Work Text:
“Sayang, kamu kecapekan ga hari ini?”
Navia menyentuh pundak Clorinde dan sedikit memijatnya.
Clorinde yang baru saja duduk di kasur seketika tersenyum setelah merasakan sentuhan kecil dari kekasihnya.
“Engga sih, ada apa, Tuan Putriku?”
Ujarnya seraya bergerak mendekati Navia-nya yang sedang memanyunkan bibirnya sedikit.
“Uhm...”
Navia menatap mata Clorinde seakan-akan ia ingin meminta sesuatu. Clorinde dengan sabar menunggu apa yang diinginkan Navia.
“Ga jadi deh, kayanya lebih baik malam ini ga usah dulu.” Navia menghela nafas dan masuk ke dalam selimut, diikuti oleh Clorinde setelahnya.
“Kamu mau minta apa, sayang? Bilang aja.” Clorinde menangkup kedua pipi Navia, mengusapnya dengan ibu jarinya.
“Mau aku masakin? Mau nonton dulu sebelum tidur?” Clorinde mencoba menebak.
“Bukan.” Wanita berambut pirang itu menggelengkan kepalanya.
“Lalu?”
Navia menggenggam selimutnya, terlihat ragu.
“Kita udah lama gak itu...”
“Itu?” Clorinde mengangkat alisnya, pura-pura tidak paham apa maksud Navia untuk sengaja menggodanya.
“Ih ya udah deh, ga usah.” Navia memutar bola matanya kesal.
“Hahahah, iyaa sayang. Kangen sentuhan aku ya?” Clorinde mengecup bibir Navia dengan lembut.
“Banget...” Navia memejamkan matanya ketika bibirnya dikecup.
“Emangnya kamu ga kangen?” Navia memeluk bahu Clorinde setelah kekasihnya itu berhenti menciumi bibirnya.
“Hey, aku ga ada bilang ga kangen ya, cantik.” Clorinde tertawa kecil karena apa yang diucapkan Navia.
Clorinde sangat hafal hal-hal yang sering Navianya ucapkan, terutama ketika gadis berambut pirang itu sedang rewel.
‘Kamu kangen aku gak sih?’
‘Kamu pengen ngelakuin itu juga?’
‘Kalau lagi kerja, kamu mikirin aku juga gak?’
Dan sejenisnya.
Clorinde tidak pernah lelah meladeni pertanyaan pertanyaan yang pacarnya sering lontarkan ketika ia sedang sangat merindukan Clorinde.
Lagipula, baru kali ini ada seseorang yang sangat terobsesi dan melekat pada sang Duelist. Alih-alih merasa terusik atau risih, ia malah makin jatuh cinta pada teman masa kecilnya itu.
“...sayang? Sayangku. Kamu kenapa malah bengong?” Navia menggoyangkan tubuh Clorinde sambil memegangi bahu lebarnya.
“Eh? Ga ada apa apa sayang. Aku cuma...”
“Cuma...?”
“Cuma beruntung aja, bisa jadi milikmu.”
Navia menaikan salah satu alisnya dan tersenyum jahil.
“Wah, kamu kenapa deh? Tiba tiba bilang gitu. Lagi mau sesuatu ya jangan-jangan?”
“Aku kan mau kamu.” Clorinde menatap Navia dengan tatapannya yang seakan akan memohon.
“Mau aku? Mau aku ngapain, Clorinde?”
Navia mulai meraba-raba tubuh Clorinde, dari pipi, turun ke leher, kemudian turun ke bahu, dan perlahan lahan mengusap dadanya.
Clorinde menelan ludah.
Ia sangat suka tiap tuan putrinya sengaja menggodanya seperti ini.
Tetap bertanya meskipun dia tahu pasti apa yang Clorinde inginkan.
“Mau kamu di bawahku...”
“...mohon mohon buat disentuh aku sambil desah ga karuan.”
Clorinde melontarkan keinginannya sambil terus menatap ke arah tangan Navia yang sedang meraba tubuhnya.
“Bilang apa dulu, sayang?” Navia mengecup pipi Duelistnya.
“Please?” Clorinde melenguh ketika tangannya yang mencoba untuk menyentuh pinggang Navia langsung ditepis.
“Please what, baby? Use your words.”
Navia mengusap kepala Clorinde.
“Please, sayang. Boleh ya? Aku pengen banget nakalin tubuh kamu yang cantik itu.” Clorinde memohon, membuang jauh-jauh rasa malunya.
“Oh, what a good girl. Bertahap ya sayang.”
Navia akhirnya memperbolehkan dan ia mulai melepas kancing piyamanya sendiri, menunjukan dadanya yang langsung terlihat jelas tanpa bra yang menutupi.
“Boleh sentuh?”
Navia mengangguk.
Clorinde langsung melepas piyama Navia dan melemparnya ke sebelah tempat tidur.
Setelah mendorong Navia agar ia kembali berbaring di tempat tidur, kedua tangannya langsung sibuk menjamah tubuh kekasihnya itu.
“Sayang, kamu lepas baju juga dong. Masa Cuma aku? Gak adil.” Ujar Navia sembari mengusap pipi Clorinde.
Clorinde menyetujui keinginan wanitanya dan langsung melepas kaos yang iya kenakan, menunjukan dadanya yang tidak ditutupi sehelai benang pun.
“Pinter, gitu dong.” Navia mengusap kepala Clorinde.
Clorinde tersenyum simpul dan kembali sibuk mengeksplor tubuh Navia. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Navia dan mengecupnya lembut.
“Princess...” panggil Clorinde.
“Yes, baby?” Jawab Navia.
“Hari ini mau jari, lidah, atau... strap?” Tanya Clorinde.
“Mau semuanya. Mau dikocokin pakai jari sama lidah kamu sampai...”
Navia berhenti melanjutkan kalimatnya ketika Clorinde tiba tiba menyentuh dadanya.
“Sampai apa, sayang?”
“Sampai becek, desahin nama kamu gak karuan sayang..”
Clorinde tertawa kecil melihat Navia yang sangat vulnerable di bawahnya.
“Mau strap juga, sayang?”
Clorinde sengaja menggoda Navia.
“Mau... mau dimentokin.”
Navia mulai merengek. Memohon agak Clorinde segera menyentuhnya lagi.
“Apanya?”
“Mau dimentokin pakai jari kamu atau strap, sayang. Kangen diacak-acak sama kamu...”
“Hmm, sekangen itu ya sayang?” Clorinde mencium pelipis Navia.
“Kamu kira aku ga tau, tiap kamu ngira aku udah tidur kamu sering main sendiri?” Clorinde melanjutkan pertanyaannya.
!?
Navia langsung mengalihkan pandangannya. Ia tidak mengira bahwa kekasihnya tau apa yang biasa dia lakukan. Memalukan, pikirnya.
“Kenapa sayang? Malu?” Clorinde menyentuh pipi Navia, memaksanya untuk menatap Clorinde lagi.
“Malu...”
“Sayang, tadi kamu bilang minta dimentokin gitu. Masih bisa bilang malu ya?”
Navia diam, tidak menjawab Clorindenya.
“Enak ya main sendiri sampai suara beceknya menuhin satu ruangan?”
Clorinde mengecup leher Navia yang terlihat sangat menggoda untuk digigit.
“Enakan dirojokin jari kamu, sayang... dienakin pakai strap on juga mau.”
Navia melenguh.
“Binal banget kamu, sayangku.”
Clorinde menciumi leher Navia, meninggalkan satu tanda di sana kemudian terus ke bawah hingga ke dadanya.
“Mau hisapin nipple kamu, boleh?”
Clorinde meminta izin seraya menyentuh dan memainkan puting milik Navia dengan ibu jarinya.
Navia mengangguk cepat, ingin Clorinde segera melakukan apa yang dia minta.
Clorinde segera mengecup nipple kiri Navia, menggantikan ibu jarinya yang tadinya sibuk memainkan nipplenya dengan lidahnya.
“Jilatin terus dong, baby.” Navia meminta.
Wanita berambut biru tua itu mengiyakan dengan senang hati, memainkan lidahnya pada nipple Navia yang makin mengeras. Ia menjilat, menghisap, dan menggigit kecil puting Navia dengan gemas.
“Wow, nafsu banget kamu. Save some for our baby, sayang.” Navia melontarkan sedikit candaan.
“Gak mau. I’m your only baby.” Clorinde menggigit dan menghisap kulit di sekitar areola Navia hingga meninggalkan bekas kemerahan tanda kepemilikannya.
Navia terkekeh, pacarnya memang jadi sangat lucu ketika sudah memainkan payudara miliknya. Persis seperti bayi kehausan. Navia suka.
“Sayang...” Navia memanggil Clorinde sambil memainkan rambut panjang biru tua milik kekasihnya itu.
Clorinde tidak menjawabnya dengan kata-kata karena masih sibuk menjilati tanda yang ia tinggalkan di dada Navia, namun ia menatap Navia seraya menginginkannya untuk melanjutkan apa yang akan ia katakan.
“Bikin aturan baru yuk, buat hari ini aja.”
Navia mengusap pipi Clorinde dengan halus.
“Aturannya gimana, princess?” Clorinde berhenti menjilati dada Navia dan berpindah posisi, wajahnya kini tepat di depan wajah cantik Navia.
“Kalau aku ngomong kasar, kamu berhenti atau pelanin gerakan kamu... di bawah”
Navia mencium bibir Clorinde.
“Kasar? Termasuk nama genitals?” Clorinde memiringkan sedikit kepalanya ketika bertanya, seperti anjing kecil yang kebingungan.
Navia mengangguk.
“Iya, kalau kamu frontal kamu harus sengaja edging aku. Sengaja berhenti.”
Asik. Pikir Clorinde.
Ia mendapat sedikit ide untuk membuat aturannya lebik asik lagi untuknya.
“Itu aja kan aturannya? Gak ada larangan apa apa buat aku?” Clorinde bertanya lagi.
Navia kembali mengangguk.
Clorinde langsung tersenyum lebar.
“Ih, senyumnya. Pervert.”
“Said someone who touched herself a lot lately, hm?”
Navia memukul bahu Clorinde perlahan dan hanya dibalas tawaan yang terdengar sangat cantik di telinga Navia.
“Lagian akhir akhir ini kamu sibuk terus.”
Omel Navia pelan.
“Apa sayang?”
“Sibuk.” Navia mengalihkan pandangannya.
“Ah... maaf ya, cinta. Aku mau habisin lebih banyak waktu lagi bareng kamu.”
Clorinde meraih tangan Navia dan mengecup punggung tangan beserta jari-jarinya.
“It’s ok. Aku bisa ngertiin.”
“Harusnya aku jadi bodyguard kamu aja gak sih?” Ujar Clorinde.
“Sayang, aku kemana-mana bawa kapak. The less thing I need is a bodyguard.”
Sang rambut pirang tertawa kecil.
“And the most thing you need is to get your pussy fucked, iya kan cantik?”
Clorinde meraba paha Navia, ia mulai menciumi kembali wajahnya dan langsung melahap bibir milik Navia.
Menggigitnya dan memaksa lidahnya untuk langsung masuk ke mulut Navia.
Nafas Navia langsung tercekat, ia memeluk bahu Clorinde dan membiarkan sang Duelis mengacak-acak mulutnya dengan lidah hangat miliknya.
Oh, betapa rindunya Navia merasakan sentuhan lidah hangat itu di berbagai bagian tubuhnya.
Sembari tetap menciumi bibir manis milik Navia, tangan Clorinde sibuk mengelus paha halus kekasihnya yang meleleh karena ciumannya itu.
“Mnn~” Navia melenguh, berusaha mengatakan sesuatu namun tertahan oleh lidah Clorinde yang ada di dalam mulutnya.
“Ada apa, sayang?”
Clorinde bertanya dengan suara halusnya.
“Buruan masukin...”
Clorinde terkekeh karena perilaku Navia yang sangat tidak sabaran.
“Buru-buru banget, cantik? Kaya udah basah aja.”
Clorinde berbaring di sebelah Navia. Tangannya menarik salah satu paha Navia ke arahnya agak kedua kaki gadis berambut pirang itu terbuka lebih lebar.
Navia sedikit meringis ketika udara dingin menerpa area bawahnya yang sudah basah.
Clorinde langsung mengelus bibir area kewanitaan Navia dan tersenyum mesum ketika mendapati kekasihnya itu sudah sangat basah.
“Oh? Pantesan minta buru buru dimasukin. Ternyata memek pacarku udah becek banget ya?”
Clorinde memainkan jarinya di ujung vagina Navia.
Navia yang mendengar Clorinde tiba tiba melakukan dirty talk dengan frontal langsung sedikit terkejut.
Ia yakin, pasti Clorinde melakukannya untuk memancing dia agar melanggar aturan yang sudah mereka setujui.
“Basah gara-gara kamu. Makanya buruan, sayang. Please?” Navia memohon.
“Buruan pengen dirojokin ya memek sempitnya?” Clorinde terkekeh dan menarik jarinya dari bawah sana dan menjilat ujungnya.
“Kamu enak, sayang. Sabar dulu ya.”
Navia mengangguk lemah, makin ingin segera disentuh karena perkataan pacarnya yang frontal itu.
“Aku boleh jilat?”
Tanpa menunggu Navia menjawab pertanyaannya, Clorinde langsung beranjak memposisikan dirinya agar wajahnya bisa berada tepat di depan kewanitaan Navia.
Ia berlutut di depan ranjang dan menarik kedua kaki Navia agar kekasihnya itu makin mendekat.
“Buka kakimu ya, sayang. Aku mau lihat.”
Navia langsung mematuhi Clorinde, ia melebarkan kedua kakinya dan menekuknya sehingga Clorinde bisa melihat jelas santapannya malam ini.
“Cantik...” Ujar Clorinde sambil mendekatkan wajahnya.
Ia memegang kedua kaki Navia agar tetap terbuka dan mulai menciumi paha dalamnya hingga selangkangannya, sesekali mengendus milik pacarnya itu.
“J-jangan ditatapin gitu deh...”
Navia merasa malu.
“Kenapa? Aku suka lihatnya. Lihatnya aja suka, apalagi jilatinnya.” Kata wanita berambut biru tua yang sedikit keunguan itu. Ia kembali menciumi Navia dan menghirup udara di area tersebut dalam dalam.
“Aku suka wangimu juga, princess.”
“Jilatin dong sayang, please.”
Navia memohon agar Clorinde segera melakukan apa yang ia tunggu-tunggu.
“Tumben deh kamu submissive banget gini. Kalau memungkinkan sih, aku udah ga tahan ngisi rahim kamu daritadi.”
Ucap Clorinde.
Navia merasa makin terangsang. Ia juga merasa makin miliknya sedikit bergerak dengan sendirinya.
“Gerak sendiri tuh, sayang. Kamu suka ya kalau aku ngomongnya jorok gitu.”
Clorinde tersenyum jahil.
Setelahnya, ia mulai menjilat milik Navia yang sudah makin basah itu. Sudah lumayan lama sejak terakhir kali mereka melakukan ini, tetapi Clorinde masih sangat ingat rasa khas milik Navia. Ia sangat suka.
“Mnh~” kedua paha Navia hampir menjepit kepala Clorinde karena sensasi yang ia rasakan tiba tiba. Namun pahanya ditahan oleh tangan Clorinde. Ia terus menjilati area kewanitaan kekasihnya sembari jarinya sibuk memainkan clitoris Navia.
“Masukin lidahmu, sayang.” Navia meminta.
Clorinde menuruti permintaan Navianya dan langsung memasukan lidahnya ke dalam, menggerakannya ke atas dan ke bawah hanya untuk menggoda Navia.
Navia merasa ia lebih sensitif dari biasanya, mungkin karena ia sudah lama tidak disentuh Clorinde seperti ini.
Baru saja lidah Clorinde memasukinya, tetapi ia langsung merasa kepalanya berputar-putar. Navia menginginkan lebih dari ini.
“Clorinde... kurang. Kocokin memek aku pake lidah kamu, please?”
Clorinde yang awalnya mau mulai menggerakan kepalanya justru menghentikan yang ia lakukan di bawah sana.
“Kenapa berhenti!?” Navia frustasi.
“Hm? Katanya kalau kamu frontal aku harus berhenti kan?” Clorinde menjilat bibir bawahnya yang terkena cairan Navia.
Sial. Pikir Navia.
“Can we not count that one please? You barely even moved yet.” Navia memutar kedua bola matanya.
“Hahah, sure baby. That’s cheating though.”
Clorinde tersenyum simpul dan kembali memasukan lidah hangatnya itu ke dalam vagina Navia. Ia menggerakan lidahnya dengan perlahan, menggunakan jari jarinya untuk membuka lebar bibir bawah Navia. Clorinde memasukan lidahnya lebih dalam lagi dan mulai menggerakan kepalanya.
“Hng- baby!” Navia mulai mengeluarkan suaranya yang telah ia tahan sejak tadi.
Clorinde merasa puas karena akhirnya Navianya mengeluarkan suara keenakannya.
“Hmm~” ia sengaja bergumam agar Navia bisa merasakan sedikit vibrasi. Clorinde mempercepat gerakannya, ibu jarinya tetap mengusap clitoris Navia selagi ia sibuk menyantap wanita pirangnya.
Pinggul Navia mulai bergerak sendiri seakan akan berusaha agar lidah Clorinde masuk makin dalam.
Navia yang awalnya memegangi sprei kasurnya mulai memposisikan tangannya di kepala Clorinde, sedikit menjambaknya.
“Enak banget, sayang.”
Navia memegang kepala Clorinde dengan kedua tangannya, memaksa wajahnya untuk lebih mendekat lagi dan ia menggerakan pinggulnya dengan cepat.
Awalnya Navia khawatir bagaimana jiga sang duelist kesulitan bernafas, namun yang ada di pikirannya sekarang hanyalah lidah hangat dan lembut milik Clorinde yang sibuk bergerak di dalamnya.
Navia berusaha keras agar ia tidak melontarkan kata-kata yang frontal, padahal sekarang ia sangat ingin dirty talking.
‘Lidah kamu enak banget, sayang. Pengen dientotin tiap hari sama kamu kaya gini, Clorinde.’
Ucap Navia di kepalanya sendiri.
Navia mulai merasa aneh, serasa ada sesuatu yang akan keluar dari bawah sana.
“Sayang, mau keluar...”
Navia berusaha mengucapkan kalimat itu di sela sela desahan dan erangannya.
Clorinde mempererat genggamannya di paha Navia sembari tetap membiarkan pacarnya itu memakai mulut dan lidahnya untuk memuaskan dirinya sendiri.
Selang beberapa saat, Clorinde bisa merasakan cairan yang keluar dari milik Navia makin banyak. Ia menjilat semuanya, dan menelannya tanpa pikir panjang.
Navia mengatur nafasnya dan menyingkirkan tangannya dari kepala Clorinde. Clorinde menjauhkan wajahnya dari kewanitaan Navia yang masih sedikit basah karena cairan yang tertinggal di sana.
Navia bisa melihat bibir dan dagu Clorinde terlumuri oleh cairan cintanya. Wanita pirang itu langsung merasa malu.
“Kenapa sayang, kok buang muka gitu. Malu ya?” Clorinde tertawa kecil.
“Memekmu enak banget sayang, nagih. Pengen jilatin tiap hari.” Lanjutnya.
Ia kembali berbaring di sebelah Navia, kini mengusap pipi dan dahi Navia yang penuh keringat.
“Aku tahu. Kamu daritadi sengaja kan frontal gitu biar aku kepancing?”
Ujar Navia kesal.
“Ga ada larangan kan?” Clorinde mengangkat kedua alisnya dan tersenyum jahil.
Navia tidak menjawab dan langsung menarik dagu Clorinde, menciumnya dengan buru buru hingga ia bisa merasakan cairannya sendiri yang tersisa di mulut Clorinde.
“Sayang...” Panggil Navia.
“Iya?”
“Pengen dikasarin.”
“Oh? Pengen memeknya dikasarin sampe kakinya gemeteran ya, princess?”
Navia mengangguk cepat.
“Tunggu ya.”
Clorinde beranjak dari kasur dan membuka salah satu laci di meja berlaci yang ada di sebelah kasur mereka.
Clorinde mengambil strap on dari laci itu.
“Mau dienakin pake ini, sayang?”
“Mau... aku bantuin ya, baby?”
Clorinde memberikan benda itu ke Navia dan menurunkan celana piyama beserta dalaman yang ia kenakan.
Navia duduk di pinggir kasur dan Clorinde berjalan mendekatinya.
Strap on yang mereka miliki double headed, jadi bukan hanya Navia yang akan merasakannya.
“Sini, sayang.” Navia memeluk pinggang Clorinde dengan satu tangannya dan tangan lainnya memegang strap on yang akan dipakai Clorinde.
Navia mengecup perut clorinde dan bahkan meninggalkan love bite di sana.
“Punyaku.” Ucapnya posesif.
Clorinde menerima strap on-nya dari Navia dan memakainya melalui kedua kakinya seperti memakai celana. Ketika akan memasukan salah satu bagian ujung strap on-nya, ia membiarkan Navia menggenggap ujung yang satu lagi dan perlahan memasukannya ke dalam Clorinde.
“Slowly, princess...” Clorinde menggigit bibir bawahnya.
“Jangan ditahan, let it out.” Navia memerintah.
Clorinde mulai meracau tidak jelas ketika Navia sengaja menggerakan strap on itu maju mundur.
“Ahh, look at my baby~” Navia kegirangan dan menggerakannya makin cepat. Clorinde kini memegangi bahu Navia dan mencoba bertahan agar bisa tetap berdiri.
“Kamu Cuma jilatin aku aja langsung becek banget sampe gampang keluar masukin ini. Gemes.” Navia terkekeh. Kini giliran dia yang sedikit menggoda wanita berambut biru tuanya.
“Habisnya desahan kamu bikin turn on...”
Clorinde mengeratkan genggamannya di bahu Navia.
Navia terus menggerakan tangannya, suara becek dari vagina Clorinde memenuhi ruang tidur mereka.
“Desahanku? Gini ya.”
Navia berdiri dan mendekatkan bibirnya ke telinga Clorinde.
“Ahh, Clorinde. My big and strong duelist. Aku gak sabar dikontolin pake strap on mu sayang. Pengen banget diewein tanpa ampun. Kasarin memek aku dong, please?”
Navia membisikkan kata kata nakal di telinga Clorinde dengan suaranya yang ia buat seperti sedang mendesah.
“Fuck. Sengaja banget ya sayang.” Nafas Clorinde makin terburu buru dan ia mengistirahatkan dahinya di bahu Navia.
Tanpa memberitahu dahulu, Clorinde mencapai puncaknya. Cairan miliknya membasahi tangan Navia dan juga lantai kamar mereka.
“Hmm~ good puppy.” Navia tersenyum puas. Ia memasukan salah satu ujung strap on itu ke dalam Clorinde sepenuhnya dan mengencangkan harnessnya.
Kini sudah terpasang dengan baik di bagian bawah Clorinde.
“Duduk.” Belum selesai mengatur nafasnya, Clorinde sudah diperintah oleh Navianya.
“I will ride you like crazy, my puppy.”
Navia mendorong Clorinde agar ia duduk di pinggir kasur dan Navia langsung menduduki pahanya.
“Can I finger you first, mommy?” Clorinde meminta izin.
“Sure.” Navia mengangguk.
Navia yang posisinya seperti berlutut dengan kedua kaki terbuka cukup lebar sehingga kedua lututnya berada tepat di samping paha kanan dan paha kiri Clorinde memudahkan sang duelist untuk memasukkan jarinya ke dalam vagina Navia.
“Are two fingers okay?”
“Yes, puppy. Do as you like.”
Clorinde dengan semangat memasukan kedua jarinya ke dalam Navia, menggerakannya naik turun agar keluar masuk dari vagina sempit Navia.
“Di dalem memek kamu anget banget sayang, sempit juga. Jariku sampe kejepit.”
Clorinde mulai berbicara frontal lagi sambil mempercepat jarinya.
“Sempit sayang? Cuma kamu yang boleh ngocokin aku gini.” Navia meracau.
“Ngocokin apanya?” Clorinde mencoba memancing Navia.
“Memek becekku.” Navia memeluk bahu Clorinde dan mencoba menggerakkan pinggulnya.
Oh?
Clorinde langsung memberlambat gerakan tangannya, membuat Navia merengek.
“Whyyy?”
“Remember the rules baby?”
Fuck!
Navia mengutuk dirinya sendiri.
“Please just use me as much as you want, baby. I promise I will be a good girl.”
Navia memohon pada pacarnya.
“As much as I want?”
“Yes!”
Clorinde kemudian kembali memasukan jarinya lebih dalam dan menggerakannya lagi lebih cepat, ingin Navia segera mendekati puncaknya.
“Hnng, cepet banget sayang. Feels so good...” Navia sedikit mencakar punggung Clorinde, ia merasa akan segera keluar lagi untuk kedua kalinya.
“Oh? You’re tightening, sweetheart. Gak secepat itu.” Clorinde langsung menarik jarinya keluar, menunjukan jadi basahnya itu pada Navia.
“Nakal banget!! Aku kan hampir keluar.”
Navia mendengus kesal.
“Isep dong, sayang.”
“Okay...”
Navia mulai menjilati jari Clorinde dan memasukannya ke dalam mulutnya, menghisap dan menjilatnya lagi sampai bersih.
“Good girl, princess.” Clorinde memuji Navianya.
“Now can you just... masukin dong sayang, pengen ngerasain kamu di dalem aku lagi. Mentokin ya? Mau diewein sampe muncrat.”
Oh, so desperate.
“Mau dikasarin kan katanya?” Clorinde membelai rambut Navia dan dijawab anggukan oleh Navianya.
Clorinde tidak banyak bicara. Ia langsung mengarahkan ujung strap on nya ke milik Navia dan memasukannya begitu saja.
Navia juga menggerakan pinggulnya ke bawah agar bisa masuk lebih dalam.
Clorinde yang tidak sabar langsung memegang pinggang Navia dan memaksanya bergerak turun hingga seluruh bagian strap on itu masuk ke dalam Navia dalam satu hentakan.
“Clorinde!” Navia langsung tersentak.
“Kamu yang minta dikasarin, sayang. Kalau ga suka, bilang ya?”
Navia meminta Clorinde untuk tetap melanjutkannya.
Navia mulai menggerakan pinggulnya naik turun, tangannya kembali memeluk bahu lebar Clorinde.
“Kamu bilang kamu boleh pake kamu sesuka hatiku kan? Aku bakal ngelakuin itu, tuan putri.” Clorinde langsung kembali memegang sisi kiri dan kanan pinggang ramping Navia, menggerakan tubuhnya naik turun lebih cepat dari gerakan Navia sendiri.
Setelah beberapa saat, Clorinde memindah posisi mereka. Kini Navia berbaring dan Clorinde berada di atas Navia, ia kembali memasukan miliknya ke dalam Navia.
Ya, missionary.
Navia memeluk pinggang Clorinde dengan kedua kakinya, mendorong Clorinde untuk memasukinya lebih dalam.
“Kurang, sayang. Katanya kamu duelis?” Navia menantang Clorinde. Clorinde sendiri tidak terlalu mengerti maksud Navia, namun ia merasa tidak ingin dibilang kurang oleh Navia.
Clorinde mempercepat gerakan pinggulnya hingga payudaranya kini bergerak bebas, membuat Navia tergoda untuk menyentuhnya.
“Clorinde, kamu juga keenakan ya?” Ujar Navia sambil meremas perlahan dada Clorinde.
“Diem deh.” Clorinde bergerak lebih kasar, satu tangannya bergerak ke bawah meraih clitoris Navia dan memainkannya.
Desahan Navia makin kencang, mungkin bahkan bisa mengganggu atau membangunkan tetangga mereka.
“I wish aku bisa dihamilin kamu.” Navia membisiki telinga Clorinde.
Clorinde yang mendengarnya sedikit kaget. Ia baru tahu Navianya berpikir sampai ke sana.
“Oh? Kamu mau dihamilin aku?”
Tanya Clorinde.
“Mau banget, sayang. Rahimku suka dipenuhin kamu.” Navia menggoda Clorinde.
“Fuck. Kamu selalu berhasil bikin aku makin turn on, Navia.” Clorinde mulai mengecup pipi dan rahang Navia, semakin turun menciumi leher menggoda milik Navia.
“Ahn... Clorinde. Dikit lagi keluar.”
Clorinde makin semangat menggerakan pinggulnya, kini mencium bibir Navia dan memasukan lidahnya ke dalam mulut pacarnya yang makin lemas itu.
“...mnnh!”
Clorinde bisa mendengar dan merasakan desahan Navia pada sela sela ciuman mereka.
“Hmm? Udah keluar sayang?”
Navia mengangguk lemas.
Namun siapa sangka, Clorinde justru tetap bergerak. Sepertinya Clorinde juga akan segera keluar untuk yang kedua kalinya.
“Navia!”
Clorinde meneriakan nama Navia, gerakan pinggulnya makin pelan dan ia akhirnya menarik keluar strap onnya dari dalam Navia.
Navia melenguh merasakan vaginanya yang awalnya penuh kini terasa kosong.
Clorinde melepas harness dan strap on-nya dari bagian bawahnya. Melemparnya ke sebelah kasur.
Kini wanita berambut biru tua itu berbaring di sebelah Navia yang sudah lemas.
“Hahah, capek ya?” Clorinde membelai rambut Navia, merapikannya sedikit.
“Iya, tapi pengen kaya gini tiap malam.” Navia menoleh ke arah Clorinde dan bergerak mendekatinnya untuk memeluk tubuhnya.
“Tiap malam? Kamu kangen banget ya sama aku.” Clorinde tertawa kecil dan memeluk Navia, Clorinde mendekatkan kepalanya ke dada Navia, mengecupnya lembut.
“Iya lah!? Pacarku paling sibuk se Fontaine.”
“Maaf sayang...” Clorinde menatap mata Navia. Kini ia terlihat seperti anak anjing yang merasa bersalah.
“I’m okay with it. Cuma kangen kamu dan sentuhan kamu aja.” Navia mencium kepala Clorinde.
“I love you, Navia.”
“And I love you too, Clorinde. Till my last breath.”
(AKHIRNYAAAA SELESAI)
