Work Text:
Tawa yang biasanya jadi penyemangat buat Hanbin untuk kali ini bikin telinganya merasa pengang dan terbakar. Padahal dari posisinya sekarang, apalagi dengan adanya eksistensi kaca yang memisahkan dance floor di lantai dasar dan dirinya di ruang VIP, Hanbin boro-boro bisa mendengar tawa itu. Tapi Hanbin bisa melihat jelas bibir cantik yang memerah akibat kebanyakan menenggak alkohol itu membentuk kurva sehingga hasilkan tawa centil dan bikin pria di sekelilingnya terhibur. Tawa milik Jiwoong sekarang dibagi-bagi untuk enam orang pria lain yang mengelilingi si cantik pujaan hatinya, juga beberapa pria asing yang kebetulan berdiri dekat Jiwoong di dance floor .
Padahal alih-alih cuma jadi penonton, para pria yang merupakan bawahannya di kantor sudah mengajak Hanbin untuk ikut ‘berdansa’ bareng Jiwoong, sekretarisnya yang malam ini jadi biduan dadakan. Namun Hanbin menolak, berpura-pura jaga image karena dirinya merupakan seorang direktur. Kalau bukan karena Jiwoong ikut merayakan keberhasilan mereka dalam memenangkan sebuah tender besar minggu lalu, Hanbin juga aslinya tidak mau datang ke salah satu ruang VIP di sebuah tempat club terkenal yang sudah dipesan untuk malam ini. Lagipula Hanbin sadar karyawannya diam-diam memasang ekspresi lega waktu ia menolak ikut ke dance floor , senang karena bisa clubbing tanpa sosok direktur yang membuat canggung.
Tapi untungnya Hanbin memilih mengekori Jiwoong walau tidak ikut turun, karena kalau tidak, entah apa yang akan terjadi. Hanbin percaya Jiwoong bisa menjaga batasan meski status hubungan mereka masih tersembunyi dari orang-orang yang menganggap mereka hanya sebatas direktur dan sekretaris. Namun orang-orang itu yang tidak Hanbin percayai. Lihat saja, mereka sekarang berdiri mengelilingi Jiwoong yang sudah teler, masing-masing menenteng sebotol minuman keras sambil meyakinkan Jiwoong agar minum lebih banyak lagi. Hanbin tidak mencegah maupun melarang, hanya mengawasi sampai sejauh mana mereka bertindak. Walaupun belum ada yang tahu kalau Jiwoong adalah pacar Hanbin, meskipun Hanbin menonton dari jarak jauh, tapi mengingat posisinya yang seorang sekretaris tetap membuat mereka semua tidak berani macam-macam kepada Jiwoong kalau ada Hanbin.
Hanbin pelan-pelan menyesap gelas whiskey sambil jadi kamera pengintai lewat ruang VIP berkapasitas 15 orang. Matanya tajam mengikuti gerak-gerik Jiwoong yang asik sendiri, memutar pinggulnya bagai seorang LC profesional yang disewa pakai kartu debut milik perusahaan. Pantat semok yang malam ini dibalut celana bahan ketat bikin Hanbin gregetan, untung tidak ada yang berani pegang-pegang aset pribadinya.
Namun kesabaran Hanbin tidak bertahan lama.
Whiskey yang baru masuk mulut Hanbin hampir dilepeh waktu matanya menangkap Jiwoong yang tarik tangan Hao dibarengi senyum centil. Bibirnya terbuka separuh, melongo lihat Hao pasrah mengikuti arah tarikan Jiwoong bersama segelas bir serta iringan sorak-sorai rekan-rekan kerjanya. Dan sorakan makin pecah ketika Hao posisikan badannya di belakang Jiwoong lalu dengan semena-mena lingkarkan tangan ke pinggang ramping yang terekspos akibat croptop-nya naik nyaris sampai ke dada.
Mungkin Jiwoong sudah terlalu mabuk. Mungkin Jiwoong tidak menyadari tindakannya sendiri. Tapi masalahnya, di antara semua pria yang ada di sana kenapa Jiwoong spesifik memilih Hao? Hao yang jadi bahan aduan Jiwoong kepada Hanbin karena kerap kali mengirimkan pesan-pesan bernada menggoda. Hao yang sering membuat Jiwoong ngedumel di depan Hanbin karena lagi-lagi mengajaknya pulang bareng. Hao yang bikin Jiwoong ngomel ketika sedang kencan dengan Hanbin karena tidak berhenti mengganggunya dengan dalih menanyakan dokumen.
Hao yang naksir Jiwoong, tapi Jiwoong sudah punya Hanbin, dan Jiwoong juga tidak bisa menolak secara gamblang karena tidak mau menimbulkan kabar miring di perusahaan.
Kesabaran yang terkikis habis bikin Hanbin melemparkan gelas berisi cairan whiskey yang tersisa sedikit ke meja ruang VIP sambil melangkah menuju pintu. Pecahan gelas jadi makin remuk ketika terinjak alas sepatu mahalnya. Kaki-kakinya melangkah cepat menuruni tangga, menyusul sekumpulan anak muda yang sedang menikmati malam.
“Jiwoong.”
Tujuh pasang mata mengarah pada Hanbin yang tiba-tiba sudah sampai di dance floor dan merangsek maju menghampiri Jiwoong sekaligus Hao di tengah kerumunan. Tarian Jiwoong terhenti, sisakan tatapan sayu dan badan sempoyongan. Hanbin baru berhenti melangkah ketika posisinya berada di depan Jiwoong, sandwiching that boy between him and Hao.
Hanbin kira Jiwoong bakal ketakutan, seperti ia yang biasanya langsung menciut kalau Hanbin sudah pasang raut serius. Namun di luar nalar, bibir basah Jiwoong malah menyunggingkan senyum yang belum pernah Hanbin lihat sebelumnya, sekalipun mereka lagi bergelut berdua di tempat tidur. Tangannya yang bebas dari gelas alkohol melingkari leher Hanbin, menariknya agar maju semakin rapat.
“Bapak mau ikut nari sama aku?”
Sorakan kembali riuh memenuhi gendang telinga Hanbin waktu Jiwoong lanjut menggoyangkan pinggul, pantatnya slightly grinding ke badan Hao yang ada di belakang, tapi tangan berpegangan ke leher Hanbin. Pandangan Hanbin bergeser pada pria di belakang Jiwoong, dan ia menyesal karena hal itu bikin darahnya makin mendidih sampai ke ubun-ubun. Hao menyeringai lebar sampai gigi-giginya terekam lensa mata Hanbin, sengaja banget menunjukkan ajakan peperangan non-verbal . Tangan yang pegang kaleng bibir melingkar lewat leher Jiwoong, lalu ia tenggak minumannya tanpa lepaskan pandang dari Hanbin.
Hanbin had enough.
Ditepisnya tangan Jiwoong dari leher meski sebabkan yang lebih muda terdorong makin dalam ke dekapan Hao. Direbutnya gelas dari tangan Jiwoong lalu melemparnya ke lantai, resmi jadikan gelas itu sebagai gelas kedua yang ia pecahkan. Aksinya membuat beberapa pasang mata terkejut, bukan hanya para bawahannya tapi juga orang-orang yang kebetulan berada di dekat mereka. Matanya kembali berputar ke arah Jiwoong dan sadar kalau pacarnya sudah minum di atas ambang batas kemampuan karena bukannya terpengaruhi oleh keributan yang Hanbin timbulkan, ia sekarang malah menggeliat di pelukan Hao sambil meracau tidak jelas.
“Jiwoong, ayo pulang.” Ucap Hanbin tegas sambil mencoba rebut pacarnya dari dekapan Hao.
Kelihatannya Jiwoong sama sekali tidak takut, atau mungkin karena kesadarannya entah sedang bersembunyi di mana. Badannya malah makin menempel pada Hao, setengah memeluk sambil menggeliat centil. Padahal yang lain sudah meringis ngeri karena melihat tanduk iblis muncul dari kepala Hanbin yang berasap, tapi Jiwoong malah tertawa-tawa centil.
“Kamu aja yang pulang.. aku masih mau di sini bapaaaak..”
“Pulang, Jiwoong.” Hanbin menarik tangan Jiwoong sekali lagi, tanpa repot-repot meminta Hao lepaskan rangkulannya.
“Mhh..” Jiwoong merengek manja dilengkapi bibir cemberut “Dibilang aku masih mau di siniiii..”
“Tuh denger, anaknya juga masih asik di sini.”
Mendengar Hao akhirnya buka suara bikin rasa cemburu Hanbin nggak bisa ditahan lagi. Ia jadi tarik tangan Jiwoong kasar sampai rangkulan Hao terlepas dan badannya jatuh ke dada Hanbin. Bukan cuma itu, kaleng bir di tangan Hao ikut kena goncangan akibatkan sebagian isinya tumpah membasahi pakaian Jiwoong.
“Pulang, Ji!”
“Ih, bapak!!!” Jiwoong dorong badan Hanbin, melepaskan diri dari cengkramannya. Bibirnya cemberut sambil mengamati baju yang basah dari dada sampai ke perut. “Baju aku jadi basah ih!!!”
Gerutuannya bikin telinga Hanbin makin berdenging panas. Abaikan karyawan dan para stranger, Hanbin tarik pinggang Jiwoong untuk mengangkatnya ke pundak bagai sekarung beras. Tanpa mempedulikan bawahannya yang ditinggalkan di dance floor, tanpa mengindahkan tatap terkejut dari orang-orang yang berpapasan di tangga menuju lantai dua, badan Jiwoong dipanggul seakan berat badannya tidak lebih dari 60 kilogram. Hanbin sadar Hao mengekori mereka berdua, tapi pilih mengabaikannya.
Niat Hanbin ke ruang VIP cuma mau mengambil barang-barang Jiwoong yang tertinggal, tapi dirinya terdistraksi sewaktu mendengar suara pintu dikunci. Ia memutar badan, mempertemukan pandangannya dengan Hao yang berdiri di dekat daun pintu. Salah satu alis Hao terangkat, tengil, memberi gesture menantang.
Gara-gara terdistraksi, Hanbin jadi tidak sadar kalau pegangannya di badan Jiwoong melonggar hingga pria yang lebih muda darinya itu turun dari gendingan dengan mudah. Hampir saja Jiwoong terguling ke lantai kalau Hanbin tidak buru-buru sadar dan memegangi pinggangnya. Kepala Jiwoong mendongak, bibirnya manyun dan pipi menggelembung marah.
“Bapak ih aku pusing tau!!!”
Diiringi langkah sempoyongan, Jiwoong bergerak menuju sofa panjang di ruang VIP lalu menghamburkan diri begitu saja. Setengah badannya menelungkup di sofa, setengahnya lagi menggantung sampai ke lantai. Hanbin yang melihat hanya menghela nafas panjang, sedangkan Hao mendengus geli.
“Lucu.”
Gumaman yang bisa didengar Hanbin bikin pria itu kembali daratkan atensinya pada Hao ketika pria itu meneguk bir dalam kaleng yang masih setia digenggam. Sadar dirinya diperhatikan, Hao balas menatap Hanbin lalu mengerling genit.
“Ngapain ngeliatin gue? Masih naksir?” Dagu lancipnya menunjuk ke arah Jiwoong yang terkulai di sofa. “Pacar lu di sana.”
Kening Hanbin mengkerut samar, seingatnya baik di kantor maupun di luar kantor belum ada satu pun yang diberi tahu mengenai jalinan asmara antara dirinya dan Jiwoong. Tidak mungkin kan Jiwoong kelepasan di depan Hao?
“Gue tau kali lu pacaran sama Jiwoong.”
“Kalau tau, kenapa berani-beraninya lu ngejar Jiwoong?”
“ He’s pretty and cute. ” Senyum licik tersaji lewat bibir tebal Hao. “ Or I'm just trying to mess with you .”
Hanbin menghela nafas panjang entah untuk keberapa kali malam ini. Senyuman Hao dari dulu selalu bikin dirinya muak. Tapi dibanding meladeni, Hanbin lebih pilih mengabaikannya.
“ Stop obsessing with me. ”
Si Direktur muda menyusul pacarnya yang masih tak bergerak di sofa. Terdengar dengkuran halus waktu Hanbin berjongkok di depan wajahnya yang menoleh ke samping. Ia tepuk pelan pipi merah Jiwoong mencoba peruntungan untuk membangunkannya.
“Jiwoong, ayo pulang.”
Jiwoong cuma merengek pelan, menggeleng sebentar untuk mengusir tangan Hanbin dari pipinya. Hanbin tidak lantas berhenti di sana, ia menjajal percobaan kedua dengan angkat bahu Jiwoong untuk mengembalikannya ke dalam gendongan tapi yang lebih muda malah melawan. Sampai usahanya harus terdistraksi lagi ketika sebuah telapak tangan mengelus lehernya halus.
“Nggak usah dipaksa kali, biarin aja.”
“Anjing, Hao!”
Tangan Hao ditepis kasar sebelum Hanbin bediri dan berbalik menghadapnya. Ingin sekali ia tinju wajah rupawan yang malah tertawa mengejek alih-alih merasa tersinggung. Tapi daripada malah jadi headline berita keesokan hari karena membuat keributan di ruang VIP sebuah klub ternama, Hanbin lebih pilih mengepalkan tangan demi meredam emosi.
“Galak banget.” Hao sama sekali tidak takut pada Hanbin, sekali pun ia ingat laki-laki di hadapannya ini berstatus atasan di kantor. “Kayak dulu nggak pernah cium-cium kaki gue aja.”
“Gak usah bahas masa lalu, dulu juga lu yang ngancem mau loncat dari rooftop kantor buat gak ditinggal.”
Hao mendengus. “Gue kayak begitu juga gara-gara lu sendiri. Belum aja bocah kayak Jiwoong juga muak sama kelakuan sengak lu itu.”
Hanbin mengatupkan bibir rapat-rapat, enggan membalas fakta yang terucap dari bibir Hao. Keduanya diam, sama-sama menatap Jiwoong yang tidur mendengkur di sofa. Mukanya kelihatan tenang sekali, seperti bayi yang tidur di gendongan ibu, lupa kalau beberapa saat lalu habis menjadi biduan penggoda pria
“Tapi Bin,” Hao berbisik sambil rapatkan lagi badannya mendekati Hanbin. “Pasti seru ya punya pacar yang gampang diatur dan penurut kayak Jiwoong.”
“Iya, nggak gila kayak lu.” Hanbin mengabaikan tangan Hao yang seenak jidat melingkari lengannya. “Jangan macem-macem, Hao, dia punya gue.”
Hao mengedikkan bahu. “Lu berdua bisa jadi punya gue, sebenernya. Atau kita bisa pake Jiwoong bareng-bareng.”
Hanbin ingin mengatai Hao lebih dari sekedar kata ‘gila’, tapi segala sumpah serapahnya tidak akan berarti bagi Hao. Dulu waktu mereka masih ‘bersama’, tidak jarang Hao terang-terangan membicarakan ketertarikannya pada orang lain. Bahkan tidak jarang juga Hao merayu Hanbin untuk mengajak orang lain ‘ikut’ dengan mereka.
Hanbin jadi makin hilang fokus kala Hao bergeser ke belakangnya dan lingkarkan kedua tangan di perut Hanbin. Kakinya yang sedikit lebih jenjang membuat Hao bisa sandarkan dagu ke pundak Hanbin tanpa kesulitan. Bibir tebalnya beri tiupan halus ke telinga Hanbin, bikin pria yang tengah ia gerayangi bergidik kegelian.
“Mau nggak bikin anak itu nangis bareng-bareng?”
Suara Hao pelan dan mendayu, menggoda cemburu Hanbin berubah jadi nafsu. Hao bagai rubah licik, selalu tahu caranya bikin Hanbin tunduk dan mendapatkan apa yang ia mau.
“Dari dulu nggak pernah berubah lu Hao.”
Hanbin menyerah sewaktu Hao gigit lehernya main-main. Hembus nafas hangat menggelitik telinga. Basah dari liur bercampur bir bikin kulitnya meremang.
Gantian ia yang menangkap Hao dan menariknya hingga posisi mereka bertukar, Hao jadi pindah ke depan Hanbin. Mukanya yang kecil ditangkup tangan besar Hanbin, dicium menggebu-gebu, tanpa aba-aba, sambil Hanbin lampiaskan semua yang terasa mengganggunya. Lampiaskan cemburu karena Hao mengejar Jiwoong, lampiaskan kalut usai Hao mengajaknya lakukan hal amoral. Hubungan tanpa status mereka sudah berakhir sebelum Jiwoong masuk ke perusahaan dan menjadi sekretaris Hanbin. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Hanbin mencium bibir yang pernah jadi candu walau penuh rayuan iblis.
Hanbin sadar Hao tersenyum di sela-sela ia meraup dan menggigit kasar bibir tebal itu. Geramannya tertahan di mulut kala Hao julurkan lidah mengajak miliknya bertaut. Lidah Hanbin dibawa masuk ke dalam mulut Hao, diajak menjelajah seiring dengan jari-jari panjangnya menelusup ke dalam helai rambut hitam Hanbin dan membelai kulit kepalanya.
Decapan bibir mereka berisik dan basah, tanpa sadar ada sepasang mata yang terbuka akibat tidurnya diganggu.
“Pak Hanbin, Pak Hao, kok ciuman gak ngajak aku?”
Rengekan manja berhasil membuat pautan bibir terlepas. Keduanya sama-sama memalingkan muka menatap Jiwoong yang tahu-tahu sudah duduk di sofa. Mata besarnya setengah teler, dan pipinya merah padam sisa efek alkohol.
Cantik, persis boneka.
Tapi Hanbin tidak punya banyak waktu untuk mengagumi kecantikan Jiwoong. Ia keburu panik dan gelagapan akibat pacarnya memergoki dirinya habis bercumbu dengan pria lain. Jiwoong memang masih di bawah pengaruh alkohol, tapi kalau sampai Jiwoong ingat semuanya seusai kesadaran kembali, tamat riwayat Hanbin.
“Jiw–”
“Bapak kan pacar aku, kenapa malah ciuman sama cowok lain?” Bibir bawah Jiwoong maju dua senti. “Pak Hao juga katanya suka aku, terus kenapa Pak Hanbin yang dicium?”
“Sayang, maaf–”
“Cium aku ajaaaa, jangan pacaran berdua. Harusnya kan aku yang direbutin… hiks..”
Mata Hanbin melotot, berbeda dengan Hao yang malah tertawa. Sebelum Hanbin mendekati Jiwoong, dia yang lebih dulu merangsek maju. Tangannya terulur ke puncak kepala Jiwoong, lalu turun menelusuri pipi dan bermuara di dagu. Ujung jarinya arahkan muka Jiwoong yang tadinya sejajar dengan perutnya jadi mendongak menatap ke arahnya.
“Jiwoong mau dicium juga, cantik?”
Jiwoong mengangguk selayaknya anak patuh. “Mau. Daripada Pak Hao ngejar aku dan rebutan sama Pak Hanbin, mending kalian pake aku bareng-bareng aja deh.”
Hao memalingkan muka ke arah Hanbin, menyeringai puas. “Denger, kan? Anaknya sendiri yang minta dipake bareng-bareng.”
Kepala Hanbin sudah kepalang dipenuhi kabut. Pertama, karena rasa cemburu yang mengawali semuanya. Kedua, karena Hao yang terus-terusan menggertak dan bikin Hanbin menyerah kepada rasionalitas. Ketiga, karena Jiwoong yang sekarang menatapnya penuh rasa memohon, menjulurkan kedua tangan ke arah Hanbin. Sama persis seperti Jiwoong yang selalu menurut dan jadi fully submissive tiap mereka berada di ranjang.
Lama-lama Hanbin ikut mendekat, jari-jarinya ambil alih dagu Jiwoong dari tangan Hao. “Serius kamu mau dipake aku dan Hao?”
Jiwoong mengangguk heboh.
Nafas Hanbin tertahan. “Ada peraturannya.”
“Apa?”
“Jangan minta berhenti, jangan minta udahan, dan jangan protes.”
“Oke!” Jiwoong mengangkat dagu seperti anak kecil sok jagoan. “Aku kan selalu nurut sama Bapak.”
“Yaudah..”
Dapat persetujuan dari Hanbin membuat Hao merasa menang. Tanpa perlu meyakinkan sekali lagi, ia mengeluarkan selembar sapu tangan dari saku celana. Sapu tangan tersebut dilipatnya beberapa kali sampai berbentu menjadi penutup mata.
Hao menunduk, mensejajarkan matanya dengan mata Jiwoong. “Boleh aku tutup matanya?”
Jiwoong mengangguk tanpa ragu. “Tapi Mas Hao sama Mas Hanbin jangan asik berdua kayak tadi, mentang-mentang aku gak bisa liat.”
Hanbin terperangah.
Gila kali si Jiwoong ini! Mas? Mas Hao? Mas Hanbin?
“Anjing..”
Hanbin mengumpat dalam bisikan, tapi Jiwoong tidak dapat melihat ekspresinya karena matanya keburu bertemu gelap. Indra penglihatannya dirampas, disembunyikan oleh selembar sapu tangan milik Hao.
“Mas!” Jiwoong buru-buru menggapi ke arah dimana tangan Hanbin berada. “Mas gak marah kan sama aku?”
Karena penglihatannya ditutup, Jiwoong jadi lebih peka dan sensitif. Bulu kuduknya berdiri ketika rasakan hembus nafas hangat di telinga sebelah kanan, disusul sepasang bibir menyentuh kulit pipinya ringan tak lama kemudian. Jiwoong kenal bibir Hanbin, bibir yang kini menelusuri sudut bibirnya, bergerak menuju rahang, terakhir singgah di telinga.
“Kenapa nggak pernah manggil Mas waktu kita lagi berdua, cantik?”
“M-maaf.. Mas jangan galak, aku tak– ahh!”
Kalimat Jiwoong berhenti di tengah jalan akibat telinga sebelah kiri digigit pelan. Ia refleks bergerak menjauh, tapi wajah Hanbin yang tenggelam di sisi kepalanya membuat Jiwoong tidak bisa berkutik. Bibir Hao yang tadi menggigit telinganya juga turut mengejar kemudian kulum daun telinganya. Jiwoong langsung bergidik ngeri, merinding sebadan-badan, dan mendadak ketakutan sampai ingin menangis.
Tapi Jiwoong tidak ingin berhenti.
Jadi begini rasanya digagahi dua pria dewasa.
“Jangan takut, cantik. Sekarang waktunya Mas puja-puja kamu.”
“Mhh!!”
Bibir Hanbin yang lebih familiar lebih dulu menangkap bibir Jiwoong. Ketakutannya sedikit sirna karena di tengah penglihatannya yang diambil, Jiwoong jadi merasa aman dengan adanya kehadiran Hanbin. Dibalasanya lumatan pelan di bibir, cecap rasa whiskey dari bibir Hanbin. Namun Jiwoong sama sekali tidak mencoba mendominasi dan biarkan Hanbin menuntun dirinya.
Kala bibirnya tengah dinikmati Hanbin, sebuah telapak tangan hangat menyusup ke dalam pakaian minimnya dan menyapu perut Jiwoong. Ia langsung merintih, menggeliat kegelian tapi tangan itu enggan berhenti. Otot perutnya ditelusuri menggunakan telunjuk, digurat garis-garis halusnya satu per satu.
“Ah.. geli!” Jiwoong melepaskan bibir Hanbin. “Mas Hao, geli..”
“Stt cantik, tadi katanya nggak bakal protes.”
Seusai bisiknya berkumandang, gantian Hao yang raup bibir Jiwoong. Ciumannya lebih kasar dan menuntut dari Hanbin. Ada campuran rasa alkohol yang lebih kuat serta sisa nikotin karena Hao merokok sebelum mereka turun ke dance floor . Bukan hanya bibir, Hao juga sapukan lidah ke dagu Jiwoong sampai basah.
Hanbin tidak mau kalah, ia yang berinisiatif membuka kancing pakaian Jiwoong sebabkan bagian atas badan rampingnya nyaris telanjang. Udara dari pendingin ruangan membuat Jiwoong makin menggeliat kegelian. Badannya meronta-ronta di tengah kepungan Hanbin dan Hao.
Kalau Hao masih asik mengelus perut Jiwoong, maka Hanbin memilih pentilnya untuk jadi sasaran. Organ mungil yang sudah tegang itu dipilin gemas, ditarik dan dicubit pelan. Kuku yang belum sempat dipotong menggaruk puncaknya, membuat Jiwoong membusungkan dada setengah nyeri sekaligus geli.
“Mas Hanbin.. pelan-pelan, nanti nenen aku lecet.”
Hanbin tidak mendengarkan, malah ikut raup bibir Jiwoong padahal Hao masih asik mencumbunya. Bibir seksi Jiwoong jadi rebutan. Hanbin hisap yang atas, Hao kulum yang bawah. Hao jilat yang atas, Hanbin gigit yang bawah. Sedangkan Jiwoong tidak bisa lakukan apa-apa, liurnya menetes lewati dagu lalu jatuh ke karpet ruangan.
Untung mereka memesan ruang VIP di klub yang kualitas keamanannya sudah terbukti terjaga. Untung kaca besar yang ada di ruangan adalah kaca one way, sehingga di luar sana tidak ada yang bisa menonton aksi bejat mereka. Untung ruangan VIP ini didesain kedap suara, jadi Jiwoong bebas mendesah dengan suara melengking tinggi.
“M-mas.. jangan..” Jiwoong berbisik lirih dan tiba-tiba dorong tangan Hao yang hendak ikut meraba putingnya. “Udah Mas, jangan pegang aku.”
Hao mengernyitkan kening, seketika cumbuannya di bibir Jiwoong terlepas. “Tadi kamu yang minta dipake berdua, Ji.”
Hanbin yang merasa heran juga ikut melepaskan ciumannya. “Kenapa, cantik?”
“Udah.. jangan..” Jiwoong menggeleng, ujung-ujung kemejanya dicengkram, sembunyikan badan mulusnya dari tatapan dua predator lapar. “Kalau nggak mau berenti.. nanti aku teriak.”
Kedua pria itu memandangi Jiwoong yang mirip mangsa ketakutan sambil memeluk badannya erat-erat. Bibir yang bengkak digigiti, pipi yang tadi sudah merona merah jadi semakin matang. Lalu Hao dan Hanbin serentak saling memandang.
Oh.. Jiwoong punya rape kink.
Hao tangkap kedua tangan Jiwoong, lepas cengkramannya di kemeja secara paksa kemudian dorong pemuda itu sebabkan badan bagian atasnya jatuh ke sofa. Jiwoong tidak bisa melihat seringai di bibir Hao, cuma tahu kalau Hao ikut naik ke sofa dan duduk di dekat kepalanya. Waktu Jiwoong mundurkan kepala, tahu-tahu ia menyenggol selangkangan Hao yang sudah keras dan meronta-ronta di balik celana.
“Mas Hao lepasin aku..” Jiwoong meronta lemah di bawah kuasa Hao, tidak serius minta dilepaskan.
Kakinya ikut diangkat naik ke sofa, Jiwoong tahu Hanbin pelakunya. Pacarnya itu buka paha Jiwoong selebar mungkin lantas posisikan diri di tengah-tengahnya. Waktu Jiwoong mengangkat pinggul, alat kelaminnya tanpa sengaja menyenggol punya Hanbin yang sama-sama sudah keras.
“Mas Hanbin tolongin aku..” Jiwoong menggeleng-geleng. “Ahh jangan dibuka celananya..”
Terlambat. Hanbin gerak cepat membuka kaitan celana jeans di kaki Jiwoong kemudian menariknya sampai lepas dari kedua tungkai. Udara dingin yang menyambar dari telapak kaki sampai ke selangkangan bikin Jiwoong refleks mengangkat pinggul lagi. Kontol tegangnya yang sekarang tidak terbalut apapun bergesekkan dengan celana Hanbin, bikin desahannya menggaung ke seisi ruangan. Geli, gatal, mata yang ditutup membuat Jiwoong jadi merasa lebih terekspos.
Jiwoong indah banget. Kulit putih mulusnya berkilau diterpa lampu remang-remang. Basah, berkeringat, tersaji secara cuma-cuma karena yang menutupi badannya cuma kemeja tanpa dikancing. Pentilnya tegang dan merah. Kontolnya juga merah, mengacung di perut minta diperhatikan. Lobang pipisnya mengilap karena cairan precum yang muncrat waktu celananya dilepas.
Kalau Jiwoong tahu selapar apa sorot mata Hanbin dan Hao, pasti dia langsung pipis.
“Cantik,” kedua tangan Hanbin usap-usap paha Jiwoong yang langsung merona di bawah sentuhannya. “Harusnya kalau ada investor atau klien yang bebal, Mas jual kamu aja, ya. Mas kasih badan kamu biar mereka mau kerjasama bareng perusahaan kita.”
Jiwoong buru-buru menggeleng. “Nggak mau Mas.. aku kan bukan lonte.”
Tawa mengejek dari dua suara yang berbeda mengisi gendang telinga Jiwoong.
“Kalau bukan lonte, harusnya kamu tolak Mas dari dulu.” Hao ikut menimpali. “Aslinya emang udah lama gatel ya, sayang? Emang dari dulu kepengennya dipake sama Mas dan Mas Hanbin?”
“Ah nggak.. nggak mau.. udah Mas lepasin akuu..” Kain yang menutup mata Jiwoong mendadak warnanya berubah jadi lebih gelap, tanda kalau pemuda itu menangis. “Mas nanti aku lapor polisi.”
Tawa dari dua pria yang menggagahi Jiwoong makin keras, sama dengan tangis Jiwoong yang juga makin keras. Daripada Jiwoong keburu buka mulut lagi, Hao lebih dulu buka celananya, bebaskan kontol sesak yang sudah tidak sabar masuk ke lobang. Dikocoknya batang keras itu sambil tekan dua sisi rahang Jiwoong, paksa mulutnya biar terbuka. Lantas Hao angkat pinggulnya sedikit, posisikan selangkangannya jadi mengendarai wajah Jiwoong kemudian jebloskan kontolnya dalam-dalam.
Erangan Jiwoong teredam kontol Hao yang bersarang di mulutnya. Tangan yang masih di genggaman Hao meronta minta dilepas, bahkan berusaha mencari celah untuk dorong pinggul Hao menjauh dari atasnya. Tapi Hao justru malah tertawa di tengah geramannya akibat nikmat dari hangat dan basah mulut Jiwoong.
Hanbin lihat pacarnya tak berdaya di bawah kuasa pria lain juga bukannya merasa simpati, justru malah tambah sange. Ia ikut buka celana sebatas lutut, hanya demi bebaskan kontolnya yang juga sudah meronta tidak sabar. Digenggamnya batang berwarna coklat gelap itu dan diusapkan ujung basahnya ke kontol Jiwoong yang merona kemerahan, kontras sekali warnanya. Cairan precum mereka bercampur, basah mengalir sepanjang kepala kontol Jiwoong sampai ke testisnya.
Si Gemini lalu menunduk bermaksud menghisap pentil tegang Jiwoong yang seolah memanggilnya dari tadi. Basah bibir yang menyapa kulitnya bikin dada Jiwoong membusung dan tanpa sengaja telan kontol Hao makin dalam, akibatkan dirinya tersedak dan semakin meronta. Kakinya ikut bergerak tak tentu arah, berusaha tendang paha Hanbin menjauh tapi malah bikin kontol mereka beradu dan bergesekkan.
“Bin, liat,” Hao tahan kontolnya sampai mentok di tenggorokan Jiwoong selama beberapa detik lalu menariknya keluar namun tidak sampai lepas, kemudian dorong rudalnya lagi membuat Jiwoong tersedak. “Kontol gue sampe nyetak di tenggorokan Jiwoong.”
“Mantep kan? Pacar gue emang jago.” Hanbin tarik pentil Jiwoong pakai giginya sampai lepas sendiri, berulang kali, tapi matanya tertuju pada guratan kontol Hao di leher Jiwoong. “Pake aja sampe itu anak gak bisa kerja lagi. Kita jadiin gundik aja.”
Dua pria yang lagi ‘ngeroyok’ Jiwoong berbincang seakan-akan Jiwoong cuma seonggok benda yang tidak punya telinga. Tapi walaupun bisa mendengar, Jiwoong tidak benar-benar bisa mencerna isi percakapan mereka. Otaknya terlanjur kopong, tolol, gara-gara dijamah sana-sini. Penglihatan Jiwoong gelap, jadi sentuhan serta stimulus yang ia dapat makin besar efeknya.
Sekitar mulutnya amat kotor gara-gara liur dan peju milik Hao yang bercecer, belum lagi ingus dan air mata karena ia berusaha mempertahankan gag reflex agar tidak tersedak. Penutup matanya juga carut-marut karena basah. Sering dengar kan mitos kalau pria tinggi kurus kontolnya besar? Nah, Jiwoong bisa membuktikan lewat Zhang Hao. Malah Jiwoong bisa bilang.. kontol Hao lebih panjang dan tebal dari milik Hanbin. Ia sampai harus mengeluarkan effort lebih untuk mempertahankan mulutnya agar terus menganga walau pinggiran bibir sudah terasa lecet. Tapi Jiwoong suka sensasi urat-urat kontol Hao yang keras menggaruk lidah serta pipi bagian dalamnya. Jiwoong juga sebisa mungkin menjaga agar giginya tidak mengenai kulit kontol Hao meski gemas ingin menggigit, takut atasannya kecewa.
Kedua telapak kaki Jiwoong mendarat di paha Hanbin, berpura-pura bertingkah ingin menendangnya agar menjauh. Padahal dadanya terus membusung, tidak senang kalau sampai Hanbin lepaskan kenyotannya di pentil Jiwoong. Kontol Hanbin juga sebenarnya nggak kalah tebal, Jiwoong suka sensasi yang didapat tiap kepala kontol mereka saling bertemu. Kulitnya yang kaku terasa licin karena precum Jiwoong tidak berhenti bocor, bikin gesekkan kelamin mereka jadi makin lancar. Suaranya becek, telinga Jiwoong jadi panas dengar suaranya yang porno.
“Nghh..” Jiwoong mengerang lewat mulut yang tersumpal. “Mas.. mhh..”
Kontol di dalam mulutnya, pentil yang terus-terusan digigit, kelamin yang saling bergesek, bikin Jiwoong ingin pipis. Tembok pertahanannya jebol sewaktu ibu jari Hanbin usap-usap pinggangnya berulang kali. Geli, bikin Jiwoong menggeliat, dan tahu-tahu spermanya muncrat membasahi kontol Hanbin.
Badan Jiwoong gemetar hebat menyadari kalau ia sedang dipaksa, digagahi dua pria, pacar serta atasannya di kantor, dan itu bikin Jiwoong keenakan sampai pipis.
“Pak udah.. lepasin aku..” Jiwoong masih bisa pura-pura merengek dengan suara hampir habis waktu Hao akhirnya tarik kontolnya dari mulut Jiwoong.
“Kan tadi janjinya mau nurut, Jiwoong.” Hao tiba-tiba cengkram kedua pipi Jiwoong pakai satu tangan, kencang sekali membuat tulang pipinya terasa sakit.
Hanbin yang melihat tidak marah, justru malah membangkitkan fantasi-fantasi liarnya. Mungkin dia sudah ketularan gilanya Hao. Bayangan soal dirinya berbagi tubuh pacarnya dengan pria lain, membiarkan pacarnya dikasari pria lain, membuatnya makin tidak sabar buat segera mengentoti Jiwoong. Diambilnya Jiwoong dari cengkraman Hao lalu diputar badannya jadi posisi menungging. Kemeja sebagai satu-satunya kain yang masih menempel di badan Jiwoong ia lepas, bikin pacarnya kini telanjang bulat di antara dirinya dan Hao.
“Gak ada pelumas.” Kata Hanbin sambil matanya tertuju pada anal Jiwoong yang cengap-cengap di depan muka, kedutan minta buru-buru diisi.
Hao mengedarkan pandangan ke meja dan sekeliling sofa, mencari alternatif yang bisa dijadikan pengganti pelumas. “Bentar, siapa tau ada yang bawa lotion or something di tas.”
“ Nevermind, gak usah.” Hanbin hentikan Hao yang hendak beranjak dari sofa. “ I have better idea. ”
Mulut Hao menganga lebar melihat Hanbin membuka sebotol whiskey yang belum tersentuh di atas meja. Jiwoong ikut memalingkan mukanya ke belakang, padahal nggak bisa lihat apa-apa. Tapi ia ngeri mendengar suara botol minuman dibuka.
“Mas mau ap– ahh!”
Pertanyaan Jiwoong terhenti di ujung lidah saat rasakan cairan dingin mengalir di sekitaran belahan pantatnya. Badannya langsung merinding dan gemetar, refleks menjatuhkan diri ke arah Hao yang duduk di depan mukanya. Alkohol yang dituang Hanbin di pantat Jiwoong mengalir melewati testis, paha, dengkul, sampai membentuk genangan di sofa dan karpet. Bukan cuma itu, Hanbin juga buka paksa liang senggama Jiwoong pakai dua jarinya agar bisa menuangkan sedikit whiskey ke sana.
“Hanbin, lu gila banget asli.” Hao bergumam, kaget sekaligus kagum karena belum pernah melihat mantannya segila ini.
Setelah merasa liang kawin Jiwoong cukup basah, Hanbin kembalikan botol whiskey-nya ke tempat semula dan mulai menggarap pacarnya. Dua jarinya dijebloskan ke bool Jiwoong, bikin sebagian dari whiskey yang dituang jadi muncrat sedikit. Dilonggarkannya liang yang kedutan mengapit jarinya, dikobel, digaruk dindingnya pakai ujung jari. Paha Jiwoong gemetar hebat sehingga badannya makin terkulai, tapi Hanbin belum mau berhenti dan malah tambah satu jarinya.
“Pelan-pelan Mas.. Perih.. udah..”
Jiwoong merintih sambil berpegangan ke badan Hao tiap Hanbin merojok terlalu dalam hingga badannya terhentak berkali-kali. Analnya terasa dingin sekaligus panas, basah serta gatal tiap kali jari Hanbin bergerak asal-asalan. Jiwoong merasa amat kotor, dipermainkan seperti ia bukan pacarnya Hanbin, bukan seseorang yang selalu dijaganya selama ini. Tapi Jiwoong suka.
“Hao,” Hanbin cabut tiga jarinya dari anal Jiwoong. “Lu duluan.”
Hao yang sedang menciumi rambut dan pipi Jiwoong langsung memalingkan wajahnya menatap Hanbin. “Hah?”
“Lu yang kontolin dia duluan.”
Mata Hao melotot, Jiwoong juga tersentak kaget “Lu serius?”
“Anjing. Lama!”
Hanbin lekas turun dari sofa hanya untuk menelanjangi Hao dari pinggang ke bawah. Ia juga yang mengatur posisi, membuat Jiwoong telungkup di atas Hao yang kini merebahkan diri. Lalu dirinya kembali duduk di belakang Jiwoong. Digenggamnya kontol Hao, digesekkan kepalanya ke bool Jiwoong yang sudah longgar dan siap buat dimasuki kontol.
“Lu yang anjing, Hanbin. Shh..”
Hanbin menyeringai lebar. “Makanya jangan nantangin gue.”
Tidak ada lagi respon yang Hao berikan, pinggulnya diangkat dan segera jebloskan kontolnya ke dalam anal Jiwoong yang basah oleh whiskey. Tentu saja Jiwoong langsung menjerit. Biarpun boolnya sudah dipersiapkan, tetap saja kontol Hao yang panjang bikin dirinya kaget dan sedikit nyeri.
“Maaf, cantik.” Hao belai pipi Jiwoong di atasnya sambil tertawa. “ Blame your boyfriend. ”
“Gede banget, Mas.” Jiwoong menggeleng lemah. “Takut pantat aku robek.”
Telapak tangan Hao yang dingin turun menjelajahi tubuh Jiwoong. Diremasnya dada berisi milik Jiwoong ketika pinggulnya mulai menggenjot dari bawah. Ia boro-boro kepikiran untuk membiarkan Jiwoong beradaptasi dengan kontolnya terlebih dahulu, malah langsung menggenjot dalam kecepatan level tiga. Badan Jiwoong yang ada di atasnya jadi terlonjak hebat. Kaget, sakit, enak, semua bercampur jadi satu.
“Mas!” Jiwoong menjerit lagi. Ditambah sekarang Hao malah cubit-cubit pentilnya. “Ah ah ah.. Mas Hao kontolnya..”
Jiwoong yang lagi senewen gara-gara kontol Hao, dan Hao yang dibuat ketagihan oleh ekspresi keenakan Jiwoong tidak menyadari kalau Hanbin juga sedang berusaha masukkan kontolnya di belakang sana. Pinggul Jiwoong dicengkram erat, pelan-pelan ia dorong kontolnya untuk bergabung bersama kontol Hao di dalam anal Jiwoong.
“Mas Hanbin! Mas! Sakit!”
Volume suara Jiwoong naik dua kali lipat. Badannya refleks jatuh ke depan menindih Hao. Analnya luar biasa sakit, rasanya seperti dirobek secara paksa. Dimasuki kontol Hao saja sudah membuatnya ngeri, dan Hanbin malah ikut jeblosin kontolnya tanpa izin. Jiwoong yakin analnya betulan robek kalau begini.
Gila kali! Jiwoong mana pernah melakukan double penetration sebelumnya. Bersenggama dengan dua orang sekaligus saja baru kali ini.
“Bener-bener setan ya lu Bin..” Hao justru malah terpukau akan kelakuan Hanbin yang di luar nalar.
Tok Tok Tok. “Pak Hanbin? Pak Hao? Aman kan di dalem?”
Saking asiknya beradegan tidak senonoh, mereka sampai lupa kalau karyawan lain masih berada di dance floor. Jiwoong juga langsung menegakkan badan, walau ujungnya bikin diri sendiri menjerit karena dua kontol yang bersemayam dalam boolnya jadi masuk makin dalam. Penuh banget, Jiwoong nggak sanggup.
“Aman–”
“AH!” Jiwoong buru-buru bekap mulutnya sendiri karena Hanbin tiba-tiba menggenjot dari belakang.
Hanbin tertawa di telinga Jiwoong. Ia sodok anal pacarnya sekali lagi sebelum melanjutkan kalimatnya. “Pulang aja duluan kalau mau pulang, barang-barang kalian nanti dititip di sini.”
Hening menyapa selama beberapa detik, lalu entah siapa yang ada di balik pintu menyahut lagi. “Oke kalau gitu, Pak.”
Usai yakin orang tersebut sudah pergi, Hanbin dorong pundak Jiwoong membuat badannya kembali menelungkup kemudian hentak-hentak kontolnya kasar. Bukan hanya Jiwoong yang keenakan, Hao juga keenakan karena kontolnya jadi bergesekkan dengan milik Hanbin. Pinggulnya juga lanjut menggenjot Jiwoong dari bawah.
Kepala Jiwoong teramat pusing, pandangannya yang gelap serasa berkabut dan yang bisa diingatnya cuma kontol Hanbin dan Hao di dalam boolnya. Jiwoong lupa kalau lampu diskotik yang menembus kaca ruang VIP menyoroti badannya yang telanjang dan mengkilap karena alkohol, Jiwoong abaikan kerasnya suara musik dari lantai satu yang bikin telinga pengang. Ia pilih tenggelamkan wajahnya di pundak Hao, memeluknya erat sampai kuku menggores kulit, dan biarkan dua pria itu menggagahinya berbarengan.
Sakit. Jiwoong dijebol paksa. Seperti betulan diperkosa.
“Sakit.. sakit..” Bisiknya lirih. “Lobang aku robek Mas, sakit banget.”
Hao bisa merasakan air mata Jiwoong mengalir jatuh ke bahunya. Tapi fokusnya bukan ke Jiwoong, melainkan pada Hanbin yang posisinya ada di atas mereka berdua. Mereka saling menatap, pinggul saling menggenjot, kontol saling bergesekkan.
Rasanya seperti mereka berdua yang sedang ngewe.
Tidak butuh waktu lama sampai Jiwoong bucat. Badannya sensitif di seluruh bagian, prostatnya terus ditumbuk dan dirojok bikin dia nggak tahan lagi. Tahu-tahu Jiwoong bucat, pipisnya mengucur membasahi selangkangan Hao di bawahnya.
“Mas.. aku udah bucat..” Nggak tahu Mas mana yang Jiwoong maksud. “Sebentar.. nghh sakit.. berhenti dulu..”
Tapi dua laki-laki itu tuli, masih asik menggenjot Jiwoong sambil saling tatap. Bahkan waktu badan Jiwoong betulan menyerah lalu hilang kesadaran.
Hanbin membuka matanya pelan-pelan ketika seseorang mengokupasi pangkuannya. Sudah pasti Hao, karena Jiwoong masih terlelap di sofa dengan hanya berbalut jaketnya dan jaket milik Hao. Ia tidak ada tenaga lagi untuk mengelak ketika Hao memeluk lehernya dan mengikis jarak keduanya hingga dada yang masih sama-sama telanjang jadi saling bergesek.
“Apa lagi?” Nada bicaranya memang terkesan malas, tapi Hanbin balas sentuhan Hao lewat lingkaran tangan di pinggangnya.
“Jangan galak-galak gitu sama gue.” Hao tertawa mengejek. “Jadi gimana? Jiwoong boleh buat gue juga kan?”
“Jangan ngimpi.”
Tatapan Hanbin beralih pada pacarnya yang dibiarkan tertidur pulas usai ia dan Hao bikin analnya penuh oleh peju. Dada Jiwoong naik-turun, kelihatan tenang seolah tidak habis digarap serampangan. Cantik. Hanbin janji akan sayang-sayangi Jiwoong bagai tuan putri setelah bangun nanti.
“Ya tapi kalau anaknya mau, boleh aja dia jadi gundik kita berdua.”
