Work Text:
Chan baru saja menyelesaikan masa kuliahnya. Dia sudah melamar beberapa perusahaan, dan beruntungnya, dia mendapatkan panggilan interview kerja di kota besar. Chan tau biaya kos di kota besar pasti tidak murah, dia mengingat-ngingat siapa teman yang bisa dijadikan tempatnya tinggal selama disana. Setelah melihat semua kontak pada handphonenya, tertera nama Mas Wonu, kating yang 2 tahun di atasnya, yang dia kenal saat sama-sama menjabat HIMA Fakultas. Wonwoo dikenal sebagai orang baik, citranya di kampus sebagai ketua HIMA yang selalu membimbing anggotanya, membuat Chan berani mencoba menghubungi Wonwoo, berharap Wonwoo mau untuk menampungnya selama masa interview.
"Hallo mas Wonu, maaf hubungin tiba-tiba, aku ganggu gk mas?"
"Hai Chan, udah lama banget ya kita gk kontakan, nggak ganggu kok, ada apa Chan?"
"Gini mas, aku boleh nginep ditempat mas gk?"
"Tiba-tiba banget Chan, emangnya ada apa?"
"Aku dapat panggilan interview di deket kantor mas sekarang, karena masih belum ada uang buat ngekos, aku boleh nginap ditempat mas dulu gk?"
"Oogitu, boleh Chan, mau nginep berapa lama?"
"Sekitar 1 mingguan kayaknya mas, soalnya aku mau nunggu hasil interview disana aja"
"Boleh Chan, tapi nanti kamu satu kasur sama mas gpp? Disini cuma ada 1 kasur."
"Gpp mas, aku malah berterimakasih mas wonu udah ngasih izin. Aku kesana 3 hari lagi ya mas, nanti aku kabarin lagi. Sekali lagi makasih banyak mas."
"Iya Chan, sama-sama."
Setelah mendapatkan izin dari Wonwoo, Chan segera mengemas keperluan yang akan dia bawa, tidak lupa juga dia mencari buah tangan, makanan asli daerahnya sebagai ucapan terimakasihnya pada Wonwoo.
━━━━━━━━━━━━━— ˗ˋ ୨୧ ˊ˗ —━━━━━━━━━━━━
Chan mengabari Wonwoo bahwa dia telah sampai di stasiun terdekat. Wonwoo yang menawarkan diri untuk menjemput Chan, sampai dalam 15 menit setelah dikabari.
"Makasi ya mas udah repot-repot jemput aku."
"it's okay Chan, kamu udah makan belum? Nyari makan dulu yuk."
"Belum mas, aku ngikut mas aja."
Setelah memasukkan semua barang Chan ke dalam mobilnya, Wonwoo kemudian melajukan mobilnya ke restoran fastfood terdekat, mereka berbincang mengenai bagaimana kabar masing-masing setelah terakhir bertemu dihari wisuda Wonwoo.
"Mas wonu, biar aku aja yang bayar" ucap Chan sewaktu mereka menuju kasir, melihat Wonwoo mengeluarkan kartu kreditnya.
"Gpp Chan, bills on me ya, ntar kalau udah keterima baru deh kamu traktir mas." Senyum yang diberikan Wonwoo tulus banget, dia tidak pernah berubah, selalu baik. Mereka melanjutkan perjalanan menuju kontrakan Wonwoo. Rumah dengan desain minimalis, yang cukup ditinggali untuk 2 orang, tetapi tidak memberikan kesan sepi jika ditinggali untuk satu orang.
"Chan disini sebenarnya ada 2 kamar, tapi yang satu gk ada kasurnya, jadi barang-barang kamu, ditarok di kamar itu aja ya, kalau tidurnya di kamar mas aja."
"Mas gpp kok, Chan bisa tidur di karpet aja, udah nyaman kok mas."
"Loh jangan gitu dong, nanti pas bangun punggung kamu sakit. Kasur mas besar kok, cukup untuk 2 orang." tidak ingin mendebat lebih jauh, karena disini Chan "menumpang" di tempat Wonwoo, dia langsung menyetujui perkataan Wonwoo. Toh ini bukan hal yang merugikan Chan, mungkin.
Chan kemudian beranjak ke kamar yang disebut Wonwoo, dia mulai mengeluarkan baju dan barang yang dibawanya, dan mulai menata di lemari yang memang tersedia disana. Tidak lupa juga memberikan jajanan yang dibawanya untuk diserahkan ke Wonwoo. Tidak terasa sudah pukul 7 malam saja setelah dia beres-beres barang bawaannya. Chan meminta izin Wonwoo untuk mandi, karena badannya sudah sangat lengket karena keringat.
Selesai mandi, Chan melihat Wonwoo didapur, dengan keadaan yang sangat kacau, benar-benar kacau. Sepertinya Wonwoo berusaha untuk membuat makan malam untuk mereka berdua, tapi seperti yang bisa dilihat Chan, itu gagal total. Akhirnya Chan membuatkan makanan dari bahan yang masih bisa dipakai.
"Maaf ya Chan, harusnya mas yang bikin makanan, kamu pasti capek abis beberes."
"Mas, aku yang harusnya bantuin nyiapin makan, mas udah ngizinin aku tinggal disini juga. Besok-besok aku aja yang masak."
Selama mereka makan, Wonwoo menceritakan bahwa selama ini dia makan dari makanan instan saja, atau tidak, dia akan memesan makanan dari restoran. Saat mengetahui hal itu, Chan menawarkan untuk dia yang memasak selama dia tinggal di tempat Wonwoo.
Mereka kemudian masuk ke kamar dan bersiap untuk tidur. Satu hal yang Wonwoo tidak tahu, bahwa Chan jika tidur sangat banyak gerak, dan Wonwoo yang sangat mudah terbangun, sepertinya harus membiasakan diri dengan kebiasaan tidur Chan. Chan baru akan tenang jika dia sudah memeluk sesuatu, awalnya ada bantal guling yang diberikan Wonwoo untuknya, namun bantal itu sudah jatuh entah kemana, dan sekarang Chan memeluk tangan Wonwoo sebagai gantinya, dengan kakinya yang juga telah diatas tubuh Wonwoo.
Sebenarnya ada yang aneh dirasakan Wonwoo, tubuh bawah Chan yang sedang mengapit badannya, dia tidak merasakan adanya gundukan disana, tapi fikiran itu langsung ditepis olehnya dan melanjutkan tidur, dengan posisi yang tidak berubah dari tadi.
━━━━━━━━━━━━━— ˗ˋ ୨୧ ˊ˗ —━━━━━━━━━━━━
Chan sudah bangun pagi-pagi sekali, seperti kebiasaan dia selama ini, dia menuju kamar mandi, membasuh muka untuk menyadarkannya. Chan lalu berlalu ke dapur, melihat jam baru menunjukkan pukul 05.15 pagi. Dia membuatkan sarapan untuk Wonwoo dan dirinya, sarapan sederhana untuk memulai hari. Setelah selesai membuat sarapan, dia kemudian membangunkan Wonwoo, menanyakan apakah dia akan bekerja hari ini, karena Chan belum tahu dengan jadwalnya.
Beruntunglah Chan membangunkan Wonwoo, karena tadi malam tidurnya sedikir terganggu oleh kebiasaan tidur Chan. Wonwoo kemudian menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Chan menunggunya di ruang makan, sambil melihat beberapa materi yang telah dipersiapkan untuk interview esok hari.
Wonwoo menyusul Chan yang sudah berada dimeja makan. Sebenarnya dia sangat ingin menanyakan tentang yang dirasakannya tadi malam, tapi takut akan mengganggu konsentrasi Chan yang sedang mempersiapkan interview, dia mengurungkan niat, nanti saja setelah semua proses interviewnya selesai.
━━━━━━━━━━━━━— ˗ˋ ୨୧ ˊ˗ —━━━━━━━━━━━━
2 hari ini berlangsung biasa saja, hingga mereka kembali tidur bersama. Tidak berubah, Chan selalu memeluk Wonwoo jika bantal gulingnya sudah jatuh, namun kali ini, tangan Wonwoo ikut menyalip diantara selangkangan Chan, Wonwoo bisa merasakan dengan jelas, bahwa Chan memang tidak memiliki kontol seperti dirinya, Wonwoo sedikit menggerakkan tangannya agar bisa menangkup bagian bawah Chan, dan benar saja, disana terdapat belahan.
"Eunghh" Chan sedikit melenguh dalam tidurnya, tapi sama sekali tidak bangun, Wonwoo pun menghentikan langkahnya, dengan debaran yang kencang di dadanya. Ntah bagaimana reaksi yang akan dia tunjukkan besok ketika mereka bertemu dalam keadaan sadar. Mungkin hanya Wonwoo yang akan melihat Chan dengan berbeda esok hari.
━━━━━━━━━━━━━— ˗ˋ ୨୧ ˊ˗ —━━━━━━━━━━━━
Hari yang dinanti-nantikan Chan akhirnya datang, hari ini adalah hari interview kerjanya yang pertama, dia sudah sangat gugup dari pagi, tapi tetap saja dia dapat menjawab semua pertanyaan dengan baik. Chan 75% yakin bahwa dia akan mendapatkan hasil yang bagus.
2 hari kemudian, Chan mendapatkan email bahwa dia lulus dalam interview dan dapat memulai kerja disana pada awal bulan. Chan senang sekali, dan segera memberi kabar pada kedua orang tuanya, mereka sangat senang dengan kabar itu. Chan lalu pergi berbelanja bahan makanan untuk makan malamnya, dia ingin memberitahu Wonwoo nanti saat makan malam, sekalian sebagai ucapan terimakasihnya karena telah diperbolehkan menumpang selama seminggu ini ditempatnya.
Sesampainya di kontrakan Wonwoo, dia langsung memulai memasak makanan, saat sedang asik memasak, terdengar suara mobil dari luar rumah, tumben sekali wonwoo cepat pulang.
"Wangi banget, kamu lagi bikin apa Chan?"
"Hehehe biasa aja mas, ini cuma lagi bikin ayam goreng, oiya mas, tadi hasil interview nya udah keluar, aku lolos mas, udah mulai kerja disana bulan depan. Makasih ya mas udah ngizinin aku tinggal disini."
"Syukur deh kalo kamu diterima, harusnya kamu bilang tadi, biar mas beliin kue buat kabar ini."
"Ihh gk usah mas, masa mas repot-repot banget."
Wonwoo sebenarnya sedang mencari waktu yang tepat kapan untuk menanyakan pertanyaan yang sudah ada dibenaknya dalam beberapa hari ini, dia duduk di ruang makan, menunggu hingga Chan selesai dengan masakannya.
"Chan, mas boleh tanya gk?" akhirnya dia menanyakannya setelah dilihat Chan sudah mematikan kompor.
"Iya mas, tanya apa?" Wonwoo yang sedang duduk di meja makan, mengisyaratkan Chan untuk duduk dihadapannya. Melihat Wonwoo yang sangat serius menatapnya, Chan sedikit takut dengan pertanyaap apa yang akan dilontarkan Wonwoo.
"Kamu gk punya kontol ya?"
Chan kaget dengan pertanyaan Wonwoo. Bagaimana Wonwoo bisa tahu? Wajah Chan merah padam, melihat bagaimana mata Wonwoo yang tidak lepas dari tadi terhadapnya.
"Kamu kalau tidur suka meluk mas, beberapa kali juga kamu ngapit tangan mas di selangkangan kamu, dan mas gk ngerasa ada gundukan disana, kamu gk punya kontolkan?" Chan merutuki betapa cerobohnya dirinya, dia sama sekali tidak sadar dengan kebiasaan tidurnya, bisa-bisanya dia tertangkap basah oleh Wonwoo. Chan kemudian menunduk dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekarang.
Wonwoo berjalan mendekat ke arah Chan, menangkup kedua pipi Chan agar bisa menatap matanya. "Kamu harus tanggung jawab Chan." Wonwoo bicara dengan suara rendah, membuat Chan merinding mendengarnya.
"Tanggung jawab gimana mas?" Chan benar-benar gugup saat ini, tidak tahu harus melakukan apa. Chan benar-benar telah lupa dengan masakannya.
Wonwoo dengan entengnya mengangkat tubuh Chan, didudukkannya tubuh Chan di atas meja makan. Chan yang kaget, lansung mengalungkan tangannya pada leher Wonwoo. Wonwoo mulai mencium bibir Chan, merasa tidak mendapat balasan dari Chan, dia mulai menggigit bibir bawahnya, memaksa Chan untuk membuka mulutnya, memberikan akses untuk lidahnya menyusuri rongga mulut Chan dan mengajak lidah mereka bertemu. Awalnya Chan tidak mau membalas ciuman Wonwoo, tapi lama-kelamaan diapun menikmati ciuman mereka. Tangan Wonwoo sudah masuk ke dalam baju Chan, bersentuhan langsung dengan kulit, memberikan rasa geli dan membuat Chan menggeliatkan badannya.
"eungghh.." desah Chan disela ciuman mereka, tapi tetap tidak memutuskan ciuman mereka. Tangan Wonwoo mulai berani menelusup paha Chan, memberikan remasan disana. Tangannya makin keatas, hingga sampai pada selangkangan Chan.
"euungh.. mass.."
Wonwoo tidak menghiraukan protes Chan, dia menarik baju Chan ke atas, menampakkan perut ratanya. "Gigit bajunya Chan, kamu gk tau kan gimana struggle-nya mas nahan selama ini, lihat kamu cuma pake celana boxer, yang kalau lagi tidur, celananya bakalan ngingkep paha kamu, kamu emang mau godain mas kan?" remasan Wonwoo pada bagian paha dalamnya, membuat rasa geli yang aneh.
"Maafin Chan mas, berhenti please.."
"Yakin? Lihat deh, pentil kamu aja udah tegang gini, benar-benar mau goda mas ya?" Langsung saja, pentil Chan dipelintir Wonwoo.
"Aahh mass.. sakitt" Chan memegang tangan Wonwoo, kepalanya dilempar ke belakang sambil bibirnya terus menggigit baju sesuai perintah Wonwoo. Bajunya juga sudah basah akibat air liurnya sendiri.
"sakit kok merem melek gitu sih?" semakin Wonwoo menggoda pentil Chan, dipelintir, ditarik, dicubitnya, membuat semakin liar pergerakan Chan. Dia ingin melawan, tetapi sensasi yang baru saja dirasakannya, membuat Chan tidak sanggup untuk menolak.
Wonwoo mulai mencium dada Chan, memberikan tanda kemerahan pada setiap jengkal kulit yang bisa tersentuh olehnya. Memasukkan pentil Chan ke dalam mulutnya, memainkan lidahnya, dan sesekali digigit gemas. Chan bisa merasakan celananya sudah mulai sangat basah, pahanya juga akan nmengapit pinggang Wonwoo setiap merasakan sentuhan lidah Wonwoo pada badannya.
Wonwoo menarik dirinya sebentar, melihat karya yang telah dibuatnya pada badan Chan. Chan sekarang terlihat berantakan namun terlihat seksi, air mata yang sudah keluar, pipi hingga telinga yang bersemu merah, ujung baju yang sudah sangat basah, dada dan perut yang penuh dengan tanda kemerahan, kaki yang sudah terkulai lemas. Wonwoo suka, sangat indah.
Wonwoo melepas baju yang digigit Chan, memperlihatkan bibirnya yang basah dan terbuka untuk mencari pasokan oksigen. "Kamu cantik banget Chan, enak gk yang barusan?" Ucap Wonwoo sambil tangannya mengelus lembut pipi Chan.
"enaakkh.. hah hah.. tapi sakitt.."
"Hahahaha lucu banget, kamu mau mas bikin tambah enak nggak?"
Chan kaget, dia kembali memalingkan wajahnya, enggan untuk menatap Wonwoo. Dia sebenarnya mau, tapi terlalu malu untuk mengungkapkannya. Chan hanya diam, dan Wonwoo mengartikan bahwa dia mendapatkan lampu hijau.
Wonwoo mulai meloroti celana Chan, menampilkan memek yang merah dan sedikit becek disana. Sekarang Chan sudah telanjang bulat. Wonwoo mendekatkan wajahnya ke memek Chan, dihembuskan nafasnya yang membuat Chan refleks merapatkan kaki, mengapit kepala Wonwoo di bawah sana.
"Eungghh.. mass.. nnhh.." Chan mendesah merasakan jilatan besar, Wonwoo melebarkan memek Chan, menjilat rakus memek Chan, jempolnya juga ikut bermain di itil Chan, memberikan gerakan memutar, sesekali ditekan yang menghasilkan desahan dari Chan.
"Aahhh mas wonu, aahhh iyaa mas.. ngghhh disituu.. aahhh mass enak bangett.. nhh.. memek Chan enakkhh.... mmhhh.." pinggul Chan mulai bergelinjang, tanda dia akan squirting. Wonwoo mempercepat gerakan lidah dan jarinya, menekan perut bawah Chan.
"Nnhhhh maasss awasss.... Chann pengen pipiss.. aahhhhh.."
"Aaahh ahhhh mass.. Chan udah nggak kuatt..."
Tangan Chan mencoba menjauhkan wajah Wonwoo dari memeknya, tapi Wonwoo tidak bergeming sedikitpun.
"Aannggghhhh maassshh...." Chan baru saja squirting, pinggulnya terangkat, kakinya bergetar, cairannya meleber kemana-mana. Wajah Wonwoo sukses dibikin basah, bahkan mengenai bajunya. Chan sudah terkapar diatas meja makan, menikmati pelepasan yang baru pertama kali dicobanya.
"Wah Chan, kamu muncrat banyak banget, liat deh baju mas sampe basah gini." Chan masih mencoba menarik nafas, otaknya sudah kosong, dia menikmati semuanya.
"Chan kontol mas udah gk tahan nih, gantian sini kamu ngemut kontol mas." Wonwoo kemudian menarik Chan agar duduk di lantai. Muka Chan yang udah sayu banget, melihat kontol Wonwoo yang sangat besar, membuat dia meneguk ludah. Apakah kontol Wonwoo bakalan muat di mulutnya? Tanpa menunggu lagi, Chan memasukkan kontol Wonwoo ke mulutnya. Tangannya bergerak mengelus batang yang tidak bisa masuk, menggenggam dua bola yang menjuntai, sesekali dia remas dan menghasilkan lenguhan dari Wonwoo.
"Ahhhh.. Chan pinter banget.. sedot lagi Chan, kempotin mulutnya." Chan menuruti perkataan Wonwoo, dia dengan tempo cepat memaju mundurkan mulutnya, sambil dihisap kuat. Dia memainkan lidah di lubang kencing Wonwoo, menjilat batang Wonwoo dari pangkal sampai ujung, sambil matanya menatap sayu Wonwoo.
Chan masukkan lagi kontol Wonwoo ke mulutnya, tangannya naik ke atas, mencari pentil Wonwoo untuk dipelintir.
"Aahh.. ahhh.. mulut kamu enak banget Chan.. ahh mas mau keluar.. mmhh.." Wonwoo menahan kepala Chan, dia menggenjot mulut Chan dengan kasar, Chan sampai meneteskan air mata karena kontolnya beberapa kali menabrak tenggorokan.
"Aahhhh.. Chaaann... ngghhh.." Wonwoo keluar di dalam mulut Chan. Pejunya banyak sampai meluber keluar. Chan menelan semua peju Wonwoo, rasanya aneh dan tidak enak, tapi dia merasa ada kepuasan tersendiri. Chan menjulurkan lidahnya, memperlihatkan kalau dia telah menelan semuanya.
"Mas Wonu.. memek Chan gatel.. mau lebih.." Chan yang masih bersimpuh diantara kaki Wonwoo, melihatnya dengan mata sayu, mulut yang sedikit terbuka, membuat Wonwoo nafsu lagi. Chan seperti anak anjing yang menunggu bermain dengan majikannya.
Wonwoo menarik tubuh Chan, menabrakkan lagi tubuhnya pada meja makan, sehingga posisi Chan sekarang menungging sedang tubuhnya bertumpu pada meja makan.
Wonwoo mengocok kembali kontolnya, menggesekkan kontolnya pada memek Chan.
"Mas nggak punya kondom Chan, kamu bisa hamil nanti."
"Ngghh.. mau hamill.. mau hamil anak mas.. nhh.. mass hamilin aku.." Chan melebarkan memeknya, menggoda Wonwoo dengan memaju mundurkan pantatnya.
"Chan kamu lonte banget ya." Satu tamparan mendarat di pantat Chan, membuatnya sedikit melengkungkan punggung.
Tanpa berlama-lama, Wonwoo mulai memasukkan kontolnya, memek Chan menjepit kontol Wonwoo dengan sangat erat.
"Ngghhh.. mass.. sakiitthh.." kontol Wonwoo bahkan belum masuk sepenuhnya, tapi memek Chan serasa akan robek menerimanya. Wonwoo mencoba mendorong lagi, membuat Chan mencengkram tepian meja makan untuk menyalurkan rasa sakit yang dirasa.
"Aahh.. mass.. memek Chan penuh bangettt.." kontol Wonwoo yang besar dan dengan posisi doggy membuat Chan bisa merasakan sedalam apa kontol itu masuk. Wonwoo masih belum menggerakkan pinggulnya, membiarkan Chan terbiasa dulu dengan kontolnya. Saat dirasa Chan sudah tidak terlalu mengapitnya, dia mulai memaju mundurkan dengan ritme pelan.
"Aahhh.. aahh.. mass kontolnya enak banget.." Chan sudah meracau tidak jelas dari tadi, dia sudah bisa menikmati permainan mereka.
"Chaann ahh.. memek kamu sempit banget.. mas rojokin biar melar ya, biar muat terus sama kontol mas" Chan yang sudah teler, hanya bisa mendesah tidak karuan, seakan dia tidak mendengar yang Wonwoo katakan.
Tamparan kembali mendarat di pantat sintal Chan. "Kalo ditanya itu dijawab lonte, jangan bisanya desah aja"
Chan tidak tau mau jawab apa, otaknya sekarang benar-benar kosong, yang jelas dia hanya merasakan nikmat dirojokin kontol.
"Aahhh enakk.. aahhnn.."
"Tolol, ditanya apa jawabnya apa"
"Mass.. ciumm.."
Chan memutar sedikit badannya, mencari bibir Wonwoo untuk ia cium. Wonwoo meraup kasar bibir Chan, saliva mereka saling bertukar, tangan wonwoo memeluk erat pinggang Chan dan satunya memelintir pentil Chan. Chan yang diberikan ransangan yang begitu banyak, merasakam kalau dia akan muncrat sekali lagi.
"Mas.. udahh.. aahh.. Chan mau pipissshhh.."
"Pipis aja, tadi kan juga udah" Wonwoo menyodok kontolnya pelan namun dalam, pinggulnya dihentakkan keras hingga Chan merasa kontol Wonwoo menabrak vaginanya begitu dalam. Rasanya ngilu, geli, sakit, tapi Chan menikmati itu semua.
"Maass.. aahh mass.." Wonwoo memainkan itil Chan, membuatnya sudah diujung tanduk.
"AAHHH.. MAASSSSHHHHH...." Chan muncrat banyak, cairannya mengenai meja dan meleleh di lantai.
Wonwoo merasa jepitan memek Chan semakin rapat akibat pelepasan yang terjadi. Diapun semakin cepat menyodok memek Chan, tidak memberikan Chan istirahat setelah pelepasannya.
"Aahh tahan sayang, mas bentar lagi keluarr.. nhhnn.." kaki Chan sekarang diangkatnya satu diatas meja, mempermudah Wonwoo untuk menggenjot memeknya. Chan harus bertahan dengan satu kaki, dalam beberapa hentakan Wonwoo mencabut kontolnya dan mengeluarkan peju dipunggung Chan.
Chan juga muncrat sekali lagi, ruang makan rumah Wonwoo sudah berganti dari bau masakan menjadi bau hasil persetubuhan mereka.
"Hahh hahh makasih mas.. hah hahh.." Chan ngos-ngosan, mencoba meraup lebih banyak udara.
"Mas juga Chan, selamat ya atas pekerjaan baru kamu. Kamu tinggal disini aja sama mas ya, nanti mas bantu beresin kamar satunya kalau kamu mau."
"Iya mas, Chan mau.."
Wonwoo mengecup bibir Chan, menggendongnya dan membawa diri mereka ke kamar mandi untuk bebersih diri.
Setelahnya mereka langsung tidur, saling berbagi pelukan, dan melupakan masakan yang telah Chan buat. Mungkin mereka akan memakannya besok pagi, atau mungkin masakannya sudah basi duluan.
