Chapter Text
Wonbin adalah anak laki-laki yang putus asa. Dia berhenti menaruh harap ketika satu per satu temannya pergi dijemput dengan mobil mewah oleh orang tua angkat mereka. Wonbin sudah coba mandi yang bersih dan pakai baju paling bagus warna cerah agar nampak paling mencolok, tapi Wonbin nggak pernah terpilih. Anak kecil itu hanya diajak ngobrol tentang apa kesukaannya (oleh calon orang tua) sebelum ditinggal sendirian dengan hati yang hancur. Wonbin menangis di dekat drum-drum besar yang biasa dipakai ibu panti untuk tampung air hujan sebab di kampung masih kesulitan air bersih. Di sana pula Wonbin selalu salahkan dirinya sendiri yang masih berumur tujuh. Anak sekecilnya harus berkelahi dengan prasangka duniawi. Mungkin Wonbin nakal. Mungkin Wonbin jelek. Mungkin Wonbin terlalu susahkan orang lain.
"Aku juga nggak pernah dipilih, kok. Kamu nggak sendirian, Eonbin. Eh, Eonbin 'kan nama kamu?"
Hari sudah mau malam. Biasanya setelah menangis Wonbin akan kembali ke rumah panti sendirian dengan sandal jepit terseok-seok. Lalu ibu panti sedikit omeli Wonbin karena sudah menghilang tanpa bilang selama hampir seharian. Ibu panti sebenarnya baik, buktinya Wonbin dipeluk setelah itu sebab tahu hati anak asuhnya sedang hancur. Wonbin masih terlalu kecil.
Lalu hari ini ada anak tinggi yang mengetahui tempat rahasia Wonbin untuk menangis. Meski sudah diusir berkali-kali anak nggak diundang itu tetap berjongkok di depan Wonbin. Dia coba lambaikan tangannya 'tuk cari perhatian si anak berumur tujuh.
"Kalo kamu nggak jawab berarti bener ya nama kamu Eonbin?" ulangnya. "Aku Sungchan, hehe."
Wonbin hanya anak kecil yang masih suka merajuk dan nggak ada bedanya dengan anak-anak lain. Dia buang muka seolah anak bernama Sungchan itu yang buat Wonbin kecil kesal. Iya, bertambah kesal. Sungchan lepas sandal jepitnya untuk dijadikan alas duduk di samping Wonbin, walaupun sejak tadi ucapan Sungchan diabaikan seakan-akan dia bicara dengan drum air.
"Kamu.. kenapa nggak dipilih sama ayah dan ibu?" Wonbin buka suara. Dia lebih penasaran mengapa Sungchan juga nggak dipilih daripada mengoreksi namanya yang salah disebut.
Sungchan sibak sedikit helai rambut hitamnya 'tuk pamerkan satu alat ditelinga. "Aku cacat, Eonbin. Aku nggak bisa dengar jelas kalo orang lain ngomong."
Baru Wonbin sadari anak bernama Sungchan itu bicara sambil gerakkan tangannya. Dia gunakan bahasa tubuh agar orang lain mengerti apa yang ingin dikatakan. Aneh karena Wonbin nggak lihat wajah Sungchan bersedih saat bicarakan kekurangannya. Dia malah tersenyum, giginya menyembul sedikit dan manis sekali. Wonbin jadi suka menatap wajah Sungchan lama-lama.
"Aku kayak gini karena nggak sengaja." Sambung Sungchan sebab Wonbin kembali diam. "Temanku dorong aku sampe kebentur meja waktu main. Dokter bilang telingaku nggak berfungsi normal lagi makanya aku pakai alat bantu."
Wonbin usap dagunya sambil mengerjap, nggak tahu harus merespons seperti apa. Dia hanya anak kecil. Rasa yang dia punya untuk Sungchan adalah rasa kasihan. Wonbin nggak tahu caranya berempati pada teman.
"Teman kamu jahat."
"Tapi aku maafin dia karena nggak sengaja, namanya juga musibah." Sungchan tertawa pelan. Dia pandangi langit nyaris malam dengan nada bicara agak parau. "Sekarang dia udah punya ayah dan ibu, Eonbin."
"Jahat!" Wonbin memekik nggak tahan. Kesal dengan siapapun teman Sungchan itu. "Dia bikin kamu kayak gini tapi dia yang dipilih ayah dan ibu? Nggak adil!"
Sungchan lanjutkan tawanya lihat Wonbin ngomel sendirian padahal tadi dia diam saja. "Gapapa, semua orang bakal dapat orang tua, kok. Besok, lusa atau nanti kamu juga bakal dipilih ayah dan ibu. Kamu lucu dan sempurna, semua bakal sayang sama Eonbin."
"Nama aku yang bener Wonbin." Akhirnya anak umur tujuh itu pun mengoreksi setelah terpangah mendengar ucapan Sungchan yang sesejuk embun pagi. Belum ada yang bisa tenangkan hati kecil Wonbin seperti itu.
"Oh, maaf." Sungchan merasa bersalah sebab telinganya salah tangkap selama ini. "Maaf ya, Wonbin."
Wonbin terkikih sampai gigi depan dan dua taringnya muncul sebentar. "Mau panggil Eonbin juga gapapa."
Sungchan menggeleng. "Aku panggil Wonbin aja."
Mereka tinggalkan drum-drum air saat langit sudah hitam melegam. Wonbin mendesah cemas karena ibu panti pasti akan mengomel lagi. Bedanya sekarang ada Sungchan dan pasti mereka akan diomeli bersama. Rasa cemas Wonbin berkurang karena sudah ada teman 'tuk dengarkan omelan ibu panti, sampai Wonbin nggak sadar ada batu besar dan dia pun jatuh tersandung. Wonbin hampir menangis tapi tangan kecilnya yang sudah kotor itu Sungchan genggam supaya nanti nggak jatuh lagi. Supaya ada yang memimpin jalan.
Seminggu berlalu dan Sungchan semakin suka dekati dan temani Wonbin bermain. Dia ingin hibur hati hancur Wonbin karena nggak dipilih ayah dan ibu. Sungchan biarkan saja kalau Wonbin mau coret-coret tangan dan kakinya lalu tergelak bersama melihat hasilnya yang jelek. Wonbin juga nggak jutek lagi pada Sungchan tapi bukan kasihan sebab telinganya rusak. Wonbin suka Sungchan karena dia baik dan selalu bagi-bagi jajan. Misal Sungchan punya satu kue dari ibu panti dia pasti akan belah dua kuenya agar Wonbin juga dapat.
Suatu malam Wonbin pun sengaja pura-pura tidur di kasurnya untuk kemudian dia bangun dan mengendap-ngendap di lorong lantai dua. Wonbin bawa boneka Teddy bersamanya sebagai teman berbuat nakal. Tujuan anak umur tujuh itu adalah kamar Sungchan di ujung lorong, kamar khusus anak yang lebih besar. Sungchan juga belum tidur sebab sedang hapal perkalian ketika sebuah Teddy melayang ke atas kasurnya di tingkat dua. Sungchan tengok ke bawah dan temukan Wonbin sudah pakai piama biru muda sedang berdadah-dadah.
"Kok belum bobo?" Wonbin sudah berada di atas kasur Sungchan. Dia rebahkan tubuhnya lalu memeluk badan yang lebih tua seperti guling tanpa minta persetujuan, satu kakinya bahkan menimpa perut Sungchan.
"Harusnya aku yang tanya gitu, Wonbin." Sungchan nggak protes dengan tingkah tengil itu, malah dia tarik selimut agar tutupi tubuh kecil Wonbin.
"Aku belum ngantuk." Sanggah Wonbin sambil terus pandangi wajah lawan bicaranya yang akhir-akhir ini paling dia sukai. "Kamar kamu enak ya Sungchan, lebih dingin, hehe."
"Aku lebih tua dari kamu loh, umurku sepuluh." Kata Sungchan tapi Wonbin nampak nggak mau tahu. "Coba panggil aku Abang sekali aja."
Wonbin berdeham. "Nggak mau, hih. Aku lebih suka panggil kamu SungchanㅡSuNGcHaAANnn."
"Iya, iya, jangan berisik nanti yang lain bangun." Sungchan tutupi mulut Wonbin dengan tangan dan berbisik. "Ya udah, sekarang Wonbin bobo ya."
"Aku mau dengar cerita."
"Cerita apa?"
"Emang bener ya apel putri salju ada racunnya?"
Sungchan tinggalkan sejenak hapalan perkaliannya demi ceritakan dongeng putri salju agar penasaran Wonbin berkurang. Sampai mata Wonbin semakin sipit dan terlelap tanpa tahu kalau putri salju bangun dari tidur panjangnya sebab dicium pangeran. Terpikirkan bagaimana kalau bibir merah muda Wonbin yang empuk itu Sungchan cium seperti putri salju, apakah Wonbin akan bangun juga? Sungchan langsung sentil dahinya sendiri, nggak seharusnya dia ingin cium anak laki-laki yang masih kecil dan tengah tidur pulas.
Sungchan pandangi plafon kamar dan berkesah dengan batinnya sendiri sebelum dia pun jatuh terlelap.
Esoknya Wonbin sudah mandi dan pakai baju bagus karena ayah dan ibu baru akan datang. Wonbin berdiri paling depan sambil unjuk gigi kecil-kecilnya. Harapan yang coba Wonbin tumbuhkan kembali di hatinya pun berbuah manis, ayah dan ibu memilihnya. Wonbin melompat gembira lalu menerjang pelukan ayah dan ibu barunya penuh semangat. Rasanya hangat sekali. Hidup Wonbin akhirnya sempurna sebab sekarang dia sudah punya ayah dan ibu sendiri. Namun Wonbin lihat Sungchan masih berdiri di barisan paling belakang karena dia tahu dia nggak akan pernah dipilih sebab cacat. Sungchan tersenyum cukup lebar seolah ikut rayakan kebahagiaan Wonbin hari itu. Esok, nggak akan ada lagi anak yang bersembunyi di balik drum 'tuk menangis. Esok, nggak ada lagi kue yang akan Sungchan bagi dua. Esok, nggak akan ada lagi anak yang diam-diam manjat ke kasur Sungchan minta diceritakan dongeng putri salju. Wonbin sudah miliki rumahnya sendiri bersama ayah dan ibu.
"Wonbin! Mau ke mana?!"
Sungchan dengar ibu baru Wonbin berteriak panggil nama anaknya tapi yang dipanggil menyeret tangan Sungchan supaya ikut berlari ke lantai dua rumah panti. Wonbin tutup pintu kamar kuat-kuat lalu dia bawa tubuh Sungchan yang lebih besar darinya untuk masuk ke dalam lemari baju dan sembunyi bersamanya.
"Wonbin, kenapa kita sembunyi di sini?" Sungchan tanyakan rasa bingungnya. "Ayo keluar, ayah dan ibu pasti cariin kamu."
Wonbin menggeleng sambil tutupi kedua telinganya. Kalau boleh jujur anak tujuh tahun itu juga dilanda kebingungan. Wonbin mau tahu rasanya punya ayah dan ibu seperti anak lain tapi dia nggak mau tinggalkan Sungchan di panti sendirian. Sungchan temannya yang paling baik.
"Aku nggak mau pulang sama ayah dan ibu." Kata Wonbin hampir menangis sesenggukan. "Aku di sini aja ya sama Sungchan."
"Wonbin mau punya ayah dan ibu, 'kan?"
Anak itu angguki kepalanya perlahan. "Tapi kamu nggak punya."
Sungchan angkat tangannya menyisir rambut panjang Wonbin sambil berikan senyum. "Aku udah nggak mau punya ayah dan ibu lagi, Wonbin. Aku senang bisa hidup di sini sama ibu panti dan anak-anak lain. Tapi kamu masih mau punya ayah dan ibu, sekarang mereka tungguin kamu di bawah. Keluar, yuk?"
Wonbin terjang Sungchan dengan pelukan tiba-tiba. Tangannya memeluk kencang leher yang lebih tua takut badannya akan didorong menjauh. Sungchan agak susah bernapas karena desakan Wonbin juga karena pengap lemari yang tertutup rapat.
"Mau di sini aja, mau sama Sungchan." Anak tujuh tahun itu merengek sambil hentak-hentaki tubuhnya agar Sungchan mau dengarkan kesahnya.
"Kamu yakin nggak bakal nyesal?"
Wonbin menggeleng setelah lepaskan leher Sungchan, telunjuk mungilnya menempel dibibir. "Shtt, jangan berisik ya nanti kita ketauan."
Hari-hari selanjutnya, Wonbin sudah nggak penasaran bagaimana rasanya punya ayah dan ibu. Dia akan menarik tangan Sungchan dan bersembunyi di dalam lemari setiap kali ibu panti bilang akan ada orang tua baru yang datang. Wonbin nggak mau dipilih. Wonbin nggak mau dipisahkan dengan Sungchan. Anak itu terkikih-kikih merasa sedang bermain petak umpet di hadapan Sungchan yang juga puas pandangi wajah meronanya sebab kehabisan napas. Lalu Sungchan elap keringat di dahi dan pelipis Wonbin dengan tangannya.
"Kalo udah dewasa nanti kita keluar dari panti sama-sama ya, Sungchan?" jari kelingking Wonbin yang kecil terulur inginkan janji.
Sungchan tautkan kelingking mereka tanpa ragu sambil berkata. "Iya, Wonbin. Aku bawa kamu keliling dunia."
Sungchan adalah lelaki yang tepati janji. Dia akan bawa Wonbin keluar dari panti setelah pastikan anak itu mau hidup berjuang bersamanya 'tuk berkelana di dunia yang selama ini hanya bisa mereka lihat di internet. Wonbin bilang dia nggak tahu bagaimana kehidupan manusia lain di luar sana, tapi selama ada Sungchan di sampingnya Wonbin rasa dunia ini hanya segenggam tangan saja. Ibu panti sempat nggak setuju Wonbin ikut keluar sebab takut dia akan susahkan Sungchan. Biarlah Wonbin tinggal bersama ibu panti beberapa tahun lagi kemudian boleh susul Sungchan bila sudah mandiri.
Tapi Sungchan yakinkan ibu panti kalau Wonbin akan sangat membantunya jalani hidup sebagai individu baru di ibu kota. Sungchan juga butuh teman dan Wonbin adalah orang yang pasti bisa dia andalkan. Sungchan janjikan kalau Wonbin akan aman bersamanya sebab dia sendiri sudi taruhkan nyawa agar Wonbin senang. Ingat kalau Wonbin melepas kesempatan miliki ayah dan ibu sebab dia lebih peduli pada Sungchan. Maka mana tega Sungchan tinggalkan Wonbin di panti sementara dia pergi menjelajah sendiri. Mana mungkin Sungchan biarkan Wonbin kembali menangis di sudut drum air seperti saat umurnya tujuh.
"Aduh, aku mules." Wonbin pegangi perutnya saat Sungchan sedang sibuk taruh barang mereka di kabin.
"Mau ke toilet?"
Wonbin gelengkan kepala dan Sungchan paham mulas yang dia maksud bukan dalam artian ingin buang air. Dia sedang gugup karena beberapa saat lagi kereta akan berangkat tinggalkan desa kecil Myangri menuju Seoul.
"Kamu duduk dekat jendela aja."
Sungchan berikan kursinya pada Wonbin agar cemasnya berkurang sebab bisa lihat pemandangan. Musim semi menyulap pepohonan kembali hijau dan segarkan mata siapa saja yang menoleh ke luar jendela. Sesekali akan Wonbin tunjuk objek yang dia temukan agar Sungchan ikut melihatnya. Mereka bicarakan deretan burung di kabel listrik dan petani yang sedang menggarap sawah. Wonbin tertawa saat Sungchan coba melucu. Kepala yang dibungkus kupluk wol biru muda itu jatuh ke bahu Sungchan dengan perut terkocok hebat. Sungchan kadang bisa selucu itu atau memang nggak ada yang lebih lucu di dunia Wonbin selain hadirnya Sungchan.
Mereka sudah jauh dari Myangri saat pepohonan berganti dengan gedung-gedung yang mulai nampak di ujung mata. Wonbin biarkan diri lelahnya terlelap dan jadikan bahu Sungchan sandaran kepalanya. Kedua lengan Wonbin ikut membelenggu siku Sungchan pun nggak puas dia juga genggam kain jaket yang lelaki itu kenakan. Wonbin mau ketika bangun nanti masih ada Sungchan di sampingnya. Bukan orang lain dan nggak mau orang lain. Padahal Sungchan nggak akan ke mana-mana dan biarkan saja kandung kemihnya hampir meledak daripada bangunkan tidur Wonbin.
Sungchan coba sentuh bulu mata Wonbin yang panjang dengan ujung telunjuknya dan dapati dirinya tersenyum merasa geli. Dia masih nggak percaya kalau Wonbin akan menjadi tanggung jawabnya sesampainya mereka di Seoul nanti. Wonbin akan gantungkan dirinya pada Sungchan sebagai orang yang lebih tua antara mereka. Dia merasa terpacu untuk bekerja keras agar Wonbin dapatkan hidup layak dan bahagia di dunia barunya. Akan Sungchan usahakan apa yang Wonbin inginkan.
Wonbin masih rasakan mimpinya berkabut saat buka mata dan butuh sekian detik 'tuk sadari di mana dia sebenarnya. Dua punggung kursi di hadapannya beri tahu Wonbin kalau dia masih dalam perjalanan ke ibu kota yang jauh. Sulit dipercaya kain jaket Sungchan masih dia genggam kuat seperti awal. Sungchan nggak ke mana-mana. Dia duduk di sana temani Wonbin tidur. Wonbin angkat sedikit dagunya guna mendongak dan nggak menduga kalau Sungchan sedang menatapnya pula. Entah sudah berapa lama. Wonbin bisa rasakan hembusan napas dari hidung yang lebih tua dipipinya. Teratur dan hangat. Jarak wajah mereka sedekat jarak kepala Sungchan dengan bahunya sendiri.
Sungchan tarik sudut bibirnya dengan alis yang ikut terangkat seolah tanyakan, tidurmu nyenyak Wonbin? Mimpi apa kamu? Sungchan bahasakan tanya itu lewat isyarat mata yang Wonbin terima tanpa berkedip. Dia pun balas senyum Sungchan sebelum berbisik,
"Haus."
Kata sederhana itu nggak bisa sampai masuk ke telinga Sungchan tapi Wonbin nggak perlu ulangi ucapannya hanya agar dia mengerti. Sorot mata Sungchan yang sejak tadi berhenti di bibir Wonbin pun bisa dengan mudah dia baca 'tuk ketahui apa maunya. Wonbin haus. Sungchan ambil sebotol air mineral sekaligus dia buka tutupnya supaya Wonbin hanya tinggal minum.
"Pasti kamu pegel ya." Wonbin berinisiasi pijit bahu Sungchan. "Berapa lama lagi kita sampe ke Seoul?"
"Satu setengah jam lagi."
"Masih lamaaa." Wonbin mendesah bosan dan tersadar kereta terus berjalan saat pandangi jendela. "Kita udah jauh banget dari rumah ya, Sungchan."
"Kamu kangen panti?"
Wonbin kembali pertemukan tautan matanya dengan Sungchan, lalu mata itu berikan harapan baru. "Nanti kita bakal punya rumah sendiri, 'kan?"
Sungchan mengangguk tanpa pikirkan betapa sulitnya membeli rumah di Seoul. Angguk itu menjadi janji dan Sungchan adalah orang yang tepati janji. Pasti sulit mencari uang sendiri sebab selama ini hidup mereka bergantung pada donatur panti. Sesulit apapun akan Sungchan usahakan sebab Wonbin inginkan rumah sendiri. Rumah yang nggak perlu dia bagi dengan ratusan anak-anak lain. Akan Sungchan beli rumah yang dapurnya bagus supaya Wonbin bisa belajar masak karena dia suka makan.
Tiada kehidupan semudah membalik telapak tangan. Hati Sungchan agak nyeri ketika dia hanya bisa sewa sepetak rumah tanpa kamar untuk ditinggali berdua. Uang saku dari ibu panti nggak banyak. Cukup untuk bayar sewa satu bulan dan makan sehari-hari selama Sungchan akan mencari kerja di ibu kota, tapi Wonbin senang melihat hunian barunya yang nggak seberapa. Dia melompat sambil rentangkan tangan seolah siap jalani dunia barunya dimulai dari sepetak rumah sewa mereka. Wonbin berlari 'tuk geser jendela kecil di dinding lalu dia hembuskan napas lega saat melihat langit petang. Benefit sewa rumah itu adalah matahari tenggelam yang langsung menghadap rumah mereka dan Wonbin senang bisa nikmati cahaya oranyenya dari jendela.
Sungchan susuli posisi Wonbin, "Rumahnya sempit ya."
"Gapapa, yang penting rumah kita sendiri." Senyum Wonbin itu mampu gantikan cerahnya matahari jika Sungchan boleh bilang.
"Aku bakal kerja keras supaya kita bisa pindah ke rumah yang ada kamarnya." Sambung Sungchan selagi pandangi pucuk-pucuk menara milik orang kaya yang nampak dari jendela rumah baru mereka. "Nanti kamu punya kamar sendiri."
"Aku juga mau kerja!" tekad Wonbin penuh semangat. "Aku nggak mau susahin kamu kayak ibu panti bilang!"
"Ya udah, beresin kopernya dulu."
"Huft, nanti aja ya." Wonbin mendesah saat lihat tumpukan barang mereka masih sama di sana, dia malas sekali berberes. Sungchan terkikih sebab tahu tabiat itu maka dia segera tinggalkan kusen jendela 'tuk mulai membongkar barang agar dia dan Wonbin bisa makan malam dengan nyaman nantinya.
Bukan masalah kalau rumah sewanya tergolong sempit untuk berdua asalkan fasilitas minimumnya lengkap. Saat pintu dibuka dua buah futon tergulung suguhi mata, sebenarnya pemilik gedung hanya sediakan satu futon tapi Sungchan minta tambahan jadi dua. Sebelah kiri dari pintu ada kompor dan wastafel cuci piring. Wonbin tetap bisa belajar memasak meski tampilan dapurnya memang nggak menarik. Lalu kamar mandi tanpa bak melainkan hanya toilet duduk dan sebuah shower. Semua fasilitas sudah disebutkan. Nggak ada ruang lain sekadar dipakai untuk ganti baju.
"Kamu gapapa, Wonbin?!"
Sungchan langsung lempar baju-bajunya sembarangan saat lihat Wonbin hampir tersungkur pegangi perutnya.
"S-sakit."
"Kenapa tiba-tiba?" Sungchan temukan wajah Wonbin berkeringat pucat semakin buatnya panik. Dia berlari ke arah wastafel dan menampung segelas air untuk Wonbin minum. Badan lelaki itu menjadi kaku sebab keram perutnya buat semua saraf ikut tegang.
"Waktu di stasiun Dwaemundong tadi," Wonbin mulai cerita setelah perutnya agak mereda walau keringatnya masih bercucuran, "ada ibu-ibu yang lagi bagi-bagiin roti kacang merah."
Sungchan hela napas nggak habis pikir. "Kamu ambil rotinya?"
Sesuai prediksi, Wonbin mengangguk. "Iya, aku laper."
"Wonbin, kita pendatang di sini. Kita nggak tau apa-apa tentang kota sebesar ini dan gimana sifat orang-orangnya." Sungchan beri nasihat. "Kamu liat orang-orang di Myangri baik bukan berarti satu dunia juga bakal baik sama kamu. Lain kali jangan terima apapun dari orang asing ya, apalagi makanan."
Wonbin masih bisa tersenyum 'tuk cairkan suasana, sadar betul bahwa dirinya konyol. "Tapi rotinya enak."
Sungchan mendengus sebab masih ada panik dalam dadanya. "Kamu istirahat aja dulu ya, biar aku yang beli makanan buat kita makan malam."
Wonbin sudah berbaring di atas futon ketika Sungchan pamit membeli makanan. Walau cemas dia tinggalkan Wonbin sendirian yang masih rasakan sakit dalam perutnya. Seperti ada sesuatu yang berderak hendak pecahkan semua organnya atau sebenarnya Wonbin yang nggak tahu kalau memang ada organ lain yang tumbuh. Wonbin pukul-pukuli perutnya sebagai ganti teriakan sebab akan mengganggu tetangga. Sakit, sakit sekali. Wonbin terus lirihkan nama Sungchan berharap yang lebih tua segera kembali tapi dia berakhir pingsan.
Polosnya Wonbin ingin redakan lapar dengan sebungkus roti kacang merah dari orang asing buat dirinya harus menghadapi suatu fenomena maha dahsyat. Alkitab nggak akan bisa jelaskan apa yang terjadi pada Wonbin sebab itu bukanlah bagian dari mukjizat atau firman Tuhan, melainkan kutukan.
tbc.
