Work Text:
Kakak jemput 15 menit lagi. Tunggu depan kampus.
Ide gila, begitu pikir Jisung.
Namun, sebenarnya bukan Jisung kalau tidak memikirkan hal-hal menjurus seperti itu, apalagi foto yang dibagikan Jungwoo cukup membangunkan hasratnya.
Salahkan Jisung yang belum coli beberapa hari, sementara Jeno jarang mendatanginya di kampus karena sibuk dengan tugas kuliah, abang-abang lain di bengkel The Bat pun sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Tersisalah Jungwoo.
Sampai sekarang Jisung belum tahu apa kesibukan lelaki itu. Dia hanya tahu bahwa pemuda itu kakak tingkat Jeno dan lulus tahun lalu.
Adek mau dipangku?
Being shameless bukan satu hal yang perlu Jisung tutupi. Toh, abang-abang di grup chat menyukai itu, mereka bak serigala liar yang kelaparan tiap kali Jisung memamerkan selfie terbarunya atau ketika Jisung memancing dengan ucapan polos nan seduktif. Balasan-balasan yang mereka berikan tak ayal membuat Jisung terkikik geli.
Sebaliknya, mereka pun gemar membuat Jisung tergoda, baik melalui ketikan maupun foto yang dikirim. Contohnya, seperti yang dilakukan Jungwoo beberapa menit lalu.
Jisung tidak tahu apa intensi pria tersebut, sekedar mengirim foto untuk mengabari atau memang memancing. Namun, jika ada kesempatan, mengapa tidak dipergunakan dengan baik?
Sekali lagi, mungkin ini karena Jisung belum menyalurkan hasratnya, kepalang sange kalau kata orang. Tapi, hei— jika orang-orang tersebut seperti abang-abang di The Bat, kenapa Jisung harus menahan diri?
Tin!
Bunyi klakson mobil menyadarkan Jisung dari lamunannya. Ketika kaca penumpang diturunkan, senyuman merekah di wajah pemuda itu.
"Ayo, dek," ajak Jungwoo dari dalam mobil.
Tanpa basa basi, Jisung masuk ke dalam mobil, tidak lupa menyapa Jungwoo. Penampilan laki-laki itu masih sama dengan foto terakhir yang dikirim. Dua kancing atas terbuka dan menampilkan kaus putih sebagai dalaman.
"Mau beli minum dulu, nggak?" tanya Jungwoo mulai mengendarai mobil keluar dari wilayah kampus.
Jisung hanya mengangguk sebagai jawaban. Entah kenapa jantungnya berdetak cepat sejak menaiki mobil, sekujur tubuhnya sedikit merinding seakan mengantisipasi sesuatu. Bukan karena terpaan udara dingin dalam mobil, tapi mungkin karena Jisung tidak sabar. Matanya melirik ke arah Jungwoo, mulai mengamati garis wajahnya, perlahan turun ke dada lalu ke selangkangan. Tanpa sadar ia menelan ludah.
"Ah, dasar lonte."
Umpatan Jeno terngiang di kepalanya. Kata-kata yang kerap kali lelaki itu ucapkan apabila mereka sedang bersenggama.
"Karena lu suka dijadiin lonte, makanya gue kenalin ke abang-abang. Suka kan, lu?"
Sudut bibir Jisung tertarik mengingat omongan Jeno beberapa bulan lalu. Benar, lelaki itulah yang mengenalkan The Bat pada Jisung. Siapa sangka dia bisa tertangkap basah oleh Jeno ketika sedang menonton video porno—tema gangbang pula.
Tercetuslah ide gila dari Jeno.
Free use untuk The Bat?
Menarik.
Sirkuit di kepala Jisung tampaknya sudah putus, karena dibandingkan kaget dan terhina mendengar usulan tersebut, Jisung merasa tertantang sekaligus senang. Mendapatkan satu kenikmatan dari seorang Lee Jeno memang menarik, tapi bagaimana kalau dapat dua, tiga atau lebih dari itu? Jelas Jisung tidak mau melewatkan kesempatan tersebut.
Sesuai kesepakatan, bengkel milik Johnny adalah tempat mereka bebas melakukannya. Sayangnya, hingga saat ini Jisung belum mendapatkan sesuai bayangannya. Abang-abang di The Bat Workshop masih menganggapnya anak kecil polos yang perlu dijaga. Mereka lebih memilih mulut kecil Jisung dibandingkan menggempurnya bergantian. Masih suka bermain sendiri-sendiri atau sekedar petting seperti yang dilakukannya pada Hendery. Mungkin Jisung perlu memancing mereka agar bisa main bersama-sama?
"Suka rasa strawberry, Ji?"
"Hah?"
"Kamu mau minuman yang mana?" tanya Jungwoo.
"O-oh." Jisung bergumam, tampak menimang pilihannya. "Sundae ada nggak, kak?"
"Ada. Sundae strawberry?"
Jisung kembali mengangguk lalu mengalihkan pandangan ke depan. Sepertinya ia melamun terlalu lama hingga tidak sadar mereka sudah tiba di salah satu gerai minuman.
Jungwoo keluar dari mobil untuk memesan. Pandangan Jisung tak lepas darinya, mengamati gerak-gerik, ekspresi, hingga busana yang dikenakan.
Jungwoo terlihat tampan hari ini. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya lelah, tapi justru itu yang membuatnya semakin menarik. Jika hari ini penuh jadwal melelahkan, tidak ada salahnya apabila Jisung ingin mengurangi letih itu dengan caranya sendiri.
Misalnya seperti mengemut—
"Sundaenya, Ji."
"Ah, iya, kak. Makasih."
Jisung menerima dessert itu dengan kedua tangannya, lalu menikmati sundae strawberry dalam diam. Sesekali dia akan melirik Jungwoo yang sedang menikmati minumannya. Pandangan lelaki itu mengarah ke depan, tapi tatapannya tidak fokus.
"Lagi capek, kak?" tanya Jisung memecah keheningan dalam mobil.
"Lumayan," balas Jungwoo seadanya. "Makanya ngajak kamu jalan."
"Sekarang udah mendingan?"
"Mendingan... hausnya." Jungwoo tertawa pelan sambil menggoyangkan gelas minumannya.
"Berarti belum full energy, kak?"
Jungwoo menatap Jisung sesaat, matanya menelisik seakan merasakan pancingan dalam ucapan Jisung.
"Kalau belum, kenapa?"
Perlahan Jungwoo mulai mencondongkan badannya ke arah Jisung, suaranya terdengar rendah dan pandangannya belum lepas dari yang lebih muda.
"Adek punya ide?"
Jisung mungkin terlihat seperti anak ayam yang terpojok, tapi Jungwoo sedikitnya tahu bahwa tidak semudah itu menilai pemuda ini. Paras cantiknya bisa saja menipu orang lain, tapi tidak dengan mereka—The Bat.
"Punya. Kakak mau dengar nggak?"
Jungwoo bisa melihatnya, kerlingan nakal di mata Jisung. Senyuman yang berusaha ditutupi dibalik minuman. Ah, ia paham sekarang. Pemuda ini memang sengaja memesan sundae, sengaja menyantap es krim itu dengan lambat, bahkan menjilat bibirnya yang terkena es krim.
Mungkin di lain waktu akan terlihat lucu, tapi isi kepala Jungwoo sedang tidak pada tempatnya. Percakapannya dengan Jisung setengah jam lalu bukanlah taraf normal untuk ukuran teman.
Teman? Apa mereka bisa disebut seperti itu?
Jungwoo mengulurkan tangan, mengusap pipi Jisung dengan lembut. Badannya semakin condong, begitu pula dengan Jisung. Mereka bersitatap sejak tadi dan belum ada satu pun yang melepaskan, seakan keduanya terhipnotis.
"Coba kasih tahu kakak ... soal idenya."
Jarak di antara mereka semakin tipis, helaan hangat dari nafas masing-masing bisa terasa. Wangi susu dan strawberry dari bibir Jisung juga terasa pekat. Jungwoo semakin tertarik ingin menyicipinya.
Pasti akan sangat manis.
Detik berikutnya bibir mereka bertemu, bergerak lambat sambil mengecup beberapa kali, seakan tidak puas jika hanya menyicip sekali. Manis dapat dirasakan dan semakin membangkitkan gairah.
Jungwoo meletakkan kedua minuman mereka begitu saja. Tidak mempedulikan letaknya—asalkan tidak tumpah—karena sekarang ia sibuk mencumbu bibir Jisung. Mengemut bibir mungil itu dan menyesapnya bak orang kehausan, sementara tangannya mulai menarik tengkuk Jisung lebih dekat, memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman mereka.
Lenguhan pelan bisa Jungwoo dengar, manja dan menggoda seiring dengan tangan Jisung yang meraba dadanya. Bibir pemuda itu terbuka dengan sukarela dan tanpa perlu menunggu lama, lidahnya menelusup masuk, bermain dengan lidah Jisung.
Lama kelamaan cumbuan itu semakin terasa liar—basah dan tak beraturan—makin terasa menuntut, dipenuhi nafsu yang menginginkan lebih. Tangan keduanya sibuk bergerak, Jungwoo memegang wajah Jisung dengan kedua tangannya, sementara yang lebih muda meremat rambut Jungwoo dengan jemari yang bergerak pelan di sekitar dada, bermain dengan kancing baju Jungwoo, hingga turun menuju selangkangan.
"Kak..."
Jisung yang pertama melepaskan pagutan itu, bibirnya memerah dan basah oleh saliva. Tatapannya sayu dengan dada yang bergerak naik turun meraup oksigen.
"Mau emut boleh?"
Dan siapa Jungwoo yang berani menolak permintaan si manis?
Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti di tempat sepi, jauh dari keramaian dan mata-mata penasaran. Dari luar, tampak hanya ada satu pengemudi. Tidak ada yang tahu ada penumpang lain di dalamnya—dengan mulut yang tersumpal—sedang mengulum milik Jungwoo, seakan benda tak bertulang itu adalah 'makanan' favoritnya.
Geraman rendah lolos dari bibir Jungwoo, sesekali matanya terpejam, berusaha sekuat tenaga tidak menyentak ke dalam mulut Jisung. Bibir mungil itu lihai memainkan perannya dan Jungwoo ingin menikmati lebih lama. Pemandangan di mana Jisung mengulum penisnya bak lollipop.
"Adek suka, hm? Senang bisa ngemut kontol kakak?"
Ia mengelus lembut kepala Jisung, bermain dengan helaian rambutnya. Tak henti memandang pemuda itu dengan sorot mata gemas.
Bunyi 'plop' pelan terdengar ketika Jisung mendongak. Poninya berantakan dengan jejak saliva di sudut bibir, pipinya merona dengan mata sayu yang sepenuhnya sudah diselimuti nafsu. Senyuman tampak di paras manis Jisung, hampir seperti orang teler.
Hanya anggukan kecil yang diberikan sebagai jawaban.
"Kakak suka nggak?"
Kali ini Jisung yang bertanya, suaranya sedikit serak tapi menggoda.
Jungwoo tersenyum sebelum mencium pucuk kepala Jisung. Tangannya mengusap lembut pipinya, sebagai tanda bahwa ia menikmati yang dilakukan pemuda itu.
Jisung pun lanjut menjilati batang penis Jungwoo, dari atas hingga turun ke bawah sampai mengenai celana yang dipakai lelaki itu. Aroma maskulin yang menguar dari kelamin Jungwoo makin membuat Jisung terangsang, tanpa sadar mulai menggerakkan pinggulnya, ikut merasakan sesak di bagian bawahnya.
Dihisap, dikulum, dikecup.
Tidak ada satu bagian yang terlewat untuk dijamah. Gumaman Jisung akan terdengar di sela itu, bak orang kehausan yang menemukan pelepas dahaganya. Suara yang dihasilkan pun makin terdengar becek karena basah oleh salivanya.
Di sisi lain, erangan Jungwoo mengisi keheningan dalam mobil. Dia mendesis nikmat sambil mengusap kepala Jisung, perlahan mulai turun untuk mengelus leher dan punggungnya. Untuk kali ini, Jungwoo tidak bisa lagi menahan. Hangat dan sempit menyelimutinya sejak tadi, terlalu nikmat hingga ia menghentak pinggulnya, menyodok lebih dalam sampai mengenai ujung tenggorokan Jisung.
Suara tercekat terdengar dari Jisung, pemuda itu mungkin sedikit kaget, tapi refleknya cukup baik untuk tidak membuatnya tersedak.
Jisung segera melepaskan kulumannya, tidak melewatkan kesempatan untuk meraup udara sebanyaknya, sementara tangannya masih bergerak naik dan turun menggenggam penis Jungwoo.
"Adek keselek tadi?" tanya Jungwoo sambil memegang dagu Jisung.
Pertanyaannya mungkin terkesan kalau lelaki itu khawatir, tapi yakinlah Jungwoo menikmati situasi ini, melihat Jisung tidak berdaya untuk sesaat.
"Kaget dikit, kak," geleng Jisung sambil tersenyum.
Selama beberapa saat Jungwoo memandangi Jisung, mengusap bibirnya yang merah merona.
"Cantik banget kamu hari ini. Kakak fotoin boleh?"
Tentu saja, dengan senang hati Jisung mengangguk. Entahlah, rasanya ada kesenangan tersendiri ketika seseorang mengabadikan dirinya dalam potret.
Ia kembali mengemut penis Jungwoo, Jisung bisa menebak lelaki itu akan mendekati pelepasannya, terasa dari penisnya yang semakin tegang dan penuh saat Jisung mengulumnya. Milik Jungwoo memang tidak setebal Johnny maupun Jeno, tapi yakinlah, batang penis itu cukup panjang untuk menyodok hingga ujung tenggorokan Jisung.
Bunyi kamera dan kilatan flash muncul saat Jisung sibuk 'melahap' penis Jungwoo sepenuhnya, menghisap dan mengemut hingga ujungnya mengenai tenggorokan. Bunyi kamera kini makin terdengar jelas beberapa kali, ia sadar bahwa lelaki itu sedang mengambil foto. Tapi, hal itu tidak menghentikan Jisung untuk terus bergerak, sampai lenguhan panjang terdengar pertanda bahwa Jungwoo menikmatinya.
"Pinter banget sayang," geram Jungwoo rendah sambil mengusap leher Jisung.
"Adek bisa telan semuanya, kan?"
Anggukan semangat Jisung berikan sebagai jawaban. Di sela itu, dia bisa mendengar bunyi notifikasi dari ponsel Jungwoo. Sudut matanya bisa menangkap bahwa lelaki itu berusaha untuk membalas pesan meski tubuhnya mulai bergerak gelisah.
Layaknya, anak kecil iseng, Jisung sengaja mempercepat temponya. Kepalanya bergerak naik turun, seiring dengan tangannya yang mengocok penis Jungwoo. Geramannya makin terdengar rendah, berbisik pada Jisung bahwa ia akan mencapai pelepasannya.
Tak butuh waktu lama, Jisung merasakan semburan air mani dalam mulutnya, begitu hangat dan kental mengisi tenggorokannya. Perlahan ia melepaskan penis itu, sedikit terbatuk karena tidak semuanya berhasil ditelan.
Ia menoleh ke arah Jungwoo, lelaki itu tersenyum padanya. Sorot matanya lembut, tapi juga kelam. Nafsu masih tersisa di sana, belum ingin mengakhiri kegiatan ini.
"Yuta tanya kamu lagi ngapain sama kakak."
Tawa pelan keluar dari bibir Jungwoo tak lama kemudian.
"Kakak kirim fotonya ke gc?"
Posisi pemuda itu masih sama, bersandar di atas pangkuan Jungwoo, pipinya bersentuhan dengan penisnya, sedikit menungging meski posisinya kurang begitu menguntungkan.
Jungwoo sadar seharusnya mereka pindah ke kursi belakang, tapi sepertinya percuma. Nafsu sudah memuncak untuk mereka berdua.
"Nggak, itu buat simpanan pribadi." Ia pun melirik ke arah Jisung. "Kamu mau fotonya dikirim?"
Jisung sejenak tampak berpikir, ekspresinya terlihat malu-malu, tapi akhirnya ia mengangguk.
"Kirim ke gc aja, kak."
Jungwoo menepuk pelan pipi Jisung, makin gemas saat melihat tingkah pemuda itu. Tangannya masih berada di penis Jungwoo, mengurut pelan agar kembali terbangun.
"Suka jadi tontonan? Suka kalau mereka tahu adek lagi ngapain sama kakak, hm?"
Jisung tidak banyak menjawab karena sekarang ia sendiri mulai bergerak gelisah. Tidak ingat sejak kapan tangan satunya bergerak ke arah bawah, mengurut penisnya sendiri dengan pinggul yang makin naik. Membayangkan bahwa abang-abang di grup chat melihat foto yang dikirim Jungwoo, semakin membuatnya terangsang. Entah bagaimana reaksi mereka, tapi itu cukup mengundang senyum di wajah Jisung.
"Pantesan kamu seneng banget di videoin Jeno waktu dientot Yuta."
Suara Jungwoo terdengar lembut, tapi sarat akan godaan. Tatapannya belum berpaling dari Jisung, apalagi ketika mendapati pemandangan seperti ini.
Jisung yang terlihat putus asa, tanpa tahu malu menyentuh tubuhnya sendiri. Sekilas Jungwoo seperti menonton video porno gratis, tinggal menanggalkan baju dan yap, sebuah hidangan akan tersaji, siap untuk disantap.
"Apa kita group call aja, biar mereka lihat adek lagi ngapain sekarang?"
Jungwoo menggoyangkan ponselnya, benda kotak itu tak hentinya berbunyi sejak tadi. Seramai apa chat grup itu, Jisung pun tidak tahu.
"N-nggak..."
"Kok nggak?"
"Nggak dulu... a-ahh— mau kakak."
Suara Jisung terdengar lirih saat meminta. Tubuhnya bergerak gelisah, seiring itu bunyi becek makin terdengar kuat dan desahan-desahan pendek keluar dari bibir Jisung. Pemandangan yang jelas membuat Jungwoo kembali terangsang.
"Ma-masuk, ya, kak? Masukin aku ... mau, ya?"
Sekali lagi, siapa Jungwoo berani menolak permintaan si manis?
Ia pun memundurkan jok mobil lalu menurunkannya. Tangannya bergerak mengisyaratkan agar Jisung pindah ke pangkuannya. Melihat tanda itu, wajah yang lebih muda seketika berseri, buru-buru ia melepaskan celananya hingga mengundang tawa pelan dari Jungwoo.
"Santai aja dek, kakak di sini kok."
"Iyaa, tapi udah nggak sabar," rengek Jisung dengan manja.
Jisung pun mengambil sebotol lubrikan dari dalam tas dan menyerahkannya pada Jungwoo. Sebelah alis laki-laki itu naik ketika menerima botol tersebut, tapi seharusnya bukan sesuatu yang mengherankan. Pemuda itu bisa mereka pakai di mana aja, baik di wilayah kampus atau bengkel.
Kini Jisung telah berada di pangkuannya, dengan jari Jungwoo yang bermain di lubang kawinnya. Keluar masuk dengan mulus, bergerak bak gunting untuk memperlebar jalur masuknya. Di sela itu, desahan Jisung makin terdengar tidak karuan. Pinggulnya bergerak tidak sabar, membuat penisnya bergesekan dengan milik Jungwoo.
"Kak... jangan lama-lama, please..." pinta Jisung. Matanya yang sayu memandang penuh permohonan.
"Apanya jangan lama-lama?" godanya sambil menyeringai.
Satu tangannya meremas pantat Jisung, membuka lebar belahan itu hingga Jisung bisa merasakan dinginnya udara dari AC mobil, yang membuat sekujur tubuhnya meremang. Semakin membuat Jisung ingin lebih, ingin diisi penuh.
"Nanti aku keluar duluaan."
Jisung makin merengek. Suaranya begitu lucu di telinga Jungwoo apalagi pemuda itu sekarang menyembunyikan wajahnya di dada Jungwoo.
"Nggak apa-apa, berarti enak, kan? Pakai jari kakak aja adek udah ngecrot."
Kini jari ketiga Jungwoo masuk dan suara yang dihasilkan makin terdengar basah. Makin erotis dan semakin tidak membantu karena Jisung makin merengek, hampir seperti tangisan.
"K-kak... nggak kuat, mau, mau, keluar..."
"Keluarin sayang, keluarin," ucap Jungwoo dengan lembut.
Sesekali ia mengecup sudut mata Jisung yang mulai berair, menjilat lelehan air mata yang hendak menetes.
Jari Jungwoo makin bergerak liar di bawah sana, memporak-porandakan liang senggama Jisung, menyodok lebih dalam, menekan bagian yang ia tahu akan membuat Jisung semakin bereaksi. Desahan pemuda itu makin kencang, artikulasinya tak karuan dan tak lama lenguhan panjang keluar dari bibir yang lebih muda.
Kepalanya terkulai di dada Jungwoo, merasakan hangat di antara tubuh mereka. Tidak peduli jika baju keduanya kotor oleh sperma, Jisung ingin beristirahat sejenak. Namun, belum sempat lepas dari euforianya, ujung penis Jungwoo menyentuh, berusaha melesak masuk.
"A-ahh... kak..."
Kepala Jisung rasanya pening, tubuhnya terasa sensitif untuk saat ini, ia merengek pelan tapi tak menghentikan niat Jungwoo untuk terus masuk sepenuhnya.
Erangan tak lama keluar dari bibir Jungwoo, merasakan Jisung menyelimutinya dengan hangat dan erat seakan memijit penisnya. Sensasi yang luar biasa, makin membuat Jungwoo tidak sabar untuk menggempur yang lebih muda. Kedua tangannya bergerak menahan pantat Jisung, lalu pinggulnya mulai bergerak.
Awalnya gerakannya pelan dan lambat, tapi lama-kelamaan semakin cepat dan tidak sabar. Terus dan terus menghujam titik yang Jungwoo tahu dapat membuat Jisung kelimpungan.
Jisung sendiri tidak banyak berucap selain mendesah memanggil nama Jungwoo. Suaranya halus dan manja, makin terdengar seksi karena desahannya bernada rendah. Untuk pemuda semanis Jisung memiliki suara yang berbanding terbalik dengan penampilannya mungkin bisa mengagetkan, tapi itu pula yang menjadi daya tariknya.
Suara erotis dari pertemuan kulit mereka makin memenuhi mobil itu, bunyi tamparan pun terdengar mengikuti. Dari luar, mobil itu pasti terlihat bergoyang, tapi penghuninya tampak tidak peduli. Mereka terlalu sibuk mengejar nikmat masing-masing.
"Kalau dari luar ada yang lihat pantat kamu nungging begini, gimana, ya, dek?" bisik Jungwoo di dekat telinga Jisung.
Temponya kini mulai melambat sambil memandangi Jisung. Raut wajahnya tampak berantakan, peluh turun dari pelipis, pipinya merah merona dengan mata sayu diselubungi nafsu. Bibirnya merah dan bengkak, tak hentinya mengeluarkan desahan sejak tadi.
"Hungg... malu," geleng Jisung membenamkan kepalanya pada ceruk leher Jungwoo.
"Kok malu?" Jungwoo terkekeh pelan, memberi tamparan pelan di pantat yang lebih muda.
"Malu aja..."
"Kalau yang nonton anak The Bat gimana?"
Jisung makin membenamkan kepalanya, helaan hangat nafasnya terasa menggelitik leher Jungwoo, tapi belum ada jawaban dari pemuda itu.
"Kok nggak dijawab, dek?" tanya Jungwoo mulai kembali pada temponya.
"Ma-malu juga ka— kak, ha-ahh!"
"Tapi?"
"Tapi...."
Rasanya kepala Jisung makin pusing, tapi di saat bersamaan juga terasa kosong. Hanya penuh oleh Jungwoo, Jungwoo, dan penisnya yang terus menyodok tanpa henti. Mengenai titik sensitifnya, bahkan hingga mentok dan membuat Jisung hampir merotasikan matanya saking nikmatnya. Pantatnya pun terasa panas, bekas tamparan pasti tercetak jelas di sana.
Namun, itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan, bahkan kalau dipikirkan malah membuat Jisung tersenyum. Seseorang meninggalkan jejaknya di tubuh Jisung.
Bagaimana kalau ditonton abang-abangnya?
Sial, Jisung makin terangsang memikirkannya.
Tidak salah jika disebut lonte.
"Suka, ya? Lebih suka sambil ditonton mereka?"
Jisung hendak mengangguk, tapi ketika Jungwoo menumbuk keras pada sweet spot-nya, tak ayal membuatnya memekik kaget.
"Kok nggak jawab, dek?"
"Udaah jawab..." bisik Jisung.
"Mana? Kakak nggak dengar, tuh."
Akhirnya Jisung menoleh ke arah Jungwoo. Niatnya ingin ngambek, tapi yang terlihat oleh lelaki itu malah wajah gemas, ekspresi yang seakan minta untuk disetubuhi, lagi dan lagi.
"Pantesan pada sange pengen entot kamu."
Jungwoo makin mempercepat temponya, pinggulnya bergerak liar tak tahu arah, menghujam lubang Jisung tanpa ampun. Makin cepat ia bergerak, makin becek dan tidak senonoh suara yang dihasilkan.
"Lontenya The Bat, ya, kan?"
"Hngg....kak..."
"Iya, kan, dek?"
"I-iya! Punya kak Jungwoo ha-ahh!"
"Punya siapa lagi sayang?"
"Bang Johnny... ah, ah, ah— bang Yuta, kak... kak... ja-jangan di situ..."
"Siapa lagi, dek?"
"Aa... Dery.... Jeno!"
Jisung menyebutkan nama-nama itu seakan mereka berada di tempat yang sama dengannya. Pipinya makin terasa panas membayangkan jika mereka mendengar kata-katanya sekarang. Malu, tapi di saat bersamaan merasa senang. Perutnya terasa geli seakan dikocok-kocok.
Dasar binal memang Jisung ini.
Tapi kalau bisa mendapatkan lima orang cuma-cuma, siapa Jisung untuk menolak?
"Kak... aku mau..."
"Barengan sayang."
Jungwoo seakan tidak membiarkannya untuk beristirahat. Ia mencium bibir Jisung dengan rakus, berantakan dan penuh nafsu. Membiarkan desahan pemuda itu teredam dalam ciuman mereka, sementara pinggulnya terus bergerak menggenjot anal itu dengan cepat dan kasar. Sensasi yang datang bertubi-tubi membuat Jisung tidak tahan, hingga mencapai klimaksnya duluan.
Pagutan mereka lepas dan pinggul Jungwoo masih terus bergerak, temponya mulai terasa berantakan dan tidak sabar. Jisung kembali mendesah, merengek manja dan hampir terisak karena tubuhnya makin terasa sensitif. Ia suka dan di saat bersamaan juga tidak tahan menerima sensasi ini. Nikmat yang tak terbantahkan, membuat sekujur tubuhnya bergetar.
Ketika rasa hangat perlahan mengisi tubuhnya, Jisung menghela nafas lega. Ia merasa begitu penuh dan puas, meski tahu kelelahan akan datang nantinya, terlebih untuk pinggangnya.
Deru nafas mereka terdengar saling mengejar, berusaha menenangkan diri setelah kegiatan yang intens.
"Makasih, dek," bisik Jungwoo.
Usapan lembut di punggung dan kecupan pelan di pelipis dapat Jisung rasakan. Ia mengusakkan kepalanya pada Jungwoo.
"Senang bisa bantu kakak."
Mereka berada di posisi itu selama beberapa saat, cukup nyaman meski dalam ruang sempit. Bunyi notifikasi tak lama terdengar dari ponsel Jungwoo dan ketika Jisung menoleh, ia melihat layarnya bercahaya, menampilkan aplikasi perekam suara.
Jungwoo pun meraih ponselnya, jarinya bergerak lincah di atas layar.
"Mau kirim voice notenya ke abang-abang, kak?"
Jungwoo melirik ke arah Jisung, dibandingkan kaget karena ketahuan, lelaki itu malah terkekeh pelan, seringaian tampak di wajahnya.
"Bagian mana yang mau dikirim?"
Jisung hanya tersenyum sebagai jawaban. Matanya mengerling nakal ke arah Jungwoo.
Ah, Jungwoo jadi tidak sabar melihat Jisung dipakai oleh mereka berlima.
END
