotot ke arahnya. Saat ini, yang ada di pikirannya cuma tidur.

Beberapa menit kemudian, ruangan rapat mulai terisi penuh, suasana makin ramai. Tepat sebelum rapat dimulai, Wonwoo dateng. Pandangannya langsung tertuju ke Jeonghan yang masih tertidur dengan kepala di paha Joshua. Ada ekspresi aneh di wajahnya, tapi dia tetap jalan mendekat. Joshua yang ngerasa ditatap begitu langsung balik menatap Wonwoo.

"Kenapa dia?" tanya Wonwoo datar, tanpa memedulikan Joshua yang jelas-jelas nggak terlalu suka kalau ada Wonwoo di sekitar sehabatnya.

"Dia tidur, kecapekan. Bangunin aja Won, rapatnya mau mulai," jawab Seungcheol yang cukup paham gimana awkward-nya hubungan Wonwoo dan Joshua. Seungcheol tidak tahu alasannya, tapi itu karna Joshua yang pernah menjalani hubungan dengan Jeonghan semasa mereka berada di sekolah dasar. Joshua juga merupakan satu-satunya orang yang tahu alasan Wonwoo dan Jeonghan putus.

Wonwoo mengangguk, lalu gantian ngusap kepala Jeonghan dengan lembut. Jeonghan hanya bergumam pelan sebagai respons, masih setengah tertidur. Joshua membantu dengan menggoyangkan pahanya sedikit.

"Bangun, Han. Rapatnya mau mulai," ucap Joshua pelan.

Jeonghan membuka matanya perlahan dan melihat tangan Wonwoo yang terulur di depannya. "Ayo, Han," kata Wonwoo lembut.

Jeonghan menerima uluran tangan itu, dan Wonwoo membantunya bangun. Kemudian mereka duduk berdampingan di kursi, mengabaikan puluhan pasang mata yang menatap mereka dengan rasa penasaran. Momen ini seperti déjà vu—seperti bulan lalu, ketika Wonwoo masih selalu ada di sampingnya, nggak peduli dengan pandangan orang lain. 

Rumor Jeonghan putus dengan Wonwoo tentu saja cepat menyebar. Terlihat dari keseharian yang biasanya Wonwoo selalu ada di samping Jeonghan -begitupun sebaliknya- kayak lem kertas, terus mereka tiba-tiba hidup masing masing.

Kalau kejadian Jeonghan rebahan di paha Joshua kayak tadi kejadian pas mereka masih pacaran, kayaknya Wonwoo bakal marah besar. Nggak mungkin Wonwoo ngebolehin Jeonghan tidur di paha Joshua kayak tadi. Dia pasti bakal langsung mengambil alih posisi Joshua, dan nanti di jalan pulang mereka bakal bertengkar, dengan Wonwoo menuntut Jeonghan untuk jaga jarak dari cowok lain. Lalu Jeonghan akan membalas dengan argumen bahwa Joshua hanya sehabatnya dan tidak akan pernah berubah.

Pertengkaran seperti itu yang membuat hubungan mereka kandas.


“Bingung gue, kok bisa ketuker terus?” keluh Jeonghan, matanya menatap dokumen tugas kelompok yang sudah dia print sebelumnya. Tugasnya ketuker dengan tugas milik Wonwoo, dan awalnya dia juga nggak sadar kalau kedua dokumen itu salah. Akhirnya salah satu temannya baru menyadari, dan Wonwoo untungnya datang tepat waktu sebelum mereka presentasi.

“Gue mau nanya, Han, tapi takut lu kesinggung,” ucap Seungcheol sambil nyender di kursi taman sore itu. Dia nunggu Joshua, sementara Jeonghan nunggu Mingyu. Jeonghan biasanya malas mengendarai kendaraan dan lebih memilih memberi makan mingyu sebagai bensin, toh jalan mereka pulang arahnya sama.

“Tanya aja, lo biasanya juga langsung nanya, nggak mikir gue kesinggung atau enggak.” Seungcheol ketawa karena omongan Jeonghan ada benernya.

“Lo masih demen nggak sih sama dia?” tanya Seungcheol.

“Gue nggak tahu,” balas Jeonghan ragu. “Bingung gue, di satu sisi lo tau cuma dia yang bisa bikin gue begini, tapi di sisi lain gue nggak suka kalau dia suka nuduh-nuduh gue.”

“Lo kan pernah bilang dia punya trust issue.” Jeonghan menghela nafas mendengar ucapan seungcheol. Seungcheol tahunya alasan Jeonghan putus itu cuman karna mereka sering berantem dan Jeonghan udah di tahap cape banget.

“Ya masa gue harus sabar tiap kali dituduh gitu? Lo kan tahu sendiri, gue nggak pernah macem-macem semenjak sama dia.”

Seungcheol mengangguk paham, dia juga tahu itu. Tapi Seungcheol juga paham banget sehabatnya masih belum sepenuhnya moveon sama Wonwoo karna dia terus-terusan nyanyi lagu bernadya, lockscreen ponsel Jeonghan juga foto pas dia sama Wonwoo di hari pertama pacaran. Wonwoo juga gak ada bedanya.

 “Wonwoo tuh setelah putus sama lu bener-bener nyibukin diri, tau. Sesekali dia masih reply story gue yang ada lu-nya, terus nanya kabar lo gimana. Kayaknya dia udah nyadar salahnya di mana. Kayak tadi, pas lu tidur di paha Joshua, dia nggak marah sama sekali.”

“Ya orang udah nggak ada hubungan, ngapain marah,” Jeonghan jawab sambil merapikan rambutnya yang mulai memanjang dan sedikit menghalangi pandangannya.

“Kalo dibandingin sama kasus sebelumnya, udah mendingan, kan? Hubungan kalian tuh kurang komunikasi menurut gue, coba deh ngomong yang bener dari hati ke hati, jangan langsung ciuman.”

“Tai lo,” umpat Jeonghan sebal dengan kalimat terakhir.

“Coba kalau dia punya pacar baru, lo marah nggak?” tanya Seungcheol lagi.

“Gue nggak marah sih, cuma kayak sedih aja. Gue nggak ngebayangin Wonwoo sayang sama orang lain selain gue. Nggak kebayang juga kalau gue bukan sama dia.”

“Nah, yaudah ajak ketemuan tuh si Wonwoo. Ngobrol yang bener,” Seungcheol mengusulkan. “Emang mau lo liat Wonwoo ciuman sama cewe lain.”

“Lo sebenernya nyuruh gini biar gue nggak ganggu lo sama Joshua, kan?” tuduh Jeonghan, yang langsung dibalas Seungcheol dengan senyuman lebar. Karna tuduhan tersebut sembilan puluh sembilan persen benar. Jeonghan memukul pelan bahu Seungcheol.

“Eh, tapi serius, obrolin dulu lah.”

“Iya, bentar, gue chat,” jawab Jeonghan, sambil mengeluarkan ponselnya.

“Sekarang?”

“Yaiya?”

“Gebleknya emang, lo yang udah kangen sama dia, kan?” Jeonghan cuma ngangguk denger tuduhan itu dan mulai mengetik pesan di HP-nya.

Jeonghan: Won, kamu lagi di mana?  

Jeonghan: Ketemu yuk, ada yang pengen aku obrolin.  

Wonwoo: Kenapa, Han?  

Wonwoo: Aku di sekre ini, mau ketemu di mana?  

Wonwoo: Aku siap-siap dulu bentar ya.  

Jeonghan: Di kost kamu aja gimana?  

Jeonghan: Aku males di luar... tapi kalau kamu mau di luar, ayo aja.  

Wonwoo: Ayo di kost aja. Kamu masih di kampus kan? Aku jemput ya?  

Jeonghan: Nggak usah, aku sama Mingyu nanti.  

Wonwoo: Bareng aja, masa misah, Han?  

Wonwoo: Mingyu juga belum pulang kan?  

Wonwoo:Aku Otw yaa.  

Jeonghan: :))  

Jeonghan: Yaudah di halte aja, ini aku lagi jalan ke halte.  

Jeonghan menghela nafas, kemudian menyerahkan ponselnya ke Seungcheol karna sedari tadi pria itu tertangkap basah melirik ke ponselnya. Penasaran.

“Masih aja ya dia,” ucap Seungcheol takjub setelah membaca pesan yang di kirim Wonwoo.

“Kasih tahu Mingyu, gue pulang duluan,” ucap Jeonghan sambil merapikan barang-barangnya.

“Balik ke kos lo, nggak?”

“Gue nggak tahu,” jawab Jeonghan. “Duluan ya, Cheol.”

“Yo, hati-hati. Buka obrolan, jangan buka baj—”

“Paling tai lo emang,” potong Jeonghan kesal, sebelum berjalan meninggalkan Seungcheol menuju halte. Tak lama setelah menunggu, Wonwoo datang. Dia menyapa Jeonghan dan membukakan pintu mobil untuknya.

“Makasi.” Wonwoo tersenyum, duduk di kursi kemudi, dan menjalankan mobilnya. Tangan Wonwoo secara refleks menurunkan sunvisor karena sore ini matahari cukup terik. Muscle memory.

“Mau makan dulu?”

“Aku nggak lapar sih, kalau kamu mau makan, ayo aku temenin.”

“Kebiasaan, kalau makan harus nunggu lapar,” Jeonghan terkekeh, matanya menatap Wonwoo dari samping. Kalau ditanya apakah dia merindukan Wonwoo, tentu saja iya.

Wangi mobil ini masih sama, stiker yang pernah Jeonghan tempel di dashboard juga masih ada.P ertanyaan Seungcheol tadi berputar di kepalanya. Bagaimana kalau yang duduk di samping Wonwoo bukan Jeonghan? Memikirkannya saja membuat hatinya sakit.

“Kenapa, Han?” tanya Wonwoo ketika melihat Jeonghan menatapnya lekat.

It's been a long time, kangen,” jawab Jeonghan, hampir saja Wonwoo menginjak pedal rem karena kaget dengan ucapan Jeonghan yang tiba-tiba. Mereka saling bertatapan, tapi Jeonghan cepat-cepat mengalihkan pandangannya. “Lihat ke depan, kamu lagi nyetir ini.”

“Sorry, sorry. Kaget.”

“Boleh mampir supermarket dulu nggak? Tiba-tiba pengen popmie.”

“Yang pedas? Ada di kost ko.”

“Hah, emang kamu mulai makan pedas?”

Wonwoo berdehem. “Nggak, aku suka nggak sengaja kebeli kalau ke supermarket.”

Kebiasaan itu udah jadi rutinitas. Biasanya Jeonghan nitip popmie setiap Wonwoo pergi berbelanja, bahkan kalau Jeonghan nggak nitip pun, Wonwoo tetep ngebeliin. Sesampainya mereka di kost, beneran ada banyak popmie di tempat makanan, dan beberapa camilan kesukaan Jeonghan.

“Kamu mau makan sekarang?”

“Nggak mau, ngobrol dulu yuk?”

“Boleh. Bentar, aku ambil jeruk dulu ya.”

Jeonghan duduk bersandar di sofa, sementara Wonwoo menyusul dan duduk di bawah sofa, di sebelah kaki Jeonghan. Tangan Wonwoo sibuk mengupas jeruk, kesukaan Jeonghan. Hening meliputi mereka berdua. Jeonghan berpikir harus mulai dari mana. Sementara Wonwoo hanya bingung menunggu, sampai Jeonghan akhirnya membuka suara.

“Wonungie,” panggilnya. Wonwoo menoleh, menyimpan jeruknya, kemudian beralih bersila menghadap Jeonghan.

“Kenapa, Hannie?” 

Jeonghan mengambil tangan Wonwoo dan menggenggamnya, memainkan garis tangan Wonwoo. Kebiasaan Jeonghan jika sedang gugup.

“Makasih ya, Won. Kalau tadi kamu telat dikit, kayaknya aku nggak bisa presentasi dan nggak bakal dapet nilai.” Kepalanya menoleh ke arah Wonwoo yang sedang menatap tangan mereka. “Perasaan dari kemarin kita ketuker terus, ya?”

“Iya, maaf ya. Aku nggak ngecek punyaku, jadi ketuker terus.” Wonwoo membenarkan kacamata dengan tangan yang satunya sebelum mengangkat kepalanya dan menatap Jeonghan. 

“Hannie,” panggilnya, yang direspons oleh gumaman Jeonghan. “Kangen, aku juga kangen kamu.” Tangan Jeonghan ia simpan di pipinya, matanya menatap Jeonghan lekat. “Maaf, aku selalu egois dan sering nuduh kamu ini itu, padahal aku sendiri tahu kamu nggak akan macem-macem.”

Jeonghan mengusap pipi Wonwoo pelan, tapi dia tahu ucapan Wonwoo belum selesai.

“Selama satu bulan ini aku mikir, ternyata kita putus emang aku yang salah. Aku yang selalu larang kamu pergi main sama teman kamu. Aku selalu minta kamu sama aku terus, padahal kamu juga punya kehidupan. Aku minta maaf. Aku nggak akan bisa kalau jauh dari kamu, gak akan pernah bisa.” Air mata mengalir di pipi Wonwoo, dan Jeonghan langsung mengusap air mata yang jatuh. Tapi Wonwoo dengan cepat mengambil tangan Jeonghan dan menyimpannya di depan bibirnya, menciumnya lembut.

“Aku juga nggak bisa kalau nggak sama kamu. Tapi, omongan kamu kemarin bikin aku sakit hati, tau ga?” Jeonghan sebenarnya juga merasa sedih, memukul bahu Wonwoo pelan sebagai ungkapan campur aduk perasaannya.

“Di sini, yang cinta tuh bukan kamu doang. Aku juga sayang kamu. Bisa-bisanya kamu terus terusan ngeraguin aku? Aku juga bisa sakit hati, Won.” Jeonghan terus memukul bahu Wonwoo di setiap kalimatnnya. "Kenapa kamu diem aja sih pas aku pukul?” 

“Gapapa, aku memang pantes kamu pukul.” Jeonghan mendengus. “Lagipula, gak kerasa kok.” Dia memberikan satu pukulan terakhir yang lebih ringan, dan Wonwoo hanya tertawa sambil mengusap pipi Jeonghan.

“Jangan nangis, ya,” kata Wonwoo lembut.

“Kamu juga nangis,” balas Jeonghan, tersenyum meski air mata masih mengalir. Wonwoo kemudian mencium lembut wajah Jeonghan, mulai dari kedua mata, hidung, hingga pipi.

“Sama aku terus ya, Han,” ucap Wonwoo penuh harapan, tangannya merangkul pinggang Jeonghan dan menundukkan kepalanya di leher Jeonghan. Menghirup wangi yang selalu dia rindukan.

“Asal kamu ngga nuduh aku tidur sama temen aku lagi.” Wonwoo memeluk jeonghan semakin erat, dan Jeonghan terkekeh saat mendengar Wonwoo terus-menerus meminta maaf di lehernya. “Udah ah, geli. Lepas dulu.”

“Gak mau.”

“Apa sih, manja banget!” 

“Sama kamu doang.” Senyum Jeonghan makin lebar, tangannya mengusap belakang kepala Wonwoo, membalas pelukannya dengan penuh kasih sayang.

“Ya iya, sama aku. Kalau sama yang lain, aku putusin lagi.”

“Han, ih, jangan ngomong putus-putus gitu. Aku gak mau. Gasuka.” Sama seperti Jeonghan, yang bisa jadi orang berbeda di depan Wonwoo, Wonwoo pun melakukan hal yang sama. Dia percaya Jeonghan adalah rumahnya dan akan selalu bersamanya. Yang terpenting baginya adalah memastikan Jeonghan tidak lagi merasa kecewa seperti terakhir kali.

Jeonghan melepaskan kepala Wonwoo yang semula di lehernya untuk dia tatap lelaki yang tampak sedih dengan bibirnya yang bergetar. Jeonghan terkekeh, lalu mencium bibir Wonwoo singkat. 

“Ya udah, maaf. Nih, udah di cium.” Wonwoo tertawa, lalu kembali memeluk Jeonghan erat.

“I love you,” ucap Wonwoo, terus di ulang bagaikan melodi, balasan Jeonghan membuat senyum Wonwoo makin lebar.

“I love you more, sayang.”


Setelah mereka menjalin lagi hubungan yang sempat kandas, Jeonghan ngerasa ada yang beda dari sikap Wonwoo. Dalam arti yang baik sih, karena Wonwoo jadi lebih dewasa dan ngurangin kebiasaan cemburu berlebihan yang dulu sempat bikin Jeonghan merasa tertekan.

Tiga bulan setelah balikan, mereka akhirnya memutuskan buat tinggal bareng. Tentu aja setelah pertimbangan yang matang, sebab kamar kost Wonwoo yang jarang dipakai dan dia lebih seneng ngabisin waktu menginap di tempat Jeonghan. Akhirnya, mereka pindah ke apartemen yang lumayan jauh dari kampus. Wonwoo sih nggak masalah, yang penting mereka tetap bareng.

“Mau makan apa hari ini, sayang?” tanya Wonwoo ketika dia melihat Jeonghan baru selesai mandi dan duduk santai di sofa di sampingnya. Sofa ini adalah sofa yang dibawa Wonwoo dari kontrakannya, dan sekarang jadi saksi mereka balikan.

“Hmm, pengen popmie lagi deh,” jawab Jeonghan sambil melirik makanan favoritnya.

“Jangan popmie. Mingyu bakal ngomel kalau kamu makan mie,” balas Wonwoo sambil nyelipin tangan di pinggang Jeonghan dan mencium bahunya yang sedikit terekpos. “Wangi, nih.”

“Iya dong, habis mandi. Emangnya kamu belum mandi.”

“Enak aja, aku mandi duluan ya tadi.” Jeonghan terbahak, Wonwoo mengangkat kepalanya yang semula berada di tengkuk pacarnya namun tangannya merambat mengusap punggung Jeonghan. “Ayo, mau makan apa? Kamu belum makan kan?”

“Yaudah, aku pengen sayur, tapi pengen kamu yang masakin.”  

“Boleh, capcay mau?” tanya Wonwoo.

“Mau!” Jeonghan langsung semangat. “Sana kamu masak,” usir Jeonghan sambil melihat Wonwoo yang belum bangkit dan malah menggigit bahunya.

“Sakit, ih!”

“Gemes,” kata Wonwoo sambil membenarkan kacamata, lalu mencium bibir Jeonghan cepat sebelum berjalan ke dapur dan mulai masak. 

Sementara itu, Jeonghan mulai bosan, jadi dia main ponsel dan buka pesan dari sahabatnya yang udah lama nggak ketemu.

Jeonghan: Gue di masakin sayur sama pacar gue.  

Seungcheol: Ga nanya gue sumpah

Jeonghan: Fyi aja

Jeonghan: Mau kesini gak, makan bareng? Ajak yang lain juga.  

Seungcheol: Lagi jalan sama Joshua. Nanti aja lah besok, mau gue ajak mabar tuh pacar lo. Udah janjian juga sama Mingyu. 

Jeonghan: Udah gue hapus gamenya.  

Seungcheol: Gak mungkin!  

Jeonghan: Lu main sama Wonwoo kayak pernah menang aja.  

Seungcheol: Ya justru itu, gue lagi ada misi mengalahkan raja terakhir.  

Jeonghan ketawa lagi, bikin Wonwoo penasaran.

Chating-an sama siapa, sayang?” 

“Seungcheol. Dia besok mau main game lagi sama kamu, katanya mau ngelanjutin misi ngalahin kamu yang kayak raja terakhir.” Wonwoo ikut ketawa denger itu, ngerasa bangga.

“Yang bisa kalahin aku cuman kamu doang.”

“Emang.” Itu sih, Wonwoo yang ngalah demi liat Jeonghan seneng karena menang.

“Eh, ini kamu gak mau bantuin aku?”

“Gak ah, kalau aku kesitu, bukannya masak, nanti kamu malah cium-cium aku,” kata Jeonghan, wonwoo sih ketawa aja dengernya, ngebiarin Jeonghan terus main ponsel sementara dia melanjutkan masakannya.

Wonwoo senang banget liat Jeonghan lebih banyak senyum belakangan ini. Makanya dia coba buat berubah dan mendekatkan diri sama teman-teman Jeonghan. Walaupun awalnya agak susah, Jeonghan selalu bantu, ngajak Wonwoo main bareng, dan lebih menjaga jarak dengan temannya yang lain. Jeonghan juga udah memblokir semua mantannya —kecuali Joshua— meskipun Wonwoo nggak minta, tapi itu bikin Wonwoo lebih lega.

Mereka berdua saling terbuka, nggak ada rahasia yang ditutup-tutupi. Walaupun kadang masih ada argumen di antara mereka, tapi mereka sadar komunikasi itu kunci buat tetap bersama. 

Setelah Wonwoo selesai masak, dia menghampiri Jeonghan yang ternyata udah tertidur di sofa. Alih-alih membangunkan, Wonwoo milih ambil selimut dan ikut berbaring di sebelah Jeonghan. Dia nggak sengaja membangunkan pacarnya, tapi langsung memeluk dan mengusap punggung Jeonghan sambil membenarkan poni yang menghalangi wajahnya. 

“Sttt, tidur lagi ya, Jeonghanni, sayangku.” Kening Jeonghan dicium lembut sebelum Wonwoo ikut memejamkan mata. 

Jeonghan nggak akan pernah tahu tentang satu rahasia yang disimpan Wonwoo rapat-rapat, yaitu usaha dia untuk membuat mereka berdua kembali bersama. Banyak hal yang dia lakukan supaya Jeonghan mau bicara dengannya lagi. Rencana yang terakhir berhasil. Kartu e-money yang sengaja Wonwoo tukar, sayangnya Jeonghan baru sadar lama setelahnya, jadi Wonwoo terpaksa basa-basi dan kasih tahu Jeonghan lebih dulu. Terus dia juga sengaja mengikuti Jeonghan saat mau beli jus, supaya mereka bisa berada di tempat yang sama. Terakhir, Wonwoo sengaja mencetak tugas dengan jilid yang sama kayak Jeonghan dan menukarnya, jadi ada alasan buat ngobrol.

Usaha-usaha itu bikin Jeonghan kini ada di pelukannya. Tentu saja nggak ada yang tahu, atau mungkin Seungcheol tahu tentang rahasia yang terakhir?