Actions

Work Header

diajarin_ngeseks_temen_seangkatan_3gp

Summary:

Setahun lagi, hanya butuh waktu setahun lagi jika mereka sabar menunggu untuk bisa melakukan dua kegiatan dewasa ini. Yang jadi persoalan bagi Eunseok adalah, di sini Sungchan yang berinisiatif sendiri. Sungchan yang parasnya dikagumi adik-adik tingkat hingga seantero sekolah. Sungchan yang menawarkan diri untuk mengajarinya ngerokok dan seks.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 


Eunseok dilanda rasa bingung tatkala Sungchan menawarkan diri untuk mengajarinya banyak hal. Banyak hal.

 

Termasuk dua kegiatan dewasa yang seharusnya belum boleh ia dan Sungchan lakukan karena mereka masih duduk di bangku terakhir SMA. Setahun lagi, hanya butuh waktu setahun lagi jika ia sabar menunggu untuk bisa melakukan dua kegiatan dewasa tersebut. Yang jadi persoalan bagi Eunseok adalah, di sini Sungchan yang berinisiatif sendiri. Sungchan yang parasnya dikagumi adik-adik tingkat hingga seantero sekolah. Sungchan yang menawarkan diri untuk mengajarinya ngerokok dan seks.

 

Sebenarnya bukan hanya itu, Sungchan juga menawarkan barter, agar ia dan Eunseok bisa belajar bersama. Eunseok yang presensinya tak kalah dikagumi karena otaknya yang dikenal encer. Juara satu di kelas diraihnya sejak tingkat pertama, di tingkat kedua ia menjadi juara satu se-sekolah. Eunseok tentu asing dengan kegiatan dewasa karena seluruh waktunya ia habiskan untuk belajar.

 

 

 

"Jadi? Lo mau apa nggak? Tenang aja, gue jamin ini bisa ngilangin stress belajar lo itu."

 

"Aku nggak stress belajar, Sungchan. Udah ya, aku mau balik ke kela—"

 

 

Cup.

 

 

Sungchan menahan pergerakan Eunseok dan membungkam kalimatnya dengan mencium Eunseok, di bibir. Eunseok melotot dan hendak melepaskan diri, namun nihil, tenaga Sungchan jauh lebih besar. Sungchan yang merasakan perlawanan dari Eunseok justru semakin mendekatkan diri, menghimpit tubuh ramping Eunseok ke dinding belakang mereka hingga dirasa tidak ada lagi ruang yang bisa Eunseok gunakan untuk melepaskan diri. Seluruh tenaga Eunseok kerahkan untuk dorong tubuh Sungchan sejauh-jauhnya, hal itu membuat ciuman yang mereka lakukan menjadi tidak karuan. Sungchan masih kukuh menahan diri dan justru mengigit bibir bawah Eunseok hingga sang empunya berteriak—naas, rintihannya teredam oleh bibir Sungchan yang masih berusaha menciumnya.

 

Nafas Eunseok mulai terdengar pilu, dadanya naik turun dan tangannya terkepal di depan dada Sungchan, Eunseok rasa jika dalam sepuluh detik Sungchan tidak melepaskan bibir mereka ia bisa pingsan di tempat.

 

"Bajingan." Umpatan pelan Eunseok lontarkan setelah mengambil oksigen sebanyak mungkin, ia mengusap bibirnya yang total basah dan melihat setitik bercak darah.

 

"Makanya jangan berontak, dong. Coba nikmatin aja, bakalan enak." Ungkap Sungchan.

 

"Udah aku bilang gak mau. Gak punya kuping ya kamu, Chan?" Tatapan Eunseok nyalang, emosi menguasai dirinya saat ini.

 

"Galak banget." Sungchan memicingkan matanya, tersenyum melihat reaksi Eunseok.

 

"Galak gini tapi tetep lucu di mata gue."

 

Persetan dengan perkataan tidak bermutu yang Sungchan ucapkan, tangan Eunseok bergerak hendak menampar pipi teman seangkatannya ini. Lagi-lagi pergerakannya tertahan.

 


"Maaf. Maafin gue kasar tadi. Maaf, ya? Jangan ditampar guenya, Seok."

 

Tangan Eunseok perlahan Sungchan tuntun ke sebelah pipinya. "Diginiin aja."



Sinting. Eunseok tidak tahu kalau ternyata Sungchan semahir ini bermain-main.

 

Buru-buru Eunseok lepaskan tangannya dari pipi Sungchan dan hendak mendorong tubuhnya. Kembali Sungchan tahan tubuh kecilnya hingga punggungnya kembali bersentuhan dengan dinding gudang sekolah yang dingin.

 

 

Benar, Sungchan mengajaknya untuk melakukan kegiatan tidak senonoh di gudang belakang sekolah yang terkenal sepi dan hampir tidak pernah ada yang ke sini selain satpam sekolah di sore hari.

 

 

"Lo serius mau balik ke kelas kayak gitu?" Mata Sungchan melirik ke tengah celana yang Eunseok gunakan. Terlihat sedikit bercak basah yang langsung Eunseok tutupi dengan telapak tangannya.

 

"Gue bantuin dulu. Sekalian gue ajarin gimana cara coli yang enak." Eunseok balas tatapan Sungchan tidak terima, bisa-bisanya ia mempermalukan dirinya sendiri seperti sekarang.

 

"G-gak perlu. Aku bisa sendiri."

 

"Hm? Serius?" Nada Sungchan terdengar beneran penasaran. "Bukannya katanya lo gak pernah ya?"

 

"Pernah! Nyoba nyoba aja.. eh—kenapa juga aku harus kasih tau kamu." Sungchan terkekeh, ia mengusap rambutnya ke belakang sebelum menyamakan pandangannya dengan Eunseok.

 

 

"Yaudah, coba. Tunjukkin gimana kalo lo coli sendiri."

 

 

Eunseok menatap Sungchan ragu sebelum Sungchan kembali melanjutkan kalimatnya.

 

"Malu? Daripada lo malu di depan anak-anak yang lain, mending di sini. Cuma ada gue. It's okay, Seok."

 

Eunseok seperti boneka sihir yang menuruti kemauan sang empunya. Perkataan Sungchan ada benarnya, ia gak mungkin kembali ke area sekolah dengan keadaan seperti ini. Perlahan, ia buka ikat pinggang yang melilit pinggangnya, lalu diturunkan resleting celananya hingga terlihat area basah dari celana dalam yang ia gunakan. Eunseok mengalihkan pandangannya ke arah samping, sambil masih berusaha menurunkan celana seragamnya sendiri hingga akhirnya jatuh di ujung mata kaki.

 

Sungchan yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik tangan Eunseok dibuat melongo kala ia tidak melihat ada tonjolan di sana. Eunseok tidak punya penis seperti dirinya. Yang Sungchan lihat justru lipatan tembam yang lembab dan seolah siap menelan apapun yang menyentuhnya.

 

"Lo.. punya memek? Anjing. Gue gak salah liat kan ini? Seok?" Eunseok dibuat malu setengah mati. Bibirnya ia gigit, tidak berani membalas tatapan Sungchan. Ia pejamkan matanya karena sumpah—Eunseok rasa sebentar lagi air matanya akan luruh ke pipi.

 

"Hey, hey. Sorry—bukan maksud ngejek. Gue beneran nanya. Enggak, bukan nanya. Gue cuma—wow. Cantik. Cantik banget lo, Seok.."

 

Eunseok perlahan membuka matanya, air mata yang tadinya menggenang di pelupuk pun turun membasahi kedua pipi yang kini bersemu kemerahan.

"Nggak. Nggak cantik. Sama sekali. Aku bukan cowok kaya yang kamu pikir, aku gak sama kayak kamu, Sungchan. Makanya aku gak mau. Aku gak mau terima tawaran kamu."

 

Saat Eunseok hendak membawa lengannya ke atas untuk menghapus jejak air matanya, Sungchan lebih dulu mengusap pipi Eunseok dengan jari telunjuk miliknya. "No. Lo cantik, cantik banget, Seok. Gue suka."

 

"Aku gak peduli, aku malu—"

 

"Kenapa malu? Lo justru makin sempurna, tau. Udah pinter, cakep, punya memek cantik, tembem gini." Perkataan Sungchan terhenti, telapak tangannya ia arahkan ke kemaluan Eunseok, reflek membuat si empunya badan yang lebih kecil berjengit. "Mm. Jangan."

 

"Tuh, pas gue sentuh gini malah jadi makin becek. Buset, Seok.. gak salah gue nawarin diri mau ngajarin lo seks biar gak stress belajar mulu."

 

"Sungchan.."

 

"Hm?"

 

Eunseok menggeliat tidak nyaman karna jari Sungchan yang dominan lebih besar itu malah bergerak maju mundur di area klitorisnya—ditekan pelan hingga buat basah di sekeliling celana dalamnya semakin luas. Senyum manis Sungchan berikan, ia usap wajah Eunseok dengan lembut. "Lepas dulu ya, ini?"

 

Masih ada ragu yang terlihat pada kilat mata Eunseok, namun pergerakannya mengikuti Sungchan untuk menurunkan celana dalamnya sendiri. Kini terpampang di depan mata Sungchan pemandangan yang begitu indah, kemaluan Eunseok—vagina licin, basah, berwarna kemerahan dengan lipatan tebal.

 

"Seok. Boleh gak gue jilatin lo?" Tatapan Sungchan menggelap dari sebelumnya. Kini Eunseok hanya bisa sepenuhnya berharap kalau ia bisa segera lepas dari apapun ini—dirinya takut justru akan kecanduan jika tahu kalau Sungchan mahir bermain dengan tubuhnya.

 

"Tapi kotor, Sungchan.."

 

"Nggak. Gue bisa nebak lo pasti enak."

 

Rona merah di pipi Eunseok sudah tidak bisa disembunyikan lagi, sejak tadi ia dipuji sedemikian rupa.

 

"Yaudah." Lirihnya final. Sungchan tuntun Eunseok untuk duduk di kursi yang berada tak jauh dari mereka, ia gunakan hoodie miliknya sebagai alas Eunseok duduk. Eunseok perlahan membuka kedua pahanya, membuat Sungchan semakin ingin memakannya saat ini juga.


"Chan.. ahh—"

 

Eunseok merasa asing dengan sensasi baru dari lidah Sungchan yang menyapu dari area klitoris hingga ke lubang miliknya.

 

"Hng—ngilu." Tangan Eunseok berada di rambut Sungchan, reflek ia tekan kepala Sungchan saat merasa titik nikmatnya disentuh. Sungchan menekan lidahnya pada klitoris Eunseok lalu menyedotnya seperti anak kecil tengah mengemut permen.

 

"Hhh, Sungchan, enak.. enak banget, mmhh."

 

Desahan Eunseok tak bisa ditahan lagi, permainan lidah Sungchan, ditambah satu jarinya yang kini masuk di lubangnya sukses membawanya terbang, ia rasa sebentar lagi dirinya mau bucat.

 

"Chan— hng. Udah. Mau keluar. Stop."

 

Kata-kata Eunseok mengawang di udara karena yang Sungchan lakukan justru menambah kecepatan jarinya di dalam lubang Eunseok dan permainan lidahnya di area klitoris, kedua paha Eunseok dicengkram agar tak bergerak terlalu banyak.

 

"Hngg. Sungchan, panas—badan aku panas hhh."

 

Seperkian detik Eunseok seperti berada di atas awan, pinggulnya terangkat cantik dengan kepala Sungchan yang masih menempel di kemaluannya. Cairan Eunseok yang keluar Sungchan hisap dan ia jilat lagi. Eunseok jambak rambut Sungchan karna sungguh, pelepasannya kali ini jauh lebih nikmat dari yang biasa ia lakukan di rumah hanya dengan jarinya sendiri.

 

"Sungchan, jorok.. jangan dimakan akunya.."

 

Eunseok beranikan diri lihat ke bawah, Sungchan terlihat berantakan dengan lendir di sekitar bibirnya dan rambutnya yang acak-acakan. Jika Eunseok boleh jujur, temannya itu terlihat sangat panas. Dan ia suka.

 

"Enak. You taste good. Makan sehat terus ya? Manis, Seok."

 

"Pinter banget kamu kalo muji orang.." Eunseok kemudian membenarkan posisi duduknya dan mengusap kedua pipi Sungchan di bawahnya. Ia bawa Sungchan ke dalam ciuman—penasaran juga dengan rasa cairannya. Dan tampaknya Sungchan tak berbohong soal itu. Ciuman kali ini terasa lebih lembut dari sebelumnya, Eunseok tak sadar lebih dominasi temponya. Eunseok gigit bibir Sungchan untuk melesakkan lidahnya, melilit milik Sungchan hingga air liur yang entah milik siapa menetes ke lantai. Setelah dirasa pasokan oksigen mereka berkurang, Eunseok menjauhkan diri dan menundukkan pandangannya.

 

"Hey. Merah banget muka lo."

 

"Diem."

 

"Lucu banget, sih." Tawa Sungchan terdengar renyah, dagu Eunseok ditarik pelan untuk menyatukan tatap mereka. "Gimana, enak kan gue ajarin cara coli yang bener? Eh, colmek ya kalo buat lo?"

 

"Sungchan! Kotor banget mulutnya."

 

"Kotor tapi lo suka? Nih malah makin becek gini." Satu jari Sungchan kembali mengusap lembut sepanjang kemaluan Eunseok.

 

"Uda—ah. Sini, gantian aku bantuin kamu."

 

"Bantuin? Lo mau nyepongin gue?"

 

"Huum. Kenapa? Aku gak pernah sih—jujur. Tapi aku coba.. aku coba yang enak juga kayak tadi kamu enakin aku."

 

Entah kenapa perkataan lembut namun ambigu yang keluar dari bibir Eunseok, diikuti tatapan memohon dengan mata bulatnya justru membuat Sungchan naik.

 

"Oke. Enakin gue, Seok."

 

Eunseok kemudian berpindah posisi menjadi di bawah, bersimpuh di tengah paha Sungchan. Sungchan mengarahkan kedua tangan mungil Eunseok ke tonjolan di tengah celananya yang disusul dengan inisiatif Eunseok untuk mengusap dan menekan—hingga buat kepala Sungchan menengadah.

 

Resleting celana seragam Sungchan Eunseok buka dan ia turunkan hingga sebatas lutut. Celana dalamnya juga dibawa turun dan sekarang terlihat penis tegang milik Sungchan, Eunseok gak yakin ukurannya muat di mulut kecilnya.

 

"Coba jilat, Seok."

 

"Pinter. Jangan dipaksa masukin semua—akh. Anjing." Geraman Sungchan tertahan karna Eunseok tengah sibuk memasukan semua bagian penisnya ke dalam mulut, hangat dan basah. Eunseok merasa seperti ingin muntah tapi ia coba untuk menahannya, tak ingin buat Sungchan kecewa. Kepala Eunseok turut bergerak maju mundur dengan tempo lambat, ia jilat juga seluruh bagian penis Sungchan seperti sedang menikmati ice cream kesukaannya.

 

"Jago gini nyeponginnya. Enak banget mulut lo. Hhh."

 

Pandangan Eunseok yang sempat terpejam terbuka, dari bawah sini, Eunseok bisa lihat ekspresi keenakan Sungchan. Bibirnya terbuka sedikit dan menggumamkan desahan—geraman patah-patah sesuai tempo gerakan mulutnya yang ia berikan pada penis Sungchan. Sungchan membalas tatapannya, digenggam lebat helai rambut Eunseok dengan jarinya dan ditarik ke depan, membuat penisnya semakin melesak dalam di mulut Eunseok. Eunseok reflek mengerutkan alisnya, matanya bergulir hingga hanya tersisa bagian putihnya. Sungchan ingin sekali mengabadikan wajah Eunseok sekarang tapi ia masih punya rasa takut, bisa-bisa setelah ini ia dibunuh oleh Eunseok.

 

Dirasa jika pergerakan Eunseok mulai melemah, Sungchan langsung ambil kendali dengan menahan kepala Eunseok dan menggerakan pinggulnya sendiri. Maju mundur, Sungchan main serampangan semaunya. Menyodok penisnya hingga ke pangkal paling ujung mulut Eunseok sampai terlihat samar tonjolan di sekitar tenggorokan Eunseok. Eunseok sudah memberi sinyal dengan menepuk paha Sungchan beberapa kali, agaknya si empunya gak sadar karna sibuk meraih pelepasannya sendiri. Sungchan kemudian teringat bahwa dirinya ingin mengajari Eunseok sehingga ia melepaskan diri. Eunseok terbatuk dan berakhir dengan posisi terduduk lemas, bersandar pada paha Sungchan. Ia muntahkan sisa precum Sungchan di lidahnya.

 

"Sorry, gue terlalu kasar ya?" Sungchan membantu Eunseok untuk bangun, kemudian mengarahkannya duduk di atas kedua pahanya.

 

"Mulut aku kayak mati rasa, Chan." Sungchan tak tahan untuk tergelak, Eunseok masih bisa terlihat menggemaskan bahkan dengan keadaan seberantakan ini.

 

"Walaupun pertama kali, tapi lo pinter banget. Kayak udah berpengalaman, gak kena gigi."

 

Sungchan sapukan jarinya di bibir Eunseok, menghapus sisa cairan miliknya yang tertinggal. Dikecupnya juga sekilas bibir Eunseok.

 

"Gue keluarin di luar, tapi gue mau masukin lo dulu."

 

Belum sempat Eunseok menjawab, Sungchan tiba-tiba mengangkat pinggul Eunseok dan mengarahkan penisnya ke depan lubangnya yang masih basah. Eunseok mau tidak mau mengikuti pergerakan yang lebih muda beberapa bulan darinya—lubangnya terasa seperti dikoyak saat ia rasa penis milik Sungchan mulai menerobos masuk. Beruntung cairan bucat milik Eunseok dan precum Sungchan dapat sedikit menghilangkan rasa perih yang menjalar. 

"Rileks, Seok. Sakit di awal doang nanti enak, kok." Kalimat penenang diucap Sungchan, kedua tangan Eunseok bertumpu pada bahu Sungchan. Setelah semua bagian penis Sungchan masuk ke lubang Eunseok, Sungchan berbisik—yang masih bisa Eunseok dengar dan bikin tubuhnya meremang. 

 

"Anget banget, fuck." 

"Sempit banget memeknya, Seok."

 

Eunseok kepalang malu, ia sembunyikan wajahnya di ceruk leher Sungchan, beberapa kecupan juga ia bubuhi sebagai tanda ia tidak sepenuhnya menolak diajari hal seperti ini.

 

"Kalau udah gak sakit bilang gue, ya?" Eunseok rasakan usapan halus di rambutnya. Ia mengangguk. "Udah gapapa, coba kamu gerakin, Chan."

 

Mendapat lampu hijau, Sungchan gerakan miliknya dengan pelan, kemudian menambah temponya saat ia rasa Eunseok turut menggerakan pinggulnya. "Udah mulai kerasa enak, ya? Nakal banget ini udah naik turun sendiri."

 

"Sungchan.. aku malu." Sungchan mengarahkan Eunseok untuk menatapnya, pipinya merah total sekarang, rambutnya basah oleh keringat. Sungchan tersenyum sekilas sebelum membuka kancing seragam Eunseok. "Dilepas juga sebelum tembus, nanti basah semua."

 

Eunseok bak anak kucing penurut, menanggalkan baju dan kaos putih tipis yang dia pakai. Kulit telanjangnya terlihat mengkilap, Sungchan kecupi mulai dari perpotongan tulang selangka hingga bahunya. Eunseok tak menyiapkan diri kala jari Sungchan menyentuh kedua putingnya.

 

"Ahnn—Sungchanh.."

 

"Hmm." Sungchan perhatikan Eunseok yang kini tengah keenakan, matanya berair dan dadanya naik turun mengikuti sentuhan jari Sungchan pada putingnya. 

"Cantik. Merah semua mukanya, gemes." 

"Sungchan udah—amh. Mau.."

 

"Mau? Mau apa?" Sungchan mengerenyitkan dahi. Dilihatnya Eunseok mulai bergerak tidak nyaman.

 

"Mau digerakin.. ini. Susah akunya kalo sendiri.."

 

Sungchan berani sumpah, kalau ia sedang tidak berniat mengajari. Habis sudah rupa cantik bak malaikat di depannya ini.

 

"Coba dulu? Mmh—iya gitu. Pinter. Pelan-pelan dulu."

 

Eunseok coba menahan tempo gerakan pinggulnya agar tetap stabil, namun dirinya terlalu tidak sabar. Sungchan gemas melihat Eunseok kepayahan mencari titik nikmatnya.

 

"Sange banget gue liat lo kayak gini, Seok. Tahan sebentar, ya."

 

"Akh! Chan! Chan! P-pelan, aaah, aduh."

 

Eunseok akhirnya dibaringkan di lantai dengan tetap dialasi hoodie milik Sungchan dan lubangnya dirojokkin cukup kasar sampai mulutnya cuma bisa mengeluarkan suara erangan "ah! Ah! Ah!" berulang kali.

 

"Hnggh!" Punggung Eunseok melekuk naik, Sungchan sudah menemukan titik nikmat yang sebentar lagi bisa buat dirinya keluar

 

"Di sini?" Sungchan percepat gerakan pinggulnya, nikmat sekali rasanya penisnya dipijat lubang Eunseok yang masih sempit dan hangat. Kayak lubang perawan

"Sungcha—nh, mau keluar, ah! Tapi beda, beda rasanya sama yang tadi. Kayak mau pipis—nngg."

 

Dilihatnya Eunseok yang sekarang udah kayak orang teler. Sungchan mencium bibirnya beberapa kali dengan tetap menahan tempo gerakannya. Sungchan kecup daun telinga Sunseok dan membisikannya sesuatu. "Pipis aja, pipisin kontol gue, Seok."

 

Setelahnya, hanya terdengar desahan ribut Eunseok dan Sungchan rasakan basah di penyatuan mereka. Eunseok beneran pipis.

 

"Hng—maaf, maaf aku kelepasan. Sungchan—"

 

"Seenak itu ya ngewe sama gue sampe lo pipis gini?" 

Saatnya Sungchan mengejar nikmatnya, pinggulnya digerakan semakin cepat sehingga membuat bunyi kecipak yang nyaring karena sebelumnya terkena cairan pelepasan dan pipis Eunseok.

 

"Tunggu, Seok, anjing—gue bentar lagi."

 

Badan Eunseok hanya bisa mengikuti gerak Sungchan, terkulai lemas dan naik turun lengkap dengan bagian kemaluannya yang kini total basah dan becek.

 

Sekitar duapuluh detik dan Sungchan melepas penisnya dari lubang Eunseok, mengurutnya beberapa kali dan menumpahkan spermanya di atas perut Eunseok. Sungchan kemudian merebahkan diri di samping Eunseok, dilihatnya Eunseok masih memejamkan mata sembari mengatur nafas.

 

"Gokil, mantep banget, Seok. Kayak ngewe sama perawan ting-ting gue."

 

Disusul rintihan mengaduh karena Eunseok yang memukul kepala Sungchan dengan sisa-sisa tenaganya.

 

 

Fin.

Notes:

Thank you for reading, I hope you enjoyed this not-so-perfect writing piece by me. This is actually my personal attempt to celebrate Eunseok's birthday! Hehe.

Happiest birthday, the brightest star Song Eunseok. 🌟