Work Text:
Harus nya Naravit tau, kalau Phuwin itu berani mengambil tindakan secara tiba-tiba. Seperti bagaimana Phuwin memperlakukan nya di atas panggung, ketika di penghujung lagu bad girls like you. Gasper yang mereka rencanakan agar terlilit di pergelangan tangan, malah ter kalung di leher nya. Nakal, Phuwin itu. Tapi tak pernah terpikirkan oleh Naravit kalau dia bisa bertingkah sejauh itu.
Setelah selesai mengganti pakaian menjadi pakaian casual, Naravit menghampiri Phuwin yang tengah menyusun baju nya di koper. Memperhatikan pemuda manis itu dari kening hingga ke bibir merah muda nya.
"Udah?" Tanya Naravit,
"Udah. Bentar, aku mau pamitan sama Fourth dulu terus ngasih bingkisan. Abis ini kita pulang, kan?" Tanya Phuwin, Naravit mendekat, ikut berjongkok, menyamakan tinggi nya dengan Phuwin.
"Kata siapa kamu pulang?"
Dan yang terjadi setelah nya adalah, Phuwin memundurkan diri nya dari Naravit dan menelan saliva nya gugup.
• • •
Dan Phuwin salah jika ia berurusan dengan Naravit jika sudah berdua. Ia seharusnya tau, kalau mengusik harimau dari tidur nya itu lebih menyeramkan dibanding membangunkan kucing ketika mereka tertidur lelap.
"Ah!"
Tubuh nya di dorong sedikit kasar ketika Phuwin menutup pintu hotel, disaat mereka baru saja menginjakkan kaki di kamar suite room yang sudah Naravit pesan sejak dua jam lalu.
"Contohin."
"Contohin.. apa?"
"Gasper yang tadi kamu kalungin ke aku. Kita reka ulang kejadian nya."
Phuwin meneguk ludah nya, dengan gemetar mengambil gasper milik nya dari tangan Naravit, dan mengalungkan nya di leher yang lebih tua. Tangan nya dengan pelan menarik gasper itu, lalu, tatapan mereka bertemu.
"Kamu cukup berani buat ambil resiko." Ujar Naravit, Phuwin tersenyum, kembali menarik gasper itu untuk membawa Naravit lebih dekat pada nya.
"Kalau aku gak gerak. Kamu gak akan berani."
Lalu bibir kedua nya bertemu, Naravit dengan lahap menyantap bibir Phuwin. Layaknya bayi yang sedang menyusu, ia menyesap bibir bawah Phuwin, sentuhannya menyusuri garis rahang, lalu turun ke tengkuk, menariknya lebih dekat hingga tak ada ruang yang tersisa di antara tubuh mereka.
Ciumannya semakin dalam, lebih menuntut, seolah mencoba menyatu dalam setiap desahan. Udara di sekitar terasa lebih hangat, dikaburkan oleh panas tubuh dan hasrat yang tumbuh liar namun dipeluk oleh rasa. Jemari saling menjelajah.
Tangan Naravit dengan lihai menyingkap kaos hitam yang masih terpasang di tubuh Phuwin, mencoba merangsang titik sensitif yang lebih muda. Namun ia tahu Phuwin lelah, dengan setengah tak rela ia sudahi pagutan mereka, lalu saling menatap wajah satu sama lain. Sebelum akhirnya Naravit menggandeng tangan Phuwin lembut, menuntun nya untuk duduk di pinggir tempat tidur.
Tapi, Phuwin lebih paham, ia dengan mandiri membuka kaos nya, lalu menatap Naravit kembali, kali ini lebih dalam.
"Kamu boleh lakuin apa yang kamu mau, sentuh aku sejauh limit yang kamu punya. Aku punya kamu kan, kakak?"
Naravit mengigit bibir dalam nya, panggilan itu membuat sesuatu dalam diri nya bergejolak, hingga ia ikut melepas kaos nya, lalu mendekati Phuwin dan kembali melahap bibir mungil itu. Tangan nya menggerayangi dada Phuwin, semakin menyesap lebih kuat ketika ia menyentuh perut yang sudah berbentuk kotak dengan sempurna.
"Eumh— kakak!"
Dada nya di tepuk beberapa kali, dengan terpaksa ia melepas pagutan mereka. Namun tak lama ketika kedua nya masih saling menatap, Naravit kembali mengecup bibir hingga turun ke rahang.
"Kamu tau gak?"
"e-engga,"
"Aku selalu takut sentuh kamu.. bukan karena aku gak berani atau cupu, itu karena aku selalu lihat kamu sebagai remaja yang usia nya masih tujuh belas tahun." Tangan nya menuntun Phuwin untuk berbaring, namun kecupan masih ia bubuhkan pada dada Phuwin.
"Sekarang aku udah dua puluh satu tahun."
"Aku tau. Tapi mata aku selalu lihat kamu sebagai Phuwin remaja." Kembali Naravit menatap mata Phuwin, "Terus gimana cara nya biar kamu tau kalau aku ini udah bukan remaja lagi?" Tanya Phuwin, Naravit hanya diam, tapi tangan kanan nya mulai berani menarik sleting jeans Phuwin.
Ibu jari nya dengan bebas menorobos mulut Phuwin, meminta nya untuk mengulum.
"Tunjukkin ke aku, kalau kamu emang udah se dewasa itu."
Mereka berdua ini... gila. Kalau Naravit berani, maka Phuwin lebih berani.
Ia mengulum jari Naravit dengan sensual, sesekali di kecup ujung jari nya, hingga mengumpulkan air liur di tangan Naravit sampai banjir.
"So smart." Puji Naravit,
Kini Phuwin sudah sepenuh nya telanjang. Di hadapan si kakak. Tak segan lagi ia, kini kembali mencium bibir Naravit ganas, jari Naravit yang sudah ia lumuri dengan air liur nya sendiri itu pun ia tuntun untuk mendekat pada area nya dibawah sana.
"I'm clean. Don't worry. Aku tau kamu bakal lakuin hal ini."
"Of course you know. But still, it is your first time, adek. I will makes you feel good. Sampai kamu gila. Sampai yang kamu ingat cuman nama aku."
Naravit mengusap lubang nya, membuat kepala Phuwin mendongak ke belakang. Rasanya.. aneh. Tentu aneh. Ini kali pertamanya.
"I think.. it will hurts." Bisik Phuwin, masih mencerna sesuatu yang membuat dada nya berdegup.
"It will. Aku masukin pelan-pelan, ya?"
Satu jari.
Kening nya masih mengkerut, mencoba santai. Entah apa yang di cari Naravit di bawah sana, tapi itu bukan menjadi titik fokus nya, saat ini yang Phuwin lakukan adalah mencari sesuatu yang kata orang lain enak.
Dua jari.
Kali ini yang lebih muda sudah lebih rileks, di dalam sana sangat nyaman.
"A-ah!"
Lenguhan nya mulai keluar. Walau masih ragu-ragu.
"Gapapa adek, keluarin aja. Disini cuman ada aku." Ujar Naravit, jari nya masih mengorek, menekan, maju dan mundur, seperti mencari sesuatu.
"I— i think.. i don't know.. which part did they say.. sex is good?" Tanya Phuwin heran, Naravit terkekeh. "Bentar lagi kamu bakal ngerasain."
Sudah tiga menit jari nya tenggelam dibawah sana, tak apa, ini bagian dari penetrasi. Setiap orang memang berbeda-beda, itu yang Naravit tahu. Bukan berarti dia pernah main dengan banyak orang. Ia juga memperhatikan eskpresi Phuwin, mata nya masih terpejam.
"Shit. Shit. Shit. What's that?!!"
"Adek. I found it."
"Ketemu apa— Fuck! Itu apa?! AH! Fuck! Anghhh! Kakak! A-ah!"
"Ini namanya prostat, adek, disini."
"Jangan di teken! Angh— fuckhh! Kakak enak banget, Kakak! Kakak! ada yang mau keluar!"
Naravit terkekeh melihat Phuwin yang menengadah, mata nya terpejam erat, mulut nya terbuka, namun kaki nya bergetar.
"Keluarin aja adek. Jangan di tahan."
"Lagi! Cepetin, please."
Ia kabulkan permintaan sang kekasih, semakin cepat ia tekan titik sensitif nya, hingga akhirnya cairan putih muncrat membasahi bibir nya.
"Pinter adek."
Naravit menjilat bibir nya yang terkena sperma Phuwin, yang habis di gempur masih lemas tak karuan. Phuwin terdiam, menyaksikan sendiri sperma nya di jilat langsung oleh Naravit.
"Aku— aku kayaknya gak sanggup lagi." Ucap nya lemas, ekor mata nya melihat Naravit yang sudah telanjang. Mendekat ke arah nya.
"Sanggup. Ini baru awalan adek. I'll make you feels good."
Kaki phuwin ia tekuk, sampai-sampai phuwin rasanya bisa mencium dengkul nya sendiri. It's Naravit first time too. Jadi dengan perlahan ia kocok pelan penis nya, mengambil cairan bening dari ujung penis Phuwin sebagai pelumas.
Phuwin tak berani lihat, tapi ia bisa merasakan lubang nya yang berkedut, ia bisa merasakan ujung kepala penis Naravit mencoba untuk menerobos lubang nya.
"Shit. You're so tight adek. Jangan di ketatin."
"I don't! Fuck! Pelan! kakak!"
Naravit mencium bibir Phuwin, mencoba mengalihkan rasa sakit nya pada ciuman mereka. Naravit sudah tak tahan lagi, ia keluarkan penis nya hingga akhirnya ia hentakan langsung ke dalam lubang Phuwin. Tentu yang dibawah menjerit kaget.
"ANJINGH!" Tubuh nya tegang, tangan nya memeluk erat punggung Naravit.
"Maaf. Maaf. Adek, maaf."
"Sakit.. kakak! Aku—"
"I know. Sorry." Naravit merasa bersalah, ia kecupi seluruh wajah Phuwin, hingga ke kelopak mata nya.
"Kayaknya lecet deh kak, sakit banget, perih,"
"Nanti aku obati ya sayang. Sekarang aku boleh gerak? Biar rasa sakit nya hilang."
Phuwin mengigit bibir, mencoba terbiasa, dan menganggukkan kepalanya. Mengizinkan yang lebih tua untuk bergerak, lebih.
"Fuck. Rileks adek." Naravit menggerutu, memegang pinggang phuwin dan mengusap nya lembut.
"Penuh banget kakak,"
"It is. Keluarin aja suara nya sayang. Jangan malu-malu."
Ritme gerakan nya semakin cepat, mencoba menerobos titik yang lebih dalam. Mengabaikan kondisi Phuwin yang juga sama kacau nya. Rangsangan yang Naravit berikan sangat gila, puting Phuwin yang semula sangat gatal gini teratasi dengan garukan kuku nya.
"Eunghh! Kakak! Kakak!"
Phuwin mengeluarkan cairan nya lagi, tapi Naravit belum. Tak ada kata henti jika yang lebih tua belum mencapai puncak nya.
"Adek. Aku sayang kamu."
"Ah! Ah! Kakak! Emhhngh! Please udah! Aku gak- ahnghh gak kuat lagi!"
Tubuh nya melengkung, merasakan rasa nikmat yang begitu menjalar hingga ke otak nya. Sudah gila Phuwin ini. Tak dapat lagi ia berfikir dengan jernih.
"Tahan. Adek. Kakak belum keluar."
Phuwin pusing. Entah sudah berapa kali ia keluar. Namun Naravit belum merasakan puas nya. Naravit menggenjot lubang nya tanpa ampun, jemari nya menekan penis nya yang terlihat timbul di dalam sana.
"AH! KAKAK! JANGAN DI TEKEN!"
Kaki nya bergetar, merasakan penis Naravit di dalam nya semakin lama semakin membesar. Ia tahu, Naravit akan segera memuntahkan cairan nya. Hingga beberapa kali tusukan, Naravit mengeluarkan cairan putih nya, sembari mendorong penis nya masuk lebih dalam.
Napas nya masih memburu. Raga nya masih belum puas.
"Aku tau aku keterlaluan, tapi aku udah mau kasih kamu pelajaran sejak di backstage."
Naravit menarik tangan Phuwin untuk bangun, dan membelakangi tubuh nya. Kini mereka beralih gaya menjadi doggy style.
"Ini hadiah buat kamu, karna udah seberani itu di atas panggung tadi."
Rambut panjang nya di jambak dari belakang, kembali Naravit menggempur lubang nya yang masih memerah. Sangat menggoda memang. Kali ini agak kasar. Entah apa yang membuatnya menjadi haus seperti ini.
"Fuck! It's feels good. Emhh! Iya disitu, kakak! Lagi!" Phuwin mengerang, kepala nya mendongak, mata nya juling sudah merasakan gempuran penis Naravit pada lubang nya.
"A-ahh hnghhh! Huhu kakak enak banget... Emhhh! Emh! Anjinghh! Anghhh!"
Tubuh nya terhentak hebat, tak Naravit pedulikan lagi kondisi Phuwin yang sudah kacau.
"Kakak! Kakak! Keluarin dulu, aku mau pipis!!"
"Pipis aja sayang. Keluarin."
"GAMAU! KAKAK! Please keluarin dulu— AHNGGHH! AKU MAU PIPIS!!"
Naravit tertawa, jemari nya dengan cepat menggenggam penis Phuwin, mengocok nya dengan cepat.
"Kayak cewek kamu Phuwin. Baru diginiin aja udah sampe pipis-pipis. Gimana kalau aku genjot kamu di balkon sana, mau? Mau ya? Biar fans-fans kamu liat, kalau idola nya bisa ngewe sampe kencing gini."
Ucapan Naravit terlalu vulgar. Ia tak sanggup. Tak mau juga tubuh nya terlihat oleh orang lain. Sprei hotel ia remas dengan kuat, sampai tubuh nya kembali melengkung dan mengeluarkan cairan bening yang deras.
"Adek. Ahh shit. Kamu tau? Itu kamu barusan squirt— fuck! Kalau gini namanya bukan kontol lagi, dek. Tapi itil. Sensitif banget ya itil nya?"
"Engga— ah! Ah! Kakak! Kakak! Udah! Hikss maaf.. kakak! Anghh! Eumhhh!"
Kaki nya kembali bergetar, cairan bening nya keluar kembali.
"Seksi banget kamu adek. Aku enak banget ya sampai kamu bisa kencing gini??"
Tubuh nya terlonjak-lonjak mengikuti ritme gerakan Naravit. Kali ini Phuwin sudah pasrah. Pasrah lubang nya di gempur sampai pagi. Ia tidak peduli. Enak sekali. Kepalanya pusing.
"I'm coming! Fuck!!"
"Emhh— anghh!"
Kedua nya mengerang bersama. Memastikan tak ada lagi sperma nya yang keluar, Naravit segera mengeluarkan penis nya, melihat cairan putih kental milik nya yang ikut keluar bersamaan dalam lubang Phuwin yang sudah memerah.
"Adek. Gila banget." Ujar nya kagum.
"Udah.. kakak please.. aku cape." Suara Phuwin serak, efek habis-habisan nyanyi di konser, lalu pulang nya di gempur juga habis-habisan. Naravit terkekeh.
"Iya sayang, udah. Aku mau bersih-bersih dulu, abis ini bersihin tubuh kamu ya."
Tak ada suara, tapi Naravit bisa lihat kesayangan nya hanya mengangguk lemas.
Setelah membersihkan tubuh nya dan tubuh Phuwin, Naravit berdiri memandangi kondisi kasur yang berantakan.
"Kayaknya kita gak bisa tidur disini, dek."
"Gapapa, aku bisa di sofa."
"Ngga usah, biar aku beresin dulu. Liat, aku seneng deh bisa ngewein kamu sampe kencing gini."
"APAANSIH KAK! Gak lucu! Lubang aku masih sakit!"
Naravit ketawa aja, tapi dalam lubuk hati nya. Ia memang bangga. Bangga bisa buat anak orang kelojotan karna adik kecil nya dibawah sana.
