Actions

Work Header

Lovefool

Summary:

Jaehyun sangat menyukai Sungho. Jaehyun bahkan bercita-cita untuk menikahi Sungho saat mereka sudah dewasa nanti. Sayangnya, Jaehyun tanpa sengaja mendengar bahwa Sungho akan dijodohkan dengan tetangga belakang rumahnya, membuat Jaehyun kelimpungan selama satu jam di sore itu.

Notes:

This fiction is made for #SHineMYouth graciously hosted by @daengsunghome on twt/x, thank you so much for the opportunity so i can participate in this wonderful event. Also thanks to @eternaluf on twt/x for such an adorable and interesting prompt that truly inspired me ♡.

Work Text:

Jaehyun ingat kala pertama kali ia melihat Sungho di depan rumahnya, mereka masih sama-sama berusia lima tahun.

Saat itu, keluarga Sungho baru saja pindah ke rumah yang letaknya tepat berada di seberang rumah Jaehyun. Jaehyun yang tengah dihukum dilarang keluar kamar karena habis memecahkan lima piring sekaligus pun penasaran akan keramaian yang berada di luar rumah. Lantas Jaehyun mengintip dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua untuk melihat ke arah bawah. Netranya tangkap seorang laki-laki berambut sedikit panjang yang tengah perhatikan bunga-bunga milik kakak Jaehyun yang sengaja ditanam di depan rumah.

Jaehyun rasanya ingin sekali bergabung dengan orang-orang yang tengah mengobrol dengan tetangga barunya. Laki-laki yang tadi ia perhatikan pun tampaknya sangat akrab dengan si kakak. Bahkan kakaknya memetik salah satu bunga berwarna kuning untuk ia selipkan di sela-sela telinga dan rambut si laki-laki tersebut.

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka membuat Jaehyun terperanjat dari kursinya. Entah sejak kapan sang ibu sudah berada di depan kamarnya, padahal barusan Jaehyun masih melihat sang ibu masih mengobrol dengan tetangga barunya.

Terdengar helaan napas pelan dari wanita berusia tiga puluh tahun awal itu, “Kenalan dulu sana sama Sungho. Tapi awas jangan pecicilan, nanti Sungho gak mau temenan sama adek.”

Jaehyun asumsikan nama laki-laki berambut panjang itu adalah Sungho, dan Jaehyun tidak bisa berhenti rapalkan nama tersebut di dalam hatinya, seakan jika ia berhenti merapalkan nama Sungho, Jaehyun akan melupakan namanya.

Dilihat dari jarak dekat, Sungho terlihat lebih lucu di mata Jaehyun. Sungho bahkan kebingungan sendiri saat ada anak laki-laki di dekatnya yang sama sekali tidak mengeluarkan kata, dan hanya terus menatapnya sejak tadi. Mata Jaehyun terarahkan kepada Karina, kakak Jaehyun, yang malah tertawa karena melihat adiknya seketika berubah menjadi diam saat melihat Sungho.

“Sungho, kenalin ini Jaehyun, adik aku.”

Sungho tersenyum mendengar perkataan Karina, lantas ia ulurkan tangan untuk bersalaman dengan Jaehyun. Yang diulurkan tangan malah diam saja, membuat Karina mau tidak mau harus turun tangan agar sang adik yang berbeda 3 tahun di bawahnya ini mau membalas uluran tangan dari Sungho.

“Halo Jaehyun, aku Sungho!” katanya bersemangat.

“O-oh! Halo Nyangho, aku Jaehyun… EH?!” Jaehyun dengan cepat lepaskan satuan tangannya dengan Sungho saat ia sadar bahwa ia salah menyebutkan nama anak itu. Karina di sampingnya tidak membantu sama sekali, perempuan itu malah tertawa kencang membuat dua orang tua yang tengah mengobrol itu melihat ke arah mereka.

“Maaf… soalnya kamu mirip kucing…”

Sungho menggaruk bagian belakang kepalanya, “Sebenernya kata mama juga aku mirip kucing, jadi gak apa-apa! Panggil aku Nyangho aja, Jaehyun!”

Sejak perkenalan awal itu, Jaehyun selalu memanggil Sungho dengan panggilan Nyangho, atau hanya Nyang sebagai panggilan pendek. Jaehyun sering mengatakan kalau Sungho itu benar-benar mirip dengan kucing, tak sekali dua kali Jaehyun menggoda Sungho agar dirinya mengeong seperti kucing, yang tentunya mendapatkan penolakan dari Sungho.

Agenda Jaehyun menyamakan Sungho dengan kucing memang tidak pernah berhenti. Pernah satu kali ketika keluarga mereka sedang mengadakan makan bersama di rumah Jaehyun untuk merayakan ulang tahun si bungsu, mereka dikejutkan dengan suara teriakan dari Sungho. Setelah dicari keberadaannya, Sungho langsung berlari mengadu kepada semua orang yang berada di sana bahwa Jaehyun baru saja menggigit pipinya. Alasannya karena Jaehyun terlalu gemas dengan Sungho yang katanya sangat mirip dengan kucing tiga warna—hitam, oranye, dan putih—milik temannya.

Sungho langsung menangis begitu melihat orang-orang di sana malah menertawakannya. Jaehyun dengan wajah tanpa berdosanya hampiri Sungho sembari tepuk-tepuk pundak lelaki tersebut, seakan-akan Sungho menangis bukan berawal dari dirinya. Keesokan harinya ketika Jaehyun mengajak main Sungho, Sungho menolak keras ajakan tersebut dan memilih untuk diam di dalam kamar. Jaehyun langsung pulang ke rumah dengan wajah murung akibat ajakan mainnya ditolak oleh Sungho, ia lantas memeluk tubuh sang ibu sambil menangis di dekapannya.

Beruntungnya mereka hanya berjauhan selama dua hari karena Mama Sungho mengatakan bahwa bermusuhan lebih dari tiga hari itu tidak boleh, maka dua hari setelah kejadian itu Sungho langsung mendatangi rumah Jaehyun untuk meminta maaf. Mereka mulai kembali bermain bersama setelah itu.

Memasuki sekolah dasar, Jaehyun dan Sungho didaftarkan ke sekolah yang sama. Sayangnya, Sungho dan Jaehyun harus berpisah kelas, sehingga Jaehyun sempat tantrum di rumahnya karena tidak berada di kelas yang sama dengan Sungho.

“Adek kan masih bisa dateng ke kelas Nyang kalau istirahat, lagian Nyang juga pasti bosen ngeliat muka adek setiap hari gak di rumah gak di sekolah. Nyang juga kan mau punya temen baru, nah adek juga harus cari temen baru yang lain, biar punya temen yang banyak.”

Keesokan harinya, Jaehyun mengajak teman satu bangkunya untuk kembali berkenalan, Sohee namanya. Sohee terlalu pendiam, Jaehyun terkadang bingung dengan respon Sohee yang tidak sesuai dengan harapannya.

Saat waktu istirahat tiba, Jaehyun pergi hampiri kelas Sungho ditemani dengan Sohee, karena katanya Sohee belum memiliki teman lagi di kelas. Begitu berada di depan kelas Sungho, Jaehyun melihat Sungho yang tengah mengobrol dengan laki-laki yang menjadi teman satu bangkunya.

“Nyang!” Sungho menoleh kala mendengar suara yang sudah sangat familiar di telinganya, ia lantas lambaikan tangannya dengan cepat.

“Kamu ngapain ke kelas aku?” ucapnya kepada Jaehyun.

“Aku mau main sama kamu…”

“Yaudah masuk aja ayo, aku udah punya temen baru, namanya Riwoo!”

Jaehyun dan Sohee masuk ke kelas Sungho. Sungho dan Riwoo membagi tempat duduknya agar bisa ditempati oleh dua orang, Sungho dengan Jaehyun, dan Sohee dengan Riwoo. Mereka berbincang membicarakan tontonan kartun yang selalu tayang di jam enam pagi, tepat sebelum mereka semua berangkat sekolah. Tiga puluh menit bagi mereka terasa sangat cepat, karena secara tiba-tiba wali kelas Sungho sudah berjalan memasuki kelas.

“Nyang, besok-besok kamu yang kelas aku, ya!” ucap Jaehyun sebelum tinggalkan kelas Sungho.

Saat Jaehyun dan Sohee kembali ke kelas mereka, Sohee bertanya, “Sebenernya nama dia Nyang atau Sungho?”

“Namanya Sungho, tapi aku manggil Nyang karena dia mirip kucing.”

Sohee mengangguk, “Kalau aku ikut manggil Nyang juga boleh?”

Jaehyun dengan cepat menggeleng kuat, “Gak boleh! Itu panggilan kesayangan cuman dari aku!”

Sohee tidak berbicara apa-apa lagi, ia memilih untuk mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Ia takut karena nada Jaehyun tidak terdengar begitu ramah di telinganya barusan, jadi daripada ia membuat Jaehyun semakin marah, lebih baik ia diam saja.

Memasuki kelas empat sekolah dasar, Jaehyun menjadi murid yang paling dikenal, setidaknya di satu angkatan sekolah. Selain karena keaktifannya mengikuti segala jenis perlombaan, ia juga dikenal karena kelakuannya yang selalu tidak bisa diprediksi. Wali kelasnya sendiri sampai angkat tangan, bahkan mengatakan kalau Jaehyun benar-benar definisi dari cacing kepanasan.

Berbeda jika sudah membicarakan pelajaran, Jaehyun akan menjadi orang yang paling serius dan tidak akan banyak bertingkah. Ia ingin menjadi ranking satu di kelas agar sama seperti Sungho yang juga menempati ranking pertama di kelasnya.

Seperti saat ini, sang wali kelas tengah berbicara di depan kelas mengenai bab cita-cita. Jaehyun fokus mencatat apa yang dikatakan dan ditulis di papan tulis oleh wali kelas. Sohee sampai heran sendiri melihat teman satu bangkunya yang sangat rajin sampai-sampai halaman bukunya selalu penuh.

Tak lama, sang wali kelas meminta para murid untuk menyebutkan apa cita-cita mereka, dimulai dari kursi belakang. Ada yang mengatakan ingin menjadi dokter, guru, pemadam kebakaran, dan segala jenis profesi lainnya. Hingga tiba lah bagian Jaehyun untuk menyebutkan cita-citanya.

“Mau nikah sama Nyang!”

Satu kelas tertawa akan perkataan Jaehyun. Wali kelas yang tahu siapa Nyang yang dimaksud Jaehyun pun hanya menggeleng pelan, menahan tawa kecil yang akan keluar dari mulutnya.

“Emang adek gak boleh ya nikah sama Nyang? Masa waktu adek bilang gitu langsung diketawain satu kelas.” ucap Jaehyun begitu sudah sampai di rumah, mengadu kepada sang ibu yang langsung berhenti mencuci piring.

Jaehyun memajukan mulutnya tanda kesal, ia terus mengaduk-adukkan serealnya sampai air susu yang berada di dalam mangkok pun menciprat ke atas meja.

“Ya adek juga ditanya cita-cita kok jawabnya nikah sama Nyang. Lagian adek masih kelas empat, masih kecil buat ngomongin nikah-nikahan.” Wanita itu mematikan air keran meskipun peralatan makan yang kotor masih menumpuk di atas wastafel, pembicaraan anaknya lebih menyenangkan dibanding pekerjaan rumah.

Jaehyun menaruh sendok di atas meja, tangannya bergerak untuk ambil tisu dan bersihkan cipratan air yang ada di sekitarnya, takut jika sang ibu menghampirinya untuk memarahi Jaehyun karena membuat meja kotor. “Tapi boleh gak nikah sama Nyang?”

Terdengar suara tawa pelan yang membuat Jaehyun semakin sebal, kemudian sang ibu mengusak rambutnya, “Ya boleh, tapi nanti kalau udah dewasa, kalau adek juga udah punya pekerjaan.” Wanita itu menjeda sejenak, “Makanya kamu harusnya jawab profesi waktu tadi, biar bisa nikah sama Nyang.” sebelum mencubit pelan hidung Jaehyun.

Satu hal yang tidak Sungho sangka adalah bahwa panggilan dari Jaehyun itu bertahan sampai saat mereka menginjak kelas dua belas sekolah menengah atas. Lebih buruknya lagi, Jaehyun dan Sungho berada di kelas yang sama sejak kelas sepuluh, membuat mereka menjadi teman satu bangku. Sebenarnya duduk bersama dengan Jaehyun bukanlah hal yang buruk, hanya saja…

“Nyang! Aku mau ke warkop sama Intak, mau ikut gak?”

Riwoo, yang kebetulan kembali satu kelas dengan Sungho di sekolah menengah atas hanya bisa menggelengkan kepala. “Nyang~” ucap Riwoo pelan menggoda Sungho yang sedang fokus mengerjakan tugas matematikanya, yang langsung dibalas cubitan pelan oleh Sungho di lengan Riwoo. Setelahnya Riwoo berjalan keluar kelas, meninggalkan Jaehyun dan Sungho yang masih berada di sana.

“Dibilang jangan panggil Nyang, panggil nama aja.”

Jaehyun tertawa, “Ya maaf, dibilang udah kebiasaan. Jadi mau ikut gak?” tanya Jaehyun sambil melipat tangan di atas meja, tepat di hadapan Sungho, memperhatikan Sungho yang tidak ada niat untuk alihkan pandangan selain ke buku tulisnya.

“Nggak, kamu aja. Aku mau selesain tugas dulu.” jawab Sungho tanpa pedulikan Jaehyun yang kini mulai menarik-narik lengan almamaternya.

“Yaudah, aku mau nungguin Nyang di sini.”

Setelahnya hening, Jaehyun yang kini mulai ikut perhatikan garis pena Sungho di atas halaman putih bukunya, membuat pola huruf serta angka yang familiar di penglihatan Jaehyun.

Lima belas menit berlalu, Jaehyun hampir saja pergi ke alam mimpi karena heningnya kelas yang hanya terdengar suara goresan dari pena yang digunakan oleh Sungho.

“Mama kemarin bilang hari ini mau adopt kucing.” ucap Sungho setelah selesaikan tugasnya. Sungho mulai memasukkan satu persatu peralatan yang berada di atas meja untuk dimasukkan ke dalam tas, menyisakan satu buku tulis untuk ia kumpulkan ke meja guru.

“Siapa namanya?” tanya Jaehyun.

Sungho berdiri dari tempat duduknya, pun Jaehyun mengikuti pergerakan Sungho. Terlihat Sungho mengangkat bahu, “Gak tau. Coba aja ntar dateng ke rumah, kali aja sekalian mau liat.”

“Sekarang aja kalau gitu.”

“Bukannya mau ke warkop sama Intak?” sedikit keheranan, Sungho pikir Jaehyun menunggunya karena ia ingin Sungho tetap ikut ke warkop.

Jaehyun menggerakkan tangannya ke udara, “Gampang, mending juga ngeliat kucing daripada liat Intak.” Jaehyun memiliki dua makna kucing di perkataannya, kucing dalam artian kucing baru milik Sungho, dan Sungho.

Sampai di rumah Sungho, si pemilik rumah langsung pergi masuk ke dalam kamar untuk berganti baju, membiarkan Jaehyun menunggu di sofa depan kamarnya. Jaehyun hanya memilih untuk memainkan ponsel yang baterainya hanya tersisa lima belas persen. Tangan Jaehyun bergerak untuk gulirkan layar, memperlihatkan laman instagram yang langsung tampilkan akun milik teman-temannya.

Telinga Jaehyun mendengar suara yang sangat familiar, seperti suara ibunya yang tengah mengobrol dengan mama Sungho dari halaman belakang rumah. Sembari menunggu Sungho selesai, Jaehyun memilih untuk hampiri sumber suara tawa dari wanita yang sudah sangat Jaehyun hafal.

“Iya tau mam, mumpung udah gede juga kan.” suara ibunya terdengar. Jaehyun tidak langsung hampiri kedua wanita itu, ia malah terdistraksi dengan eksistensi kucing berwarna oranye yang sedang menjilati bulu-bulunya di atas meja makan.

‘Mirip Nyangho’ batin Jaehyun berteriak kegemasan kala kucing itu bersitatap sekilas dengan netra miliknya, sebelum kucing itu membalikkan tubuh dan kembali jilati bulu-bulunya di bagian lain.

“Aku juga gak nyangka Nyang udah segede itu. Mungkin abis ini aku mau kawinin aja dia langsung, paling sama yang di belakang rumah, cakep soalnya.”

Yang tadinya tengah mengelus-elus kepala kucing di atas meja langsung menjadi terdiam kala mendengar ucapan dari Mama Sungho. Nyang? Mau dinikahin? Dan bukan dengan Jaehyun?

Bukankah ibunya setuju untuk membiarkan ia menikah dengan Sungho saat sudah besar nanti? Kenapa ibunya malah setuju-setuju saja kala Mama Sungho berkata bahwa akan menikahkan Nyang dengan tetangga belakang rumahnya?

Sungho yang sudah selesai berganti baju kebingungan ketika Jaehyun sudah tidak ada di depan kamarnya, padahal beberapa menit yang lalu Sungho masih bisa mendengar audio yang dikeluarkan dari ponsel Jaehyun. Lantas ia dengan balutan baju santainya berjalan ke arah belakang untuk mencari temannya tersebut.

Di belakang rumah, ia melihat mamanya tengah berbincang dengan Ibu Jaehyun. Langkahnya terhenti kala menyadari terdapat sesuatu yang lembut melakukan headbutting padanya. Sungho angkat si pelaku yang membuat betisnya kegelian untuk dibawa ke dalam pangkuannya.

Sungho berjalan menghampiri dua wanita yang tengah bercanda ditemani beberapa makanan ringan serta teh yang cangkirnya sudah hanya tersisa kantong tehnya saja.

“Mama, liat Jaehyun gak?”

Kedua wanita itu terlihat kebingungan, “Eh, Jaehyun emang ke sini ya, Sungho?” tanya ibu Jaehyun

Sungho mengangguk pelan dan ragu, ditakutkannya ia salah ingat kala mengajak Jaehyun untuk datang ke rumahnya. Tapi ia masih ingat ia benar-benar mengajak Jaehyun untuk melihat kucing, dan Jaehyun ikut masuk ke dalam rumahnya sekitar lima belas menit yang lalu, sebelum ia berganti pakaian.

“Tadi ada kok, katanya mau liat kucing.”

Mamanya langsung teringat, “Oh iya, kucingnya udah mama namain tau, namanya Nyang!” ucapnya bahagia. Memang alasan mamanya menamai kucing tersebut dengan nama Nyang adalah karena ia teringat nama panggilan Jaehyun kepada Sungho saat kecil, yang sepertinya tidak ia disadari bahwa Jaehyun masih tetap memanggil Nyang sampai sekarang.

“Kaya gak ada nama lain aja, maa.” Sungho tampakkan wajah kebingungan yang sejujurnya terlihat lucu di mata mereka, ditambah ia juga kebingungan disertai wajah geli kala mendengar mamanya mengatakan kalau kucing tersebut mirip dengan Sungho saat kecil.

Sungho habiskan beberapa menit di halaman belakang yang tidak terlalu luas itu sambil dengarkan perbincangan yang sangat menarik di telinga Sungho, mengenai kakaknya Jaehyun yang baru saja mendapat tawaran untuk menjadi model salah satu product kecantikan lokal yang sangat terkenal. Ia sesekali ikut masuk ke dalam obrolan yang tidak ada habisnya itu, dengan tubuh yang tidak berhenti bergoyang kanan kiri akibat rasa gemasnya dengan si bungsu—kucing barunya.

Dirasa ia mulai penasaran kemana perginya Jaehyun, Sungho terpikirkan untuk pergi mendatangi rumah Jaehyun saja. Ia berjalan meninggalkan halaman belakang setelah berpamitan dengan dua orang yang berada di sana, sengaja membawa Nyang ke dalam gendongannya untuk mendatangi rumah Jaehyun yang ternyata pagarnya terbuka. Tandanya Jaehyun memang pulang ke rumah.

Sungho memasuki rumah Jaehyun seakan akan rumah itu adalah miliknya sendiri. Kakinya ia langkahkan menuju lantai dua di mana kamar Jaehyun berada. Pintu kamar Jaehyun tertutup rapat, tapi terdengar suara musik yang menggelegar dari speaker milik Jaehyun yang berada di dalam sana, membuat Sungho berpikir apakah telinga Jaehyun tidak sakit dan kepalanya tidak pusing akibat diberikan suara musik sekeras itu?

Tangan Sungho bergerak untuk mengetuk pintu Jaehyun dengan keras, “Jaehyun, Jaehyun! Katanya mau liat kucing!” musik di kamar itu tidak berhenti, tapi Sungho melihat pergerakan dari door handle, tanda orang di dalamnya sedang membuka pintu tersebut.

Jaehyun keluar dari kamar dengan ekspresi yang tidak biasanya ia perlihatkan kepada Sungho, benar-benar terlihat seperti orang yang sedang mengalami masalah besar, padahal tidak sampai satu jam yang lalu mereka masih mengobrol sambil tertawa bersama-sama sepanjang jalan pulang. Mungkin memang mood manusia mudah berubah secepat itu, dan Sungho baru menyadarinya dari perubahan mood Jaehyun.

“Kenapa sih? Kaya orang abis diputusin aja.” tanya Sungho, lepaskan pelukan kucing gembrot di tubuhnya, biarkan kucing itu berdiam di atas lantai yang sayangnya langsung pergi kabur melalui tangga, sepertinya Nyang tidak kuat dengan suara berisik yang keluar dari kamar Jaehyun.

“Nyang,”

“Apa?”

“Jangan nikah sama orang lain. Nikah sama aku aja.” perkataan Jaehyun yang terdengar sangat serius membuat Sungho mengalami seribu satu kebingungan hari ini. Memang sebenarnya Jaehyun ini orang yang sangat sulit ditebak. Sejak awal mereka bertemu, Sungho sudah dibuat bingung dengan perlakuan Jaehyun kepadanya. Jika boleh memutar waktu kembali ke sepuluh tahun yang lalu, Sungho kecil pernah mengatakan kepada orang tuanya kalau Jaehyun itu aneh. Katanya, Jaehyun tidak pernah berhenti mendekati Sungho, tidak ingin lepas dari Sungho, dan selalu berusaha untuk mencari perhatian dari Sungho. Sungho berkata kalau perlakuan Jaehyun itu membuatnya risih.

Tapi terdapat satu waktu di mana Jaehyun sakit demam berdarah yang mengharuskan dirinya untuk dirawat di rumah sakit. Sungho kecil saat itu merasa kesepian karena tidak ada lagi orang yang mengajaknya bermain. Sepulang Jaehyun dari rumah sakit, Sungho tidak pernah berhenti menempeli Jaehyun selama satu minggu penuh, ia berkata kalau ia tidak ingin ditinggal oleh Jaehyun lagi, karena ia jadi sendirian. Ibu Jaehyun bahkan membiarkan Sungho untuk menginap di rumah Jaehyun saat itu, lepaskan rindu dari dua anak yang baru memasuki kelas tiga sekolah dasar.

Bertahun-tahun selalu berada di sisi Jaehyun hampir setiap saat, Sungho mulai rasakan perasaan asing yang hanya ia temukan kala ia sedang bersama Jaehyun. Sungho tidak pernah rasakan perasaan ini ketika ia tengah bersandar di pundak Wonbin, Sungho tidak pernah rasakan perasaan ini ketika ia tengah berduaan di dalam kelas berdua bersama Kazuha, Sungho juga tidak pernah rasakan perasaan ini saat ia tengah disuapi makanan oleh Riwoo. Tetapi Sungho selalu rasakan perasaan ini setiap ia melakukan hal-hal tersebut dengan Jaehyun.

Terkadang, Jaehyun tidak berhenti memuji Sungho dengan kata ‘cantik’, panggilan favoritnya yang pernah Jaehyun berikan kepada Sungho. Memang hanya di saat-saat tertentu saja Jaehyun memanggilnya seperti itu, tetapi Sungho tidak akan pernah lupakan suara Jaehyun ketika menyebutnya ‘cantik’ di bawah remang-remang lampu taman sepulang kegiatan OSIS mereka, atau saat Sungho selesai mengikuti lomba menyanyi yang saat itu wajahnya dirias dengan menggunakan makeup tipis.

“Itu sih emang elu naksir sama Jaehyun, Ho.” celetuk Riwoo di tengah-tengah konsultasi Sungho kepadanya. Sungho yang kini kepalang menyesal karena tanpa sadar utarakan apa yang akhir-akhir mengganggu pikirannya memilih untuk menenggelamkan wajahnya pada bantal kamar Riwoo.

Sungho menyukai Jaehyun.

Sungho sudah jatuh ke dalam pesona Jaehyun.

Sungho benar-benar menyukai teman masa kecilnya.

“Si Jaehyun juga kayanya emang down bad banget sama lu, jadi ya udah perasaan kalian udah pasti timbal balik.” Sungho tidak bisa berhenti pikirkan perkataan Riwoo di saat ia sedang berusaha untuk pergi ke alam mimpi. Beberapa kali Sungho berpikir bahwa Jaehyun hanya menganggap dirinya tidak lebih dari hubungan tetangga atau teman masa kecil, tetapi lagi-lagi Riwoo berkata, “Lu bodoh banget kalau mikir si Jaehyun gak ada rasa sama lu, anjir.”

Sungho gelengkan kepala kala menyadari ia baru saja terdistraksi dengan pikirannya. Jaehyun masih di hadapannya sekarang, masih lengkap dengan seragam putih abu yang membalut tubuhnya, kontras dengan Sungho yang sudah berganti pakaian menjadi baju santai.

“Hah? Ngomong apa sih, Jae?”

Jaehyun mengambil tangan Sungho yang berada di samping tubuhnya, Jaehyun genggam erat tangan tersebut, lalu ia menaruh lututnya di atas lantai dengan mata yang masih terarah pada kedua netra milik Sungho. Rasa-rasanya Sungho ingin kabur dari situasi ini, ia sudah memiliki beberapa cabang pikiran untuk perkiraan mengenai apa yang akan dilakukan Jaehyun setelahnya.

“Nyang, pacaran sama aku, please? Janji gak bakal panggil Nyang lagi kalau emang gak mau, tapi jangan pacaran apalagi nikah sama orang lain selain aku.”

Suara musik yang masih berbunyi kencang dari kamar Jaehyun tidak lantas membuat kebingungan Sungho berkurang, kepalanya seperti habis disiram air dipenuhi es batu yang kemudian kembali disiram oleh kopi panas, campur aduk. Mungkin jika Karina berada di rumah sekarang dan melihat adegan sinetron di hadapannya, Karina akan berteriak ‘ALAY BANGET GILA’ dengan suaranya yang akan terdengar sampai keluar rumah.

Malu, si laki-laki berambut agak panjang itu merasa malu, “Ini ngajak pacaran? Confess?” Sungho bertanya, “Sama bisa gak kamu berdiri? Jangan berlutut gini…”

Jaehyun dengan segera berdiri di hadapan Sungho, tanpa lepaskan tangannya dari tangan laki-laki yang lebih tua darinya beberapa bulan, biarkan ia rasakan hangat serta dingin mengalir dari tangan Sungho.

Si sagittarius mengangguk, “Dua-duanya. Ngajak pacaran, sama confess juga.”

Sungho bisa rasakan napasnya sedikit tak beraturan, sekuat mungkin berusaha menahan diri agar napasnya tetap stabil sehingga Jaehyun tidak akan sadari dirinya yang sudah sangat salah tingkah. Sungho membuang napasnya perlahan, ia tidak tahu apakah wajahnya memang mulai memerah karena terpengaruh sudden confession dari Jaehyun, atau ini hanya efek dari udara yang tiba-tiba berubah menjadi panas.

Sungho ingat lagi perkataan Riwoo, kalau Jaehyun sudah pasti menyukai dirinya. Ia juga kembali teringat kalau selama ini ia selalu rasakan perasaan asing yang hanya muncul kala ia sedang bersama Jaehyun, kini perasaan itu muncul seperti biasanya, hanya saja debaran dan perasaan yang muncul ini terasa lebih kuat dari yang pernah ia rasakan sebelum-sebelumnya.

“Mau…” Sungho diam beberapa sekon, “Mau pacaran sama Jaehyun, tapi jangan dulu nikah—” Sungho hampir terjatuh ke belakang kalau saja ia tidak menahan dirinya dari pelukan Jaehyun yang datang secara tiba-tiba, tubuhnya digoyang-goyangkan sembari diajak untuk melompat-lompat. Pekikan kesenangan Jaehyun terdengar menggemaskan di telinga Sungho, seperti anak anjing yang baru saja dibelikan mainan baru.

“Makasih, makasih, makasih banyak! Kamu mau dipanggil apa kalau gak dipanggil Nyang? Cepet bilang!” tanya Jaehyun setelah lepaskan pelukan tersebut, tetapi kedua tangannya masih memegang erat kedua pundak Sungho.

Hanya ada satu panggilan dari Jaehyun yang berhasil buat wajah Sungho kembali memanas, padahal ia sudah sangat lama tidak mendengarnya, tetapi suara itu masih terngiang jelas di pikiran Sungho. Bagaimana caranya Sungho mengatakan kalau ia ingin dipanggil ‘cantik’ setiap saat oleh Jaehyun. “Panggil nama aja.” ucap Sungho setelah bergelut dengan pikirannya.

“Gak spesial dong kalau nama doang.” Jaehyun diam karena ia baru sadar mengenai speaker di dalam kamar yang masih menyala, Jaehyun masuk ke dalam kamarnya sebentar untuk menonaktifkan speaker, sebelum kembali hampiri Sungho yang masih berdiri di depan kamarnya. Jaehyun kemudian bergerak sembari menarik Sungho untuk duduk di kursi yang berada di dekat tangga menuju lantai bawah.

“Kalau dipanggil cantik gimana?”

Tepat setelah Jaehyun bertanya, di saat itu juga Sungho berpikir bahwa Jaehyun bisa membaca apa yang sejak tadi berada di dalam pikirannya. Jantung Sungho rasanya dibiarkan copot selama sepuluh detik, pikirannya seketika menjadi blank, kosong sekosong kertas HVS yang baru saja dikeluarkan dari dalam plastik yang diberikan oleh penjaga fotocopy.

Sungho hanya dapat mengangguk menanggapi pertanyaan Jaehyun, meskipun dalam hatinya sudah berteriak kegirangan, ia suka, kelewat suka dengan panggilan yang diberikan Jaehyun saat ini.

“Sungho, ada Nyang gak di sana?” suara dari Mama Sungho memecah keheningan dari dua insan yang masih berada di sana, refleks Sungho berdiri dan lirik ke arah lantai satu, di mana kedua wanita yang tadi masih berada di rumah Sungho, kini sudah berada di dalam rumah Jaehyun.

Jaehyun sejujurnya masih merasa sebal dengan Mama Sungho akibat perkataan yang wanita itu keluarkan mengenai pernikahan Sungho dengan tetangga belakang rumahnya, jadi ia hanya berkata, “Ini Sungho ada,” tanpa lirik ke arah bawah.

“Maksud mama bukan aku,” Sungho berkata pada Jaehyun, “Gak ada maa, tadi Sungho bawa ke sini, tapi dianya kabur.” katanya kali ini lebih kencang daripada saat berbicara kepada Jaehyun, agar terdengar oleh mamanya yang berada di lantai bawah.

Jaehyun terlihat berpikir sebelum terbangun dari tempat duduknya, “Terus siapa?” tanyanya.

“Kucing yang tadi aku bawa, mama namain dia Nyang. Mama nyariin kayanya karena mau dikawinin sama kucingnya Taesan deh.” Sungho lihat Jaehyun yang kini terlihat melamun, tetapi satu detik kemudian ia malah melihat Jaehyun yang tertawa geli. Jaehyun benar-benar sedang dalam mood yang naik turun hari ini.

“Tau gak cantik? Kayaknya aku salah tangkep.” Jaehyun menggaruk rambutnya kuat-kuat sebelum mengusap wajahnya dengan kasar, terlalu malu akibat apa yang habis ia lakukan tadi. “Tadi aku denger mama bilang mau nikahin Nyang sama tetangga belakang, yang mana aku pikir mama mau nikahin kamu sama Taesan. Makanya aku langsung ngajak pacaran.”

Sungho tidak tahu harus berkata dan berekspresi seperti apa. Haruskah ia tertawa akibat kesalahpahaman yang Jaehyun tangkap mentah-mentah itu, atau haruskah ia bersyukur, karena dengan kesalahpahaman itu Jaehyun dan Sungho memiliki status lebih dari teman masa kecil dan tetangga.

“Taesan baru masuk SMA gila, ya kali aku dinikahin sama anak lima belas tahun.”

“Jangan bilang aku gila, suruh siapa mama namain kucingnya Nyang, itu kan cuman panggilan aku khusus buat kamu!” Jaehyun tertawa, “Mending kita aja yang nikah, cantik.”

“Gak usah ngaco gitu bisa gak?”

Biarkan saja dua insan yang akhirnya memiliki kesempatan untuk utarakan perasaan mereka masing-masing meski pun tidak dalam bentuk yang kelewat romantis, tetapi setidaknya cukup bagi mereka untuk membuat memori baru yang tidak akan pernah mereka lupakan. Berterima kasihlah kepada Mama Sungho yang telah menamai si kucing oranye itu dengan nama Nyang hingga dua anak adam ini bisa bersama-sama rasakan perasaan yang hanya dapat mereka nikmati saat mereka tengah bersama satu sama lain.