Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-11-04
Words:
1,013
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
37
Bookmarks:
1
Hits:
597

Vernon Didn’t Like It

Summary:

Dokyeom dan Hansol di malam majalah Allure Korea dengan sampul Dokyeom terbit.

Work Text:

Dokyeom pulang ke apartement-nya dan Vernon pada pukul 12.05 pagi. Hal pertama yang dilihatnya adalah Vernon yang tengah duduk di ruang makan membelakanginya. 

“Hai, Sayang,” sapa Dokyeom. Vernon menjawab sapaannya lirih tanpa menoleh. Dokyeom yang mengantuk tidak menyadari sedikit pun perubahan dari Vernon dan melangkahkan kakinya menghampirinya. Dikecupnya kening Vernon lembut seperti yang biasa ia lakukan saat mereka bertemu di rumah setelah jadwal yang berbeda.

“Kenapa belum tidur? Kamu laper, ya?” tanya Dokyeom sesaat ia melihat pacarnya yang duduk termenung di meja makan tanpa handphone atau pun earphone-nya, aneh.

“Iya ini lagi pesen makan,” jawab Vernon dengan nada yang agak ketus tanpa menatapnya sedikit pun. Dokyeom sebenarnya sedikit bingung, tetapi ia berpikir mungkin Vernon sedang lelah karena terbangun dari tidurnya.

“Kamu kebangun ya, Sayang?”

“Enggak.” 

Dari sini Dokyeom mengerti kalau ada suatu hal yang sedang mengusik Vernon. Ia tahu Vernon tidak akan kelaparan di jam dua belas pagi dengan sengaja, sementara ia sudah berada di rumah dari jam lima sore.

“Hmmm, okay. Kamu pesen apa, Sayang?”

Cold noodle.

“Tengah malem gini? I won’t allow it.” 

Yah, kemampuan bahasa Inggris Dokyeom telah meningkat pesat setelah ia berpacaran dengan Vernon. Bukan karena diajarkan oleh pacarnya, tetapi ia belajar sendiri, well, terkadang dengan guru les dari agensi. Alasannya karena ia ingin mengerti semua hal yang Vernon mengerti, mulai dari film favorit Vernon hingga bahasa ibu Vernon.

Doesn’t need your permission,” jawab Vernon sembari mengangkat kedua bahunya acuh. Dokyeom merengut dan kehilangan rasa kantuknya seketika, lalu mengambil tempat duduk di kursi meja makan di sebelah Vernon.

Hey, what’s wrong, Baby?” tanya Dokyeom, merapihkan anak rambut ditelinga Vernon.

“Nothing,” jawab Vernon.

Nothing?” 

Yes, nothing.”

“Hmmm, tell you what, if you tell me whats wrong, I will let you eat your cold noodle, in the middle of the night.”

“Udah kubilang aku gak butuh izin Kakak.”

“Kalo gitu ada apa, Sayang… kira-kira sekarang apa yang kamu butuh dari Kakak?”

It’s nothing, really. Aku cuma lagi capek aja,” jawab Vernon, kali ini dengan senyuman tipis di akhir kalimatnya.

Tiba-tiba, bel apartment mereka pun berbunyi. Dokyeom segera bangkit dan mengintip lubang pintu terlebih dahulu lalu membukanya setelah ia melihat pengantar makanan yang sedang berdiri menunggu.

“Aku beneran gak izinin kamu ya, Hansol. Mau kamu cerita atau enggak. I’ll buy you another food.” 

Dokyeom berkata tanpa berpikir matang setelah ia melihat wajah Vernon yang seakan tidak suka dengannya, di saat ia sedang lelah setelah hari yang panjang.

“Udahlah aku udah gak laper,” balas Vernon sambil berdiri dan berjalan menuju kamar mereka. Dokyeom menghela nafas, keras. Ia sudah lelah berada di kantor selama empat belas jam dan pulang ke rumah dengan keadaan Vernon yang merajuk entah karena alasan apa. Namun, itu semua tidak membuatnya lupa bahwa Vernon, kekasih mungilnya, sedang kelaparan. Kemungkinan ia belum makan dari sore hari. Sehingga ia memberikan waktu kepada Vernon untuk meredam amarahnya dan memesan makanan lain yang lebih aman dimakan di pagi buta seperti ini. Dokyeom berakhir membersihkan diri sambil menunggu makanan datang.

Setelah sushi pesanan Dokyeom datang, ia pun berjalan ke kamar milik mereka bersama  dan memegang kenop pintu sebelum mengurungkan niat dan mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Sayang?” 


“…”


“Hansol?”


Still no answer. 

Dokyeom pun membuka pintu dan menemukan Vernon yang sudah terlelap. Mau tak mau ia harus membangunkan Vernon.

“Sayang, bangun dulu yok... makan, ya?”

Huh….” Vernon sedikit kebingungan sambil mengucek matanya. Dokyeom sangat menahan diri untuk tidak mencubit pipi pacarnya kali ini. 

“Makan dulu ya? I can’t let you sleep with an empty stomach.”

“Hhh... Okay.” Vernon memutuskan untuk bangun, karena ia memang lapar, lalu mereka berjalan beriringan menuju dapur.

Dokyeom melihat pacar tersayangnya itu makan dengan lahap. Dalam hati merutuki diri sendiri bagaimana ia bisa membiarkan pacarnya kelaparan sangat lama. Apa yang sebenarnya mengusiknya hingga melewatkan jam makan malam. 

Vernon sebenarnya salah tingkah ditatap dengan begitu intens dari awal hingga akhir ia makan, tetapi ia terlalu gengsi untuk menyuruh sang pacar untuk berhenti. Maka dari itu, ia pun tetap makan dalam diam dan menghindari kontak mata dengan pacarnya.

“Sayang, Hansol… Would you mind telling me what happened? What’s on your mind that makes you skip your dinner, Sayang?”

It’s silly. Even childish,” aku Vernon setelah beberapa detik.

“We were all children once, loh. We still are,” jawab Dokyeom menenangkan. “It’s fine, you can tell me.” Beberapa detik kembali berlalu, sebelum akhirnya Vernon berkata.

I don’t like it.” 

Dokyeom pun bingung.

You don’t like what, Sayang?” tanya Dokyeom sembari mengusap-usap jemari Vernon lembut di atas meja. Mungkin sudah saatnya bagi Vernon untuk come clean dengan apa yang membuatnya ‘ngambek’ kepada pacarnya itu.

I don’t like your newest photoshoot,” jawab Vernon dengan sedikit nada merajuk di dalamnya, dengan bibir yang sedikit mayun, dengan alis menukik lucu. Dokyeom tidak tahan. Tersenyum, ia pun bertanya.

“Kenapa?” 

Vernon memutar bola matanya malas.

You know why.” Dokyeom hanya terdiam sambil tersenyum puas. “I hate you,” lanjut Vernon. Dokyeom tertawa nyaring.

“Sayang. Kamu sendiri yang bilang gapapa. Kamu yang bilang “Maybe this is the time for the world to know what an absolutely beautiful creation your body is, Kak.” And that’s a word for word for you.”

Runtuh sudah gengsi Vernon, ia malu tapi masa bodoh lah.

“Gak mau, kak…,” rengek Vernon. “Itu cuma boleh diliat aku, cuma. boleh. aku. yang. liat! aku—setelah banyak tweet yang berseliweran tentang they want to “seok” your “dk” ‘till you “kyeom”, I just can’t take it anymore. They need to know! that only I can do that!” Vernon menjawab dengan menggebu-gebu kali ini,  banyak air quote dilayangkan pada Dokyeom. Dokyeom tertawa terbahak-bahak. Memang sangat lucu pacarnya itu, imut. Cuma ada satu di dunia.

“Sayang, lucu banget sih… utututu sini, Sayang….” Dokyeom melebarkan tangannya dan berdiri menghampiri Vernon yang menyambut pelukannya dengan kesal.

“I still hate you.”

“What can I do to make you not hate me anymore?” tanya Dokyeom dengan nada usil.

Vernon terdiam sebentar, berpikir, sebelum akhirnya menjawab, “Let me suck your dick ‘till you come?”

Mereka berdua tertawa bersama akan ucapan Vernon, tidak membahas hal tersebut lebih lanjut lagi. Setidaknya tidak sampai esok pagi saat Vernon membuka Weverse dan melihat foto-foto sialan itu dan teringat dengan caption itu lagi.