Work Text:
Michi bisa gila dengan hanya melihat tubuh atletis milik kakak tingkat yang menjadi tetangganya. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, namun padat dan sekal, dengan otot yang tercetak dengan indah, tampak pas dan tidak seperti miliknya yang kata orang-orang terlalu besar untuk ukuran seorang wanita. Ia seringkali membayangkan bagaimana rasanya dimakan dan dinikmati oleh wanita yang lebih tua tiga tahun di atasnya, membayangkan wanita berkulit seputih susu itu hadir di sela-sela kaki jenjangnya, membayangkan bagaimana lidah tajam sang pujaan hati melipir di setiap jengkal kulit tan miliknya.
Sore itu, Michi lagi-lagi melancarkan aksinya untuk menarik perhatian yang lebih tua, membiarkan kulit indahnya terekspos dengan hanya tertutup bralette hitam kebanggaannya dan celana rumahan super pendek. Mencoba peruntungannya untuk kembali menarik perhatian sang kakak tingkat.
Jani sore itu hanya berniat untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan kantornya yang tidak tahu waktu, maklum anak agensi harus siap bekerja kapanpun dan dimanapun. Begitu jarinya menekan tombol enter untuk mengirim surel, ekor matanya menangkap sosok Michi yang menghampirinya dengan segelas air es kesukaannya . Tapi Jani tetaplah Jani, tidak menoleh barang se-inch untuk melihat sosok yang lebih muda.
Michi duduk disamping Jani dan meletakkan segelas air es yang dengan sengaja dibawanya untuk sosok dambaannya. “Kak Jani, nih air es. Biasanya kakak kalo lagi ngerjain apa-apa suka minum air es hehe ”, Ujarnya sambil tersenyum lebar.
Jani menoleh lalu tersenyum kecil, “Ok, Michi, makasih ya”, lalu pandangannya kembali ke gawai miliknya, mengerjakan sesuatu yang sebenarnya sudah selesai. Memancing yang lebih muda untuk terus bergerak.
Michi mengerucutkan bibirnya kesal, namun kali ini ia tidak ingin menyerah begitu saja. Dengan percaya diri, ia menggeser duduknya lebih dekat. Hawa tubuh Jani terasa begitu nyata di sisinya, membuat dadanya berdebar keras. Ia tahu Jani sadar, Jani pasti tahu—namun yang lebih tua itu tetap mempertahankan sikap tak acuhnya, dan itu justru semakin membangkitkan rasa penasaran Michi.
Tanpa ragu, ia mendekat lebih jauh, membiarkan bahunya bersentuhan dengan lengan kokoh Jani. Tak ada reaksi. Napas Michi semakin berat. Ia lalu nekat menempelkan tetek besarnya pada lengan yang lebih tua, menggeseknya sedikit dengan gerakan halus dan sensual.
“Kakak, beneran ya nggak mau sama aku?”, Michi merengek sambil memasang puppy eyes kebanggaannya, berharap yang lebih tua bisa luluh dengan jurus andalannya. Jani melirik Michi dengan tatapan merendahkan, masih ingin melihat yang lebih muda merengek karena mendamba sentuhannya.
Dengan kesadaran penuh, Michi mengubah posisi duduknya menjadi bersimpuh menghadap wanita berkacamata itu lalu melebarkan kedua kakinya. “Kak Jani, mau Michi ngapain?”, rengekannya terdengar jelas oleh Jani yang kemudian tersenyum miring. Jani akhirnya menoleh, ekspresinya masih santai, namun matanya memancarkan sesuatu yang lebih gelap. Michi menelan ludahnya kasar. Entah mengapa, meski ini keinginannya, tapi ia merasa sangat kerdil sekarang.
Tatapan keduanya bertabrakan, mata tajam yang lebih tua menatapnya remeh. “Kok ya lonte banget lu, Chi, Michi,” Ucapnya dengan suara rendah yang menggema di telinga Michi. “Kepalang sange ya lu? Iya? Apa emang lu kayak gini ke semua orang?”, Jani menyahuti wanita yang bersimpuh di depannya.
Telapak tangan Jani terangkat, mengelus rambut Michi perlahan, lalu turun ke pipi tembamnya, menamparnya sekali—tidak terlalu keras, namun cukup untuk meninggalkan sensasi panas yang menjalar di bawah kulitnya. Michi menegang, dirinya sudah basah.
“Sini!”, Jani menepuk pahanya sendiri, membiarkan Michi yang kepalang berantakan itu menduduki paha tebalnya.
Jani biarkan Michi melakukan apapun yang diinginkannya, biarkan yang lebih muda mencari nikmatnya sendiri, sebelum ia berikan surga padanya.
Michi mendudukkan dirinya perlahan diatas paha tebal wanita berambut hitam itu, berusaha menjaga agar celana basah nya tidak semakin basah . Jani menaikkan sebelah alisnya, memperhatikan Michi yang tampak berhati-hati.
“Mmm, aku nggak berat kan?”, Michi menggumam. Jani menggeleng sambil dirinya meraih pinggang yang lebih muda.
Michi menatap sosok yang tengah didudukinya dengan tatapan penuh harap, perlahan ia bergerak menggesekkan dirinya diatas kulit lembut Jani, mengejar nikmatnya. Michi terus memaju-mundurkan tubuhnya, mencari-cari dengan frustasi rasa nikmat yang semakin didambakan, mengalungkan tangannya pada sosok yang lebih pendek, berharap sosok tersebut mau membantunya.
“kakak… nggh kamu gamau bantu aku?”, Erangan frustasi keluar lagi dari bibir pink Michi, undang seringaian dari yang lebih tua.
Jani menarik dagu gadis berambut biru di hadapannya, mengecup bibirnya sekali, dua kali, lalu menyesap bibir bawahnya, dan melepasnya. Perlakuannya kembali membuat Michi mengerang frustasi, sudah cukup menggila karena paha tebal Jani.
Michi mencoba mencium sang puan yang sedang di kendarai nya, berhasil meraih bibir tebal Jani, mengecapnya terburu-buru, merasa puas karena berhasil menyesap bibir Jani. Dirasakannya tangan Jani meremas buah dadanya penuh nafsu, membuatnya melenguh dan melepas ciumannya. Jani menatapnya lalu tanpa basa-basi ia kembali menyambar bibir lawan bicaranya, melumat kasar bibir ranum yang lebih muda, membuat Michi berteriak penuh kemenangan dalam hati. Michi terus merasa kurang, ia terus memperdalam ciumannya, sampaikan hawa panas tubuhnya menggunakan lidahnya yang perlahan saling bertabrakan.
Pagutan panas itu perlahan merenggang, Jani turunkan kecupannya pada leher jenjang tanpa noda, tinggalkan kecup dan noda merah keunguan disana. Erangan penuh harap terus terlontar dari ranum yang lebih muda, mengharap rasa gatal dan panas di bawahnya segera dimanjakan.
Jani memundurkan tubuhnya, melihat sosok Michi yang sangat berantakan, menyeringai lebar lalu mengecup belahan dada yang lebih muda, lalu menggumam.
“Pindah kamar gue aja.”,
Jani mendorong sosok yang lebih besar untuk merebahkan diri diatas kasur kamarnya, kemudian mendudukkan dirinya di atas singgasana kebanggaannya—perut Michi. Tangan besarnya menyapa tetek besar Michi, meremas dan menguleninya sesuka hati, hantarkan perasaan nikmat di sekujur tubuh sang submisif. Wanita Aries itu mengerang nikmat, sampaikan rasa frustasinya untuk segera di selesaikan . Dengan terburu-buru, Jani melepaskan bralette Michi yang bentuknya udah nggak karuan, kemudian ia menghampiri puting sebelah kiri Michi menjilat dan menghisapnya, kembali membuat yang lebih muda menggila .
“Ngghhh… K-kakak…Terus…”, Suara Michi terdengar begitu frustasi, kedua tangannya menekan kepala Jani, berharap yang lebih tua bisa memberikan stimulus lebih banyak. Jani kemudian melepaskan dirinya dan menatap Michi yang sudah berantakan di bawahnya. Wanita sagitarius itu mengusap celana rumahan milik Michi, hanya basah yang ditemuinya, rupanya wanita di bawahnya itu benar-benar tidak memakai dalaman apapun.
“Beneran lonte ya lu? Nggak pake daleman gini buat apa gue tanya?”, Jani mengusak bagian basah itu dengan keras, mengundang jerit Michi. Jani melihat itu hanya tersenyum miring, tanpa aba-aba, tangannya menarik kasar celana rombeng Michi yang sudah dipenuhi oleh cairan cintanya, menyisakan labianya yang terlihat mengkilat dan lapar.
Jani meludah, tepat di lubang senggama Michi, kemudian menyelipkan jari tengahnya diantara tembamnya lubang hangat, menggeseknya naik turun, menekan klitoris sang submisif yang mengacung seakan menantang Jani untuk tetap berada disana. Michi menggila, jeritannya semakin tidak karuan, menggema ke seluruh penjuru kamar, nafasnya tersengal dan menatap sang dominan penuh harap.
“Sange banget ya lonte cantik gue? Sampe banjir begini”, Jani lontarkan kalimat kotor itu sebelum hampiri vagina cantik di hadapannya, menjilatnya. “Hmm, legit banget memek lu”, Jani berbisik ditengah-tengah agenda memakan lubang kenikmatan Michi, kemudian melumat kecil klitoris yang berada tepat di hadapannya.
Tindakan Jani membuat Michi spontan melebarkan kakinya, mengharapkan Jani untuk melakukan hal yang lebih kotor padanya. Bukan Jani kalau tidak membuat Michi frustasi, ia biarkan yang lebih muda merengek, mendamba afeksi kotor darinya. Toh, ia yang punya kuasa disini, ia pula tuannya disini. Jani menjilat bagian dalam paha yang lebih muda, menggigitnya dan lukiskan merah di beberapa bagiannya, suara frustasi Michi terdengar. “Ngghh… K-kakk, please… lagi… mau… lagi…” Michi ungkapkan pintanya, berharap Jani segera memberikan yang ia inginkan.
“Mau apa? Yang jelas dong! Jangan kayak lonte”.
Michi mengerang frustasi, lalu serukan pintanya. “Mau dienakin, mau dientot kakak, mau dipake sampe tolol, mau…”
“Perek!”, Jani menampar pelan vagina Michi, membuatnya menjerit pelan. “K-kakak…. ayo….” Suara Michi begitu frustasi, beri makan ego yang lebih tua. Sang puan sagitarius itu akhirnya ludahi sekali lagi lubang berkedut Michi, buat liurnya menyatu dengan cairan cinta milik sosok dibawahnya.
Lidahnya menyapa dan menjilat vagina yang lebih muda, keluar-masuk berulang sembari jemarinya bermain di klitoris, mengelus dan mencubitinya, berikan rangsangan lebih. Michi kemudian rasakan bibir basah Jani mendarat di klitorisnya, sebelum akhirnya organ sebesar kacang itu dilahap habis oleh Jani.
Michi memejamkan matanya, merasakan setiap rangsang yang diberikan, tubuhnya menggeliat tak nyaman, tangannya tanpa sadar semakin mendorong kepala yang lebih tua untuk tetap berikan nikmat padanya. Jani tanpa ampun menikmati liang penestrasi Michi menggunakan lidahnya seakan itu adalah santap terakhirnya. Menyesapi bagian dalamnya, mencari sari-sari nikmat dari dalamnya hingga ciptakan suara-suara cabul yang membuat keduanya semakin tinggi .
Michi bahkan tidak ingat, berapa kali ia menyebutkan nama Jani dalam desahnya, tak ingat pula berapa banyak ungkapan-ungkapan cabul yang keluar dari mulutnya, tak ingat pula dirinya betapa berantakan wajahnya dengan rambut yang menempel dan liur yang keluar tanpa disadarinya. Jani menarik keluar lidahnya dari lubang senggama Michi dan mengusap bibirnya yang berantakan dengan punggung tangannya. Michi melihatnya dengan vagina yang semakin meleleh .
Jani sunggingkan senyum miringnya sebelum kemudian ia mencumbu lagi vagina Michi, menyapa lubang penetrasi itu dengan dua jari lentiknya, jari tengah dan jari manisnya bekerja begitu baik membuat Michi merasa lubangnya penuh . Jani rasakan jarinya begitu hangat dan basah, mencari-cari titik sensitif sang adik tingkat, hingga temukan tonjolan lunak di dalamnya. Gotcha . Dengan penuh nafsu, Jani mengusapnya lembut, gerakkan jarinya keluar-masuk dengan cepat dan semakin cepat seiring dengan desah dan pinta dari sang submisif. Jeritan Michi semakin melengking.
“Kakkkk… Kakak…. Uhhng… Mau keluar… Aakhh….”
Michi tanpa aba-aba mengangkat pinggulnya, degup jantung keduanya berkejaran. Michi keluar.
Cuurrr…
Basah, keduanya basah oleh cairan Michi yang keluar tanpa permisi.
Jika boleh memilih, maka Michi ingin Jani menjadi Tuhannya, yang berikan nikmat padanya tanpa ampun. Jika bisa, ia ingin memuja Jani sepanjang hidupnya, memuja sang puan dengan segenap jiwanya, berikan dirinya hanya untuk sang puan, biarkan sang puan melakukan apapun demi berikannya nikmat.
Oh… Michi believes that God is a woman, and it’s Jani.
