Actions

Work Header

Just Like That

Summary:

Jakun Soonyoung bergerak naik dan turun seiring upaya cowok itu menelan ludah, mengerjap beberapa kali dengan letupan perasaan yang gak lagi sanggup ditahan berlama-lama.

“Ditambah tattoo gini seksi banget Kak, gila ya kamu?”

Notes:

well...

two specific tweets i wanted to share :
1 ) sengcol
2 ) tattoo

title from Like That — Keshi

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

ᯓ★

 

Soonyoung tahu persis puji-pujian yang selalu dia elu-elukan ke Seungcheol bukan pemanis suasana semata. Pacarnya yang satu tahun terakhir lagi sibuk merintis bisnis coffee shop dari titik nol itu punya banyak mantra yang selalu berhasil bikin Soonyoung mabuk kepayang dan jatuh berulang-ulang dalam pesonanya.

Termasuk ketibaan Soonyoung dalam apartemen cowok itu selepas kepenatan weekday panjang dalam kesibukannya dikarir korporasi, kali ini Soonyoung kedapatan justru mati kutu dengan talu jantung gak karuan abis menutup pintu.

“Bawa apaan tuh?” Goda Seungcheol setelah ngeliat kantong kresek yang menggantung di tangan kiri Soonyoung, sepenuhnya mencoba pura-pura abai pada reaksi pacar kecilnya yang mematung di muka pintu bahkan belum sempat mencopot sepatu.

“Soonyoung?” Panggil Seungcheol sekali lagi ke pacarnya yang melongo linglung kayak anak kucing belum diberi susu—seratus persen malfungsi.

“Kak…” Suara yang sanggup keluar dari bibir cowok gemini itu justru kedengaran kayak cicitan. Soonyoung lebih sibuk terpaku pada cowok yang menanggapi panggilannya sambil naik-turunin alis buat godain dia—persis tahu apa yang jadi pusat atensi Soonyoung dari tadi.

Di malam menjelang weekend yang udah Soonyoung rencanain sejak hari Senin lalu buat acara kelon sama pacar gantengnya harus diinterupsi sama wujud Seungcheol yang menoleh ke arah Soonyoung dari posisi duduk di sofa—mamerin lehernya yang entah sejak kapan dihiasi guratan tinta gelap menutupi satu jengkal kulitnya di sana.

Soonyoung menelan ludahnya kepayahan. “Kamu… tattoo?”

Bergantian tumit Soonyoung memijak ujung-ujung sepatu dan menanggalkan pantofel itu di belakang pintu. Langkahnya ditarik ragu-ragu buat ngehampirin Seungcheol yang masih setia duduk di sofa ruang tengah, mematri senyum sumringah yang keliatan puas berhasil nyuri seluruh impresi pacarnya malam ini.

“Sejak kapan—what? Eh gimana deh, Kak? Kamu gak pernah bilang?”

“I wanted to surprise you, Baby.”

Soonyoung ngeletakin tas jinjing dan kresek makanannya di atas meja, milih buat bergabung duduk di sisi Seungcheol dengan mulut masih setengah kebuka—sepenuhnya terpanah dan kehilangan kata-kata buat menyuarakan keos dalam kepala. “Oh… d-does it hurt? Di leher katanya sakit?”

Pertanyaan sederhana yang sanggup Soonyoung kumpulin dari fokusnya yang terpecah berkeping-keping itu ngehasilin kekehan geli dari Seungcheol. Cowok satunya menyemat senyum manis yang bikin kedua lesung pipinya menekuk makin dalam—makin ganteng dan membungkam akal sehat Soonyoung buat berfungsi sebagaimana mestinya.

“No, just a few parts were a bit stinging. Aku high pain tolerance kok, tattoo artist-nya juga kaget.”

Bulatan bibir Soonyoung berganti jadi kerucut kecil, menimang-nimang pertanyaan yang didalangi rasa penasarannya dari tadi. “Aku boleh pegang gak, Kak?”

Seungcheol mengangguk, mengamini permintaan pacar kecilnya yang masih separuh gak percaya itu. Gampangnya langsung miringin kepala dan ngasih akses leluasa buat Soonyoung mengamati tattoo permanen Seungcheol lebih dekat sekalipun masih dibalut plester steril transparan.

Soonyoung narik tubuhnya buat merapat ke Seungcheol, ngelupain gimana dia masih lengkap dengan kemeja dan trousers khas kantoran buat disandingkan dengan Seungcheol yang berkaus hitam dan celana longgar rumahan. Pemandangan yang begitu berkebalikan dan selalu bikin kepala Soonyoung terasa ringan setiap ada temannya yang ikut ngomentarin tentang seberapa kontras penampilan mereka sebagai pasangan.

Kalau Soonyoung menghindari segala kegiatan yang menuntutnya ngeluarin tenaga ekstra, maka Seungcheol si pecinta semua jenis olahraga dan punya rutinitas workout dengan intensi nambahin otot-ototnya. Seungcheol yang melekat dengan gaya khas subculture dan Soonyoung justru terbiasa dengan fast fashion kenamaan. Atau bagaimana Soonyoung yang mastiin rambutnya terpangkas pendek sepanjang waktu, sementara pacarnya gak punya preferensi khusus dan kadang biarin rambutnya tumbuh memanjang ngelewatin batas telinga.

Dan kali ini Seungcheol nambahin satu detail baru dalam Yin and Yang mereka. Perbedaan yang mancing sesuatu dalam diri Soonyoung buat terpedaya jatuh dalam pesona pacarnya sendiri, lagi.

Kesekian kalinya, tentu saja.

Ujung jari Soonyoung nelusurin pinggiran plester steril penutup tattoo Seungcheol, dari atas tulang selangka dan naik sampai di bawah batas telinga. Seungcheol terkekeh jenaka begitu sadar bibir Soonyoung lagi-lagi jatuh separuh kebuka selagi sibuk merhatiin lamat-lamat kulit leher Seungcheol yang sekarang diisi gambar permanen yang selamanya akan berada diantara mereka.

“Feather…” Gumam Soonyoung sementara sibuk menilik wujud tinta segar dibalik plester transparan itu, menerka-nerka kalau tattoo pacarnya baru bisa keliatan jelas setelah sembuh dari lukanya nanti. “Kenapa milih gambar ini? Kakak yang desain?”

“Freedom and guidance. Desainnya dibantu Minghao, pacarnya Mingyu.” Tutur Seungcheol ringan disela senyumnya sepanjang mengamati reaksi Soonyoung yang begitu menghibur. “Kamu suka?”

Mata Soonyoung beralih dari leher Seungcheol dan bertemu dengan manik pemuda satunya, saling berbalas tatap barang sejenak ditengahi suara monoton dari televisi yang masih menyala. Dari sudut ini, Seungcheol duduk menghadap ke arah Soonyoung dengan sebelah tangan menopang kepalanya yang sedikit menunduk—membuat pemandangan menarik dari rangkaian bulu mata Seungcheol yang lentik dan bibir tebalnya yang sedikit terbuka.

Jakun Soonyoung bergerak naik dan turun seiring upaya cowok itu menelan ludah, mengerjap beberapa kali dengan letupan perasaan yang gak lagi sanggup ditahan berlama-lama. Suka? Pacar yang dua tahun terakhir dia bangga-banggain ke semua orang ini nanya apa Soonyoung suka dengan tattoo barunya?

Soonyoung menjilat bibir bawahnya reflek, mengangguk kecil untuk kemudian mengutarakan kalimat yang berputar dalam benaknya sejak tadi.

“Ditambah tattoo gini seksi banget Kak, gila ya kamu?”

Tanpa alarm sekalipun, Seungcheol tahu jatuh tempo kesabarannya udah habis termakan waktu sedari Soonyoung meloloskan diri ke dalam apartemennya ini. Tangannya menjangkau tengkuk Soonyoung dan ditarik maju buat pertemuin bibir mereka. Dikecup manis sebelum telapak tangan Seungcheol beralih sengaja menekan pipi Soonyoung buat maksa cowok itu ngebuka bibir—memberi akses penuh buat Seungcheol menginvasi isi mulutnya dengan lebih leluasa.

“...mmn bukain, bukain b-baju aku Kak.”

Pinta itu Seungcheol amini tanpa perlu diminta untuk kedua kali. Jarinya bertemu deret kancing kemeja Soonyoung, dilucuti dengan gampang selagi bibirnya sibuk menuruni leher cowok itu yang masih dilekati aroma cologne hadiah ulang tahun dari Seungcheol berbulan lalu. Klaim posesif yang membuat Seungcheol menyemat senyum congkak disela-sela gigitannya, ninggalin lebih banyak hisapan menjejak bekas memerah di pangkal leher Soonyoung dan sekujur tulang selangka.

Sementara Soonyoung juga gak kalah sibuk ngelolosin kaus hitam dari badan pacarnya itu, melepas ciuman berantakan mereka barang sedetik sebelum Soonyoung lekas memburu bibir Seungcheol buat kembali dicumbu. Soonyoung menghela nafas berat berselubung hasrat begitu matanya nemuin dada telanjang Seungcheol. Tangannya terulur naik, hafal lekuk dan jalur menuju dambaannya dari laki-laki itu.

Telapak tangan Soonyoung meremat dada Seungcheol, ngerasain keras otot dan sensasi penuh dalam genggamannya. Hasil gym sepanjang dua jam dalam empat kali seminggu itu rasanya kayak surga buat Soonyoung yang punya fantasi kotor tentang dada pacarnya sepanjang waktu.

“Kakk… ngghh nen, mau nenen Kak…” Mintanya ditengah-tengah sibuk merintih waktu tangan Seungcheol jauh meraba sampai perut telanjang Soonyoung yang dia sukai.

“Boleh,” balas Seungcheol sambil sibuk mutarin luar pusar Soonyoung dengan ujung bantalan jari, tahu persis pacarnya sensitif meski cuma dielus-elus begini. “Tapi jangan digigit.”

Mengantongi restu dari Seungcheol sekalipun pura-pura menulikan pendengaran dari larangan terakhir itu bikin Soonyoung melenguh senang. Tangannya mendorong dada Seungcheol, menuntun sang pacar buat berbaring sepenuhnya ke sofa dan ngizinin Soonyoung mengungkungnya dari atas.

Soonyoung antusias menjilati sebelah puting Seungcheol, digigit main-main sebelum dikulum di antara belah bibirnya. Ujung lidah Soonyoung sengaja menoel noktah keras yang sibuk dia hisapin itu, disedot agak kencang sampai Soonyoung ngerasain tangan Seungcheol ngeremat belakang kepalanya—peringatan yang udah pasti Soonyoung langgar nantinya.

“Sshh… jangan kuat-kuat, By.”

Lidah Soonyoung lanjut mutarin areola pacarnya, balik musatin atensi ke bulatan menegang yang sekarang dia gigitin perlahan dengan deret giginya. Seungcheol ngedesah lebih keras, menarik rambut Soonyoung buat misahin pacarnya itu dari dadanya sendiri.

Soonyoung ngelepasin hisapannya dan ninggalin bunyi pop! dan langsung beralih ke dada Seungcheol yang sebelah kanan sebelum sempat dicegah. Cowok yang terbaring pasrah di bawah kungkungan Soonyoung itu terlonjak kaget begitu ngerasain perlakuan sama yang bikin pucuk noktahnya geli—ditusuk-tusuk ujung lidah Soonyoung sampai bulatan keras itu menekuk masuk dalam areola merah kecoklatannya. Sekujur badan Seungcheol bergidik konak, ngerasain stimulasi dari Soonyoung ikut ngebuat ereksinya netesin precum baru yang ngebasahin dalamannya sendiri.

“Nyusunya udah, By… ahh, udahan d-dulu…”

Bibir basah Soonyoung lepas dari dada Seungcheol, ninggalin dua puting yang mengeras merah dari afeksinya. Tangan nakal Soonyoung gak juga langsung menurut, lebih sibuk mijatin pangkal gundukan dada Seungcheol sambil dielus-elus lembut.

“Enak ya, Kak?” Tanya Soonyoung congkak, menjilat bibirnya penuh godaan. “Kamu gedein nenen terus, tapi akunya gak dibolehin isep lama-lama.”

“Kamu gigitin terus, Soonyoung.” Pembelaan Seungcheol terlalu setengah hati, padahal Soonyoung juga sadar kalau pacarnya paling kepancing sama agenda mereka yang satu ini. “Biasa sampe bengkak, akunya susah nyari baju yang gak bikin puting aku nyeplak.”

“Mmm…” Soonyoung majuin bibir bawahnya, ngejatuhin pipi di abdomen Seungcheol sambil mencuri peluk dari pinggang pacarnya. “Bilang aja kamu pelit sama aku. Baju kamu kan banyak, Kak. Masa satu lemari gak ada yang bisa nutupin pentil kamu?”

Kali ini Seungcheol kelepasan ketawa, geleng-gelengin kepala setelah mendengar kalimat dari Soonyoung yang berpura-pura merajuk. Namun nafasnya tercekat pasrah begitu telapak tangan Soonyoung kembali merayap menaiki gunungan dadanya, menangkup dua bongkahan otot itu dalam genggaman sambil diremas geram—munculin tonjolan puting Seungcheol di antara apitan jari-jari kecil Soonyoung.

“Seksi loh Kak, nenen kamu abis aku kenyotin gini.” Seungcheol kepayahan menelan ludah, ngamatin muka sayu Soonyoung yang dibingkai titik-titik peluh pada keningnya. “Kalo baju kamu nyeplak, orang-orang pasti pada tau kamu punya pacar yang hobi enakin nenen kamu.”

“Baby…” Desah Seungcheol berat begitu Soonyoung melintirin putingnya, dijepit lalu ditarik sampai Seungcheol mejamin mata.

Soonyoung tersenyum makin lebar, merhatiin wajah pacarnya yang bersemu merah dan kesusahan bernafas cuma karena dia pegang-pegang begini.

Pacar yang selalu dia panggil dengan sebutan Kakak ini, mau dilihat dari arah manapun juga akan tetap ganteng. Si keren yang kalau lagi sibuk meramu kopi di coffee shop miliknya akan bikin Soonyoung bengong, duduk memojok sambil mangku dagu biar mulutnya gak kebuka lebar—mengagumi titisan Adonis yang berhasil Soonyoung curi hatinya buat disimpan sendiri. Apalagi persoalan kecocokan mereka di ranjang juga saling melengkapi dan bikin Soonyoung ngerasa dapet jackpot sekali seumur hidup buat jatuh cinta sama pacarnya ini.

Tangan Soonyoung menjelajah ke bawah, ngelusin otot perut Seungcheol dan ngelolosin jari-jarinya ke balik fabrik celana longgar laki-laki itu. Tangan hangat Soonyoung langsung nemuin ereksi Seungcheol yang basah sama cairan pre-ejakulasinya sendiri, berdenyut dan keras—mendamba atensi dari tadi.

Seungcheol narik leher laki-laki di atasnya buat nautin bibir di sepanjang tulang selangka Soonyoung, ninggalin gigitan-gigitan kecil dan jilatan basah yang turun sampai pertengahan dada telanjangnya. Seungcheol menggeram berat sewaktu Soonyoung mutarin jempol di ujung palkonnya, digesek perlahan dengan manfaatin licin precum sampai nafas Seungcheol tercekat sesaat.

“How do you want me tonight, Baby?” Bisik Seungcheol serak disela-sela kecupannya, berdehem puas ngerasain kulit lembap Soonyoung bergidik di bawah jilatan serampangan lidahnya.

“Inside me, please… Jadi pengen dikontolin Kakak abis nenen barusan.”

“Kamu obsessed banget sama dada aku,” balas Seungcheol jenaka. Mulutnya berhenti ninggalin lebih banyak bekas cupang di pundak Soonyoung, beralih megangin pinggang pacarnya dan membalik posisi dengan begitu gampang sampai Soonyoung rebah di bawah kungkungan. “Apa jangan-jangan kamu pacaran sama aku cuma ngincer dada aku?”

Soonyoung terkikik geli, mencoba menahan badan Seungcheol yang menghimpitnya tenggelam ke busa sofa. Berat dan sesak—bikin Soonyoung basah dan kepalang konak. “Kamu pikir aku nembak kamu duluan itu kenapa Kak? Ya karena aku udah keburu pengen minta jatah nenen sama kamu lah—AHH!”

Soonyoung terhenyak kaget dan reflek ngelingkarin tangannya di leher Seungcheol begitu cowok itu menggendongnya naik dari sofa—ngebawa Soonyoung dari ruang tengah dan melintas masuk ke dalam kamarnya sendiri. Keduanya berbagi kekehan geli, kembali menyatu dalam ciuman singkat sampai akhirnya terputus begitu kepala Soonyoung menyentuh permukaan kasur.

“Pake pengaman, By?” Pertanyaan itu terlontar begitu mata keduanya bertemu. “Just in case kamu abis ini mau pulang karena ada deadline?”

Soonyoung menggeleng sambil ngerucutin bibir kecilnya yang dibasahi liur mereka berdua. “Aku nginep kok, handphone aku udah dimatiin dari pas naik ojol ke sini.”

“Good.” Seungcheol mencuri kecup dari pipi gemini kesayangannya itu. “Jadi aku bisa culik kamu dari boss gak jelas yang masih nelpon-nelpon kamu pas weekend kemarin itu.”

Melucuti sisa pakaian mereka masing-masing, Seungcheol nemuin dirinya lebih sibuk menghadiahi paha Soonyoung dengan lebih banyak jejak gigitan baru. Bekas keunguan yang lebih gelap dan bertahan lebih lama dibanding cupang ringan yang dia tinggalin di tubuh atas Soonyoung. Alasannya sesederhana pemikiran kalau hanya Seungcheol yang bisa menyentuh Soonyoung hingga di bagian-bagian tertutup pakaian—cuma Seungcheol yang punya privilese menikmati tiap jengkal tubuh pacarnya itu.

Termasuk selangkangannya yang udah berhasil Seungcheol lucuti dari sehelai thong merah berenda dan dilidahi sampai Soonyoung meracau pasrah. Pahanya gemetaran dalam pegangan tangan Seungcheol, dikunci dan dipaksa mengangkang buat ngasih akses mulut Seungcheol manjain Soonyoung dengan oralnya.

Kalau Soonyoung punya obsesi dengan dadanya, maka Seungcheol punya obsesi kronik dengan enakin pacarnya sampai terisak netesin air mata.

Lubang sempit Soonyoung dijilati intens, dihisap dan dikobeli lidah Seungcheol dengan antusias. Jari tebal cowok itu bergantian mengabsen diri menerobos memek Soonyoung yang sepenuhnya dibasahin lendirnya sendiri.

“Masukin—hhg… Kakak masukin kontolnya…” Rengekan Soonyoung gak serta Seungcheol langsung turuti. Dua jarinya menyelinap ngocokin memek Soonyoung sampai kedengeran bunyi kecipak basah ditengah parau rintihan pacar Seungcheol itu, melirih ampun dan desperasi mau menjemput klimaksnya sendiri meski belum menerima penetrasi. “Ngg, m-mau keluar… Kak udahh…”

Ujung lidah Seungcheol berhenti noel itil Soonyoung, berganti ngatupin mulut di daging mungil itu buat disedot intens sampai badan pacarnya terhentak-hentak mencoba ngelolosin diri dari kuncian pegangan Seungcheol. Jari Seungcheol menekuk menekan titik sensitif Soonyoung dalam lubang sempitnya, digosok cepat sampai suara pekikan Soonyoung kedengeran dan badannya terangkat.

“Kaakkkh!”

Seungcheol serentak berhentiin seluruh stimulasinya, narik keluar jarinya dari apitan memek becek Soonyoung dan ngejauhin mulut dari tonjolan yang mencuat tegang dari belahan labianya. Ekstasi klimaks yang gagal Soonyoung jemput itu bikin sekujur badannya lemas—gak puas dan kosong.

“Hiks… Kakak, hnn berenti… kok b-berenti—hiks…”

Mengusap jejak lendir Soonyoung dari bibir dan dagunya sendiri, Seungcheol nerbitin satu senyuman menyebalkan yang kali ini sukses bikin Soonyoung makin terisak. “Kan kamunya tadi minta udahan, By.”

Air mata Soonyoung mengalir melewati sudut-sudut mata, sementara hidungnya memerah dan bibir gemetar meloloskan isak kecil. Tangannya ngeraih-raih tangan Seungcheol, ditarik ke arah memeknya yang berdenyut nyeri minta kembali diisi digit-digit jari namun langsung ditepis Seungcheol mentah-mentah.

Dalam headspace-nya, yang bisa Soonyoung cerna dalam situasi ini cuma penolakan Seungcheol yang membuat linangan air matanya jatuh makin deras. Cowok itu ngusapin matanya, gigitin bibir bawah buat menahan tangis namun langsung buyar begitu ngeliat Seungcheol ngelepasin pahanya dari pegangan.

“Kakak—hiks, gak m-mau udahan, ngg…”

Nontonin pacar kecilnya merengek dari tadi cuma bikin ereksi Seungcheol makin terasa nyeri, konak nyaksiin seberapa manis wajah Soonyoung dibasahi air mata sambil memohon buat kembali dienakin. Merasa gak betah mengulur waktu terlalu lama, Seungcheol menyerah dan milih buat ngocokin batang ereksinya sendiri—mendesah begitu akhirnya ngerasain stimulasi.

“Buka kakinya, Soonyoung.”

Pinta itu Soonyoung turuti, ngebuka lebar pahanya sambil kepayahan menghapus air mata pakai punggung tangan. Bibirnya menekuk ke bawah begitu ngerasain tangan besar Seungcheol ikut mengusap pipinya, dielus-elus sampai Soonyoung melenguh manja.

“Cengeng banget pacarnya Seungcheol.” Komentar itu Seungcheol bumbui dengan nada mengejek, disambut rengekan Soonyoung yang langsung cowok leo itu abaikan begitu mengklaim posisinya kembali di antara paha Soonyoung.

Seungcheol ngarahin palkonnya ke memek Soonyoung—digesekin ke belahan basah yang liang sempitnya gak berenti netesin cairan mani itu. Perlahan ditekan masuk dan menyerapah tanpa suara begitu ngerasain sempitnya lubang hangat Soonyoung yang seakan menarik masuk seluruh bagian kontolnya tanpa perlu banyak usaha.

Pinggul Seungcheol bertemu dengan kulit paha Soonyoung, menikmati sensasi penetrasi yang sedari tadi dia tunggu-tunggu. Perlahan kontolnya ditarik keluar, mendesis keenakan dalam letupan hasratnya—nontonin bibir Soonyoung yang terbuka meracau desah, badannya menggeliat berselimut peluh tipis, dan tangannya ngeremat sprei erat-erat.

Gak perlu menunggu lama sampai Seungcheol sibuk ngelesakin kontolnya ngebelah liang sempit Soonyoung lebih cepat dan bikin pacar kecilnya itu makin kepayahan buat ngimbangin. Sesekali Seungcheol ngedorong pinggulnya sampai nabrak paha Soonyoung dan ngehasilin bunyi tamparan kencang, memperjelas seberapa keras hentakannya sampai badan Soonyoung ikut terdorong dan gemetaran setelah orgasme kedua.

Semakin seksi desahan Soonyoung yang terhentak-hentak di bawah kuasanya, Seungcheol makin besar kepala. Cowok itu terkekeh penuh kemenangan, ngehentak pinggulnya makin keras sampai badan Soonyoung terlonjak berulang-ulang karena Seungcheol sibuk menggenjotnya melewati overstimulasi orgasme ketiga.

“Kakk—aahh!” Suara Soonyoung tenggelam dalam desahannya sendiri, meraih-raih Seungcheol buat berhentiin cowok itu.

“Ah! Pelan—nngg pelanin! Ahhh!”

“Ngg, Kakk m-mau keluar lagiihh—”

“KAK—!”

THUMP!

“Oh God—!” Tangan Seungcheol terburu menopang belakang kepala Soonyoung, sebelah tangannya lagi narik badan pacarnya itu buat menjauh dari sudut kasur. “Your head, Baby. Gapapa? Sakit gak?”

Soonyoung disisi lain nyaris berhenti bernafas sewaktu gerakan pinggul Seungcheol berhenti sementara badannya ditarik kembali menyusul cowok itu, maksa kontol besar Seungcheol melesak jauh ke dalam dan sekarang mengganjali memek Soonyoung sampai penuh. Ujung palkonnya nekan telak mulut serviks Soonyoung, bikin sekujur badannya gemetar overstimulasi dan pipinya kembali dibanjiri air mata.

“Baby? Kepalanya sakit gak?” Ulang Seungcheol sekali lagi, seluruh atensinya memusat pada kepala Soonyoung yang tanpa sengaja lolos dari pinggiran sudut kasur dan sempat membentur bingkai kayu ranjangnya.

“Hnggg… Kakakk…”

Namun kekhawatiran Seungcheol itu terpecah begitu ngerasain kucuran basah dan jepitan liang sempit pacar kecilnya yang sama-sama membuat mereka mendesah. Seungcheol beralih ke penetrasi mereka, terdiam sesaat dengan rasa tak percaya kalau Soonyoung dalam kondisi seperti ini justru squirting sampai cairan maninya menggenangi sprei di bawah mereka.

“Aku panik kepala kamu kepentok, malah kamunya muncrat gini, Baby?” Seungcheol jilatin bibir bawahnya, menyemat senyum miring sebelum mengentak pinggulnya keras-keras sampai Soonyoung terpekik kaget disisa ekstasi orgasme, mancing memek Soonyoung ngejepit kontol Seungcheol makin ketat karena overstimulasi. “Aahh… enak banget kamu…”

Tanpa menunggu Soonyoung turun dari tingginya, Seungcheol udah sibuk mengejar ejakulasinya sendiri. Mendorong masuk kepala kontolnya sampai menabrak keras mulut serviks Soonyoung dan bikin sekujur tubuh pacarnya gemetaran menanggung nyeri.

“Uunng… gak mauu hiks, n-ngilu Kak…”

Terburu Seungcheol menarik mundur ereksinya, reflek menyerapahi diri sendiri sebelum sibuk mengusapi kening Soonyoung dengan penuh sayang. “Fuck—ahh… sorry Baby, gak lagi…”

Soonyoung mengangguk kecil, nyembunyiin isakannya sendiri. Kali ini Seungcheol ngelolosin kontolnya gak begitu dalam, megangin tangan Soonyoung di kedua sisi kepala cowok itu dan kembali menuntun bibir kecilnya dalam ciuman berantakan.

Seungcheol melenguh sewaktu mulut Soonyoung nuruni rahang dan bersinggah di sisi lehernya yang bersih tanpa guratan tinta. Pacarnya ninggalin hisapan-hisapan kecil yang Seungcheol yakini akan menjejak merah di sana.

“Mauuhh… kasih k-kamu tattoo juga, nggg…” Bisik Soonyoung setelah ninggalin gigitan lebih keras di pangkal leher Seungcheol, ngelanjutin desahannya sendiri begitu ritme berantakan Seungcheol berganti menjadi tiga sodokan keras terakhir sebelum numpahin cairan maninya jauh di dalam memek Soonyoung yang masih ngejepit keras kontol cowok itu.

“Hhahh… enak, Baby?” Tersengal-sengal Seungcheol menarik Soonyoung buat dipeluk, mengecupi pipinya sambil dielus-elus sayang.

“Uhhmm…” Soonyoung mengerjap-ngerjap lemah, terbujuk rasa kantuk dan berpasrah diri begitu badannya dituntun buat berbalik posisi sampai kepalanya sekarang menyandar di dada Seungcheol. “...tadi kaget, kepalanya kejedot.”

Seungcheol berdehem menahan geli, ciumin pucuk kepala Soonyoung sambil menimang-nimang beberapa hal lain dalam benaknya sejak tadi.

“Baby?”

“Hhmm…” Jawaban setengah mengantuk Soonyoung itu nyaris gak kedengeran seandainya Seungcheol gak cukup jeli.

Merapal kalimat ini dalam kepala sebelum Seungcheol coba peruntungannya sendiri dengan membuka mulut, “Kamu kalo aku ajak nikah, mau gak By?”

“Hhmm…”

Seungcheol gak sanggup menahan tawanya. “Nanti ya. Jangan inget omonganku pas bangun, okay?”

 

ᯓ★

Notes:

raise and shine sooncheol nation :3

tegur sapa gue via neospring atau @twt (bukan akun nulis)