Actions

Work Header

i riattaccati

Summary:

Saat Sky memutuskan untuk membuka hati dan mulai swipe kanan, cinta pertamanya malah kembali.

Notes:

Most of the stories will take place in Italy (esp. Milan)

Chapter 1: l'anteprima

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Autumn/end of summer.

Sky merutuk saat merasakan hembusan angin menerpa lengannya, "Duh, dingin." Dia tahu bahwa musim panas sudah berakhir, tapi dia juga tidak menyangka kalau akan berakhir secepat ini. Pasalnya, yang di hadapannya pun masih segelas spritz campari, bukan cokelat panas. Tapi kalau dipikir-pikir, dengan cuaca sedingin ini, seharusnya memang dia tidak usah repot-repot memikirkan cuaca dan langsung pesan yang hangat-hangat saja.

Kaki bersilangnya tengah bergoyang tidak sabar sembari empunya mengecek ponsel. Masih jam empat sore, tapi ini artinya dia sudah menunggu hampir tiga puluh menit. Setengah jam. Yang benar saja? Kalau begitu kenapa dia harus buru-buru dari kelas tadi untuk ke sini? Dengan kesal, Sky pun mengetik, [Sampe mana njing?]

Setelah beberapa teguk alkohol, barulah balasan tiba, [Sori tadi mampir bentar beli bolpen. Otw.]

"Bolpen?" Sky menggumam pelan, masih tidak percaya apa yang barusan dibacanya. Dia tidak percaya kalau sahabatnya, si paling bucin yang saking bucinnya sampai tidak niat kuliah, mendadak beli alat tulis. Buat apa? Dia mencatat pun tidak! Namun Sky berusaha tidak ambil pusing, jadi dia hanya menikmati orang lalu lalang sampai menunggu temannya datang.

Selang sepuluh menit kemudian, dia melihat seorang sosok yang berjalan santai tengah melambaikan tangan. Biasanya, Sky akan membalas, tapi hari ini dia kelewat bete untuk membalas gestur itu. Jadi dia hanya melirik dengan tatapan tajam saat pemuda itu menarik kursi di seberangnya dan duduk tanpa terlihat berdosa sama sekali.

"Lama amat baru dateng, hari ini padahal nggak sciopero."

Pemuda itu hanya terkekeh kecil, "Sori bro, tadi gue kan udah bilang kalau mau mampir bentar beli alat tulis."

"Lu beli bolpen berapa banyak, sih, emang? Gue nungguin hampir sejam nih!" Sky membalas, hampir berteriak saking frustrasinya.

Namun, lawan bicaranya hanya tersenyum kecil, "Sori banget bro, tadi kartu debit gue rejected semua, jadi tadi harus narik cash dulu. Lu ngerti sendiri kalau sekitaran Bolivar jarang ada ATM."

"Lu juga aneh-aneh, ngapain ke daerah sono? Kampus lu aja nggak di situ."

"Ngidam matcha beneran, bro. Merek yang gue cari cuma ada di supermarket Korea yang di sana."

Sky berusaha mengingat-ingat supermarket yang dimaksud sahabatnya, tapi berhubung dia tidak terlalu picky soal makanan, dia cenderung menerima nasib dan belanja di supermarket biasa, alih-alih harus pergi ke supermarket Asia yang sebegitu jauh. Sky pun pada akhirnya hanya mengangkat pundaknya, "Lupa yang mana." Lalu dia mengalihkan topik pembicaraan, "Eh, Kin, omong-omong lu udah pesen? Cameriera di sini galak, kalau lu nggak pesen segera ntar kita diusir."

"Oh iya, lupa. Ini gue langsung pesen di kasir apa gimana?"

Sky memutar matanya, "Billkin, lu kayak baru tinggal di Italia berapa bulan dah. Terserah lu!"

Billkin segera beranjak dari kursinya dan tidak mengindahkan tatapan sewot Sky. Setelah beberapa menit, dia pun kembali dan Sky langsung bertanya, "Pesen apa lu?"

"Campari cynar," jawabnya cepat. Sebelum Sky bisa merespon, dia cepat-cepat menambahkan, "Penginnya sih gitu! Sayangnya nggak bisa, jadi gue pesen misto doang."

Sky pun mendengus saat mendengar balasan dari Billkin, "Tumben pesen misto. Biasanya campari."

Dia menggeleng, "Nggak dulu bro, gue besok ada presentasi."

Pembicaraan pun bergulir hingga lebih dari satu jam, rasa jengkel di dada Sky yang tadi dirasakannya saat menunggu Billkin hingga hampir mati kutu juga perlahan mereda. Mungkin saja gelas-gelas aperitivo yang diminumnya ikut menyumbang ke tenggelamnya perasaan negatif. Saat dia mengangkat tangan ingin memesan satu gelas lagi, Billkin langsung menegurnya, "Buset, lu udah tiga gelas bro. Pelan-pelan woy, ini bukan weekend."

Tapi Sky tidak menggubris perkataan itu. "Biarin lah," tukasnya, "gue besok kelas sore satu doang."

"Anjir bro satu ini minum seperti tidak diperhatikan pacar saja."

"Tai," Sky merespon kasar, "Ya emang jomblo gue! Puas?"

Billkin hanya terkekeh, "Makanya, buruan cari. Katanya udah ada dating apps? Mana nih hasilnya? Udah dua minggu nih!"

"Susah bro, belum nemu yang cocok."

"... Belum nemu atau emang nggak nyari?" Billkin menyeloroh, tapi sebenarnya dia sedikit menyindir sahabatnya yang satu ini. "Masa dua minggu beneran nggak ada yang kecantol? Lu swipe kiri semua, ya?"

Menurut Sky, bisa kuliah bersama dengan sahabatnya adalah suatu berkah, tapi di saat seperti ini, rasanya kehadiran Billkin menjadi musibah untuknya. Bila ada satu topik yang Sky kurang suka, ini dia topiknya—soal jodoh. Dia memang selalu mengeluh capek jomblo, tapi Billkin tahu alasannya menjomblo dan Sky selalu merasa gerah dengan fakta tersebut. Untung saja hari ini suasana hatinya bagus, jadi dia bisa membalas, "Iya, gue swipe kiri semua. Soalnya standar gue ketinggian, yang di apps levelnya cetek semua."

Billkin balas tertawa, "Alesan mulu lu. Kurang cocok atau emang lu belum move on dari oknum abang-adek?"

Sky hanya mendengus geli. 'Oknum abang-adek' adalah suatu frase yang keduanya buat sebagai kamuflase untuk menutupi identitas seseorang yang membuat Sky (bisa dibilang) gagal move on selama bertahun-tahun. Bukan, bukan karena ada dua orang yang membuatnya patah hati, tapi lebih karena menurut Sky, orang itu adalah seorang abang dengan feel seperti memiliki seorang adik. Setiap Sky ada di dekatnya... Sky selalu ingin melindunginya padahal Sky tahu bahwa orang itu lebih tua darinya. Jadilah, dia diam-diam menyebut orang itu 'abang-adek'. Si abang dengan rasa layaknya seorang dedek. Seorang abang yang selalu ingin Sky lindungi. Si abang yang senyumnya lebih menggemaskan dari dedek manapun.

Pada akhirnya, Sky tidak menjawab. Dia malah mengalihkan pembicaraan ke hal lain, mulai dari sepakbola, tiket konser yang ingin dia jual kembali, sampai ke berita mengenai evakuasi paksa dari polisi ke beberapa rumah imigran. Jujur saja, Sky menikmati waktu nongkrong dengan Billkin dan saat mereka berbincang, matahari seolah terbenam lebih cepat. Hampir semua topik sudah mereka bicarakan hingga tibalah di momen dimana keduanya hanya fokus ke ponsel sendiri. Sky sendiri, karena perkataan Billkin mengenai jodoh tadi, malah berakhir membuka dating apps dan mencoba swipe kanan ke beberapa kandidat yang menurutnya menarik.

Billkin yang iseng mengintip ponselnya, langsung berkomentar, "Nah gitu dong, swipe kanan dikit kek biar move on-nya lebih cepet."

"Dari tadi nyebut move on mulu lu. Nggak ada kata lain apa?"

"Nggak," balas Billkin sambil menjulurkan lidahnya, "Lagian seru nih ngegangguin lu."

"Sialan."

Setelahnya, mereka kembali diam, sibuk dengan ponsel masing-masing. Hingga tiba-tiba dahi Billkin berkerut dan matanya terbelalak seolah tidak percaya. Dia berulang kali menggumam tidak jelas, hingga Sky yang tadinya tak acuh, mulai terganggu dengan suaranya. "Apaan sih Kin?" tanyanya tak sabar.

"Lu...," kata-katanya terputus di tengah-tengah. Raut wajahnya nampak kesulitan merangkai kata-kata, tapi pada akhirnya dia hanya berujar, "Khun Sky Wongravee, kalau menurut gue sih emang semesta nggak pengin lu move on."

Sky sudah terbiasa dengan perkataan asbun sahabatnya ini, jadi dia tidak terlalu berpikir panjang soal apa yang terjadi. Lagipula, Billkin itu aktor handal, sehingga apapun bisa menipunya. Dia hanya berdecak kesal, "Nggak jelas lu, Kin."

"Nggak jelas apanya?" Billkin mendadak sewot mendengar kata Sky, "Nih, kalau lu nggak percaya coba cek DM yang barusan gue kirim!"

Setelah mengucapkan hal itu, ada notifikasi masuk dari Billkin di DMnya; pemuda itu membagikan sebuah postingan. Sky segera mengecek DM miliknya karena tidak punya kecurigaan apapun, tapi segera rahangnya mengeras.

Postingan yang barusan Billkin kirimkan sebenarnya hanyalah postingan biasa. Ada seorang pengguna mengunggah beberapa foto lokasi ikonik di Milan seperti Duomo di Milano, Navigli, Castello Sforzesco, San Siro, tak ketinggalan patung Napoleon Bonaparte di courtyard Brera. Di bawahnya ada caption satu kalimat yang cukup simpel: "Ciao Milan, please be nice to me onwards."

Namun, masalahnya bukan dari foto-foto yang diunggah (jelas, Sky sudah terlalu lama tinggal di sini hingga bosan dengan semua fotonya) ataupun dari caption yang jelas seratus persen harmless. Masalahnya justru adalah pemilik akun itu.

@hirunkit_

Sky sampai membacanya berulang kali, memastikan bahwa minus di matanya tidak bertambah dan dia tidak berhalusinasi. Tapi, entah berapa kali dia memeriksa, tetap saja pemilik postingan itu tidak berubah. Masih orang yang sama.

"Udah liat 'kan?" tanya Billkin memastikan.

Namun pemuda ini masih belum merespon. Dia masih kebingungan untuk mencerna semua informasi yang barusan diterimanya.

"Ini beneran di Milan?" akhirnya dia bertanya, tapi lebih terdengar seperti meyakinkan dirinya sendiri.

"Iyalah, emang San Siro di mana lagi?"

Ada banyak pertanyaan terlintas di benaknya. Kenapa dia sampai sini? Dia di sini sampai kapan? Ngapain dia di sini? Dia ke sini kerja, atau kuliah, atau ngapain? Sejak kapan dia di sini? Dan pertanyaan lain terus bermunculan, tapi yang keluar dari mulutnya hanya sebuah serapah, "Anjir...."

Billkin pun tertawa, "Emang apes ya lu, pas akhirnya nyoba move on dan swipe kanan, malah disamperin sama first love lu!" Lalu dia langsung bertanya, penasaran, "Gimana? Seneng nggak dia di sini? Mau disamperin nggak?"

Sebenarnya Sky bukan hanya ingin, justru dia MAU BANGET mendatangi pemilik akun itu dan mengajaknya nongkrong, walau hanya sekadar beli cappuccino di bar murahan dekat kampus sebelum kelas pagi. Hanya saja....

"Emang bisa? Kita udah sepuluh tahun lebih nggak kontakan."

"Bisa lah. 'Kan nggak susah," Billkin menjawab dengan percaya diri.

"Caranya?" Sky jadi tidak sabar mendengar jawabannya.

"Coba aja lu DM dia."

Sayangnya saran Billkin bukan sesuatu yang bisa dia gunakan, "Anjir, blak-blakan banget."

"Tanya temen sekelasnya."

"Tapi gue aja nggak tahu dia di sini kuliah atau nggak?"

"Bener juga." Billkin kemudian mulai berpikir karena jujur, idenya mulai habis. Akhirnya setelah berpikir agak lama, dia hanya bilang, "Hm, tanya ke ortunya deh kalau gitu? Katanya lu kenal kan."

Mendadak Sky jadi ingin tepok jidat. Dia lupa kalau sahabatnya ini pemegang gelar tukang asbun nomor satu segalaksi bima sakti.

Notes:

List aperitivo Italia dari yang paling tinggi alkoholnya ke yang rendah (source: trust me I've tried them all):
1. Campari cynar (they don't have this outside Veneto)
2. Spritz campari
3. Spritz select (they don't have this in Milan)
4. Spritz cynar (idem)
5. Spritz misto
6. Spritz aperol