Work Text:
Mark sibuk melamun sewaktu abangnya, Johnny datang dari arah pintu, baru pulang dari agenda kerja dinasnya di Thailand.
"Kenapa lo." Johnny tidak berbasa-basi, karena selama ini jarang sekali Mark memasang wajah semurung itu sambil melamun dengan tatapan yang begitu sendu, nampak sedih sekali.
Lalu terdengarlah suara hela napas panjang dari Mark. Benar-benar nampak lunglai dan penuh kesedihan sekali.
"Sedih gue." Ucap Mark dengan suara serak, parau.
Johnny tidak melanjutkan langkah untuk ke kamar. Johnny lebih memilih untuk bergabung duduk di sebelah, menemaninya.
"Sini cerita sama gue, kenapa?"
Mark menoleh ke arah Johnny, awalnya agak ragu untuk berbagi cerita karena ini merupakan sesuatu yang bersifat pribadi, atau sebenarnya dia hanya terlalu -sangat amat malu untuk menceritakannya.
Tapi kemudian Johnny meyakinkan, membujuk Mark sampai tidak ragu dan akhirnya mau berbagi cerita kepadanya secara terbuka.
Johnny hanya mendengarkan cerita itu dengan seksama, tak sedikit pun berniat memberi interupsi sampai Mark benar-benar tuntas dengan semuanya.
"Selain bengkok, punya gue..." Mark menggaruk tengkuknya sendiri yang tidak gatal, ia gigit bibir bawah pelan, sedikit cemas. "Punya gue... Susah ngaceng John..." Akhirnya tersuarakan juga dengan berat hati.
Mark menarik napas panjang, dia hanya bersiap saja jika seandainya Johnny ingin menertawakan fakta memalukan yang ia miliki tersebut.
"Pantes lu malu buat cerita. Sebenernya bengkok sih masih bisa ditoleransi, tapi kalau susah ngaceng, gue sama sekali gak heran kalau lu jadi minder dan malu kaya gini Mark."
Mark hanya melamun sambil menganggukkan kepala. Sudah terlalu lemas untuk menanggapi kalimat Johnny bagaimana.
Johnny merogoh sesuatu dari sakunya.
"Gue ada solusi." Ucap Johnny.
Mark mendongak, menautkan kedua alisnya dengan heran.
"Solusi, gimana?" Tanya Mark dengan ragu-ragu.
Selembar kartu nama disodorkan oleh Johnny kepada Mark.
"Ini. Dateng aja ke sini. Dia dukun urut, gue gak hiperbolis tapi dia beneran sakti dan kemampuannya soal nanganin masalah kontol, bener-bener gak bisa dipandang sebelah mata. Dateng aja ke sana, gue yakin pasti bakal sembuh tu masalah kontol lo." Ucap Johnny.
Mark menatap kartu nama yang diberikan oleh Johnny dengan tatapan lekat.
'URUT SUPER'
Itulah nama tempat praktiknya, untuk alamatnya ternyata cukup jauh dari rumah Mark, membuat Mark ragu-ragu untuk datang ke sana.
"Dateng aja Mark. Jujur aja, sebenernya punya gue juga bengkok, dan dulu gue pernah bawa ke sana. Setelah gue bawa ke sana, selain punya gue jadi lurus lagi, tegak keker, punya gue juga jadi tahan lama gak gampang loyo! Gue gak bohong, mau gue kasi liat fotonya gak?" Johnny berupaya untuk meyakinkan.
Mark menggeleng pelan. Sebenarnya, tanpa Johnny perlu pamer foto bukti, Mark sudah cukup percaya dengan perkataan pria itu sebab sejauh ini Johnny adalah tipe saudara yang selalu memaparkan segala sesuatu sesuai fakta.
"Makasih, John. Bakal gue coba. Semoga beneran berhasil." Ucap Mark yang kali ini akan mencoba peruntungannya, mencari solusi demi kontolnya tidak bengkok lagi sekaligus tidak susah ngaceng lagi.
***
Perjalanan dengan kendaraan mobil nyaris lima jam sendiri. Dan Mark tidak menyangka bahwa tempat yang akan ia kunjungi ternyata bisa dikatakan cukup pelosok, pedalaman, jauh dari pusat kota.
Jauh. Tapi tidak masalah. Demi kontol bisa lurus, tegak, lebih gagah, tak gampang loyo, tahan lama, dan tentu saja bisa ngaceng. Jarak sejauh apa pun akan tetap ia tempuh dan hadapi.
Tempat prakteknya hanya rumah kecil biasa dengan jejeran tamu yang tidak terlalu ramai. Mungkin karena ketika ia sampai di sini sudah larut malam, maka jumlah tamu mereka tidaklah terlalu ramai.
"Namanya siapa Mas."
"Mark, buk." Ucap Mark ketika akhirnya ia bisa masuk untuk melakukan pendaftaran. Ini cukup gila, pasti tempat ini sangat terkenal hingga bahkan sampai jam 1 dini hari juga tetap buka.
"Keluhan apa yang dirasakan, Mas?"
"Eum, anu buk..." Mark pun memberi tahukannya dengan intonasi suara yang sengaja ia rendahkan, pelan sekali supaya tidak ada satu pun yang dengar -padahal sudah jelas jika di lorong tersebut hanya ada mereka. Tapi tetap saja Mark sangat malu untuk menceritakannya dengan keras-keras.
"Tutupnya itu jam berapa sih, Buk? Jam segini masih buka, rame terus ya?" Tanya Mark sambil menunggu seorang wanita penjaga loket pendaftaran mendata namanya.
"Mas yang terakhir. Jam 1 malem kita uda tutup, terakhir terima tamu Mas. Kalau weekend emang tutupnya sampek malem banget Mas. Kalau hari biasa kita tutup jam 9." Jawab wanita tersebut sambil menyerahkan nomor antrean kepada Mark.
"Kamu bisa tunggu di sana, pelanggan Haechan tinggal satu di dalem, bentar lagi giliran kamu." Tutur wanita itu.
"Haechan?" Mark agak bingung karena dia tidak tahu siapa yang dimaksud oleh wanita dengan tanda pengenal di dada bernama Honey itu.
"Yang punya tempat ini, yang kelola tempat ini, yang bakal kasi solusi masalahmu. Nanti panggilnya pake nama aja, gak usah formal dan jangan kaku, santai aja." Jawab si ibu Honey.
Mark menerima saran itu dengan baik. Ia pun duduk di kursi yang ada di ruang tunggu. Lorong dengan cat dinding berwarna putih seketika menjadi terasa sangat sunyi saat wanita penjaga loket tadi telah beranjak pulang.
Hanya tinggal Mark saja di lorong tersebut.
Sampai lima belas menit kemudian keluarlah seseorang dari ruang praktik. Seorang wanita dengan penampilan yang agak berantakan, dari rambutnya yang agak lempek dan wajahnya yang memerah penuh keringat. Juga cara berjalannya yang tertatih. Mark melamun memerhatikannya, menerka-nerka apakah metode pengobatannya adalah sesuatu yang cukup menyakitkan, melelahkan, hingga sukses membuat penampilan akhir menjadi seperti wanita itu.
"Mark!"
Mark tersentak kaget ketika namanya akhirnya telah dipanggil juga. Ia menegakkan punggung, berdiri dengan gugup lalu dengan canggung -dan tidak ada gunanya, dia merapikan pakaian yang ia kenakan sebelum kemudian melangkahkan kaki untuk masuk menuju ruang praktik.
Saat Mark masuk, hal pertama yang menyambutnya adalah ruangan yang serupa dengan ruangan dokter hanya saja dipenuhi dengan beberapa hal yang terasa aneh serta sedikit aneh untuk Mark. Ada aroma gaharu yang pekat, ada tanduk rusa dengan banyak cabang yang menempel di dinding, ada banyak rak yang isinya dipenuhi oleh berbagai macam motol mungil yang tersusun rapi berdasarkan warna, ada meja dan kursi tempat mereka akan melakukan konsultasi, untuk ranjang pasiennya tidak ada, digantikan dengan sebuah kasur lantai yang dilapisi oleh sprei dengan motif batik.
"Permisi..." Mark menyapa pelan begitu masuk dan melihat bahwa ruangan tersebut kosong tidak ada orang. Ia mengedarkan mata untuk mencari keberadaan si Haechan, selaku sang ahli pijat dan urut yang seharusnya ada di ruangan ini, dan segera memulai sesi konsultasi dengannya.
"Duduk sana dulu. Keluhannya kontol bengkok sama susah ngaceng ya?" Ucap seseorang yang badannya tersembunyi di balik kokoknya rak boto ramuan di dalam ruangan.
"I-iya..." Jawab Mark dengan benar-benar kikuk. Ia mendudukkan diri di kursi yang tersedia, kemudian menunggu dengan sabar pada sosok sang tukang urut yang nampaknya sedang sibuk di balik rak sana.
"Sebentar, ya. Lagi nyari ramuannya dulu. Omong-omong, selain dua masalah itu, ada keluhan lain ndak?" Tanya Haechan, si tukang urut yang sekarang sudah menemukan dua botol ramuan yang ia cari. Ia melangkah menuju ke kursinya kembali, muncul dari balik rak untuk kemudian menampakkan diri di hadapan pasiennya yang jika ia baca di daftar tadi bernama Mark.
Haechan baru muncul dan kemudian berdiam sesaat di tempat, bergeming sambil matanya menatap Mark dengan tidak berkedip. Memerhatikan penampilannya dari atas ke bawah, dan lebih fokus pada paras pria itu yang mana di mata Haechan benar-benar terlihat sangat tampan.
Selama ini Haechan juga sudah sering mendapatkan pasien yang tampan wajahnya, rupawan serta sangat memesona. Benar-benar bukan menjadi hal yang langka untuknya, bahkan nyaris terasa biasa saja sebab setiap hari yang datang ke tempatnya juga didominasi oleh pria tampan dengan badan kekar yang super oke.
Tapi untuk kasus kali ini. Untuk sekarang ini, yang ia lihat sekarang, lelaki yang kini masih sibuk memerhatikan sekitar dan belum sadar akan kehadirannya, lelaki itu! Lelaki itu benar-benar ganteng.
Terlampau ganteng sampai Haechan merasa tidak rela jika harus menghentikan momen memandanginya dengan penuh puja sekarang ini. Tapi namanya pasien tetaplah harus segera ia tangani, tak boleh terlalu hanyut dalam kondisi hingga lupa pada kewajiban.
"Ekhem!" Haechan berdehem pelan.
Lamunan Mark pun langsung buyar. Ia mendongak dan seketika matanya segera disambut oleh seorang wanita berambut pendek sebahu, dengan pakaian kemeja putih ketat, dan rok batik pendek di atas lutut. Pakaian wanita itu ketat secara keseluruhan, dari atas ke bawah, benar-benar menarik perhatian Mark untuk menaruh terlalu banyak fokus pada bagaimana indahnya lekuk tubuh yang dimiliki.
Benar-benar masih sangat muda, pantas saja ibu-ibu penjaga loket tadi memberinya pesan untuk memanggil si juru urat, alias di dukun urut super ini dengan memakai panggilan nama langsung yang terkesan lebih santai.
"Mark, ya?" Tanya Haechan, mengambil duduk di kursinya, berhadapan dengan Mark, dan hanya berbataskan oleh sebuah meja di antara mereka.
Mark mengangguk patuh, masih tidak memalingkan wajah, fokus sekali memerhatikan si dukun urut tersebut, yang ternyata jika dilihat dalam jarak dekat nampak berkali-kali lebih cantik.
Kondisi tersebut juga terjadi kepada Haechan. Benar-benar nyaris tidak berbeda jauh, apalagi sejak awal Haechan juga telah menaruh lirikan tersendiri pada ketampanan yang dimiliki oleh Mark. Sejak tadi berusaha menahan diri, dan niatnya itu malah mendapatkan godaan besar berupa Mark yang malah asik sekali menatap ke arahnya dengan nyaris tanpa berkedip.
Ayolah, Haechan rasanya ingin menggerutu saja karena situasi yang sangat tidak membantu sama sekali ini, sebaliknya justru malah berniat untuk menariknya hanyut dengan lebih jauh.
"Buka celananya." Ucap Haechan tidak mau berbasa-basi. Ia meletakkan dua botol ramuan yang sebelumny sudah ia ambil, dan siapkam untuk Mark. Ia bertopang dagu di atas meja, memerhatikan Mark dengan satu alisnya yang ia naikka.
"Kenapa belum dibuka? Malah bengong gitu." Ucap Haechan, menegur Mark yang malah kedapatan asik melamun.
"La-langsung dibuka?" Mark bertanya gugup, karena ayolah memangnya siapa yang tidak akan gugup jika ditatap seintens itu oleh wanita, cantik pula, menatapnya malah di daerah selangkangan langung pula. Siapa juga yang tidak akan gugup sampai tergagap macam dirinya jika situasinya seperti itu.
"Iya dong ganteng, dibuka celananya. Pengen sembuh gak?" Tanya Haechan.
Mark anggukkan kepala patuh, dia tentu saja ingin sembuh.
Tidak pakai lama Mark pun segera berdiri, ia turunkan celananya. Celana jeans panjang,elepaskannya, lalu masih ada bokser. Ia turunkan juga. Kini terakhir hanya tersisa celana dalam segitiga berwarna hitam miliknya.
Mark menunduk, matanya langsung membulat saat melihat permukaan celana dalamnya menyembul, membangun gunung yang tinggi dengan kondisi celana dalamnya sedikit basah. Tidak terlalu kentara karena warnanya hitam, bayangkan jika ia sedang memakai celana dalam abu-abu, pasti noda basahnya sudah tercetak dengan jelas -dan itu akan menjadi hal yang sangat memalukan.
"Katanya susah ngaceng, itu uda ngaceng?" Haechan mengalihkan mata dari cetakan besar di balik celana dalam milik Mark. Mendongak, menatap Mark yang sekarang sedang gusar menggigit bibir bawah.
Haechan terkekeh pelan, menyeringai tipis melihat betapa lucunya sikap dan reaksi yang ditunjukkan oleh Mark.
"A-anu, ini gak tau kenapa, gak tau kenapa bisa mendadak nga-ngaceng gini.... Bias-biasanya gak gini! Biasanya susah!" Mark bicara dengan sangat berantakan, hanya semakin membuat Haechan yang mendengarnya tidak hanya berseringai tapi langsung keluar tawa, tertawa tipis untuk sikap dan tingkah Mark yang makin lama memang makin lucu.
"Iya, iya. Gak usah gugup gitulah Mark. Santai aja, anggep aja kaya lagi ngobrol sama temen sendiri." Ucap Haechan sambil memundurkan kursinya, sedikit mundur untuk memberi jarak antara badannya dengan meja sebab sehabis ini ada yang ingin ia lakukan.
"Oh, iya Chan. Sorry, gue emang gampang gugup." Ucap Mark dengan nada sedikit mencicit.
"Gampang gugup apa gampang sange, ngaceng gitu." Haechan keluar selorohan yang mana ini berefek pada merah-padamnya muka Mark sekarang.
Haechan semakin puas saja melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Mark, membuat ia jadi ingin terus menggodanya saja. Dan lagipula, si ganteng ini jika digoda, kalau ia perhatikan, kadar gantengnya jadi bertambah. Membuat Haechan makin tertarik saja.
Padahal tertarik pada klien adalah sesuatu yang sangat anti untuk ia lakukan. Tapi sepertinya itu akan menjadi pengecualian khusus untuk si ganteng ini, yang gantengnya telah sukses menggetarkan hatinya.
"Merah banget sih mukanya, bercanda aja lho." Haechan berdiri, ia menepuk lengan Mark pelan sebelum kemudian ia tinggalkan pria itu sebentar untuk mengambil botol ramuan lain yang sejatinya tidak perlu-perlu amat untuk dipakai dalam sesi ini, tapi karena ia sudah lebih dulu tertarik dengan kegantengan Mark, maka akan ia sertakan ramuan tersebut. Atas kemamuannya sendiri, atas dasar untuk kepuasannya -akan menjadi kepuasaan mereka bersama juga nanti.
Mark masih mematung di tempat, tidak bergeming sama sekali sejak Haechan pergi dari hadapannya. Ia memerhatikan wanita itu, berjalan dengan pinggul dan bokong yang saling bergeyol, bergerak ke kanan dan kiri, sudah macam magnet yang menggaet matanya agar tidak berpaling sedikit pun.
"Duduk di meja." Titah Haechan saat dia sudah kembali dengan dua ramuan lain di tangan.
Mark manut, ia duduk di meja, tapi kemudian mendapat koreksi dari Haechan.
"Bukan gitu, duduknya di depan kursi gue Mark. Duduk, buka celana dalemnya, terus ngangkang."
Mark meski pun gugup, ia tetap mengikutinya. Ia lepaskan celana dalamnya, sudah benar-benar bertelanjang pada bagian kaki. Seketika itu kontol bengkoknya segera terpampang dan itu dalam keadaan tegang, keras, ngaceng...
Sudahlah, Mark tidak mau memermasalahkannya. Tapi memang sangat membingungkan juga kenapa ia bisa secepat ini tegang, padahal sejak insiden ia diremehkan bentuk kontolnya, ia benar-benar menjelma menjadi seseorang yang sangat mudah merasa minder sampai itu memengaruhinya dalam berbirahi, alias semangat menyurut, membuat kontolnya jadi ikut surut alias loyo. Susah sekali dibuat tegang, apalagi dipakai untuk berkawin. Benar-benar susah dan membuat ia semakin hari jadi semakin stres.
Tapi sekarang. Bahkan tanpa diminta, tapa ada niat untuk terpancing birahinya, mendadak saja kontol bengkok loyonya itu bisa ngaceng dengan cepat.
"Nah, bener duduk di situ." Ucap Haechan sambil mendudukkan diri kembali ke kursinya. Tersenyum kepada Mark yang sekarang sudah mengikuti kalimatnya dengan baik. Pria itu duduk di depannya, dengan kaki terbuka lebar, menyuguhkan kontol bengkok yang tegang, tepat di depan mukanya yang sesejar.
Haechan menarik kursinya sedikit maju saat merasa jika jarak mereka terlalu jauh.
"Ahh... Chan!" Mark tersentak kaget saat mendadak batangnya dipegang oleh Haechan. Kaget sekali karena ini begitu tidak terduga.
"Gitu aja uda desah, gimana gue sepong. Jerit-jerit keenakan pasti. Iyakan?" Haechan melirik dengan genit. Ia ambil minyak urut khusus buatan sendiri, minyak urut dengan jampi-jampi yang ampuh.
Yang Haechan yakin pasti bisa membuat kontol bengkok ini bisa tegak lurus, nampak lebih gagah, perkasa, dan tentu saja makin enak jika dipakai untuk berkawin.
Dan yang akan mengicipi untuk pertama kalinya setelah berhasil ia sembuhkan tidak lain adalah dirinya sendiri. Akan Haechan pastikan itu. Lagipula Mark juga klien terakhir, maka mereka bisa bebas melakukan apa pun di sisa hari ini tanpa gangguan sedikit pun.
"Padahal gak bengkok banget." Ucap Haechan sambil melumuri batang tersebut dengan ramuannya, sambil memijatnya. Ia telusuri dari atas ke bawah, dari batang sampai ke bola kembarnya yang juga membengkak. Serius, Haechan tidak percaya sama sekali jika Mark mengaku-aku susah ngaceng.
Buktinya, lihat saja sendiri.
"Tapi, kata mantan temen tidur gue, bentuknya jelek. Gue, jujur insecure abis dengernya." Ucap Mark dengan nada lebih lancar, itu karena sekarang Haechan berhenti menggerayanginya dan tengah sibuk membuka botol ramuan lain.
Mark meneguk ludah kasar, memerhatikan Haechan dari posisinya yang berada lebih tinggi dari wanita itu, memberi keuntungan ia bisa mengintip lipatan dada besar milik Haechan dari balik kemeja putih yang dikenakan.
Tanpa berkedip, fantasi kotor mulai memenuhi kepala Mark selagi Haehan malah nampak sengaja sekali melepaskan satu kancing kemejanya. Menyebabkan dada itu bisa lebih leluasa dibingkai oleh kedua netra milik Mark.
"Ih, Mark. Nakal banget ya ternyata matanya dari tadi liatin susu orang, jelalatan banget." Ucap Haechan yang memang sadar dadanya menjadi sumber jarahan kedua netra milik Mark. Karena sadar sedang ditatapi itulah, makanya ia sengaja sekali membuka kancing kemejanya, berbaik hati menyuguhkan hal itu kepada Mark. Agar pria itu semakin kesenangan, kesangean, dan tentu saja makin ngaceng saja kontolnya.
"Maaf, Chan. Soalnya gede, gue jadi gak bisa berpaling-nghhh! Ahh.. Chan! Haechan!" Mark mendongak tinggi saat kontolnya lagi-lagi kembali dipijat, lembut sekali. Naik-turun dengan diberi tekanan, selain itu juga Mark bisa merasakan jika puncak kontolnya sengaja sekali ditiup-tiup pelan oleh Haechan. Ditiup pelan, diberi jilatan, lalu palkonnya dilahap begitu saja.
"Anghh!! Anjiingh!" Dan mengumpat karena keenakan. Kepalanya masih mendongak, matanya terpejam kuat menikmati setiap nikmat yang diberikan. Dan tangannya, bergerak rusuh mencengkeram rambut Haechan.
Haechan tidak merasa terganggu dengan rambutnya yang dijambak kasar, atau pun kepalanya yang terus ditekan ke bawah, didorong supaya semakin dalam melahap batang kontol itu. Haechan membiarkannya, ia terus hisap dan keluar-masukkan kontol itu ke dalam mulutnya, memijatmya menggunajan apitan mulutnya, tangan pun tidak berhenti untuk memberi pijatan terlebih pada buah zakar milik si ganteng ini.
Bertahan di posisi itu dalam durasi beberapa menit, Mark meringis pelan saat klimaksnya terasa semakin dekat. Menunduk ke bawah, matanya langsung membulat saat melihat bentuk kontolnya yang sudah berubah dan sekarang sedang dimakan oleh Haechan.
Sudah lurus. Nampak lebih besar, gagah, kekar, tegak lurus keluar-masuk di dalam mulut sempit nan hangat milik Haechan.
Kepuasan yang Mark rasakan langsung naik, melonjak tinggi sekali. Disepong secara cuma-cuma dan kemudian disembuhkan bentuk kontolnya dalam satu waktu yang bersamaan. Mark makin bersemangat untuk memperkosa mulut ajaib Haechan. Pinggilnya ikut ia dorong keluar-masuk ke dalam mulut Haechan, mendorong-dorongnya agak kasar sampai menyentuh panggal tenggorokan Haechan.
Semakin dekat, semakin cepat pula Mark menggerakkan pinggangnya.
"Aangh! Mau crot gue! Haechan! Enak banget Haechan-Arghhh!" Mark langsung keluar teriakkan keras, lantang sekali dibarengi dengan semburan pejunya di tenggorokan Haechan.
"Uhmm!!" Haechan bergumam pelan, menelan peju milik Mark dengan lahap, membuka mulutnya lebar-lebar mengharapkan sisa peju milik Mark yang masih muncrat sedikit-sedikit. Bibirnya kotor terkena noda peju, beberapa bagian wajah seperti pipi, pelupuk mata bahkan dahi pun ikut kena.
Membuat wajah Haechan jadi nampak semakin seksi saja di mata Mark yang ada di atasnya. Mark tidak berkedip, malah makin kesenangan saat melihat Haechan menjilati batang kontolnya, puncaknya juga dijilat-jilat, palkonnya dihisap kuat, membuat Mark menjadi lebih mudah untuk langsung kembali tegang hanya dalam beberapa detik saja.
"Uda lurus kan sekarang, gak bengkok lagi..." Ucap Haechan, meletakkan kedua lengan di atas paha milik Mark, sedangkan jari-jemarinya asik untuk membelai batang kontol milik Mark yang belum apa-apa sudah ngaceng lagi. Astaga, Haechan sempat geleng-geleng kepala -karena senang, sambil menyeringai.
Senang karena jalannya untuk bersenang-senang dengan pria ini pada malam ini sangatlah terbuka dengan lebar, bahkan nyaris tanpa halangan sebab Mark sendiri pun kedapatan menyambut kegirangan hal yang ia tawarkan.
"Makasih, makasih ya Chan-"
"Iya sama-sama." Potong Haechan. Masih mendongak, menatap Mark dengan mata sayunya.
"Tapi gak mau cuma makasih aja." Memberi kerlingan, dengan maksud untuk menggoda secara nyata.
"Terus-sshhh! Ahh.... Jangan diurut gituh Chan! Arghh!" Mark mengerang tidak kuat saat kontolnya diurut, kemudian palkonnya sekali lagi masuk ke dalam perangkap mulut berbahaya milik Haechan. Dihisap pelan sambil dijilati secara teratur.
Mark merasa sangat gila sekarang.
"Ngewe dululah. Masak udah jauh-jauh maen ke sini gak ngewe dulu sama akuuu. Sayang banget tauuu~" Ucap Haechan, dengan nada yang terdengar sangat mendayu.
Kini Haechan berdiri, berdiri tepat di antara kedua kaki Mark yang terbuka sambil tangannya terulur untuk mendekap bahu kokoh pria itu.
Mark belum bereaksi, dia masih terpaku pada Haechan, pada apa yang akan dilakukan oleh Haechan selanjutnya.
"Lagian uda ngaceng juga lagi kan-argh!" Haechan memekik kaget saat pinggangnya dipegang oleh Mark, diremat sebelum kemudian badannya diangkat dan mereka tiba-tiba saja sudah bertukar posisi, menjadi dia yang didudukan di atas meja, sedangkan Mark berdiri di hadapannya.
Haechan terperangah. Pria ini sangat kuat juga, bahkan badannya diangkat seakan bagai tanpa beban hanya dalam waktu singkat.
"Ayo. Yang di bawah pasti juga uda becek kan?" Tanya Mark sambil menyusuri paha milik Haechan, yang mana setelah ia sentuh paha tersebut sekarang kedapatan semakin dilebarkan oleh si empunya.
"Iya, uda banjir banget malah. Coba cek aja sendiri-ahh... Gosok ter-teruushh! Basah kan?" Haechan bicara dengan suara yang berat, sulit sekali untuk berkata per kata karena napas yang memburu sebagai sebab kelaminnya sedang digosok-gosok oleh jari-jemari Mark dari balik celana dalamnya yang sudah pasti basah.
Digosok perlahan sambil diberi tekanan pada itilnya. Dimainkan pelan, nakal sekali hingga membuat Haechan terus menyuarakan desahan nikmatnya. Selain itu Haechan juga mulai bergerak resah dalam duduknya, tidak tenang, belingsatan karena sentuhan yang diberika. Gairah dan nafsunya naik sampai ia reflek menyentuh dadanya sendiri.
"Aanghh! Maarkh!" Haechan memekik pelan saat roknya diangkat naik ke atas oleh Mark. Ia menunduk ke bawah, melihat Mark menurunkan celana dalamnya dengan beringas, cepat sekali hanya dalam satu tarikan.
Kebringasan itu memantik semangat Haechan sampai ia akhirnya bergerak melucuti kancing kemejanya sendiri. Menelanjangi diri, meremasi dadanya sendiri saat tangan Mark sudah kembali aktif untuk menyapa gelambir labianya.
Haechan merinding, labianya dilebarkan oleh Mark sedang kini tangan miliknya sendiri sudah gatal untuk meremasi susu besarnya dari balik kutang yang masih belum ia lepaskan.
"Banjir banget memek lo Chan, gak sabar pengen gue genjot entar!" Ucap Mark sambil mengusap-usap itil Haechan dengan ibu jarinya, ia tekan-tekan pelan hingga membuat badan Haechan di depannya bergetar hebat.
"Iyaah! Iyaah!! Nanti genjot yaaah!" Ucap Haechan dengan gagap, mengangguk-angguk berantakan sambil tangannya melepaskan kutangnya. Menjadikan ia telanjang secara sepenuhnya. Dadanya ia remas kasar seiring dengan semakin kerasnya kucekan di bawah sana. Dan ketika jari Mark mupai bergerak untuk menyapa lubang kawinnya, Haechan seketika melengkungkan badan dengan tinggi, kuat-kuat, sebab sensasi nikmat itu bagai telah membawanya melayang dengan tinggi.
Mark mendongak, di depan matanya sudah tersaji dua buah dada Haechan dengan pentil yang mengeras, menegang dan menonjol mancung, seperti menggoda untuk ia cecap dalam hisapan.
"Aarghh! Maaarkh! Aahhh! Is-iseeep teruus!" Langsung memohon saat pentilnya ditawan oleh Mark dalam hisapan.
Pentilnya dihisap, lalu kemudian lubangnya sudah disodok saja oleh dua jari milik Mark. Awalnya baru masuk, tapi lama-lama saat ia bahkan belum terbiasa dengan keberadaannya, Mark dengan tidak sabar sudah mengoyak lubangnya dengan kedua jari tersebut.
"Aakhhh! Rojok terussh Mark!! Enak! Enaak! Markh!" Haechan mendesah dengan kencang bahkan suaranya nyaris terdengar seperti jeritan, jeritan yang kelewat nikmat. Badan terlonjak-lonjak seiring dengan semakin kuatnya Mark menggenjot lubangnya denga jari.
Keluar-masuk, menggosok area awas dinding lubang kawinnya, sengaja ditekan-tekan dengan maksud membuatnya semakin terbang dalam kenikmatan.
Pentilnya juga tidak sedikit pun ketinggalan, Mark menghisapnya kuat-kuat lalu menjilatinya sambil memberi tekanan dengan intens, membuat sekujur badan langsung bergidik, belingsatan, bergerak tidak tenang di atas meja kerjanya hingga membuat beberapa barang yang ada di atas meja berserakan jatuh ke bawah karena ulahnya tersebut.
"Aakhh! Maarkh jangan diteken terushh! Ma-mau pipissh.... Aaagghhh udaah! Udaaah! Mau pipiiss Mark!" Haechan keluar suara rengekan saat Mark malah semakin dalam dan kuat mengorek lubangnya. Pada bagian atas dinding kawinnya, dikorek-korek, ditekan kuat hingga memancing kemihnya untuk keluar.
Perut sudah bergolak, tegang sekali, paha dalamnya bergetar dan mengejan, ingin merapat tapi ditahan oleh Mark. Pentilnya sudah tidak berbentuk, makin keras dan mancung, basah sekali oleh liur Mark yang sejak tadi terlalu bersemangat dalam menyusu.
"Aanghh!!" Haechan mengerang.
"Pipis! Pipis yang banyak!" Mark melepas pentil Haechan sebentar, semakin kencang lengan berototnya bergerak merojok lubang Haechan, keluar dan masuk, korek-korek, gosok-gosok, dan tekan-tekan sampai akhirnya Haechan berhasil ia buat melayang dalam orgasmenya.
"Aarghhh!!"
'SYUUUR!'
Keluar sudah cairan berlendir Haechan dari lubang kawinnya, hangat, sekaligus cairan pipisnya dari lubang uretranya.
"Aaahhh!! Pipisssh banyaak-banyaaakhh!" Haechan mendongak tinggi, berpegang pada bahu Mark yang ada di depannya, kaki terbuka lebar membiarkan air kencingnya muncrat ke mana-mana, menyembur deras mengalahi air mancur saja.
'PLAK!!'
'PLAK!!'
Mark tidak memiliki ampun, ia tampari tempik Haechan sampai membuat air kencing yang belum muncrat secara tuntas itu jadi semakin menyiprat ke mana-mana.
"Aarghh! Maarkhh linuuhh! Tapi enaakhh! ANGHH! ENAK!" Dan tentu saja berefek pada Haechan yang sekarang malah semakin mengejan, badan bergetar hebat, kakinya terbuka makin lebar, nampak keenakan karena tempiknya ditampari kasar oleh Mark.
Mark terkekeh melihatnya, Haechan yang belingsatan keenakan hanya membuatnya jadi makin bernafsu saja. Kini tangannya berhenti menampari Haechan, beralih untuk mengangkat kedua kaki Haechan ke atas meja, melebarkannya hingga tempik merah muda yang sudah benyek itu bisa terpampang dengan semakin jelas di hadapannya.
Mark menjilat bibir bawahnya pelan. Mendadak ikut ileran saat melihat betapa menggugahnya tempik ileran itu.
"Aah... Jangan dianggurin, sini ayo makan aja tempik gue-nghh!" Haechan berkata dengan nada menggoda, ia lebarkan labia miliknya, menyuguhkan itil sebesar kacang merah miliknya kepada Mark, dipamerkan secara cuma-cuma, berharap agar segera dimakan oleh Mark.
Mark menundukkan kepala, menenggelamkan kepalanya di sana, yang seketika itu segera diberi reaksi oleh Haechan berupa jambakan kasar di rambut si cowok ganteng tersebut.
Haechan meringis pelan, merasakan lidah milik Mark mulai bekerja secara teratur untuk menjilati dan membelah labia miliknya.
"Aaanghhh... Jilaat terus Markh-anghh!" Melenguh pelan sambil tangannya bergerak gusar mencari botol ramuan yang tadi ia siapkan, berharap itu tidak ikut terjatuh ke bawah.
Haechan mendapatkan botol tersebut. Ramuan berukuran kecil dengan isi cairan berwarna merah terang. Membuka lalu menenggaknya dalam sesaat, nyaris tersedak ketika itilnya sudah main dijilati oleh lidah si ganteng di bawah sana.
"Oouuuhhh!" Haechan melepaskan lenguhannya dengan sebebas mungkin. Keluar desahan sambil masih menggerayangi meja untuk mengambil botol ramuan yang lain. Warnanya masih sama, merah terang, ia buka asal-asalan dengan tangan yang bergetar karena gerakan lidah Mark di bawah sana memang sangat keterlaluan membuatnya gila dalam nikmat.
Setelah berhasil membukanya, tidak seperti tadi yang langsung Haechan tenggak, kali ini malah ia tuang dan guyurkan ke bawah pusarnya. Jatuh, mengalir turun sampai ke tempiknya yang sedang dimakan oleh Mark. Tempiknya basah karena cairan itu, karena liur Mark, karena cairan kawinnya sendiri, semua bercampur di sana dan bagusnya itu diseruput oleh Mark. Diseruput dalam, dihisap, dijilati, lalu ditelan semuanya sampai masuk melewati tenggorokannya.
Haechan menyeringai senang melihat jakun Mark yang bergerak naik dan turun, bagus sekali kalau cairan tersebut terminum oleh Mark juga.
Cairan yang akan buat mereka menjadi lebih dan semakin kuat.
"Aanghh! Maarkh! Teruss iseep itilnyaa! Jilaat-aakhh! Enaakh Markh!" Haechan merasakan badannya menjadi semakin panas setelah meminum cairan tadi, sangat memuaskan sekali ketika efeknya bisa secepat ini.
Mark menekan kaki Haechan, menahannya agar tetap berada dalam posisi mengangkang. Sedangkan kepalanya sejak tadi masih asik memakan tempik basah milik Haechan. Ia hisapi sisa cairan entah apa yang dituangkan oleh Haechan di sana, tak mau tahu dan hanya akan membiarkannya saja sebab sekarang ia sedang kelewat dimabuk oleh betapa legit dan pulennya milik si ahli urut yang sangat cantik itu.
Sudah cantik, badan oke, dan secara sukarela mengajaknya untuk bersenang-senang. Paket lengkap sudah, Mark suka sekali. Lain kali ia akan lebih sering datang kemari, tak peduli ada masalah atau tidak, jarak tempuk yang jauh dan waktu 5 jam yang harus dilalui, tak akan menjadi penghalang sama sekali. Akan Mark sambangi Haechan dengan lebih rutin.
"Aanghh! Markhh! Gue mau pipiissh lagihhh! Sodookh lagiiih!" Ucap Haechan, merengek agar lidah Mark terus menyodok lubang kawinnya, sambil jari-jemari pria itu juga menggosok, menekan itilnya.
Segala kenikmatan bercampur menjadi satu, merundung badan Haechan secara bersamaan, dengan tanpa ampun. Dan tentu saja tindakan itu membuat Haechan tidak kuasa untuk meraih klimaksnya yang lain.
"Aaakhhhh!" Dan mendesah panjang dengan kepala yang ia buang jauh ke belakang. Haechan klimaks dahsyat, dinding kawinnya berkedut brutal, lendirnya meleleh keluar, dan pahanya mengejan, naik-naik ke atas dengan tanpa dapat ia kendalikan.
"Nghhh!! Enaak banget Mark jilmeknyah... Anghh lemeesh!" Ucap Haechan dengan napas yang memburu. Dia merasa lemas, tapi badannya tetap terasa panas. Dan nyatanya lemas itu hanya sesaat, sebelum kemudian seluruh badannya telah dikuasai oleh panas, oleh getaran yang mengharapkan kenikmaran lain yang lebih gila dari ini.
Haechan tidak heran, sudah jelas bahwa ini adalah efek dari ramuan yang ia minum tadi. Dan Haechan juga yakin Mark pasti juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.
"Tadi apa yang lo tuang?" Ucap Mark, dia kini berada dalam posisi berdiri tegak, setegak kontolnya yang sedang dia urut-urut pelan, melangkah maju sambil mengarahkan senjatanya tersebut ke atas tempik Haechan. Mark tepuk-tepuk pelan sampai membuat Haechan harus gigit bibir bawahnya pelan.
"Ra-ramuan biar mak-makin kuat-aaahh!! Gimanaah makin panash kan loh? Markh.... Masukin! Masuk-ouuh!" Haechan membulatkan mulutnya, merasakan lubangnya sudah disodok oleh Mark dengan bentuk kontolnya yang baru, lurus-gagah-tegak-perkasa penuh urat-urat besar yang menonjol. Masuk secara perlahan sebelum tiba-tiba saja Mark mendorongnya dengan semakin kuat, dalam satu hentakan hingga akhirnya sukses untuk masuk secara sepenuhnya.
"Arghh.... Gedeeh banget!"
"Kontol buatan lo ni! Argh!! Sempit banget tempik lo Chan!" Mark menahan erangannya, ia menggeram pelan merasakan kontolnya ditelan dan dijepit oleh lubang kawin Haechan yang sempit itu.
"Gue sodok sampek mentok tempik lo ya-arngh! Sempit banget anjing!" Mark mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur, kuat dan keras sekali, terus ia dorong kuat sampai mentok, sampai badan Haechan terhentak-hentak.
Haechan sendiri tak melakukan banyak hal selain hanya menikmatinya. Mulut mendesah keenakan, matanya merem-melem sedangkan tangan sibuk mengulen dadanya sendiri. Ia remas-remas kuat sambil cubiti pentilnya sendiri.
Mark melihat tingkah Haechan yang memang kelewat binal itu. Sambil masih menggenjot Haechan, yang membuat badan itu terhentak-hentak kuat hingga dada bulat, besar dan pulen kepunyaan Haechan bergoyang, memantul-mantul seiring dengan genjotannya, dan kini tengah diremasi sendiri oleh Haechan, Mark bergerak mengulurkan tangan menyingkirkan tangan Haechan untuk ia ganti dengan tangannya.
Biar Mark juga ikut serta dalam mengulen dan memanja dada tersebut. Mulutnya terbuka, menangkap satu pentil Haechan dan segera menghisapnya kuat seakan dada tersebut akan mengalirkan susu yang deras, padahal nyatanya sekuat apa pun ia menghisapnya pentil itu tetap tidak akan mengeluarkan apa pun.
Tapi itu tetap menjadi hal yang menyenangkan untuk Mark. Membuatnya semakin terbakar dalam gairah yang sejak awal telah sepakat untuk mereka nyalakan bersama.
"Maarkhh!! Akh! Mentokk bangetth! Perut gueehh!" Haechan sentuh perutnya sendiri, di mana pada bagian bawah pusar telah tercetak bentuk kontol milik Mark. Menonjol-tenggelam seiring dengan gerakan keluar-masuk yang dilakukan oleh Mark.
Haechan merasa bahwa dinding kawinnya benar-benar terpuaskan dengan keluar masuknya kontol Mark di dalam sana. Urat-urat keras pria itu sejak tadi terus menggesek permukaan dinding kawinnya, membawa sensasi nikmat yang memancing tempiknya untuk terus berkedut dengan lebih dan semakin kuat.
"Memek lo yang laper! Maka kontol gue dalem-dalem! Arghh! Gue mau muncrat Chan! Aaah... Dalem apah luarhh... Aaahhh!" Tanya Mark sambil menatap Haechan yang sekarang mukanya sudah berantakan. Basah, rambut lusuh, muka merah dan mulut tak bisa menutup, tetap terbuka untuk menyuarakan desahan atau pun membantu mengais oksigen.
"Aahh daleeem! Keluuar di daleem!! Mau dipejuiin Markhh! Aaahhh... Guee juga mau pipiisshh! Aakh... Akkkhh.... Maarkhh!" Haechan menyerukan nama Mark panjang karena pria itu makin kesetanan menyodoknya sambil tangan nakal mengusak itilnya. Itilnya ditekan-tekan, digosok kasar, memancingnya untuk segera meraih orgasme bersama.
"Arrghh! Telen nih peju gueh!! Teleeen!" Mark mendorong untuk yang terakhir kali, ia tanam kuat-kuat, dalam, memastikan bahwa seluruh pejunya masuk secara sepenuhnya ke dalam rahim Haechan.
"Aarghhh!! Maarkkhh!" Haechan menyusul, dia tidak hanya orgasme, dia juga menyemburkan cairan kencingnya. Lebih deras dari yang pertama tadi. Mengucur tinggi mengenai kaos milik Mark sampai basah kuyup.
Napas keduanya memburu, mereka saling memindai penampilan pada satu sama lain. Sama saja. Sama-sama berantakan dan kacau.
"Capek berdiri gak sih." Tanya Haechan dengan napas yang masih belum normal.
Mark memberikan senyuman miring. Ia gendong badan Haechan dengan posisi kontolnya masih menancap penuh. Setiap langkahnya membuat kontol itu bergerak merojok lubang kawin Haechan, yang memancing Haechan untuk keluar desahan lirih.
"Ayo ke kasur." Ajak Mark pada Haechan, menuju kasur lantai yang ada di ruangan ini.
"Gimana? Puas kan sama aaahh... Sama urutan aku?! Anghh! Maarkh kontol lo ngaceng lagih! Eenghh memek gueek kedutan lagi!" Ucap Haechan sebelum badannya dihempaskan di kasur, dan selanjutnya ada Mark yang menindihnya dari atas.
"Puas, puas banget. Makin puas kalo kita ngewe lagi. Mau kan?" Mark menggerakkan kontolnya perlahan, menggoda Haechan yang kelihatan sudah memanas tidak tahan lagi.
"Arghh... Iyaaah, ayok! Ayoookk!" Jawab Haechan dengan menganggukkan kepala semangat. Mana mungkin dia akan menolak ajakan dari pria tampan macam Mark ini.
***
Honey berangkat agak siang karena ini hari senin, sebab hari senin rumah pijat mereka buka sekitar jam 11 siang.
Begitu masuk, ia berniat untuk menyerahkan sarapan yang setiap pagi selalu ia belikan untuk Haechan karena bosnya itu tidak ada waktu untuk masak atau pun beli sendiri.
"Haechan, sarapan hari ini menunya sate. Gak pake kecap, sambel doang kaya pesenan biasa." Ucap Honey dengan sedikir berteriak di lorong menuju ruangan Haechan.
Tapi tidak ada jawaban dari Haechan, awalnya ia pikir Haechan masih tidur. Tapi saat langkahnya makin dekat dengan pintu, ada suara-suara yang terdengar aneh untuknya. Yang membuat ia menyipitkan mata dengan tajam.
'Aaanghhh!! Enaak bangeett terus! Mau pipiissh!'
Itulah suara yang menggema, suara yang Honey tahu bahwa itu suara Haechan. Setelah desahan yang menggema, Honey juga mendengar suara benturan kulit yang sangat nyaring.
'PLAK! PLAK! PLAK!'
Begitulah.
Tidak salah lagi.
"Lagi ngewe sama siapa dia. Klien terakhir semalem? Ganteng sih, pasti bener klien terakhir semalem." Honey geleng-geleng kepala.
Tapi meski pun sudah tahu soal apa yang tengah Haechan lakukan di dalam, Honey tetap melangkah, menggeser pintu, membukanya, untuk kemudian memergoki kalau bosnya sedang digenjot dengan posisi macam anjing sedang dikawini oleh seseorang yang memang benar adalah klien terakhir semalam.
"Sarapan ni, gue taroh meja ya. Lanjut aja ngewenya." Ucap Honey, santai sekali sambil meletakkan sarapan Haechan ke atas meja. Benar-benar santai macam di hadapannya sedang tidak ada Haechan yang sedang menungging di depan meja, telanjang, dengan susu bergantungan sudah merah-merah bekas remasan atau pun cupang, sedang dikawini brutal oleh Mark dari belakang dan harus berpegang erat pada tepi meja agar tidak tersungkur.
"Ma-makasih!!" Ucap Haechan sambil nyaris kehilangan waras. Kondisinya kacau sekali, kawin sejak semalam dan masih belum berhenti, ini salahnya juga yang mencekoki Mark obat kuat, berikut dirinya sendiri yang juga ikut minum.
Berakhir menjadi brutallah mereka macam sekarang. Berkawin dahsyat tanpa henti sejak semalam, tanpa berhenti, tanpa lelah, tanpa kering, karena ramuan obatnya memang sangat ampuh.
"Hari inihh kitaa tutupp!! Aakhh! Lo istirahat ajah! Anjiing! Enak bangeet Markh! Aahhh.. teruuss kawiniin gueh! Penuiin akuh!! Aahh! Mau peju! Mau pejuuh teruussh!" Kalimatnya berakhir menjadi rengekkan putus asa, minta dipenuhi lagi oleh sperma.
Honey geleng-geleng kepala, tapi dalam hati juga senang karena bisa libur. Akhirnya ia keluar, membiarka bosnya lanjut kawin bersama klien gantengnya itu.
"Ahh! Memekmuuh Chaan! Bikin nagih! Arghh! Telen ni pejuhh! Hamil! Hamil! Hamiil anak gueh! ARRGHH!!" Mark menggeram keras, dengan suara berat dan dalamnya, mengeluarkan sperma miliknya deras-deras pada lubang kawin Haechan yang sejatinya sudah basah, becek, banjir baik oleh cairan pejunya atau pun cairan Haechan sendiri.
"Aahh! Aahh! Marrkh! Mau pipiisssh lagiihh!" Haechan mendongak tinggi, dia juga klimaks. Sambil menyemburkan air kencingnya, Ia remas dadanya sendiri, kakinya merapat bersama dengan lubang kawinnya yang juga mengerat, menjepit kontol Mark kuat-kuat agar tidak bisa lepas, dan agar seluruh cairan pria itu masuk, tertampung ke dalam perutnya yang sejatinya sudah kembung oleh peju pria itu sejak semalam.
Memuaskan.
Baik Mark dan Haechan sama-sama mendapatkan kepuasan. Mereka berdua jatuh bersama di atas lantai yang sudah berbau pesing, basah oleh bekas kencing Haehan atau pun peju milik Mark yang menyembur ke mana-mana. Ruangan pratik Haechan sudah sangat berantakan tidak berbentuk.
Beberapa rak berisi botol ramuan nampak geser, meja dan kursi berantakan tidak beraturan, kasur lantai acak-acakkan, dan di semua tempat itu paling tidak pasti ada bekas kencing atau pun lendir putih peju milik Mark.
Merata. Merata semua kekacauan yang mereka perbuat karena perngentotan dahsyat yang habis mereka lakukan sampai berjam-jam.
"Uda capek?" Tanya Mark sambil sambil memeluk Haechan dari belakang.
"Belum." Jawab Haechan, yang badannya ada di atas Mark, dan dalam kondisi kelamin mereka masih menyatu. Asik melakukan gerakan mengulek pelan, untuk memulai sesi berkawin selanjutnya, yang bagi mereka memang belum ada puasnya.
"Ya udah, ayo lagi."
"Ayoohh!"
END
