Actions

Work Header

restrain the instinct

Summary:

yoon yeonghan, a reliable 27-year-old alpha admired by many, leads a perfectly structured life, until he crosses paths with kim mingyu—a young alpha determined to shatter his well-guarded instincts.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

 

Yoon Jeonghan hates Kim Mingyu.

 

Baiklah, mungkin ia terlalu berlebihan melabelinya dengan kata ‘benci’. Karena nyatanya, tidak banyak hal yang masuk dalam daftar kumpulan hal yang ia tidak sukai. Kehidupannya sendiri bisa ia sebut ‘cukup’. Seorang alpha dengan pekerjaan dan posisi yang mencukupi lebih dari apa yang ia butuh dan inginkan-walau terkadang membuatnya ingin membenturkan kepala saat dihadapkan meja penuh dokumen di akhir tahun, memiliki satu-dua teman yang selalu mengajaknya menghabiskan weekend bersama-yang seringnya ia tolak halus karena bergumul di kamar seharian dan cemilan di atas kasur lebih menggiurkan.

“Sayurnya dimakan, Kak Han.”

Sudahkah ia mengatakan ia membenci Kim Mingyu?

“Enggak mau.”

“Biar cepet gede.”

Jeonghan menggeram untuk kesekian kali. Lelah lebih tepatnya lelah dan muak dengan perdebatan berputar tanpa henti yang sedang dipermasalahkan pria di hadapannya sekarang ini. Seketika menyesali mengapa ia memilih duduk di kursi ini. “Umur gue mau 30 tahun, apa kurang gede menurut lo?”

Sang lawan justru melayangkan kekehan. Ada senyum menyebalkan itu lagi di garis bibirnya. “27 tahun tepatnya. Still look as handsome and pretty as when everyone sought you. Tapi, aku lihat kamu enggak pernah makan sayur, Kak. Kamu bu-”

Jeonghan tidak tahu mengapa pria itu mempermasalahkan tubuh dan sayur di piringnya, atau pun hal-hal lain yang sering menjadi bahan yang akan selalu dikomentari. Ia juga tidak tahu sejak kapan kegiatan pengrusuh ini menjadi salah satu agenda permanen di daftar pekerjaan Mingyu setiap harinya.

Kim Mingyu, seorang alpha yang datang di kehidupan monoton kantornya. Tampilannya adalah gambaran sempurna bagaimana alpha dideskripsikan di buku pada umumnya. Tinggi, badan menjulang dengan aura dominasi yang jelas, kepercayaan diri yang selalu ada dan dibawa di manapun ia berada. Tipe yang selalu berhasil mendapatkan atensi dari orang-orang disekitarnya, terutama beberapa omega yang tidak menutupi mencuri pandang, ditambah kepribadiannya yang dengan mudah menggaet teman dalam sekejab.

Dan tidak, Jeonghan tidak membenci Mingyu karena tingkahnya yang menyebalkan 'menyebalkan' atau hasil pekerjaannya yang tidak beres. Justru kebalikannya. Pria itu justru sudah mengambil hati hampir separuh pegawai di kantornya. Ia bahkan yakin semua orang sudah menganggap sang alpha sebagai pegawai tetap di sini.

Walaupun satu hal yang masih menjadi misteri tidak tertulis adalah ketidakadaan pheromone dari si alpha di setiap Jeonghan berada di dekatnya. Tidak, tidak karena pria itu tidak memilikinya. Penjelasannya cukup ada pada kedua pergelangan tangan yang selalu tertutup scent blocker itu, menjadi clue bahwa memang niatnya sang alpha untuk menutupinya.

Sedikit mengundang tanya dari yang lain, karena pada praktik biasanya lebih banyak omega yang menggunakan benda itu guna penutup pheromone, untuk membantu menjaga diri. Hal harus di lingkungan kerja yang lebih banyak didominasi alpha dan beta. Benda yang menyerupai plester luka itu akan menghilangkan pheromone dari si pemakai dari menguar dengan efek sementara juga menghilangkan kemampuan mencium si pemakainya.

Bagaimana Mingyu bisa menahan sisi otomatis alpha yang selalu ingin mendominasi terutama terkait pheromone, Jeonghan tidak tahu.

“It’s easier to work without having to think or be distracted by this whole pheromone thing,” sanggahnya suatu hari.

Pria dengan rambut hitam legam yang tengah berdiri di pusat ruangan sana, memaparkan process dari project kepada para pimpinan adalah seorang freelancer yang kini terikat kontrak pengerjaan sistem website perusahaannya sejak beberapa minggu terakhir. Yang kini-harus ia terima-menempati ruang kerja yang bertempat di samping miliknya. Benar-benar mereka berbagi tembok pembatas.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana setiap harinya akan ada perdebatan atas hal remeh yang alpha itu cari dengannya, yang kejadiannya sudah menjadi pertunjukan biasa bagi pegawai lain yang bahkan tidak mengerjapkan mata melihat tingkah mereka.

"Lo enggak akan berhenti sampai gue bilang iya, kan?"

"Nope."

Jeonghan membenci Mingyu karena alpha itu bisa dengan mudah menjentikkan jari kearahnya, mengetahui segala kata apa yang perlu keluar untuk membuat Jeonghan bereaksi yang diinginkan.

Dan yang hal paling menyebalkan dari segala situasi ini adalah Mingyu yang tidak menerima kata tidak, yang akan mengejarnya sampai tertangkap, dan Jeonghan yang seolah kehilangan kemampuan untuk penolakan.

 

 

“Lagi?"

Adalah satu kata tanya yang menyambut Jeonghan saat berjalan mendekat pada meja bar di tengah ruangan departemennya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 lebih, menyisakan hanya beberapa pegawai di dalam ruangan.

Pertanyaan dari Shua, rekan satu timnya itu mengarah pada kotak putih dengan logo toko kue terkenal yang baru saja berpindah di genggaman tangannya.

“Dari siapa yang sekarang?” Kali ini Jihoon menimpali. Beta itu mendongak sebentar, mengalihkan fokus dari piring makan siangnya yang masih tersisa setengah.

Mengedikkan bahu, Jeonghan lalu mendudukkan diri di salah satu kursi bar, sebelum menjawab, “Enggak tahu namanya, tapi dari bagian HR. Lo mau?” Tangannya mendorong kotak kue ke tengah meja, kepada kedua rekan kerjanya.

Shua memutar mata. “Hadiah tawaran courting buat lo itu. At least, jangan gampang dikasih ke orang, Han.”

“Tapi gue enggak suka yang manis-manis.” Jeonghan mengerutkan dahinya ketika mengintip isi kotak dan sudah merasakan ngilu di giginya begitu melihat banyaknya cream di sana. Dan juga, bukan dirinya yang meminta diberi kue.

"Living up to your reputation as the most eligible alpha, huh?"

Jeonghan mendengus.

Julukan lelucon yang tahun ini terus-menerus dilayangkan teman-teman sekantornya dari permenangan permainan polling iseng dengan judul ‘siapa alpha yang paling dikagumi di kantor?’ dan entah apa permainan semesta, ia mendapat peringkat pertama. Terpaut beberapa point dengan Choi Seungcheol, Direktur Pemasaran mereka yang Jeonghan rasa lebih cocok dimandatkan jabatan itu. Mungkin karena Seungcheol yang tengah terang-terangan dalam misi meng-courting Jihoon dan dirinya yang single, entahlah.

Namun yang pasti, Jeonghan tidak menyukai hal ini yang seolah menjadi kompetensi. Kompetensi yang ia jelas tidak ingin ikut serta. Karena baginya, julukan itu yang mungkin bagi alpha lain adalah penghargaan, justru adalah beban tambahan di pundak.

Ia sendiri tidak memikirkan apapun dari ini, namun sepertinya tidak bagi yang lain. Julukannya itu seolah menjadi panggilan untuk setiap harinya courting gifts ada di atas meja kerjanya, belum lagi ajakan langsung yang selalu ia tolak.

“Kasihan banget ya orang-orang. Udah kalah mutlak duluan mau deketin si alpha paling di-idola-in karena udah ada pawangnya.”

“Siapa?” Kerutan di dahi Jeonghan semakin mendalam ketika mendengar kata ‘pawang’ di perkataan Jihoon.

Duh, siapa lagi kalau bukan Adek Freelancer kita," jawab si beta, yang dilanjut tawa oleh Shua.

“Tapi emang lucu tahu, Han. Lihat lo yang biasanya galak, enggak mau kalah terus berubah kayak anak anjing kalau di depan Mingyu,” kekeh Shua. Tidak mengindahkan raut yang disebut ‘galak’ oleh mereka kini sudah tergambar pada wajah Jeonghan.

Rekan kerjanya itu menambahkan, “Inget yang kejadian kemarin soal-”

"Guys-" Shua belum selesai dengan kalimatnya ketika tiba-tiba Jihoon memotong.

Kepala beta itu menoleh pada sudut arah pintu masuk ruangan mereka, membuat dirinya dan Shua mengikuti arah pandangnya.

“Speaking of the devil.”

Di ambang pintu masuk, Mingyu, si alpha yang menjadi topik pembicaraan di meja bar siang itu tengah terlibat diskusi dengan Hansol, salah satu alpha dari bagian IT.

“Mau taruhan, enggak?” Shua berbisik pelan, hanya ditujukan kepada kedua orang di sampingnya. “Gue yakin Mingyu pas masuk akan langsung ke Han.”

“Terus pasti bawa sesuatu untuk dikasih, yang katanya sih bukan 'courting gift',” lanjut Jihoon, ikut permainan. Tangannya membuat gerakan mengutip untuk dua kata terakhir.

Jeonghan melototkan mata dengan tingkah kedua rekan kerjanya yang seolah tengah mengerjainya sedari tadi.

“Lo berdua kenapa sih?” sergahnya tajam. Namun tatapan galaknya seolah tidak memberikan efek apapun. Kedua beta di depannya itu justru memberikan seringai tanda keyakinan penuh bahwa apa yang mereka taruhkan baru saja akan berhasil.

“Terima aja, Han,” kata Jihoon, selesai menyeruput es kopi hitamnya.

"Terima apaan?"

“Mulai nyoba hubungan lagi. ‘Kan, udah lama juga.”

Jeonghan belajar setelah beberapa kali hubungan gagalnya bahwa ia tidak cocok disandingkan dengan orang lain, romantically. Dan tidak, kesalahan bukan pada mereka, namun pada dirinya sendiri.

Ia masih mendatangi semua kencan buta atau perkenalan yang dibuat oleh sang bunda untuknya. Bertemu dengan omega atau beta yang dinilai dapat menjadi pendampingnya kelak. Namun hasilnya akan selalu sama.

Mereka yang tidak bisa menghadapinya. Ia menerima fakta itu.

Jeonghan tidak menyukai harus berhadapan dengan urusan heat omega atau hubungan kompleks dengan beta, dan lagi, segala ekspektasi yang dipundakkan padanya. Perlindungan, keturunan, seluruhnya membuat segala hal berganti menjadi sebuah beban daripada keinginan.

Ia tahu bahwa sudah menjadi berian semesta untuk dirinya yang seorang alpha dengan segala konsekuensinya. Namun lagi dan lagi, mengapa harus melewati semua itu jika ia sudah cukup dengan keadaan dirinya sekarang?

“Kak Han!”

“Bingo!” seru Jihoon dan Shua bersamaan seolah baru saja memenangkan kompetensi dengan Mingyu yang sudah berdiri di samping kursinya.

Dirinya yang menduduki kursi bar yang tinggi membuatnya hampir menyamai si alpha. Matanya dapat menatap binar hitam milik Mingyu tanpa harus mendongakkan kepala.

“What do you want, Kim Mingyu?”

Balasan tidak ramah serta desah lelah berlebihan yang mengiringi di suaranya tidak menyurutkan tarikan senyum di bibir sana. Anehnya, justru semakin melebar, seolah misinya berhasil.

Detik selanjutnya, sebuah kotak kertas berukuran sedang diletakkan di meja bar, tepat dihadapannya. Aroma kacang dan sesuatu yang terbakar yang khas menyerbu indra penciuman Jeonghan seketika. Dengan menutup mata-pun, ia akan dengan mudah bisa tahu apa isi kotak di atas meja, tanpa membukanya.

Sate ayam.

Melemparkan tatapan bingung, ia bertanya, "What?"

“Kak Han tadi waktu rapat bilang pengen sate ayam, kan. Ini Sate ayam,” jawab Mingyu ringan, seolah ia baru saja menanyakan soal cuaca di luar sana yang tengah mendung.

Tertegun, Jeonghan tidak mengindahkan kekehan bak remaja SMA dari kedua temannya yang lain, yang masih ada di meja bar bersama mereka, menonton dan menguping tanpa sembunyi.

“Gue bisa beli sendiri,” balasnya. Walaupun begitu, tangannya mulai membuka bungkus makanan itu.

Seolah kebal dengan segala topeng penolakan dari Jeonghan, Mingyu hanya tersenyum lebar, lalu ikut mendudukkan diri di kursi kosong samping. Paha keduanya bertubrukan pelan dan dirinya harus menahan diri untuk tidak menarik diri.

Seperti biasanya, tidak seperti saat berdekatan dengan orang lain yang mana indra penciumannya akan segera diserbu wangi segala jenis pheromone, Jeonghan mencium kenihilan dari Mingyu. Hanya ada aroma samar perfume yang menjadi pengganti. Matanya secara otomatis tertuju pada pergelangan tangan pria itu. Sudah mengetahui apa yang akan ia temukan dari balik lengan kemeja navy-nya, yaitu sekilas intipan dari perban scent blocker di sana.

Terkadang Jeonghan tidak bisa menahan rasa penasaran akan seperti apa aroma pheromone pria itu. Apakah seperti alpha yang umunya dengan dominasi musk, pine, dan sandalwood?

“Oh, kue dari siapa ini?”

Jeonghan menoleh dan mendapati kotak kue yang ada di tengah meja kini bergeser menjadi fokus di hadapan Mingyu.


“Biasa, Gyu,” jawab Jihoon. Kembali menimbrungkan diri. “Dari orang kantor yang mau courting Jeonghan.”

"Oh," bisik Mingyu, hampir tidak Jeonghan tangkap jika bukan karena dekatnya tubuh mereka.

“Heh, lo mau ngapain?” sergapnya selanjutnya saat mendapati pria itu yang dengan cepat sudah mengeluarkan kue dari kotaknya, menusukkan garpu plastik di sana, sebelum membawa potongan manis itu ke mulutnya. “Siapa bilang gue bolehin buat lo makan?”

Masih dengan kegiatan menyantapnya tanpa berhenti, Mingyu memberikan balasan tatapan tanpa bersalah. “Kenapa? Kamu enggak suka manis, ‘kan, Kak Han. Jadi aku bantu habisin dong.”

Alpha ini benar-benar.

“Kalau lo sesuka itu sama kue-nya, gimana kalu coba sendiri pengumuman sana kalau lo lagi cari pasangan?” Jeonghan melemparkan senyum lebar penuh kepalsuan, sebelum detik selanjutnya berdecak sebal. “Pasti banyak yang akan antri dan kasih lo banyak kue, daripada selalu nyuri punya gue.”

Mingyu menyondongkan diri kepadanya, Jeonghan hampir saja tersentak kebelakang karena perubahan jarak kedekatan wajah mereka yang menipis.

“Jadi maksud Kak Han, aku semenawan itu ya, Kak bisa dapat banyak kue?”

Ada kerlingan di dua bohlam hitam itu dan kedipan sebelah mata yang diarahkan padanya, membuat Jeonghan semakin menggalakkan ekspresinya. Berhasil mengundang tawa kecil menguar dari bibir si alpha yang melihatnya.

“Tapi untuk jawabannya adalah enggak dulu. Aku masih berusaha cari tahu apa yang dimau orang ini yang kayaknya enggak mau semua jenis hadiah.”

“Tanya ke orangnya, lah.”

Kali ini Mingyu tersenyum lebar. “Oh, gitu? Okey deh. Kalau gitu, Kak Han suka apa?”

Jika Jeonghan tersedak setelah mendengar kalimat tanpa aba-aba itu, ia akan menyalahkan pada bongkahan potongan ayam yang terlalu besar. Bukan karena efek degup jantungnya yang seperti dijatuhkan ke lambungnya.

Dari sudut matanya, ia dapat melihat Jihoon dan Shua yang seolah sibuk dengan diri sendiri tapi ia yakin 100 persen juga menunggu jawabannya.

“Jangan bercanda. Ngapain tanya gue? Ini masih siang dan di hari senin, Mingyu,” desah Jeonghan dengan nada lelah yang ia buat terlalu berlebih, setelah menemukan suaranya kembali. “Tolong kalau mau ngerusuhin di lain waktu, otak gue belum siap nampung. Atau lebih baik lagi, jangan pernah ganggu gue selamanya."

Jika ada yang mendengar perkataannya, mereka akan mengatakan bagaimana kasarnya ia berbicara. Namun sayangnya Mingyu bukanlah mereka.

Rasanya memang diperlukan karena alpha itu bukannya menganggap singgung atas jawabannya, justru membalas dengan kekehan pelan. Ada senyum-seringai-lebarnya yang justru penanda ia menikmati apa yang digelar di hadapannya.

“No will do,” jawab Mingyu. Pandangan masih mengunci balik tatapannya. “Sayangnya, kamu stuck dengan aku selama beberapa bulan sampai project kita selesai, Kak.”

Kali ini, Jeonghan benar-benar tersedak.

 

 

“Thanks, Eric."

Mendesahkan nafas lelah, tangan Jeonghan naik dan memijat pelan pundaknya yang tegang setelah berdiri di kakinya di lapangan seharian ini. Otaknya sudah menyusun rencana untuk segera kabur dari kantor ini setelah jadwal rapat sore nanti dibubarkan. Shower dengan air hangat, lalu segera bergumul di kasur dengan makan malamnya, TV menyala sebagai background suara sungguh terasa begitu undangan yang tidak sabar ia lakukan.

Ia baru melangkahkan kakinya tidak jauh dari memasuki lobby kantor untuk kembali ke lantai ruangannya, setelah berpisah dengan Eric, partner-nya di kunjungan ke luarnya hari ini, ketika sang omega memanggil namanya.

“Han, wait.”

Jeonghan menahan erangan yang sudah berada di ujung lidahnya. Sedikit banyak mengetahui arah yang akan dituju. Seharian ini ia berusaha menghindar dari ajakan obrolan dengan pria itu, namun sepertinya tidak bisa untuk ia hindari lagi sekarang.

Memaksakan kakinya untuk berhenti, ia menunggu Eric yang berlari menyusulnya sebelum akhirnya, omega itu berhenti di hadapannya.

“Kamu beneran enggak mau kasih aku kesempatan?” todong Eric langsung. Mata besarnya mengisyaratkan harapan.

Mendesah pelan, Jeonghan berusaha menjaga nada suaranya di tengah gemuruh kejengkelan hatinya yang ingin langsung menolaknya saat itu juga. Lagi, seperti yang sebelum-sebelumnya. Ini bukanlah pernyataan dan permintaan pertama dari pria di hadapannya itu dan sayangnya, semua jawaban darinya tidak membuatnya puas untuk selalu kembali lagi dan menanyakan hal yang sama.

“Maaf, Eric. Keputusan gue masih sama. Gue enggak tertarik buat saat ini.”

“Dicoba dulu bisa, Han. Atau, aku bisa nunggu?”

Ketidaksukaannya atas bujukan yang terus dilemparkan kepadanya, tanpa melihat penolakan yang terus ia berikan, membuat sisi alpha-nya tersentil karena rasa seperti dilawan dari apa yang sudah ia tegaskan. Ia mungkin masih bisa berfikir rasional, namun berbeda dengan sisi lainnya itu yang tidak akan dengan ragu mengadu siapapun yang menantangnya.

Matanya melirik pada sekitar mereka. Lobby kantor bukanlah tempat yang tepat untuk membicarakan hal ini. Hal terakhir yang ia harapkankan adalah untuk semakin membuatnya menjadi bahan pembicaraan dengan masalah ini.

Tengah berusaha menyusun kata dan langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya, Jeonghan justru lebih dulu diserbu kejutan oleh pheromone omega yang begitu kuat.

Sweet honey, dirty soil, yang terlalu manis, yang dimaksudkan untuk membawa alpha jatuh dan dikuasai.

An omega pheromone—tense, agitated, fidgety—everything designed to lure the alpha to their nest.

Aromanya begitu pekat sampai ia harus memundurkan langkah.

“Eric, the heck-”

“Han, just one date please.”

Semuanya tahu bahwa serangan pheromone omega bagi sisi alpha diartikan untuk memancing keterkaitan dan membuat si alpha gila untuk melakukan apa yang ia inginkan. Tidak jarang banyak alpha yang terpancing dan rut-nya muncul.

Berbanding merasa tertarik, alpha miliknya justru ingin menggeram, marah. Tangannya terangkat untuk membantu menutup hidung dari aroma manis itu. Dari sudut matanya, ia dapat melihat beberapa orang yang menoleh ke arah mereka.

“Kak Han.”

Jeonghan sudah merasakan presensinya bahkan sebelum Mingyu berdiri di sampingnya. Ada sebuah tangan yang memegang pelan sikunya, menarik untuk membawa tubuhnya ikut mundur dan bertubrukan pelan dengan tubuh sosok alpha di belakangnya.

Menghembuskan nafas pelan, tanpa ia ketahui keberadaan Mingyu seolah membuatnya dapat sedikit bersandar. Genggaman yang erat di sikunya seolah menjadi pemegang untuk dirinya masih berdiri tegap.

“Udah sampai, ya? Aku ada butuh bahas sesuatu soal design rancangan,” kata Mingyu, tidak memberikan tatapan kepada Eric seolah omega itu tidak ada di hadapan mereka.

Eric jelas-jelas tidak menyukai interupsi yang Mingyu lakukan. Wajahnya berubah merah dan ada aroma asam yang pekat di pheromone-nya sekarang. Upset.

Sorry, tapi gue lagi ngomong sama Han-”

Tapi sepertinya Mingyu tidak peduli. Alpha itu tanpa menunggu kalimat selesai diucapkan Eric, sudah beranjak, melenggangkan kaki pergi menjauh dengan ikut menarik Jeonghan.

Jeonghan mengambil nafas sebanyak-banyaknya setelah jarak yang jauh dari udara penuh pheromone di sana. Ia membiarkan tangannya masih dalam genggaman Mingyu yang kiranya menuntunnya ke arah lift yang akan mengantar mereka ke lantai 5, departemen mereka. Namun perkiraannya salah.

Langkah kaki Mingyu yang lebar justru tidak berhenti, melewati barisan lift, dan terus menyusuri lorong.

“Mingyu!” Jeonghan mencoba menahan Mingyu dengan menarik balik, namun gagal. Tubuh kecilnya tidak sebanding dengan kekuatan alpha itu. “Mau kemana sih?”

Tidak ada jawaban.

Yang terjadi selanjutnya berlalu begitu cepat. Mingyu membuka sebuah pintu lebar di ujung lorong, masuk, dan berakhir ia menemukan dirinya sudah berada di tempat berbeda dengan yang baru saja mereka berasal.

Dingin merambat punggungnya yang bertubrukan dengan salah satu sisi dinding ruang tangga darurat. Suara di luar sana teredam bersamaan dengan tubuh Mingyu yang berdiri tegap menjulang di depannya, memerangkapnya dengan jarak 2 langkah.

Jarak yang cukup untuk membuat alpha itu menangkapnya jika ia berniat untuk kabur.

Anehnya, Jeonghan tidak ingin melakukannya.

“Wha-What the heck, Kim Mingyu?”

“Did he touch you?”

Suaranya serak. Gusar dengan nafas sedikit tergesa-gesa. Seperti ada bongkahan yang terganjal di tenggorokannya.

“Huh?”

“Did he touch you? No-is his scent on you?”

Mingyu mengangkat kepala dan pada saat itu Jeonghan dihadapkan dengan dua binar mata yang begitu kelam mendungnya. Keseriusan di raut wajahnya hampir tidak dikenal Jeonghan.

Sisi alpha-nya membisikkan peringatakan bahwa ini bukanlah Mingyu yang ia temui tadi pagi. Yang membawakan kopi dengan misi harian mengusik ketenangannya sebelum mendudukkan diri di meja kerjanya.

Untuk beberapa detik hanya kediaman dengan saling adu pandang sebelum akhirnya terputus saat sang alpha yang lebih muda tiba-tiba kembali mengangkat tangan.

“Mingyu-” panggilnya tidak selesai ketika langsung berganti dengan matanya yang melebar oleh aksi yang tidak pernah terpikirkan oleh Jeonghan sama sekali akan Mingyu lakukan.

Alpha itu menggulung kasar kedua lengan kemeja hitamnya sampai batas siku, memperlihatkan kepada Jeonghan dengan jelas kedua lengan bawahnya. Di sana, ia melihat untuk pertama kalinya scent blocker yang selama ini hanya mengintip keberadaannya.

Namun Mingyu belum selesai, keterkejutannya ditambah saat pria yang lebih muda 2 tahun darinya itu langsung menarik lepas kedua perban yang menempel di sana.

Bunyi tarikan pelepasannya nyaring menggema di ruangan yang sunyi.

Segala kata yang sudah di ujung lidah seketika lenyap, digantikan dengan tarikan nafas yang tajam. Ruang kecil itu seketika penuh dengan pheromone asing yang melingkupi, yang belum pernah ia cium sebelumnya.

Semerbak yang memenuhi paru-parunya dimulai oleh aroma kayu dan bara yang berderak. Ada balutan aroma asap cedar panas mengabut, mengepul dengan semerbak pinus dingin yang menari di tepi dengan manis lembut yang dibawa. Membara, terbakar semuanya bersama menjadi musk putih dan rempah yang menyatu, mengingatkan akan bayang malam di depan perapian di musim dingin dan selimut tebal.

Pertama kali ia dihadapkan dengan pheromone Mingyu, begitu pula Jeonghan hampir dibuat tercekik, kehabisan nafas. Untuk sejenak ia bersyukur punggungnya sudah bersandar di dinding untuk menahan tubuhnya.

Tidak, bukan karena aromanya yang mengganggu, namun dari pekatnya aroma kayu yang terbakar sehingga membuatnya mengambang.

Namun hal yang lebih membuatnya kaget adalah alpha di dalam dirinya sendiri. Reaksi yang ia perkirakan bahwa sisi alpha-nya akan menggila, meraung, dan hilang kendali saat diserbu pheromone alpha yang lain, justru tidak ada.

Entah atas aroma api unggun yang pertama kali ia cium, atau karena sesuatu panas dinyalakan di dalam tubuhnya, jarinya justru terasa gatal luar biasa untuk mencakar, menggenggam sesuatu. Seseorang.

Di tengah ributnya menenangkan diri di tengah kabut, ia tidak menyadari tubuh Mingyu yang sudah lebih dekat dari sebelumnya, walaupun masih tidak menyentuhnya. Wajahnya miring, masuk pada ceruk leher Jeonghan. Terlalu dekat, hampir menyentuh permukaan kulit miliknya di sana.

Jeonghan bersumpah ia bisa merasakan ada tarikan nafas yang diambil dalam-dalam oleh Mingyu. Tubuhnya sontak ikut tersentak, bagai tersengat listrik.

“Hmm.” Ada tarikan nafas lagi, kali ini memantul pada permukaan kulitnya, meninggalkan sensai tersengat itu lagi. “Peach and soap. If I had known how heavenly you smell, I would have gotten rid of that blocker a long time ago.”

Setiap kata yang diucap dan sapuan nafas alpha itu menerpa lehernya, semakin dibuat hilang kemampuannya untuk membuka mulut.

Ia tidak pernah memikirkan seperti apa pheromone-nya. Hampir semua orang memberikan komentar bahwa dirinya lebih tercium bau yang segar dan lembut, berbanding dengan milik alpha yang lain. Hal yang ia anggap angin lalu.

Tubuh mereka tidak bersentuhan, namun ketika pria itu yang membisikkan puji dengan nada begitu rendah, sukses meninggalkan rasa meletup yang mencuat. Ada secuil euforia yang tidak pernah ia tahu. Mengambil nafasnya seketika, membuatnya hilang kata.

Jeonghan mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih bisa ia raih. Suaranya rendah. “Guess you’re not mister scent-blocker anymore, huh?”

“Guess not,“ balas Mingyu, diselingi kekehan pelan.

“Does my pheromone smell bad?”

Quite opposite.

Jeonghan justru ingin berguling-guling di luasan api unggun itu. Melumuri sekujur tubuhnya basah dan tercap oleh aroma kayu terbakar dan pinus dingin itu sampai beberapa hari kedepan.

What the heck, Yoon Jeonghan?!

Jeonghan memilih mengalihkan pembicaraan pada hal lain yang masih membayangi.

“Emang kenapa kalau gue bau pheromone orang lain?” balas Jeonghan pada apa yang Mingyu awal sebutkan tadi. Matanya menatap balik binar gelap Mingyu.

Namun, alpha itu hanya memberikan senyum sebagai balasan. Kepalanya yang berada di atas pundaknya, kini dijatuhkan. Menyandar sepenuhnya. Rambutnya hitamnya teruntai menutup sebagian dahi. “Aku juga kaget.”

“I suddenly felt like I lost control. The image—no, the idea of you with someone else's pheromone is driving me mad. Like I need to erase it.”

Untuk kesekian kalinya hari ini, Jeonghan dibuat diam seribu bahasa. Sesuatu itu lagi bergemuruh hebat. Menutupinya, ia berdecak pelan.

“You have better control than this.”

Mingyu tertawa. Suaranya masih terdengar berat. “I know. But my control seems to slip away too easily when you’re around.”

Mingyu tidak tahu bahwa kata-katanya memberikan gelenyar aneh yang menyerbu tulang punggung Jeonghan, membuatnya hampir kehilangan kekuatan kakinya.

Entah permainan mana lagi yang sedang alpha itu buatnya ikut.

“Jangan khawatir.”

Mingyu memundurkan langkah dan Jeonghan merutuki diri yang sudah ingin menarik tubuh itu kembali untuk mengisi kekosongan jarak mereka.

“Suatu saat nanti kalau aku mau scenting kamu, Kak, kamu yang akan minta.” Alpha itu menyeringai. Ah, senyum menyebalkannya itu sudah kembali.

Jeonghan mendengus. Berusaha menahan diri dengan melipat kedua tangannya di depan dada. “Percaya diri banget lo. Kalau lo belum sadar, gue alpha.”

Pria itu mengendikkan bahu sebagai balasan, sebelum berkata, "So? We both know what I said is true. You should see how you cling to me.”

Pheromone yang kini mengisi ruang sempit itu mulai berubah. A fireplace, with a touch of glee, anticipation, and a promise.

Jeonghan tidak tahu akan efek yang alpha itu genggam padanya.

Tidak tahu seberapa kuat hirup aroma api unggun di ruang sempit tangga darurat itu seperti bercak yang tidak mau lepas dari otaknya. Mengacak-acak akal sehatnya. Membuatnya gila dan mencongkel benteng pertahanannya bata demi bata.

Memutarnya dalam mabuk untuk tidak kuat menahan tangannya yang turun untuk tidak menyentuh dirinya sendiri malam itu, mencari, membayangkan dengan imajinasi liar bagaimana rasa permukaan kasar tangan itu menyentuh permukaan kulitnya. Membayangkan aroma api unggun yang memeluk tubuh, untuk tenggelam di dalamnya.

 

 

Mendengus pelan, Jeonghan memalingkan wajahnya dari pemandangan di seberang sana. Jika ditanya sudah berapa kali ia melakukannya, ia tidak tahu. Yang ia tahu, hari ini adalah hari yang sudah melelahkan bahkan ketika ia baru menginjakkan diri di gedung ini.

Bibirnya menggerutu tanpa suara, merutuki diri kenapa ia harus hadir di acara ini ketika matanya seperti tidak bisa tidak untuk selalu bergulir pada satu sudut di sana. Lebih tepatnya, mengikuti keberadaan seorang alpha yang tinggi menjulang di tengah keramaian.

Dahinya kini sudah mengerut sempurna. Entah bagaimana ruangan yang seharusnya melindunginya dari sengat matahari siang yang terik di luar sana, justru bagai oven yang semakin membarakan sesuatu di dalam dirinya.

Tidak, ia tidak akan mengakui bahwa hatinya ikut sedikit demi sedikit tercubit setiap matanya mencuri pandanga kembali pada sosok Mingyu.

Yang berdiri di sudut ruangan, di depan sebuah booth.

Yang berdiri di sana dengan seorang pria di sampingnya.

Yang berdiri dengan tawa yang terlihat jelas di mata dan bibir keduanya.

Yang berdiri di sana dalam perbincangan yang lebih dari 5 menit (Tidak, Jeonghan tidak menghitungnya).

Sejujurnya, Jeonghan lebih dari tahu apa adegan yang terjadi di sana. Tatapan lembut dan kata-kata manis yang ia yakin dilempar dari sosok omega itu kepada alpha seperti Mingyu. Ia juga dapat melihat jelas bagaimana si omega mulai mencondongkan tubuhnya perlahan, mendekatkan jarak keduanya.

Ia hampir melototkan mata saat melihat Mingyu di sana yang dengan senang hati menyerahkan ponselnya, ia yakin untuk bertukar nomor.

Rasa getir itu menyeruak, menguasai lidahnya. Semakin memburuk ketika pikirnya kembali dibuat penuh pada kejadian yang lalu, di tangga darurat, dan aroma api unggun yang keras kepala tidak meninggalkan kepalanya.

Tidak menyukai bahwa dirinya sendiri yang seperti orang linglung di sini, sedangkan Mingyu yang santai bersiul.

“Lo berdua lagi ribut lagi atau gimana?”

Suara Jihoon yang berada di sampingnya menyadarkan Jeonghan dari lamunnya. Menoleh, ia mendapati kedua rekan kerjanya yang di booth sama dengannya masih sibuk menggerakkan tangan dalam menata segala perintilan di atas meja. Hal yang seharusnya ia lakukan juga jika bukan karena distraksi di sudut sana.

“Enggak,” jawabnya singkat. Ia paksakan tangannya untuk kembali bekerja pada tumpukan brosure. Booth mereka harus segera selesai disiapkan sebelum acara expo dimulai beberapa menit lagi.

Kali ini ada dengusan dari Shua. Sang beta meliriknya cepat sebelum berkata dengan nada sama sekali tidak percaya, “Right, terus kenapa lo ngelihatin Mingyu kayak lo mau bakar hidup-hidup.”

“Oh, atau tepatnya karena ada yang lagi deket-deket alpha-nya,” timpal Jihoon.

Jeonghan melemparkan tatapan kesal, tersinggung. “Gue enggak?! Gue cuma sebel karena bukannya bantuin persiapan booth, malah pergi enggak tahu kemana.”

Ia tahu balasan tidaklah cukup baik. Terbukti dari Jihoon dan Shua yang kompak memberikan tatapan aneh kepadanya.

“Lo beneran jealous?” Jihoon bertanya. Nadanya serius. “Mingyu mau ikut sukarela karena kita kurang orang dan dia bisa bantu kalau ada yang tanya soal website kita. Yang ada kita yang harus terima kasih dan traktir makan dia.”

Jeonghan tahu itu, namun bibirnya memiliki pikiran lain. 

“Gue enggak jealous,” bantahnya lagi.

“Biarin aja, Ji. Emang anaknya suka denial. Padahal udah kelihatan Mingyu juga tertarik. Sekarang lihat alpha-nya deket orang, dia yang kebakaran.”

“Lo berdua mulai ngelantur,” sergah Jeonghan. Kehabisan kata untuk membalas lebih. “Mingyu enggak tertarik ke gue.”

Oh come on, lo enggak bisa bilang kalau lo enggak tahu atau enggak sadar Mingyu lagi courting lo saat jelas-jelas orang itu courting lo,” lanjut Jihoon. “Semua kelakuan dia ke lo, kopi setiap hari? Keeping tabs every single time someone tries to court you or even just get close, he basically bares his teeth.”

“Bahkan gue yakin orang kantor semuanya tahu dan sadar soal ini,” tambah Shua.

“Ngaco. Dia cuma suka gangguin gue karena katanya seru lihat reaksi gue. Entah seru gimana,” balas Jeonghan. Sudut matanya tanpa sadar kembali melirik pada sudut sana, dan ia segera membuang muka ketika menangkap Mingyu yang tengah menoleh ke arahnya.

Shua memberikan tatapan seolah dirinya menumbuhkan dua kepala. Beta itu berkacak pinggang, seolah sedang memarahi anak kecil.

“Lo sadar kalau kata-kata lo itu berkontradiksi. Alpha mana yang seru gangguin orang lain, ke alpha lagi, yang kayak Mingyu yang jelas-jelas ngasih lo perhatian seakan-akan lagi courting lo?”

Jumlah orang yang semakin bertambah dan berlalu-lalang di sekitarnya sepertinya memberikan efek gerah pada Jeonghan. Ia merasakan peluh yang mulai menghiasi dahinya.

“Apa sih, dia enggak courting gue. Dia dan gue itu alpha kalau lo belum sadar dan jelas.”

“And?” tantang Jihoon. Beta itu kini berdiri tegap dengan badan mengarah kepadanya. Fokus sepenuhnya sudah beralih pada topik yang dibawa di atas meja. “What’s wrong about it?”

What’s wrong about it?

Everything.

An alpha and an alpha?

Semua orang juga tahu dan akan memberikan peringatan tentang hubungan dengan 2 alpha-terlalu banyak agresif, terlalu posesif, terlalu banyak peperangan teritorial dan dominasi.

An alpha is not meant to submit, to be claimed by another alpha.

“Halo, Kak Han! Kak Hoon dan Kak Shua! Aku kembali."

Entah kehadiran Mingyu apakah bisa dikatakan menjadi penolong untuk dirinya menghindar dari memberikan jawaban, atau justru semakin memperburuk suasana hatinya yang sudah memburuk sedari tadi.

Pertama yang Jeonghan sadari adalah kehadirannya yang datang bersama aroma api unggun itu lagi. Berderap menyerbu indra penciumannya untuk masuk dalam kabut yang tipis-semakin menebal, memabukkan, membawa sensasi seperti sebelumnya. Adanya gelenyar aneh itu lagi, menjalar di punggungnya.

Pria itu kini tidak menggunakan scent blocker yang biasanya menghiasi pergelangan tangannya, membiarkan pheromone-nya menguar berbaur dengan yang lain.

Namun detik selanjutnya fokusnya langsung tergantikan dengan aroma lain yang asing. Bukan, bukan dari orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Kali ini sesuatu yang manis seperti gula yang terbakar, sukses membuat Jeonghan mengerutkan dahi dan tanpa sadar memundurkan tubuhnya, menjauhkan diri.

An omega. The sweet one.

Ia bahkan mengejutkan dirinya sendiri ketika merasakan ada erangan yang meminta keluar. Tangannya hampir naik untuk menutup hidungnya, namun ia tahan dan biarkan mengepal di sisi tubuh.

Dirinya tidak tahu, aroma caramel dapat membuat sesuatu dalam tubuhnya seperti mendidih, terbakar, dan siap disemburkan. Pikir penuh akan cakar dan taring mengeluarkan wujud, mencabik habis dan hilang aroma asing dari udaranya. Dari seseorang.

Baiklah, peluh dan lautan manusia di sekelilingnya sepertinya berhasil membuatnya semakin gila dan hilang akal.

Yang tidak ia sadari adalah tingkahnya sedari tadi tidak lepas dari atensi Mingyu. Sang alpha yang kini balik memberikan tatapan bingung. “Kenapa?”

Jeonghan bisa merasakan tatapan tanya lain dari Shua dan Jihoon, namun memilih mengabaikannya. Berdehem pelan, ia membuang muka, masih tidak ingin melihat Mingyu.

“Nothing.”

Ada raut perubahan di wajah Mingyu. Samar, namun ia menangkap adanya turun di tarikan garis bibirnya yang semula merekah, serta matanya yang berubah dalam katup bingung.

Apapun itu, yang membara di dirinya tidak kunjung mereda semakin ia berdiri di sana. Jadi ketika Mingyu bergerak untuk mendekat, tanpa sadar Jeonghan menggeram, tanda peringatan.

Hal yang menjadi peluit dibunyikan bagi Jihoon untuk angkat bicara, menengahi.

“Han.”

Panggilan itu membuatnya sedikit tersadar akan aroma sama yang menguar dari dirinya.

Ah, ia lepas kendali atas pheromonenya.

“Lo mending ke belakang aja sana. Tolong ambilin beberapa tumblr buat tambahan gift,” minta Shua. Nada memaksa yang tidak bisa dibantah, maka dari itu Jeonghan menurut. Melenggang pergi, melewati Mingyu tanpa menatapnya balik.

Jeonghan tahu Mingyu mengikutinya. Alpha itu tidak menutupi gema langkah kakinya yang mengikut di belakang sana.

Keduanya memasuki ruang penyimpanan ketika akhirnya Mingyu membuka suara.

“Ada apa?”

Masih enggan membalikkan badan dan berhadapan, Jeonghan membiarkan tangan dan matanya sibuk menyisir rak besi di depannya, mencari barang yang menjadi tujuannya. Apapun untuk mendistraksi dirinya dari keberadaan alpha lain di ruang sama dengannya itu. Usaha yang sudah gagal dari awal karena ia bisa merasakan presensi Mingyu yang tidak berjarak jauh di belakangnya. Dapat ia rasakan sepasang mata yang menatapnya lekat, menunggu, mengamati segala gerak-geriknya.

Tidak mendapatkan jawaban, Mingyu kembali membuka mulut. “Apa yang aku lakuin kali ini sampai bikin kamu kayak gini, Kak?”

Ada percikan aroma pahit dan asam yang bercampur dengan kayu api unggun di udara, menyeruak sebagai tanda gusar, marah, dan bingung.

“Udah gue bilang enggak ada.”

“You’re really driving me crazy, Yoon Jeonghan,” geram Mingyu. Aromanya semakin menajam, hampir membuat sisi alpha-nya terpanggil. “One moment, you act like I can take a step closer, and the next second, you’re the one running away like you hate me.”

Jeonghan merapatkan gigi.

Then go away. Run. Gue nggak minta atau suruh lo buat deket,” sahutnya tidak kalah. Nada suaranya tajam. “Go back to your fans out there, to that sweet, pretty omega. You have his number, don’t you?”

Begitu kalimat itu terlepas di udara, begitu pula Jeonghan ingin ada lubang di tanah yang bisa mengubur dirinya saat ini juga. Implikasi atas ucapannya seolah menjadi penelanjang atas emosi yang ada di salam, membersamai dengan dengan wangi peach yang asam miliknya sedari tadi.

Terdengar derap langkah kaki lagi, hanya beberapa langkah. “Yoon Jeonghan, you aren’t jealous, are you?”

“No,” jawabnya cepat. Terlalu cepat.

Huh. Ternyata benar. Apa yang aku pikirkan kalau kamu kayak gini karena jealous,” kata Mingyu, memberikan jawaban atas pertanyaannya sendiri. “Aku bisa cium dari pheromone-mu, Kak. Tadinya aku hanya bingung apa yang buat kamu marah. Apa karena yang aku lakukan kemarin bikin kamu enggak nyaman atau ada salah lain yang aku perbuat.”

Jeonghan terdiam seribu bahasa di tempat karena rasanya ia sudah dipanah tepat sasaran. Derap langkah di belakang sana kembali terdengar yang berhasil membuatnya akhirnya membalikkan badan, memundurkan langkah untuk kembali memberi jarak antara keduanya.

“Lo bau.”

Sergahan Jeonghan berhasil menghentikan Mingyu sepenuhnya. Pria itu melemparkan tatapan bingung, sebelum tangannya menarik kerah kemejanya mendekat pada hidung, menghirup, sebelum pada detik selanjutnya, kesadaran muncul di wajahnya.

Jeonghan kembali dibuat diam saat tiba-tiba alpha itu melepaskan asal kemejanya, meninggalkan kaos putih polos yang memeluk lekuk tubuh besarnya yang pas.

“Better?”

Tidak ada alasan bantahan lagi, kali ini Jeonghan membiarkan Mingyu mendekat dan menginvasi ruangnya. Tubuhnya sedikit mengurangi tegang saat aroma manis yang membuatnya pusing sedari tadi itu tercium samar, hampir sepenuhnya terdominasi dengan si api unggun yang beradu dengan peach dan sabun miliknya.

Aroma yang tidak tahu ia butuhkan untuk meredakan cakar dan taring yang sempat ingin mencuat di dalam dirinya. Ia bahkan biarkan tangan Mingyu yang terangkat dan menyentuh sisi wajahnya.

“Wait, Kak."

Bibirnya mengeluarkan desis saat permukaan kulit pipinya bersentuhan bagai kontras dengan kulit dingin tangan Mingyu. Bagai es yang disentuhkan dengan api, meleleh.

“You’re burning up,” bisik Mingyu yang lebih ditujukan pada dirinya sendiri, belum melepaskan tangannya dari sana. Jeonghan hampir terkesiap saat tiba-tiba pria itu mendekatkan wajahnya-lagi-pada salah satu sisi lehernya, begitu dekat dengan scent gland miliknya yang terasa berkedut tidak seperti biasanya.

Saat Mingyu memundurkan kepalanya, ada ekspresi penuh keseriusan di sana.Kenapa enggak bilang ke aku kalau kamu mau rut?

Klarifikasi itu seolah menjadi penyadar bagi Jeonghan. Baru terasa olehnya bagaimana rasa tubuhnya sendiri. Panas yang terasa membakar dari dalam kulitnya, rasa gatal yang tidak bisa ia ketahui di mana letaknya, serta bulir keringatan yang mulai membasahi dahi dan punggungnya. Pheromone-nya tanpa ia sadari sepenuhnya mendominasi ruangan mereka berada, mengalahkan milik Mingyu.

Ia hampir menggeram saat merasakan denyut di perut bawahnya yang menjadi pembenar rut-nya mulai menguasai. Denyut yang tidak akan hilang tanpa adanya pelepasan.

Jadwalnya masih 2 minggu yang akan datang. Pertama kali hal ini terjadi padanya dan ia tidak ingin mengetahui alasan apa yang memacu rut-nya untuk datang lebih awal.

Ia pernah mendengar bahwa pheromone alpha yang kuat bisa memancing heat omega untuk datang. Tapi ia membuang pemikiran bahwa ada kemungkinan alpha-nya terpanggil karena insiden kemarin dan pheromone milik Mingyu.

Iya, kan?

Intinya, semuanya salah Kim Mingyu.

Jeonghan menghembuskan nafas panjang, dadanya mulai terasa sesak. Membungkukkan badan, ia mencoba menahan kontrol pada pheromone-nya yang mulai terasa sulit dikendalikan dan seolah semakin menyala membara.

Alpha-nya tidak mau dikendalikan.

Ia terkejut Mingyu tidak menjauh darinya setelah mencium pheromone alphanya yang sering kali buat alpha lain akan mundur, berubah dalam mdoe siaga, bahkan melawan. Presensi dan pheromone yang kuat dari alpha lain dianggap sebagai anggapan ancaman atau ajakan bagi mereka untuk berebut dalam perang dominasi. Mungkin hal itu pula yang menyebabkan alpha sering kali dilarang berada dalam satu ruang yang sama dengan alpha lain.

Jeonghan memundurkan diri, kini sepenuhnya bersandar pada loker besi yang sudah usang. Berharap bisa menjadi tumpuan bagi kakinya yang terlalu lemas menopang tubuhnya sendiri.

“Ngapain masih di sini?” Mengatur nafasnya yang mulai terengah, Jeonghan menatap Mingyu yang masih terpaku di tempatnya. “Pergi, Mingyu.”

“Enggak mau.”

“Terus mau ngapain? Lo tahu kalau sampai gue lepas kontrol, gue bisa hajar lo. It’s not like you gonna help me.

Perkataannya diintensikan sebagai candaan di tengah ruangan yang semakin terasa panas dan menyesakkan. Namun anggapannya berbeda dengan Mingyu yang justru semakin menatapnya kelat, melangkahkan kaki mendekat.

“Will you let me if I make you an offer?”

Bayangannya saja saat tubuh itu mendekat, aroma api unggunnya juga menguat, menyaingi peach dan sabun miliknya.

“Fuck it off, Kim Mingyu.”

Kini Jeonghan sudah sepenuhnya menggeram, mata menyalang, kuku dan gigi menajam. Gatal ingin mencakar, menggigit sesuatu untuk mengurangi panas dan sengatan di tubuhnya. “Don’t play around; just go.”

“And I’m not playing.”

“Dan gue udah bilang kalau enggak bisa.”

“Kata siapa?” balas Mingyu tidak mau kalah. Kini sudah berhadapan langsung dengan Jeonghan, kedua dada mereka hampir menempel. Dengan posisi ini, dirinya semakin dibuat mabuk pheromone pekatnya, menyelimuti dan bertarung dengan miliknya, yang kini seolah menguji tali pertahanannya.

“Karena aku dan kamu sama-sama alpha? Kenapa?” Tangan besar itu terangkat sebelum mengapit dagunya, mengarahkan wajah Jeonghan membalas tatapnya.

Oh, bagaimana Jeonghan ingin tenggelam di langit malam di binar mata hitamnya.

“Try me, Kak. I can clearly see that you want me too.” Bibir Mingyu terlalu dekat dengan miliknya. Sukses semakin melemaskan lutut Jeonghan. “I know you can feel it too—the pull.”

Tangan Mingyu yang lain terangkat, mengalun, dan akhirnya bertempat di pinggangnya. Dibalas dengan kedua tangan milik Jeonghan yang mencengkram balik lengan atas milik alpha di hadapannya.

“We shouldn’t."

“Yes, we should,” balas Mingyu serak.

“Let me show you how it’s done.”

Jeonghan menunggu dan menunggu. Menunggu akan ada penolakan dan permintaan untuk dominasi dan berontakan dari sisi alpha-nya, namun yang ia dapatkan justru urgensi untuk semakin menenggelamkan diri. Menyerahkan diri sepenuhnya pada tangan yang berdansa di pinggangnya itu.

Kehabisan kata balasan, hanya cengkraman tangan Jeonghan yang mengencang yang menjadi tanda jawab. Merasakan kukunya menekan kuat permukaan kulit di sana, ia tidak akan kaget jika ada luka yang tertinggal nantinya. Namun ekspresi Mingyu tetap sama. Tidak ada tanpa kesakitan, keberatan. Hanya ada kepercayaan diri, dan ‘ingin’.

Tangan kekar yang melingkar-ikut menopang-tubuhnya berangsur semakin mengeratkan persentuhan tubuh mereka untuk bertubruk sepenuhnya. Semakin menghilangkan akal Jeonghan yang sudah ada di ambang batas satu benang atas sentuhan di bawah sana.

Nafasnya semakin memberat di lautan aroma api unggun yang memusingkan, ia menengadahkan kepala. Berharap dengan itu meringankan sesak yang ada di tenggorokannya. Perbuatan yang salah karena kesempatan lehernya yang menjenjang justru menjadi umpan yang mendatangkan Mingyu.

Satu kecup di sisi lehernya dan Jeonghan dibuat gemetar dari tulang punggungnya dan menjalar keseluruh saraf di tubuhnya. Adukan rasa lega atas sentuhan yang meringankan resahnya berbalik dengan rasa panas yang semakin membakar dari dalam tubuhnya, ingin semakin disulut.

“Mingyu-wait!”

Rengekannya semakin menjadi pelumas bagi bibir di lehernya untuk semakin berjelajah. Sapuan benda kenyal itu bagai jarum menusuk apapun yang tengah bergerumuh di dalam tubuhnya. Dan saat bibir itu sampai di bagain paling sensitive, paling terpenting, scent gland-nya, tempat di mana tanda permanen akan disematkan, ia bersumpah ia bisa merasakan tarikan nafas yang jelas dari Mingyu di sana sebelum diikuti benda basah panjang menjilatnya.

Jeonghan growled.

And Mingyu kissed him.

Mingyu menciumnya-dalam kagetnya-dengan pelan dan kesabaran. Bibir itu menyentuh miliknya dalam penekanannya yang lembut, seolah menjadi pertama dalam perkenalan, merasakan rasa dari satu sama lain. Sebelum bilahnya terbuka dan berubah dalam gerakan melumat bibirnya, masih dengan kehati-hatian. Jeonghan dibuat semakin kehilangan nafas dan kesadaran.

Satu sisinya merasa euroria yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bibirnya yang membalas lumatan dan sapuan lidah milik Mingyu justru membuatnya semakin mendekatkan diri, untuk semakin dalam dan dimabukkan.

Berbanding dengan sisi lainnya-sisi alphanya-yang tergesa-gesa, tidak cukup dan ingin lebih, ingin menguasai, ingin dikuasai. Ingin sesuatu yang semakin memacu detak jantung dan panas yang semakin membakar.

Maka tangannya berpindah mengalun pada leher Mingyu, jemari di tenggelamkan pada surai hitam itu. Mendorong, menarik, mendorong, menarik, begitu seterusnya.

Digigitnya bibir bawah Mingyu, sukses menguarkan geraman dari pemiliknya. Kesempatan yang Jeonghan gunakan untuk mempertemukan kembali bibir mereka. Kali ini dengan penuh tekanan, lumatan kasar, dan keinginan yang besar. Lidah bertemu lidah.

Decak mengisi ruangan hasil pertautan lidah keduanya yang mencoba saling mendominasi, mencari pemenang di tengah nafas yang terburu-buru dan ruangan penuh campuran pekat kedua pheromone mereka. Tidak memperdulikan orang di luar sana yang akan menciumnya.

“I should have known you were thirsting after me,” kata Mingyu terengah, selesai dari bertarungan mereka. Bibirnya basah entah oleh saliva punya siapa. “You look so damn beautiful, Kak.”

“You’re the only one that thinks that," seringai Jeonghan.

“Then, I’m the only one that can ‘see’ you.”

Jeonghan menginginkannya.

Jeonghan mengingkan apapun yang alpha itu akan berikan padanya.

Sentuhannya yang seperti bara saat menyentuh permukaan kulitnya. Presensinya yang menjulang seperti tameng. Pheromone-nya yang membuat otaknya hilang akal. Tatapan mata tajamnya yang menyembunyikan hangat. Juga, senyum menyebalkan yang selalu ia harap temukan di ramai kerumunan.

Apapun itu, Jeonghan mengingkan semua yang ada, yang urgensinya terlalu besar tidak seperti hal lain yang pernah ia inginkan sebelumnya.

Jeonghan menginkan Mingyu bahkan jika ia harus melawan segala logika yang instinct-nya tentangkan.

Jeonghan terkesiap, semakin dibuat kehilangan kendali dan jerit tidak karuan saat kaki kanan Mingyu berada di antara kakinya, terangkat, menekan pada miliknya yang sudah mengeras dalam tegang sedari tadi meminta diselesaikan.

Mencari lebih, Jeonghan menggerakkan pinggangnya tidak teratur. Mengejar sensasi lebih di bawah sana. Desahnya semakin menguar tanpa tahan ketika lehernya kembali dijamah oleh bibir Mingyu dalam kecup, gigit, dan hisapan yang ia yakin akan membekas besok hari.

Tidak yang ia pedulikan saat ini.

“And you said we shouldn’t, when this is how you react to my touch,” bisik Mingyu. Jeonghan bisa membayangkan ada seringai menyebalkan di bibir yang menempel pada telinganya itu. “Don’t worry, Kak. I’m sure we’re more than compatible in that department. Because when I get to touch and taste you properly, in just a second, I’ll be sure to knock you off so you can barely think of anything but me knotting you so dang hard you’ll wish you could get pregnant.”

Dan jika Jeonghan hampir berteriak tentunya bukanlah karena alpha didalam dirinya yang tengah melolong, menerima tantangan permainan dari alpha di hadapannya. Bagian bawahnya semakin menghimpit paha Mingyu di sana, semakin mempercepat gerakannya untuk mencapai pelepasannya.

“Sh-shut up!” balas Jeonghan, terbata di tengah nafasnya yang semakin tersenggal, yang dibalas tawa kecil dari alpha yang lain.

"Well, then alpha," Mingyu menarik kerah kaosnya, memperlihatkan sisi lehernya yang begitu menggiurkan untuk gigi Jeonghan yang sudah gatal ingin berlabuh dan mencicipi kulit di sana. “Want to take your claim?”

 

Yoon Jeonghan, a reliable 27-year-old alpha admired by many, is now crumbling to pieces at the hands of this young alpha, Kim Mingyu. The world spins, and thoughts race chaotically.

 

How he longed to submit and to be submitted to,

to claim and be claimed,

to dominate and to be dominated.

 

Yeah, Yoon Jeonghan hates Kim Mingyu.

Notes:

“So, how are you gonna ask me on a date?”

“Why would I?”

“Ha! My heart! I didn't know you were the type who'd take advantage of an innocent person—”

“What-Innocent, my ass!”

“—after we’ve already spent the most beautiful, wildest, earth-shaking night together, with the stars and moon shining so brightly? When you’ve already marked me and now refuse to properly court me??”

“Oh, shut up! And for the record, you were the one who asked for it.”

“Did I? Why don’t you show me how I begged for it, so I can remember?”

“I hate you, Kim Mingyu.”

“Oh, I know, Pretty.”