Work Text:
Di suatu petang di bawah mentari kota suci ini yang bersinar abadi, aku menatapmu untuk yang terakhir kali. Kala itu kita berdua tersenyum, meskipun rasanya hatiku tengah dibelah dua dan aku tahu kau terus berusaha menunda kepergianmu yang tak terelakkan. Aku dan kau sama-sama tahu bahwa 'kita' tidak akan pernah berlangsung lama, tidak akan pernah bisa menjadi prioritas kita. Ada perang yang membayang dan takdir yang menanti, meski sejatinya aku tak akan ragu mengakhiri Waktu agar 'kita' bisa kekal, kasihku.
Ah, tapi aku tidak boleh egois bukan? Kita semua memiliki peran masing-masing, seperti yang telah tertoreh dalam ramalan yang membimbing kita semua. Ramalan yang merenggut segalanya dari kau dan aku, dan kini merenggutmu dariku.
Kita semua memiliki peran masing-masing, maka ku lepas kau untuk menjemput takdirmu, kasihku. Pulanglah ke tahtamu, wahai rajaku, dan junjunglah tombak Pertikaian itu dengan inti dewata yang telah kau terima. Ada medan perang yang menunggumu di sana, pun juga ada pertempuran yang mesti ku jalani sendiri.
Kau dan aku sama-sama membenci kebohongan, pun juga kita enggan untuk mengucap janji palsu. Oleh karena itu aku tak akan memintamu untuk pulang, dan kau tak meminta untuk bertemu kembali, karena kita berdua tahu mungkin reuni itu tidak akan pernah tiba. Atau mungkin takdir belum puas menertawakan kita, dan ia akan mempertemukan kita kembali di medan perang, di saat kegelapan telah menguasai pikiranmu dan seluruh memori tentang aku dan kita telah tiada. Ruas tulang belakang kesepuluh - aku ingat. Jika takdir menetapkan kisah kita berakhir tragedi, akan ku akhiri kau dan 'kita' dengan bilah pedangku sendiri, dan biarkan itu menjadi bukti terakhir cintaku padamu.
Mungkin akan ada hari di mana kau dan aku tidak perlu menjadi pahlawan. Kau tidak perlu mengurung diri dalam perang yang tak pernah usai, dan aku tidak perlu menjunjung dunia di atas bahuku. Mungkin di kehidupan selanjutnya kita dapat berbaring dan membaca di bawah rindang pohon alih-alih mengemban takdir yang tidak pernah kita inginkan. Mungkin di masa depan yang hanya angan belaka itu, kita dapat bercinta tanpa dihantui bayang, dan lembar cerita kita akan berakhir lembut tanpa duka dan air mata.
Aku dan kau memang tidak bisa bertahan lama, binarnya berlangsung sepanjang kedipan bintang jatuh. Namun meski kita adalah masa yang berlalu hanya sepintas, ketahuilah bahwa mencintaimu adalah anugerah terindah yang pernah aku terima.
Mungkin di kehidupan selanjutnya kita akan abadi, kasihku, layaknya binar mentari yang terus bersinar hangat di atas kota suci ini. Namun ini adalah kehidupan kita, maka cukuplah kisah kita sampai di sini saja. Meski dalam setiap malamku aku akan berdoa kepada bilah pedang yang menaungi langit, agar aku dapat menyambutmu pulang dengan senyuman di wajah kita.
