Actions

Work Header

The Midnight Bloom

Summary:

Sebagai kandidat penerus Kaisar, Pangeran Li Lianyue (WJH) sudah terbiasa mendapatkan ‘hadiah’ dari para faksi bangsawan pendukungnya, tapi ini pertama kalinya dia mendapatkan hadiah hidup. Seorang siluman kerang dari suku Moye yang katanya pandai bernyanyi.

Qiye (XMH) sadar, sejak awal harusnya dia tidak terlalu menuruti kata hati. Apalagi sampai nekat mendatangi Kekaisaran Hanfeng, dan menyediakan diri menjadi ‘barang’ milik Putra Mahkota Li Lianyue. Kini sudah terlambat untuk menarik semua kekacauan yang terlanjur dia sebar.

Notes:

Cerita ini diupdate setiap Sabtu (dan hari lain kalau aku cukup luang)...
Detail karakter akan aku upload berkala di akun X-ku di @Vee_Story1004 (I'm sorry, aku nggak tau cara upload gambar di sini)

Chapter 1: Sesuatu Tentang Putra Mahkota

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Kekaisaran Hanfeng seharusnya memiliki 11 pangeran, namun setelah kekacauan besar yang dibuat Selir Utama Shui, hanya 3 pangeran yang tersisa. Li Lianyue masih berusia 6 tahun saat itu, ingatannya tidak begitu jelas. Rasanya pagi itu tidak jauh berbeda dengan pagi-pagi lainnya. Istana dan segala hiruk-pikuknya yang terlalu monoton untuk seorang anak dengan keingintahuan besar sepertinya. Setidaknya begitu sampai salah satu pelayan pribadi Putra Mahkota Li Wang Yu mengabarkan bahwa Putra Mahkota telah diracuni. Berita itu tentu menghebohkan seluruh istana termasuk paviliun Shufang tempat para pangeran kecil belajar. Pelajaran langsung dihentikan, dan para pangeran segera dikirim menuju kediaman masing-masing.

 Lianyue adalah satu-satunya yang tidak pulang. Dibanding menuruti perintah gurunya untuk kembali ke kediaman, dia memilih pergi ke Istana Timur, kediaman putra mahkota. Dage-nya itu selalu ada saat Lianyue jatuh sakit atau butuh pertolongan, dia ingin membalas budi baik. Lianyue memang masih kecil, mungkin tidak banyak membantu, tapi dia harap kehadirannya setidaknya dapat menghibur Li Wang Yu. Membuatnya lekas merasa lebih baik.

Yang tidak Lianyue ketahui, hari itu sesaat setelah dia menyusup keluar Shufang, sejumlah prajurit bayaran datang, dan membantai seluruh penghuni Shufang termasuk para pengajar dan pangeran yang tersisa. Kekaisaran Hanfeng kehilangan 5 pangeran mudanya dalam kejadian itu.

Dia sendiri tertahan di gerbang Istana Timur. Prajurit yang berjaga tidak mengijinkan sembarangan orang masuk dan keluar. Apalagi seorang pangeran kecil dari selir biasa seperti Li Lianyue. Keamanan Putra Mahkota adalah yang utama, begitu kata mereka. Jadi selama beberapa jam, Lianyue hanya berjongkok di luar. Memeluk dirinya sendiri di antara dinginnya tiupan angin musim gugur. Setidaknya begitu hingga seorang kasim menghampirinya, lalu membawa Lianyue pergi menuju paviliun para selir tempat ibunya tinggal.

“Di luar sangat dingin, Pangeran tidak seharusnya berkeliaran.”

“Aku ingin bertemu Dage,” rengeknya dalam gendongan si kasim tua.

“Putra Mahkota sedang beristirahat, Pangeran dapat menemuinya besok.”

Sayangnya, kasim itu berbohong. Tidak ada besok. Satu-satunya berita yang Lianyue dapat esok hari adalah kematian Putra Mahkota, disusul berita gugurnya 2 pangeran yang lain di medan perang, dan berita pembataian Shufang. Bulan itu dalam 1 minggu, kekaisaran mengadakan pemakaman untuk 8 pangeran sekaligus. Kemudian 2 minggu setelahnya, Permaisuri Lan memilih mengakhiri hidupnya sendiri dengan menenggak racun karena tidak mampu menahan duka atas kematian putranya. Benar-benar sejarah kelam Kekaisaran Hanfeng.

Bulan berikutnya, Selir Utama Shui ditangkap, dan dihukum atas tuduhan pengkhianatan pada kekaisaran. Dia dijatuhi hukuman lingchi pada minggu kedua musim dingin dalam keadaan hamil 7 bulan. Dikatakan bahwa setelah meninggal, algojo merobek perutnya dan melemparkan janinnya yang masih hidup ke dalam kolam air di tengah aula penghakiman. Membiarkan tubuh bayi yang bahkan belum cukup umur untuk lahir itu membeku ditelan musim dingin hingga berminggu-minggu setelahnya. Terdengar kejam memang, namun hukuman itu dianggap paling pantas atas dosa Selir Shui meracuni Putra Mahkota dan membunuh 7 keturunan kaisar lainnya.

Posisi resmi Putra Mahkota kosong hingga 7 tahun setelahnya, tapi siapapun tahu Pangeran Li Lianyue adalah kandidat yang paling mungkin dipilih. Dia memang bukan yang tertua di antara 3 pangeran yang tersisa, namun ibunya memiliki posisi politik paling baik dibanding 2 selir lain, dan kebetulan Selir Rui adalah favorit kaisar.

Ketika namanya akhirnya diumumkan, hampir tidak ada yang terkejut. Kecuali tentu beberapa faksi lama Putra Mahkota Wang Yu yang masih merasa Lianyue tidak sebaik kakaknya sebagai kandidat penguasa, tapi apalah arti protes para bangsawan saat kaisar sendiri sudah memutuskan penerusnya.

Lianyue mendapatkan banyak perhatian setelah penobatan itu. Banyak bangsawan baik besar maupun kecil mulai mengunjungi kediamannya untuk sekedar ‘menjalin hubungan baik’. Sayang sekali, Lianyue remaja tidak dilatih untuk terbiasa dengan para penjilat ini. Dia hanya mampu menahan pintunya selama 2 bulan sebelum akhirnya muak. Selanjutnya, Lianyue mulai memberlakukan janji temu, dan tidak membiarkan bangsawan manapun sembarangan menginjakkan kaki di kediamannya.

Tidak kehabisan akal, para bangsawan ini mulai mencari pendekatan lain. Mengirim hadiah. Awalnya berupa barang-barang cantik dan buku-buku bacaan ringan yang sesuai dengan usia Lianyue. Seiring waktu, hadiah itu mulai menjadi sesuatu yang lebih besar seperti sutra, permata, dan barang-barang suci yang semuanya hanya berakhir ditumpuk di gudang belakang.

Hari ini ulang tahunnya yang ke 21. Lianyue terlanjur malas melihat barisan kereta hadiah yang berjajar di halaman. Dia sudah cukup dipusingkan dengan sejumlah permasalah di pengadilan istana hari ini, benar-benar tidak ada ruang untuk memikirkan hal lain. Persetan dengan ulang tahun, lebih baik dia tidur.

Baru saja dia hendak beranjak, keributan yang dibuat beberapa pelayannya di gerbang depan membuat Lianyue kembali mengurungkan niat. Sebagai ganti, dia berbalik menuju sumber keramaian. Orang-orang ini, diminta merapikan hadiah malah berbuat sesuatu yang tidak perlu. Lianyue harus memperingatkan mereka dengan lebih tegas setelah ini.

“Astaga, cantik sekali, benar-benar seperti bukan manusia.”

“Dia memang bukan manusia, bodoh!”

“Dia masih hidup bukan?”

“Harus diletakkan dimana yang ini? Kolam Yuehua?”

“Apa kita juga harus memeliharanya seperti ikan?”

Lianyue rasanya hampir meledak oleh bisikan demi bisikan yang tumpang tindih itu. Sudah hampir tengah malam. Hal mengesankan apa yang membuat para pelayannya merasa perlu untuk menjadi begitu berisik?

Dianxia.”

Seorang pelayan yang pertama kali menyadari kehadirannya membungkuk, diikuti kawan-kawannya yang lain. Mereka membuka jalan hingga Lianyue bisa melihat dengan jelas ‘si sumber keributan’. Ada seseorang di sana, tubuhnya diikat rantai dalam sebuah jeruji besi kecil yang lebih mirip kandang anjing. Posisinya yang meringkuk di dalam kandang membuat Lianyue tidak dapat melihat seluruh fitur wajahnya dengan jelas, namun bagaimanapun dilihat, dia merasa keseluruhan sosok ini cukup cantik. Kulitnya yang terbuka tampak berkilauan di bawah sinar bulan layaknya mutiara, dan lengannya memiliki garis kebiruan yang familiar.

 

Moye...

 

Lianyue meraih pisau kecil dari tangan salah satu pelayannya. Menggunakan ujungnya yang runcing untuk mengukir goresan tipis di lengan sosok cantik itu. Tidak ada keluhan, sosok ini sepertinya sengaja dibuat tidak sadarkan diri selama perjalanan kemari. Darah kebiruan mengalir dari goresan itu, menjelaskan dugaan Lianyue sebelumnya.

 

Benar-benar Moye.

 

Siapapun itu pasti sudah gila saat memutuskan mengirim seseorang dari Suku Moye sebagai hadiah bagi Putra Mahkota. Memangnya Lianyue terlihat seperti penggila kecantikan atau semacamnya? Ditambah lagi, betapapun cantiknya sosok ini, bahunya yang lebar lebih dari cukup untuk menjelaskan bahwa dia seorang pria. Lianyue memang tidak pernah menunjukan ketertarikan pada wanita, tapi mana boleh seseorang langsung menebak bahwa dia mungkin tertarik pada pria, benar-benar tidak sopan.

“Siapa pengirimnya?!”

Dia menggertakkan gigi, mencoba menekan amarahnya sendiri. Siapapun orang ini sungguh lancang!

Seorang pria setengah baya segera turun dari kereta dengan tergopoh-gopoh. Sepertinya dia adalah kurir yang ditugaskan mengirim ‘hadiah’. Dia membungkuk di depan Lianyue dengan terburu-buru. Ucapan dan gerakannya sungguh berantakan hingga membuat Lianyue mengerutkan kening.

Dianxia, hamba diperintahkan oleh Bangsawan Ye untuk mengirimkan hadiah ini.”

Dia mengeluarkan lipatan kertas yang telah kusut dari balik kerah bajunya, menyerahkannya dengan gemetaran kepada Lianyue. Menyadari betapa takutnya pria itu padanya, Lianyue berusaha bersikap agak lunak. Dia tidak ingin suatu hari ada berita tidak mengenakkan terkait sikapnya. Lianyue tidak terlalu peduli dengan citra sempurna, tapi setidaknya sebagai putra mahkota, dia tidak ingin dilihat buruk.

Lianyue membaca baris demi baris kalimat di kertas itu dengan hati-hati, dan wajahnya yang semula gelap oleh amarah perlahan-lahan menjadi merah padam.

 

Yue’er, selamat ulang tahun. Kau sudah bekerja keras atas nama keluarga kita hingga aku khawatir tidak ada waktu untuk kesenangan masa muda. Aku tidak yakin apakah yang satu ini sesuai seleramu tapi orang-orang bilang di Moye pria dan wanita sama saja, jadi gunakan dia sesukamu. Lagipula orang-orang Suku Moye abadi.

Namanya Qiye. Dia memang kurang patuh, namun mengatasinya tidak sulit, kau pasti bisa menjinakkannya. Hanya pastikan untuk mengikatnya dengan benar. Ngomong-ngomong, kau pasti tahu orang Moye memiliki suara semerdu putri duyung. Semoga kau tidak menyia-nyiakan keindahan ini dengan menyuruhnya bernyanyi saja, suaranya terdengar lebih hebat dalam hal lain. Jadilah dewasa dan gunakan dengan bijak.

 

Pamanmu, Ye Lingchen

 

Lianyue bisa merasakan wajahnya memanas hingga ke telinga. Pamannya ini benar-benar rubah tua tidak tahu malu. Memiliki anak dan istri, tapi sepanjang hari sibuk bermain dengan wewangian dan pemerah pipi di pavilun bunga. Sekarang, dia mencoba menjerumuskan Lianyue ke dalam lubang yang sama.

Tatapannya kembali pada sosok cantik di dalam kandang. Mengembalikan hadiah bangsawan adalah bentuk penghinaan besar, bagaimanapun Lianyue tidak ingin merendahkan kakak dari ibunya itu walaupun Ye Lingchen benar-benar tidak layak disebut bangsawan. Jadi setelah menimbang beberapa saat, dia mengambil keputusan gila.

“Keluarkan dan bawa dia ke Taizifei.”

Para pelayan terlihat terkejut dengan perintah itu, tapi tidak ada satupun yang berani protes. Taizifei harusnya merupakan paviliun untuk selir utama putra mahkota. Tidak sembarangan orang bisa tinggal di sana. Entah apa yang ada dipikiran Lianyue, tidak ada yang bisa menebaknya.

“Pastikan kalian mengikat kakinya dengan benar,” imbuhnya, sebelum masuk ke kediaman. Meninggalkan para pelayannya dengan tanda tanya di kepala.

Notes:

Penjelasan istilah:
- Dage: Kakak pertama. Da memiliki arti satu dan Ge berasal dari kata ‘Gege’ yang berarti kakak laki-laki.
- Lingchi: Bentuk hukuman mati dalam sejarah tradisional Tiongkok yang dilakukan dengan memotong-motong daging terpidana dalam keadaan hidup, dan diakhiri dengan menusukkan pisau ke jantung atau pemenggalan leher untuk menghentikan penderitaan. Lingchi disebut sebagai hukuman terkejam selama sejarah Tiongkok.
- Dianxia: Yang Mulia. Dapat digunakan untuk semua pangeran di bawah garis keturunan Kaisar, tapi beberapa pangeran yang telah dewasa mungkin akan memiliki gelar atau pangkat tersendiri sesuai dengan bakat dan jasanya.
- Yue’er: Er merupakan imbuhan dalam bahasa Tiongkok yang kurang lebih berarti ‘Nak’.
- Paviliun bunga: idiom untuk rumah bordil dalam budaya Tiongkok.