Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-11-10
Completed:
2024-11-12
Words:
11,405
Chapters:
7/7
Comments:
8
Kudos:
33
Bookmarks:
5
Hits:
658

Sempurna

Summary:

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh, sayangku, kau begitu
Sempurna

Chapter 1: Part 1: Verse 1

Notes:

Manggala Nusantara: Mark
Kala Senja: Haechan
Nanda: Jaemin
Cecep: Chenle
Rina: Karina

Chapter Text

Manggala Nusantara namanya. Ia adalah lelaki yang kini berada di semester akhir perkuliahan. Hanya perlu menyusun skripsi dan lulus dari kuliah hukum. 

Sedikit tentang Manggala Nusantara, lelaki itu merupakan anak rantau yang menguji peruntungan di Pulau Jawa. Namanya itu diberikan sebagai harapan kepada si anak lelaki bisa menjadi seorang pemimpin yang gagah, berani, dan bertanggung jawab untuk Nusantara. 

Memenuhi harapan orangtua dan juga kesukaannya, Manggala mengambil jurusan hukum. Sebenarnya, Manggala lebih suka musik daripada hukum. Ia ingin menekuni tentang musik. Namun, realita memaksa Manggala untuk mengambil hukum dan memilih prospek yang lebih jelas untuk masa depan dirinya dan keluarga di kampung sana.

Sebagai ganti, Manggala bekerja di sebuah toko musik. Ia menjelaskan tentang alat musik yang akan dibeli oleh pelanggan atau menjelaskan tentang DvD, kaset, piringan hitam, dan lain sebagainya kepada pelanggan yang datang ke toko musik milik Cecep. 

Itu sebelum Manggala ditarik oleh dosennya untuk bekerja bersama. Walaupun hanya sebagai asisten dosen dan membantu beberapa penelitian milik dosennya, gaji yang didapatkan Manggala lebih besar dari toko musik. 

"Oi," sapa Manggala saat memasuki toko musik di mana ia bekerja dulu. Ia bersiul menyapa temannya yang sedang berjaga di kasir. 

Lelaki yang disapa itu segera menghampiri Manggala. Kedua lelaki itu kemudian saling berjabat tangan dan membenturkan bahu mereka. Si lelaki yang berjaga di kasir tersenyum cerah menyambut Manggala. 

"Sombong, lu, Ga," ujar Cecep dengan jenaka. 

Manggala berdecak. Ia kemudian meletakkan bungkusan plastik ke atas etalase kaca yang memisahkan pembeli dengan penjaga kasir. 

"Sibuk gua. Biasa, ikut Pak Junaedi penelitian," ujarnya membalas candaan Cecep. 

Cecep membuka bungkusan plastik tersebut dan mengambil salah satu tempelan kulkas dari sana. Tangannya kemudian meninju kecil bahu temannya. "Widih, mainnya udah ke Jepang aja."

Manggala terkekeh. "Keren gak?"

"Iya dah, keren parah temen gua."

"Ngomong-ngomong, gua numpang nelpon Ibu, dong."

"Itu WarTel di depan. Masih aja nelpon Ibu di sini."

Manggala terkekeh dan berjalan menuju kasir untuk menelpon Ibunya. "Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar?"

Cecep berdecak, membiarkan Manggala menggunakan telepon kabel di dekat kasir untuk menelpon Ibunya. 

"Lu udah punya uang banyak kenapa gak beli handphone aja sih?" Cecep bertanya saat Manggala sudah menempelkan gagang telpon di telinganya. 

Manggala berdecak saat panggilannya tidak dijawab. "Si Ibu ke mana, ya? Mau gak mau kirim surat ini. Pastiin mereka gak kurang duit."

Cecep berdecak. "Santai aja sih, gak usah khawatir gitu. Paling Ibu sama Bapak masih di dermaga, lagi lelang ikan."

"Iya kali, ya," balasnya tanpa minat dan mendudukkan diri di kursi tinggi. 

"Pertanyaan gua gak ada niatan buat dijawab?"

Manggala menyatukan alisnya. "Pertanyaan yang mana?"

Cecep berdecak. "Kenapa lu kagak beli handphone aja. Duit lu kan banyak."

"Banyak sih banyak. Tapi adek gua dua, bos. Si Rina bentar lagi mau masuk kuliah, dia harus ke Jawa, biar dapet pendidikan lebih bagus. Jadi sekarang gua nabung buat Rina."

Manggala turun dari kursi. "Gua mau liat lagu-lagu dulu. Udah lama kayanya gak denger lagu," ujarnya yang kemudian menuju rak khusus lagu dari luar negeri. 

Kring

"Selamat datang.

Manggala asik dengan kaset yang berada di tangannya. Tangannya terangkat untuk memasangkan earphone pada telinganya sebelum Cecep berteriak dari kasir. 

"Ga, ada pelanggan! Temenin tuh!"

Manggala berdecak dan kembali meletakan MP3 di rak yang sudah disediakan. "Kurang ajar," desisnya yang kemudian berjalan meninggalkan rak penyanyi kesukaannya. 

Kakinya pun melangkah menuju pelanggan yang baru datang. Ada dua perempuan dengan seorang perempuan yang membelakanginya. 

Saat melangkahkan kakinya menuju dua perempuan itu, Manggala mendengarkan suara petikan gitar yang mengisi keheningan toko musik itu. Ia baru pertama kali mendengar lagu terputar itu. Manggala cukup menyukai instrumen musik di intro lagu. 

"Permisi, ada yang bisa saya bantu?"

Kau begitu sempurna

Gadis itu menoleh ke arah Manggala, dan keduanya bertatapan.

Di mataku kau begitu indah

Kau membuat diriku akan selalu memujamu

.
.
.

Senja menghela napas pelan saat melihat Nanda berada di belakang hotel tempatnya bekerja. 

"Ngapain lu ke sini?"

Nanda segera mengapit lengan Senja. "Dijemput kok bukannya makasih malah marah," ujarnya dengan kesal. 

"Berantem apa lagi sama Jono?" 

"Gak berantem. Cuman mau ketemu lu aja. Udah lama banget gak ketemu lu. Emangnya gak kangen?"

Senja berdecak, malas menanggapi ucapan Nanda. "Gua ngantuk banget, Na. Gua jadwal malem sama bikin sarapan tadi. Mau pulang, gak mau main."

"Gak main. Kita ke toko musik aja. Emang gak mau beli kaset baru?"

"Lagi gak ada duit. Nanti aja lah."

"Gua bayarin. Ayo, gak boleh nolak pokoknya." Nanda segera menarik Senja untuk segera masuk ke dalam mobil yang daritadi menunggu Nanda. 

"Ke toko musik biasa, ya, Pak," ujar Nanda pada supir yang selalu siap sedia.

Membicarakan Senja, gadis itu bernama Kala Senja Niskala. Ayahnya bercerita jika Senja tiba-tiba saja ingin keluar dari perut sang Ibu saat sedang menikmati senja di pantai. Lalu nama Niskala diberikan karena Senja begitu kuat untuk bertahan hingga sampai di rumah sakit. Karena arti nama Niskala itu sendiri adalah kokoh dan kuat. Tidak ada filosofi khusus tentang namanya. 

Berbeda dengan Nanda yang sedang kuliah, Senja memutuskan untuk memasuki akademi memasak yang memakan waktu singkat dan bekerja sebagai tukang masak di sebuah hotel ternama. Senja cukup paham dengan kondisi keluarganya. Ditambah dengan kakaknya yang berkebutuhan khusus, mau tidak mau Senja membantu sang Ayah untuk mencari nafkah. Sedangkan Nanda, gadis itu teman SMA Senja. Gadis itu merupakan anggota keluarga dari seorang konglomerat. Nama belakangnya sudah dikenal luas oleh banyak orang. 

Ya sekiranya begitulah tentang mereka.

"Eh, SM debutin girl grup baru. Udah tau, belum?" Nanda menunjukkan ponsel yang bermerk Blackberry itu kepada Senja.

"Oh, iya?" Senja melihat ke arah ponsel Nanda. Matanya melihat sebuah berita yang berada di layar kecil tersebut. 

"Namanya Girls' Generation?" tanya Senja saat ponsel Nanda sudah ditarik menjauh darinya. 

Nanda mengangguk. "Nanti kita liat di toko musik itu. Udah ada albumnya belum. Penasaran banget sama mereka."

Mobil yang ditumpangi Nanda dan Senja pun berhenti di pinggir jalan, tempat toko musik langganan Nanda berada. 

"Beneran bayarin gua kan? Gua mau beli kaset Beyonce soalnya."

Nanda mengangguk semangat. Tangannya mendorong pintu toko musik tersebut hingga menimbulkan suara bel yang nyaring. Mereka kemudian disambut dengan sebuah lagu yang terputar pelan dan seorang pegawai yang menyapa dari kasir. 

"Mau beli kaset apa aja boleh. Apa yang nggak buat lu sih?"

"Ga, ada pelanggan! Temenin tuh!"

Senja dan Nanda saling bertatapan sebelum menahan tawanya karena mendengar lelaki yang berjaga di kasir berteriak. 

"Kayanya belum ada deh. Ini cuman ada Super Junior  sama TVXQ," ujar Senja. 

Kepalanya kemudian mengangguk pelan untuk menikmati suara petikan gitar yang terdengar menggema mengisi keheningan toko musik.

"Permisi, ada yang bisa dibantu?"

Kau begitu sempurna

Senja menolehkan kepalanya menatap lelaki yang bertanya kepadanya. 

Di mataku kau begitu indah

Kau membuat diriku akan selalu memujamu

"Oh, gak ada. Mungkin nanti kalau kita kebingungan, kita bakal tanya ke Mas," balas Senja dengan sopan dan senyum kecil. 

Tidak mendapat respon apapun, Senja melambaikan tangannya di depan wajah si pegawai. "Mas gak apa-apa?"

Lelaki di hadapan Senja itu segera menggelengkan kepalanya. "Ah, ya, maaf. Jadi, apa yang bisa saya bantu?"

Senja menyatukan alisnya. "Nanti kalau saya perlu sesuatu, saya bakal cari Mas. Makasih perhatiannya," balasnya yang kemudian berjalan menjauh dari si pegawai toko. Tidak lupa tangannya menarik Nanda untuk pergi. 

"Kayanya dia suka sama lu deh," ujar Nanda berbisik menggoda Senja. 

"Mana ada," balasnya dengan gelengan kepala. Matanya kini fokus melihat berbagai macam album dari penyanyi Amerika. 

"Gua mau beli ini," ujar Senja dengan menunjukkan tiga kaset di tangannya. 

Nanda mengangguk. Ia juga sudah selesai memilih album dan lain-lainnya. "Yuk, kita bayar."

Senja dan Nanda kini berada di kasir untuk membayar barang milik mereka.  Butuh waktu lumayan lama untuk Senja dan Nada sampai akhirnya mendapatkan barang milik mereka. 

"Terima kasih, ya," ujar Senja dan Nanda bersamaan kepada kasir yang berjaga. 

Keduanya pun kini berjalan santai ke luar dari toko musik. Tidak tahu jika ada seorang lelaki berlari cepat dari dalam toko untuk menghampiri mereka. 

"Tunggu, Mbak!"

Senja dan Nanda membalikkan badan mereka saat akan memasuki mobil. Ternyata si pegawai yang menghampiri Senja dan Nanda tadi. 

Tangan si lelaki terulur ke arah Senja. "Saya Manggala. Biasa dipanggil Gala."

Senja menatap tangan di hadapannya tanpa ada niatan untuk menerima uluran tangan tersebut. Matanya kemudian menatap lelaki yang bernama Manggala itu. 

Manggala segera menurunkan tangannya. Ia kemudian menyerahkan secarik kertas dan sebuah pulpen ke arah Senja. "Izinin saya untuk kenal kamu," ujar Manggala dengan mantap. Tidak ada keraguan di dalam ucapannya. "Izinin saya untuk dapet alamat kamu supaya saya bisa kirim surat untuk kamu. Atau, kalau kamu punya handphone, izinin saya punya nomor kamu. Saya mau kenal kamu."

Senja masih terdiam. Karena itu Nanda mengambil alih kertas yang berada di tangan Manggala. Gadis itu menuliskan alamat serta nomor telpon rumah milik Senja. 

"Ini alamat dan nomor rumah temen saya. Dia namanya Senja. Semangat untuk kenal Senja, Mas Gala," ujar Nanda dengan ceria.

Senja menatap tidak percaya ke arah Nanda yang memberikan alamat rumahnya kepada orang asing. "Gila, ya?"

"Saya jamin kalau saya orang baik, Senja. Saya cuman mau kenal kamu. Izinin saya untuk jadi teman kamu," ujar Manggala menghindari Nanda dimarahi oleh Senja.

"Kenapa Mas Gala mau temenan sama saya?"

"Gak tau. Saya suka kamu di pandangan pertama kita. Saya gak mau buru-buru, izinin saya jadi temen kamu sebelum saya bisa yakinin kamu untuk jadi pasangan saya."

Senja tidak pernah menyangka akan ada hari seperti ini di dalam hidupnya. Jujur, Senja tersentuh dengan tindakan lelaki itu. Betapa sopan lelaki di hadapannya. 

Gadis itu kemudian mengulurkan tangannya ke arah lelaki di depannya. "Saya Senja, Mas Gala."

Manggala menahan senyuman lebarnya. Tangannya pun menerima uluran tangan tersebut. Dan tangan mereka pun saling bersentuhan. 

"Saya Gala, Senja. Bolehkan saya panggil kamu tanpa embel-embel apapun?"

Senja menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan. "Saya perlu panggil kamu pakai 'Mas' atau gak usah?"

"Senyaman kamu aja, Senja."

Di tautan tangan tersebut, keduanya tahu, bahwa ada rasa asing yang memenuhi dada mereka. Sebuah rasa yang baru akan mereka cari artinya. 

Manggala melepaskan jabatan tangan mereka disaat dirinya nyaris kehilangan kewarasannya untuk mencium bibir tebal gadis di hadapannya. 

"Sampai ketemu lagi, Senja."

"Sampai ketemu lagi, Gala."

.
.
.

Manggala berteriak kesenangan saat kembali memasuki toko musik. "Gua dapet nomor dan alamat rumahnya Senja!"

"Namanya Senja?" tanya Cecep saat melihat Manggala yang hanya tersenyum menatap kertas di tangannya. 

Manggala menganggukkan kepalanya. "Harga handphone paling murah berapa sih?"

Cecep menatap menggoda ke arah Manggala. "Katanya lagi nabung buat Rina biar bisa kuliah di sini."

"Kan ngambil yang murah aja. Harusnya sih gak ganggu tabungan buat Rina," balas Manggala dengan cepat.

"Eh, judul lagu yang tadi tuh apa? Liriknya ada kata 'sempurna'nya gitu," ujar Manggala mengalihkan obrolan.

Cecep melihat komputernya yang menampilkan playlist lagu yang terputar di toko musik. "Ini, bukan?"

Manggala segera mengangguk saat mendengar suara petikan gitar yang sama dengan sebait lirik dimana menjadi momen Manggala jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Senja.

"Apa judulnya?"

"Sempurna, yang nyanyi Andra and The BackBone," jawab Cecep. 

Manggala mengangguk semangat dengan tangan yang menulis judul dan penyanyi yang diberitahukan Cecep. Ditulis di kertas yang sama dengan alamat dan nomor telpon Senja. Kepalanya kemudian menoleh ke luar saat mendapati mobil yang terparkir di depan toko.

"Lah, Pak Junaedi dateng."

"Pergi dulu, Cep. Nanti kita ngobrol lagi," pamit Manggala untuk segera menghampiri dosennya. 

"Iye, ngopi nanti kita," balas Cecep agak berteriak karena Manggala yang sudah ke luar toko musik. 

.
.
.

Manggala kini menyetir mobil Pak Junaedi untuk menuju sebuah hotel. Ada sebuah pertemuan dengan beberapa peneliti dari beberapa negara. Dan Manggala diminta untuk ikut karena itu ia dijemput di toko musik.

Kini mobil tersebut sudah terparkir di lantai bawah tanah hotel. 

"Sudah sampai, Pak."

Pak Junaedi kemudian meraih sebuah plastik yang berada di kursi belakang mobil dan menyerahkannya kepada Manggala. 

"Untuk kamu," ujar sang dosen. 

Tanpa perlu melihat isinya, Manggala tahu apa yang diberikan Pak Junaedi dari plastik luarnya. 

"Pak, kayanya saya, ... ,"

"Saya susah untuk hubungin kamu, Gala. Sedangkan sekarang saya harus cepet mobilitasnya. Kamu cuman perlu beli kartu aja," sela Pak Junaedi dengan cepat. 

"Wah, Pak, ... , Saya gak tau harus ngomong apa selain terima kasih."

"Kerja aja yang bener. Saya kasih handphone buat kamu karena di penelitian sebelumnya kamu udah bekerja dengan baik. Selesaiin skripsi kamu yang bener, biar nanti kamu bisa kerja sama saya," ujar Pak Junaedi. 

Manggala nyaris menangis karena hadiah dari Pak Junaedi. "Terima kasih, Pak."

"Ayo kita masuk. Kamu harus kenal banyak orang. Di sini orang penting semua yang dateng, Ga. Cari relasi sebanyak mungkin."

Manggala benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan ponsel sebagai hasil kerja kerasnya. Padahal baru saja tadi ia bertanya kepada Cecep berapa harga ponsel yang paling murah. Hidup memang tidak bisa ditebak.